WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Uga Bandung Pengetahuan Orang Sunda dalam Ramalan dan Antipasi Terhadap Perubahan Fenomena Alam

Oleh Nandang Rusnandar

Abstrak
Penelitian mengenai Uga Bandung Pengetahuan Orang Sunda dalam “Ramalan” dan ”Antipasi” terhadap Perubahan Fenomena Alam, bertujuan untuk mendeskripsikan Uga Bandung yang beredar di masyarakat Bandung. Metode yang dipergunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan penggunaan dokumen. Uga Bandung mendeskripsikan perjalanan dan perkembangan sebuah kota yaitu Kota Bandung sebagai pusat orientasinya yang pada akhirnya menjadi Bandung heurin ku tangtung. Uga Bandung pun di dalamnya mengungkapkan nilai-nilai dalam bentuk simbol sebagai antisipasi terhadap fenomena perubahan alam, sehingga perubahan itu dapat dikendalikan sesuai dengan situasinya.

Kata kunci : Uga Bandung, ramalan, antisipasi.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Perkembangan Sosial Di Kabupaten Majalengka (Berdasarkan Data Statistik 2004 – 2006)

Oleh H. Iwan Roswandi

Abstrak
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana perkembangan pemerintahan Kabupaten Majalengka tahun 2006. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah, melalui empat tahapan, yaitu heuristik (menemukan), kritik, interpretasi, dan historiografi. Perkembangan Kabupaten Majalengka (2004-2006) dapat diilustrasikan dari segi pemerintahan yang sebagian wilayahnya berada di daerah perbukitan. Hal ini memperlihatkan semakin beragamnya karakteristik yang ada, sehingga merupakan suatu modal untuk kemajuan daerahnya. Pengaruh pembangunan dan modernisasi berdampak jelas terhadap perubahan kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan.

Tinjauan demografis menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Majalengka mulai tahun 2004 sampai dengan 2006 berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) terus mengalami peningkatan. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki. Untuk tahun 2004, kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Kadipaten dan terendah di Kecamatan Kertajati. Seperti halnya dengan pertumbuhan penduduk, jumlah rumah tangga mengalami peningkatan dari 392.544 rumah tangga pada tahun 2005 menjadi 395.834 rumah tangga pada tahun 2006 atau meningkat menjadi 0,84 %. Dikondisikan dengan luas wilayah administratif 1.204,24 km2, maka rata-rata kepadatan penduduk di wilayah Kabupaten Majalengka pada tahun 2006 adalah sebesar 979 jiwa per km2. Kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2.049 jiwa/ km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengan kepadatan 325 jiwa per km2.

Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu daerah adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk melalui berbagai program. Seperti halnya program wajib belajar 9 tahun, Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) dan berbagai program pendukung. Berdasarkan fakta jumlah penduduk yang cukup besar dari tahun ke tahun cukup sulit menyatukan komponen yang ada sehingga berdampak pada pelaksanaan pemerintahan yang kurang optimal.

Kata kunci: Kabupaten Majalengka, perkembangan sosial.


Abstract
This research aims to analyse the development of Kabupaten Majalengka in 2006. The author conducted history method in four steps: heuristics, critique, interpretasition, and historiography. The conclusion is that the impacts of development and modernization can be clearly seen on the changes in socio-cultural, political and economical life of a society as well as on defense and security. Human resource is an important thing for the success of development, and education is very crucial in making it possible.

Keywords: District Majalengka, social development.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Budaya Spritual pada Masyarakat Indramayu (Kajian Sosial Budaya)

Oleh Nina Merlina

Abstrak
Fenomena ziarah ke tempat-tempat keramat, masih banyak dilakukan di lingkungan masyarakat. Ziarah ke tempat-tempat keramat merupakan suatu fakta sosial yang tidak bisa diabaikan, terlepas dari pro dan kontra. Ziarah ke tempat-tempat keramat sepertinya sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi suatu kelompok masyarakat tertentu, baik itu di lingkungan pedesaan maupun perkotaan. Ziarah ke tempat-tempat keramat bisa diartikan sebagai kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, misalnya; makam, tempat lahirnya seorang tokoh besar, tempat peninggalan atau patilasan, dan tempat–tempat yang memiliki nilai sejarah spiritual yang tinggi. Suatu makam dianggap keramat apabila di makam tersebut dimakamkan seseorang yang dianggap sangat berpengaruh sewaktu masih hidup. Bagi sebagian masyarakat, makam dan tempat keramat adalah tempat yang baik untuk mencari berkah. Begitu pula yang terjadi di Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu, menziarahi makam atau tempat keramat, sepertinya sudah menjadi suatu kebutuhan masyarakatnya. Wilayah Lelea yang dipagari oleh tempat keramat, memungkinkan sekali bagi masyarakat Lelea untuk selalu menziarahi tempat-tempat keramat yang ada di lingkungannya. Masyarakat Lelea merasa diawasi kehidupannya oleh para keramat tersebut. Hal ini disebabkan oleh anggapan di kalangan masyarakat Lelea, bahwa, di tempat-tempat keramat tersebut bersemayam roh-roh halus para leluhur atau tokoh yang mempunyai kekuatan-kekuatan di atas kemampuan manusia biasa. Para leluhur tersebut adalah orang yang sangat berjasa, mempunyai kharisma dan dimitoskan oleh penduduknya dan dijadikan sebagai panutan. Pada saat-saat tertentu, di tempat-tempat keramat tersebut, dijadikan sebagai tempat kegiatan ritual misalnya upacara-upacara persembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk meminta dan memohon segala petunjuk yang harus dilakukan untuk maksud-maksud tertentu.

Kata kunci : Masyarakat Lelea, tempat keramat, ziarah.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Makna Sejarah Dan Budaya Dalam Situs Jatigede Sumedang

Oleh Dade Mahzuni

Abstrak
Rencana pemerintah untuk membangun bendungan atau waduk Jatigede tentunya akan membawa manfaat bagi masyarakat Sumedang khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Akan tetapi di balik manfaat dan keuntungan yang akan didapatkan dari pembangunan Waduk Jatigede tersebut, terdapat pula dampak negatifnya, yaitu berkaitan dengan keberadaan situs-situs sejarah yang terdapat di daerah setempat. Secara historis, situs-situs yang berada di daerah Jatigede dan sekitarnya, yang berjumlah sekitar 25 situs, merupakan peninggalan masa prasejarah (megalitikum) dan masa Kerajaan Tembong Agung atau Sumedang Larang. Oleh karena itu, keberadaan situs-situs tersebut memiliki arti dan nilai yang penting untuk pendalaman pengkajian sejarah kuno Jawa Barat.

Informasi arkeologis dan kesejarahan yang dikandung dalam situs-situs tersebut, baik secara tersurat mapun tersirat, mengandung makna bahwa masyarakat Jatigede dan sekitarnya, sejak awal keberadaannya sudah memiliki budaya yang mapan: masyarakat sudah hidup dengan pola menetap, memiliki pengetahuan dan pengalaman bercocok tanam dan membuat barang-barang keperluan rumah tangga dan keperluan hidup lainnya, mereka juga sudah memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Di samping itu, melihat arah dan posisi makam-makam pada sejumlah situs, menunjukkan makam Islam, tetapi dengan struktur makam berupa punden berundak. Hal ini menunjukkan telah terjadinya akulturasi budaya. Makna budaya pada situs juga tercermin dari cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan situs, yang di dalamnya mengandung nilai-nilai budaya dan sastra.

Apabila seluruh atau sebagian situs-situs yang berada di daerah Jatigede dan sekitarnya ditenggelamkan atau direlokasi ke tempat lain sejalan dengan pembangunan waduk Jatigede, maka makna dan nilai sejarah dan budayanya akan turut hilang atau berkurang. Hal ini disebabkan karena kesejarahan dan kebudayaan selalu berkaitan dengan tempat (site) dan benda-benda.

Kata kunci: situs jatigede, makna sejarah dan budaya

Abstract
The government plans to build a dam in Jatigede. This dam will be beneficial to the people of West Java, especially Sumedangians. On the other hand, the dam will have negative impacts on historical sites in the area. Jatigede has approximately 25 historical sites than spans from prehistoric period (megalithicum) to the time of Tembong Agung Kingdom or Sumedang Larang. These sites are very important to the study of ancient history of West Java.

From the historical and archaeological point of view, those sites inform us that the people of Jatigede developed a quite complex culture at that time: they lived sedentarily, and already had techniques and knowledge for cultivating lands. They also made household apparatus and any other equipments as well as developing beliefs in animism and dynamism. Their cemeteries show that there was acculturation between Islam (the orientation) and local beliefs (pyramidal structure). The folktales of the sites contain cultural and literary values.

If all the sites have to be drowned due to the construction of the dam, the historical meaning and values of them will be vanished forever.

Keywords: Jatigede site, cultural and historical meanings

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Kajian Nilai Budaya Dalam Upacara Mapag Sri Di Desa Lelea

Oleh Yanti Nisfiyanti

Abstrak
Dewasa ini upacara tradisional mengalami banyak pergeseran yang disebabkan oleh pengaruh modernisasi di segala bidang kehidupan, antara lain masyarakat modern cenderung memilih kepraktisan untuk mencapai keefektikan waktu dalam melaksanakan sesuatu hal termasuk dalam penyelenggaran upacara. Namun demikian, tidak seluruhnya masyarakat Jawa Barat terpengaruh arus modernisasi, diantaranya masyarakat petani di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu yang hingga kini masih menjalankan adat-istiadat leluhurnya. Setiap tahun para petani bersama tokoh masyarakat setempat menyelenggarakan upacara pertanian di antaranya Mapag Sri. Tujuan utama dari penelitian ini untuk mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Mapag Sri dengan metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam upacara Mapag Sri terkandung nilai-nilai kearifan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia diantaranya memelihara tradisi bertani yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pendahulunya. Penyelenggaraan upacara tradisional pada masyarakat Desa Lelea tampaknya masih dapat dipertahankan hingga kini dan masa yang akan datang mengingat kegiatan gotong-royong dan kepercayaan masyarakat masih kuat berakar dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Selain itu, nilai-nilai kearifan tidak hanya bermanfaat bagi para petani, juga bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, untuk melestarikan nilai-nilai kearifan, maka upacara tradisional sebagai media sosialisasi nilai-nilai patut dipertahankan keberadaannya.

Kata kunci: upacara tradisional, nilai-nilai, kearifan, adat-istiadat.

Abstract
Traditional ceremony plays an important role in Desa (village of) Lelea, Kabupaten (Regency of) Indramayu even in today’s changing world. Modernization makes traditional ceremonies shift to a more simple one following a more practical and effective way of doing everything in modern world. But the peasant society of Desa Lelea do not seem to be influenced by the changing world around them. They have been performing their customs which were inherited from their ancestors. One of them is a ceremony called Mapag Sri (celebration of Sri, the rice goddess). The main goal of this research is to reveal wisdom values in Mapag Sri by using descriptive analytical method. The conclusion is that this ceremony is still important in human life as well as in preserving peasant traditions which were passed on for generations.

Keywords: traditional ceremonies, values, wisdoms, customs

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Popular Posts