WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label Risa Nopianti. Show all posts
Showing posts with label Risa Nopianti. Show all posts

Kawalu, Upacara Tradisional Masyarakat Baduy

 Oleh: Risa Nopianti


Upacara Kawalu di Baduy merupakan bentuk ungkapan rasa terimakasih terhadap Sang Hyang Karesa atas berhasilnya panen padi huma Orang Kanekes setiap tahunnya. Upacara Kawalu merupakan salah satu tradisi adat yang diselenggarakan sebelum Upacara Seba. Adapun tahapannya yaitu, upacara ngalanjakan, upacara Kawalu, upacara ngalaksa, dan terakhir Seba, sebagai puncak dari upacara-upacara adat yang dilakukan Orang Kanekes. Sebagaimana upacara-upacara lainnya yang mengiringi Seba, pelaksanaan Kawalu tidak dapat dilepaskan dari sanksi adat apabila dalam pelaksanaannya terdapat hal-hal yang diluar kebiasaan masyarakat setempat.
Kawalu berasal dari kata walu yang artinya balik (pulang). Jadi, arti dari kata Kawalu adalah kembali. Upacara ini juga biasa disebut sebagai ngukus Kawalu atau membakar dupa untuk mengiringi sesajen pemujaan. Biasanya disetiap acara Kawalu selalu dilakukan pembakaran dupa sebagai bentuk pemujaan terhadap leluhur.
Upacara kawalu dilaksanakan setelah kegiatan panen padi dari huma (ladang) dan menyimpan atau mengembalikannya ke leuit. Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara Kawalu adalah sebagai bentuk ungkapan syukur atas keberhasilan panen padi yang telah didapatkan oleh seluruh masyarakat Kanekes. Perwujudan rasa syukur ini kemudian diaplikasikan dalam bentuk puasa selama 3 bulan berturut-turut menurut penanggalan Orang Kanekes yang disebut sebagai bulan Kawalu. Adapun makna dibalik pelaksanaan puasa di bulan Kawalu ini ialah untuk menyucikan diri dari nafsu jahat. Oleh karena itu, tanggal 15 bulan Kasa, sebelum berpuasa, seluruh Orang Kanekes wajib membersihkan lingkungan berupa halaman, kampung, jalan, dan sebagainya. Barang-barang yang datang dari luar pun harus dikeluarkan dari wilayah Kanekes.
Terdapat 3 bulan suci dalam penanggalan Kanekes setiap tahunnya yang disebut bulan suci Kawalu. Bulan suci Kawalu ini diselenggarakan selama 3 bulan berturut-turut pada bulan Kasa, bulan Karo dan Bulan Katilu setiap tahunnya. Puasa yang dilaksanakan Orang Kanekes hanya berlangsung satu hari saja dalam satu bulan, tepatnya terjadi pada tanggal 17 bulan Kasa yang disebut Kawalu Tembey atau Kawalu pertama, tanggal 18 bulan Karo disebut sebagai Kawalu Tengah dan tanggal 17 bulan Katilu disebut sebagai Kawalu Tutug. Pelaksanaan puasa Kawalu Orang Kanekes dimulai pada pukul 5 sore hari sebelum hari H, dan berakhir pada pukul 5 sore hari keesokan harinya. Selama melaksanakan puasa mereka tidak diperkenankan untuk makan dan minum dari awal pelaksanaan puasa hingga menjelang buka puasa.
Terdapat 3 Kampung Tangtu atau kampung adat yang menjadi kiblat adat dari masyarakat Kanekes yaitu Kampung Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Disana terdapat 3 Puun yang bertugas sebagai tetua adat. Kampung Tangtu ini disebut juga Baduy dalam. Ketiga kampung Tangtu ini menjadi pusat pelaksanaan ritual adat dan upacara-upacara tradisional Orang Kanekes. Adapun Orang Kanekes yang tinggal di luar ketiga Kampung Tangtu, atau biasa disebut Kampung Panamping atau baduy luar, dalam pelaksanaan prosesi upacara adat mereka akan mengikuti salah satu Kampung Tangtu yang ada tergantung asal keturunan mereka. Dari sekian banyak jumlah masyarakat baduy luar, biasanya Cibeo dan Cikeusik yang menjadi tempat ritual utama dalam pelaksanaan Upacara Kawalu, sedangkang kapuunan Cikertawana sendiri menggabungkan diri dengan kapuunan Cibeo. Di kampung Cibeo dan Cikeusik upacara adat kawalu dilangsungkan di Bale yang tempatnya berdekatan dengan kediaman Puun.
Upacara adat Kawalu dipimpin langsung oleh para Puun yang dibantu oleh para Baris Kolot atau Baresan. Dalam hal ini Puun bertugas untuk menentukan hari “H” pelaksanaan upacara Kawalu. Sebelum upacara Kawalu selesai dilaksanakan, Puun mengintruksikan kepada seluruh warganya untuk berpuasa dan pada hari pelaksanaan puasa, mereka dilarang memakan ataupun mengolah padi hasil panen mereka saat itu. Mereka hanya diperbolehkan menggiling padi dari penan tahun-tahun sebelumnya dengan cara tradisional yang disebut nutu.
Upacara Kawalu dilaksanakan serempak oleh seluruh masyarakat Kanekes. Masyarakat Kanekes di Kampung Panamping bersatu dengan masyarakat Kanekes Kampung Tangtu untuk bersama-sama mengikuti prosesi adat upacara adat Kawalu yang dipimpin oleh Puun dibantu dan para Jaro tujuh dan Baresan Palawari. Selain Puun yang bertugas sebagai pemimpin upacara, kegiatan Kawalu dikoordinasikan oleh para Beresan Palawari yang bertugas seperti halnya panitia kegiatan. Secara khusus tugas dari Baresan Palawari adalah mengundang para Jaro tujuh dan kokolot disetiap kampung panamping untuk hadir dalam acara Kawalu di Bale Kampung Tangtu Cibeo dan Cikeusik. Pada hari pelaksanaan upacara Kawalu, laki-laki, perempuan, tua maupun muda berduyun-duyun memenuhi Bale atau aula pertemuan adat di Kampung Tangtu Cibeo dan Cikeusik.
Upacara Kawalu diawali dengan kegiatan bersih-bersih rumah yang dilaksanakan pada 3 hari sebelum upacara kawalu dimulai. Biasanya dalam kegiatan bersih-bersih ini juga diiringi oleh razia yang dipimpin oleh para kokolot untuk membersihkan barang-barang khusunya elektronik yang semestinya tidak diperkenankan ada di kompleks permukiman masyarakat Baduy Panamping. Kemudian diikuti dengan puasa selama 1 hari dalam tiga bulan yaitu kawalu tembey. Seperti halnya puasa pada umumnya, mereka tidak diperkenankan untuk makan dan minum selama menjalankan ritual puasanya, dan seminimal mungkin melakukan aktifitas kegiatan di luar rumah sebagai persiapan menghadapi upacara besar Kawalu keesokan harinya.
Saat berpuasa tanggal 17 Kasa, mereka berganti pakaian yang khusus dipakai untuk kepentingan upacara Kawalu. Terdapat beberapa jenis pakaian yang biasa mereka gunakana untuk mengikuti ritual upacara adat Kawalu. Laki-laki mengenakan baju pangsi hitam (baduy luar) atau putih (baduy dalam), sarung bermotif poleng hideung, ikat pinggang adu mancung, dan iket kepala, sedangkan perempuan umumnya mengenakan kain atau samping bermotif kacang herang, kemben batik dari motif hariang, dilengkapi dengan kain batik corak dermayu sebagai gendongan dan kain batik corak hariang untuk kerudung
Orang-orang Baduy Panamping berduyun-duyun menuju Kampung Tangtu. Di sana mereka membuat sembilan ancak untuk wadah makanan. Di rumah Girang Seurat, kaum perempuan sibuk memasak. Bahan masakan yang dimasak oleh para kaum perempuan ini berasal dari sumbangan seluruh warga terutama hasil panen padi huma dan hasil buruan ngalanjak munduy, yang dikumpulkan di rumah Girang Seurat. Beras yang ditanak merupakan hasil panen baru dari huma. Sebelum memasak makanan untuk dinikmati Bersama-sama, para perempuan kanekes biasanya mendahulukan mengolah makanan yang akan dipersembahkan sebagai sesajen. Isi sesajen terdiri dari umbut enau, umbut seel pahit, nasi padi siang (merah), nasi kuning, nasi ketan peuceuk, daging pelanduk (kancil), ikan badar, ikan cenang (sero), dan susuh (tidak dimakan). Makanan-makanan tersebut dibuat untuk selanjutnya dibawa oleh Girang Seurat sebagai sesajen menuju rumah Puun. Di rumah Puun hidangan tadi dimasukan kedalam sembilan ancak yang sudah tersedia. Kedelapan ancak kemudian diisi dengan hidangan yang terdiri dari nasi beserta lauk pauknya, sedangkan satu ancak berisi seperangkat sirih jambe semayang, sirih duapuluh ikat, dan kapur sirih sepuluh bungkus.
Dalam menghidangkan ancak terdapat aturannya tersendiri. Ancak yang berisi sirih kapur dibawa langsung oleh anak Puun ke Bale dan diterima oleh Girang Seurat, adapun kedelapan ancak lainnya yang berisi nasi dan lauk pauknya dibawa satu persatu secara teratur ke Bale dengan cara sebagai berikut ; anak Puun berdiri dihalaman rumah menghadap kearah barat kemudian ancak diterimanya dengan cara ditanggeuy (dipikul) kemudian bergeser kearah utara dan tidak boleh berbalik. Tempat anak Puun berdiri digantikan dengan orang lain dan setelah menerima ancak bergeser seperti hal yang pertama tadi, demikian seterusnya sehingga membentuk barisan sampai ke tepi Bale. Setibanya di Bale ancak-ancak ini di terima oleh Girang Seurat.
Sekitar pukul 14.00 mereka menyucikan diri di sungai. Sepanjang perjalanan menuju sungai, setiap tempat yang mereka lalui harus pula dibersihkan. Lalu, mereka berkumpul kembali di Bale kapuunan. Sekitar jam 16.00 ancak sesajen dibawa ke kapuunan dari rumah Girang Seurat. Setelah Puun ngajampean (membacakan doa-doa), seluruh peserta upacara Kawalu secara serempak menyembah dengan mengagungkan nama Puun nya. Setelah itu, barulah mereka bisa berbuka puasa. Khusus bagi orang Kampung Tangtu, mereka harus nyeupah (mengunyah sirih) terlebih dahulu sebelum makan.
Isi sesajen dibuka dan dibagikan untuk dicicipi semua orang yang hadir di Bale Kapuunan. Mereka berkumpul kemudian mendapatkan hidangan dari ancak tadi beserta lauk pauknya dan sirih kapur sebagai berkat Kawalu. Masyarakat Baduy Panamping yang datang ke Kampung Tangtu disilahkan ikut menikmati hidangan Kawalu di rumah orang Kampung Tangtu atau langsung dibawa pulang ke rumah masing-masing setelah membubarkan diri dengan tertib.
Setelah sesajen habis dibagikan, maka baresan parawari, panitia pada perhelatan tersebut (semuanya laki-laki), membawa nasi dan lauk-pauknya sebagai makanan utama. Makanan diwadahi pada panjang (sebuah piring besar dan antik). Satu panjang untuk Puun, dua lagi untuk Jaro Tujuh dan Girang Seurat. Biasanya satu panjang makanan diperuntukan bagi tiga orang, apabila ada yang tidak memperoleh jatah panjang, mereka makan makanan yang dibungkus daun. Setelah itu, mereka makan buah-buahan sebagai pencuci mulut dan wayu (tuak asam). Acara para tetua selesai menjelang malam hari, sekitar pukul 18.00 atau 18.30 Bale Kapuunan berganti penghuni oleh para pemuda Kanekes. Mereka bersuka ria, ada yang memetik kecapi, membunyikan karinding, dan sebagainya. Namun, pada hakikatnya, tugas mereka adalah membersihkan sampah sisa upacara Kawalu.
Tahapan dan proses pelaksanaan upacara Kawalu tengah dan Kawalu tutug, sama dengan Kawalu tembey. Terlebih dahulu mereka harus bersama-sama melaksanakan upacara Ngalanjak dan Munduy sebelum melaksanakan puasa Kawalu. Mereka juga harus bergotong royong melakukan bersih-bersih kampung pada tiga hari sebelum upacara dimulai. Hanya, pada pelaksanaan Kawalu Tutug sebagai Kawalu terakhir, mereka harus berziarah ke mandala (makam leluhur) yang terletak di hulu Sungai Ciparahiyang (Cibeo).
Pelaksanaan upacara Kawalu merupakan kewajiban seluruh warga Kanekes, dari tua hingga muda, laki-laki dan perempuan semua wajib mengikuti jalannya ritual puasa Kawalu. Pengecualian hanya dikhususkan kepada para lansia yang sudah mengalami keterbatasan fisik sehingga tidak mampu beraktifitas secara normal dan kaum perempuan yang sedang berhalangan bulan sebab mereka dianggap tidak suci karena Upacara Kawalu sendiri menyaratkan adanya kesucian lahir dan batin di dalam diri masing-masing anggota pengikutnya. Pantangan ini wajib untuk dipatuhi, sebab apabila tidak akan mengakibatkan Kabendon yaitu sanksi adat yang dapat menyebabkan musibah bagi para pelakunya.


Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/upacara-kawalu-baduy/

Upacara Ngalanjakan pada Masyarakat Kanekes, Banten

Oleh: Risa Nopianti

Upacara ngalanjakan merupakan salah satu upacara atau tradisi yang dilakukan Orang Kanekes di Banten, dari keseluruhan rangkaian upacara menjelang upacara seba, sebagai puncak upacara tradisi Orang Kanekes. Upacara ini dilaksanakan setelah upacara ngaseuk serang atau upacara panen padi selesai. Upacara ngalanjakan harus selalu dilaksanakan setiap tahunnya tanpa terkecuali, sebab apabila tidak dilaksanakan akan berakibat pada terjadinya masalah (kabendon). Kabendon ini dapat berupa penyakit, bencana alam, atau gagal panen.

Ngalanjakan artinya berburu, adapula yang menyebutnya ngalanjakan kapunduyan. Jadi upacara ngalanjakan adalah upacara yang dilaksanakan oleh Orang Kanekes, untuk berburu binatang di hutan sebagai persiapan bahan makanan pada saat penyelenggaraan upacara kawalu. Upacara Kawalu biasanya diselenggarakan selama tiga bulan berturut-turut setelah kegiatan panen raya selesai. Maka dari itu diperlukan persiapan bahan makanan untuk menghadapai kawalu yang diselenggaran cukup lama, sebagai cadangan makanan semua Orang Kanekes.


Ngalanjak dan Munduy selalu dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut sebelum memasukai puasa kawalu di bulan Kasa, bulan Karo dan bulan Katiga. Kegiatan ngalanjakan dilaksanakan dari pagi hingga sore setiap harinya dan dipimpin oleh Puun sebagai sesepuh adat. Selama 7 hari itulah hanya kaum laki-laki Kanekes saja yang melakukan acara perburuan. Mereka biasanya berburu binatang di sekitar kawasan kabuyutan Kanekes. Kegiatan perburuan ini tidak boleh keluar dari kawasaan tempat tinggal mereka karena dapat berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dengan masyarakat luar.

Sebagai tetua adat, puun bertugas memimpin jalannya acara ngalanjakan tersebut. Dalam menjalankan tugasnya Puun didaulat untuk membacakan doa-doa dan mantra agar pelaksanaan acara berjalan dengan lancar dan dapat menghasilkan hewan buruan sebanyak mungkin. Sekalipun puun memegang jabatan tertinggi dalan struktur pemerintahan adat Baduy, namun beliau tidak segan untuk turut serta dalam kegiatan ngalanjakan. Keberadaannya justru menjadi pemacu semangat bagi anggota masyarakatnya supaya senantiasa bersikap optimis, sehingga mendapatkan berhasil sesuai apa yang diharapkan. Adakalanya ketika puun berhalangan hadir dikarenakan faktor kesehatannya yang kurang memungkinkan untuk mengikuti kegiatan berburu yang memang memerlukan stamina yang benar-benar kuat, maka tugas untuk memimpin doa-doa dapat dilimpahkan kepada para jaro dan baresannya.

Utamanya dalam setiap upacara yang berkenaan dengan siklus perladangan dan pertanian pada Orang Kanekes, harus diikuti oleh semua golongan masyarakat Kanekes tanpa terkecuali, baik tua maupun muda, laki-laki dan perempuan. Namun karena kegiatan ngalanjak ini cukup berat, maka tidak semua anggota masyarakat dapat turut serta. Kegiatan ngalanjakan ini cukup biasanya hanya dilakukan oleh laki-laki dewasa yang memiliki kekuatan fisik dan stamina. Dari setiap kampung yang ada di wilayah baduy luar maupun dalam, hanya diwakili oleh dua orang saja. Kegiatan ngalanjakan ini juga pantang diikuti oleh kaum perempuan, dengan pertimbangan resiko yang cukup berat bagi mereka.

Sebelum melaksanakan kegiatan perburuan, terlebih dahulu harus dipersiapkan lanjak (jaring) ikan yang akan dipergunakan sebagai jerat hewan buruan. Selain untuk dipasang disungai untuk menjerat ikan, lanjak ini juga digunakan di darat untuk menjerat hewan-hewan kecil hingga sedang sebagai mangsa buruan. Adapun jenis hewan yang biasanya diburu dalam acara ngalanjak munduy ini adalah mencek ‘rusa’, peucang ‘kancil’, buut dan peusing. Sedangkan jenis ikan yang biasa ditangkap adalah lauk susuh ‘ikan susuh’, hurang ‘udang’ dan lauk cenang ‘ikan cenang’. Tentunya tidak ketinggalan sebilah golok yang harus senantiasa tersedia dipinggang para pemburu, untuk digunakan sebagaimana mestinya dalama kegiatan perburuan tersebut.


Pagi hari, minggu pertama di Bulan Kasa, para pemburu –dengan berseragamkan pakaian khas Baduy yaitu baju kampret, ikat kepala, celana pendek selutut– telah siap siaga dengan peralatan dan perlengkapan berburu mereka di masing-masing kapuunan Kanekes atau Kampung Tangtu, yaitu Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Dipimpin oleh puun masing-masing mereka mulai bergerak menuju kawasan hutan tempat dimana acara perburuan akan dilaksanakan.

Di tengah hutan rombongan berhenti sejenak untuk memanjatkan doa-doa sebagai bagian dari ritual perburuan. Selesai pembacaan doa yang dipimpin oleh puun, maka dimulailah pemasangan jerat secara simbolis. Pemasangan jerat ini di lakukan di beberapa titik secara serentak oleh para anggota rombongan pemburu. Diperlukan waktu yang tidak sebentar dan kesabaran yang cukup hingga hewan buruan dapat masuk kedalam lanjak atau jerat yang telah dipasang. Barulah siang menuju sore lanjak-lanjak ini diperiksa apakah telah menjerat hewan atau belum. Hewan-hewan yang terjerat oleh lanjak biasanya tidak langsung dipeuncit ‘disembelih’ ditempat melainkan harus dibawa kerumah masing-masing dalam keadaan hidup untuk kemudian disembelih dan diolah lebih lanjut oleh kaum perempuan.

Pengolahan hewan buruan yang telah dihasilkan dari kegiatan berburu atau ngalanjak ini, sebagian besar diproses dengan cara diasap, supaya dapat bertahan lama menghadapi upacara kawalu yang akan dilaksanakan selama tiga bulan lamanya. Daging hewan atau ikan yang telah dibersihkan disimpan dengan cara digantung dengan posisi yang tidak terlalu dekat dengan api dari tungku perapian yang telah disiapkan untuk mengasapi. Hal ini dilakukan supaya daging tidak gosong terkena jilatan api, melainkan hanya panas dari asap yang ditimbulkannya saja. Proses pengasapan bisa memakan waktu berjam-jam tergantung jenis daging yang diasapkan.

Orang Baduy mengerti bagaimana hidup selaras dengan alam, apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat untuk menjaga agar keharmonisan alam selalu terjaga. Begitupun halnya dalam prosesi upacara ngalanjakan ini, secara fasih mereka mengetahui hewan-hewan jenis apa saja yang sekiranya boleh untuk dikonsumsi dan mana yang tidak, mana jenis hewan yang dilindungi dan mana yang tidak. Pengetahuan ini telah diketahui oleh Orang Kanekes secara turun temurun, sehingga hingga saat ini keseimbangan alam dan lingkungan di wilayah Kanekes selalu terjaga dengan baik.


Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/upacara-ngalanjakan-pada-masyarakat-kanekes-banten/

Golok Sulangkar Ciomas

Dalam kehidupan sehari-hari, golok biasanya banyak dipergunakan pada masyarakat pedesaan sebagai bagian dari peralatan kerja. Dengan demikian, golok merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat desa.

Mereka menggunakan golok untuk membantu pekerjaan sehari-hari, terlebih bagi para petani, atau pekebun. Selain sebagai peralatan kerja, golok juga dipergunakan oleh para pesilat sebagai salah satu alat pertahanan diri ataupun sebagai alat penyerang.

Kemahiran dalam menggunakan golok dalam dunia persilatan telah menghasilkan banyak jawara-jawara terkenal dan telah diangkat dalam layar lebar. Selain memiliki fungsi praktis, golok pun dapat menjadi sebuah karya seni.

Hantaman godam untuk melumat besi baja menjadi sebilah golok, dan, disertai dengan ketrampilan pengukir dalam membuat sarung dan gagang, telah menghasilkan sebuah karya seni yang bernilai sangat tinggi. Salah satu di antara karya seni tersebut bernama golok sulangkar. Sebuah maha karya yang bernuansa seni tinggi, ditambah dengan unsur kesakralan, membuat golok sulangkar yang berasal dari daerah Ciomas Kabupaten Serang Provinsi Banten ini banyak diburu oleh para kolektor.

Ciomas merupakan daerah pegunungan. Posisinya berada tepat di kaki Gunung Karang. Seperti ciri khas daerah pegunungan lain, Ciomas berudara segar dan sejuk. Keindahan alam Ciomas dapat dinikmati menuju Kecamatan Ciomas. Golok Sulangkar yang menjadi maskot Kecamatan Ciomas kini telah memiliki sebuah maskot, yaitu golok raksasa yang memiliki panjang sekitar 5 meter.

Dinamakan golok sulangkar, karena, bahan baku yang digunakan terbuat dari jenis besi sulangkar. Jenis besi ini biasa digunakan sebagai injakan kaki, pada kereta delman yang sudah tua. Besi sulangkar dipercaya mengandung banyak manfaat atau tuah bagi pemilik. Di antaranya, gampang disayang, dan, disegani orang lain.

Meskipun dunia luar menyebut dengan nama Golok Ciomas, namun para perajin menyebutnya dengan nama Golok Sulangkar. Sejarah Golok Sulangkar Ciomas dapat ditelusuri, melalui prosa cerita rakyat berbentuk legenda, yang telah dituturkan oleh masyarakat, selama berabad-abad lamanya.

Alkisah. Pada masa kesultanan Banten. Ada salah seorang bayi yang memiliki keganjilan. Dia tidak berhenti menangis. Dan, tidak ada seorangpun yang dapat meredakan tangisannya. Sultan kemudian membuat sebuah sayembara. Barangsiapa yang dapat meredakan tangis bayinya, maka, dia berhak medapatkan hadiah dari sultan, dan, mengasuh bayinya. Tak lama kemudian. Datang seorang pria bernama Ki Gede. Di tangan beliau, bayi sultan seketika berhenti menangis. Sultan kemudian mensyahkan Ki Gede sebagai pemenang sayembara, dan, mendapatkan hadiah berupa palu godam, yang kemudian dinamakan Godam Si Denok. Setelah dewasa, bayi sultan yang diasuh oleh Ki Gede, dikenal dengan nama Ki Cengkuk. Ia adalah orang yang sangat sakti dalam membuat golok. Dan, golok pertama yang dibuat oleh Ki Cengkuk dengan menggunakan godam Si Denok, kemudian, dinamakan Golok Si Rebo. Saat ini, golok tersebut masih tersimpan di rumah Duhari. Ia adalah keturunan Ki Cengkuk. Dan, untuk menghormati jasa Ki Cengkuk, kemudian, dilaksanakan ritual Mulud Golok Ciomas.

Ritual yang diselenggarakan pada bulan Mulud, atau tepatnya setiap tanggal 12 bulan Mulud, sekaligus digunakan sebagai acara pertemuan dengan sesama pemilik Golok Ciomas. Ritual ini dilaksanakan di kediaman Bapak Duhari sebagai pemegang pusaka Godam Si Denok dan Golok Si Rebo. Dan, hanya pada Bulan Mulud, Golok Sulangkar diperbolehkan untuk ditempa.

Pada Bulan Mulud juga, setiap Golok Sulangkar Ciomas harus di oles, dengan menggunakan Godam Si Denok, melalui ritual tertentu. Persyaratan lain yang dibutuhkan dalam ritual ini adalah, air dari 9 sumber air, yang telah diberi bunga.

Tepat pada tanggal 12 Mulud, acara dimulai dengan lantunan zikir dan Tawasulan oleh pemuka agama setempat, yaitu, Bapak Haji Muhaimin. Setelah itu, golok dan bahan dasar golok kemudian dioles dengan menggunakan Godam Si Denok.

Memang pada masa perjuangan, golok Sulangkar dikenal sebagai senjata tradisional untuk melawan penjajah. Supaya lebih mematikan, dalam melawan penjajah, Golok Sulangkar kemudian diberi racun, yang berasal dari, racun ular, katak, atau kalajengking.

Dalam membuat golok sulangkar. Diperlukan, bahan dan beberapa buah peralatan. Di antaranya, Besi atau baja, yang menjadi bahan dasar. Sementara. Peralatan yang diperlukan adalah, pahat. Pahat digunakan untuk membelah dan memotong bahan yang akan dijadikan golok. Peralatan lainnya, yaitu. Pengkorek api. Capit. Talenan besar dan kecil. Bak air. Arang. Ubub. Dan, Palu dari berbagai ukuran.

Pengkorek api digunakan untuk mengkorek bara api. Perkakas ini terbuat dari besi sepanjang 50 sentimeter. Bagian ujung melengkung. Sementara. Ujung lainya diberi pegangan, yang terbuat dari kayu.
Capit. Digunakan untuk menjepit, atau, mengambil bahan golok, yang masih dalam keadaan membara.
Talenan atau Paron. Digunakan sebagai alas tempa an. Alat ini terbuat dari besi baja.
Bak air. Digunakan untuk mendinginkan go lok. Caranya adalah dengan mencelupkan besi atau baja, yang sedang membara. Proses ini dilakukan berulang-ulang.
Arang. Berfungsi sebagai bahan bakar. Agar tetap membara, arang harus ditiup secara terus menerus dengan menggunakan Ubub.
Ubub. Peralatan pande besi yang berfungsi sebagai pemompa udara ke tungku pembakaran. Ubub terbuat dari kayu nangka sepanjang 1,5 meter. Proses kerja ubub adalah, dengan menekan tongkat kayu secara bergantian, agar suhu bara api dapat tetap terjaga.
Palu. Digunakan untuk memipih, atau menipiskan bahan golok, saat masih dalam keadaan membara.
Proses pertama dalam pembuatan golok sulangkar adalah, memilih jenis logam yang akan ditempa. Setelah mendapatkan jenis logam yang diinginkan, logam kemudian dibawa ke lokasi tempa. Tidak lupa. Air yang telah diberi doa, pada saat pelaksanaan ritual golok ciomas, yang dilaksanakan pada bulan maulud, kemudian, dibawa, dan, dimasukan ke dalam bak air. Seorang pande besi kemudian memilih dan menyusun beberapa buah logam, sesuai dengan jenisnya. Lalu, susunan logam tersebut dijepit dengan menggunakan capit. Susunan logam tersebut kemudian dimasukan ke dalam tungku pembakaran. Suhu api di dalam tungku kemudian ditingkatkan, dengan menambahkan arang, dan, tiupan angin yang dihembuskan oleh ubub. Kestabilan dalam menjaga hembusan angin sangat diperlukan, agar logam lebih cepat membara.
Pembuatan Golok Sulangkar. Umumnya, hampir sama dengan pembuatan golok di daerah lain. Hanya, di Ciomas dikenal, tempa khusus, yang disebut teknik tempa tumpuk. Yaitu, menumpuk 3 sampai dengan 4 bilah pelat besi menjadi satu, untuk dibakar dan ditempa, menjadi jenis golok yang diinginkan.
Pada beberapa jenis golok, ada juga yang dikombinasi dengan teknik tempa lipat. Yaitu, setelah tumpukan besi dibakar. Bara besi yang sudah agak lunak, dilipat, untuk kemudian ditempa sebanyak 4 sampai dengan 5 kali pembakaran dan penempaan. Setelah beberapa kali ditempa, lempengan besi yang telah berbentuk golok, kemudian dibentuk, sesuai dengan model, dan ukuran yang di inginkan. Kemudian, setelah terbentuk sempurna. Dilakukan proses finising dengan menggunakan kikir listrik. Setelah selesai, pada bagian terakhir proses pembuatan, bentuk golok lalu dirapihkan. Agar, terlihat bersinar.
Proses lanjutan dari pembuatan Golok Sulangkar Ciomas adalah, pembuatan gagang dan sarangka. Peralatan yang diperlukan untuk membuat gagang golok dan sarangka di antaranya. Bor listrik. Gergaji. Pisau. Dan, Gurinda. Tidak seperti bentuk gagang golok pada umumnya. Yang biasa digunakan, sebagai perkakas. Gagang Golok Sulangkar, biasanya berbentuk ukiran, yang memiliki, nilai artistik tinggi. Bentuk gagang biasanya menyerupai, kepala tokoh pewayangan, atau hewan yang memiliki mitos mistis. Seperti, harimau, ular, dan sebagainya. Ukiran gagang golok menggunakan teknik cukilan. Teknik tersebut menambah tinggi nilai sebuah Golok Sulangkar.
Pembuatan gagang dimulai dengan memotong kayu jawar. Disesuaikan dengan besar kecilnya sebuah golok. Kemudian, kayu lalu dipapas untuk menghasilkan bentuk dasar. Setelah itu, kayu dipahat dan diukir sesuai dengan pesanan yang diinginkan pembeli. Bor digunakan untuk membuat lubang untuk memasukan batang golok. Gagang yang sudah jadi, lalu dihampelas, dan dicat.
Sama halnya dengan pembuatan gagang golok. Pembuatan sarangka juga memerlukan teknik papas dan cukil. Perbedaannya, sarangka tidak harus diukir. Teknik cukilan digunakan untuk memperoleh ruang batang golok.
Setelah bagian luar jadi dibentuk. Kemudian, bagian dalam dipola dengan golok yang akan menjadi pasangannya. Setelah itu, bagian yang telah dipola lalu dicukil untuk membuat lubang batang golok. Dua bagian yang telah dicukil kemudian disatukan. Proses penyatuan ini menggunakan lem dan karet. Bagian terakhir pada pembuatan sarangka adalah, menambahkan aplikasi yang terbuat dari tanduk kerbau. Hal ini dilakukan, agar sarangka menjadi lebih bagus, dan, memiliki nilai seni yang tinggi.

Sumber: Risa Nopianti, dkk, Golok Sulangkar Ciomas, Laporan Perekaman kebudayaan dan kesejarahan. Bandung: BPNB Jawa Barat, 2016.

Dari Ronggeng Gunung ke Ronggeng Kaler: Perubahan Nilai dan Fungsi

Oleh Risa Nopianti

Abstrak
Ronggeng gunung sebagai sebuah kesenian yang terlahir dari catatan penuturan sejarah yang panjang, merupakan kesenian khas yang menggambarkan kondisi dan identitas masyarakat di Kabupaten Ciamis, khususnya masyarakat yang berada di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari. Terjadinya perubahan zaman yang mendorong terjadinya perubahan budaya masyarakat, khususnya perubahan pada cara pandang dan berpikir masyarakat mengenai konsep hidup kekinian, merupakan latar belakang lahirnya konsep penelitian ini. Ronggeng gunung sebagai produk budaya dirasakan masyarakat pendukungnya sudah tidak dapat merepresentasikan keinginan masyarakat terhadap kebutuhan mereka akan hiburan. Maka dari itu terciptalah kesenian ronggeng kaler, yang dianggap mampu memenuhi hasrat masyarakat akan sebuah konsep hiburan yang benar-benar menghibur. Sekalipun pada praktiknya kesenian ini sedikit berbeda dengan kesenian ronggeng gunung yang telah ada sebelumnya, namun masyarakat setempat tetap percaya bahwa kesenian ronggeng gunung merupakan cikal bakal dari lahirnya kesenian ronggeng kaler. Kemunculan ronggeng kaler yang diadaptasi dari ronggeng gunung ini memungkinkan terjadinya perubahan fungsi dan nilai yang ada pada kesenian tersebut. Dari sakral ke profan, dari ritual ke hiburan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penulisan deskriptif analitik.

Kata kunci: ronggeng gunung, ronggeng kaler, perubahan sosial, nilai, fungsi.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 6, No 1, Maret 2014: 81-92

Popular Posts