WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Pelihara Tradisi, Jaga Masyarakat

BANDUNG- Warisan budaya tradisi saat ini masih sebatas didata dan dicatat tapi belum sampai dipelihara. Padahal tradisi yang dipelihara sangat berguna bagi kehidupan manusia, lebih jauh menjaga masyarakat itu sendiri.

Demikian yang terungkap dalam dia - log “Peran Wartawan dalam Upaya Pe lestarian Nilai-Nilai Budaya” yang di selenggarakan Forum Wartawan Bu daya Bandung bersama Balai Pe - lestarian Nilai Budaya (BPNB) Ban - dung di restoran Bale Gazeeboe, Jalan Su rapati, Kota Bandung kemarin.

Wartawan senior yang lama me - liput tema budaya Usep Romli me nu - turkan, selain memiliki nilai ke se ja - rahan dan kearifan lokal, warisan bu - daya tradisi bisa menjadi acuan bahan pe nelitian ilmiah di kemudian hari. Misalnya, ragam warisan obatobatan tradisional yang sudah biasa di gunakan para leluhur sebelumnya. Mungkin saja teknik pengobatan dan obat-obatan yang digunakan se be - lumnya bisa di kem ban g kan di ke mu - dian hari.

“Tak me nutup ke mung ki - nan, sumber ar sip yang ada saat ini, di ke mudian hari menjadi ru jukan pa ra ilmuan,” ujarnya ke marin. Khusus untuk pelestarian bu daya, Usep menambahkan upa ya pengembangan, per lin - du ngan, dan pemanfaatan wa - risan budaya juga perlu tetap men dapat pengawalan dari awak media.

Sampai saat ini ma - sih banyak masyarakat yang be - lum mengenal warisan ber har - ga tersebut. “Kajian tentang ragam bu - daya tradisi tentu termasuk ka - te gori high culture, tapi sa - yangnya apresiasi masyarakat ke banyakan masih minim,” tu - turnya. Pendapat senada di sam pai - kan Herry Dim.

Dia me nya ran - kan program pemetaan ke bu - da yaan tetap terus ber lang - sung tanpa dibatasi per pin - dahan era pemerintahan. Se - hingga, menurutnya, lembaga yang mengurus hal itu harus ber sifat permanen. Dia menambahkan, dalam kon teks pengembangan ke bu - dayaan dikenal tahap pen ca ta - tan, pemeliharaan, dan pem - buatan karya baru.

Nah, ragam wa risan budaya Nusantara yang ada saat ini masih dalam ta hap pencatatan atau pen da - taan. “Tidak ada satupun budaya itu yang hidup tetap ter pe lih a - ra, melainkan melahirkan pe ru - bahan demi perubahan. Dan ini lah yang kerap menjadi ke ha - wa tiran generasi muda untuk me ngembangkan budaya yang ada.

Untuk itu, di sinilah pen - ting nya pencatatan atau pen - dataan warisan budaya yang ada,” tutur Herry. Kepala Balai Pelestarian Ni - lai Budaya (BPNP) Toto Sucipto me nuturkan, sejauh ini pi - haknya telah menghasilkan se - ki tar 615 judul penelitian yang ber hubungan dengan budaya, 200 lebih temuan tradisional, 300 lebih kesenian yang ter ca - tat, dan sejumlah data lainnya yang berhubungan dengan ke - bu dayaan.

Pendataan aset budaya ten - tu memiliki peranan penting, ka rena tanpa rujukan data mus tahil upaya perlindungan, pe ngem bangan dan pe man - faatan wa risan budaya bisa di - la kukan. “Pendataan tersebut tentu me miliki peran penting dalam pe meliharaan warisan budaya, ter lebih untuk memberikan re - ko mendasi dalam pengambilan ke bijakan terkait,” tuturnya. (Heru muthahari)

BPNB Bandung Gelar Diskusi Bersama Wartawan

BANDUNG–Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung menggelar diskusi dan silaturahim dengan para wartawan Bandung, yang berlangsung di rumah makan Bale Gazebo Sabtu siang, 28 November 2015.

Dalam kesempatan itu Kepala BPNB Bandung Toto Sucipto memaparkan tentang tugas pokok dan fungsi dari BPNB, untuk diketahui masyarakat luas.

“BPNB ini adalah lembaga di bawah Kemendikbud, tepatnya berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI. Tugasnya adalah melakukan pencatatan, kajian dan pelestarian nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia” ujarnya.

Di Indonesia ada 11 BPNB yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dengan pembagian wilayah Provinsi.

“Nah BPNB Bandung ini wilayah kerjanya mencakup 4 Provinsi yaitu Provinsi Jawa Barat, Banten, DKI dan Lampung. Di empat wilayah Provinsi itulah kita melakuan pencatatan, pengkajian dan pelestarian nilai-nilai budaya daerah masing-masing” katanya.

Toto berharap, masyarakat dan wartawan turut serta membantu kerja BPNB dalam melakukan pencatatan nilai-nilai budaya daerah, baik kesenian, cara hidup, kuliner dan lain-lain. Dalam diskusi itu juga dihadirkan pembicara lain yaitu seniman Herry Dim dan sastrawan H. Usep Romli HM (Pun)

Jaga Warisan Budaya, Jabar Siap Daftarkan 24 WBTB

Bandung - Nenek moyang Jawa Barat banyak memiliki ribuan warisan budaya tidak benda (WBTB). Agar keberadaannya bisa terus diketahui, atau diwariskan ke anak cucu kelak sudah waktunya keberadaannya dicacatkan.

"Dalam waktu dekat, 24 WBTB tradisional Jawa Barat akan didaftarkan ke Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI," kata Toto Sucipto dari Balai Pelastarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung.

Langkah tersebut, kata Toto dilakukan sebagai upaya BPNB Bandung untuk mempertahankan menyelamatkan dan mencatatkan warisan budaya di Kemendikbud dan Kementerian Hukum dan HAM.

Selain itu, tambah Toto, pihaknya juga sering didesak berbagai pihak untuk mendaftarkan dan mencatatkan kekayaan WBTB asal Jawa Barat yang jumlahnya mencapai ratusan dan bahkan tidak kurang dari 1.500 WBTB.

“Disatu sisi kami (BPNB) terus didesak agar mendaftarkan dan mencatatkan WBTB sebanyak-banyaknya, namun disisi lain upaya yang kami lakukan kurang mendapat dukungan dari pemerintah daerah, karenanya kami melakukan inisiatif sendiri untuk mendaftarkan 24 WBTB asal Jawa Barat,” ujar Toto Sucipto, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (1/4/2015).

Ini Daftar 24 WBTB

Adapun ke 24 WBTB asal Jawa Barat yang tahun 2015 ini didaftarkan tersebut, untuk jenis kuliner didaftarkan makanan nasi timbel serta sate maranggi.

Untuk arsitektur bangunan leuit turut didaftarkan dan untuk kriya atau kerajinan khas didaftarkan kelom geulis (Bandung, lukis kaca (Cirebon), dan payung geulis (Tasikmalaya).

Sementara untuk jenis kesenian, yaitu kesenian sintren (Indramayu, Majalengka dan Cirebon), mamaos (Cianjur), tarawangsa (Sumedang), reak (Bandung), tarling (Indramayu), pencak silat, ronggeng bugis (Cirebon), badneng, ujungan, lais, dan surak ibra (Garut).

“Khusus untuk kesenian tradisional kemungkinan akan bertambah karena jumlahnya masih banyak mencapai 800 lebih,” terang Toto.

Selain WBTB jenis makanan, arsitektur, kriya dan kesenian, tahun 2015 BPNB Bandung menurut Toto, juga mendaftarkan upacara tradisional dan permainan tradisional.

Untuk upacara tradisional didaftarkan upacara ngarot, nadran, ngalungsur geni, rahengan, cingcowong, dan mapag tamba, sedangkan permainan tradisional yang baru akan didaftarkan adalah pamidangan atau ketangkasan domba Garut. (Mad)

Seminar Nasional UTP UPBM Unpad “Potret Sukses Generasi Berbudaya”

Unit Pencita Budaya Minangkabau Universitas Padjadjaran (UPBM Unpad) kemarin (3/5) mengadakan sebuah seminar nasional kebudayaan yang mengangkat tema “Potret Sukses Generasi Berbudaya”. Seminar yang dilaksanakan di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad Dipatiukur ini merupakan salah satu dari empat rangkaian kegiatan peringatan Ulang Tahun Perak (UTP) UPBM Unpad. Seminar ini dibagi menjadi dua sesi dan mengkaji tentang Pendidikan Berkarakter dan Berbudaya serta Internalisasi Nilai Edukasi Budaya Menuju Suatu Kesuksesan. Pada seminar ini, UPBM Unpad juga meluncurkan sebuah buku yang berjudul ”Ekspresikan Budayaku, Budayamu, Budayamu, Budaya Kita”.

Acara dimulai pada jam 09.00 WIB dan dibuka oleh Tari Galombang Pasambahan yang merupakan tari tradisional Minangkabau. Seminar ini di buka dengan pidato dari Toto Sucipto dan kemudian dilanjutkan dengan seminar sesi satu yang membahas tentang Pendidikan Berkarakter dan Berbudaya. Sesi ini diisi oleh Indra J. Piliang yang merupakan seorang pengamat sosial politik yang juga sangat memperhatikan budaya dan dilanjutkan oleh Yasraf Amir Piliang, seorang budayawan sekaligus Pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Seminar yang dimoderatori oleh Abraham Silaban ini dilanjutkan dengan sesi dua tentang Internalisasi Nilai Edukasi Budaya Menuju Suatu Kesuksesan. Sesi ini diisi oleh orang-orang sukses dengan caranya masing-masing tetapi tetap mempertahankan budayanya masing-masing sebagai identitas diri. Orang-orang sukses tersebut adalah Nancy Margried (co-founder dan CEO Batik Fractal), Ahmad Fuadi (sastrawan dan penulis buku Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna), dan Hikmawan Saefullah (akademisi dan musisi).

Seminar ini dihadiri oleh Toto Sucipto, Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung sebagai perwakilan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Pada acara tersebut juga hadir Priana Wirasaputra, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Bandung, dan Dr. Ir. Heryawan Kemal Mustafa selaku Direktur Kemahasiswaan Unpad.

Pada acara seminar ini juga dilakukan peluncuran buku yang juga merupakan salah satu rangkaian kegiatan Ulang Tahun Perak UPBM Unpad. Buku tersebut merupakan hasil dari kumpulan karya-karya pemenang Lomba Esai yang merupakan rangkaian pertama kegiatan Ulang Tahun Perak UPBM Unpad dan juga ditambah dengan beberapa tulisan dari akademisi dan budayawan. Buku yang didedikasikan bagi dunia pendidikan dan kebudayaan ini diserahkan secara resmi pada saat seminar tersebut kepada Universitas Padjadjaran melalui Heryawan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa UPBM Unpad telah memasuki usia mapan untuk sebuah organisasi. “Harapan kami, bahwa UPBM dapat terus melebarkan sayapnya bukan hanya tingkat nasional, tapi juga internasional,” ungkapnya.

Seminar tersebut dihadiri oleh lebih dari 90 orang peserta yang berasal dari bermacam-macam universitas di Indonesia. Seminar yang berakhir pada jam 14.00 WIB ditutup dengan penyerahan plakat kepada masing-masing pembicara oleh Ketua UPBM Unpad, Fazri Akil, dan Ketua Pelaksana kegiatan perayaan Ulang Tahun Perak UPBM Unpad, A. Syauki Mahmudi.

Seminar nasional dan peluncuran buku ”Ekspresikan Budayaku, Budayamu, Budaya Kita” ini merupakan salah satu rangkaian dari perayaan UTP UPBM Unpad. Selain itu ada kegiatan Lomba Esai tingkat SMA se-Sumatera Barat dan universitas se-Indonesia yang telah dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2011, dan rangkaian kegiatan UTP UPBM Unpad akan ditutup dengan kegiatan Pagelaran Seni dan Budaya yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2012 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung. Pagelaran yang mengusung cerita ”Another Story of Malin Kundang” ini akan menampilkan kesenian budaya Minangkabau seperti drama, randai, tari, musik, dan masih banyak yang lainnya. Seperti tema besar kegiatan UTP UPBM Unpad ini, yaitu ”Budaya Dalam Genggaman Pemuda, Follow Us to Share Your Culture”, UPBM Unpad melalui kegiatan ini berusaha untuk menyebarkan semangat untuk tetap menjunjung tinggi budaya sebagai identitas diri dan bangsa.

Menyedihkan! Punah, Puluhan Kesenian Tradisional di Jabar

Bandung - Nasib kesenian tradisional di Jawa Barat berada dalam beberapa katagori. Menurut Toto Sucipto, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung, Jabar, selain terjadi degradasi kebudayaan, pun sudah banyak yang dilupakan. Bahkan, beberapa di antaranya sudah punah.

Dari data tahun 2009, tercatat 43 kesenian tradisional di Jabar punah. Kesenian tradisional yang ada di Tatar Sunda ini sendiri berjumlah 394. Dari total tersebut, ada kategori sangat berkembang sebanyak 42, lalu 61 jenis kesenian berkembang, dan 248 tidak berkembang.

“Untuk di Kabupaten Pangandaran, dari data yang ada di Kabupaten Ciamis dulu, tercatat ada 163 kesenian tradisional. Tujuh punah, 39 sangat berkembang, berkembang 54, dan tidak berkembang 43,” katanya.

Menurut Toto, kesenian tradisional yang punah adalah elet, empet, mamanukan, sarawalet, wayang golek pakuan, nutu, dan bongbangan.

Untuk yang sangat berkembang di antaranya degung, degung kacapi, rampak sekar, kawih sunda, angklung diantonis. Lalu berkembang di antaranya teater sunda kiwari, keroncong, marhabaan, beluk, gending karesmen.

“Sedangkan yang tidak berkembang di antaranya genggong, salentrong, reog, tayub,” ujarnya.

Popular Posts