WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Bangunan Candi Bojongmenje Bakal Terwujud

PENANTIAN Rohman (70), penjaga Situs Candi Bojongmenje, selama sepuluh tahun terjawab sudah ketika Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Jabar melakukan studi teknis atas Situs Candi Bojongmenje yang ditemukan pada 2002. Selama kurun waktu sepuluh tahun ini, belum dilakukan studi teknis dan baru sebatas pemugaran situs, yakni ketika pertama kali ditemukan.

“Alhamdulillah, saya bersyukur akhirnya situs candi ini akan segera direkonstruksi bangunannya. Saya betul-betul gembira, saya menunggui situs ini selama sepuluh tahun dari 2002, dan sekarang, pemerintah segera akan merekonstruksinya,” ujar Rohman dengan mimik muka yang sumringah ketika ditemui di lokasi candi, Selasa (20/3).

Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan dari BP3 Serang, Drs Zakaria Kasimin, studi teknis ini sebagai langkah awal untuk mempermudah merekonstruksi bangunan candi. Proses yang dilakukan berupa pengumpulan batuan candi sesuai dengan bentuk bangunannya sendiri.

“Adapun untuk merekonstruksi ini, ada sejumlah kesulitan yang ditemui yakni, 30 persen batu di bagian pintu masuk candi hilang dan rusak. Selebihnya masih lengkap. Adapun untuk menggantinya, bisa ditambah,” ujarnya.

Untuk merekonstruksi bangunan candi, kata Zakaria, paling tidak, harus ada potret atau gambar semula bangunan candi ini. Namun, karena tidak ada potret atau gambar bangunan awal, itu menjadi salah satu kendala. Cara mengantisipasinya, bisa menggunakan metode pembanding dengan candi lain yang diduga sezaman dengan Candi Bojongmenje.

Bojongmenje ini kemungkinan sezaman dengan Candi Cangkuang di Kabupaten Garut. Selain itu, keduanya juga diduga memiliki lingkungan dan budaya yang sama.

“Dengan metode pembanding seperti itu, bisa membantu bentuk Candi Bojongmenje ini,” ujarnya.

Batuan Candi Bojongmenje yang ada sekarang merupakan batuan untuk bangunan candi bagian kaki dan bagian badan candi. Untuk atap atau bagian kepala candi, batunya tidak ada. Kondisinya pun sebagian rusak, karena faktor cuaca.

Zakaria juga mengatakan, rekonstruksi ini sebenarnya tidak terlalu sulit, asalkan batuan candinya masih lengkap dan didukung oleh anggaran. Selain itu, beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam proses rekonstruksin ini salah satunya keaslian bahan atau batuan candi, bentuk candi seperti apa, teknologi rekonstruksi candi seperti apa dan metode pembanding untuk menentukan bentuk candi seperti apa.

“Setelah studi teknis ini selesai, akan ditentukan seperti apa bentuk candi, teknologi rekonstruksinya dengan teknologi seperti apa serta
pembanding mana yang akan dipakai untuk membangun bentuk candi,” paparnya.

Candi Bojongmenje memiliki luas 7x7 meter persegi ini, 1 meter perseginya berada di lokasi pabrik dan terhalang tembok pabrik. “Untuk merekonstruksi secara total, pembebasan lahan harus dilakukan karena sebagian lokasi candi saat ini ada di lokasi pabrik,” kata Zakaria.

Kasi Kepurbakalaan Disbudpar Pemrov Jabar Romlah mengatakan, respons masyarakat secara keseluruhan sangat bagus ketika dilakukan studi teknis ini. Menurut Romlah, sebelum rekonstruksi, yang harus dilakukan adalah pembebasan lahan. Jika pembebasan lahan lancar, rekonstruksi juga akan lancar.

“Kami harap sih lancar karena ini menyangkut kebanggaan masyarakat,” ujarnya.

Untuk proses rekonstruksi ini, pihaknya bekerja sama dengan BP3 Serang, Balai Arkeologi Bandung, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung serta Pemkab Bandung.

“Tentunya, semua instansi bekerja sama sesuai dengan fungsinya dalam merekonstruksi bangunan Candi Bojongmenje. Seperti, studi teknis dan rekonstruksi ini melibatkan BP3 Serang, riset arkeologi candi melibatkan Balai Arkeologi Bandung, pengembangan nilai-nilai sejarah Candi Bojongmenje melibatkan BPSNT Bandung serta tentunya melibatkan Pemkab Bandung. Semuanya bekerja sama sebagai satu kesatuan yang utuh untuk membangun Candi Bojongmenje,” kata Romlah.

Sementara menurut keterangan Rohman, di wilayah Rancaekek, tidak hanya ada Candi Bojongmenje. Ke sebelah barat dari Candi Bojongmenje, kata Rohman, terdapat Candi Kukuk dan Malaka dengan jarak masing-masing dari Candi Bojongmenje 150 meter. Sementara ke sebelah timur Candi Bojongmenje, juga terdapat Candi Wayang dan Candi Samiaji. Jarak Candi Bojongmenje ke Candi Wayang, yakni 150 meter dan dari Candi Bojongmenje ke Candi Samiaji sekitar 2 KM.

“Selain Bojongmenje, masih ada candi lain namun semuanya terhalang bangunan pabrik dan bangunan rumah penduduk. Yang tidak teralang ya Candi Bojongmenje saja,” kata Rohman.

Menanggapi hal itu, Romlah kembali mengatakan, keberadaan candi lain di sekitar Candi Bojongmenje akan terus ditelusuri.

“Keberadaan candi lain di sekitar candi ini tentunya akan terus ditelusuri. Masyarakat tidak akan asal menyebut di suatu daerah ada candi jika tidak ada sebab musababnya. Makanya, kami masih melakukan penelusuran atas candi lain selain Candi BojongMenje,” tegasnya.

Adapun studi teknis ini, kata dia, ditargetkan hingga Kamis (22/3) ini. Setelah studi teknis, kata Romlah, akan disusun rencana rekonstruksi beserta anggaran rekonstruksi. “Doakan saja proses rekonstruksinya segera dilaksanakan dan lancar,” harapnya. (*)

Popular Posts