WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Upacara Ngalanjakan pada Masyarakat Kanekes, Banten

Oleh: Risa Nopianti

Upacara ngalanjakan merupakan salah satu upacara atau tradisi yang dilakukan Orang Kanekes di Banten, dari keseluruhan rangkaian upacara menjelang upacara seba, sebagai puncak upacara tradisi Orang Kanekes. Upacara ini dilaksanakan setelah upacara ngaseuk serang atau upacara panen padi selesai. Upacara ngalanjakan harus selalu dilaksanakan setiap tahunnya tanpa terkecuali, sebab apabila tidak dilaksanakan akan berakibat pada terjadinya masalah (kabendon). Kabendon ini dapat berupa penyakit, bencana alam, atau gagal panen.

Ngalanjakan artinya berburu, adapula yang menyebutnya ngalanjakan kapunduyan. Jadi upacara ngalanjakan adalah upacara yang dilaksanakan oleh Orang Kanekes, untuk berburu binatang di hutan sebagai persiapan bahan makanan pada saat penyelenggaraan upacara kawalu. Upacara Kawalu biasanya diselenggarakan selama tiga bulan berturut-turut setelah kegiatan panen raya selesai. Maka dari itu diperlukan persiapan bahan makanan untuk menghadapai kawalu yang diselenggaran cukup lama, sebagai cadangan makanan semua Orang Kanekes.


Ngalanjak dan Munduy selalu dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut sebelum memasukai puasa kawalu di bulan Kasa, bulan Karo dan bulan Katiga. Kegiatan ngalanjakan dilaksanakan dari pagi hingga sore setiap harinya dan dipimpin oleh Puun sebagai sesepuh adat. Selama 7 hari itulah hanya kaum laki-laki Kanekes saja yang melakukan acara perburuan. Mereka biasanya berburu binatang di sekitar kawasan kabuyutan Kanekes. Kegiatan perburuan ini tidak boleh keluar dari kawasaan tempat tinggal mereka karena dapat berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dengan masyarakat luar.

Sebagai tetua adat, puun bertugas memimpin jalannya acara ngalanjakan tersebut. Dalam menjalankan tugasnya Puun didaulat untuk membacakan doa-doa dan mantra agar pelaksanaan acara berjalan dengan lancar dan dapat menghasilkan hewan buruan sebanyak mungkin. Sekalipun puun memegang jabatan tertinggi dalan struktur pemerintahan adat Baduy, namun beliau tidak segan untuk turut serta dalam kegiatan ngalanjakan. Keberadaannya justru menjadi pemacu semangat bagi anggota masyarakatnya supaya senantiasa bersikap optimis, sehingga mendapatkan berhasil sesuai apa yang diharapkan. Adakalanya ketika puun berhalangan hadir dikarenakan faktor kesehatannya yang kurang memungkinkan untuk mengikuti kegiatan berburu yang memang memerlukan stamina yang benar-benar kuat, maka tugas untuk memimpin doa-doa dapat dilimpahkan kepada para jaro dan baresannya.

Utamanya dalam setiap upacara yang berkenaan dengan siklus perladangan dan pertanian pada Orang Kanekes, harus diikuti oleh semua golongan masyarakat Kanekes tanpa terkecuali, baik tua maupun muda, laki-laki dan perempuan. Namun karena kegiatan ngalanjak ini cukup berat, maka tidak semua anggota masyarakat dapat turut serta. Kegiatan ngalanjakan ini cukup biasanya hanya dilakukan oleh laki-laki dewasa yang memiliki kekuatan fisik dan stamina. Dari setiap kampung yang ada di wilayah baduy luar maupun dalam, hanya diwakili oleh dua orang saja. Kegiatan ngalanjakan ini juga pantang diikuti oleh kaum perempuan, dengan pertimbangan resiko yang cukup berat bagi mereka.

Sebelum melaksanakan kegiatan perburuan, terlebih dahulu harus dipersiapkan lanjak (jaring) ikan yang akan dipergunakan sebagai jerat hewan buruan. Selain untuk dipasang disungai untuk menjerat ikan, lanjak ini juga digunakan di darat untuk menjerat hewan-hewan kecil hingga sedang sebagai mangsa buruan. Adapun jenis hewan yang biasanya diburu dalam acara ngalanjak munduy ini adalah mencek ‘rusa’, peucang ‘kancil’, buut dan peusing. Sedangkan jenis ikan yang biasa ditangkap adalah lauk susuh ‘ikan susuh’, hurang ‘udang’ dan lauk cenang ‘ikan cenang’. Tentunya tidak ketinggalan sebilah golok yang harus senantiasa tersedia dipinggang para pemburu, untuk digunakan sebagaimana mestinya dalama kegiatan perburuan tersebut.


Pagi hari, minggu pertama di Bulan Kasa, para pemburu –dengan berseragamkan pakaian khas Baduy yaitu baju kampret, ikat kepala, celana pendek selutut– telah siap siaga dengan peralatan dan perlengkapan berburu mereka di masing-masing kapuunan Kanekes atau Kampung Tangtu, yaitu Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Dipimpin oleh puun masing-masing mereka mulai bergerak menuju kawasan hutan tempat dimana acara perburuan akan dilaksanakan.

Di tengah hutan rombongan berhenti sejenak untuk memanjatkan doa-doa sebagai bagian dari ritual perburuan. Selesai pembacaan doa yang dipimpin oleh puun, maka dimulailah pemasangan jerat secara simbolis. Pemasangan jerat ini di lakukan di beberapa titik secara serentak oleh para anggota rombongan pemburu. Diperlukan waktu yang tidak sebentar dan kesabaran yang cukup hingga hewan buruan dapat masuk kedalam lanjak atau jerat yang telah dipasang. Barulah siang menuju sore lanjak-lanjak ini diperiksa apakah telah menjerat hewan atau belum. Hewan-hewan yang terjerat oleh lanjak biasanya tidak langsung dipeuncit ‘disembelih’ ditempat melainkan harus dibawa kerumah masing-masing dalam keadaan hidup untuk kemudian disembelih dan diolah lebih lanjut oleh kaum perempuan.

Pengolahan hewan buruan yang telah dihasilkan dari kegiatan berburu atau ngalanjak ini, sebagian besar diproses dengan cara diasap, supaya dapat bertahan lama menghadapi upacara kawalu yang akan dilaksanakan selama tiga bulan lamanya. Daging hewan atau ikan yang telah dibersihkan disimpan dengan cara digantung dengan posisi yang tidak terlalu dekat dengan api dari tungku perapian yang telah disiapkan untuk mengasapi. Hal ini dilakukan supaya daging tidak gosong terkena jilatan api, melainkan hanya panas dari asap yang ditimbulkannya saja. Proses pengasapan bisa memakan waktu berjam-jam tergantung jenis daging yang diasapkan.

Orang Baduy mengerti bagaimana hidup selaras dengan alam, apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat untuk menjaga agar keharmonisan alam selalu terjaga. Begitupun halnya dalam prosesi upacara ngalanjakan ini, secara fasih mereka mengetahui hewan-hewan jenis apa saja yang sekiranya boleh untuk dikonsumsi dan mana yang tidak, mana jenis hewan yang dilindungi dan mana yang tidak. Pengetahuan ini telah diketahui oleh Orang Kanekes secara turun temurun, sehingga hingga saat ini keseimbangan alam dan lingkungan di wilayah Kanekes selalu terjaga dengan baik.


Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/upacara-ngalanjakan-pada-masyarakat-kanekes-banten/

Popular Posts