WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label Suwardi Alamsyah P. Show all posts
Showing posts with label Suwardi Alamsyah P. Show all posts

Pola Kampung dan Rumah Kampung Bunisakti Desa Wargaluyu Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung

Oleh Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Pola kampung dan rumah dalam tulisan ini difokuskan pada pola kampung dan rumah tinggal Kampung Bunisakti Girang, yakni pola kampung, batas kampung, tata ruang kampung, dan ragam hias kampung; juga pola rumah tinggal, bentuk dan organisasi ruang, bagian-bagian rumah dan fungsinya, teknik dan cara pembuatan serta mendirikannya. Perkampungan dan rumah tinggal tersebut masih dapat disaksikan di Kampung Bunisakti Desa Wargaluyu Kecamatan Arjasari KabupatenBandung. Pola kampung dan rumah tinggal ini, sepintas tidak ada yang salah. Hanya sejak puluhan tahun silam, kampung ini berpenduduk tak lebih dari 13 kepala keluarga (KK). Padahal, tak ada hukum adat apa pun yang membatasi jumlah kepala keluarga (KK) di kampung itu, karena Kampung Bunisakti memang bukan kampung adat. Bentuk rumah warga layaknya kampung biasa. Tak ada pantangan apa pun dalam pembangunan rumah atau kehidupan sosial lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami peranan masyarakat dalam hubungannya dengan Pola Kampung dan Rumah Kampung Bunisakti Desa Wargaluyu. Metode penelitian ini didasarkan pendapat yang dikemukakan Winarno Surakhmad (1985:139), bahwa: suatu cara yang digunakan untuk menyelidiki dan memecahkan masalah yang tidak terbatas pada penggumpulan data, melainkan meliputi analisis dan interpretasi sampai pada kesimpulan yang didasarkan atas penelitian tersebut.

Abstract
Village pattern in this manuscript refers to the pattern of village and settlement in Kampung (village) Bunisakti Girang, including the pattern itself, village border, zoning and decorations as well. There is no custom law to manage the village and to determine the numbers of family that should inhabit the village but since tens of years ago the village has been inhabited by not more than 13 families. There are no taboos in building houses as well as in social life.

Keywords: pola, kampung, rumah tinggal, pattern, village, houses.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 4, No 2, Juni 2012

Sisingaan: Kesenian Tradisional Kabupaten Subang

Oleh: Drs. Suwardi Alamsyah P. (BPNB BANDUNG)

Makalah dalam kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan yang diselenggarakan oleh BPNB Bandung pada tanggal 23 Mei 2015 di Aula SMA Negeri 11 Garut

PENDAHULUAN

Seni tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, seni tidak selalu diwujudkan dalam bentuk seni musik, seni rupa, seni vocal ataupun bentuk-bentuk pengekspresian lainnya, melainkan lebih bersentuhan dengan aspek rasa. Dalam seni terkandung rasa keindahan, yang terkait langsung dengan kebutuhan batiniah. Unsur seni inilah yang jelas membedakan manusia dengan mahluk-mahluk lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Rosyadi (2010: 1), bahwa salah satu kelebihan manusia dari jenis-jenis mahluk lainnya di muka bumi ini ialah di samping manusia dikaruniai akal fikiran, manusia juga dikaruniai rasa keindahan.

Dalam konteks kebudayaan, kesenian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dari kebudayaan manusia. Bakan, dalam pandangan sempit, tidak jarang orang mengartikan dan mengidentikkan kebudayaan sebagai kesenian. Kesenian dalam konteks kebudayaan merupakan ungkapan kreativitas dari kebudayaan itu sendiri. Ia menciptakan, memberi peluang untuk bergerak, memelihara, menularkan, mengembangkan untuk kemudian menciptakan kebudayaan baru lagi (Koentjaraningrat, 1981/1982). Berkesenian adalah salah satu kebutuhan hidup manusia dalam bentuk pemenuhan kebutuhan akan rasa keindahan.

Dalam konteks kemasyarakatan, jenis-jenis kesenian tertentu memiliki kelompok-kelompok pendukung tertentu. Demikian pula kesenian bisa mempunyai fungsi yang berbeda di dalam kelompok-kelompok manusia yang berbeda. Perubahan fungsi dan perubahan bentuk pada hasil-hasil karya seni, dengan demikian dapat pula disebabkan oleh dinamika masyarakat. Di sisi lain, tata masyarakat dan perubahannya turut pula menentukan arah perkembangan kesenian.

Era modernisasi dan globalisasi membawa dua sisi dampak bagi keberadaan kesenian-kesenian tradisional. Di satu sisi, modernisasi dan kemajuan iptek membawa dampak negatif bagi keberadaan kesenian tradisional. Berbagai jenis kesenian tradisional yang pada masanya dulu sempat “berjaya”, seiring dengan semakin derasnya arus kebudayaan dan kesenian asing, eksistensi kesenian tradisional pun terancam. Ia mulai terpinggirkan dan tersisihkan oleh kesenian-kesenian baru yang belum tentu sesuai dengan nafas budaya bangsa kita. Tidak jarang pula terjadi proses “pendangkalan” terhadap kesenian-kesenian tradisional. Padahal sesungguhnya ekspresi kesenian yang merupakan bagian integral dari kesenian itu sendiri telah sering kali membanggakan kita ketika bangsa lain di dunia mengaguminya.

Kondisi ini banyak dialami oleh kesenian-kesenian tradisional, sehingga tidak jarang kesenian-kesenian tradisional, khususnya yang ada di daerah-daerah kini tengah mengalami krisis, bahkan ada beberapa di antaranya yang sudah mulai punah. Yang berkembang dan banyak diminati oleh masyareakat adalah justru kesenian-kesenian yang telah mengalami “proses pendangkalan”, dan mengikuti selera pasar.

Kondisi semacam ini dialami juga oleh beberapa jenis kesenian tradisional Sunda yang ada di Kabupaten Subang. Beberapa jenis kesenian tradisional Sunda kini tengah ada dalam kondisi kritis, sementara tidak sedikit pula yang bahkan telah punah. Namun ada juga beberapa jenis kesenian tradisional Sunda yang hingga kini tetap bertahan. Keberadaan kesenian-kesenian tradisional Sunda di Kabupaten Subang ini, tidak lepas dari peranserta para senimannya yang menaruh perhatian penuh terhadap keberadaan kesenian tradisional.

DESKRIPSI KESENIAN SISINGAAN

Penamaan

Sisingaan adalah nama sebuah jenis kesenian tradisional yang lahir dan berkembang di daerah Kabupaten Subang. Kesenian Sisingaan ini pun telah menjadi icon Kabupaten Subang, serta telah mengangkat dan mengharumkan nama Kabupaten Subang, bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga telah dikenal di dunia internasional.

Penamaan kesenian Sisingaan diambil dari alat utama kesenian ini, yaitu “sisingaan”, suatu benda yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai wujud seekor singa. Kata “sisingaan” itu sendiri adalah kata jadian dalam bahasa Sunda yang kata dasarnya adalah “singa”, kemudian diberi imbuhan berupa awalan “si” dan akhiran “an”. Dalam bahasa Sunda, kata jadian yang dibentuk oleh pengulangan suku kata awal dari suatu kata dasar dan diberi akhiran ”an” mempunyai arti menyerupai. Contohnya: “me-meja-an”, “bu-buku-an”, “a-anjing-an”, “ma-manuk-an”, “ku-kuda-an”, “si-singa-an”, yang artinya tiruan dari kata dasarnya atau bukan yang sebenarnya. Jadi dalam kesenian Sisingaan, alat utamanya bukan singa yang sesungguhnya, melainkan singa tiruan yang terbuat dari kayu.

Banyak penamaan atau sebutan yang diberikan pada kesenian ini; ada yang menyebutnya kesenian Gotong Singa, Kuda Ungkleuk, atau Singa Ungkleuk, Odong-odong, Singa Depok, Pergosi, dan Sisingaan. Nama-nama tersebut memang merujuk pada unsur-unsur yang menonjol dari penampilan kesenian tersebut. Karena penamaan atau istilah yang ditujukan pada kesenian ini masih simpang siur, Bupati Subang yang pada masa itu dijabat oleh Ir.Sukanda Kartasasmita (1978-1988), menginstruksikan agar diadakan seminar yang salah satu tujuannya adalah untuk mencari kesepakatan dan pembakuan nama kesenian ini. Berdasarkan hasil seminar yang diselenggarakan pada tahun 1989 di kota Subang, maka ditetapkanlah nama seni pertunjukan ini adalah Kesenian Sisingaan.

Asal-usul Kesenian Sisingaan

Perihal asal-usul Kesenian Sisingaan, ada beberapa pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa lahirnya kesenian Sisingaan terkait erat dengan situasi sosial politik pada masa kolonial, yaitu ketika wilayah Subang dijajah dan diduduki oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan selanjutnya ketika wilayah Subang menjadi daerah perkebunan yang dikuasai secara bergantian oleh para penguasa tuan tanah berbangsa Belanda dan Inggris.

Edih AS – seorang pakar kesenian Sisingaan – sampai pada kesimpulan bahwa kesenian sisingaan ini mulai berdiri pada tahun 1857 dan pendirinya adalah Demang Mas Tanudireja. Pendapatnya ini didasarkan pada penelaahan berdirinya Kademangan Ciherang (kira-kira 5 Km dari Kota Subang), di mana Ciherang oleh beberapa ahli kesenian ini dianggap sebagai asal daerah kesenian Sisingaan.

Sebelum tahun 1860 Ciherang telah berdiri sebagai sebuah kademangan. Demangnya adalah Mas Tanudireja yang diangkat dengan besluit tahun 1857. Bahan lainnya yang dijadikan dasar pengambilan kesimpulan oleh pakar ini adalah hasil penelitian yang telah dilakukannya dari tahun 1981 sampai dengan tahun 1985. Dari hasil penelitian itu diperoleh keterangan mengenai orang-orang atau para pejabat setempat yang pernah menggelarkan kesenian ini, serta keterangan mengenai waktunya sebagai berikut:

Pada tahun 1910 Lurah Sayung yang terpilih sebagai lurah yang ketiga di Desa Cigadung, diarak keliling desa menunggang sisingaan dengan perangkat keseniannya sebagai luapan rasa kegembiraan masyarakat dan dirinya sendiri atas terpilihnya sebagai lurah.
Tahun 1920, Patih Oman, pensiunan Pemda Kabupaten Subang mengakui bahwa pada masa kanak-kanaknya ia dikhitan dan diarak keliling kampung dengan menunggang sisingan.
Tahun 1927, O.Suparno Pensiunan Kantor Veteran Kabupaten Subang mengakui pula bahwa pada waktu dikhitan ia diarak keliling kampung dengan kesenian sisingaan.
Dari sumber-sumber itulah pakar tersebut sampai pada kesimpulan bahwa kesenian Sisingaan sudah ada sebelum tahun 1910; dan dari telaahan sejarahnya mengenai Kademangan Ciherang dan diangkatnya Demang Mas Tanudireja (1857), ia menyatakan bahwa kesenian ini mulai ada pada tahun 1857, dan penciptanya adalah Demang Mas Tanudireja.

Pendapat kedua, mencoba menelusuri asal-usul lahirnya kesenian Sisingaan melalui rekonstruksi sejarah penguasaan daerah Subang oleh pihak swasta asing (Inggris dan Belanda) dengan menggambarkan situasi-situasi yang berlangsung pada setiap periode. Armin Asdi dalam sebuah makalahnya yang berjudul “Seni Sisingaan dan Perkembangannya”, mengelompokkan masa perkebunan itu menjadi 3 periode, yaitu:

Tahun 1812 – 1839 daerah Subang (P and T Land) dikuasai oleh orang Inggris.
Tahun 1840 – 1911 daerah Subang dikuasai oleh orang Belanda.
Tahun 1911 – 1954 daerah ini dikuasai lagi oleh orang Inggris.
Pada periode pertama, daerah Subang dikuasai oleh orang-orang Inggris yaitu J.Sharpnell dan Muntinghe yang kemudian Mutinghe menjual tanahnya kepada J.Sharpnell dan Skelton. Ketika itu perkebunan P and T Land belum begitu berarti. Daerah pantainya berawa-rawa, datarannya dipenuhi semak-semak dan daerah gunungnya merupakan hutan belantara. Daerah ini ketika itu tidak dikelola secara sungguh-sungguh. Penghasilan tuan tanah hanyalah dari pajak bumi penduduk yang masih sangat jarang. Dengan kondisi yang seperti itu kecil sekali kemungkinannya untuk dapat melahirkan suatu karya seni yang besar dan penuh makna seperti kesenian Sisingaan.

Periode kedua yaitu masa penguasaan pihak swasta Belanda atas perkebunan P and T Land. Semenjak tahun 1840 ketika keluarga Hoffland menjadi pemilik P and T Land, mulailah daerah ini secara ekonomis mempunyai arti. Perkebunan mulai dikelola secara sungguh-sungguh dan menghasilkan komoditi tanaman yang laku keras di pasaran dunia, seperti teh, coklat, karet, kina, dan merica. Suasana kehidupan mulai ramai dan mulai berdatangan orang-orang secara besar-besaran, khususnya dari daerah Kuningan dan Majalengka yang kemudian menetap di daerah Subang. Pada waktu itu kehidupan di daerah ini sudah jauh lebih baik dibanding masa sebelumnya. Keluarga Hoffland menjadi sangat terkenal sebagai orang yang mampu memajukan P and T Land dan sekaligus memperbaiki kehidupan rakyat.

Dalam suasana masyarakat yang demikian mungkin sekali lahir suatu karya seni yang besar. Tetapi kalau dihubungkan dengan zaman pertuanan pada masa itu, kemungkinan besar kreasi seni yang lahir cenderung bersifat kegembiraan, pemujaan, sanjungan bahkan mungkin pengkultusan. Kalaulah kesenian sisingaan lahir pada zaman ini tentunya kesenian ini termasuk seni pujaan, sanjungan terhadap penguasa P and T Land yang dianggap membawa kemakmuran pada waktu itu. Tentunya nuansa kegembiraan yang menonjol sebagai ungkapan terimakasih kepada penguasa. Namun pada kenyataannya kesenian sisingaan ini dipersepsikan oleh banyak kalangan sebagai suatu bentuk kesenian yang mengekspresikan perlawanan dan pemberontakan, serta rasa ketidakpuasan terhadap penguasa (tuan tanah dan pemerintah Hindia Belanda).

Selanjutnya pada periode ketiga, yaitu tahun 1911 – 1954, P and T Land kembali dikuasai oleh orang Inggris. Situasi masyarakat pada waktu itu tengah dibakar oleh semangat perjuangan yang membara yang disalurkan melalui organisasi-organisasi badan perjuangan. Tahun 1911 tumbuh Sarekat Islam, sebuah organisasi perjuangan yang mudah dan dapat diterima di kalangan rakyat jelata yang pada umumnya mempunyai latar belakang Agama Islam dan persamaan nasib dalam penderitaan akibat tekanan penjajah.

Di daerah Subang sendiri yang waktu itu dikuasai oleh pemilik perkebunan P and T Land menjadi daerah yang aman untuk pelarian tokoh-tokoh politik dari daerah lain, karena pihak P and T Land sendiri kurang memperdulikan masalah-masalah politik selama tidak merugikan perusahaan. Pada waktu itu di daerah Subang banyak timbul pergerakan-pergerakan politik bernafaskan nasionalisme yang pada mulanya bergerak secara terselubung dalam bentuk kegiatan-kegiatan ekonomi, sosial dan pendidikan.

Melihat pada sifat kesenian sisingaan yang sarat dengan pesan-pesan perjuangan, maka mungkin saja kesenian ini berkembang pada periode ini. Namun demikian belum juga dapat dipastikan kapan tepatnya kesenian ini lahir. Kemungkinan besar di antara ketiga periode seperti yang diuraikan di atas, pada periode ketiga inilah lahirnya kesenian sisingaan.

Kedua pendapat ini selama ini menjadi pengetahuan umum dari masyarakat luas, yaitu bahwa Kesenian Sisingaan merupakan simbol perlawanan masyarakat Subang terhadap penjajah yang diekspresikan melalui bentuk aktivitas berkesenian.

Pendapat lain mengenai asal-usul kesenian Sisingaan, dipelopori oleh Mas Nanu Munajar, seorang seniman akademisi yang berasal dari daerah Subang. Ia berpendapat bahwa kesenian Sisingaan berawal dari kesenian Odong-odong yang memiliki fungsi dan makna ritual. Lebih jauh Mas Nanu Munajar mengatakan, bahwa jauh sebelum agama-agama besar masuk, masyarakat di daerah Subang telah memiliki tradisi yang berkaitan dengan aktivitas pertanian, yaitu tradisi “Odong-odong”.Tradisi yang dimaksud adalah kepercayaan yang memuja dan mengagungkan padi dan para leluhur serta kekuatan-kekuatan supranatural. Tradisi Odong-odong ini dilangsungkan dengan cara mengarak sesuatu benda yang dibentuk menyerupai binatang tertentu dan diiringi dengan bunyi “surak” (tepuk tangan berirama). Peniruan bentuk binatang ini adalah ekspresi dari kepercayaan totemisme (kepercayaan dan pemuliaan terhadap hewan tertentu). Odong-odong ini biasa dipertunjukan pada konteks ritual, seperti ritual pertanian, dan upacara Ngaruwat Bumi.

Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian Odong-odong ini mengalami perkembangan yang kemudian melahirkan bentuk-bentuk seni pertunjukan dan helaran, seperti Kesenian Mamanukan, Kukudaan atau Kuda Semprani (kukudaan yang diberi sayap), dan Sisingaan. Pendapat yang kedua ini mengatakan bahwa penamaan Kesenian Sisingaan itu sendiri batu muncul pada tahun 1989. Ketika itu, Kabupaten Subang diminta untuk mengirimkan misi keseniannya ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sementara para seniman Subang belum memiliki nama yang pas untuk menyebut kesenian Odong-odong. Akhirnya, dalam sebuah forum seminar yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang pada tahun 1989, ditetapkanlah nama Kesenian Sisingaan sebagai delegasi kesenian dari Kabupaten Subang untuk dipergelarkan di TMII. Semenjak itu, maka lahirlah Kesenian Sisingaan.

Jalannya Pertunjukan

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa kesenian sisingaan dewasa ini tidak hanya dipergelarkan dalam kaitannya dengan upacara khitanan, melainkan juga kaitannya dengan peristiwa-peristiwa upacara resmi yang bersikap lokal maupun nasional. Namun demikian, oleh karena memang pertunjukkan kesenian ini lebih sering dipergelarkan untuk menghibur anak yang akan dikhitan, maka dalam deskripsi ini pun lebih ditekankan pada jalannya pertunjukkan kesenian ini ketika ditampilkan dalam kesempatan upacara khitanan.

Sehari sebelum anak itu diusung di atas sisingaan untuk diarak keliling kampung/desa, ia dilulur dan dimandikan dengan air kembang oleh dukun rias, yaitu perias pengantin sunat. Keesokan harinya barulah anak itu dirias di tempat khusus, yaitu di sebuah bilik yang khusus dibuat untuk itu secara tidak permanen.

Sebelum mulai dirias, anak yang akan dikhitan itu dimandikan terlebih dahulu. Selesai mandi barulah didandani. Pertama-tama adalah merias muka dengan bedak lulur. Kemudian matanya dipoles dengan eye shadow dan bibirnya dipoles dengan lipstik. Untuk memberi kesan “kejantanan”, di atas bibir anak itu diberi kumis dengan pensil alis (menggambarkan tokoh Gatotkaca). Selanjutnya anak itu didandani dengan seperangkat pakaian khusus yang telah disediakan yang meniru pakaian Gatotkaca. Selesai anak yang akan dikhitan didandani, kemudian dukun rias mendandani anak yang akan mendampingi pengantin sunat. Anak itu didandani mengidentifikasi tokoh Arjuna.

Sementara itu rombongan penggotong sisingaan dan penabuh gamelannya sudah siap di halaman rumah atau di pinggir jalan. Setelah pengantin sunat dan pendampingnya selesai didandani, kedua anak itu dinaikkan ke atas sisingaan. Kemudian alat-alat tabuhan mulai dibunyikan membawakan lagu-lagu yang berirama dinamis. Bersamaan dengan bunyi alat tabuhan, para penggotong sisingaan mulai melakukan gerakan-gerakan tarian masal yang dinamis selaras dengan iringan musiknya. Setiap gerakan mereka lakukan secara bersama-sama, kompak, dan serempak. Dalam gerak-gerak tarian banyak terselip gerakan-gerakan pencak silat.

Pembentukan formasi para penari penggotong sisingaan diatur dan dikomando oleh seorang pemimpin. Melalui aba-aba pemimpin, para penggotong sisingaan mulai membuat formasi untuk menggotong sisingaan. Mereka membagi diri dalam 2 kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas 4 orang. Sambil tetap melakukan gerak-gerak tarian, masing-masing kelompok mendekati sisingaan yang akan diusungnya. Mereka pun mulai membuat gerakan-gerakan atraktif dan akrobatis sambil mulai mengangkat sisingaan dan meletakkannya di atas pundak. Masing-masing kelompok mengusung sebuah sisingaan yang ditunggangi oleh masing-masing satu orang anak.

Komposisi gerak tarian yang dibawakan agak berbeda bila kesenian ini dipergelarkan dalam suatu pawai (arak-arakan) dalam kaitannya dengan upacara khitanan, dibanding dengan pergelaran di atas panggung. Susunan gerak tari sisingaan yang dipertunjukkan pada waktu mengarak anak sunat adalah: Ketuk Tilu yang terdiri atas gerakan-gerakan kuda-kuda, jurus, ngayun, jurus, minced, dan gurudugan. Gerakan-gerakan ini diiringi tiupan terompet dalam overtur Arang-arang dan gurudugan, lengkap dengan iringan karawitan. Gerakan selanjutnya adalah ancang-ancang dan najong dalam posisi badan berputar. Gerakan ini diiringi irama lagu Gurudugan. Kemudian disusul dengan gerakan-gerakan eway, minced, solor, minced yang diiringi lagu Kangsreng. Babak selanjutnya adalah atraksi akrobatik yang dilakukan di sepanjang jalan dengan iringan musik dalam irama yang dinamis.

Adapun komposisi gerak tari dan lagu kesenian sisingaan yang dipergelarkan di atas panggung adalah Overture Arang-arang yang dialunkan melalui tiupan terompet dan Gurudugan. Selanjutnya adalah lagu Kidung mengiringi gerakan-gerakan: kuda-kuda masang, ngayun, jeblagan. Kemudian lagu Kangsreng mengiringi gerakan-gerakan: eway, minced, solor, minced. Disusul dengan lagu Gondang mengiringi gerakan: bankaret, gebrig, bajing luncat, masang/ancang-ancang, depok. Kemudian lagu Kesenian Sisingaan mengiringi gerak tari Jaipongan. Atraksi selanjutnya adalah atraksi akrobatik dalam gerakan-gerakan putar katak, gendong singa, kait suku, melak cau, dan nincak acak.

PENUTUP

Simpulan

Kabupaten Subang merupakan salah satu daerah lumbung seni di wilayah Tatar Sunda. Hampir semua jenis kesenian Sunda hidup dan berkembang di daerah Subang. Salah satu jenis kesenian Sunda yang sangat melekat dengan daerah Subang adalah kesenian Sisingaan. Kesenian Sisingaan ini telah menjadi icon Kabupaten Subang, serta telah mengangkat dan mengharumkan nama Kabupaten Subang, bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga telah dikenal di dunia internasional.
Perihal asal usul kesenian sisingaan terdapat perbedaan pendapat di antara para akhli. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa kesenian sisingaan lahir sebagai simbol perlawanan masyarakat Subang terhadap penguasa perkebunan (P & T Lands), yang secara bergantian dikuasai oleh orang Belanda dan Inggris. Dalam hal ini, sisingaan merupakan simbol penguasa Belanda dan Inggris, sedangkan anak sunat adalah simbol masyarakat Subang yang sedang menundukkan penguasa asing. Pendapat kedua mengatakan bahwa kesenian Sisingaan pada awalnya berkaitan dengan tujuan suci, yaitu untuk upacara bersih desa, kesuburan, dan keselamatan atau tolak bala. Kesenian ini disajikan sebagai bentuk wujud ungkapan syukur masyarakat pada para leluhur, terhindar dari segala macam bahaya, dan syukuran telah dilimpahkan kemakmuran serta kesuburan. Pada setiap upacara, kesenian ini hadir dengan bentuk yang berbeda-beda. Pada awalnya sisingaan bentuknya tidak seperti sekarang ini, wujudnya seperti singa, akan tetapi bentuknya pun berbeda-beda yang menyerupai binatang atau hewan, yaitu berbentuk burung-burungan, seperti burung garuda, elang, gagak, maupun angsa, macan, kuda, dan sebagainya. Kesenian-kesenian yang berbentuk hewan/binatang tersebut oleh masyarakat Kabupaten Subang disebutnya “Odong-odong”. Namun pada perkembangan selanjutnya, bentuk sisingaan yang menjadi berkembang dan hidup di kalangan masyarakat Subang, disajikan untuk upacara hajatan khitanan anak.
Saran-saran

Eksistensi kesenian sisingaan di kalangan masyarakat Subang tidaklah terlalu mengkhawatirkan, karena kesenian ini hingga kini masih tetap hidup dan berkembang serta diminati oleh masyarakat luas. Namun ini tidak berarti bahwa kesenian ini lepas dari perhatian pemerintah ataupun para stakeholder. Upaya-upaya pembinaan, sosialisasi, dan regenerasi tetap harus dilakukan, karena bila tidak, niscaya kesenian ini akan mengalami nasib yang sama dengan beberapa jenis kesenian tradisional yang kini kondisinya sangat mengkhawatirkan.
Adanya perbedaan pendapat mengenai asal-usul kesenian sisingaan perlu disikapi dengan arif. Apa pun pendapat masyarakat atau seniman mengenai asal usul kesenian ini adalah syah-syah saja, karena memang hingga kini belum ada bukti-bukti otentik dan empiris mengenai asal-usul kesenian ini. Adanya perbedaan pendapat ini perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan kajian yang mendalam mengenai sejarah asal usul kesenian sisingaan yang didukung dengan data-data yang sahih dan otentik.
Perlu upaya-upaya untuk lebih mengangkat lagi popularitas kesenian sisingaan ke tingkat nasional, bahkan didaftarkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik bangsa Indonesia.

Konservasi Tradisional pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub

Oleh Suwardi Alamsyah

Abstrak
Sudah menjadi fenomena umum, bahwa sekarang terjadi ketidakharmonisan hubungan sosial dengan alam, kerusakan alam dan lingkungan hidup, akibat sikap dan tindakan manusia. Namun masyarakat Kasepuhan Cicarucub berupaya untuk tetap melakukan konservasi melalui berbagai pranata. Hal itu terjadi, karena bagi masyarakat Kasepuhan Cicarucub, konservasi merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya leluhur mereka yang diwarisi secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, bila terjadi penyimpangan terhadap konservasi, dianggap melanggar adat atau tradisi.

Kata Kunci: Konservasi. Tradisi. Masyarakat adat.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 2, Agustus 2008: 677 - 754

Arsitektur Tradisional Rumah Betawi

Oleh Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Arsitektur tradisional rumah Betawi dalam tulisan ini difokuskan pada arsitektur tradisional rumah tinggal, yakni rumah Gudang, rumah Joglo, dan rumah Bapang/Kebaya. Rumah-rumah tersebut masih dapat disaksikan di perkampungan masyarakat Betawi di daerah Condet Kelurahan Balekambang, Jakarta Timur. Bentuk-bentuk rumah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Betawi terbuka terhadap pengaruh luar. Hal tersebut dapat dilihat dan dipelajari dari pola tapak, pola tata ruang dalam, dan terutama dari sistem struktur dan bentuk serta detail dan ragam hias rumah.

Kata Kunci: Arsitektur tradisional, rumah.

Abstract
Traditional Architecture forms house of Betawi in this article load traditional architecture of house remain, namely Warehouse house, house of Joglo, and house of Bapang / kebaya, what still see and can be witnessed is countrified society of Betawi in area of Condet Sub-District Of Balekambang, Jakarta East. The Forms House indicate that society of Betawi much more open from external influence. The mentioned can be seen and studied from tread pattern, planology pattern in, and especially from structure system and form and also decorative manner and detail which owned it.

Keywords: traditional architecture, building.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 1 No. 1 Maret 2009

Nilai Budaya Arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon Provinsi Jawa Barat

Oleh Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun atas prakarsa Sunan Gunung Jati, sekira tahun 1498-1500 Masehi yang pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan seorang arsitek bernama Pangeran Sepat dari Majapahit bersama pembantunya dari Demak dan Cirebon. Pembangunan masjid ini terlahir dari rasa dan kepercayaan untuk mengagungkan Sang Khalik dan untuk membangun rasa keagungan. Arsitektur bangunan masjid ini, dibangun dengan memadukan unsur-unsur budaya pra Islam, baik bentuk, struktur dan ragam hiasnya, walau tidak secara langsung, tetapi tetap mempertahankan tata nilai yang ada sepanjang perjalanan sejarahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami peranan masyarakat di dalam mempertahankan arsitektur masjid serta fungsi simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat serta hubungannya dengan arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa. Metode penelitian ini didasarkan pendapat yang dikemukakan Winarno Surakhmad (1985:139), bahwa: suatu cara yang digunakan untuk menyelidiki dan memecahkan masalah yang tidak terbatas pada pengumpulan data, melainkan meliputi analisis dan interpretasi sampai pada kesimpulan yang didasarkan atas penelitian tersebut.

Kata kunci: Nilai Budaya, Arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa.

Abstract
Between 1498-1500 Sunan Gunung Jati had a mosque built in Cirebon and he named it Masjid Agung (Great Mosque) Sang Cipta Rasa. The construction was led by Sunan Kalijaga, and the architect was Pangeran (Prince) Sepat of Majapahit with the help of his assistants from Demak and Cirebon. The architecture of the mosque is a mixture of pre-Islamic elements in terms of structure, form, and motifs of decoration. The research tried to dig a depth understanding about the role of the society in preserving the mosque archtecture and to study the function of symbols used in the society in accordance with the mosque architecture.

Keywords: Cultural Values, Masjid Sang Cipta Rasa Architecture.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Arsitektur Tradisional Rumah Kampung Pulo

Oleh Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Rumah tradisional Kampung Pulo dibangun oleh Embah Dalem Syarif Muhammad, sekitar abad ke-17. Pembangunan keenam rumah dan sebuah masigit yang kini berada di Desa Cangkuang Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, diperuntukkan keenam putrinya dan seorang putranya. Arsitektur tradisional rumah Kampung Pulo, mencirikan unsur budaya Sunda, baik bentuk, struktur, dan ragam hiasnya walau tidak secara langsung, tetapi tetap mempertahankan tata nilai yang ada sepanjang perjalanan sejarahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami peranan masyarakat di dalam mempertahankan arsitektur rumah serta fungsi simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat serta hubungannya dengan arsitektur rumah Kampung Pulo. Adapun metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif analitis.

Kata kunci: arsitektur, tradisional, Kampung Pulo.

Abstract
Traditional houses of Kampung Pulo were built around 17th century by Embah Dalem Syarif Muhammad. These houses comprise six houses for his daughters and a mosque for his son. As a whole, the architecture of the houses reflect Sundanese traditional architecture that preserved its values over history. The goal of the research is to dig and to comprehend the role of the society in preserving the architecture and the function of symbols in the society in relation to the architecture itself. The methodology of research is based on Winarno Surakhmad (1985:139): a method that is used to investigate and to solve problems that covers collecting, analysing and interpreting data, as well as making conclusion based on the research. The author has conducted a descriptive-analytical method.

Keywords: architecture, traditional, Kampung Pulo.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 1 Maret 2011

Nilai Budaya dalam Permainan Rakyat di Kabupaten Indramayu

Oleh: Drs. Suwardi A.P.

Abstrak
Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Indramayu ini berupaya mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sehingga permainan rakyat yang menempati tempat dalam kehidupan masyarakat dan sumber daya ini mempunyai arti dan guna di dalam menanamkan sikap dan keterampilan bagi masyarakat pendukungnya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Wawacan Lokayanti, Satu Kajian Tema dan Fungsi

Oleh: Drs. Suwardi A.P, dkk

Abstrak
Wawacan Lokayanti berisi cerita tentang perjuangan dan penyebaran agama Islam pada zaman Nabi Ibrahim alaihisallam. Di lain pihak pengaruh keadaan pun turut membentuk nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya, yang melalui proses enkulturasi dan sosialisasi nilai-nilai budaya akan mampu menempa bangsa menjadi bangsa yang berbudi luhur sebagaimana tercermin dalam kepribadian bangsa.

Kemudian dalam pengkajian Wawacan Lokayanti ini, lebih menikit-beratkan pada segi tema dan fungsi, namun pada dasarnya unsur-unsur yang terdapat dalam struktur cerita pun tidak lepas dari kajian. Unsur-unsur tersebut adalah alur, tokoh dan penokohan, latar atau setting, tema dan amanat.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 26, Oktober 2002

Wawacan Nabi Muhammad, Satu Kajian Tema dan Fungsi

Oleh: Drs. Suwardi Alamsyah P., dkk.

Abstrak
Wawacan Nabi Muhammad berisi cerita tentang pengagungan Muhammad sebagai nabi terakhir yang membawa misi dan risalah kebenaran di samping syiar dan dakwah Islam, ketika masa itu masyarakatnya dalam keadaan sesat. Penulis akan mengkaji struktur cerita yang meliputi alur cerita, tokoh dan penokohan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 25, Desember 2001

Iket Sunda, Kamari, Kawari Jeung Bihari

Oleh: Drs. Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Masyarakat Jawa Barat ’Sunda’ saat ini sedang menghadapi proses perubahan yang mengarah kepada perubahan dalam segala bidang termasuk di dalamnya tata cara berpakaian. Oleh karena itu, ’iket’ sebutan orang Sunda tidak bisa dilepaskan dari aspek-aspek lain yang berhubungan dengan ’iket’ tersebut.

Selain itu, ’iket’ sebagai pelengkap berpakaian orang Sunda juga mengalami perubahan fungsi sesuai dengan kemajuan kelompok masyarakatnya yang hidup di daerah berbeda-beda. Acapkali pengaruh ini mengubah tradisi yang sudah turun temurun sebagai manifestasi dari rasa keindahan dan pencerminan dari sistem nilai dan keyakinan yang berlaku.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 23, Februari 2001

Analisis Struktur Sejarah Carita Lampahing Para Wali Kabeh

Oleh: Drs. Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Buku ini menguraikan tentang raja Pajajaran Prabu Siliwangi yang berputra 9 orang, dua diantaranya bakal menggantikan tahta kerajaan yaitu Raden Walangsungsang dan Nyai Putri Rarasantang. Mereka meloloskan diri dari istana dan bertapa di gunung. Pada suatu saat Prabu Siliwangi memerintahkan pada dua orang anaknya, bila bertemu dengan orang Arab harus dibunuh dan ditangkap karena dia tidak mau masuk Islam, agama yang dibawa oleh orang Arab. Dalam tidurnya Walangsungsang bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad dan disuruh berguru agama suci pada Syekh Gunung Jati di Amparan. Kemudian dia pergi dari kerajaan mencari Sykeh Nurjati, kemudian Nyai Putri Rarasantang meloloskan diri menyusul Walangsungsang. Mereka berdua berguru pada Syekh Jati dan melaksanakan haji, putri Rarasantang menikah dan mempunyai anak kembar salah satunya adalah Syarif Hidayat yang berusaha mengislamkan Prabu Siliwangi.

Fungsi Keluarga Dalam Penanaman Nilai-nilai Budaya Pada Masyarakat Betawi di DKI Jakarta

Oleh: Drs. Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Fungsi keluarga dalam penanaman nilai-nilai budaya pada masyarakat Betawi, pendidikan anak dilakukan dengan memakai cara tradisional. Anak-anak dididik secara formal, tujuannya adalah agar mereka sadar dan tahu akan kewajiban serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua merupakan guru utama bagi kehidupan anak-anak yang berawal dari lingkungan keluarga. Pada masyarakat Betawi pendidikan dilakukan orang tua dalam lingkungan keluarga masing-masing agar mampu memenuhi kebutuhan hidup baik bagi dirinya maupun dalam kehidupan berkeluarga.

Ketaatan seorang anak kepada orang tua dalam sebuah keluarga tercermin dalam tingkahnya. Hal ini ditentukan dari peranan orang tua dalam penanaman nlai-nilai budaya yang berlaku kepada anak. Aturan-aturan yang ada dalam suatu keluarga banyak tergantung pada keluarga itu sendiri sesuai peranan orang tua berdasarkan budaya yang dimilikinya. Oleh karena itu semenjak dini anak sudah dibiasakan berperilaku baik seperti melaksanakan syariat agama, bermain, belajar dan lain-lain yang bisa mengembangkan diri sendiri dan mengangkat derajat keluarga dan masyarakat.

Sastra Lisan (Jampe), Suatu Kajian Struktur dan Fungsi

Penulis: Drs. Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Penelitian ini mengkaji tentang Jampe, yaitu sebuah karya sastra lama yang tumbuh dan berkembang secara lisan di kalangan masyarakat Sunda. Jampe tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteks budaya masyarakat yang menghasilkannya. Oleh karena itu, dengan adanya kajian tentang struktur dan fungsi Jampe pada masyarakat Sunda akan membantu pemahaman masyarakat luar terhadap isi jampe, serta mengetahui sosio-budaya masyarakat Sunda pada masanya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 17, Februari 1999

Carita Pantun Dadap Malang Ci Mandiri: Kajian Isi dan Peranannya dalam Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

Oleh: Drs. Suwardi A.P. dan Dra. Yanti Nisfiyanti

Abstrak
Penulis membatasi tulisannya pada aspek bentuk dan isi. Aspek bentuk yang dimaksud adalah cara pengarang menyampaikan ide-ide atau gagasan. Sedangkan yang dimaksud dengan isi adalah ide atau gagasan yang ngin disampaikan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka kajiannya meliputi alur cerita, tokoh dan penokohan, latar, tema serta peranan cerita pantun dalam pengembangan kebudayaan nasional.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 10, April 1996

Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat Garut

Oleh Suwardi Alamsyah P.

Abstrak
Warisan budaya pada hakekatnya merupakan pengetahuan yang berfungsi dalam menghadapi tantangan kehidupan. Pada masyarakat tradisional ilmu pengetahuan lebih banyak diperoleh dengan cara turun temurun. Sebagai masyarakat yang mengalami proses sosialisasi dan interaksi dalam arena pergaulan sehari-hari. Salah satu unsur dalam daerah yang bersifat universal yang diwarisi secara turun temurun dan merupakan pengetahuan adalah pengetahuan dan sistem yang berkenaan dengan pegobatan tradisional. Sistem pengobatan tradisional di Kecamatan Tarogong Kabupaten Garut masih mempertahankan nilai-nilai budaya yang di dukung oleh leluhurnya sebagai pedoman dan pegangan hidup.

Pengetahuan sistem pengobatan tradisional sering dipengaruhi oleh unsur-unsur kepercayaan yang sulit diterima akal bahkan tidak diimbangi dengan pengetahuan pengobatan modern. Karena jenis penyakit tidak dapat diketahui secara pasti maksudnya tidak lain adalah untuk menghindari kesalahpahaman dalam penafsiran pengobatan yang membawa akibat buruk, karena telah ada aturan khusus yang berkaitan dengan cara penggunaannya. Penggunaan ramuan obat tradisional perlu mendapat pehatian agar dalam penggunaannya efektif dan terhindar dari terjadinya kesalahan pada saat pengobatan. Pada prakteknya ahli pengobatan tradisonal memiliki peranan yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat selalu taat pada anjuran. Pengobatan tradisional merupakan bagian budaya masyarakat yang sudah ada sejak dahulu yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Paraji, Sosok Pesalin Tradisional pada Masayarakat Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur

Oleh Drs. Suwardi Alamsyah P., dkk.

Abstrak
Penelitian ini mengungkapkan peran paraji dalam kegiatan menolong bagi yang ingin mendapatkan keturunan/memeriksa saat ibu hamil, menolong dalam proses persalinan, merawat ibu yang baru melahirkan, serta merawat bayi yang baru lahir. Selain itu diungkapkan pula pandangan masyarakat terhadap peranan peraji dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dua pesalin tradisional di Kabupaten Cianjur.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 14, Juli 1998

Iket Sunda : Bihari, Kamari, dan Kiwari

Oleh: Suwardi Alamsyah P.

Bab I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah
Kebudayaan Indonesia memiliki ciri-ciri khas Indonesia antara lain bersifat Bhineka Tunggal Ika; berbeda-beda tetapi satu. Kekayaan budaya yang beraneka ragam itu perlu dilestarikan dan diwariskan pada generasi berikutnya agar tercipta kesinambungan kehidupan budaya.

Salah satu khasanah kebudayaan tersebut, di Jawa Barat khususnya masyarakat Sunda adalah pelindung kepala dengan sebutan iket yang berfungsi sebagai kelengkapan berpakaian. Dalam beberapa peninggalan tertulis, dikatakan bahwa iket kepala bukan sematan-mata sebagai penutup kepala, tetapi juga merupakan simbol kebesaran. Pada zaman dahulu, iket juga bisa mencerminkan kelas-kelas dalam masyarakat, hingga tampak jelas perbedaan kedudukan seseorang dalam kehidupan sehari-harinya.

Orang Sunda menganggap ikat kepala iket tidak hanya sebagai pelengkap pakaian semata-mata akan tetapi juga penggunaannya sangat erat dengan tatanan nilai dan tata krama.

Sementara itu, manusia Indonesia juga mengembangkan kelengkapan pelindung kepala dengan berbagai raga bentuk dan coraknya. Betapapun sederhananya, bilamana ia hidup, dimanapun ia bermukim, betapapun keadaannya, manusia mengembangkan kelengkapan pelindung kepala maupun penghias jasmaninya yang dapat memberikan kenyamanan maupun memenuhi rasa keindahan tak terkecuali masyarakat Sunda, dengan segala kepandaiannya menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara aktif.

Hal ini tampak terutama dalam peristiwa-peristiwa khusus (upacara adat) yang memiliki aturan-aturan adat. Berangkat dari kenyataan tersebut lahirlah karya-karya dan kreasi-kreasi manusia Sunda untuk memenuhi kepentingan hidupnya. Bermacam raga kebiasaan telah diturunkan, dari satu generasi ke genari berikutnya. Cara dan raga tersebut seringkali terpolakan dan dipegang teguh, sehingga melahirkan ciri-ciri tersendiri dan telah menjadi milik bersama. Di dalamnya terkandung nilai-nilai dan norma-norma yang seolah-olah ditetapkan menjadi anutan (pedoman) bersama.

Mengenai raga bentuk iket, manusia Sunda senantiasa dinamis, menyesuaikan diri dengan berbagai pengaruh dan mengadaptasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Acapkali pengaruh ini mengubah tradisi yang sudah turun-temurun, termasuk didalamnya ragam hias bentuk iket yang merupakan manifestasi dari rasa keindahan dan pencerminan dari sistem nilai dan keyakinan yang berlaku. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila kini, dapat kita temukan beragam bentuk iket pada masyarakat Jawa Barat "Sunda."

1.2 Permasalahan
Masyarakat Jawa Barat "Sunda" saat ini sedang menghadapi proses perubahan yang mengarah kepada pembaharuan dalam segala bidang termasuk di dalamnya tata cara berpakaian. Oleh karena itu, iket sebagai pelengkap pakaian orang Sunda juga mengalami perubahan fungsi sesuai dengan kemajuan kelompok massyarakatnya yang hidup di daerah berbeda-beda.

Permasalahan utama yang ada kini adalah perkembangan zaman yang terus berlangsung menimbulkan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai lama sedikit demi sedikit mulai tergeser, sehingga apa-apa yang dianggap baik tempo dulu kemudian dianggap kolot dan ditinggalkan, kemudian diganti dengan nilai baru. Pada saat itulah terjadi bentrokan nilai, yakni tatkala nilai lama sudah mulai ditinggalkan sementara nilai baru belum terwujud secara nyata.

Bila dahulu pakaian, termasuk raga dan bentuk iket, telah dibakukan sedemikian rupa, sehingga jarang ada orang yang berani mengubahnya, maka sekarang ini timbul kreasi atau ragam baru yang menjurus kepada pola yang dibakukan, baik bentuk dan bahannya.

Permasalahan lain yang tak kalah pentingnya adalah, studi melalui iket dapat mengungkapkan sistem kehidupan masyarakat Sunda pada masa lalu, dan menginventarisasikan "iket" sebagai kekayaan budaya Sunda seperti juga pakaian dan sebagainya.

Untuk itulah penelitian mengenai raga dan bentuk iket, khususnya yang menyangkut bahan, bentuk, dan ragam hiasnya, perlu segera dilaksanakan, mengingat responden yang dianggap layak masih ada satu dua kalau tidak dikatakan hilang sama sekali, sebelum perkembangan pada iket terlalu jauh dari tradisi Sunda yang sesungguhnya.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Untuk menghindari terlalu luasnya cakupan penelitian yang kemungkinan dapat menyimpang dari tujuan semula, maka perlu kiranya bahasan penelitian ini dibatasi. Penelitian ini mencakup arti, perlambang, dan fungsi iket, tinjauan sejarah dan bentuk-bentuk iket menurut penggunaannya di Jawa Barat, terutama di Priangan dan di Cirebon. Di samping itu, wilayah ini mungkin bisa mewakili raga dan bentuk iket yang ada di Jawa Barat.

Pilihan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa iket/pelindung kepala khas Sunda dalam penggunaannya sudah hampir jarang ditemukan dan bahkan tidak terlihat digunakan dalam praktik sehari-hari.

1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran yang lengkap dan jelas mengenai raga dan bentuk iket atau pelindung kepala yang masih diakui keberadaannya. Lebih lengkap, tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. untuk mengetahui bentuk, corak, raga iket;
2. untuk mengetahui pemakaian iket oleh masayarakat pendukungnya;
3. untuk mengetahui sejauhmana fungsi sosial iket bagi masyarakat pendukungnya.

1.5 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi analitik; artinya penelitian dilakukan semata-mata berdasarkan kepada fakta yang ada. Data yang terkumpul diberi interpretasi sesuai kebutuhan.

Penelitian diawali dengan studi pustaka untuk mempelajari konsep-konsep dan teori yang mendukung materi penelitian. Langkah berikutnya, pengumpulan data melalui pengamatan dan wawancara mendalam 'depth intervieu' dengan orang-orang yang dipandang mengetahui tentang permasalahan yang diteliti.

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik catat; artinya mencatat langsung dari penuturan sumber. Data tersebut kemudian diklasifikasikan, diolah, serta disusun menjadi laporan

1.6 Sistematika Penulisan
Hasil penelitian ini ditulis dalam bentuk laporan yang terbagi menjadi 4 bab, dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan; Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, permasalahan, tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Iket sebagai Pelengkap Berpakaian ; Dalam bab ini diuraikan mengenai iket, fungsi, arti, dan keindahan, iket sebagai kelengkapan pakaian, keserasian dengan kehidupan, dan perkembangan iket.

Bab III Iket dalam Acara Resmi dan Hubungannya dengan Hiasan Kepala ; Dalam bab ini diuraikan mengenai iket sebagai hiasan kepala meliputi tinjauan umum, beberapa bentuk jenis iket, masalah yang berhubungan dengan disain iket meliputi faktor rasa pada tradisi Sunda, jenis dan kegunaan iket di daerah Priangan dan Cirebon.

Bab IV Analisis dan Simpulan; Bab ini dicoba untuk menganalisa di samping merupakan rangkuman dari penelitian ini.

BAB II Iket Sebagai Kelengkapan Berpakaian
2.1 Iket, fungsi dan artinya
Iket sebutan masyarakat Jawa Barat, khususnya orang Sunda, tak bisa dilepaskan dari aspek-aspek lain yang berhubungan dengan iket tersebut. Selain fungsi dan jenisnya juga akan dibicarakan tentang bagaimana hubungan iket dengan pakaian dan bagaimana iket itu menjadi atribut status sosial.

Anis Djatisunda dalam makalahnya yang berjudul "Sisa Iket Sunda pada Era Milenium Tiga", menyebutkan bahwa dalam naskah Sunda Kuno Kropak-406 (Carita Parahyangan) tertulis: "Sang Resi Guru ngagisik tipulung jadi jajalang bodas, leumpang ngahusir Rahyang Sempakwaja, eukeur melit" (Sang Resi Guru menggesek ikat kepala dengan kedua belah tangannya menjadi jalalang putih, lalu pergi menuju Rahyang Sempakwaja yang sedang membuat atap). Selanjutnya ia mengutip tulisan Saleh Danasasmita (1983) bahwa pada zaman Maharaja Tarus Bawa (669 Masehi), setiap tahun dari Galuh ke Pakuan selalu membawa Tipulung, Boeh putih, boeh wulung, boeh warna, boeh beureum dan beubeur.

Kutipan di atas, memberikan gambaran bahwa masa itu iket merupakan salah satu kelengkapan busana pria yang dianggap penting, sehingga dalam tiap tahunnya Pakuan meminta dikirim ikat kepala dari Galuh. Hal tersebut sejalan dengan cerita Pantun Bogor, berjudul Curug si Pada Weruh gubahan Aki Uyut Baju Rambeng, bahwa pemerintahan Prabu Siliwangi pada saat seba di Pakuan Pajajaran terutama Bupati atau Demang yang memiliki hutan Ki Penjo (kayu yang diambil getahnya) diharap mengirimkannya. Getah tersebut biasa digunakan sebagai industri pertenunan Telekung atau industri pembuatan terasi (delan).

Gambaran tersebut nampak bahwa semenjak Tarus Bawa (669 - 723 Masehi) sampai Sri Baduga (1482 - 1521 Masehi) keberadaan iket atau tipulung sudah ada dan dipertahankan masyarakat pendukungnya.

Iwan Bloch (1921) yang dikutif Soegeng Toekio M. (1980/1981 : 6), menyatakan bahwa berpakaian bagi tiap-tiap suku bangsa senantiasa dipengaruhi oleh faktor-faktor kesopanan (etika), lingkungan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan serta nilai kegunaan yang ditentukan oleh pakaiannya. Dikatakannya pula semula pakaian hanya merupakan alat penutup tubuh gunanya sebagai pelindung tubuh terhadap pengaruh iklim. Kemudian dengan perkembangannya dalam perikehidupan dan pergaulan hidup manusia, berkembang pulalah fungsinya. Fungsi yang semula itupun kian meningkat dan ditambah pula dengan pemikiran-pemikiran yang mengikutsertakan unsur-unsur estetika dan kedayagunaan yang disesuaikan dengan selera, lingkungan dan taraf kehidupan si pemakainya.

Iket, di Jawa Barat terutama orang-orang Sunda mempunyai nilai-nilai tertentu di samping penilaian mengenai orang berpakaian, mengenai nilai-nilai yang dianggap baik, buruk, pantas dan tidak pantas. Hal tersebut seolah-olah memiliki bagian-bagian pokok yang harus diperhitungkan, dan semua itu sudah barang tentu ditentukan pula oleh keadaan dan situasi serta siapa yang akan mengenakannya. Artinya bagaimana masyarakat (orang Sunda) menata dirinya dalam kehidupan yang mereka hadapi.

Dalam kehidupan duniawi, berpakaian bagi orang laki-laki Sunda dulu senantiasa tidak lepas dari tutup kepala dengan berbagai sebutan, diantaranya iket, udeng, totopong, telekung dan atau blangkon (sebutan orang Jawa). Iket dengan kain merupakan pakaian yang paling banyak digunakan, selain barangnya mudah didapati juga bisa diragakan sendiri.

Misalnya, orang Kanekes yang dikutif Atja dan Saleh Danasasmita (1981) dalam Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda (1986 : 60) berucap, "sare tamba hanteu tunduh, madang tamba teu lapar, make tamba teu talanjang" (tidur sekedar pelepas kantuk, makan sekedar pelepas lapar, berpakaian sekedar tidak telanjang). Artinya kesederhanaan bukanlah disebabkan oleh "ketidakmampuan" ekonomi, melainkan oleh ajaran hidup yang dianutnya, karena untuk mereka kesederhanaan merupakan kewajiban yang harus dicoba diwujudkannya dalam perilaku dan kenyataan hidup sehari-hari. Karenanya perbuatan dan perilaku sehari-hari itulah yang menjadi tapa mereka (iya twah iya tapa) sedangkan tapa itulah menurut anggapan dan keyakinan mereka yang harus ditempuhnya sebagai warga Kanekes.

Pakaian laki-laki Kanekes terdiri atas tiga bagian, yakni ikat kepala (tutup kepala), baju tanpa krah berlengan panjang, dan sarung. Mereka membedakan ikat kepala orang Tangtu dan laki-laki orang Panamping, yakni terletak pada warna dan kualitas bahan. Laki-laki Tangtu memakai ikat kepala dengan sebutan "telekung" atau "romal" berwarna putih alami hasil tenunan sendiri, di samping bajunya yang disebut "kutung" (tanpa krah) hasil tenunan dari bahan serat daun pelah atau "boeh" (kain kafan) berwarna putih alami; sarung "aros" terbuat dari genuan kanteh" (benang) kasar bergaris-garis putih dan nila. Yang dikenakan sebatas dengkul dan diikat dengan "beubeur" (ikat pinggang) berupa selendang kecil. Sedangkan laki-laki Panamping menggunakan iket berwarna nila yang disebut "merong" dan menggunakan pakaian yang disebut "jamang kampret" (baju kampret) dengan dua warna, yakni di bagaian dalam baju berwarna putih sedangkan bagian luarnya menggunakan baju berwarna hitam serta kain sarung "poleng hideung" buatan Kanekes.

Sementara itu, di lingkungan masyarakat Bumi Adat Kampung Lamajang Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, iket diartikan dalam sebuah ungkapan yang berbunyi caringcing pageuh kancing, saringset pageuh iket "waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi". Selain itu, pemakaian iket tersebut mempunyai simbol dalam perilaku kehidupan bermasyarakat, yakni saiket "seia sekata atau satu ikatan" dalam kehidupan dunia fana ini (Anom Rumya, Minggu 9 Mei 1999).

Kemudian, dari tulisan yang dihimpun oleh Patih Rd. Sastranegara (1933) dalam Soegeng Tokio M. (1980/19981 : 7) dalam bentuk syair bahwa kelengkapan berpakaian itu berbunyi:

..................

Ari mungguh pamegetna,
panganggona menak kuring,
sinjang gincu sabuk jamlang,
nyoren duhung tebeh gigir.
Raksukan senting purikil,
poleng atawa cit salur,
nu pang alusna Madras,
serta tara nganggo lapis,
ari lain midang atawa
angkat mah.

Udeng wedal Sukapura,
batik hideung Sawungguling,
mun soga Gunawijaya,
atawa gambar saketi,
modang beureum katumbiri,
dasar koneng hurung ngempur,
carecet koneng Banggala ....
Mungguhing di cacah-cacah,
totopong balangkrang sisi,
sabuk sateng nyoren gobang ....

Terjemahan :

"...........
Sedang pihak laki-laki,
memakai pakaian kebangsawanan,
kain gincu sabuk jamblang,
mengikatkan keris di sebelah pinggir.

pakaian senting purikil,
poleng atau cit salur,
Madras yang paling bagus,
serta tidak menggunakan lapis,
kalau tidak bepergian atau
jalan-jalan.

Iket asal Sukapura,
batik hitam Sawunggaling,
kalau soga Gunawijaya,
atau gambar saketi,
modang merah pelangi,
dasarnya kuning bercahaya,
saputangan kuning Banggala ....

Sedangkan rakyatnya,
iket/tutup kepala balangkrang sisi,
sabuk sateng nyoren gobang.

Dari syair tersebut di atas, dapat kita ambil gambaran bahwa bagaimana masyarakat Sunda pada saat itu berpakaian terutama meragakan iket, udeng atau totopong, begitu pula golongan bangsawan atau masyarakat atas mengenakan pakaian dan golongan masyarakat kecil mengenakannya. Jadi apabila pakaian tersebut salah satunya ditiadakan, maka berpakaiantersebut tidaklah lengkap.

Di Jawa dikenal dengan pakaian "Jawa jangkep", yakni kelengkapan berpakaian dengan menggunakan tutup kepala (udeng), jas tutup (atolla), sabuk dan kain batik serta memakai keris berikut alas kaki.

Pada upacara perkawinan di daerah Sunda, misalnya tutup kepala yang digunakan pengantin laki-laki ialah iket atau totopong, sedangkan pada golongan menengah ke atas dibentuk sebagai bendo yang pada masyarakat Jawa disebut blangkon. Biasanya corak batik yang dipakai ialah "batik uwit". Dalam perkawinan keturunan kaum bangsawan Sumedang, tutup kepala yang dipakai biasanya meniru tutup kepala yang dipakai ksatria dalam pewayangan, yang disebut "mahkota". Di samping itu, mengenakan kilat bahu dan gelang di tangan, bahkan kakipun mengenakan gelang dan umumnya terbuat dari emas. Sulut keris terbuat dari emas; baju dan celana meniru baju dan celana wayang. Pakaian ini merupakan pakaian turun-temurun dari bupati-bupati terdahulu yang memegang tampuk pemerintahan di Sumedang.

Adapun jenis dan raganya, disesuaikan dengan kebutuhan atau kepentingan suatu upacara dan ditentukan pula oleh status sosial dari orang yang akan menggunakannya. Artinya corak iket/tutup kepala dan kelengkapan pakaian lainnya ditentukan oleh faktor kepentingan di samping dipengaruhi pula oleh faktor kefeodalan yang telah meresap dalam masyarakat Sunda secara keseluruhan.

Kemudian, bendo 'blangkon' yang dipakai pengantin laki-laki Sukapura (Tasikmalaya) berbeda dengan bendo dari Jawa, baik bentuk maupun cara mengenakannya. Cocontong 'ujung' bendo Sunda mengacung ke atas, sedangkan bendo Jawa tidak demikian. Bendo Sunda dikenakan agak tegak hingga kelihatan jidat sedangkan bendo Jawa dikenakan agak merunduk menutupi sebagian besar jidat.

Bendo yang dikenakan pengantin laki-laki Sukapura coraknya harus sama dengan corak kain yang dikenakannya. Di ujung bagian depan disematkan sebuah bros yang terbuat dari emas dan bermata batu mulia, atau dari bahan lainnya yang bisa terjangkau, misalnya perak yang disepuh warna keemasan.

Sedangkan pakaian atau busana yang dikenakan, biasanya kain bermotif rereng eneng, rereng pamor, atau sidamukti; kemeja berwarna putih dengan dasi kupu-kupu warna hitam, dan memakai prang wedana atau jas tutup pendek. Namun apabila yang dikenakannya jas takwa pendek, berarti tidak mengenakan kemeja. Baik prang wedana, jas tutup maupun jas takwa yang dikenakannya berwarna hitam.

Ikat pinggang atau "beulitan" 'stagen pelangi', diperkuat dengan sabuk timang yang terbuat dari beludru bersulamkan benang emas. Di sebelah kanan depan dikenakan kewer atau boro, boro sarangka 'tempat keris' yang disatukan dengan sabuk.

Alas kaki, mengenakan slop warna hitam yang dihias dengan sulaman benang warna emas dengan motif sama dengan motif sulaman bendo.

Fungsi bendo yang digunakan pengantin laki-laki Sukapura selain mempunyai fungsi estetis juga mempunyai fungsi praktis. Di samping itu, jika kita telusuri latar belakang budaya Sunda dapat dikatakan bahwa bendo merupakan salah satu perangkat pakaian atau tatabusana laki-laki Sunda, khususnya bagi golongan priyayi atau menak 'bangsawan'. Pada masa lalau bendo dikenakan hanya terbatas pada lingkungan para pegawai pemerintah Hindia Belanda dan kaum terpelajar (siswa suatu sekolah), karena itu dengan melihat latar belakang tersebut dapat disimpulkan bahwa pemakaian bendo ini juga mempunyai fungsi sosial.

Kemudian dalam kehidupan masyarakat Sunda, tata kehidupan mereka senantiasa dipengaruhi oleh bahasa dan latar kehidupan masa lampau yang telah berakar, sehingga kehidupan yang bercorak kefeodalan sebagai tempaan masa lampau sangat terasa. Misalnya dengan adanya struktur kehidupan yang sedikit banyaknya mempengaruhi corak berpakaian di samping sikap hidup di dalamnya. Selain itu, pengaruh Mataram dengan pemakaian undak usuk basa, yaitu tingkat-tingkat sosial bahasa dalam masyarakat. Bahasa Sunda yang lazim dipergunakan mengandung unsur tingkatan nilai linguistik sejalan dengan pelapisan sosial, yaitu dengan adanya basa kasar, sedeng, dan lemes, dan kadang-kadang terdapat juga basa lemes pisan dan basa kasar pisan.

Pemakaian tingkat bahasa ini, ternyata tidak membedakan arti dari setiap kata, melainkan hanya membedakan tingkat-tingkat sosial dari si pelaku yang menyandang kata tersebut. Pelapisan sosial itu cenderung meruncing setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda berkuasa di Pasundan. Lapisan menak dan cacah sengaja dipertajam, antara lain perbedaan dari segi kehidupan sosialnya yang sangat mencolok. Golongan menak yang mempunyai kedudukan dalam pemerintahan dianggap sebagai lapisan yang paling tinggi, artinya tidak sembarang orang mendapat kesempatan duduk di kursi pemerintahan, namun hanyalah mereka yang berpredikat menak. Begitu juga dari golongan menak, selalu berbangga diri dengan predikatnya itu, sehingga lapisan cacah tetap dalam posisi yang rendah. Dengan kata lain yang digolongkan pada lapisan cacah tetap dalam posisi rendah, yakni pedagang kecil, petani (buruh tani), dan buruh-buruh lainnya.

Perbedaan dalam pelapisan sosial ini secara tidak langsung maupun langsung akan berpengaruh kepada cara dan raga pakaian. Kemudian dari pada itu, pakaian kebesaran yang dikenakan raja, penggunaan payung tertentu, model dan corak batik, corak dan raga iket atau tutup kepala tertentu, memperlihatkan pamor dan cara kebangsawanan yang bersifat kratonsentris terlihat hingga abad pertengahan, bahkan terasa sampai menjelang abad kemerdekaan.

Suasana yang demikian itu, masih terasa dan nampak pada kehidupan masyarakat Sunda menjelang akhir abad ke-20 ini sebagai rangkaian kehidupan masa lampau. Hal ini mencirikan kehidupan masyarakat yang tidak dimiliki masyarakat lain.

Berdasarkan hal tersebut, maka iket atau tutup kepala, baik sebagai kelengkapan berpakaian maupun sebagai benda pakai yang menekankan fungsinya akan terlihat bagaimana hubungannya dengan pakaian.

2.2 Iket dan Keindahan
Fungsi iket tidaklah sekedar diarahkan sebagai suatu benda yang sifatnya melindungi kepala dari terik dan panasnya sinar matahari, melainkan berfungsi pula sebagai suatu rias kepala dan suatu atribut di dalam lingkungan masyarakat Sunda masa lampau.

Menurut N.G. Tjernisevki dalam Soegeng Toekio (1980 : 78), menyebutkan bahwa keindahan ialah kesesuaian lengkap, kesamaan lengkap dari ide dan kesan; ia merupakan keadaan lahiriah yang dirasakan sebagai pernyataan dari ide.

Dalam ”Cerita Pantun Sunda Panggung Karaton” (1971) yang dikutip Cornelia Jane Benny (1988 : 13) iket digambarkan dalam ungkapan " ...... totopong bong totopong bang, lancingan lepas, baju bekek, totopong batik manyingnyong, dibendo dibelengongkeun, ....." (... iket kepala bong dan bang, celana panjang, baju berlengan pendek, ikat kepala gaya batik manyingnyong, ikat kepala/bendo rapih dalam bentuk menggelembung, ... ). Kemudian informasi lain mengenai iket Sunda tercatat pula pada The History of Java, volume two (Raffles, 1817: xciii - xciv) disebut sakalat (kain laken); kopia (peci); surban (sorban); atau dulban. Dulban atau sorban ini biasa diragakan oleh para alim ulama, dengan bahan pokok berupa kain.

Kemudian, dalam cerita pantun Munding Laya Di Kusumah yang dipantunkan Ki Atjeng Tamadipura (Situraja - Sumedang) dan diusahakan oleh Ajip Rosidi (1970 : 18), sebagai berikut.

............
adat panakawan dangdan
totopong bong totopong bong
totopong batik manyingnyong
dibendo dibelenongkeun
kajeun torek dapon kasep
cintat panonna kabedol bendo
ari bendo atuh niron urang Jawa
diendolan ku tolombong
medangna kabetot ku endol bendo.

dibajuan baju kurung
baju mikung baju kalang tatambalan
terektek dibaju paret
parakatangtang pirikitingting
dibaju senting
paranti leumpang ti peuting:
..............

Terjemahan :

”...............
kebiasan pengiring berdandan
totopong bong dan bong
totopong batik manyingnyong
memakai bendo dibuat bulat
biar tuli asal ganteng
bendo-nya meniru bendo Jawa

diendolan sebesar bakul
posisinya tertarik endol bendo.

mengenakan baju kurung
baju mikung baju kalang banyak tambal
cepat mengenakan bajunya
berlaga dan bergaya
mengenakan baju senting
untuk jalan waktu malam:
..................”

Dari kutipan di atas, dapat kita ambil gambaran bahwa masyarakat kecil seperti yang diperankan tokoh si Lengser pun senang dan seolah-olah satu keharusan meragakan udeng, iket, bendo atau totopong. Jadi apabila pakaian tersebut salah satunya ditiadakan, maka berpakaian tersebut tidaklah lengkap dan rasa keindahan pun hilang.

Dahulu orang mengenakan iket dilakukan dengan cara yang sangat sederhana sekali, artinya bisa dikerjakan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Hal tersebut dilakukan setidak-tidaknya bertalian dengan rasa akan keindahan, sebab selain pertimbangan akan keserasian, kerapihan, baik dalam meragakan maupun memilih bahan, warna-warna atau motif-motif yang ada juga mempunyai pertimbangan lain sesuai dengan harapan si pemakainya. Oleh karena itu, masyarakat Sunda khususnya dan umumnya masyarakat Jawa Barat dapat menilai orang-orang cara bagaimana mereka berpakaian, baik mengenai, rapih atau tidaknya, pantas atau tidaknya mereka berpakaian. Kesemuanya itu akan bertalian dengan penilaian orang seorang terhadap sifat orang lain di luar dirinya.

Dewasa ini penggunaan iket seperti itu jarang dilakukan orang pada umumnya, karena sekarang orang lebih banyak menggunakan iket yang sudah dibentuk, yakni bendo 'blangkon' yang sangat praktis penggunaannya. Penggunaan "bendo" ini pada mulanya muncul hanya di kalangan priyayi atau menak 'bangsawan', demikian pula pemakaian sorban, beulitan 'ikat pinggang' maupun yang lainnya yang telah dibentuk sedemikian rupa sehingga memudahkan dan praktis untuk pemakainya. Hal tersebut terjadi diakibatkan oleh kecenderungan perkembangan teknologi yang masuk ke dalam lingkungan masyarakat Sunda.

2.3 Iket sebagai Kelengkapan Pakaian
Iket yang sudah dibentuk menjadi bendo 'blangkon' merupakan tutup kepala yang dijadikan kelengkapan suatu pakaian di dalam lingkungan masyarakat Sunda. Kedudukan bendo seperti ini jauh berbeda dengan jenis iket yang hanya merupakan tutup kepala yang diragakan oleh mereka yang mau bekerja, seperti bertani di sawah atau di ladang, kusir delman, dan lainnya. Walaupun iket ini digunakan dalam kehidupan masyarakat tradisional maupun kelembagaan tertentu yang ada di Jawa Barat, akan tetapi kesemuanya itu tidak dijadikan sebagai kelengkapan pakaian. Artinya hanya dipakai atau diragakan pada saat upacara keagamaan atau upacara adat lainnya.

Dahulu pakaian sehari-hari orang Sunda hanya kampret boeh, samping poleng, beubeur, iket (totopong, sisir, gamparan (untuk di rumah), tarumpah (untuk bepergian), dan dudukuy.

Sedangkan pakaian Sunda sekarang sudah dianggap maju, karena dipengaruhi oleh pengaruh dari luar Sunda, seperti adanya kemeja, jas buka, rompi, dan jas tutup, jas sikep Prangwadana, celana panjang pantalon, serewal 'celana panjang hingga tengah betis', bendo dan yang lainnya. Apabila tidak memakai pantalon 'celana panjang, ia memakai sinjang kebat 'kain panjang' atau sarung poleng dangdeur (sarung polekat), memakai slop (tarumpah, sendal). Sedangkan pakaian bagi orang pedesaan yang hendak bepergian biasanya memakai jas atau memakai kampret warna putih atau hitam, memakai celana serewal berwarna hitam atau warna putih, memakai totopong parosnangka atau barangbang semplak, balukang semplak (sebutan masyarakat Kabupaten Serang), memakai lohen, dan kain poleng yang diikatkan di pinggang atau diselendangkan.

Ketika pengaruh Islam datang, pakaian Sunda khususnya laki-laki ditambah dengan baju takwa, dan serewal. Dengan mengenakan baju takwa dimaksudkan untuk menutupi pusar, sebab kampret sering tidak ada kancingnya. Sedangkan serewal menutupi bagian bawah hingga pertengahan betis.

Iket (tototpong) diragakan barangbang semplak, terutama bagi mereka yang memanjangkan rambutnya, sedangkan untuk di rumah dikenakan iket tutup liwet.

Orang yang memanjangkan rambut biasanya mengenakan totopong parosnangka, namun tidak sampai menutupi telinga. Sedangkan lohen dikenakan oleh orang yang tidak memanjangkan rambut. Bagi mereka yang memilih tinggal di rumah biasa mengenakan totopong barangbang semplak. Sedangkan untuk bepergian tetap mengenakan lohen atau parosnangka.

Parosnangka seolah-olah meniru bendo Jawa. Iket barangbang semplak tetap, bahkan orang Jawa pun meniru orang Sunda mengenakannya, terutama yang memanjangkan rambut.

Orang Sunda yang tidak memanjangkan rambut tidak ketinggalan menciptakan bendo khas Sunda, bentuknya lain dari bendo Jawa untuk mengganti lohen (parosnangka). Bendo baru hasil ciptaan orang Sunda dikenakan oleh anak-anak sampai orang tua. Namun lohen dan parosnangka tetap ada tidak hilang, dan bahkan dikenakan oleh para santri di lingkungan pesantren. Kemudian datang pengaruh Belanda atau orang Barat dengan membawa mode pakaian, yaitu jas dan celana panjang. Kemudian datang lagi jas buka atau delep (de helft). Orang Cianjur dahulu menyebutnya dengan potongan peda peuncit atau jas bedahan peda dengklang.

Jenis pakaian tersebut akhirnya menjadi pakaian Sunda, begitu juga dengan bendo Sunda model sendiri, dengan kata lain bendo Jawa model Sunda yang bentuknya menyerupai bendo Jawa. Keduanya dikenakan oleh para santana 'golongan bangsawan'.

Baik di Jawa maupun di Sunda corak dan bentuk pakaian mempunyai pola tersendiri. Misalnya jas tutup, jas sikepan (prang wadana), polanya mengikuti baju-baju jenderal, yakni dengan memasang kancing berjejer di kiri kanannya. Tidak berbeda dengan baju takwa, artinya hanya pola yang mengikuti pola jas dan penggunaan kain yang berbeda. Selain itu, jenis jas yang dibuat hanya oleh orang Jawa ialah jenis jas kelet. Jas kelet, ialah sejenis baju dengan menggunakan pola jas, namun bentuknya ada yang seperti jas tutup, ada yang seperti jas sikepan (prang wadana), dan dibelakangnya kira-kira pinggang dibelah melengkung seperti rompi.

Memakai kain yang sudah didodot dan dilepe (dilamban), kemudian dililitkan epek 'stagen'. Ujung epek diperkuat dengan beberapa biji peniti, berikutnya diikatkan sabuk beludru (jelebrah) yang sudah disulam atau dibordil dengan berbagai macam rias bunga dari benang perang atau benang emas. Timangnya barlen bodas 'kancing kait', dimaksudkan untuk mempermudah pada saat membuka. Setelah mengenakan baju kelet, bendo, dan asesoris lainnya, baru kemudian keris atau duhung yang diselipkan di bagian belakang antara jelebrah dengan epek. Pakaian khas Sunda, tidak mengenal baju kelet, kalaupun ada dan mengenakannya, hal itu mungkin sebagai pakaian hasil pinjaman, dan mungkin karena suatu amanat (wasiat) dari orang tua kepada anak laki-laki, ketika anaknya mau melangsungkan pernikahan.

Beberapa jenis pakaian, seperti penggunaan kain rereng enengan, rereng garutan, batik uwit, sidamukti, baju kelet, baju takwa, dan lainnya dapat dibedakan satu sama lain dilihat dari kelengkapan yang dipergunakannya, termasuk jenis tutup kepalanya. Oleh karena itu, dengan melihat jenis atau corak seseorang berpakaian dapatlah diperkirakan status sosialnya.

2.4 Keserasian dengan Kehidupan
Iket dengan berbagai raga dan bentuknya, dikenakan dengan suatu pertimbangan akan keserasian, kesopanan serta kepercayaan masyarakat setempat, karena yang kesemuanya itu terikat oleh adat yang kuat dan berlaku sejak dahulu. Kaitannya dengan iket, bendo, totopong 'blangkon' maupun rias kepala lainnya, semua merupakan kesatuan ide yang disalurkan ke dalam suatu proses, yakni bentuk iket yang dikehendaki sebagai benda pakai.

Iket, di Jawa Barat muncul dan ada merupakan salah satu usaha pemikiran tersebut di atas, sehingga selain mengalami pemikiran bahan baku, proses pembuatan kain, atau raga dan bentuk yang akan dibuat seperti dilakukan orang-orang Kanekes tidak terlepas dari pemikiran tentang kegunaannya. Dari sekian banyak jenis iket atau bendo, yang muncul dikenakan oleh masyarakat pendukungnya, merupakan salah satu hasil budaya dengan segala fungsi dan peranannya dari setiap jenisnya di samping merupakan pelindung kepala pada saat bekerja juga dijadikan atribut status sosial masyarakat pendukungnya. Selain itu, erat hubungannya dengan hal-hal keagamaan maupun upacara-upacara adat, serta tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap mempunyai peranan dalam suatu kelembagaan, misalnya di Kampung Adat Kuta Kabupaten Ciamis, Kampung Adat Naga di Kabupaten Tasikmalaya, Kampung Adat Urug di Kabupaten Bogor, dan lainnya, yang menggunakan iket sebagai kelengkapan pakaian.

Berkenaan dengan fungsi iket, secara umum selain mempunyai fungsi keindahan juga diharafkan penciptanya sebagai suatu mode dan keserasian berpakaian. Namun demikian tradisi itu, sebenarnya mempunyai nilai-nilai tertentu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, kepercayaan, serta perkembangan kehidupan masyarakat pendukungnya sebagai salah satu penyesuaian dengan lingkungan sekitar sepanjang perjalanan sejarahnya.

2.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Masyarakat dan Pengaruhnya terhadap Iket
Manusia sebagai anggota masyarakat selalu berusaha memenuhi kebutuhannya dengan segala kemampuannya yang ditunjang oleh materi. Iket merupakan benda pakai yang diciptakan manusia berdasarkan pemikiran-pemikiran masyarakat pendukungnya. Hal tersebut, tentu berkaitan dengan fungsi, bentuk, teknik maupun bahan. Yang jelas iket ini bertalian dengan kehidupan masyarakat Sunda secara keseluruhan, diantarany iket atau bendo sebagai benda pakai dibuat selain untuk pemenuhan kebutuhan sendiri juga untuk lingkungan masyarakatnya, dan dalam perkembangan kemudian iket atau bendo dibuat karena adanya pesanan (demand).

Sejalan dengan perkembangan zaman, terjadi perubahan-perubahan karena adanya pengaruh kebudayaan luar, terutama yang berkenaan dengan kebudayaan, pengetahuan, pendidikan dan teknologi yang memperkenalkan sistem produksi baru.

Adapun perubahan yang berasal dari dalam, berkaiatan dengan kebiasaan, selera dan tradisi yang didukung sejak lama.

Pada beberapa corak iket, bendo atau pun pakaian di Jawa Barat, corak-corak karya seni itu, boleh dikatagorikan ke dalam corak yang bersifat romantik, dengan kata lain masih mempertahankan tradisi walaupun tidak kurang kita jumpai adanya beberapa jenis karya tradisional yang tampak banyak menampilkan bentuk-bentuk lam.

Adapun perubahan itu, menurut Wijoso dalam Soegeng Toekio M. (1980 : 16) merupakan suatu keadaan yang bersifat sekularisasi. Bahwa setiap aspek-aspek kebudayaan manusia selalu berkaitan dan berhubungan antara seni dengan kepercayaan, seni dengan agama, seni dengan falsafah, seni dengan teknik dan ekonomi, seni dengan pendidikan. Begitu juga dengan bentuk dan raga iket yang ada di Jawa Barat.

Sesuai dengan pendapat tersebut, kita bisa mengerti hubungan dan peranan seni dalam seluruh kehidupan manusia, termasuk didalamnya raga dan bentuk iket sebagai bentuk dari perkembangan masyarakat pendukungnya.

Bab III
Iket Sebagai Tutup Kepala

3.1 Tinjauan Umum
Selain iket yang digunakan masyarakat Sunda untuk menutupi kepala, juga ada jenis tutup kepala lain yang dipergunakan sehari-hari, yakni dudukuy. Dudukuy ini dikenakan oleh orang kebanyakan seperti petani, pedagang, penggembala, dan sebagainya. Tutup kepala jenis ini merupakan benda pakai yang mempunyai kegunaan sebagai alat untuk melindungi kepala dari teriknya sinar matahari, angin, dan hujan.

Dudukuy dalam kehidupan masyarakat Sunda merupakan buah usaha memenuhi kebutuhan hidup terutama pada saat bekerja di sawah, ladang, menggembala, dan pekerjaan-pekerjaan sejenisnya.

Tutup kepala ini, bisa kita temukan di beberapa daerah di Jawa Barat, sebagai bahan perbandingan misalnya dalam hal bentuk, teknik pembuatan serta materi yang digunakan. Secara umum tutup kepala jenis ini dibuat dari daun pandan, panama, mendong, rotan, bambu yang dianyam sesuai kebutuhan.

Dari sekian ragam bentuk dudukuy anyaman, beberapa jenis nampak bentuk kerucut. Bentuk tersebut merupakan bentuk dasar dari jenis tutup kepala anyaman.

Di antara beberapa nama tutup kepala jenis dudukuy di Jawa Barat ini ialah dudukuy cetok, dudukuy dorogdog, lenyang-lenyang, cotom, jenis topi dan lain-lain. Jenis ini, merupakan karya tradisional dengan mempergunakan bahan seperti penulis sebutkan di muka, artinya bahan bakunya mudah dijumpai di lingkungan kehidupan masyarakat Jawa Barat, dan dikerjakan dengan cara sederhana. Selain itu mempunyai banyak kesamaan, baik bahan, bentuk maupun gunanya, namun ada perbedaan dalam bentuknya. Misalnya di Kudus terdapat nama capil atau caping keranjangan, di Jawa Tengah terdapat ngukusan dan loloncengan. Di Cirebon terdapat nama dudukuy grengsengan, dudukuy tokok, di Jepara terdapat nama caping ngukusan. Sedangkan di daerah Menganti Surabaya terdapat caping berbentuk kerucut yang terbuat dari daun kelapa atau daun lontar.

Bentuknya selain bentuk kerucut, juga ada bentuk setengah bulatan, baik cembung ataupun ceper 'pipih'. Biasanya pada bagian tepinya dibuat bingkai dari bambu 'wengku'.

Dudukuy dorogdog, misalnya mempunyai ukuran diameter 70 sentimeter hingga 1 meter. Jenis ini bisa kita temukan di daerah-daerah sekitar Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, Cianjur, Serang dan sekitarnya. Biasanya dipakai oleh penggemabala kerbau di ladang atau penggembala itik di sawah ketika habis panen.

Di daerah Rajapolah - Tasikmalaya ditemukan jenis tutup kepala yang terbuat dari anyaman-anyaman serat bambu, mendong, daun pandan, panama (panama americana), dan lain sebagainya. Jenis tutup kepala ini lebih banyak merupakan hasil kerajinan rakyat, atau pekerjaan sambilan. Dilihat dari bentuknya memiliki dua bagian pokok dalam susunan bentuknya. Pertama 'badan' topi berupa selinder atau kerucut terpotong. Kedua ialah tepi atau pinggiran dari topi; bibir topi (brim) berupa bidang pipih yang melingkar membentuk cincin di sekeliling badan topi (Sunda: wengku).

Sebuah artikel yang dikutip dari tulisan Soegeng Toekio M. (1980 : 22), menyatakan bahwa jenis-jenis anyaman tutup kepala yang terdapat di Rajapolah merupakan hasil kerajinan rakyat yang dirintis oleh Kiyayi Haji Yasin. Salah satu jenis yang banyak dibuat di daerah ini adalah topi-topi pandan dan panama. Selain itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa jenis topi ini pada awalnya dimulai oleh seorang petani bernama Martadinata, itupun masih kasar karena terbuat dari anyaman bambu berupa dompet wadah bako (tempat menyimpan bakau). Hal tersebut diperkirakan muncul sekitar pertengahan abad ke-19 disusul kemudian dengan ikut sertanya pemerintah Belanda sekitar tahun 1919 dan ketika itu munculah Haji Abdullah Mansjur sebagai penerusnya.

Haji Abdullah Mansjur berkesempatan berhubungan dengan seorang Perancis bernama Oliver yang berkecimpung dalam kerajinan anyaman di Tanggerang. Dari sini kemudian beliau melanjutkan kerajinan anyaman bambu dan dianggap sebagai pencetus topi bambu dengan anyaman bambu halus di daerah Parakanhonje - Rajapolah.

Pada kenyataannya topi hanyalah merupakan pelindung kepala dari teriknya sinar matahari, serta tidak ditemukan mengenai guna pakai sebagai kelengkapan suatu pakaian seperti halnya jenis iket di Jawa Barat.

3.2 Beberapa Jenis Iket
Sebelum masa keemasan Pajajaran sekitar tahun 1522, Kerajaan Islam (Demak) bersekutu dengan Cirebon dalam menghadapi orang Portugis. Dengan demikian pengaruh Demak pun masuk ke Cirebon. Kemudian berhasil menduduki Banten serta menaklukan Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta, sekitar tahun 1527. Oleh karena itu kekuatan Pajajaran mulai berkurang dan pesisir utara Jawa Barat saat itu sudah dipegang oleh Cirebon dan Banten.

Setelah Pajajaran ditaklukkan oleh Banten, berdirilah Kerajaan Banten, Cirebon, dan Sumedanglarang. Ketiga kerajaan tersebut adalah kerajaan berlatar belakang Islam.

Sekitar tahun 1619 Belanda mulai membuat loji di Jayakarta dan menguasai kota itu. Jayakarta diganti namanya menjadi Batavia yang sekarang Jakarta. Sementara itu, Sultan Agung dari Mataram mulai mengembangkan kekuasaannya di Jawa Barat, dan terjadilah kekuasaan antara Banten, Belanda, dan Mataram. Akan tetapi pada akhirnya Belanda menguasai Priangan dan pada saat itu pemerintahan Hindia - Belanda, Priangan, dan Cirebon masing-masing menjadi Karesidenan, dan batas-batas kekuasaan tersebut terlihat sampai sekarang.

Dengan memperhatikan latar belakang sejarah di atas, maka dalam tulisan ini akan dicoba tentang raga dan bentuk iket Sunda menurut daerah asalnya, yakni daerah Priangan dan Cirebon. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan daerah-daerah lain pun akan mengemuka dalam penulisan ini. Untuk membedakan jenisnya, terlebih dahulu perlu diketahui asal-usul daerah asalnya sehingga perbedaan dan kesamaannya pun dapat diketahui pula. Iket bisa dikatakan sebagai bentuk asal tutup kepala tradisional Sunda di Jawa Barat. Secara umum memiliki fungsi sebagai pelindung kepala bagi kaum laki-laki.

Iket = totopong terbuat dari kain (boeh atau mori) dengan ukuran saiket atau satotopongeun, yakni ada yang berukuran 105 sentimeter x 105 sentimeter, 100 sentimeter x 100 sentimeter, dan bahkan ada yang berukuran 91 sentimeter x 91 sentimeter. Hal ini bergantung pada ukuran lebar kain (mori) yang akan dijadikan bahan iket. Kenyataan tersebut didukung pernyataan Soegeng Toekio M. (1980 : 68) yang menyebutkan bahwa di beberapa daerah di pesisir Banten, Cirebon dan sekitarnya ukuran iket nampak lebih kecil, yakni 91 sentimeter x 91 sentimeter. Kemudian dalam perkembangannya, banyak kain iket dipergunakan ukuran setengah dari ukuran kain, terutama di dipergunakan iket blangkon.

Berbagai pengaruh yang ada, selain mengakibatkan perubahan nilai budaya dan norma yang menjadi pegangan masyarakat pendukung busana tersebut. Salah satu manifestasi norma yang ada ialah tentang raga dan bentuk iket yang ada di Jawa Barat.

a. Priangan
Yang dimaksud Priangan menurut Wahyu Wibisana (1986 : 17) meliputi Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Sumedang. Wilayah ini terletak di kota Bandung dan menjadi ibu kota Provinsi Jawa Barat yang sekaligus pusat pemerintahannya serta menjadi pusat perkembangan kebudayaan dengan segala aspeknya.

Dengan berbagai pengaruh yang ada sepanjang perkembangan sejarahnya, tampak sikap yang masih berorientasi kepada budaya yang berlatar belakang budaya Pajajaran.

Priangan, khususnya Sukapura (wilayah Kabupaten Tasikmalaya sekarang) Parakanmuncang (sebagian dari Sumedang) serta Ukur (Bandung) pernah berada di bawah pengaruh politik Mataram, yakni pada masa kekuasaan Sultan Agung awal abad ke-21, maka sampai saat ini pengaruh kebudayaan Jawa di daerah ini masih nampak, misalnya penggunaan bahasa, yakni dengan adanya undak usuk basa 'bahasa halus dan bahasa kasar' sebagai ragam bahasa yang berbeda; sastra, yakni adanya pupuh; kain batik motif sidamukti yang sudah baku menjadi salah satu corak batik pakaian pengantin, padahal Priangan pada mulanya termasuk kebudayaan tenun. Dengan kata lain bahwa Priangan tidak mengenal motif batik tersebut.

Berkaiatan dengan hal tersebut Atik Sopandi (wawancara 21 Februari 1985) dalam Wahyu Wibisana (1986 : 85) menyebutkan bahwa bentuk iket yang dikenakan di Priangan ialah iket porteng, julang ngapak, talingkup, borongsong keong, manyingnyong, barangbang semplak, parekos atau barengkos nangka, bungkus tape, babalian, tipulung, dan kuda ngencar. Jenis iket tersebut dapat dibedakan menurut bentuk dan cara meragakannya (lihat jenis dan raga iket).

b. Cirebon
Pada awalnya wilayah Cirebon merupakan kawasan Pajajaran, namun sejak awal abad ke-16 mulai dipengaruhi Demak. Hal tersebut terlihat sekali dalam berbahasa, yang dalam ilmu kebahasaan disebut bahasa Jawa dialek Cirebon.

Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Keprabonan terdapat di wilayah ini yang hingga kini masih dipelihara dengan baik, sehingga pengaruh keraton terhadap masyarakat sekitarnya masih terlihat dengan jelas, bahkan meluas pula ke daerah-daerah "pinggirannya", seperti Kuningan, Majalengka, dan Indramayu, walaupun masyarakat daerah ini sebagian menggunakan bahasa Sunda. Karena itu, tampaknya keraton banyak memberikan warna terhadap arah perkembangan kebudayaan daerah sekitarnya.

Tokoh Sunan Gunung Jati, disebut-sebut dan dijadikan panutan di daerah ini, seperti halnya tokoh Prabu Siliwangi di daerah Priangan.

Dilihat dari struktur sosialnya, di Cirebon tampak adanya pembagian lapisan masyarakat dengan jelas, salah satu penyebabnya adalah pengaruh keraton tersebut, yakni adanya golongan masyarakat kebanyakan, masyarakat golongan menengah, dan kaum bangsawan. Tentu saja pelapisan masyarakat ini akan berpengaruh terhadap tradisi masyarakatnya, termasuk di dalamnya raga dan bentuk iket.

Kenyataan tersebut, memcerminkan bahwa fungsi keraton kuat dirasakan, meskipun sekarang hanya berfungsi fungsi simbolik. Hal ini, tergambar pula dalam tata busana, termasuk raga dan bentuk iket di kalangan keluarga keraton pada saat melaksanakan upacara-upacara tradisional.

Adapun jenis dan corak iket yang ada di wilayah Cirebon ini, diantaranya iket duk liwet/iket tutup liwet, iket mantokan urung ceplakan, iket wulung piritan, dan lainnya. (lihat raga dan jenis iket Priangan).

3.3 Masalah yang berhubungan dengan disain Iket
3.3.1 Faktor Rasa pada Tradisi Sunda

Jenis pakaian dan cara berpakaian orang Sunda dapat dibedakan dengan jenis pakaian daerah lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh bentukan perpaduan antara dorongan dari dalam (rasa etnisnya) yang cenderung mempertahankan bentuk-bentuk terdahulu yang telah dianggap mapan. Sedangkan pengaruh dari luar berupa bentuk-bentuk baru yang mungkin lebih praktis dan baik. Dengan kata lain menawarkan dan alternatif baru dalam jenis pakaian dan cara menggunakannya.

Di Jawa Barat (Sunda), iket, totopong, lomar atau bendo yang biasa dikenakan pada masa lalu, sekarang ini hampir ditinggalkan, bahkan kaum laki-laki Sunda sekarang ini sudah berani bubudugulan 'tidak mengenakan apa-apa pada kepalanya.'

Berkenaan dengan tata cara berpakaian, buku yang berjudul Tatakrama Oerang Soenda Satjadibrata (1943) dalam Cornelia S. Benny (1986 : 85) memuat beberapa ketentuan cara berpakaian orang Sunda yang dianggap saat itu ditentukan oleh faktor iklim di samping selera dan pertimbangan-pertimbangan lain, misalnya faktor waktu, bentuk termasuk ukuran dan warna serta lingkungan kehidupan.

Berkaitan dengan iket sebagai bagian dari pakaian, juga tidak terlepas dari penilaian seperti disebutkan di atas. Dipakaianya iket sebagai kelengkapan berpakaian pada masa itu, seperti ketika anak-anak bersekolah, saat bekerja, saat menerima tamu, saat upacara, saat resepsi atau menghadiri pertunjukkan kesenian dan seterusnya. Selain dari pada itu orang Sunda pun memiliki kelengkapan berpakaian, misalnya :

iket
kain sarung poleng
sabuk atau beubeur
baju kampret atau salontreng.

Cara meragakan Iket Lohen
Iket (kain) dilipat dua, hingga berbentuk segi tiga
pegang kedua ujung kain iket sama panjang (direntangkan)
letakkan ujung kain iket yang lainnya di atas tengah-tengah dahi
kain iket direntangkan dan diletakkan pada bagian belakang

kain iket dari sebelah kiri dan dari sebelah kanan dililitkan pada kepala satu persatu, hingga kedua ujung kain iket bertemu di tengah kepala bagian belakang. Kedua ujung kain iket tadi ditalikan dua kali, dan

rapihkan bagian iket di atas kepala.
Cara mengenakan Sarung Poleng

pertama-tama kain sarung poleng dimasukkan atau disarungkan ke tubuh, hingga sisi bagian atasnya kira-kira sebatas pinggang

pegang sisi atasnya oleh kedua belah tangan
bentangkan ke arah samping

lipat sisi kain yang dipegang oleh tangan kiri ke arah depan kanan
kemudian lipat sisi kain yang dipegang oleh tangan kanan, ke arah depan kiri, hingga kedua lipatan kain dari kiri dan kanan bertemu di tengah pinggang bagian depan.gulungkan tumpuan lipatan kain, gulungkan ke arah luar sebanyak dua atau tiga kali.
setelah itu baru sabuk (beubeur) dipakai sebagai pengencang celana dan sarung poleng.

Cara mengenakan Baju Kampret atau Salontreng
Mengenakan baju kampret/salontreng sangat mudah sekali, karena apabila baju sudah masuk di tubuh, hanya tinggal mengancingkan kancing-kancingnya di bagian depan atau tidak dikancingkan sama sekali.

Cara pemakaian kelengkapan pakaian tersebut di atas, biasa dikenakan oleh remaja Bandung dan Sumedang tempo dulu, jika hendak bepergian. Berbeda dengan kelengkapan pakaian yang dikenakan oleh kaum bangsawan atau bupati, baik pakaian sehari-hari, dinas sehari-hari, dinas resmi, pakaian kebesaran maupun pakaian dalam upacara kebesaran. Sebagai contoh iket yang digunakan sehari-hari ialah iket sawit. Cara mengenakan iket sawit ini sama dengan cara mengenakan iket palten/ iket porteng atau iket lohen, namun cara mengatur lipatan-lipatannya lebih rapih dari orang kebanyakan, yaitu:

kain iket dilipat dua, hingga berbentuk segi tiga
pegang kedua ujung kain iket sama panjang (direntangkan)
letakkan ujung kain iket yang lainnya di atas tengah-tengah dahi
rentangan kain iket diletakkan pada bagian belakang

kain iket dari sebelah kiri dan sebelah kanan dililitkan pada bagian kepala satu persatu, hingga kedua ujung iket bertemu di tengah kepala bagian belakang. Kedua ujung iket tadi ditalikan dua kali.
rapihkan bagian iket di atas kepala.

Kain kebat yang dikenakan kaum bangsawan atau bupati sehari-hari ialah kain kebat panjang motif bebas, sedangkan kain kebat yang dikenakan pada acara-acara resmi, misalnya menghadiri seni tari (Tayuban) ialah kain kebat motif lereng.

Cara pemakaian kain panjang motif bebas dan kain panjang motif lereng adalah sama. Jelasnya sebagai berikut.

- kain kebat panjang dikenakan dari sebelah kiri ke kanan namun ujung kain sebelah kanan diberi lepe atau 'dilamban', banyaknya lima atau tujuh lipatan.

- pegang ujung kain sebelah kiri pada samping pinggang seblah kanan.

- kain yang berlamban (sebelah kanan), diputar ke depan kira-kira berada pada seperempat ukuran dari pinggang sebelah kiri.

- lipatan kain sisa yang berada di sebelah kiri di kesebelah kanankan, dan

- Setelah kain terlihat rapih, baru dikencangkan dengan sabuk (beulitan) yang terbuat dari kulit dan terbungkus beludru atau tanpa beludru. Sedangkan sabuk yang dikenakan pada pakaian resmi ialah sabuk beludru yang dihiasi manik-manik.

Baju yang dikenakan oleh kaum bangsawan untuk kegiatan dinas sehari-hari ialah bedahan (berupa jas tutup) berwarna putih dengan kancing sebanyak 9 buah, dengan huruf W di bagian atasnya. Ujung lengan baju memakai pita kecil berwarna kuning melingkar di ujung lengan baju. Sedangkan baju yang dikenakan dalam kegiatan resmi ialah baju takwa atau senting, berlengan panjang dan bagian belakang baju mencuat ke atas membentuk lengkungan. Hal tersebut dimaksudkan sebagai tempat keris yang diselipkan pada sabuk kulit yang terbungkus beludru dengan taburan manik-manik.

Keris yang dikenakan terutama para bupati di tatar Sunda pada upacara-upacara kebesaran senantiasa mengenakan keris yang turun-temurun, terbuat dari emas murni yang bertahtakan intan berlian. Bahkan kerisnya sendiri terbuat dari ukiran emas murni, bukan hanya werangkanya (sarangka) saja yang terbuat dari emas.

Tampaknya tata cara berpakaian tersebut merujuk kepada suatu pola yang dihasilkan dari proses sejarah budaya yang didukung oleh kaum bangsawan, kelas pertengahan, dan orang kebanyakkan, dan secara otomatis berpengaruh pula pada bentuk iket yang dikenakannya.

Contoh lain, pakaian yang dikenakan pengantin pria yang berasal dari kelas menengah mungkin berorientasi kepada pakaian yang dikenakan bupati atau bangsawan. Artinya ia tidak mengenakan iket bentuk porteng, julang ngapak, talingkup, borongsong keong/borongkos keong, manyingnyong, barangbang semplak/balukang semplak, perekos/barengkos nangka, bungkus tape, babalian, tipulung atau kuda ngencar, tetapi menggunakan bendo seperti yang biasa dikenakan kaum bangsawan atau orang-orang terpelajar zaman dahulu. Sedangkan pada orang kebanyakan hanya mengenakan kopeah 'pici.'

3.3.2 Jenis dan Kegunaan Iket
Dalam pemakaiannya, iket sebagai tutup kepala, mempunyai kecenderungan sejalan dengan kehidupan masyarakat Sunda secara keseluruhan di Jawa Barat.

3.3.2.1. Priangan
a) Jenis dan Raga Iket Orang kebanyakan
Iket sebagai tutup kepala berfungsi untuk menutupi rambut atau melindungi kepala dari terik sinar matahari. Penggunaan iket bagi orang kebanyakan dibagi ke dalam empat kelompok, yakni anak-anak (usia sekolah 7 - 8 tahun), remaja, dewasa, dan orang tua.

- Anak-anak (usia sekolah 7 - 8 tahun)
Pemakaian iket usia anak-anak, biasanya dibantu oleh gurunya sebelum masuk ke dalam kelas. Setiap hari iket tersebut dibuka dengan tidak merubah bentuk; dan minimal bisa dikenakan dalam satu minggu. Jadi gurunya hanya satu kali tiap minggunya membantu mengenakan iket pada muridnya, yakni setiap hari senin.

Cara meragakan Iket
Mula-mula kain bahan iket dilipat dua secara diagonal, hingga berbentuk segi tiga;
Bentuk segi tiga diletakkan di bagian kepala sebelah bawah;
Ujung kiri iket dipegang oleh tangan kiri dan ujung kanan dipegang oleh tangan kanan;
Bagian tengah dari iket yang berada rata-rata kuping dilipat-lipat kecil begitu juga sebaliknya;
Ujung iket dari sebelah kanan putarkan ke sebelah kiri dan dari arah kiri ke kanan;

Ujung iket yang menjuntai di belakang ditarik ke depan hingga menutupi bagian kepala dan berada di bawah kedua belitan iket; dan

Talikan kedua ujung iket di belakang kepala sebanyak dua kali.

- Remaja
Usia remaja adalah usia anak antara 15 tahun hingga 21 tahun. Iket yang dikenakan sehari-hari usia remaja ini ialah iket barengkos nangka/parekos nangka.

Cara meragakan Iket
Kain bahan iket dilipat dua, hingga berbentuk segi tiga;
Segitiga ini diletakkan di bagian belakang kebala bagian bawah;
Ujung kiri iket dipegang oleh tangan kiri dan ujung kanan dipegang oleh tangan kanan;
Ujung iket dari sebelah kanan putarkan ke sebelah kiri dan dari arah kiri ke kanan;
Ujung iket yang menjuntai di belakang ditarik ke depan hingga menutupi bagian kepala, dan berada di bawah kedua belitan iket; dan
Talikan kedua ujung iket di belakang kepala, sebanyak dua kali.

Selain pemakaian iket yang dikenakan sehari-hari oleh usia remaja di atas, bagi yang sudah bekerja, misalnya menggembala itik, menjadi panday besi, bekerja di sawah atau bepergian. Iket yang dikenakan biasanya iket barengkos nangka seperti iket yang dikenakan sehari-hari. Untuk menggembala kerbau biasanya ditambah dengan topi cotom, yakni topi yang berbentuk bundar dan berdiameter lebih kurang 80 sentimeter yang digunakan di atas iket, agar bambu bagian bawah yang menempel pada kepala tidak terasa sakit, karena terhalang oleh iket yang dikenakannya.

Kegunaan topi cotom ini selain untuk menghindari sengatan matahari dan hujan, juga sebagai alat penyiduk air ketika memandikan kerbau atau hewan gembalaan lainnya.

- Dewasa
Iket yang dikenakan orang dewasa laki-laki, antara lain iket barengkos nangka. Iket ini dikenakan sehari-hari, untuk bepergian, sembahyang atau pergi ke masjid, bertani di sawah, menggembala itik, menggembala kerbau, dan berjualan minyak. Cara mengenakan iket ini sama dengan cara mengenakan iket barengkos nangka pada kalangan anak remaja laki-laki. Namun untuk bertani di sawah atau di ladang ditambah dengan dudukuy cetok, yakni topi yang berbentuk kerucut, terbuat dari anyaman bambu, bagian tepinya diberi wengku dan dililitkan tali dari bambu atau tali dari hoe (rotan).

Kemudian iket barangbang semplak, dikenakan oleh tukang delman (sais), kusir delman, bandar kerbau, tukang ngadu domba atau bobotoh.

Cara meragakan Iket Barangbang Semplak
Mula-mula kain iket dilipat dua, hingga berbentuk segi tiga;

Segi tiga ini diletakkan di bagian belakang kepala bagian bawah. Biarkan menjuntai ke punggung;
Ujung kiri iket dipegang oleh tangan kiri dan ujung kanan iket dipegang oleh tangan kanan;
Ujung iket dari sebelah kanan putarkan ke sebelah kiri dan dari arah kiri ke kanan; dan
Talikan kedua ujung iket di belakang kepala sebanyak dua kali.

Orang tua
Iket yang dikenakan orang tua laki-laki, baik untuk sehari-hari, bepergian, bertani di sawah atau di ladang, berdagang, dan lainnya sama dengan iket yang dikenakan atau diragakan orang dewasa laki-laki.

b) Jenis dan Raga Iket Kaum Menengah
Iket yang dikenakan anak-anak dan remaja laki-laki di kalangan menenggah tidaklah berbeda dengan iket yang dikenakan di lingkungan masyarakat kebanyakan. Kalaupun disebut ada perbedaan, paling-paling terletak pada kualitas bahan yang digunakan, di samping meragakannya agak lebih rapih. Bahan iket yang dipakai di lingkungan masyarakat kebanyakan biasanya lebih sederhana, berbeda dengan bahan yang dipakai oleh kaum masyarakat menengah.

Perbedaan lainnya untuk iket masyarakat kebanyakan dengan iket masyarakat menengah disebabkan oleh profesi. Artinya orang laki-laki pada masyarakat kebanyakan yang umumnya bekerja sebagai petani, pedagang, buruh, dan pertukangan. Sedangkan yang dimaksud dengan profesi masyarakat menengah misalnya pegawai negeri dan pamongpraja.

- Anak-anak (usia 7 - 8 tahun)
Iket yang dikenakan anak laki-laki kalangan masyarakat menengah sama dengan iket yang dikenakan anak laki-laki kaum bangsawan, dan kalaupun ada perbedaan hanya terletak pada kualitas bahan yang lebih sederhana di samping motif batiknya.

- Remaja
Anak remaja laki-laki masyarakat kalangan menengah saat mengenakan iket, sama dengan cara anak remaja laki-laki masyakat kebanyakan, baik untuk kegiatan sehari-hari maupun yang lainnya. Namun untuk bepergian bisanya mengenakan iket parekos/barengkos nangka atau iket lohen sebagai pilihan.

- Dewasa
Iket yang dikenakan untuk kegiatan sehari-hari orang dewasa laki-laki masyarakat menengah, sama dengan iket yang dikenakan remaja sehari-hari, begitu juga iket yang dikenakan dalam kegiatan resmi. Yang membedakan hanyalah kelengkapan pakaian lainnya, seperti pemakaian arloji atau jam tangan berantai emas, baju senting berwarna hitam dengan model bedahan lima, kain kebat panjang lereng yang dilepe, beubeur 'sabuk' serta keris yang diselipkan pada bagian samping pinggang sebelah kiri dengan ujungnya berada di bagian belakang. Apabila akan menari, keris dipindahkan ke sebelah kanan pinggang sebelah belakang. Selain itu, dikenakan soder (berupa selendang batik lokcan) yang terbuat dari sutera dengan lebar lebih kurang 40 sentimeter dan panjang antara tiga hingga tiga setengah meter.

Soder tersebut dililitkan pada keris dengan ujungnya menjuntai sama panjang. Pada saat-saat tertentu soder sebelah kanan akan ditarik agar terlihat lebih panjang dibandingkan dengan sebelah kiri.

Kemudian iket yang dikenakan laki-laki dewasa kaum menengah ketika bersembahyang maupun pergi ke mesjid ialah iket parekos nangka. Cara meragakan iket ini sama dengan meragakan iket laki-laki orang dewasa.

- Orang tua
Iket yang dikenakan orang tua laki-laki dari kalangan masyarakat menengah ini, sama dengan pemakaian iket yang dikenakan orang laki-laki dewasa, begitu juga jenis dan cara meragakannya.

c) Jenis dan Raga Iket Kaum Bangsawan
Busana kaum bangsawan Bandung dan Sumedang memiliki kesamaan, baik pakaian sehari-hari maupun busana untuk kesempatan-kesempatan resmi. Hal tersebut terjadi karena pandangan dan kebiasaan penggunaan yang sama maupun nilai-nilai yang dianut serta peraturan yang dikeluarkan pemerintah pada masa itu, begitu juga jenis dan raga iketnya. Berikut di bawah ini akan diuraikan mengenai iket yang dikenakan anak-anak (usia 7 - 8 tahun), remaja, dewasa, dan orang tua. Jelasnya sebagai berikut.

- Anak-anak (usia sekolah 7 - 8 tahun)
Iket yang dikenakan sehari-hari anak laki-laki kaum bangsawan ialah iket parekos/barengkos nangka. Cara meragakan iket ini, sama dengan cara meragakan iket parekos nangka emaja laki-laki masyarakat menengah di daerah Bandung. Sedangkan iket yang dikenakan untuk mengaji dan sekolah, iket yang dikenakan ialah iket palten.

Cara mengenakan Iket Palten
Mula-mula kain iket dilipat dua, hingga berbentuk segi tiga;
Pegang kedua ujung iket sama panjang (direntangkan;
Letakkan ujung iket yang lainnya di atas tengah-tengah dahi;
Rentangan iket diletakkan pada bagian belakang;
Iket dari sebelah kiri dan kanan dililitkan pada kepala satu persatu, hingga kedua ujung iket bertemu di tengah kepala bagian belakang; dan
Rapihkan bagian atas iket di atas kepala.

- Remaja
Remaja laki-laki kaum bangsawan pada masa itu biasanya tidak memiliki pekerjaaan, karena dipersiapkan secara khusus untuk menjadi pemimpin dalam pemerintahan atau paling tidak menjadi pegawai negeri. Di samping itu, dalam kegiatan sehari-hari mereka harus berlatih menari, baik tari tayuban atau pun tarawangsa. Adapun iket yang digunakan oleh remaja laki-laki kaum ini, ialah iket parekos nangka. Cara meragakan iket ini, sama dengan cara meragakan atau mengenakan iket masyarakat kebanyakan dan masyarakat menengah, hanya lebih rapih di samping bahan dan corak ragam hias kain, baju yang dikenakan oleh kaum ini.

- Dewasa
Pemakaian iket orang dewasa laki-laki kaum bangsawan, dilengkapi dengan busana-busana tertentu untuk kepentingan-kepentingan tertentu pula.

Iket yang dikenakan dalam kegiatan sehari-hari ialah iket sawit. Cara meragakan iket sawit sama dengan meragakan iket lohen, tetapi cara mengatur lipatan-lipatannya lebih rapih dari masyarakat kebanyakan begitu juga dalam dinas resmi. Sedangkan dalam dinas sehari-hari dikenakan iket model palten.

Iket yang dikenakan dalam upacara-upacara kebesaran kaum bangsawan, ditentukan oleh model baju, motif kain, ragam hias pada baju, celana serta selop yang dikenakannya, termasuk keris dan sabuk (benten). Begitu juga dengan warna pakaian yang dikenakan, misalnya warna yang dikenakan oleh bupati bergelar Pangeran, warna kuning seperti pada kelim emas yang menyusuri pinggir leher baju, pinggir baju, dan ujung lengan baju serta sulaman atau ornamen-ornamennya.

Warna hitam atau warna biru tua digunakan pada bahan dasar baju yang terbuat dari beludru atau bahan dasar celana maupun selop.

Kain lainnya yang terbuat dari sutera, digunakan warna merah. Selain itu, digunakan kain kebat panjang motif lereng parang rusak, sehingga fungsi estetis dari pakaian itu akan terlihat serasi dan berpengaruh pada bahan, corak dan ragam hias yang dikenakan pada iket. Biasanya, iket yang dikenakan ialah iket model sawit. Bupati dengan pangkat Adipati, yang dikaruniai songsong kuning (payung kuning), mengenakan iket yang sama diragakan bupati dengan bergelar pangeran. Kemudian untuk bupati dengan gelar Tumenggung, iket yang dikenakannya sama dengan iket yang dikenakan oleh bupati bergelar adipati atau pangeran, yakni iket sawit, yang diserasikan dengan ragam hias kain panjang batik yang dikenakannya, yakni kain batik lereng udan liris.

- Orang tua
Orang tua laki-laki pada kalangan bangsawan, pada umumnya mengenakan iket model sawit. Raga iket sawit ini, sama halnya dengan raga iket sawit yang dikenakan orang dewasa laki-laki masyarakat menengah.

3.3.2.2 Cirebon
a) Jenis dan Raga Iket Kaum Kebanyakan
- Anak-anak (usia sekolah 7 - 8 tahun)

Selain celana kodok, bagi anak laki-laki di lingkungan masyarakat kebanyakan Cirebon, terdapat pula penggunaan iket. Pemakaian iket di lingkungan masyarakat ini, sebenarnya tidak berbeda dengan pemakaian iket di daerah Priangan. Kalaupun ada perbedaan hanya terletak pada sebutannya saja.

Iket yang dikenakan usia anak-anak biasanya jenis iket duk liwet, yang kalau di Priangan disebut iket parekos/barengkos nangka.

- Remaja
Remaja di lingkungan masyarakat kebanyakan, biasanya mengenakan pakaian sarung batik atau celana pukong, baju kampret, dan mengenakan iket mantokan urung ceplakan.

Cara meragakan iket mantokan urung ceplakan ini, tidak berbeda dengan cara meragakan iket barangbang semplak di daerah Priangan. Untuk mengetahui cara meragakan iket ini, bisa dilihat pada uraian di muka.

- Dewasa
Iket yang dikenakan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat kebanyakan tidak berbeda dengan iket yang dikenakan kaum remaja.

Jika dilihat dari jenis pekerjaannya, masyarakat kebanyakan di Cirebon ini dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yakni golongan yang banyak jumlahnya ialah petani, nelayan, pedagang, pertukangan, dan kusir/sais. Kemudian yang termasuk golongan pertukangan ini masih bisa dibagi-bagi lagi menjadi panday besi, tukang bangunan, pengrajin perhiasan, dan pengrajin batik.

Berdasarkan pembagian tersebut, maka jenis iket yang dikenakan orang dewasa laki-laki kaum kebanyakan bisa dibagi ke dalam dua bagian, yakni iket yang dikenakan ketika sedang bekerja, dan iket yang dikenakan di luar kegiatan itu.

Iket yang dikenakan ketika sedang bekerja, biasanya ditambah dengan cotom. Yang dimaksud dengan cotom ialah sejenis topi yang terbuat dari anyaman bambu, bentuknya seperti limas, dan berdaun agak lebar. Biasanya topi jenis ini di cat dengan ter agar tidak tembus air. Topi jenis ini di daerah Priangan disebut dudukuy cetok. Fungsinya untuk penahan teriknya sinar matahari atau hujan pada saat bekerja di sawah atau di ladang atau pengganti payung, juga untuk penyiduk air, ketika memandikan kerbau di tempat penggembalaan.

Sebenarnya iket yang dikenakan orang dewasa kaum kebanyakan di Cirebon ini sama dengan pemakaian iket kaum dewasa orang kebnyakan di daearah Priangan.

Di daerah Cirebon, dikenal adanya kuncen atau juru kunci di tempat-tempat yang dianggap keramat, misalnya kuburan para raja atau leluhur yang menurut anggapan mereka mempunyai kesaktian. Iket yang dikenakan oleh kuncen atau juru kunci ini ialah iket duk liwet atau iket tutup liwet di daerah Priangan. Secara otomatis cara meragakannya pun sama dengan meragakan iket tutup liwet di Priangan.

- Orang tua
Iket yang dikenakan orang tua laki-laki di lingkungan masyarakat kebanyakan tidak berbeda dengan iket yang dikenakan kaum dewasa di kalangan bangsawan di daerah ini.

b) Jenis dan Raga Iket Kaum Menengah
Iket yang dikenakan di lingkungan masyarakat menengah tidak berbeda dengan iket yang dikenakan oleh masyarakat kebanyakan. Kalaupun ada perbedaan, hanyalah kualitas bahan saja.

- Anak-anak (usia sekolah 7 - 8 tahun)
Pada usia ini, anak-anak mulai memasuki sekolah. Hanya kalau anak-anak dari kaum kebanyakan bersekolah di sekolah desa, sedangkan di lingkungan masyarakat menengah ke HIS.

Iket yang dikenakan anak laki-laki kaum menengah ini ialah iket duk liwet/iket tutup liwet. Sedangkan cara meragakan atau mengenakan iket ini sama dengan meragakan iket anak-anak di lingkungan masyarakat kebanyakan. Adapun yang membedakannya hanyalah pemakaian kelengkapan busana, diantaranya penggunaan kain batik dan jas tutup pada kalangan bangsawan atau kalangan menengah.

- Remaja
Iket yang dikenakan remaja laki-laki dari lingkungan masyarakat kelas menengah ini tidak berbeda dengan pemakaian iket remaja masyarakat kebanyakan, kecuali dalam kualitas bahan dan motif batik yang biasanya khusus. Khusus di sini dimaksudkan bahwa batik yang dikenakan harus bermotif kangkungan.

- Dewasa
Pemakaian iket antara kelas menengah dan masyarakat kebanyakan bisa dibedakan pada golongan dewasa dan orang tua. Perbedaan ini terletak pada jenis pekerjaan yang mereka lakukan. Jenis pekerjaan pada masyarakat kebanyakan ialah petani, nelayan, pedagang, pertukangan, dan kusir/sais, maka untuk kelas menengah ialah pegawai negeri dan pamongpraja.

Iket yang dikenakan pejabat pamongpraja ialah iket tutup liwet, sedangkan iket yang dikenakan orang dewasa laki-laki masyarakat kebanyakan ialah iket mantokan urung ceplakan atau iket barangbang semplak di Priangan. Di samping itu, kain yang dikenakan ketika bekerja pun harus bercorak batik, dan menganakan baju tutup berkancing enam warna putih.

Bahan yang digunakan untuk baju tutup pun tidak sama. Hal ini ditentukan pula oleh jabatan yang disandangnya. Misalnya untuk para lurah memakai bahan dril, camat atau wedana bahan satyn dril, kemudian untuk bupati beludru. Begitu pula dengan warna hitam atau putih yang dikenakan pegawai pamongpraja mempunyai fungsi simbolis. Warna putih melambangkan hati yang suci bersih, sedangkan warna hitam melambangkan kelanggengan atau keabadian. Hal ini akan berpengaruh pula pada bahan, warna dan corak iket yang dikenakannya.

- Orang tua
Iket yang dikenakan orang tua laki-laki masyarakat kaum menengah tidak berbeda dengan pemakaian iket pada golongan dewasa laki-laki.

c) Jenis dan Raga Iket Kaum Bangsawan
Busana yang dikenakan kaum bangsawan di lingkungan keraton Cirebon, khususnya oleh Sultan banyak memiliki keistimewaan, baik jenis maupun bentuknya.

Jika dilihat dari penggunaannya, busana yang dikenakan kaum bangsawan ini, terbagi dua yakni busana resmi dan busana sehari-hari. Dalam hal pemakaian iket, biasanya iket yang dikenakan sultan ialah iket wulung piritan, yakni corak iket yang tidak dapat dikenakan oleh sembarang orang, artinya hanya sultanlah yang berhak mengenakannya. Di samping itu, dikenakan juka tutup kepala pengganti iket, yakni bendo karatonan sebagai perkembangan dari pemakaian iket yang dianggap praktis dalam mengenakannya.

Pemakaian iket atau bendo tersebut disesuaikan dengan kelengkapan busana sebagai berikut:

a) Busana sehari-hari jenis pertama
- Iket wulung piritan
- kain lancar yang dilamban
- sabuk kulit
- jas tutup warna putih, dan
- slop.

b) Busana sehari-hari jenis kedua
- iket wulung piritan
- kain lancar yang dilamban
- sabuk kulit
- senting (baju takwa), dan
- selop.

c) Busana sehari-hari jenis ketiga
- Bendo karatonan
- kain lancar yang dilamban
- sabuk kulit
- baju takwa, dan
- sepatu.

d) Busana sehari-hari jenis keempat
- Bendo karatonan
- kain lancar yang dilamban
- sabuk kulit
- baju takwa, dan
- selop.

Berdasarkan uraian pemakaian busana di atas, maka perbedaan pemakaian iket wulung piritan dan bendo karatonan ditentukan oleh jenis pakaian dan asesorisnya atau kelengkapan lain.

d) Nilai simbolis pada iket kepala
Di wilayah Priangan fungsi iket selain sebagai tutup kepala atau kelengkapan berbusana juga mempunyai nilai simbolis, diantaranya;

semua penutup kepala yang dikenakan oleh orang tua mencerminkan sifat rendah hati pemakainya,
iket kuda ngencar mempunyai arti simbolis keterbukaan dan menerima berbagai ilmu pengetahuan yang datang dari luar maupun dari dalam,
iket raweuyan diartikan sebagai keturunan Pajajaran,
iket merak moyan diartikan sebagai rasa indah, dan
iket beulah benang diartikan sebagai daya berpikir dan daya nalar.

Sedangkan di Wilayah Cirebon fungsi iket tersebut selain sebagai tutup kepala atau kelengkapan berbusana juga mempunyai nilai simbolis yang ada kaitannya dengan sistem pemerintahan keraton yang masih hidup di wilayah Cirebon hingga sekarang. Misalnya:

Iket Wulung Piritan, hanya bisa dikenakan oleh Sultan di daerah Cirebon.
Iket atau bendo karatonan dikenakan oleh sultan dalam kegiatan sehari-hari
Iket tutup liwet atau iket duk liwet istilah Cirebon, dikenakan oleh kuncen di daerah Sumedang dan Bandung.

Secara keseluruhan kegunaan iket dalam lingkungan kehidupan masyarakat Sunda di Jawa Barat dapat disimpulkan berdasar pada fungsinya, yakni: 1) kegunaan umum, dikenakan dalam kehidupan sehari-hari; 2) kegunaan khusus, dikenakan dalam upacara dan kegiatan-kegiatan kebesaran.

Kemudian penggunaan warna dalam tata busana yang dikenakan di lingkungan keraton (Cirebon) berbeda-beda, tergantung pada situasi dan kondisi saat mengenakannya, begitu pula warna iket yang dikenakannya. Misalnya:

Warna putih dikenakan dalam kehidupan sehari-hari, pada upacara grebeg sawal, grebeg mulud, dan panjang jimat.

Warna kuning dikenakan pada saat hajatan. Selain itu dikenakan oleh kaum perempuan keluarga keraton.

Warna hitam digunakan saat dinas kebesaran dan pada saat berkabung.
Biru muda dikenakan kapan saja, dan
Warna hijau, dikenakan permaisuri sultan pada saat menghadiri upacara.
Dari penggunaan kelima warna tersebut di atas, lazim digunakan dan mengandung makna sebagai berikut.
Hijau, melambangkan kesuburan
Putih, melambangkan hati yang suci bersihKuning, melambangkan usaha mengayuh untuk meraih keluhuran jiwa

Biru, melambangkan ketinggian, kekuasaan dan kekuatan yang diambil dari 'atas', dan - Hitam, melambangkan kelanggengan yang dihubungkan dengan warna putih. Lambang kelanggengan kesucian dan kebersihan hati yang harus diusahakan dan diperjuangkan selamanya.

Pewarnaan
Bahan-bahan yang digunakan untuk proses membatik masih bersifat tradisional. Artinya bahan-bahannya diambil dari alam, bukan kimia atau buatan seperti yang dilakukan sekarang ini, misalnya:

warna fiolet (nila), diambil dari daun tarum
warna biru wulung, diambil dari daun tarum yang dicampur dengan buah rukem
Warna coklat, diambil dari kulit pohon angsana, biasanya warna ini digunakan oleh orang-orang yang tinggal di pegunungan. Selain itu, warna coklat yang digunakan orang-orang yang tinggal di daerah pantai, diperoleh dari pohon bakau yang banyak tumbuh di sekitar pantai; dan
Warna hitam atau merah, diambil dari lumpur.
Adapun proses membatik secara tradisional yang biasa dilakukan masyarakat Cirebon adalah sebagai berikut:

Pertama-tama kain mori yang sudah dipotong sesuai kebutuhan, dicuci supaya kanji dan kotorannya hilang,

Setelah dicuci, kemudian dijemur dan diusahakan agar tidak ada lipatan-lipatan yang tidak dikehendaki.

Mori yang sudah kering, sisi-sisinya dijelujuri dengan jahitan tangan.
Mempersiapkan bahan-bahan pewarna yang dikehendaki sesuai fungsinya.
Bahan pewarna yang sudah disiapkan kemudian dilarutkan dalam air di dalam belanga tembaga, dan dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Namun sebelumnya, bagian-bagian yang tidak akan diberi warna terlebih dahulu di blok dengan cara ditutupi (dipepet) atau digedebog pisang istilah setempat.

Selanjutnya diaduk hingga merata dan meresap ke seluruh bagian kain.
Mori di dalam belanga, direndam selama kurang lebih tiga atau empat hari.
Selanjutnya, mori dibersihkan dan diberi minyak kacang lalu dijemur kembali hingga kering.
Mori yang sudah kering, kemudian diberi gambar atau dutulisi dengan pinsil, supaya apabila diberi malam gambar-gambarnya tidak hilang.

Gambar-gambar yang sudah ditulisi atau dipatron, kemudian ditulisi kembali dengan canting yang diisi dengan malam cair.

Mori dicelup dengan pewarna, dan selanjutnya dihilangkan dengan menggunakan malam.
Apabila warna yang diinginkan banyak macamnya, maka proses membloknya pun berulang-ulang.

Warna-warna yang banyak digunakan oleh masyarakat Cirebon ialah warna kuning muda (gading), dan warna biru. Sedangkan motif batiknya terdiri atas enam macam, yaitu kangkungan, sena beton, megan, wadasan, sekar kluwen, dan gringsing.

Warna-warna yang digunakan tersebut mempunyai nilai simbolis tertentu di dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, seperti diutarakan di atas. Sedangkan warna putih biasanya dipakai dalam kegiatan keagamaan. Demikian pula motif batik tersebut diyakini mempunyai makna tertentu, misalnya motif gringsing dan wadasan mengandung makna kesempurnaan, yakni kemampuan untuk membedakan baik dan buruk dengan kata lain hanya dipakai oleh orang-orang yang benar-benar dapat mempertimbangkan sesuatu yang pantas dilakukan dan yang tidak pantas dilakukan. Biasanya motif batik ini dikenakan oleh kaum bangsawan atau sultan.

Motif batik Cirebon ini hampir merupakan garis mendatar yang berpadu dengan hiasan puncak yang menuju ke atas. Hal ini melambangkan kehidupan yang diibaratkan layar besar yang sedang berkembang di samudra kehidupan, yang pada akhirnya menuju ke atas, yakni Tuhan Yang Mahakuasa yang menguasai layar kehidupan tadi.

Rupanya sudah menjadi kebiasaan apabila menggunakan kain batik senantiasa dilengkapi dengan iket atau bendo, terutama jika dikenakan oleh kaum laki-laki pada saat-saat menghadapi peristiwa khusus.

3.4 Iket dan Perkembangannya
Pada zamannya, kaum laki-laki di kalangan orang kebanyakan maupun di kalangan bangsawan biasa mengenakan atau meragakan iket sebagai penutup kepala. Perbedaannya hanya pada bahannya saja, yakni di kalangan orang kebanyakan dibuat dari batik kasar sedangkan di kalangan bangsawan terbuat dari bahan batik yang lebih halus. Misalnya sultan-sultan di Cirebon menggunakan kain wulung. Sedangkan di Priangan mengenakan kain rereng eneng, rereng garutan, rereng tasikan, dan lain sebagainya.

Iket ini kemudian berkembang menjadi bendo, yakni tutup kepala yang dibuat dari batik dengan cara dicetak menurut ukuran kepala tertentu dan dijahit serta dikanji (diberi bahan perekat yang dibuat dari tepung ketela pohon (Sunda: sampeu) yang diberi air panas secukupnya).

Pembuatan bendo di Jawa Barat dimulai pada awal abad ke-20. Bentuk bendo Priangan berbeda dengan bendo Cirebon, terutama pada bagian depan. Pada bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar lebih kurang 4 sentimeter yang makin ke belakang makin kecil. Di bagian bendo Priangan terdapat ikatan atau simpul ujung-ujung kain.

Bendo biasanya digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan, sedangkan rakyat pada umumnya tetap menggunakan iket. Namun, ada saatnya kaum bangsawan dan pejabat pemerintahan menggunakan bendo, dan lain waktu menggunakan iket. Pada perkembangannya kemudian, karena bendo dianggap lebih praktis, maka penggunaan iket ditinggalkan. Dalam kenyataannya bentuk-bentuk bendo Jawa Barat berlainan sesuai dengan kondisi yang berkembang di setiap kabupaten atau sekolah pada waktu itu. Oleh karena itu dikenal nama-nama bendo : bendo Bandung, bendo Sumedang, bendo Garut, bendo Tasikmalaya, bendo Ciamis, dan bendo Mosvia. Begitu pula dengan bervariasinya penggunaan iket. Misalnya iket model kutanagara digunakan oleh para pemuda; mantokan atau barangbang semplak (pemuda: jawara, atau oah (jagoan) di daerah Banten, Bandung, Garut, Bogor, Cianjur, Sukabumi, dan lain sebagainya); dasamukaan (orang tua); kebo modol (penabuh gamelan); barengkos/parengkos nangka (sehari-hari); kekeongan (pekerja); duk liwet, tutup liwet (orang tua); lohen atau palten (pejabat, rakyat pada upacara resmi); sawit atau iket bendo (pejabat, dalang, bangsawan); dan piritan (sultan).

Pada dekade tiga puluhan dan empat puluhan orang-orang di Priangan mulai menggunakan kopeah atau pici. Agaknya bentuk pici ini sudah digunakan pada sekitar tahun 1860 oleh para santri dan tukang roda pengangkut penumpang jarak Banten - Jakarta.

Bab IV
Analisis Dan Kesimpulan

Seperti di daerah lainnya di Indonesia, sekarang ini sudah jarang orang menggunakan pakaian tradisional dalam kehidupan seharai-hari, begitu pula dengan pemakaian iket 'ikat kepala' atau bendo sudah amat jarang, kecuali pada waktu-waktu tertentu, seperti pada penyelenggaraan upacara perkawinan atau upacara adat lainnya.

Meskipun dewasa ini masih ada pengrajin batik (batik tulis atau cetak) yang membuat bahan iket atau bendo dan diperdagangkan, namun barang-barang itu hanya dibeli dan digunakan untuk keperluan khusus, misalnya untuk kelengkapan pakaian pementasan penabuh kesenian gamelan, jawara, dalang, dalam upacara adat, atau orang-orang yang berada di lembaga-lembaga adat yang masih mempertahankan pakaian tradisinya. Ikat kepala iket (bendo), baju kampret atau takwa dan celana pangsi tidak menjadi pakaian sehari-hari lagi. Sekarang ini masyarakat umumnya menggunakan kemeja dan celana panjang sesuai dengan perkembangan zaman.

Memang masyarakat kita pernah mengalami kesulitan mendapatkan pakaian seperti iket ini, hal tersebut pernah dialami ketika zaman Jepang, namun hal itu bukanlah faktor yang menyebabkan ditinggalkannya kelengkapan busana tradisional tersebut, melainkan pada dekade 40-an, masyarakat kita mengalami pergeseran tata nilai. Artinya setelah Indonesia merdeka, masyarakat kita lahir dalam sikap baru, diantaranya yang berhubungan dengan cara pandang, pikiran dan tindakan.

Setelah Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia "Sunda" mempunyai pandangan berbeda terhadap pakaian tradisional termasuk pemakaian iket 'ikat kepala'. Penggunaan pakaian tradisional dan iket dianggap tidak praktis atau tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Berdasarkan hal tersebut, dimungkinkan oleh beberapa faktor, diantaranya oleh : (1) Keawaman pada tradisi. Mungkin mereka (pendukung kebudayaan) ingin membuat pemanis baru dalam berpakaian, namun takut bertolak belakang dengan tradisi yang ada. Di sisi lain mungkin karena keawamannya tentang tradisi yang sebenarnya sehingga tradisi yang dihasilkannya tidak berkelanjutan dari perkembangan busana yang ada; (2) Peraturan khusus. Misalnya ketentuan berpakaian atau berbusana di sekolah atau di kantor yang diharuskan mengenakan pakaian seragam yang telah ditentukan, begitu pula dengan warnanya. Hal tersebut secara tidak langsung mematikan tradisi yang ada, karena tidak memperhatikan hal-hal yang bersifat tradisi; (3) Selera masyarakat dewasa ini. Dahulu warna-warna kain atau pakaian sangat terbatas, begitu dengan potongan-potongan pakaian dan variasinya. Sekarang ini, mungkin disebabkan oleh mudahnya memilih bahan ditambah banyaknya potongan-potongan jenis pakaian serta warna-warna yang sesuai dengan selera masyarakat; (4) Kualitas bahan. Sekarang masih ada sekelompok orang yang memproduksi batik, baik batik tulis, batik cetak atau pun batik printing, di antaranya di Indramayu dikenal dengan sebutan batik dermayon, di Cirebon dikenal dengan sebutan batik trusmi, di Garut dikenal dengan sebutan batik garutan, dan di Tasikmalaya dikenal dengan sebutan batik urug. Bahan batik yang digunakan bergantung pula pada motif dan cara pengerjaannya, misalnya batik tulis nilai jualnya akan lebih mahal dibanding batik cetak atau batik printing, sebab pengerjaan batik tulis ini memerlukan keuletan dan memakan waktu agak lama; (5) Kepraktisan dalam berbusana. Banyak orang beranggapan bahwa penggunaan busana tradisional termasuk pemakaian tutup kepala (iket) untuk sehari-hari tidak praktis. Anggapan ini menyebabkan iket 'tutup kepala' dikenakan pada waktu-waktu tertentu saja. Hal tersebut dimungkinkan awal dari gejala-gejala perubahan pada masyarakat Jawa Barat pada umumnya dan khususnya masyarakat Sunda pendukung hasil budaya di atas. Gejala ini lahir, karena mereka lebih berorientasi kepada hal-hal yang bersifat praktis dan estetis, di samping ada kecenderungan ingin bebas dari ikatan. Artinya nilai simbolisme dalam kehidupan sudah mulai pudar seiring berputarnya zaman.

Iket yang dikenakan oleh masyarakat Jawa Barat di wilayah Priangan dan Cirebon menunjukkan kesamaan-kesamaan, di samping terdapat sedikit perbedaan sesuai dengan lingkungan masing-mamsing yang khusus, baik dikarenakan tempat maupun pekerjaan masyarakat pendukungnya. Orang-orang yang mengenakan iket, dengan status kehidupan yang secara diksotomis dipertentangkan antara "tinggi" dan "sederhana" menentukan perangkat dan ciri-ciri khusus pada iket yang biasa digunakannya. Orang yang kedudukannya tinggi/bangsawan mengenakan bentuk dan raga iket wulung piritan atau raga iket rakyat kebanykan dengan iket parekos nangka/barengkos nangka. Hal tersebut sudah memperlihatkan tingkatannya atau status orang yang mengenakannya.

Kemudian iket 'ikat kepala' yang dikenakan rakyat kebanyakan maupun kalangan bangsawan pada umumnya sama saja, hanya sedikit perbedaan dari bahan yang dugunakannya; di kalangan orang kebanyakan dibuat dari bahan kasar, sedangkan kaum bangsawan menggunakan bahan batik yang lebih halus. Halnya kaum bangsawan di Cirebon, terutama sultan biasanya menggunakan kain wulung "hitam", baik untuk iket atau kain yang dikenakannya.

Iket ini kemudian berkembang menjadi bendo, yakni tutup kepala yang dibuat dari bahan batik dengan cara dicetak menurut ukuran-ukuran kepala tertentu dan dijahit serta dikanji "- diberi bahan perekat yang terbuat dari tepung ketela pohon yang diberi air panas secukupnya -". Pembuatan bendo ini di Jawa Barat dimulai pada awal abad ke-20. Bentuk bendo Priangan dan Cirebon berbeda, terutama pada bagian depan. Pada bagian depan bendo Cirebon terdapat lipatan selebar lebih kurang 4 sentimeter yang mengecil ke arah belakang. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan atau simpul ujung-ujung kain.

Bendo, biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintah, sedangkan rakyat kebanyakan tetap menggunakan iket. Ada suatu saat kaum bangsawan dan pejabat pemerintah sewaktu-waktu menggunakan bendo, dan sewaktu-waktu menggunakan iket. Kemudian, karena bendo dianggap lebih praktis, maka penggunaan iket ditinggalkan. Dan ada pula suatu saat bentuk-bentuk bendo di Jawa Barat berlain-lainnan menurut kabupaten dan nama sekolah pada waktu itu, sehingga dikenal nama-nama: bendo bandung, bendo sumedang, bendo garut, bendo tasikmalaya, bendo ciamis, dan bendo mosvia.

Penggunaan iket pun bervariasi. Model kutanagara digunakan oleh para pemuda; mantokan atau barangbang semplak juga dikenakan para pemuda, jawara atau jagoan, di daerah Banten disebut oah, di samping itu dikenakan pula di daerah-daerah Bandung, Garut, Cianjur, Sukabumi, Bogor, dan lain sebagainya; dasamukaan, dikenakan oleh orang tua; kebo modol, dikenakan oleh penabuh gamelan; barengkos nangka/parekos nangka, dikenakan sehari-hari; kekeongan, dikenakan oleh para pekerja; duk liwet/tutup liwet, dikenakan oleh orang tua; lohen/palten, dikenakan oleh pejabat dan rakyat kebanyakan pada upcara-upacara resmi; sawit atau iket bendo dikenakan oleh pejabat, dalang, dan bangsawan; dan wulung piritan dikenakan oleh sultan.

Daftar Pustaka
A. Sunhandi Shm., Tata Kehidupan Masyarakat Baduy Daerah Jawa Barat, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1986.

Ahmad Yunus, Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Jawa Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1982.

Anis Djatisunda, Sisa Iket Sunda pada Era Milenium Tiga, Makalah Diskusi "Ngaguar Iket Sunda", di Pendopo Kota Bandung, Sabtu 5 Agustus 2000.

Cornelia Jane Benny S., dkk., Pakaian Tradisional Daerah Jawa Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1988.

Mudjadi, dkk., Adat Istiadat Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1997.

R.H. Uton Muchtar dan Ki Umbara, Modana, PT. Mangle Panglipur, Bandung, 1994.

Saini K.M., Fungsi Ikat Kepala, Makalah Diskusi "Ngaguar Iket Sunda", di Pendopo Kota Bandung, Sabtu 5 Agustus 2000.

Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda, Kehidupan Masyarakat Kanekes, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Sunda (Sundanologi), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bandung, 19886.

Soegeng Toekio M., Tutup Kepala Tradisional Jawa, Proyek Media Kebudayaan Jakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980/1981.

Wahyu Wibisana, dkk., Arti Perlambang dan Fungsi Tata Rias Pengantin dalam Menanamkan Nilai-nilai Budaya Daerah Jawa Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1986

Popular Posts