WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Mempertahankan Tradisi Karuhun di Kampung Naga

Daerah satu ini punya nama cukup unik, Kampung Naga. Letaknya di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dari pusat kota Tasikmalaya dapat ditempuh melalui jalur darat sekitar 30 kilometer menuju barat atau lebih dekat melalui Kota Garut, sekitar 26 km menuju timur. Lamanya perjalanan sekitar satu jam. Dari Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, Kampung Naga dapat dicapai setelah menempuh perjalanan sejauh 106 km selama 2,5 jam.

Kampung berpenduduk 100 kepala keluarga ini berada di kilometer ke-30 dari jalan raya Tasikmalaya-Bandung lewat Garut. Sebuah jalan selebar dua meter sepanjang 500 meter menjadi penghubung jalan raya yang ramai dengan pintu masuk Kampung Naga. Jangan harap bakal bertemu naga saat ke kampung yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini.

Hewan dalam mitologi masyarakat Tiongkok itu justru tidak dikenal masyarakat di kawasan berudara sejuk bersuhu 20-23 derajat Celcius tersebut. Naga justru berasal dari penggalan kata dalam bahasa Sunda, nagawir, artinya kampung di bawah tebing terjal. Sesuai namanya, untuk menuju Kampung Naga kita harus menuruni 439 sangked atau anak tangga yang sudah disemen. Kemiringan anak-anak tangga sekitar 45 derajat, sedikit berkelok mengikuti kontur lahan. Saat keluar dari sini pun, kita mesti melewati ratusan sangked tadi.

Hitungan tiap orang akan anak tangga ini tidak pernah sama, sebagian bilang 350, tetapi ada juga menyebut jumlahnya 400 anak tangga. Tetapi hanya satu yang pasti soal anak tangga ini. Karena kaki kita bakal lumayan pegal dan napas pun tersengal-sengal usai 15 menit menapaki anak-anak tangga itu. Ujung anak tangga langsung tersambung jalan setapak bersemen setinggi 1,5 meter menyusuri tepian Sungai Ciwulan beraliran deras di sisi kanan kita. Sungai itu berhulu dari Gunung Cikuray (2.821 meter), gunung tertinggi keempat di Jawa Barat.

Di kiri jalan setapak yang lebarnya cukup untuk tiga orang berjalan bersisian ini, sebuah tanda kehidupan pun mulai tampak. Ada beberapa balong (kolam) dihuni aneka jenis ikan seperti mas, nila, gurame, mujair, dan lele. Di tepian balong terdapat saung serbaguna, bisa untuk mencuci pakaian atau tempat menumbuk padi (lisung) hasil panen. Masih di sisi kiri jalan setapak, kita akan menyaksikan suguhan alam, yaitu hamparan persawahan seluas 5 hektare bak permadani hijau kekuningan. Sebuah papan kayu berukuran besar bertuliskan "Selamat Datang di Kampung Naga" langsung menyita perhatian begitu kaki mulai menapaki langkah menuju permukiman warga.

Di lahan yang sedikit menanjak, berdiri kokoh rumah-rumah warga dengan rupa seragam: rumah panggung kayu berpondasi batu-batu, dinding anyaman bambu berlabur kapur putih, berlantai papan kayu, atap segitiga dari ijuk hitam pekat membentuk julang ngapak atau sayap burung sedang mengepak. Jumlah bangunan Kampung Naga ada sekitar 110 unit, 108 di antaranya dihuni. Bangunan-bangunan tadi berdiri di atas lahan seluas total 1,5 ha dan tidak berubah jumlah serta bentuknya, selalu seperti itu sejak kampung ini berdiri.

Rumah-rumah tadi tertata rapi dengan pola memanjang dari timur ke barat atau sebaliknya, dengan pekarangan yang selalu terjaga kebersihannya. Arah rumah seperti itu dipilih sejalan dengan alurnya matahari, terbit di timur dan terbenam di barat, kata peneliti budaya Sunda, Nandang Rusnandar. Barisan rumah menghadap utara atau selatan dengan dua pintu masuk, sebelah selatan serta utara ditambah jendela-jendela. Para pemiliknya seolah tak ingin saling menonjolkan diri dan membiarkan aset mereka terbangun seragam, sungguh bersahaja.

Masih ada tiga bangunan lainnya di luar rumah-rumah warga, seperti masjid, Bumi Ageung, dan Bale Patemon dengan fungsi berbeda. Masjid menjadi rumah ibadah satu-satunya di kampung berpenduduk Islam, agama yang sudah mereka anut sejak awal tempat ini berdiri. Bumi Agueng menjadi tempat sakral masyarakat setempat menyimpan benda-benda pusaka adat, dan Bale Patemon merupakan semacam balai pertemuan warga.

Bangunan di kampung ini usianya belum mencapai ratusan tahun. Tetua adat Kampung Naga, Ucu Suherlan berkisah kalau daerah tempatnya tinggal ini pernah dibakar oleh organisasi DI/TII pimpinan Kartosuwiryo pada 1956 silam. Ini karena seluruh warga kampung menentang kehadiran DI/TII. Peristiwa itu ikut mengubur arisp-arsip sejarah yang disimpan para leluhur atau karuhun Kampung Naga di dalam Bumi Ageung.

Tradisi Karuhun
Hingga kemudian di antara mereka, kata Ucu, muncul istilah pareum obor atau obor mati. Musnahnya berkas-berkas sejarah kampung adat ini membuat kisah asal mula kampung menjadi pudar, tidak ada titik terang mirip padamnya obor. Tak ada kejelasan sejarah, kapan, dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan adat istiadat yang masih dipegang teguh hingga sekarang.

Terlepas dari itu semua, Ucu mengatakan kalau ia dan seluruh warga masih tetap memegang teguh ajaran-ajaran para karuhun. Misalnya saja, sejak awal para penduduk sepakat untuk hidup tanpa listrik. Ucu beralasan keberadaan listrik dapat berdampak tidak baik bagi kehidupan mereka. Alhasil, kendati tanpa listrik, mereka tetap bisa menikmati tontonan televisi atau siaran radio berbekal aki yang disambungkan dengan kabel. Kala malam, kampung ini lumayan temaram.

Demikian pula dengan hasil panen padi di Kampung Naga. Kendati berlimpah, mereka jarang menjual hasil panen kepada pihak lain dan diprioritaskan untuk memenuhi pangan warga selama setahun. Asal tahu saja, di sini musim tanam berlangsung dua kali dalam setahun. Hasil panen akan mereka simpan di leuit atau lumbung, tepat di belakang rumah warga.

Demikian juga dengan pengelolaan lahan hutan di Bukit Naga dan Bukit Biuk, dua bukit hijau lestari yang memeluk hangat kampung berkontur cekungan mangkuk ini. Kedua bukit atau leweung dalam bahasa setempat dikeramatkan oleh warga sejak era kolot baheula (nenek moyang) karena dianggap sebagai sumber kehidupan. Bukit-bukit ini merupakan penampung air alami serta menjadi sumber pengairan selain aliran Sungai Ciwulan.

Pemandangan barisan air menetes dari sela-sela akar pepohonan rindang di lereng bukit merupakan hal biasa untuk penduduk kampung. Air-air dari mata air perbukitan itu kemudian mengalir pelan menuju balong warga. Warga juga tidak boleh sembarangan menebang atau memetik tanaman di sekitar kampung serta leweung.

Lojor teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung), begitu petuah para karuhun Kampung Naga. Artinya dengan menjaga dan melestarikan alam, maka hidup akan berlangsung lebih alami. Keren ya. (Anton Setiawan)

Sumber: https://indonesia.go.id/kategori/budaya/3242/mempertahankan-tradisi-karuhun-di-kampung-naga

Kesenian Ronggeng di Pangandaran, Berjuang "Ngigelan Jaman"

Secara kebahasaan, Ronggeng berasal dari kata renggana yang berarti perempuan pujaan dalam bahasa Sansekerta. Tak diketahui pasti bagaimana asal mula kesenian Ronggeng di Pangandaran hingga dapat bertahan seperti saat ini.

Namun menurut Gilang Campaka lewat skripsinya berjudul Lagu Kudup Turi dalam Kesenian Ronggeng Gunung di Ciamis Selatan, diperkirakan kesenian ini sudah ada sejak abad VII pada masa Kerajaan Galuh. Tariannya berperan sebagai penghibur tamu kerajaan yang berkunjung.

Dikisahkan pula dalam legenda Dewi Siti Samboja dari Kerajaan Pananjung yang menyamar sebagai penari ronggeng. Karena tewasnya sang suami, Raden Anggelarang, dalam penyamarannya di pegunungan Pangandaran ia mengungkapkan kesedihannya lewat lagu Manangis.

Senandung itu kemudian menjadi bagian dalam pertunjukkan ronggeng dan dianggap sebagai salah satu asal-usulnya.

Tetapi versi lainnya, menurut Ria Andayani lewat bukunya, Ronggeng Gunung: Menggali Seni Tradisi bagi Pengembangan Pariwisata dan Seni Modern di Kabupaten Ciamis, bahwa tarian ini diciptakan oleh Raden Sawung Galing. Raden Sawung Galing sendiri merupakan bala bantuan dari Galuh untuk menyelamatkan Pananjung yang kemudian menjadi raja.

Ketika berkuasa, ia membuat tarian sebagai sarana hiburan resmi bernama Ronggeng Gunung. Seleksi penarinya pun cukup ketat dengan syarat cantik, mampu menari dan menyanyi, serta terpandang.

Kesenian ini juga tercatat di masa penjajahan oleh bangsa Eropa, termasuk Gubernur Jenderal Stamford Thomas Raffles dalam bukunya The History of Java. Ia menulis, Ronggeng merupakan pertunjukkan keliling yang dilakukan oleh perempuan yang berasal dari gunung. Pertunjukannya biasa dilakukan di ruang publik, bahkan di tempat tinggal para bangsawan dan penguasa kolonial.

Pada pementasan Ronggeng Gunung, perempuan memiliki banyak peran, seperti sebagai penari sekaligus penyanyi. Seorang Ronggeng juga berperan sebagai pemimpin sejumlah ritual acara yang melibatkan pementasan ini.

Euis Thresnawaty dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat dalam Raspi, Sang Maestro Ronggeng Gunung (jurnal Panjalu Vol.8 No 2 2016) menulis bahwa untuk menjadi seorang ronggeng tidak memiliki batasan umur.

Tidak mudah bagi setiap perempuan untuk menjadi ronggeng karena memiliki seleksi ketat. Tetapi syarat berparas cantik tak lagi menjadi syarat penting untuk menjadi ronggeng seperti di masa lalu.

Ronggeng identik dengan kepiawaian penari dalam menggoda lawan jenisnya. Syarat itulah yang membuat profesi ronggeng hingga kini jadi langka. Kesulitan utama, menurut Euis, ialah kemampuan berolah vokal yang unik.

“Perempuan muda di Ciulu misalnya, lebih memilih menjadi penyanyi dangdut atau penaynyi organ tunggal daripada menjadi ronggeng,” tulisnya. “Mereka tidak memiliki kesabaran lebih untuk mendapatkan kemampuan menyanyi seperti itu.”
Perkembangan Kesenian Ronggeng Gunung

Ronggeng Gunung yang sebelumnya menjadi ritual untuk kesuburan pertanian, kemudian berkembang seiring waktu. Nina Herlina Lubis dan Undang Ahmad Darsa dari Universitas Padjadjaran menulis, bahwa perkembangan kemudian diadakan

Jika sebelumnya Ronggeng Gunung digunakan dalam ritual khususnya kesuburan pertanian, dalam perkembangannya menjadi seni pertunjukkan sebagai hiburan pasca bertani. Ketika panen usai, Ronggeng Gunung diadakan di malam hari sebagai rasa syukur.

Nina dan Undang lewat Perkembangan Ronggeng Sebagai Seni Tradisi di Kabupaten Pangandaran, mengungkapkan Ronggeng Gunung berkembang menjadi Ronggeng Amen (disebut juga dengan Ronggeng Kidul). Kehadiran Ronggeng Amen lebih populer di kalangan masyarakat Pangandaran kini.

Kepopuleran ini disebabkan karena penonton dapat ikut menari bersama ronggeng dan memberi saweran. Pementasannya pun dapat dicermati lebih meriah karena diiringi dengan gamelan kliningan dan berbagai tembang yang lebih modern.

Ronggeng Amen biasanya terdiri dari lima hingga tujuh ronggeng, dan belasan pemain musik. Penari Ronggeng Amen juga tidak berperan ganda sebagai pesinden.

Dalam hal gerakan, Ronggeng Amen juga tampak lebih bebas berekspresi dan inklusif kepada penonton. Para penonton berikutnya bisa ikut serta dalam tarian jika dikalungi sampur (selendang) dari ronggeng, dan bebas bergerak menari tanpa patokan gerakan.

Mengingat Ronggeng Gunung dan Ronggeng Amen merupakan kebudayaan khas Pangandaran. Pemerintah setempat berupaya untuk melakukan pembinaan terhadap berbagai kelompok seni Ronggeng agar lebih diterima di masa kini.
Pementasa Ronggeng di Saat Pandemi

Di masa pagebluk, Kang Heri dari Balai Pelestarian Cagar Budaya [BPCB] berujar bahwa kegiatan Ronggeng terhenti sementara. Pementasan Ronggeng yang biasanya dipentaskan dalam bentuk wisata kebudayaan di Pondok Seni Kebudayaan dan Pariwisata Pangandaran.

“Kalau tidak pandemi, kegiatannya dilaksanakan di gedung kesenian (merujuk pada Pondok Seni), di jalan Pantai Barat. Biasa diadakan setiap malam minggu dan ramai pengunjung–baik dari dalam maupun luar [Pangandaran].” ujar Heri.

“Tapi bukan berarti mereka mati saat pandemi. Komunitas mereka banyak dan enggak selalu di gedung kesenian [untuk latihan], seperti di Sukaresik dan Babakan.”

Sumber: https://seputarpangandaran.com/kesenian-ronggeng-di-pangandaran-berjuang-ngigelan-jaman/

Tarling, Musik Khas Indramayu Tentang Ketabahan dalam Penderitaan

Oleh Galih Pranata

"Mang Sakim mulai memainkan gitar dan menguji kesamaan nada dengan musik gamelan Cirebon," tulis Ivan Setiawan. Ia mengisahkan sosok Sakim yang berupaya mewujudkan seni musik anyar di wilayah Indramayu.

Ivan menuliskan kisah Sakim pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, dalam artikelnya berjudul Tarling, Seni Tradisional Pantura, yang dipublikasikan pada tahun 2018. Sakim saat itu diminta oleh seorang Belanda untuk menyetel gitarnya.

"Saat itu, sekitar tahun 1931, di Desa Kepandean, Indramayu, seorang komisaris Hindia-Belanda meminta pada warga sekitar untuk memperbaiki gitarnya," tambahnya. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Sakim untuk mengulik lebih jauh tentang gitar. Wajar saja, tak mudah bagi pribumi mendapat gitar pada zamannya.

"Mang Sakim merupakan ahli gamelan Cirebon. Sampai gitar seorang komisaris Belanda itu berhasil di perbaiki, ia tak juga mengambil gitarnya," lanjut Ivan. Sakim kemudian memiliki waktu lebih banyak lagi dalam mempelajari nada-nada gitar sekaligus membandingkan nada-nada pentatonis gamelan.

Kemudian upaya Sakim dilanjutkan oleh anaknya, Sugra. Ia bereksperimen dengan memindahkan nada-nada pentatonis gamelan ke dawai-dawai gitar yang bernada diatonis. Agaknya, ia telah berhasil menciptakan genre musik baru dengan perpaduan-perpaduan itu.

"Karenanya, kiser (tembang-tembang) Dermayonan (Indramayu) dan Cerbonan (Cirebon) yang biasanya diiringi dengan gamelan, bisa menjadi lebih indah dengan iringan petikan gitar," tambahnya. Keindahan itu, menjadi semakin lengkap setelah petikan dawai gitar diiringi dengan suling bambu yang mendayu-dayu.

Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan kiser Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar 1932-an. "Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Indramayu dan Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup," tulis Ivan.

Pada tahun 1935, alunan musiknya mulai dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunannya diiringi dengan alat musik lain, berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.

"Nama tarling baru diresmikan saat Radio Republik Indonesia sering menyiarkan jenis musik ini dan oleh Badan Pemerintah Harian (saat ini DPRD). Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1962, melalui siaran RRI, nama Tarling mulai dikenal sebagai nama resmi jenis musik tersebut," terang Ivan.

GAYA MUSIK TARLING DARI PENGARUH GEOGRAFISNYA
Suwarjono, seorang bapak berusia 53 tahun, duduk di serambi rumahnya, tengah bersantai sambil menikmati musik tarling dari radionya. "Sudah sejak kecil saya mendengar tarling dari radio," ungkapnya kepada National Geographic Indonesia. Ia merupakan penikmat setia musik tarling.

Ia berasal dari wilayah pesisir utara Subang, tepatnya di daerah Pusakajaya, dekat dengan Pantai Patimban. "Mulai dari Indramayu, Cirebon, sampai Subang bagian Pantura, pasti kenal sama yang namanya tarling," ungkap Suwarjono.

Kesenian tarling lebih populer di daerah Indramayu dan Cirebon, serta beberapa wilayah lain seperti wilayah Pantai Utara Subang juga turut dalam tren musik tarling. Wilayah geografis pesisir utara lantas memengaruhi gaya musik tarling.

"Masyarakat di daerah pesisir, seperti contohnya orang-orang di sepanjang wilayah Pantura, lebih terbuka dan suka mengungkapkan perasaannya langsung secara omongan (verbal)," jelas Suwarjono berdasar pengamatannya.
Tarling adalah salah satu bentuk kesenian yang berkembang di wilayah pesisir pantai utara Jawa Barat, terutama wilayah Cirebon dan Indramayu. Nama tarling diidentikkan dengan nama instrumen sitar dan suling serta istilah 'Sing nelatar kudu eling, Eling kepada Tuhan Yang Maha Esa, Eling terhadap tanah kelahirannya.'

Hal tersebut dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan Rijal Abdillah dan Koentjoro dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam tulisannya yang dimuat pada jurnal Psikologika, berjudul Nilai dan Pesan Moral Tarling Menurut Perspektif Pelaku Kesenian Tarling Cirebon: Studi Psikologi Budaya, terbit pada 2015.

"Pola interaksi yang diturunkan sejak nenek moyang dalam perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Pesisir Utara Jawa, utamanya di Cirebon, mengubah watak penduduknya menjadi terbuka dan berbicara teus terang (apa adanya) dalam mengutarakan perasaannya," tulisnya.

Oleh karena itu, nilai dan makna yang terkandung dalam seni Tarling lebih diarahkan pada segi hiburan, namun disertai dengan syair-syair yang menceritakan ketabahan dalam menghadapi penderitaan. "Itu jadi gaya yang disukai oleh orang-orang Pantura, mulai dari nelayan sampai petani, karena lebih mengena (melalui syair-syairnya)," ujar Suwarjono.

Syairnya ditulis dengan menggunakan basa Cêrbon atau bahasa Cirebon. Salah satu contoh kutipan syair dari lagu berjudul Diusir Laki ciptaan Almin Said.

Apa nasibe badan (Bagaimana nasib diri)
Laki doyan demenan (Suami suka pacaran)
Sekien kawin maning (Sekarang menikah lagi)
Ning kula ora eling (Tapi aku tidak tahu)

Kula kien diusir (saya sekarang diusir)
Ning laki konkong nyingkir (sama suami disuruh pergi)
Megat tanpa lantaran (Cerai tanpa alasan)
Bli eman keturunan (Tidak sayang keturunan/anak-anak)

Lirik dan syairnya begitu menyayat hati, keluar dari perasaan penggubahnya. Gaya bahasa yang digunakan sangat terbuka dan apa adanya. Itu menjadi identitas tersendiri bagi musik tarling, yang tentunya dipengaruhi kondisi geografis dan masyarakat pendukungnya.

Sumber: https://nationalgeographic.grid.id/read/132920869/tarling-musik-khas-indramayu-tentang-ketabahan-dalam-penderitaan?page=all

Tutunggulan, ‘Sinyal Panggilan’ Kampung Ciseureuh Sejak Puluhan Tahun Lalu


Kulit wajah merah merona, bibir merah bergincu seirama dengan pakaian bermotif batik. Bawahnya mengenakan kain berwarna hitam emas. Butiran peluh keringat keluar dari sela pori-pori mereka, tak lepas akibat sengatan sang surya di atas ubun-ubun.

Bunyian bising (tok… tak… tok… tak) membuat kepala mendongak, ternyata 7 ‘Srikandi’ generasi ke-8 itu sedang memukul habis beras merah yang telah dipanen. Menumbuk beras merah adalah budaya yang sudah turun-temurun dari nenek moyang sejak berpuluh tahun lamanya.

Tutunggulan atau menumbuk padi yang ada di kampung ini, berbeda dengan yang lainnya. Kampung ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh wilayah lain yang ada di Jawa Barat. Mereka menumbuk padi sambil mengeluarkan sebuah irama.

Benturan Halu yang terbuat dari kayu kukun dengan berat 1,5 kilogram dan lisung yang sudah berusia satu abad terbuat dari kayu bungur dengan berat 60 kilogram ini bersenandung dengan alam di desa ini.


Instrumen Rereogan dan Kuprak terlahir dari ketukan yang menjadi warisan andalan di Kampung Ciseureuh, Desa Mekarjaya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta.

Eseum (60) terlahir untuk meneruskan kesenian budaya Tutunggulan ini. Ia sudah belajar sejak duduk di bangku sekolah sekitar 50 tahun lalu. Pengalamannya selama mempelajari budaya turunan dari orang tuanya memang susah-susah gampang. Puluhan tahun budaya ini sudah ada dan hingga kini masih terpelihara. Tidak ada judul lagu ataupun lirik dalam Tutunggulan .

“Belajar Tutunggulan dari sekolah sama orang tua, jadi yah susah-susah gampang, karenja memang awalnya susah dan sekarang sudah terbiasa,” kata Eseum saat ditemui di rumah sesepuh Kampung Ciseureuh.

“Tidak ada judul lagu, jadi cuman ada hentakan yang menghasilkan nada yang dibagi ke dalam dua jenis ada Rereogan dan Kuprak. Dan Kuprak itu ada 2 lagi ada Kuprak Dangong dan Kuprak biasa,” lanjutnya.

Segenap energi mereka kerahkan agar bunyi benturan Halu dan Lisung terdengar hingga puluhan meter.

Ada alasan kuat kenapa mereka masih melestarikan budaya ini. Mereka ingin hasil beras merah yang telah dipanen bisa disantap dengan lahap dan nikmat. Hasil tumbukan itu akan mengubah rasa dan tekstur yang berbeda dari beras dibandingkan dengan hasil dari campur tangan mesin penggiling padi yang sudah banyak dipakai pada saat ini.

“Berasnya lebih enak dan lebih pulen. Nah kalau di mesin penggiling padi itu kan jadi bersih, kalau ditumbuk ini masih ada bungkusnya yang bisa jadi obat untuk Diabetes, jadi manfaatnya kan jadi obat dan itu sudah terbukti kok,” kata Eseum.

… terlihat cukup sederhana memang, tapi ada makna dan tujuan yang lebih penting bagi keberlangsungan manusia. Mereka ingin agar tali silahturahmi tetap tersambung hingga di kehidupan selanjutnya.”

Sementara itu, tokoh masyarakat yang sudah melestarikan budaya dan kesenian yang ada di Kampung Ciseureuh muncul dan memperkenalkan diri sebagai Abah Koko. Sejak tahun 1985, ia sudah bejibaku supaya warisan sesepuh tetap bisa bernafas dan berumur panjang.

Tradisi tutunggulan, kata Abah Koko, hanya dilaksanakan ketika warga kampung akan menggelar hajat yang mengundang banyak orang. Bukan ketukan semata yang keluar dari Lisung dan Halu, ada makna tersendiri dibalik itu.

Bunyian itu keluar sebagai sinyal pemberitahuan kepada masyarakat bahwa akan ada acara di kampung tersebut.

“Jadi Tutunggulan itu kalau dulu saat nutup padi (panen) dibarengi dengan tutunggulan setelah kesini akhirnya bisa dipakai oleh seni budaya untuk menyambut tamu pejabat, menyambut kalau ada besanan (pernikahan), sunatan anak dan acara hajatan lainnya. Jadi di kampung ini kalau besok ada hajatan nah sekarang Tutunggulan itu dipakai, jadi memberitahu ke orang lain karena kan dulu belum ada pengeras suara,” terang Abah Koko yang saat itu mengenakan baju pangsi berwarna hitam.

Ketika sinyal itu merebak, warga secara otomatis akan datang berbondong-bondong menuju pusat suara. Para wanita berbaur dan ikut dalam kegiatan tersebut dan menumbuk padi secara bergantian.

Menurut Abah Koko, Rereogan dimainkan oleh tiga atau empat orang sementara Kuprak dimainkan oleh 7 orang. Perlu diingat juga, budaya Tutunggulan tidak terpatok untuk wanita saja, pria pun bisa menyumbangkan tenaganya.

“Jadi dulu itu Tutunggulan disebut alat komunikasi. Jadi saya ingin anak muda di jaman sekarang bisa melestarikan budaya yang satu ini,” kata dia.

Dengan adanya program yang dicanangkan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat, warisan budaya yang masih ada bisa terlestarikan di Provinsi Jawa Barat khususnya di Kabupaten Purwakarta. Tutunggulan ini sama dengan Gondang yang ada di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Seiring perkembangan zaman budaya ini sudah dikolaborasikan dengan kesenin musik.

“Nah kalau untuk di kampung kita, budaya ini masih kita jaga agar tetap sama seperti aslinya, tidak akan pernah berubah,” kata Abah.

Orang tua dulu selalu memiliki kebiasaan agar tali silahturahmi dapat terjalin dan tak pernah terputus. Budaya ini memang terlihat cukup sederhana, tapi ada makna dan tujuan yang lebih penting bagi keberlangsungan manusia. Mereka ingin tali silahturahmi tetap tersambung hingga di kehidupan selanjutnya. (MSN)

Sumber: https://beritainspira.com/tutunggulan-sinyal-panggilan-kampung-ciseureuh-sejak-puluhan-tahun-lalu/

Berkenalan dengan Hui Cilembu: Si Madu dari Sumedang

Oleh: TiaraSugihHartati

Alkisah, seorang raja dari kerajaan Sumedanglarang melakukan penyamaran menjadi seorang kakek pengembara demi melihat secara langsung keseharian rakyatnya. Kala itu, ia melihat rakyatnya sedang memanen ubi jalar. Warga yang melihat seorang pengembara renta lantas menyilakan kakek tersebut untuk berisitirahat dan menyuguhinya dengan kudapan ubi bakar hasil panen. Sang raja yang senang mendapatkan perlakuan ramah tersebut pun berucap "Kelak, ubi manis nan legit ini akan mengangkat dan membuat sejahtera rakyat dan ubi ini tidak akan bisa ditanam di tempat lain." Begitulah kiranya salahsatu cerita yang berkembang di masyarakat Sumedang tentang Hui Cilembu.

Sebelum cerita tentang Hui Cilembu mari berkenalan dengan Kabupaten Sumedang yang menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sumedang memiliki luas wilayah mencapai 155.871,98. Secara geografis Sumedang terletak di daerah pegunungan Priangan, bagian pedalaman tengah Jawa Barat.

Secara geografis Kabupaten terletak antara 6o 44 ' 7 o 83 ' Lintang Selatan san 107 21 ' Bujur Timur yang berbatasan di sebelah Timur dengan Kabupaten Majalengka, di sebelah Selatan berbatasan dengan Garut dan Bandung. Barat dengan Bandung dan Subang dan di sebelah Utara berbatasan dengan Indramayu juga Majalengka.

Sumber sejarah mengungkapkan hari jadi Kabupaten Sumedang yang diperingati setiap tanggal 22 April erat kaitannya dengan kejadian sejarah dilantiknya Prabu Geusan Ulun sebagai raja dari Kerajaan Sumedanglarang. Konon, pada masa kepemimpinannya lah Sumedang mencapai puncak kejayaannya. Secara historis pada akhir abad ke-16 di daerah ini telah dikenal kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Padjajaran yang dihancurkan oleh kerajaan Islam Banten.

Pembaca yang ingin mencari tahu lebih lengkap lebih lengkap mengenai sejarah ini bisa membaca buku berjudul "Budaya Spiritual Masyarakat Sunda" yang diterbitkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung pada bagian Palintangan (Ilmu Perhitungan Nasib Orang Sunda) bagian gambaran umum yang ditulis oleh Agus Heryana.

Berbicara tentang suatu daerah maka kita akan membicarakan tentang budaya yang ada disana sebagai ciri khas pembeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sumedang memang memesona karena budayanya.

Masyarakatnya yang didominasi oleh petani menjadikan wilayah ini juga memiliki tradisi unik berupa upacara adat dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas kelimpahan panen yang didapat. Upacara ini bernama Upacara Ngarot yang dilaksanakan oleh warga desa karedok kecamatan Jati Gede. Kalau di Kecamatan Rancakalong namanya Upacara Nyalin. Esensinya sama yakni sebagai wujud rasa syukur warga kepada Pencipta atas kelimpahan panen.

Dari sekian banyaknya produk budaya berupa adat istiadat, musik, juga tari. Produk budaya berupa makanan khas bernama hui Cilembu paling menjadi perhatian kali ini. Nampaknya "Hui Cilembu" atau dalam bahasa Indonesia berarti ubi menjadi produk termasyhur dalam maupun luar negeri andalan dari Sumedang.

Hal ini mendorong Tria, seorang Mahasiswi Keperawatan di salahsatu mahasiswi kesehatan di Bandung untuk mengunjungi desa penghasil hui Cilembu. Ia menganggap perjalanannya kali ini menjadi perjalanan yang impulsif. Tidak direncanakan sebelumnya. "Sekalian aja pengen tau desa Cilembu, da aku udah kagok ada di Cibiru habis ada urusan tiba-tiba pengen aja gitu makan ubi ini di desanya, sekalian ngeliat kaya apa sih desa Cilembu teh".

Sepanjang perjalanan menggunakan sepeda motor miliknya, ia mengaku terbayang banyaknya warga yang membuka warung dan menjajakan hui Cilembu. Sambil memakan ubi panggang nan legit itu, ia juga membayangkan matanya tak akan bisa luput dari hamparan tanaman ubi yang mendominasi.

Itulah kiranya ekspektasi Tria saat pertama kali memutuskan untuk berkunjung kesana. Tapi kenyataan memang kadang tak sesuai dengan harapan. Sesampainya di desa tersebut, tak banyak penjual yang ia temukan. Dihitung jari yang terhitung hanya 6 rumah yang menjualnya. "Masa hanya sedikit yang jualan ?", ungkapnya.

Jalan menuju desa Pamijahan ditempuh dengan kondisi jalan yang naik turun ditempuhnya demi mencicipi ubi manis nan legit berjuluk "Si Madu". Dari sekian banyak penjual, Tria memutuskan memilih satu warung yang menjajakannya.

Memang, sebelum sampai di desa tersebut sebenarnya sudah banyak toko oleh-oleh di pinggir jalan sekitaran Cibiru yang menyediakan hui langsung dari oven. Tapi ia tetap pada pendiriannya untuk melihat suasana kampung penghasil ubi terkenal tersebut. Tria mengaku perjalanannya menjadi spesial namanya juga wisata dadakan buat mengenal budaya daerah.

Usut punya usut, hui Cilembu yang berasal dari Desa Cilembu Kecamatan Pamijahan Kab.Sumedang termasuk ke dalam kategori ubi jalar yang nampaknya menjadi salahsatu komoditas ekspor ke berbagai negara seperti Hongkong dan Unit Emirat Arab. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 menyebutkan ekspor ubi jalar dari Provinsi Jawa Barat mencapai 194 kwintal per tahunnya.

Pantas saja tak banyak warga lokal yang sengaja membuka warung ubi bakar Cilembu. Nampaknya kebanyakan dari warga menanam dan menjualnya dalam bentuk mentahan. Entah untuk dipasarkan ke berbagai daerah ataupun diekspor ke luar negeri. Konon katanya, ubi dari desa ini tidak akan semanis jika ditanam di Cilembu. Si Madu menjadi julukan ubi ini karena setelah melalui proses pemanggangan atau pembakaran maka akan keluar cairan seumpama madu yang legit.

Fakta menarik yang membuat orang lain penasaran. Banyak peneliti juga yang mencoba mencari tahu akan hal ini. Salah seorang mahasiswa dari Magister Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung juga sempat meneliti tentang kandungan komposisi tanah yang menjadi media tanam ubi ini.

Penelitiannya yang berjudul "Keanekaragaman Bakteri Rizosfer Pemacu Pertumbuhan Tanaman (Plant Growth Promoting Rhizobacteria/PGPR) selama Pertumbuhan Ubi Jalar Cilembu (Ipomoea batatas L var. Rancing)" tahun 2016 berkesimpulan bahwa bagian dari tanaman bernama rizofer (daerah yang dekat dengan akar tanaman yang tersedia di dalamnya gula sederhana dan asam amino untuk kelangsungan hidup mikroorganisme yang terdiri atas tanaman, tanah, mikroorganisme, nematoda dan protozoa) dalam ubi jalar Cilembu didominasi oleh bakteri jenis Bacillus. Jadi, bakteri inilah dan komposisi tanah subur daerah inilah yang menjadikan ubi jenis ini sangat manis.

Persoalannya, Sumedang sudah memiliki komoditas ubi jalar yang sangat potensial tentu sangat perlu dukungan juga sokongan lebih banyak dari pemerintah. Dari mulai pemerintahan setingkat warga, desa, kecamatan, kabupaten hinggan Kementerian Pertanian juga Kementerian Perdagangan dan Pariwisata untuk memberi nilai lebih.

Agrobisnis ubi cilembu untuk memberikan nilai ekonomi bagi warga secara lebih optimal dari sekadar menanam dan memanennya dalam bentuk mentah. Agrowisata untuk memperkuat nilai potensi pariwisata. Juga berbagai perbaikan dan pembinaan lainnya. Nampaknya hal ini sudah diupayakan oleh banyak pihak. Apa yang diupayakan oleh semoga berbuah kebaikan. Masyarakat Cilembu pun semakin sejahtera.

Jalan menuju desa Pamijahan ditempuh dengan kondisi jalan yang naik turun ditempuhnya demi mencicipi ubi manis nan legit berjuluk "Si Madu". Dari sekian banyak penjual, Tria memutuskan memilih satu warung yang menjajakannya.

Memang, sebelum sampai di desa tersebut sebenarnya sudah banyak toko oleh-oleh di pinggir jalan sekitaran Cibiru yang menyediakan hui langsung dari oven. Tapi ia tetap pada pendiriannya untuk melihat suasana kampung penghasil ubi terkenal tersebut. Tria mengaku perjalanannya menjadi spesial namanya juga wisata dadakan buat mengenal budaya daerah.

Usut punya usut, hui Cilembu yang berasal dari Desa Cilembu Kecamatan Pamijahan Kab.Sumedang termasuk ke dalam kategori ubi jalar yang nampaknya menjadi salahsatu komoditas ekspor ke berbagai negara seperti Hongkong dan Unit Emirat Arab. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 menyebutkan ekspor ubi jalar dari Provinsi Jawa Barat mencapai 194 kwintal per tahunnya.

Pantas saja tak banyak warga lokal yang sengaja membuka warung ubi bakar Cilembu. Nampaknya kebanyakan dari warga menanam dan menjualnya dalam bentuk mentahan. Entah untuk dipasarkan ke berbagai daerah ataupun diekspor ke luar negeri. Konon katanya, ubi dari desa ini tidak akan semanis jika ditanam di Cilembu. Si Madu menjadi julukan ubi ini karena setelah melalui proses pemanggangan atau pembakaran maka akan keluar cairan seumpama madu yang legit.

Fakta menarik yang membuat orang lain penasaran. Banyak peneliti juga yang mencoba mencari tahu akan hal ini. Salah seorang mahasiswa dari Magister Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung juga sempat meneliti tentang kandungan komposisi tanah yang menjadi media tanam ubi ini.

Penelitiannya yang berjudul "Keanekaragaman Bakteri Rizosfer Pemacu Pertumbuhan Tanaman (Plant Growth Promoting Rhizobacteria/PGPR) selama Pertumbuhan Ubi Jalar Cilembu (Ipomoea batatas L var. Rancing)" tahun 2016 berkesimpulan bahwa bagian dari tanaman bernama rizofer (daerah yang dekat dengan akar tanaman yang tersedia di dalamnya gula sederhana dan asam amino untuk kelangsungan hidup mikroorganisme yang terdiri atas tanaman, tanah, mikroorganisme, nematoda dan protozoa) dalam ubi jalar Cilembu didominasi oleh bakteri jenis Bacillus. Jadi, bakteri inilah dan komposisi tanah subur daerah inilah yang menjadikan ubi jenis ini sangat manis.

Persoalannya, Sumedang sudah memiliki komoditas ubi jalar yang sangat potensial tentu sangat perlu dukungan juga sokongan lebih banyak dari pemerintah. Dari mulai pemerintahan setingkat warga, desa, kecamatan, kabupaten hinggan Kementerian Pertanian juga Kementerian Perdagangan dan Pariwisata untuk memberi nilai lebih.

Agrobisnis ubi cilembu untuk memberikan nilai ekonomi bagi warga secara lebih optimal dari sekadar menanam dan memanennya dalam bentuk mentah. Agrowisata untuk memperkuat nilai potensi pariwisata. Juga berbagai perbaikan dan pembinaan lainnya. Nampaknya hal ini sudah diupayakan oleh banyak pihak. Apa yang diupayakan oleh semoga berbuah kebaikan. Masyarakat Cilembu pun semakin sejahtera.

Sumber: https://www.kompasiana.com/tiarasugihhartati/5fd741188ede48352a6b5f92/berkenalan-dengan-hui-cilembu-si-madu-dari-sumedang?page=all

Contoh Kearifan Lokal Masyarakat Sunda di Jawa Barat

Oleh: Ilham Choirul Anwar

Indonesia memiliki banyak suku yang tersebar di berbagai daerah. Keunikan suku-suku ini yaitu memiliki budaya yang khas dan sering kali berbeda dengan suku lainnya. Kekhasan tersebut lantas menjadikan setiap suku memiliki kearifan lokal dalam kehidupan bermasyarakat. 

Istilah kearifan lokal kerap diserupakan dengan kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge), atau kecerdasan setempat (local genious). 

Kearifan lokal adalah semua bentuk keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002). Kearifan lokal menjadi sebuah sarana mengolah kebudayaan dan mempertahankan diri dari kebudayaan asing yang tidak baik. 

Kearifan lokal menjadi pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi dengan wujud aktivitas yang dilakukan masyarakat lokal.

Bentuk kearifan lokal cukup beragam. Ia tertuang dalam adat istiadat, tata aturan/norma, budaya, bahasa, kepercayaan, hingga kebiasaan sehari-hari. Adanya kearifan lokal ini membuat kehidupan bermasyarakat lebih bernilai. 

Kearifan Lokal Masyarakat Sunda dan Contohnya
Suku Sunda mendominasi wilayah Provinsi Jawa Barat. Fakta ini terlihat dari bahasa daerah yang dipakai mayoritas warga di provinsi itu, yakni bahasa Sunda. 

Di masyarakat Sunda, banyak kearifan lokal berkembang serta beragam, baik berkaitan dengan petuah kehidupan, menjaga alam, dan lain sebagainya. 

Dalam hal petuah hidup, misalnya, masyarakat Sunda memiliki kearifan lokal berupa nukilan atau kutipan. Nukilan ini berhubungan dengan anjuran dan larangan dalam hidup bermasyarakat. 

Nukilan sebagai salah satu kearifan lokal yang menjadi peninggalan peradaban masa lalu. Menurut Sudjana dan Sri Hartati, dalam Nukilan Kearifan Lokal Suku Sunda Berupa Anjuran dan Larangan (PESAT, 2011), setidaknya ada 317 nukilan yang berkembang di masyarakat Sunda. 

Semuanya dapat diklasifikasikan berupa anjuran dan larangan, yang sebagian besar bersumber dari naskah klasik ataupun sumber tertulis lainnya. 

Contoh nukilan anjuran yaitu "Indung suku ge moal dibejaan" yang berarti "Ibu jari pun tak akan diberi tahu." Nukilan ini adalah anjuran untuk berkomitmen saat menjaga rahasia ketika seseorang diberikan amanah untuk hal itu. 

Sementara itu contoh nukilan larangan yaitu "Dikungkung teu diawur, dicangcang teu diparaban (Dikurung tidak dirawat, diikat tidak diberi makan)". Petuah ini ditujukan pada suami yang tidak merawat istrinya dengan menafkahinya. Setiap suami yang punya tanggung jawab tidak akan memperlakukan istri seperti itu. 

Kearifan lokal suku Sunda lainnya terlihat dari budaya mengurangi risiko bencana. Masyarakat Sunda memiliki bangunan rumah bambu tahan gempa. Dalam sebuah eJurnal UPI disebutkan, bahan rumah ini 80 persen memakai bambu dan bahan alami lainnya. Ketahanannya bahkan mencapai lebih dari 20 tahun dan masih kokoh.

Kelebihan rumah bambu khas Suku Sunda yaitu tahan terhadap guncangan saat gempa. Bambu memiliki sifat fleksibel dan lentur. Jika saja rumah bambu roboh akibat gempa, risiko korban jiwa juga lebih rendah dibanding kasus serupa di rumah tembok. 

Contoh kearifan lokal masyarakat Sunda lainnya diulas di artikel "Kearifan Lokal Masyarakat Sunda dalam Memitigasi Bencana dan Aplikasinya sebagai Sumber Pembelajaran IPS Berbasis Nilai," yang dimuat Jurnal Penelitian Pendidikan (Vol 14, No 2, 2014) terbitan LPPM UPI. 

Artikel ilmiah karya Enok Maryani dan Ahmad Yani tersebut merupakan hasil riset di enam lokasi komunitas adat di Jawa Barat dan Banten. 

Keenam lokasi penelitian kearifan lokal itu adalah Desa Pangandaran (Pangandaran, Jawa Barat; Kampung Kuta (Ciamis, Jawa Barat); Kampung Naga (Tasikmalaya, Jabar); Desa Kanekes (Lebak, Banten); dan Kasepuhan Ciptagelar (Sukabumi, Jawa Barat). 

Di antara kearifan lokal yang ditemukan dalam penelitian itu adalah Konsep Leuweung Kolot yang mirip dengan konsep hutan lindung sebagai kawasan yang sama sekali tidak boleh dimasuki. 

Selain itu ada konsep Leuweung Larangan yang mirip dengan hutan penyangga yaitu hutan yang dilarang dirambah atau dibuka tetapi masih boleh dimasuki dengan seizin para ketua adat.

Di Kanekes, Leuweung Larangan digunakan sebagai lokasi pemahaman para pu’un atau ketua adat sehingga menambah kewibawaan hutan. 

Kearifan lokal di masyarakat Jawa Barat (Sunda) juga bisa ditemukan di sejumlah dongeng yang mengandung nilai-nilai yang positif untuk membentuk karakter anak-anak. 

Contoh cerita rakyat yang sering didongengkan kepada anak-anak di masyarakat Sunda misalnya, ialah dongeng sasakala gunung tangkuban parahu, dongeng si kabayan, dongeng kancil dan kura-kura, serta banyak lainnya. 

Dongeng-dongeng itu mengandung pesan-pesan moral yang bisa dijadikan cerminan anak-anak dalam menjalani hidup, demikian dijelaskan dalam salah satu karya ilmiah terbitan Badan Bahasa, Kemdikbud.

Peribahasa yang hidup di masyarakat Sunda (Jawa Barat) juga banyak yang memuat nilai-nilai kearifan lokal. Sejumlah contohnya diulas artikel ilmiah "Nilai Kearifan Lokal dalam Peribahasan Sunda: Kajian Semiotika" karya Siti Kodariah dan Gugun Gunardi yang dimuat Jurnal Patanjala (Vol 7, No 1, 2015) terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. 

Contoh kearifan lokal Sunda termuat dalam peribahasa "cul dogdog tinggal igel" yang mengandung ajaran moral bahwa orang yang serakah dan lupa diri akan tercela di masyarakat dan dianggap tidak bertanggung jawab. 

Kearifan lokal Sunda lainnya ada di peribahasa "nété tarajé nincak hambalan" yang mencerminkan pandangan mengenai ketertiban dan kedisiplinan dalam mencapai suatu maksud yang diinginkan.

Sumber: https://tirto.id/contoh-kearifan-lokal-masyarakat-sunda-di-jawa-barat-gbtp

Lampu Gentur Cianjur

Oleh:Irvan Setiawan

Lampu Gentur merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang berasal dari Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Nama Lampu Gentur berasal dari dua kata yaitu “Lampu” dan “Gentur”. Lampu diartikan secara umum yaitu sebagai alat penerang, sedangkan Gentur adalah nama lokasi awal mula diperkenalkannya karya budaya tersebut, yaitu di wilayah Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Di wilayah tersebut berdiam seorang alim ulama bernama asli Ahmad Syathibi. Gelar beliau adalah KH. Ahmad Syathibi Al-Qonturi. Masyarakat lebih mengenal beliau dengan sebutan Mama Gentur (Hasan, 2018). Ketenaran Mama Gentur (alm) sebagai sosok alim ulama membuat banyak masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk berziarah.

Awal mula pembuatan Lampu Gentur memiliki beberapa versi. Salah satu Versi menyebutkan bahwa inspirasi awal dari pembuatan Lampu Gentur berasal dari Mus’in pada tahun 1820 yang membuat lentera minyak tanah dengan memanfaatkan kaleng bekas (Gumulya, 2017: 40). Ada sumber lisan yang mengatakan bahwa kaleng yang digunakan adalah bekas kaleng susu.

Versi lainnya, menurut salah seorang informan, proses pembuatan atau penciptaan Lampu Gentur berawal dari seseorang seorang guru ngaji bernama Usin. Menurut Gumulya, guru ngaji tersebut bernama Mus’ín (2017: 40). Guru ngaji tersebut biasa mengajar anak-anak pada malam hari di tempat pengajian. Saat itu, sekitar tahun 1965, kondisi penerangan pada waktu itu sangatlah minim karena belum ada sarana penerangan listrik. Proses belajar mengaji dilakukan hanya diterangi oleh lampu centir, yaitu lampu yang menggunakan bahan bakar berupa minyak tanah yang diberi sumbu. Suasana malam hari yang berangin membuat lampu centir sangat mudah padam karena angin yang cukup kencang. Berawal dari kondisi tersebut, Usin (atau Mus’in) kemudian terinspirasi untuk membuat lampu yang tahan terhadap angin. Inspirasi awal adalah dengan memodifikasi lampu cempor atau lampu centring yang diberi selubung agar tahan terhadap angin (Hasil wawancara). Enang, dapat dikatakan sebagai generasi ketiga, mengembangkan dan mendesain ulang selubung lampu cempor yang telah dibuat Mus’in sebelumnya. Model kerangka atau selubung lampu yang dipakai untuk mendesain ulang diambil dari model lampu “Maroko”, yaitu sejenis lampu hias yang banyak dipakai di negara timur tengah. Masyarakat menyebutnya dengan istilah Lampu Maroko (Radar Cianjur, 2017).

Lampu Gentur model “baru” yang diperkenalkan oleh Enang lama kelamaan diminati oleh warga setempat. Wilayah Kampung Gentur yang banyak dihuni oleh para santri dari berbagai wilayah (bahkan dari luar Kabupaten Cianjur) secara tidak langsung menunjukan ketertarikannya dan mengabarkan keunikan atau bahkan membeli serta membawa Lampu Gentur tersebut ke daerahnya. Di samping itu, Lampu Gentur juga banyak menarik perhatian dari banyak masyarakat yang datang dari berbagai wilayah untuk berziarah ke makam Mama Gentur. Unsur ekonomi kemudian bermain dalam hal ini. Melihat prospek keuntungan dari segi ekonomi tersebut, warga yang tertarik kemudian berupaya untuk membuat Lampu Gentur. Model Lampu Gentur, yaitu Model Lampu Maroko menjadi model awal dan untuk selanjutnya dimodifikasi baik bentuk maupun pernik-pernik dan motif Lampu Gentur. Sementara untuk bahan masih tetap tidak mengalami perubahan. Begitu juga halnya dengan cara pembuatan yang masih menggunakan teknik manual. Saat ini model Lampu Gentur sudah sangat banyak, bahkan tidak terhitung jumlahnya (Radar Cianjur, 2017).

Proses dan bahan pembuatan Lampu Gentur dapat dikatakan cukup mudah namun memerlukan ketelitian dan ketekunan. Lampu Gentur terdiri dari beberapa bagian, yaitu, kerangka, wadah lampu, selubung lampu, dan pengait (apabila digantung) atau dudukan (apabila dipasang pada tiang). Pada awalnya sumber penerang pada Lampu Gentur masih menggunakan bahan minyak tanah. Saat ini, sumber penerang Lampu Gentur sudah menggunakan listrik. Dengan demikian wadah lampu pada Lampu Gentur telah disesuaikan agar dapat menggunakan bohlam berikut dudukannya.

Bahan dasar untuk membuat Lampu Gentur adalah lempengan kuningan dan kaca. Peralatan yang digunakan di antaranya jangka, penggaris, pena, Jarum ukuran besar (mirip peralatan sol sepatu), gunting seng, alat potong kaca, besi bulat kecil sepanjang kurang lebih 1 meter, dan alat patri.

Proses pembuatan tahap awal adalah membuat pola dengan menggunakan jangka, penggaris, dan jarum besar (untuk menggores pola pada lempengan kuningan). Setelah pola terbentuk kemudian digunting atau dipotong. Kerangka dibuat dengan cara membulatkan lempengan seukuran diameter paku 15 cm. Lempengan yang telah dibulatkan tersebut merupakan kerangka yang menutupi setiap kaca yang telah dipotong dengan berbagai ukuran. Setelah seluruh kaca disematkan lempengan kuningan kemudian masing-masing saling direkatkan dengan menggunakan alat patri. Begitu juga halnya dengan wadah lampu dan alat gantung atau duduk Lampu Gentur yang juga disatukan dengan menggunakan alat patri.

Setelah selesai, Lampu Gentur kemudian dipajang dengan cara digantung atau didudukan. Dari sekian banyak Lampu Gentur yang dibuat dan terjual di pasaran, ada satu keunikan tersendiri, yaitu tidak ada satupun merk yang tersemat dalam setiap produk Lampu Gentur.

Proses jual beli dilakukan dengan cara memajang Lampu Gentur di ruko atau kios-kios di sepanjang jalan Cianjur. Biasanya, pihak penjual memesan terdahulu kepada produsen kemudian menjualnya di berbagai wilayah hingga keluar Provinsi Jawa Barat. Ada juga pihak produsen yang juga berperan sebagai penjual. Salah seorang produsen Lampu Gentur ada yang memiliki kios di Provinsi Bali. Menurutnya, prospek penjualan di Bali lebih bagus daripada di wilayah Jawa Barat. Selain penjualan langsung, saat ini proses penjualan telah menggunakan sosial media, atau toko online.

Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur dalam upaya pelestarian Lampu Gentur diantaranya dengan melakukan pembinaan dan pelatihan mengenai cara membuat Lampu Gentur. Unsur promosi juga telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur. Beberapa di antaranya adalah memasang Lampu Gentur di banyak titik / lokasi strategis di wilayah pusat Kota Kabupaten Cianjur. Selain itu, yang monumental adalah pembuatan tugu Lampu Gentur di simpang empat wilayah Kota Cianjur.

Sumber Tulisan
Gumulya, Devanny; Liony Amanda Lee. 2018. “Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur dengan Pendekatan Teori Semiotik”, dalam MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 33, Nomor 1, Februari 2018 halaman 35 – 47.

Radar Cianjur, 2017. “Ternyata Seperti Ini Awal Mula Lentera Gentur di Cianjur”, dalam https://cianjur.pojoksatu.id/ tanggal 11 Agustus 2017.

Hasan, H. Abdul Hadi, 2018. “Biografi Mama Gentur”, dalam https://ltnnujabar.or.id/ tanggal 22 Juni 2018

Gong Si Bolong

Oleh: Irvan Setiawan

Gong Si Bolong adalah seni gamelan khas Kota Depok yang digunakan untuk mengiringi beberapa pertunjukan kesenian tradisional, di antaranya: jaipong, wayang kulit Betawi, dan tari tayub. Jenis iringan musik gamelan Gong Si Bolong mengacu pada seni gamelan ajeng. Namun demikian, ada kekhasan antara musik gamelan Gong Si Bolong dengan seni gamelan ajeng. Iit Septyaningsih (2014) menyebutkan bahwa seni gamelan Gong Si Bolong merupakan perpaduan antara musik Gamelan Betawi, perpaduan dari Gamelan Sunda, Melayu dan Cina.

Nama Gong Si Bolong sering diidentikkan dengan unsur mistis yang mengarah pada sosok astral yang dianggap mampu mengabulkan permohonan atau permintaan seseorang. Sepertihalnya dengan benda yang dianggap “sakti” lainnya, Gong Si Bolong merupakan salah satu instrumen alat musik berbentuk Gong namun di bagian tengah tidak ada pencon atau benjolan, alias berlubang atau dalam bahasa Betawi disebut “bolong”. Maka dari itu, benda tersebut dinamakan Gong Si Bolong.

Ada beberapa versi yang mengarah pada unsur mistis mengenai kemunculan Gong Si Bolong. Salah satu versi seperti dinyatakan oleh Ramdhani (2016: 34) bahwa Gong Si Bolong ditemukan oleh Jimin pada sekitar tahun 1750 M (sumber lain menyebut angka tahun 1648) saat mencari sumber suara gamelan yang terdengar di malam hari. Sumber suara tersebut ternyata berasal dari seperangkat alat gamelan lengkap dengan gendang dan Gong yang berlubang (diameter 10 cm) pada bagian tengahnya. Tiga buah instrumen yang dibawa oleh Jimin, yaitu Gong, Gendang, dan Bende. Gendang dan Bende tidak memiliki keanehan dari segi bentuk. Penerus/pemegang/pewaris Gong Si Bolong setelah Jimin adalah : Sanim; Galuh/Jerah; Saning; Nyai Asem; H. Bahrudin (Bagol); Kamsa S. Atmaja; Buang Jayadi. Pewaris terakhir, Buang Jayadi merawat Gong Si Bolong sejak tahun 2011 hingga sekarang (Ramdhani, 2016: 39-40).

Adapun unsur seni yang mulai dimainkan dengan menggunakan waditra Gong Si Bolong dilakukan sejak kepewarisan Galuh/Jerah, yaitu dengan memainkan musik gamelan ajeng. Saning yang merupakan anak dari Galuh/Jerah kemudian mengembangkan musik Gong Si Bolong sebagai pengiring Tari Tayub dan Tari Jaipong. Rating pertunjukan Gong Si Bolong mencapai puncak saat kepewarisan Nyai Asem. Masyarakat kala itu sangat menyukai alunan musik yang dimainkan oleh seperangkat instrumen Gong Si Bolong. Yang menarik, suara yang dihasilkan tiga waditra temuan tersebut sangat nyaring sehingga mampu terdengar hingga ke kampung sebelah. Keunikan waditra tersebut membuat masyarakat menyebutnya dengan istilah “si gledek”.

Sepeninggalnya Nyai Asem, musik Golong Si Bolong mulai meredup. Pewaris selanjutnya, yaitu H. Bahrudin, berupaya berinovasi dengan memadukan musik Gong Si Bolong untuk mengiringi Wayang Kulit Betawi dan Jaipong. Namun hal tersebut tidak cukup untuk menaikkan rating musik Gong Si Bolong. Setelah vakum beberapa lama, Kamsa S. Atmaja mencoba mengangkat lagi pamor musik Gong Si Bolong. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan cara bergabung dengan Dewan Kesenian Depok pada tanggal 18 April 2000. Alhasil, pamor musik Gong Si Bolong mulai naik. Banyak warga atau instansi yang memesan pertunjukkan Gong Si Bolong. Saat ini, pewaris musik Gong Si Bolong adalah Buang Jayadi setelah Kamsa S. Atmaja menyerahkannya pada tahun 2011 (Ramdhani, 2016: 41-42).

Regenerasi
Proses perekrutan anggota musik Gong Si Bolong dilakukan dilakukan secara kekeluargaan. Anggota baru akan diterima apabila memiliki solidaritas tinggi dan mampu memainkan lebih dari satu waditra. Musik Gong Si Bolong terdiri dari beberapa waditra, yaitu: satu set gendang; dua set saron; satu set keromong; satu set kedemung; satu set kenong; satu terompet; satu set gong; rebab; dan gambang.

Anggota Gong Si Bolong terbagi dalam dua kelompok berdasarkan gender, yaitu laki-laki dan perempuan. Laki-laki. Berperan sebagai pemain instrumen atau nayaga, sedangkan perempuan mengambil peran sebagai penari nayuban dan sinden (Ramdhani, 2016: 44). Selain regenerasi, kebertahanan musik Gong Si Bolong juga ditunjang oleh kemampuan untuk melakukan inovasi yang menjadi kunci keberhasilan musik Gong Si Bolong hingga dapat bertahan sampai saat ini. Selain itu, Pemerintah Kota Depok melalui dinas terkait juga turut membantu untuk mengangkat kembali salah satu aset warisan budaya takbenda ini Kota Depok. Tugu Gong Si Bolong adalah salah satu bukti dari upaya Pemerintah Kota Depok tersebut.

Sumber Tulisan:
Ramdhani, Wahyu, 2016. “Strategi Survival Komunitas Seni Tradisional di Era Modernisasi (Studi Kasus Komunitas Gong Si Bolong di Kota Depok)”, Skripsi, Program Sosiologi, Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Iit Septyaningsih, 2014. “Warga Depok Tampilkan Kesenian Gong Si Bolong”, dalam www.republika.co.id selasa 19 Agustus 2014

Arny Christika Putri, 2017. “STORY Pudarnya Kesenian Gong Si Bolong Asal Depok”, dalam www.liputan6.com 4 Februari 2017

Peringatan 1 Suro 1953 Jawa di Taman Budaya Lampung

Peringatan 1 Suro 1953 Jawa di Taman Budaya Lampung (2)

Peringatan 1 Suro 1953 Jawa di Taman Budaya Lampung (3)

Popular Posts