WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label lina herlinawati. Show all posts
Showing posts with label lina herlinawati. Show all posts

Batik Ciamisan di Imbanagara Kabupaten Ciamis (Sebuah Kajian Nilai Budaya)

Lina Herlinawati

Abstrak
Perkembangan industri tekstil yang semakin maju mengakibatkan keberadaan batik tradisional kini mulai surut, termasuk yang dialami batik tulis Ciamisan. Kerajinan tersebut merupakan aset kerajinan tradisional yang perlu dipertahankan agar tidak punah. Untuk itu dilakukan upaya pelestarian dengan melakukan penelitian perihal kajian nilai budaya pada batik tulis Ciamisan tersebut di Dusun Ciwahangan Kecamatan Imbanagara Kabupaten Ciamis, sebagai satu-satunya daerah yang masih terdapat aktivitas kerajinan batik tulis Ciamisan. Penelitian tersebut bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, dengan cara mempelajari arsip-arsip literatur yang menunjang pelaksanaan penelitian. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan, wawancara, dan pemotretan di daerah objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perjalanan keberadaan batik tulis Ciamisan dari awal perkembangannya hingga kini dapat dikatakan, corak batik tulis Ciamisan tidak memiliki makna filosofi perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Namun penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang, sinjang ‘kain’ bagi masyarakat. Nilai filosofi kesederhanaannya itu terlihat dalam bentuk-bentuk motif yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari. Selanjutnya teknik membuat batik berkembang, tidak hanya batik tulis saja, muncul batik cap, batik sablon, batik painting/lukis, dan batik printing. Demikian pula dengan motif batiknya, para perajin tidak hanya menghidupkan kembali motif-motif lama batik Ciamisan, juga meluncurkan motif baru hasil inovasi.

Abstract
The progress in the development of textile industry has made batik tulis or traditional batik (hand-drawn batik) less popular, including batik Ciamisan. This kind of craftsmanship actually must be preserved. Therefore, in order to do that the author conducted a research on cultural values of batik tulis Ciamisan which took place in Dusun (village) Ciwahangan, Kecamatan (district) Imbanagara, Kabupaten (regency) Ciamis. This is a descriptive analytical study with qualitative approach. Data were collected either primarily (by observation, interviews, and taking photographs) or secondarily (bibliographic studies). The result shows that motifs of batik Ciamisan do not have symbolic nor sacred values. They do not reflect certain social status as well. Even since its very beginning until its development today. The creation of motifs is simply stressed on fulfilling the need of cloth for apparel (sinjang) with simple designs inspired from the mother nature and everyday life. The technique varies from traditional (batik tulis), stamping (batik cap), painting and printing. The craftsmen also have innovated new motifs.

Keywords: batik tulis, Ciamisan, kesederhanaan, batik tulis, Ciamisan, simplicity

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 4, No 3, September 2012

Arsitektur Tradisional Di Daerah Kasepuhan Cicarucub

Oleh Lina Herlinawati

Abstrak
Warga Kasepuhan Cicarucub Kabupaten Lebak Provinsi Banten, memiliki arsitektur tradisional peninggalan leluhur. Arsitektur itu hingga kini masih dipertahankan keberadaannya, baik bentuk, bahan, maupun fungsinya sesuai dengan yang diamanahkan leluhur mereka. Bentuk arsitektur tradisional yang dipertahankan terutama pada dua bangunan, yaitu rumah adat atau Rompok Adat, tempat musyawarah atau Bale Riung, dan Leuit, tempat penyimpanan padi.

Sikap itu secara tidak langsung menunjukkan kekokohan masyarakat Kasepuhan Cicurub dalam mempertahankan adat dan tradisi leluhur. Hal itu disebabkan arsitektur tradisional di Kasepuhan Cicarucub mengandung perpaduan wujud ideal, wujud sosial, dan wujud material dari kebudayaan mayasarakat setempat. Dengan kata lain, arsitektur tradisional itu merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Kasepuhan Cicurub.

Kata Kunci: Arsitektur tradisional. Budaya. Cicarucub.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 1, April 2008: 755 - 798

Fungsi Karinding bagi Masyarakat Cikalongkulon Kabupaten Cianjur

Oleh Lina Herlinawati

Abstrak
Karinding adalah satu jenis alat musik tradisional, dibuat dari bambu atau pelepah enau. Alat musik itu dimainkan oleh mulut disertai pukulan jari tangan, sehingga menghasilkan bunyi yang yang unik dan low decible.

Alat musik tersebut diciptakan oleh leluhur petani Sunda. Selain untuk bermain musik, bunyi alat itu dipercaya dapat mengusir hama dan binatang perusak tanaman. Fungsi karinding demikian itu masih berlangsung pada masyarakat Cikalongkulon Kabupaten Cianjur.

Seiring dengan perkembangan zaman, kemudian karinding menjadi alat hiburan, bahkan kini menjadi bentuk kesenian yang menarik, karena dapat dikola-borasikan dengan alat-alat musik lain.

Kata kunci: Karinding, alat musik tradisional.

Abstract
Karinding is a traditional music instrument, which is made from bamboo or palm leaf. This music instrument is played by mouth, alongside with tap from finger, creating an unique, low decible sound.
This music instrument is created by the Sundanese farmer ancestor. In addition to its function as a music instrument, the sound of this instrument is believed as a pest repellant. This specific function is still believed by the people of Cikalong Kulon in Bandung Residence.

Along with time, karinding developed into an entertainment tool, even as an attractive form of art because its combinable with other music instrument.

Keywords: Karinding, traditional music instrument.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 1 No. 1 Maret 2009

Kajian Nilai Budaya pada Arsitektur Tradisional di Giri Jaya Padepokan Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat

Oleh Lina Herlinawati

Abstrak
Giri Jaya Padepokan yang terletak di kaki Gunung Salak, tepatnya di Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, memiliki bangunan-bangunan lama yang berarsitektur tradisional. Bangunan-bangunan tersebut perlu diperhatikan, dipelihara, dan dilestarikan keberadaannya. Pelestarian bangunan tersebut juga sekaligus melestarikan keterkaitan antara bangunan dan kehidupan komunitas manusianya, baik sehari-hari maupun ritual. Bagaimana konsep bangunan dalam struktur, fungsi, serta bentuk bangunan tidak banyak orang mengenalnya. Untuk itu, melalui penelitian yang bersifat deskripsi dengan pendekatan kualitatif dapatlah dipahami konsep-konsep tersebut. Dari hasil kajian tersebut, dapat dinyatakan bahwa bentuk-bentuk bangunan peninggalan leluhur Giri Jaya Padepokan itu selain memiliki bentuk bangunan berarsitektur tradisional Sunda, juga pada beberapa bagian bangunan ada pengaruh arsitektur Jawa dan Kolonial Belanda. Hal itu bisa terjadi karena leluhur Giri Jaya Padepokan sebagai pendiri bangunan tersebut memiliki pengalaman yang berkaitan dengan keberadaan Kolonial Belanda di Tatar Sunda serta pertemanannya dengan seseorang yang berasal dari “Mangku Negara” Surakarta.

Kata kunci: Giri Jaya Padepokan, arsitektur tradisional.

Abstract
The village of Giri Jaya Padepokan that lies on the foothill of Mount Salak has many buildings of traditional architecture. These buildings have to be preserved. To preserve those buildings means to preserve the relationship between the buildings themselves and the life of the community. There are very few people who have knowledge about the those traditiional buildings in term of structure and functions, as well as the shape. In understanding these concepts the author conducted a descriptive research method with qualitative approach. The author came into conclusion that despite of traditional Sundanese architecture, some of the buildings were influenced by both Javanese and Dutch colonial styles. The styles were adopted during their period of ruling Sundaland over centuries.

Keywords: Giri Jaya Padepokan, traditional architecture.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Ngaruat Solokan di Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat

Oleh Lina Herlinawati

Abstrak
Pelaksanaan upacara tradisional suatu masyarakat pada umumnya sangat menarik untuk diteliti, karena memiliki keunikan, kesakralan, dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Hal itulah yang mendorong penulis untuk mengunjungi masyarakat Cihideung di Kabupaten Bandung Barat, yang hingga kini setiap tahun masih melaksanakan upacara tradisional yang berkaitan dengan pertanian, yaitu Ngaruat Solokan atau Hajat Cai. Upacara yang merupakan sisa kepercayaan leluhur dan masih diyakini mereka adalah tradisi ritual untuk memelihara mata air dan selokan. Mereka memohon kepada Allah, karuhun, dan penunggu mata air, agar air selalu dalam keadaan lancar. Mereka pun sangat bersyukur dengan limpahan air, yang membuat mereka bisa bercocok tanam serta memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga kini. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan metode kualitatif. Dari pelaksanaan upacara tersebut terkandung berbagai macam norma serta nilai budaya yang berguna untuk mengukuhkan rasa solidaritas atau kebersamaan antarsesama warga masyarakat, yaitu nilai-nilai religius, sosial, ekonomi, pendidikan, dan rekreatif.

Kata kunci: pertanian, mata air, Ngaruat Solokan.

Traditional ceremonies are interesting things to study because they are unique, sacred, and have moral values. Ngaruat solokan or hajat cai is a kind of ceremony that is conducted every year by Cihideung people in Kabupaten Bandung Barat. The ceremony is a remnant of ancestral beliefs and perceived as ritual tradition to preserve springs and streams. The people request for the mercy of God, ancestors and the spirit of the spring asking the water to be in abundance. They would be grateful for the abundance of the water that makes them cultivate and fulfill their daily needs up to this day. Solidarity can be built through this kind of ceremony, e.g. religious, social, economical, educational and recreational values. This is a descriptive research with qualitative method.

Keywords: agriculture, spring, Ngaruat Solokan

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 2 Juni 2011

Wacana Perempuan dalam Teks Naskah Purnama Alam (Sebuah Kajian Naskah Kuno di Kabupaten Sukabumi)

Oleh: Dra. Lina Herlinawati

Abstrak
Wacana perempuan banyak dibicarakan orang dari dulu, terutama yang berkaitan dengan masalah eksistensi perempuan dalam kehidupan di dunia berdampingan dengan kaum laki-laki. Tak ketinggalan dalam naskah-naskah lama pun dapat disimak wacana mereka. Salah satunya dalam wacana Purnama Alam, yang berisikan wacana perempuan dalam kemandirian, keetiaan, kesabaran, keikhlasan yang memiliki nilai lebih dibanding kaum laki-laki.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Kesenian Gembyung Masyarakat Banceuy Kabupaten Subang (Sebuah Ekspresi Seni dan Aktualisasi Kepercayaan Masyarakat)

Oleh: Dra. Lina Herlinawati

Abstrak
Seni pertunjukan tradisi, selain merupakan tontonan yang menarik sebagai hiburan, kadang juga terangkai dengan upacara adat. Contohnya Gembyung, yang merupakan perkembangan dari Seni Terebang Buhun (di Cirebon sebagai tempat kelahirannya dikenal dengan sebutan Terebang Brai/Berahi). Kesenian Gembyung yang digunakan masyarakat adat Banceuy tidak sekadar sebagai ekspresi seni, namun juga aktualisasi dari kepercayaan mereka kepada Tuhan dan para leluhurnya yang pergelarannya dirangkaian dalam upacara adat. Bagi mereka, Kesenian Gembyung adalah media untuk mengungkapkan rasa bersyukur mereka kepada Tuhan dengan melantunkan syair-syair yang mengagungkan kebesaran-Nya. Selain itu, Gembyung pun digunakan sebagai media untuk menghormati para leluhur mereka yang telah mewariskan adat istiadat. Aturan dan norma-norma dalam adat istiadat tersebut telah mengatur keharmonisan dan keteraturan kehidupan mereka selama ini.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 37, Juni 2007

Cerita Rakyat di Kabupaten Pandeglang

Oleh: Dra. Lina Herlinawati, dkk

Abstrak
Cerita rakyat sebagai bagian dari tradisi lisan merupakan kekayaan kebudayaan yang tak ternilai dari suatu masyarakat, sekaligus dapat menunjukkan jati diri masyarakat pemeluknya. Dari cerita-cerita rakyat yang ada dapat diambil maknanya kemudian dikembangkan sebagai sumber kearifan, yang berguna khususnya bagi masyarakat pendukungnya, umumnya bangsa Indonesia dalam menjalani berbagai bidang kehidupan.

Pandeglang, sebagai kota yang memiliki prospek baik dalam bidang pariwisata, memiliki banyak cerita rakyat. Sejalan dengan berkembangnya dunia pariwisata, dikhawatirkan cerita rakyat berupa mithe, legenda, sage, dilupakan masyarakat. Untuk mengantisipasi hal itu, dilakukan penginventarisasian cerita-cerita rakyat tersebut yang kemudian memunculkannya sebagai aset budaya penunjang pariwisata.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 27, Desember 2002

Wawacan Bin Entam (Kajian Nilai Budaya)

Oleh: Dra. Lina Herlinawati, dkk

Abstrak
Perumpamaan naskah sebagai dacing timbangan yang berguna bagi keseimbangan kepribadian manusia terwakili oleh naskah Wawacan Bin Entam. Naskah dengan waktu perubahan tercatat 1324 H ini, di dalamnya terkandung berbagai nilai budaya, seperti nilai agama, nilai sosial, nilai ilmu, dan nilai filsafat yang kesemuanya bermanfaat bagi pembentukan kepribadian serta pemupukan keimanan dan ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Pun dari kandungan nilainya tersebut dapat kita jadikan ajang wawasan dari dalam kehidupan bermasyarakat dengan bercermin pada kehidupan tokoh ceritanya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Pelapisan Sosial pada ”Masyarakat Sampah” di Kota Bandung

Oleh: Dra. Lina Herlinawati, dkk.

Abstrak
agi sebagian besar masyarakat, sampah adalah barang bekas yang tidak terpakai, kotor, ataupun bau, yang sebisa mungkin juah dari aktivitas kehidupan mereka. Namun bagi sekelompok masyarakat di Kota Bandung, tepatnya masyarakat Cigondewah, sampah lekat dalam keseharian hidup mereka dan menjadi sumber mata pencaharian, yang benar-benar menjanjikan kehidupan yang lebih baik.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 19, Juli 1999

Arsitektur Tradisional Cina Pada Hunian Masyarakat Cina Benteng di Kabupaten Tangerang

Oleh: Dra. Lina Herlinawati

Abstrak
Masyarakat Cina Benteng masih mempertahankan dan memelihara kebudayaan dalam bentuk fisik yang berupa bangunan rumah (arsitektur), merupakan keterikatan mereka pada simbol-simbol yang terdapat dalam rumah. Selain itu mempertahankan dan memelihara arsitektur tersebut dapat menjadi tolok ukur kekukuhan mereka dalam menghargai karya cipta leluhurnya. Pengaruh luar terhadap arsitektur tradisional rumah Cina Benteng tanpa mengubah pakem, banyak terdapat dalam bahan material bangunannya, misalnya komponen bangunan terbuat dari bambu dan kayu yang kemudian diganti dengan batu misalnya dinding dengan tembok demikian juga lantai dengan tegel.

Namun pada masa sekarang ini masyarakat Cina Benteng masih tetap mempertahankan kehidupan dan ciri kebudayaaannya termasuk bentuk fisik rumah huniannya. Pakem model rumah tiongkok masih dipergunakan dan dipertahankan berdasarkan rasa hormat dan kecintaannya pada leluhur. Demikian juga dalam membangun rumah feng shui masih dipergunakan, kekukuhuan mereka dalam menjaga tradisi leluhur merupakan aktualisasi penghargaan dan penghormatan akan leluhur yang diyakini selalu melindungi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

LUQMANULHAKIM

Jurnal Penelitian Edisi 38/September 2007



Oleh:
Drs. Agus Heryana
Dra. Lina Herlinawati
Drs. Nandang Rusnandar




Abstrak


Luqmanulhakim adalah naskah yang ilmu kebatinan untuk mencari hakikat hidup. Naskah ini memuat ajaran etika dan moral berlandaskan pada kaidah Islam. Keterangannya sangat luas, mencakup pengetahuan tentang alam dan segala isinya, fungsi masing-masing isi alam dan manfaatnya yang dilimpahkan Allah kepada manusia. Naskah tersebut juga mengandung pesan budaya, petuah, dan ajaran yang amat berguna bagi masyarakat, khususnya bagi pemantapan aspek mentalitas dan spritual.

Kata Kunci: Lukmanulhakim. Ajaran Moral.


1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Perihal kegunaan dan urgensi penggarapan naskah kuno sering diungkap oleh para pakar di bidangnya. Mereka menganggap naskah kuno bukan sekedar kumpulan atau tulisan kuno yang tidak jelas artinya dan juga tidak menganggap sebagai onggokan kertas, bak sampah yang harus dibuang. Namun naskah kuno adalah peninggalan sejarah suatu suku bangsa yang perlu diteliti dan dikaji, karena akan memberi¬kan data dan informasi mengenai berbagai hal budaya maupun situasi yang pernah berlangsung pada zamannya. Dalam kaitan¬nya dengan itulah para pakar budaya, baik langsung maupun tidak, mengakui keberadaan naskah(-naskah) kuno sebagai sumber informasi budaya daerah. Pada awalnya bagi masyarakat pendukungnya bisa jadi sebuah naskah hanyalah berfungsi sebagai pengisi luang-waktu disela-sela kesibukannya seba¬gaimana terjadi pada tradisi pembacaan naskah wawacan(Sunda) atau mabasan (Bali). Namun tidaklah demikian bagi seorang pemerhati budaya dan bagi orang-orang yang arif akan nilai-nilai kehidupan. Bagi mereka pembacaan wawacan berupa naskah-naskah tertentu, misalnya, memiliki nilai tersendiri yang patut diteladani dan diambil hikmahnya, terutama sekali terhadap isi kandungan suatu naskah.
Dilain pihak pun naskah berfungsi sebagai sumber informasi sosial budaya. Sebagai sumber informasi sosial budaya, kandungan naskah menunjukkan pada salah satu sumber budaya yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat saat naskah tersebut lahir dan mendapat dukungan masyarakatnya. Naskah-naskah kuno berdasarkan wujudnya dapat dipan¬dang sebagai benda budaya dalam bentuk tulisan tangan. Hasil buah pikiran yang direfleksikan dalam bentuk tulisan tangan ini adalah kode-kode aksara sarat makna yang pada gilirannya dapat memberikan informasi langsung mengenai ide-ide atau gagasan berbagai pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu, Koentjaraningrat (1980:15) memasukkan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya ke dalam wujud kebudayaan yang pertama.
Wujud kebudayaan yang pertama pada dasarnya bersifat abstrak. Tak dapat dilihat, diraba atau difoto. Karena wujud kebudayaan pertama ini berupa gagasan, idiil (ide), dan nilai-nilai yang sukar diwujudkan dalam bentuk konkrit. Gagasan, idiil dan nilai letaknya berada pada diri manusia itu sendiri yang berada dalam alam pikiran dari warga masya¬rakat saat kebudayaan yang bersangkutan hidup. Kalaulah masyarakat tadi menyatakan gagasannya dalam bentuk tulisan, maka keberadaan kebudayaan gagasan atau idiil sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian tidak berlebihanlah apabila karya-karya sastra (daerah), lebih luas lagi maknanya segala macam hasil tulisan karya leluhur bangsa Indonesia, dianggap merupakan salah satu sumber gagasan atau ide pada masanya yang pada gilirannya dapat diambil manfaat¬nya oleh para generasi kemudian.
Beralih pada bentuk konkrit sastra Nusantara, akan ditemukan suatu kenyataan bahwa karya sastra Nusantara masih banyak tertulis dalam wujud manuskrip (tulisan tangan) yang ditulis dengan bahasa dan aksara atau huruf daerah. Karena wujudnya itu serta dikaitkan dengan usia naskahnya yang rata-rata berusia lebih dari 50 tahunan, maka semua karya
Nusantara cenderung dikelompokkan pada kelompok naskah kuno. Sehubungan dengan hal itu, Haryati Soebadio (1973:6) menga¬takan, bahwa Indonesia merupakan khasanah raksasa bagi naskah kuno yang kebanyakan tertulis dalam bahasa dan huruf daerah. Isi naskah-naskah tersebut beraneka ragam mulai dari naskah kesusastraan dalam arti terbatas sampai dengan sumber keagamaan, kemasyarakatan, sejarah, yang sangat penting bagi pengetahuan kita mengenai kebudayaan Indonesia pada umumnya.
Pentingnya pengungkapan naskah sebagaimana diungkap oleh Haryati Subadio itu, belum cukup menyadarkan kalangan masyarakat luas untuk memberi penghargaan yang sesuai dengan semestinya. Bahkan ada kecenderungan semakin tersisihkan apabila dihubungkan dengan kegiatan pengadopsian teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkiblat ke negara-negara maju (baca: Barat). Ditambah lagi dengan semakin langkanya orang-orang yang mau menekuni dan memahami naskah-naskah kuno tersebut. Oleh sebab itu, seyogyanyalah usaha penggarapan naskah kuno, baik pengalihaksaraan, pengalihbahasaan maupun penganalisaan atas suatu naskah patutlah didukung bersama, karena dengan cara ini isi kandungan sebuah naskah dapat terungkap.

1.2 Masalah
Naskah Sunda menurut wujud aksaranya terbagi ke dalam empat macam, yaitu: aksara Sunda-Buhun, aksara Cacarakan, aksara Pegon, dan aksara Latin. Aksara Sunda-Buhun merupakan aksara "asli" orang Sunda yang ini belum banyak orang mengenalnya. Biasanya aksara ini dipakai pada awal sejarah Sunda dimulai. Sekedar contoh, prasasti Kawali di situs Astana Gede, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis adalah contoh konkrit penggunaan aksara Sunda-Buhun. Sementara contoh pada naskah yang menggunakan aksara Sunda-Buhun adalah Carita Parahiyangan dan Siksa Kandang Karesian.
Aksara Cacarakan yang diklaim oleh sebagian orang Sunda sebagai aksara Sunda "asli" adalah aksara yang dipen¬garuhi atau berasal dari daerah Jawa Mataram). Dalam kajian lebih lanjut tentangnya dapat saja timbul hipotesis yang "nyeleneh", menyimpang, yakni apakah tidak mungkin aksara Jawa itu berasal dari Sunda? Tidak seperti dugaan semula, aksara Cacarakan berasal dari Jawa. Tentu saja hipotesis ini sah-sah saja, tak ada orang yang melarangnya. Tinggal kita mencari pembuktiannya.
Aksara yang ketiga, yaitu aksara Pegon; merupakan aksara Arab sebagai imbas pengaruh agama Islam. Aksara ini berkembang sejalan dengan penyebaran agama Islam.Tak ada orang yang menyangkal tentang keberadaannya. Bentuknya merupakan modifikasi atas aksara-aksara Arab. Aksaranya Arab namun bahasanya bahasa Melayu atau bahasa daerah, itulah aksara Pegon.
Dan terakhir, aksara Latin merupakan pengaruh bangsa Eropa yang datang ke Indonesia. Tentunya usianya lebih muda dibanding ketiga aksara di atas. Biasanya penggunaan aksara Latin digunakan dalam dokumen-dokumen negara kaum penjajah dan jarang digunakan dalam naskah-naskah Sunda umumnya. Namun demikian, dalam hal-hal tertentu penggunaan aksara Latin pun dipakai dalam menuliskan naskah.
Selanjutnya, dalam hal penggarapan sebuah naskah kuno, umumnya melalui beberapa tahap. Diawali inventarisasi naskah, pengalihaksaraan, pengalihbahasaan dan terakhir penganalisisan. Tahap kedua setelah penginventarisasian adalah pengalihaksaraan aksara naskah. Aksara naskah yang dimaksud biasanya ditulis dengan aksara daerah (Sunda-Buhun, Cacarakan, atau Pegon). Pada proses ini hakikatnya yang terjadi adalah "penggantian" aksara yakni dari aksara daerah ke aksara Latin. Bisa jadi istilah yang tepat dalam proses ini adalah "penglatinan aksara daerah". Selanjutnya dialih¬bahasakan dan dianalisis.
Masalah kemudian muncul manakala kita berhadapan dengan naskah yang ditulis dalam aksara Latin seperti yang terjadi pada naskah Lukmanul Hakim. Apakah hal ini tidak menyalahi prosedur? Dan apakah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Mengingat umumnya seorang peneliti naskah dimulai dari naskah beraksara daerah bukan dari aksara Latin. guna menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita menyimak pengalaman penulis dalam menggarap naskah-naskah.
Sudah merupakan kebiasaan apabila sebelum menggarap naskah selalu didahului dengan pencarian naskah atau istilah kami adalah "berburu naskah". Pada saat berburu itulah kami masih menemukan orang-orang yang menyalin naskah atau menulis naskah dalam aksara daerah. Padahal ia sendiri tahu dan mahir menggunakan aksara Latin. Jika demikian, apakah tidak mustahil kita membuat "naskah" dengan cara menyalin yang sudah ada? Artinya, naskah yang ditulis dalam aksara Latin disalin ke dalam aksara daerah. Tentu saja ide "konyol" ini hanyalah ide-nisbi yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang penggarap naskah profesional. Namun dari peristiwa ini timbul semacam kegamangan antara batasan naskah yang ditulis aksara daerah dengan aksara Latin. Setidaknya di dalam diri penulis timbul semacam "pembenaran" argumentasi bahwa penulis naskah tersebut pada awalnya membaca dalam bentuk aksara daerah. Namun karena sudah hafal, ia menuliskannya kembali dalam bentuk aksara Latin.
Adapun penelaahan filologi hakikatnya menelusuri asal-usul sebuah naskah yang pada awal perkembangannya lebih menitikberatkan pada penelusuran keaslian atau keotentikan sebuah teks naskah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya (pandangan modern), filologi tidak lagi terbatas pada penelusuran keotentikan teks naskah, namun telah melebar ke arah segala aspek yang berhubungan dengan teks. Sebuah perubahan teks merupakan pertanda perubahan pada diri manusia dan masyarakatnya. Tidak terkecuali pula dalam kasus teks naskah Lukmanulhakim yang ditulis dalam aksara Latin. Dalam pandangan filologi teks ini tidak saja membawa misi tersendiri tetapi juga membawa perubahan pola pikir manusia. Setidaknya kita tahu buah pikir penulis atau pengarang.
Lepas dari masalah penelusuran sah dan tidaknya naskah Lukmanulhakim ditelaah dari pandangan filologi, kita harus mengakui akan urgensinya atas naskah yang dimaksud. Semata-mata pertimbangan isi kandungannya, yang menurut pandangan kami sebagai peneliti, sangat perlu dikemukakan sesegera mungkin.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Teks naskah Lukmanulhakim bukanlah sebuah cerita berbentuk prosa atau puisi. Tetapi teks tersebut lebih merupakan sebuah uraian atau paparan berupa nasihat-nasihat. Oleh sebab itulah penanganan teks Lukmanulhakim ini lebih terarah pada penelaahan kandungan teksnya.
Ada beberapa alasan teks naskah Lukmanulhakim yang menjadi obyek penelitian ini sengaja dipilih. Pertama, teks berada pada kumpulan aksara-aksara daerah yang berisi tentang mantera dan asmaul husna. Dalam hal ini teks Lukmanulhakim berada di akhir "cerita". Kedua, teks naskah Lukmanul¬hakim, dalam pembacaan wacananya selintas, banyak persamaannya dengan konteks budaya Sunda. Hal ini menggelitik peneliti untuk menelusuri isi kandungannya lebih lanjut. Dan terakhir, ketiga, teks Lukmanulhakim ditulis dalam aksara Latin yang dengan itu memudahkan penggarapannya terutama mengurangi beban kerja dalam tahap pengalihaksaraan aksara naskah.
Selanjutnya, guna membatasi ruang lingkup penelitian sebagaimana dikemukakan di atas, penelitian naskah Lukmanul¬hakim meliputi: pertama, melakukan rekonstruksi teks dalam pengertian membetulkan kesalahan teks dengan mengabaikan penelusuran keotentikan teks; kedua kita harus menyadari bahwa naskah nasihat Lukmanulhakim ini berlatar belakang budaya Sunda. Oleh karena itulah mau tidak mau unsur budaya Sunda akan sangat mempengaruhi; itu artinya kita harus membedah teks naskah yang dimaksud dari berbagai kultur budaya Sunda yang meliputi norma, adat, aturan, dan ungka¬pan.

1.4 Tujuan penelitian
Selanjutnya, tujuan penelitian naskah Lukmanulhakim meliputi:
  • Menyajikan teks naskah Lukmanulhakim;
  • Menelaah isi kandungannya guna mengungkap nilai dan nasihat atau ajaran yang terdapat di dalamnya.
  • Memberikan interpretasi terhadap teks guna menjembatani kesesuaian muatan teks naskah Lukmanulhakim itu dengan nasihat Lukman yang terdapat dalam Al Quran.

1.5 Metode Penelitian
Tentunya, guna mencapai tujuan yang dimaksud diperlukan metode dan teknik penelitian yang terpadu. Adapun untuk memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya digunakan metode analisis isi (content analysis), yaitu suatu pendekatan yang difokuskan pada pemahaman isi pesan atau gagasan yang terkandung di dalam teks.
Pedekatan metode filologi adalah salah satu cabang ilmu bantu sastra yang khusus menanggani masalah naskah. Naskah-naskah digarap sesuai ketentuan yang berlaku di dalam ilmu tersebut guna di telusuri keasliannya. Namun dalam prateknya pencapaian tujuan tersebut sukar dilakukan bahkan pada perkembangan dewasa ini cenderung keluar dari jalur tersebut. "Keaslian" sebuah naskah bukan lagi tujuan akhir ilmu filologi, tetapi tujuan utamanya adalah menyajikan teks apa adanya. Dalam pengertian tidak terlalu jauh adanya penyimpangan dari suatu "teks naskah aslinya".
Dalam pada itu teks naskah dicoba digarap secara filologi. Penggarapannya pun sebatas pengungkapan kesalahan-kesalahan teks dan penyimpangan-penyimpangan yang diperkirakan terjadi pada naskah aslinya yang tidak diketahui di mana adanya. Dalam hal ini sebutan untuk metode tersebut di dalam ilmu filologi dikenal sebagai metode standar.
Sementara itu, guna menunjang metode penelitian yang dimaksud, digunakan pula teknik studi pustaka. Studi pustaka diperlukan guna memperoleh data-data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan bagi dicapainya suatu kesimpulan yang benar dan tidak menyimpang.

1.6 Sistematika Penulisan
Hasil akhir penelitian adalah tersusunnya sebuah naskah laporan. Laporan penelitian disusun atas 5 (lima) bab yang masing-masing menguraikan secara khusus bahasannya.
  • Bab pertama menguraikan latar belakang serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kepentingan suatu penelitian dilakukan.
  • Bab kedua adalah deskripsi naskah Lukmanulhakim yang dilanjutkan dengan rekonstruksi teks.
  • Bab ketiga adalah alih aksara dan terjemahan.
  • Bab keempat dicoba dibahas mengenai isi kandungan naskah.
  • Bab Kelima yang sekaligus pula sebagai penutup naskah laporan penelitian adalah kesimpulan. Kesimpulan dimasukan ke dalam bab kelima merupakan hasil atau intisari dari uraian bab-bab sebelumnya. Intisari setiap bab dicoba dipadukan dan disarikan pada bab kelima ini sebagai kesimpulan.

Kesenian Gembyung Masyarakat Banceuy Kabupaten Subang: Sebuah Ekspresi Seni dan Aktualisasi Kepercayaan Masyarakat

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007



Dra. Lina Herlinawati


Abstrak


Seni pertunjukan tradisi, selain merupakan tontonan yang menarik sebagai hiburan, kadang juga terangkai dengan upacara adat. Contohnya Gembyung, yang merupakan perkembangan dari Seni Terebang Buhun (di Cirebon sebagai tempat kelahirannya dikenal dengan sebutan Terebang Brai/Berahi). Kesenian Gembyung yang digunakan masyarakat adat Banceuy tidak sekadar sebagai ekspresi seni, namun juga aktualisasi dari kepercayaan mereka kepada Tuhan dan para leluhurnya yang pergelarannya dirangkaikan dalam upacara adat. Bagi mereka, Kesenian Gembyung adalah media untuk mengungkapkan rasa bersyukur mereka kepada Tuhan dengan melantunkan syair-syair yang mengagungkan kebesaran-Nya. Selain itu, Gembyung pun digunakan sebagai media untuk menghormati para leluhur mereka yang telah mewariskan adat istiadat. Aturan dan norma-norma dalam adat istiadat tersebut telah mengatur keharmonisan dan keteraturan kehidupan mereka selama ini.


Kata Kunci: Masyarakat adat, seni pertunjukan tradisi, seni pertunjukan upacara, ekspresi seni, aktualisasi kepercayaan, Banceuy, Subang.


Popular Posts