WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Menyingkap Makna Filosofis Bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon, Mulai dari Tata Letak Hingga Simbol


Keunikan bangunan sebuah keraton masa lalu kerap memancing pertanyaan masyarakat awam.

Kondisi serupa juga tentu dialami para pengunjung keraton - keraton di Cirebon. Mulai dari soal banyaknya bangunan dala kompleks keraton, tata letak hingga bentuk dan simbol-simbol pada bangunannya.

Menurut Ani Rostiyati, dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Jawa Barat (BPNB Jabar), makna simbolis bangunan keraton tidak lepas dari konsep berpikir masyarakat Cirebon Provinsi Jawa Barat terhadap nilai dan arti bangunan tersebut.

"Konsep berfikir mengenai nilai dan arti simbolis adalah tentang gagasan atau pikiran-pikiran yang mendasari masyarakat dalam berperilaku. Cara berfikir masyarakat pada umumnya selalu menggunakan simbol atau lambang sebagai sarana atau media untuk menitipkan pesan nasihat atau ajaran bagi masyarakatnya," demikian kata Ani dalam artikelnya yang berjudul Makna Bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon, yang dilansir dari Kemendikbud.

Menurutnya, konsep berfikir masyarakat Cirebon yang menggunakan simbol terlihat dalam kompleks bangunan Keraton Kasepuhan.

Tiap bangunan kraton memiliki kesan sakral dan dianggap mengandung kekuatan magis. Tata ruang, letak, dan nama-nama bangunan keraton senantiasa memiliki makna dan arti tersendiri.

Setiap perwujudan yang ada bagian bangunan senantiasa mengandung makna yang sangat dalam dan falsafah tinggi, sehingga mempunyai kesan sakral dan dianggap mengandung kekuatan magis.

Hal ini disebabkan karena dalam konsep masyarakat Cirebon menganggap kekuatan yang ada pada bangunan keraton merupakan hasil budi dari raja dan para pujangga yang pembuatannya dengan melalui ritual, tapa semedi, dan puasa.

"Konsep berfikir masyarakat terhadap arti simbolis bangunan keraton, tidak bisa dilepaskan dari soal kepercayaan," ucapnya.

Dijelaskannya, bangunan keraton merupakan kesatuan, rangkaian jalan atau perjalanan hidup yang harus ditempuh oleh manusia untuk mencapai hidup bahagia dunia dan akhirat (dalam arti simbolisnya).

Perjalanan hidup manusia itu disimbolkan sejak masuk dari Alun-alun sampai keraton bagian dalam sebagai pusatnya.

Secara lahiriah disimbolkan harus berjalan melewati Alun-alun utara, singgah dulu di masid Agung, melewati Pancaniti dan Pancaratna, terus melewati jembatan Pangrawit, Siti Inggil, lapangan Giyanti, Pangada, lalu masuk melalui Kamandungan, terus ke Sri Manganti, Gajah Nguling, Bangsal Pringgodani, masuk ke pendapa Agung dan terakhir masuk ke Bangsal Agung Prabayaksa yang menjadi tujuannya.

Simbol perjalanan hidup
Pertama kali yang harus dilalui kalau seseorang akan masuk ke keraton adalah melalui Alun-alun. Alun-alun layaknya seperti padang pasir yang rata, sehingga jika siang hari terasa panas dan malam hari terasa udara sejuk dan dingin. Suasana tersebut sebagai simbol keadaan dunia yang senantiasa berisi dua hal yang berlawanan, yakni senang dan susah, baik dan buruk, bahagia dan sengsara, laki-laki dan perempuan, siang dan malam, dan seterusnya.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju ke dalam keraton, namun terlebih dahulu melakukan sholat di masjid/langgar Agung. Hal ini diartikan bahwa manusia diharuskan ingat pada Sang Pencipta, oleh sebab itu harus beribadah pada-Nya. Setelah melakukan Sholat, baru dilanjutkan untuk seba (menunggu) di Panca Ratna saat menghadap Sang Raja atau petinggi kerajaan Iainnya. Hal ini merupakan simbol bagi manusia yang harus tahu akan aturan-aturan hidup dan wajib melaksanakannya.

Panca Ratna sendiri artinya lima panca indra yang harus dijaga, yakni mulut, mata, telinga, hidung dan nafsu. Artinya manusia harus menjaga dalam hal bicara, melihat, mendengar, mencium dan dalam mengendalikan hawa nafsu. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati kreteg/jembatan Pangrawit, artinya manusia harus berjiwa halus dan baik budi.

Perjalanan dilanjutkan menuju Siti Hinggil, yakni suatu bangunan yang terletak di suatu tempat yang lebih tinggi dari bangunan lainnya, dengan suasana yang hening dan udara sejuk. Hal ini melambangkan kebahagiaan dunia, karena sudah melaksanakan ajaran atau aturan yang telah ditentukan. Ketika turun dari Siti Hinggil yang merupakan lambang kebahagiaan hidup di dunia, manusia pasti merasa ragu-ragu untuk meninggalkan kebahagiaan di dunia. Akan tetapi untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup, manusia harus rela meninggalkannya.

Setelah dari Siti Hinggil, kemudian menuju Kamandungan. Makna dari Kamandungan adalah untuk memeriksa keadaan bagaimana cara berbusana, apakah sudah pantas, lengkap dan sesuai. Di tempat tersebut, manusia dapat bercermin diri dan dapat introspeksi diri atau mawas diri, apakah sudah bersih dan benar. Hal ini sangat diperlukan karena manusia sudah mendekati alam kematian yang sempuma. Lalu perjalanan dilanjutkan dengan melewati Sri Manganti

Sri Manganti adalah suatu tempat menunggu keputusan Raja, artinya jika manusia itu lulus dari ujian yang berat dan sudah meninggalkan segalanya maka akan mampu mendapatkan tempat yang indah dan menyenangkan. Perjalanan sampai di Prabayaksa yaitu suatu tempat yang sangat tenang, sunyi, tanpa berisik, sebuah ruangan yang benar-benar bersih karena akan menghadap raja atau Sultan. Inilah tempat tujuan yang sesungguhnya, dalam arti orang yang telah berada di tempat ini sudah sampai di alam sempurna, hanya dapat pasrah kepada segala kehendak Tuhan.

Berdasarkan penjelasan uraian di atas, dikatakan Ani, bahwa keseluruhan bangunan keraton merupakan falsafah hidup masyarakat Cirebon dan melambangkan perjalanan hidup manusia yang akan menuju atau mencapai kebahagian sejati.

"Bangunan keraton bukan saja mengandung penalaran tentang fungsi, ruang dan bentuk tapi juga mengandung makna filosofis, nilai magis yang terpancar di dalamnya," katanya. (*)

Sumber: https://cirebon.tribunnews.com/2022/08/16/menyingkap-makna-filosofis-bangunan-keraton-kasepuhan-cirebon-mulai-dari-tata-letak-hingga-simbol?page=2.

Popular Posts