WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Toponimi di Kota Cirebon

Oleh Dra. Lasmiyati

Abstrak
Toponimi adalah istilah ilmiah yang berarti asal-usul nama tempat. Pengertian istilah tersebut menunjukkan, bahwa nama-anama tempat di suatu daerah berkaitan dengan sejarah daerah yang bersangkutan.

Berdasarkan sejarahnya, Kota Cirebon termasuk salah satu kota tua. Oleh karena itu, asal-usul nama tempat-tempat di kota tersebut mengacu pada kejadian, situasi, dan hal lain pada zaman yang dilalui. Dalam hal ini, nama tempat-tempat di Kota Cirebon berkaitan dengan suatu peristiwa, situasi daerah, istilah di lingkungan pemerintahan, tokoh dan jabatan dalam pemerintahan, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Dengan kata lain, asal-usul nama-nama tempat itu mencerminkan dinamika perjalanan sejarah Kota Cirebon.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008

Pola Pengasuhan Anak pada Masyarakat Arab Sunda di Kabupaten Purwakarta

Oleh Dra. Yanti Nisfiyanti

Abstrak
Keluarga merupakan kesatuan sosial terkecil tempat pertama kali seorang manusia menerima pengasuhan dan pendidikan dari orang tua. Dalam pola pengasuhan dan pendidikan anak, terdapat proses sosialisasi nilai-nilai yang disampaikan orang tua kepada anak. Pola pengasuhan anak pada setiap keluarga membentuk perkembangan dan karakter anak.

Pada pembentukan karakter anak lebih ditentukan oleh budaya orang tua. Dalam pola pengasuhan anak pada keluarga keturunan Arab Sunda proses sosialisasi nilai-nilai ditentukan oleh budaya akulturasi Arab dan Sunda.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.3 September 2009

Batu Prasasti Peninggalan Kerajaan Kendan

BANDUNG, (PRLM).- Batu prasasti di Kamp. Cimaung, RT 07 RW 07, Kel. Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, akan kembali diteliti Balai Pelestarian Sejaran dan Nilai Tradisi (BPSNT) Jawa Barat. Batu prasasti yang ditemukan Oong Rusmana (62) pada tahun 1959 silam bertuliskan huruf Sunda kuno diperkirakan dari Abad 14 hingga 18 masehi.

Sebagaimana diungkapkan Nandang Rusnandar, Peneliti Madya BPSNT Jabar, prasasti yang bertuliskan huruf Sunda kuno dan bahasa Sunda kuno terdiri dari dua baris, di bagian kiri tulisan ada telapak kaki manusia (anak kecil) dan bagian kanan ada telapak tangan (anak kecil). Sedangkan di bagian atas ada lambang gambar kepala manusia disilang bagian bawahnya. Sedangkan tulisan prasati, baris yang pertama mengandung arti "Unggal Jagat" dan baris kedua mengandung arti "Jalma H Dhap".

"Jika diartikan prasati ini mengandung peringatan bagi warga yang digambarkan melalui gambar kepala di atas tulisan. Sedangkan gambar telapak kaki dan tangan mencirikan hegemoni atau daerah kekuawasan raja kala itu (Kerajaan Kendan) di kawasan tersebut," ujar Nandang.

Dilihat dari huruf dan bahasa Sunda kuno dalam prasati itu, Nandang menduga, prasasti tersebut peninggalan abad ke-14 atau masa kerajaan Kendan. Dimana pada masa itu, terang dia, kerajaan Kendan tengah berkuasa setelah hancurnya kerajaan Tarumanegara. "Itu baru dugaan, jika dilihat dari huruf dan bahasanya prasasti itu kemungkinan peninggalan kerajaan Kendan," ujarnya.

Tulisan tersusun dua baris, terdiri dari 6 huruf di bagian atas sepanjang 15 sentimeter dan 12 huruf di deretan bawah sepanjang 20 sentimeter. Adapun tinggi setiap huruf berkisar 2,5-3 sentimeter. Di sisi kiri tulisan tercetak juga telapak kaki seukuran bayi, di bagian atas terdapat ukiran seperti bunga, dan telapak tangan kecil di bagian kanan aksara. Rangkaian aksara dalam prasasti, menurut Nandang, dibaca sebagai unggal jagat jalma hdap. Artinya, "Setiap manusia di muka bumi akan mengalami sesuatu," ujarnya, seraya menambahkan tulisan itu didapat setelah ia membandingkannya dengan 57 jenis aksara kuno. (A-87/A-147)***

Hubungan Lampung-Banten dalam Perspektif Sejarah

Oleh Iim Imadudin, S.S.

Abstrak
Hubungan Lampung dengan Banten di panggung sejarah berlangsung dalam kurun waktu yang panjang. Ditemukannya prasasti berhuruf Arab di Lampung, menunjukkan kuatnya pengaruh Banten dalam proses penyebaran agama Islam ke daerah tersebut. Hubungan kuat antara kedua daerah itu disebabkan oleh komoditas dan perdagangan lada. Lampung sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil komoditas lada yang merupakan potensi penting di Nusantara, sedangkan Banten adalah bandar lada internasional.

Eratnya hubungan antara Lampung dengan Banten menyebabkan kokohnya ikatan kekeluargaan warga dua daerah itu. Migrasi sosial antar penduduk kedua daerah itu berlangsung cukup dinamis, dengan berbagai motif yang menggambarkan hubungan saling membutuhkan.

Kajian tentang hubungan Lampung dengan Banten dalam perspekitf sejarah, penting artinya dalam kerangka memperkokoh integrasi bangsa. Hubungan kedua daerah itu memberikan pelajaran, bahwa nasionalisme kultural dapat menyatukan wilayah di Indonesia dengan segala perbedaannya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008

Wayang Golek dari Seni Pertunjukan ke Seni Kriya (Studi tentang Perkembangan Fungsi Wayang Golek di Kota Bogor)

Oleh Drs. Rosyadi

Abstrak
Wayang golek adalah suatu jenis seni pertunjukan tradisional yang telah menjadi bagian dari jati diri orang Sunda. Perkembangan dunia hiburan yang kini lebih didominasi oleh jenis-jenis kesenian modern, telah mengakibatkan semakin langkanya pertunjukan kesenian wayang golek dipergelarkan.

Dalam pada itu, perkembangan dunia pariwisata telah menciptakan karya baru bagi wayang golek, yaitu sebagai barang souvenir. Maka fungsi wayang golek pun berkembang dari seni pertunjukan menjadi seni kriya.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.2 Juni 2009

Popular Posts