WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label herry wiryono. Show all posts
Showing posts with label herry wiryono. Show all posts

Lamban Pesagi Arsitektur Rumah Tradisional Masyarakat Lampung Barat

Oleh Herry Wiryono

Pendahuluan
Rumah Adat Lampung umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou; Bangunan ibadah yang disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei; Bangunan musyawarah yang disebut sesat atau bantaian, dan Bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan.

Rumah adat orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan berjajar sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut bilik, yaitu tempat berdiam buway . Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan teritorial-genealogis yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga.

Arsitektur Rumah Tradisional ”lamban Pesagi”
Rumah adat lampung yang terdapat di Lampung Barat disebut dengan nama lamban pesagi. Arti kata lamban adalah rumah dan pesagi adalah persegi, karena denahnya berbentuk segi empat. Lamban pesagi merupakan rumah panggung dengan atap perisai yang memiliki teritis panjang berbentuk pelana. Teritis yang berupa kanopi pada pintu masuk utama disangga konsol miring yang panjangnya sampai ke lantai rumah. Terdapat tangga dari papan yang dilengkapi dengan railing sederhana. Struktur panggung terputus dengan struktur dinding rumah. Posisi dinding lebih menjorok keluar sedikit dan ditopang oleh balok-balok atas struktur panggung. Dinding rumah cenderung tertutup dan hanya memiliki sedikit bukaan berupa jendela. Tiang-tiang panggung diletakkan pada pondasi umpak yang berbentuk segi empat. Kolong rumah panggung digunakan untuk kandang atau gudang.

lamban Pesagi yang merupakan rumah tradisional berbentuk panggung yang sebagian besar terdiri dari bahan kayu dan atap ijuk. Rumah ini berasal dari desa Kenali Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat.. Ada dua jenis rumah adat Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal bagi para Kepala Adat (penyimbang adat), yang dalam bahasa Lampung juga disebut Balai Keratun. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor) dan Ijan Geladak (tangga "naik" ke rumah); Anjung-anjung (serambi depan tempat menerima tamu), Serambi Tengah (tempat duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat kerabat wanita berkumpul), Kebik Temen atau kebik kerumpu (kamar tidur bagi anak penyimbang bumi atau anak tertua), kebik rangek (kamar tidur bagi anak penyimbang ratu atau anak kedua), kebik tengah (yaitu kamar tidur untuk anak penyimbang batin atau anak ketiga).

Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah). Karena itu balai ini juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap). Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan (serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang Gajah Merem ( tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang khas di rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya (rurung agung), yang berwarna putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.

Bagian-bagian dari ’lamban pesagi’ secara lengkap adalah tangga masuk yang dinamakan ’jan/geladak’, beranda tamu yang dinamakan ’ajung-anjung’, ruang bersama untuk pertemuan keluarga laki-laki dinamakan ’serambi tengah’, runag bersama untuk pertemuan keluarga perempuan dinamakan ’lapan agung’, ruang tidur untuk anak tertua yang dinamakan ’kebik temen’ atau ’kebik kerumpu’, ruang tidur untuk anak kedua yang dinamakan ’kebik rangek’, dan ruang tidur untuk anak ketiga yang dinamakan ’kebik tengah’. Untuk rumah bangsawan, di halaman ada gapura masuk yang dinamakan ’lawang kuri’, dan pos jaga yang dinamakan ’pusiban’.

Lumbung penyimpanan adalah bangunan yang dibuat untuk menyimpan padi, khususnya padi giding atau padi gabah (renai) sebagai simpanan selama persediaan beras masih ada. Bagi masyarakat Lampung pesisir (Kalianda), lumbung ini memang dikhususkan untuk menyimpan padi. Namun bagi masyarakat Lampung di daerah lainnya (Lampung Barat, Lampung Utara, dan sekitarnya), lumbung biasanya juga dipergunakan untuk menyimpan damar, kopi, lada, dan hasil bumi lainnya.

Letak lumbung penyimpanan biasanya di sekitar juyu (belakang) rumah tempat tinggal, yang kira-kira berjarak antara 5 meter sampai dengan 10 meter. Namun ada juga masyarakat di daerah (tiyuh) lain, yang membangun lumbung terpisah jauh dari tiyuh. Di tempat tersebut biasanya terdapat beberapa lumbung penyimpanan (lumbung lamon), milik anggota masyarakat yang mirip dengan perkampungan khusus, hal ini agar kotoran gabah (huwok) tidak mengotori/mencemari perkampungan. Disamping itu agar saat atau waktu menjemur padi tidak diganggu oleh ayam peliharaan masyarakat.

Bentuk bangunan lumbung terdiri dari dua ruangan yakni bagian luwah dan bagian lom. Bagian luwah berfungsi untuk meletakkan padi sebelum dimasukkan ke dalam lumbung, atau sebaliknya sebelum padi diturunkan ke tanah. Tempat ini memudahkan bergotong-royong mengeluarkan atau memasukkan padi, sehingga tempat ini merupakan tempat tunda pengangkatan padi pada waktu penyusunan padi ke bagian dalam lumbung. Bisa juga dipergunakan untuk ngilik pakhi (menginjak-injak padi) agar lepas dari tangkainya. Lumbung menyerupai bangunan panggung, sedangkan dindingnya dipasang pada bagian dalam, maksudnya agar dinding lumbung tidak mudah beka (jebol) disamping agar tidak mudah dicongkel pencuri.

Makna dan Simbol pada Rumah Tradisional Lamban Pesagi
Rumah tradisional lamban pesagi dibangun berdasarkan perhitungan yang matang untuk menyikapi lingkungan di sekitarnya, dibangun berdasarkan kearifan setempat yang menyesuaikan dengan kondisi geografis daerah tersebut. Rumah panggung ini terdiri dari banyak unsur, antara lain:

Tihang duduk: merupakan tiang penyangga rumah dengan ketinggian antara satu meter sampai dengan satu setengah meter. Tiang ini selalu berjumlah ganjil (apabila dibagi dua selalu menyisakan satu) yang bermakna kita harus selalu ingat kepada yang satu, yakni Yang Maha Kuasa. Tihang duduk disangga oleh tiga batu gepeng, yang berfungsi sebagai penahan apabila terjadi gempa bumi sehingga rumah tidak terpengaruh oleh goncangan gempa. Tiga buah batu dengan ukuran 30 cm x 20 cm, kemudian di atasnya ada umpak (tiang penyangga) kayu dengan tinggi 45 cm dan lingkaran 130 cm, tinggi 90 cm, lebar bawah 23 cm, lebar atas 30 cm.

Bah lamban: kolong rumah, saat ini dipergunakan untuk menyimpan kayu, batu bata. Kalau dahulu kolong ini dikosongkan karena tujuan rumah panggung adalah untuk menghindari dari serangan binatang buas. Namun saat ini banyak kolong rumah yang dijadikan sebagai ruangan, kamar, bahkan untuk toko tempat berjualan.

Atung: merupakan kayu panjang ke samping yang disangga oleh tihang duduk. Merupakan kayu penyangga lantai rumah dengan panjang 2 meter 65 cm, lingkaran kayu 45 cm dan berjumlah 4 buah kayu.

Uwongan: sama dengan atung namun kayu ini yang posisinya ke depan dan ke belakang. Kayu penyangga yang rapat dengan lantai rumah, dengan panjang 9 meter 4 cm, dengan lingkaran kayu 87 cm, terdapat 5 buah kayu. Kayu atau balok penyangga dinding samping dengan lebar 24 cm dan 17 cm, panjang 11 meter 20 cm, ada 2 buah kayu.

Kakakh: merupakan bambu bulat sebagai penyangga lantai rumah di bagian belakang.
Bujokh: kayu yang membujur ke samping sebagai pembatas ruangan di dalam rumah. Terdapat tiga kayu pembatas lantai rumah, di bagian paling depan disekat untuk 2 kamar yakni kamar di bagian kiri depan (kebik) dan kamar di bagian kanan depan (tebelah). Kamar di sebelah kiri diperuntukkan bagi anak laki-laki tertua, dan kamar

Penutup
Rumah tradisional Lampung khususnya yang ada di Desa Kenali, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat dinamakan Lamban Pesagi. Lamban berarti rumah dan pesagi berbentuk persegi atau hampir berbentuk persegi (kotak), panjang dan lebarnya hampir sama ukurannya. Rumah tradisonal ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh BPCB Serang, namun kondisinya saat ini sangat merana, hal ini salah satunya karena kurang perhatiannya pihak pemerintah daerah Lampung Barat, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Untuk itu perlu upaya yang serius dari semua pihak untuk menyelamatkan warisan budaya yang tidak ternilai ini. Sebab tanpa adanya perhatian yang serius warisan budaya ini lambat tapi pasti akan hilang dari bumi Lampung.

Pustaka
Hadikusuma, Hilman. 1989. Masyarakat dan adat-Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.

Kadir, Azhari,. 2003, Seni Bidaya Daerah Lampung, Bandar Lampung

Warganegara, Marwansyah,. 1997 Rumah Adat Daerah Lampung, Anjungan Daerah Lampung “Taman Mini Indonesia Indah”, Jakarta

Internet
http://budayalampung.blogspot.com/2009/11/rumah-adat-lampung.html
http://archnewsnusantara.wordpress.com/2009/08/09/lamban-pesagi-rumah-adat-lampung/

Sumber: Makalah disampaikan pada Kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan, Purwakarta 2013.

Pertempuran Convoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946

Oleh Herry Wiryono

Abstrak
Pertempuran Convoy Sukabumi-Cianjur merupakan pengorbanan rakyat Sukabumi dan Cianjur dalam mempertahankan dan menegakkan kedaulatan Negara Republik Indonesia. Peristiwa tersebut tidak kalah penting dari peristiwa yang lainnya dalam lintasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terutama dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah. Berbagai komponen masyarakat Sukabumi berjuang mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan. Semuanya bertekad menjaga Republik yang berusia masih sangat muda. Melalui penelitian sejarah ini, ingatan kolektif tentang peristiwa sejarah tersebut diungkap kembali. Para tokoh yang terlibat dari peristiwa itu bercerita tentang periode yang sangat krusial dalam sejarah Indonesia. Dari hasil penelitian diketahui bahwa bangsa Indonesia mampu mempertahankan kemerdekaan dengan kekuatan sendiri. Penelitian masalah tersebut dan penulisan hasilnya dilandasi oleh metode sejarah, terutama metode sejarah lisan.

Kata kunci: Pertempuran Convoy, Sukabumi, Perang Kemerdekaan.

Abstract
Battle Convoy Sukabumi-Cianjur is the sacrifice of the people of Sukabumi and Cianjur in maintaining and upholding the sovereignty of the Republic of Indonesia. This event is no less important than other events in the track history of the struggle of Indonesia, especially in maintaining the independence of Indonesia from the hands of colonialists. The various components of society struggling to maintain independence Sukabumi newly proclaimed. Everything is determined to maintain the old republic is still very young. Through this historical research, the collective memory of these historical events were revealed again. The leaders involved from the event talking about a very crucial period in Indonesian history. The survey results revealed that the Indonesian nation was able to maintain independence with their own strengths. The research problem and writing the results based on historical methods, especially methods of oral history.

Keywords: Battle of Convoy, Sukabumi, Struggle, Struggle for independence.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 2, No 1, Maret 2010

Cilegon: Dari Kota Administratif sampai Kota (1986-2005)

Oleh Herry Wiryono

Abstrak
Kota Cilegon yang terletak di ujung barat Pulau Jawa memiliki kawasan pesisir yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pengembangan investasi yang dinilai layak, antara lain sektor industri, pariwisata, pelabuhan, pergudangan, instalasi, dan kawasan komersial. Dengan segala potensi yang ada diharapkan masyarakat, terutama pihak swasta dan para investor dapat mengambil bagian dalam pembangunan Kota Cilegon ke depan.

Kata Kunci: Cilegon, Sejarah Kota.

Abstract
Cilegon town which located in tip of west Pulau Jawa has a real coastal area area potency to be developed. Expansion of invesment assessed is competent for example industrial sector, tourism, port, warehousing, installation, and commercial area. With all the potencies is expected by public, especially the side of private sector and the investors can take a hand in development of Cilegon town forwards.
Keywords: Cilegon, History of City.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 1, No 3, September 2009: 296-306

Kesultanan Cirebon Abad 15-18

Oleh Herry Wiryono

Abstrak
Penulisan sejarah keraton Cirebon ini bertujuan memberi interpretasi bagaimana Kesultanan Cirebon memelihara stabilitas dan kedaulatan dalam periode abad 15-18. Disamping itu, tulisan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan informasi tambahan mengenai sejarah Cirebon. Metode yang digunakan dalam pengungkapan sejarah Kesultanan Cirebon ini menggunakan metode sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Memasuki abad ke-17 hingga abad ke-18, masa kejayaan dan kewibawaan Kesultanan Cirebon yang dibangun oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sejak abad 15 menjadi pudar dan mengalami degradasi hingga terpecah-pecah menjadi dalam beberapa pusat kekuasaan. Perpecahan terjadi akibat masing-masing keturunan saling berebut kepentingan. Keterpurukan Kesultanan Cirebon semakin nyata, setelah tiga kekuatan besar yaitu Mataram, Banten dan VOC ingin menjadikan Cirebon berada di bawah kuasaannya. Sejak awal abad ke-19, Kesultanan Cirebon sudah tidak ada lagi. Wilayah Cirebon sudah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Belanda, serta para sultannya dijadikan pegawai pemerintah kolonial Belanda.

Kata kunci: kesultanan, Cirebon, konflik.

Abstract
This paper tries to interpret how the Sultanate of Cirebon maintained its stability and independency during the 15th–18th centuries. Hopefully, this study can be an additional information concerning the history of Cirebon. History methods such as heuristics, critique, interpretation and historiography were conducted for this study. By the 17th-18th centuries the Cirebon Sultanate that was built by Sunan Gunung Jati in 15th century, almost had lost its glory and fell into pieces due to conflict of interest amongst the aristocrats. It was even worse when three great powers (Mataram, Banten, and VOC) made Cirebon their vassal. The Sultanate of Cirebon finally disappeared in the 19th century. Cirebon had become part of the Dutch and the sultans became servants to the Dutch colonial government.

Keywords: sultanate, Cirebon, conflict.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 1 Maret 2011

Perlawanan Ulama dan Santri Banten Terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda Tahun 1888

Oleh: Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Memasuki permulaan abad 19, gerakan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda banyak didominasi oleh kalangan santri dan ulama. Hal ini dapat dipahami, karena pada saat telah terjadi pertentangan antar bangsawan Kerajaan Banten yang bermotifkan perebutan kekuasaan. Dalam situasi krisis kepercayaan terhadap para bangsawan, ajakan para santri atau ulama untuk melawan kaum penjajah dengan cepat mendapat sambutan baik dari rakyat Banten. Perlawanan rakyat Banten dibawah pimpinan seorang ulama karismatik K.H. Wasyid yang terjadi para tahun 1888 di daerah Cilegon, walaupun bersifat sporadis mendapat dukungan sangat besar dari kalangan rakyat Banten.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Penumpasan DI/TII di Kabupaten Garut (1950 – 1962)

Oleh: Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Terwujudnya kemerdekaan Indonesia tidak berarti perjuangan bangsa Indonesia telah selesai, karena tidak semua bangsa Indonesia sepakat dengan bertujuan berdirinya Negara Kesatuan RI. Keinginan sekelompok orang untuk mendirikan sebuah negara di luar NKRI, antara lain dipelopori oleh R.M. Kartosuwiryo untuk mendirikan Negara slam Indonesia. Upaya Kartosuwiryo untuk mendirikan NII, sudah barang tentu merusak keutuhan Negara Kesatuan RI. Oleh karena itu, pemerintah dan rakyat berupaya menumpas gerakan ini.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 26, Oktober 2002

Perjuangan Batalyon II Tarumanagara Sumedang dalam Mempertahankan Kedaulatan RI (1945 – 1950)

Oleh: Drs. Herry Wiryono, dkk.

Abstrak
Pada masa revolusi fisik (1945 – 1950_ daerah Jawa Barat merupakan salah satu kancah perjuangan perlawanan rakyat semesta, baik perjuangan di bidang politik, maupun perjuangan di bidang militer, oleh karena tu, tidak menjadi heran apabila Divisi Siliwangi sebagai salah satu kesatuan dari TNI ikut berjuang melawan phak Belanda.

Salah satu batalyon kesatuan Divisi/Siliwangi yang cukup besar peranannya dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan RI adalah Batalyon II Tarumanagara. Perjuangan Batalyon II Tarumanagara dalam memperjuangkan kedaulatan RI tidak saja dilakukan di wilayah Jawa Barat, tetapi juga ke daerah lain yaitu Jawa Tengah.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Peranan Masyarakat Kuningan dalam Mempertahankan Kedaulatan Republik Indonesia Periode 1945 – 1950

Oleh: Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Penelitian peristiwa sejarah ini mencakup ruang lingkup spasial dan ruang lingkup temporal. Ruang lingkup spasial penelitian adalah daerah Kuningan. Sedangkan ruang lingkup temporal adalah periode perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI dari serangan musuh sejak tahun 1945 sampai 1950.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 17, Februari 1999

Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Sukabumi (1945-1950)

Oleh: Drs. Herry Wiryono, dkk.

Abstrak
Penelitian ini menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, yang terjadi di daerah Sukabumi dan sekitarnya. Dalam perjuangan tersebut seluruh potensi rakyat Indonesia baik yang terdapat di Kota Sukabumi dan sekitarnya maupun di kota-kota di seluruh Indonesia, dikerahkan untuk menolak semua bentuk penjajahan dari luar karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 16, Desember 1998

Peninggalan Sejarah sebagai Obyek Wisata di Pandeglang

Oleh: Drs. Herry Wiryono dan Drs. Heru Erwantoro

Abstrak
Peninggalan sejarah di Kabupaten Pandeglang jenisnya beragam yang mewakili tiga zaman, yaitu prasejarah, Islam, dan kolonial. Peninggalan sejarah itu dapat menjadi obyek wisata yang lebih menarik, apabila dalam pengelolaannya dipadukan secara baik dengan lingkungan alam disekitarnya. Salah satu kendala bagi pemeliharaan peninggalan sejarah/obyek wisata di Pandeglang prasarana transportasi yang tidak memadai. Kondisi jalan perlu mendapat perhatian daerah Pemerintah Kebupaten Pandeglang.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 39, Desember 2007

Sejarah Kota Sukabumi dari Zaman ke Zaman

Oleh Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Kota Sukabumi memiliki sejarah sangat panjang. Namun dalam tulisan ini, sejarah kota itu dibatasi sampai dengan pertengahan abad ke-20, mengacu pada momentum Indonesia kembali menjadi negara kesatuan (1950).

Uraian kesejarahan kota itu berawal dari asal-usul nama Sukabumi, kemudian mengungkap situasi dan kondisi daerah tersebut dari zaman ke zaman. Masalah yang diungkap mencakup pemerintahan, khususnya perubahan penduduk, sosial ekonomi, politik, serta gejolak zaman penjajahan dan zaman revolusi kemerdekaan.

Pada zaman revolusi kemerdekaan, pemerintah Sukabumi memiliki peranan penting. Waktu itu di Sukabumi berlangsung pemerintahan militer yang berupaya menjadikan RI kembali menjadi negara kesatuan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008

Biografi R. Natakusumah

Oleh: Drs. Herry Wiryono

Abstrak
Penulis membatasi tulisannya pada lingkungan keluarga dan pendidikan, serta keaktifannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, penumpasan pemberontakan DI/TII SM Kartosuwiryo, penumpasan pemberontakan RSM Maluku Selatan, Konfrontasi dengan Malaysia (Dwikora), Menjalani Tugas di Seskoad, aktivitas Purnabakti, hingga Kehidupan Keluarga dan Kepribadiannya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 10, April 1996

Sejarah Pemerintahan dan Perkembangan Kabupaten Sukabumi

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 2007


Oleh: Drs. Herry Wiryono



Abstrak:


Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang mempunyai sejarah yang panjang, yaitu hampir sama dengan perjalanan sejarah daerah Jawa Barat. Di samping itu, Kabupaten Sukabumi mempunyai kondisi alam yang baik untuk dikembangkan menjadi daerah perkebunan sehingga tidak heran apabila pada masa pemerintahan kolonial Belanda Kabupaten Sukabumi menjadi penghasil devisa yang sangat besar di bidang perkebunan. Pada masa pembangunan, Kabupaten Sukabumi tidak mau ketinggalan dari daerah lain di Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Sukabumi berupaya melakukan pembangunan baik fisik maupun masyarakatnya, sehingga dapat mensejajarkan diri dengan daerah lainnya di Jawa Barat.

Drs. Herry Wiryono

Nama Tempat/Tgl. Lahir Agama NIP Alamat Tlp. Email Drs. Herry Wiryono - - - - - -

Popular Posts