WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Mengenali Kembali Permainan Tradisional Anak-Anak

Oleh: Rosyadi

I PENDAHULUAN
Wacana tentang kebudayaan lokal atau kebudayaan suku bangsa dewasa ini nampaknya tenggelam, tersisihkan oleh wanana-wacana yang lebih populer seperti wacana tentang dunia politik, ekonomi, dan hukum. Terbukti dengan sangat sedikitnya sosialisasi, publikasi, maupun tayangan-tayangan di media elektronik yang berani menampilkan wacana kebudayaan lokal ketimbang wacana politik, ekonomi, dan hukum. 

Keadaan ini terkait erat dengan kondisi budaya masyarakat dewasa ini yang lebih memunculkan konsep-konsep modernisasi, sehingga segala sesuatu yang berbau tradisi, adat-istiadat ataupun kebudayaan dipandang tidak bermutu, tidak rasional, dan jalan di tempat. Berbicara tentang adat istiadat seolah tidak lagi memberikan manfaat dan kontribusi bagi kemajuan, dan kehidupan di masa kini dan ke depan. Wacana tentang kebudayaan lokal pun akhirnya hanya bergulir di antara para pemerhati dan peminat kebudayaan saja, dan sangat kurang menarik fihak lain untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Ironisnya, mereka yang peduli dengan kebudayaan lokal ini umumnya adalah yang termasuk golongan atau generasi tua, Sangat jarang generasi muda yang tertarik dan meminati kebudayaan lokal. Itulah fenomena kebudayaan yang kita dapati sekarang ini. 

Salah satu kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan nasional adalah mensosialisasikan berbagai unsur kebudayaan lokal atau kebudayaan etnik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu unsur kebudayaan yang hingga kini masih ada adalah permainan tradisional, atau lazim juga disebut permainan rakyat, yang merupakan bagian dari folklor. 

Menurut Alan Dundes, folklor memiliki ciri-ciri pengenal sebagai berikut:
a) penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan;
b) bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar, dan telah beredar sedikitnya selama dua generasi;
c) terdiri atas berbagai versi atau varian;
d) bersifat anonim;
e) biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola;
f) mempunyai kegunaan bagi kehidupan kolektif pendukungnya;
g) menjadi milik bersama kolektif tertentu;

Pada umumnya permainan tradisional sangat menonjolkan fungsi sosial. Ini dapat dilihat dari sifat-sifat permainan tradisional yang biasanya dilakukan di luar rumah atau di tempat terbuka dengan pelaku yang lebih dari satu orang. Demikian pula nilai-nilai sosialnya cukup menonjol, seperti nilai kerjasama, sportifitas, dan kompetitif. Karena sifatnya yang harus dimainkan di luar rumah, maka biasanya untuk melakukan permainan tradisional diperlukan halaman yang cukup luas atau tanah lapang. Dulu prasarana berupa tanah lapang ini masih cukup banyak tersedia. Namun kini, sejalan dengan perkembangan zaman dan pertambahan penduduk yang sangat pesat, mengakibatkan luas lahan yang tersedia untuk bermain menjadi semakin berkurang.

Hal lain yang mempengaruhi keberadaan permainan tradisional adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan iptek bukannya memperkokoh keberadaan permainan tradisional, akan tetapi sebaliknya malah semakin menyisihkan keberadan permainan tradisional. Kini permainan tradisional semakin jarang dikenali oleh anak-anak. Mereka, khususnya di daerah perkotaan memiliki jenis-jenis permainan baru melalui media komputer, dengan berbagai jenis gamesnya. Melalui jenis-jenis permainan baru ini, tanpa harus keluar rumah, dan tanpa harus ada teman, mereka bisa melakukan permainan di dalam rumah. 

Ada beberapa perbedaan yang sangat mendasar antara jenis-jenis permainan tradisional dengan permainan modern. Kalau permainan tradisional lebih menonjolkan nilai-nilai sosial, maka permainan modern lebih bersifat individualis, karena mereka tidak memerlukan teman bermain untuk melangsungkan permainan ini. Permasalahannya adalah dengan semakin terpinggirkannya permainan tradisional, akankah nilai-nilai sosial dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam permainan tradisional ikut musnah? Hal ini pula yang melatarbelakangi pentingnya dilakukan kegiatan perekaman audio-visual mengenai permainan tradisional.

II ANEKA RAGAM PERMAINAN TRADISIONAL ANAK-ANAK
Dunia anak adalah dunia bermain. Tiada hari tanpa bermain, itulah dunia anak-anak. Anak-anak di Desa Banyuresmi - Kabupaten Garut mengenal beberapa jenis permainan tradisional, yang sekali-sekali masih mereka mainkan, seperti permainan panggal (gasing), egrang jajangkungan, egrang batok, perepet jengkol, rorodaan, gampar atau gagamparan, dan beberapa jenis permainan lainnya. Kendatipun permainan-permainan ini kini sudah tidak seperti dulu lagi, khususnya dalam hal intensitas permainannya, akan tetapi beberapa di antaranya masih suka dimainkan oleh anak-anak, sehingga permianan-permainan ini tidak sampai musnah. Kondisi ini adalah berkat inisiatif dan kreatifitas para orang tua yang menghendaki agar permianan tradisional anak-anak yang dulu mereka gemari tidak sampai hilang. Atas dasar pemikiran itu, para orang tua membentuk suatu komunitas yang khusus melestarikan permainan tradisional. 

Selanjutnya, yang juga mendukung upaya pelestarian permainan tradisional ini adalah penyelenggaraan lomba dan festival permainan anak-anak yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, yang dikenal dengan event “Alimpaido”. Pemerintah Daerah Kabupaten Garut sendiri cukup rajin menyelenggarakan event-event semacam ini. Kerjasama yang baik antara masyarakat, budayawan dan pemerintah daerah inilah yang turut mendukung lestarinya permainan tradisional anak-anak di Garut.

1. Permainan Egrang
Egrang atau jajangkungan, yaitu sebuah permainan berjalan menggunakan alat yang terbuat dari bambu. Istilah “egrang “ di samping nama sebutan sebuah permainan, juga sekaligus nama alat yang digunakan untuk permainan tersebut.

Pemain
Permainan egrang dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki maupun perempuan yang berusia 7- 13 tahun. Permainan egrang kerap diperlombakan. Jenis perlombaannya adalah adu kecepatan dengan melintasi rintangan yang menyerupai jembatan terbuat dari bambu. Peserta perlombaan biasanya adalah anak-anak yang berusia antara 7 - 13 tahun, dengan jumlah pemain 2 - 5 orang.

Tempat dan Peralatan Permainan
Untuk melakukan permainan egrang, tidak dibutuhkan tempat atau lapangan yang khusus, karena permainan ini dapat dimainkan di mana saja seperti di tepi pantai, di tanah lapang atau pun di jalan. 

Peralatan yang digunakan adalah dua batang bambu yang relatif lurus dan sudah tua dengan panjang masing-masing antara 2 - 3 meter. Cara membuatnya adalah sebagai berikut. Mula-mula bambu dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya masing-masing sekitar 2 - 3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain menjadi dua bagian dengan ukuran masing-masing sekitar 20-30 cm untuk dijadikan pijakan kaki. Selanjutnya, salah satu ruas bambu yang berukuran panjang dilubangi untuk memasukkan bambu yang berukuran pendek. Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut sudah menjadi egrang, dan siap untuk digunakan.

Jalannya Permainan
Apabila permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari), maka permainan ini diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu egrangnya masing-masing. Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain egrang, mereka dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan tangga, lalu berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Setelah diberikan aba-aba, para pemain segera berlari menuju garis finish. Pemain yang lebih dahulu mencapai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya.

2. Permaianan Egrang Batok
Selain mengenal egrang dari bambu, anak-anak masyarakat Garut juga mengenal egrang batok. Egrang jenis terakhir ini dibuat dari bahan dasar tempurung kelapa (batok kalapa) yang dipadu dengan tambang plastik. Fungsi utamanya adalah alat untuk berjalan yang diciptakan dan dibuat untuk bermain bagi dunia anak. Egrang batok tidak terbatas untuk dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi juga kadang dipakai untuk bermain anak perempuan. Permainannya pun cukup mudah, kaki tinggal diletakkan di atas masing-masing tempurung, sementara kedua tangan memegangi talinya. Selanjutnya pemain berjalan di atas tumpuan kedua batok kelapa tersebut. 

Tempurung yang dipakai biasanya berasal dari buah kelapa tua yang telah dibersihkan dari sabutnya. Kemudian tempurung itu dibelah menjadi dua bagian. Isi kelapa dikeluarkan dari tempurung. Tempurung yang terbelah menjadi dua bagian ini kemudian dihaluskan bagian luarnya agar kaki yang berpijak di atasnya bisa merasa nyaman. Masing-masing belahan tempurung kemudian diberi lubang di bagian tengah. Masing-masing lubang tempurung dimasuki tali sepanjang sekitar 2 meter dan diberi pengait. Tali yang digunakan biasanya tali lembut dan kuat, bisa berupa tambang plastik. 

Permainan egrang batok bisa dimainkan secara individu maupun kelompok. Kadang-kadang, permainan, biasa pula dipakai untuk perlombaan. Tentu di sini anak diuji ketangkasan dan kecepatan berjalan di atas egrang batok. Anak yang paling cepat berjalan tanpa harus jatuh dianggap sebagai pemenang.

3. Permainan Rorodaan
Permainan “rorodaan” jenis ini dibuat dari bahan papan dan bambu. “Rorodaan” tidak hanya dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi juga dimainkan oleh anak perempuan. Permainannya pun cukup mudah, tinggal duduk di atas “rorodaan”, sementara teman yang lainnya mendorong dari belakang agar “rorodaan” berjalan.

Permainan tradisional yang menggunakan alat seperti permainan “rorodaan” ini, pada umumnya bahan dasarnya banyak diperoleh di sekitar lingkungan anak. Papan yang dipakai biasanya papan albasia tua yang telah diserut dibersihkan dari sabutnya. Kemudian papan itu digergaji berbentuk bundar, fungsinya buat roda. Demikian juga karoserinya (badannya) terbuat dari papan, sedangkan tempat duduknya terbuat dari bambu, pengendali atau stirnya dari bambu dan ranting kayu.

4. Permainan Engkle
Permainan engkle merupakan permainan tradisional lompat – lompatan pada bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah. Di beberapa daerah, permainan engkle ini disebut dengan istilah sondah. Pertama-tama dibuat 8 buah kotak berbentuk salib di atas tanah. 

Cara bermainanya sederhana saja, cukup melompat menggunakan satu kaki disetiap petak – petak. Untuk dapat bermain setiap anak harus mempunyai “kojo” yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai atau pun batu yang pipih. “Kojo” dilempar ke salah satu petak. Petak yang ada “kojo”nya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak- petak yang ada. Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang telah disediakan jika melebihi maka dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya. 

Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu melemparkan “kojo”nya ke dalam petak dengan cara membelakangi. Di petak mana “kojo”nya itu jatuh, maka petak itu akan menjadi “sawah”nya, artinya di petak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak tersebut dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki “sawah” paling banyak adalah pemenangnya.

5. Gasing dari Garut
Bahasa daerah yang digunakan masyarakat Jawa Barat untuk menyebut gasing adalah Panggal. Dalam lingkup terbatas, ulin panggal, demikian masyarakat Jawa Barat menyebutnya, masih hidup. Namun di beberapa daerah (perkotaan) pengetahuan tentang panggal didominasi oleh kalangan generasi tua. Nyaris generasi muda (baca : anak-anak) tidak lagi mengenalnya.

Sampai tahun-tahun awal kemerdekaan, gasing masih menjadi permainan anak-¬anak, bahkan orang dewasa. Terdapat beberapa jenis gasing dan cara memainkannya. Gasing kayu dimainkan dengan tujuan untuk menikmati putaran dan juga bunyinya, khususnya dalam permainan "babantaan". Permainan-permainan itu menuntut si pemain untuk terampil, khususnya dalam mengukur ketepatan kekuatan yang dipergunakan dan arah yang dituju. 

Masyarakat Sunda di Jawa Barat mengenal dua jenis gasing, yaitu gasing untuk “kalangenan” dan gasing untuk aduan. Gasing untuk “kalangenan” biasa dibuat dari bahan pohon yang lunak atau ringan. Oleh karena pada jenis gasing ini yang dijadikan tujuan adalah menghasilkan bunyi atau suara sekeras mungkin. Tercatat pohon (kayu) galinggem dan waru sering dijadikan bahan untuk jenis gasing kalangenan. Sedangkan jenis adu biasanya terbuat dari pohon (kayu) keras, misalnya jambu klutuk (jambu batu), pohon pete cina (sunda : peuteuy selong).

Bentuk gasing Jawa Barat relatif kecil dan bervariasi. Ada yang berkepala, ada juga yang tidak. Secara umum gasing atau panggal dapat dibagi kedalam tiga (3) bagian, yaitu :
1. Hulu (kepala)
2. Awak (badan)
3. Suku(kaki)

Ciri khas panggal Jawa Barat terletak di samping pada kerampingan bentuknya, juga terletak pada bagian sukunya yang terbuat dari logam (paku). Pada bagian ini pemain sering memipihkan pakunya sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentuk seperti kapak. Fungsinya adalah untuk menancapkan sekaligus membelah gasing lawan.

Selanjutnya, guna menambah nilai estetika, baik gasing kalangenan maupun gasing adu, sering diberi cat warna-warni. Tak ada warna khusus atau aturan yang mengatur tentang pewarnaan ini. Biasanya tergantung selera pembuat atau pemilik gasing.

Sebuah gasing atau panggal belumlah bisa dimainkan tanpa disertai dengan tali pemutarnya. Tali ini dibuat (dahulu) dari kain bekas (sunda: samping kebat butut) yang “dirara” (dipilin atau dipintal). Belakangan, tali ini dibuat dari bola kanteh (benang katun). Tali yang baik adalah tali yang tidak berminyak atau licin. Oleh karena itu, guna menghasilkan tarikan yang keras dan cepat tali tersebut sebelum dipakai direndam dalam air beberapa saat. Tujuannya agar tali dapat mengcekram lebih kuat dan tidak licin (sunda : seuseut).

Tempat bermain dapat dilakukan di dua tempat yang sangat bergantung juga pada jenis panggal yang dimainkan. Untuk jenis gasing kalangenan relatif tidak memerlukan tanah lapang yang luas. Cukup dijauhkan dari benda-benda yang mudah pecah, seperti kaca atau barang pecah belah lainnya. Namun untuk gasing adu sebaiknya di tanah lapang datar yang tidak bergelombang agar lebih leluasa dan jauh dari kerusakan benda-benda sekitarnya. Ukuran tidak ditentukan dengan jarak yang pasti, namun lebih dititikberatkan pada kondisi tanah lapangan itu sendiri.

Ada dua jenis permainan yang sering dilakukan (dimainkan). Pertama, palelet-lelet (lama berputar), dan kedua rawatan atau ngadu panggal. Penentuan kalah menang dalam palelet-lelet adalah lamanya berputar yang dihitung dari saat gasing mendarat hingga berhenti dengan sendirinya. Gasing yang lebih awal berhenti adalah gasing yang mati atau kalah. Sementara, gasing yang masih berputar itulah pemenangnya.

Ada dua cara bertanding: pertama, mengadu bunyi; dalam hal ini yang diperlombakan adalah kenyaringan bunyi panggal, yang dalam istilah setempat disebut patarik-tarik sora. Kedua, lomba yang disebut palelet-lelet; dalam hal ini yang diperlombakan adalah lama putaran. Jenis lomba mana yang akan diambil, bergantung pada kesepakatan pemain, apakah akan “mengadu” bunyi (patarik-tarik sora) atau palelet-lelet atau keduanya.

Pada jenis permainan ini sering pula disertai dengan pintonan untuk memperlihatkan kepiawaiannya memainkan gasing. Misalnya, gasing diangkat dengan tali dan diterima dengan telapak tangan atau tidak menutup kemungkinan dimainkan di atas dahi. 

Berbeda dengan palelet-lelet, jenis permainan (Rawatan) adu panggal membutuhkan aturan tersendiri. Prinsip dasarnya adalah memindahkan gasing (panggal) dari kalang kecil ke kalang besar. Jarak antara kalang tersebut disesuaikan dengan kondisi tanah lapang. Kalang biasanya berupa lingkaran kecil dan lingkaran besar.

Sumber: Makalah disampaikan pada acara Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan Subang 2012 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung.

Peristiwa Tragedi Berdarah Rawagede

Oleh: K. Sukarman HD

A. Pendahuluan
Pada tahun 1947 Tentara Belanda kembali datang ke Indonesia mendompleng dengan Tentara Sekutu, mereka berhasil menguasai wilayah Jawa Barat.Dalam kondisi seperti itu para pejuang RI dan Tentara Republik Indonesia (TRI) banyak yang mundur ke pedesaan dan bergabung dengan rakyat untuk membangun pertahanan dari serbuan Tentara Belanda.Diantaranya ada yang bermarkas di Desa Rawagede, Kecamatan Rawamerta,Kabupaten Karawang, sebuah tempat yang mudah dijangkau dari berbagai jurusan. Karena itu, Rawagede yang sangat strategis dijadikanMarkas Gabungan Pejuang (MGP). Di tempat ini para pejuang dari berbagai kesatuan seperti: Lasykar Rakyat, Hisbullah, Pesindo, BBRI, dan lain-lain berkumpul dan mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan dibahas bagaimana cara untuk melakukan penyerangan dan mempertahankan diri dari serangan Belanda.

Setelah Tentara Republik Indonesia (TRI) hijrah ke Jawa Tengah (Yogyakarta), pemerintah Pamongpraja RI kedudukannya selalu berpindah-pindah, karena Belanda terus membayangi dengan membentuk pemerintahan sipil yang dinamakan Pamongpraja Recomba untuk memecah belah kekuatan Pemerintah Pamongpraja RI. Pemerintah Pamongpraja RI di Kecamatan Rawamerta saat itu berkedudukan di Desa Rawagede dengan camatnya Wangsadijaya yang mendapat dukungan para pemuda dari berbagai kelompok yang tergabung dalam Kesatuan Pertahanan Pamongpraja RI.

Adanya markas pejuang di Desa Rawagede ternyata diketahui oleh antek-antek Belanda yang menghianati perjuangan bangsabahwa Desa Rawagede telah dijadikan Markas Pertahanan Gerilya Pejuang RI yang terdiri dari berbagai kesatuan pertahanan yang tidak ikut hijrah ke Jawa Tengah. Sebelum peristiwa pembantaian masal di Desa Rawagede terjadi, pihak Belanda telah beberapa kali mencoba membuktikan kebenaran adanya Markas Gabungan Pejuang (MGP), tetapi upaya Belanda selalu gagal berkat kesiapsiagaan para pemimpin MGP dan anggotanya. Mata-mata yang disusupkan Belanda selalu berhasil diketahui oleh para pejuang.Tetapi keadaan demikian ternyata tidak berlangsung lama, karena pada suatu saat ada mata-mata Belanda yang tertangkap oleh para pejuang tetapi berhasil meloloskan diri dan melapor kepada pihak Belanda mengenai keberadaan Markas Gabungan Pejuang di Desa Rawagede.

Berdasarkan informasi tersebut, Belanda segera merencanakan akan melakukan penyerangan dan membumi hanguskan markas pejuang di Rawagede. Tetapi rencana tersebut dapat disadap oleh Kepala Desa Tunggakjati, Saukim yang berpura-pura memihak kepada tentara Belanda.Kemudian Lurah Saukim dengan cepat memberitahu kepada MGP yang ada di Rawagede.Para pemimpin MGP segera mengadakan kontak dengan seluruh pejuang dan menginstruksiksn untuk menutup seluruh aksesjalan menuju Desa Rawagede. Mereka memblokir jalan yang menghubungkan Rawagede seperti: dari arah Barat memutuskan Jalan Cilempuk dan dari arah Selatan memutuskan Jalan Palawad, dari arah Utara dan Timur membongkar jembatan Garunggung,namun tidak berhasil dibongkar karena beton jembatan tidak dapat diruksak. Akhirnyadilakukan pemutusan jalan yang menghubungkan jembatan dari dua arah.Upaya tersebut berhasil menggagalkan serangan Belanda ke Rawagede.

Selanjutnya para pejuang semakin meningkatkan kewaspadaannya sebagai antisipasi tiba-tiba terjadi lagi penyerangan secara mendadak, patroli pun dilakukan secara bergiliran siang dan malam. Suatu saat ketika sedang berpatroli, para pejuang menangkap salah seorang intel Belanda berkebangsaan Indonesia. Orang tersebut dibawa ke markas untuk diinteriograsi dan saat itu di markas ada Pak Lukas Kustaryo, Komandan Brigade I, Resimen 6 Divisi Siliwangi dengan pasukannya. Mereka adalah salah satu pasukan yang tidak ikut hijrah ke Yogyakarta dan bertugas menjaga front Karawang-Bekasi.

Sementara itu yang ditawan berhasil melarikan diri dan melaporkan segala pengalamannya ke pihak Belanda termasuk melaporkan adanya Lukas Kustaryo dengan pasukannya di Rawagede. Dengan adanya laporan tersebut pihak Belanda pada malam itu juga berunding mengenai rencana penyerangan ke Rawagede.Dilain pihakrencana tersebut tersadap oleh LurahSaukim dan langsung diberitahukan melalui surat kepada para pejuang yang ada di Rawagede. Isi surat tersebut menyebutkan bahwa Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 akan melakukan penyerbuan secara besar-besaran ke Kampung Rawagede.Setelah mendapat berita tentang rencana penyerbuan tersebut, seluruh pimpinan dan anggota MGP mencoba meloloskan diri dan keluar dari Rawagede, namun karena cuaca pada malam itu hujan sangat lebat, sehingga sebagian besar pejuang sulit untuk melaksanakan evakuasi keluar dari Rawagede.

B. Peristiwa Berdarah di Rawagede
Sebagian pejuang memang telah berhasil keluar dari Rawagede pergi ke kampung lain untuk menyelamatkan diri dari serangan tentara Belanda. Hal itu mengingat mereka sudah tidak bersenjata lagi, karena sudah di pindahkan ke Tunggakjati.Tetapi karena pada malam itu turun hujan yang sangat lebat, jadi sebagianbesar pejuang tidak sempat berangkat dan memilih diam di rumah masing-masing dan ada juga di markas. Menurut anggapan mereka tidak mungkin tentara Belanda akan menyerang Desa Rawagede dalam keadaan hujan yang sangat lebat hingga sampai larut malam. Ternyata anggapan mereka keliru, tepat hari Selasa tanggal 9 Desember 1947, pukul 04.00 WIB Desa Rawagede sudah terkepung oleh militer Belanda dengan posisi siap tempur. Menurut keterangan beberapa saksi, hanya dari arah Barat yaitu jalur Tanjungpura (Tunggakjati) pasukan militer Belanda agak terlambat menutup jalur, sekitar jam 06.00 pagi jalan ini baru bisa ditutup. Dalam keadaan darurat tersebut, para pejuang dibawah pimpinan SermaPulung dari Angkatan Laut, termasuk di antaranya Syukur dan Suminta (Lurah Rawagede) berhasil meloloskan diri.

Pengepungan tersebut diketahui oleh beberapa penduduk yang akan memulai aktifitasnya pagi itu seperti petani, anak-anak gembala, dan para pedagang. Ternyata begitu akan ke luar dari Kampung Rawagede, mereka dicegat oleh tentara Belanda dan semuanya disuruh kembali ke rumah masing-masing.Mereka ketakutan dan lari ke rumahnya masing-masing sambil memberitahu kepada penduduk lainnya, bahwa tentara Belanda telah mengepung Desa Rawagede. Adanya berita tersebut membuat penduduk panik, apalagi setelah mendengar suara tembakan yang terus-menerus dari arah Timur. Penduduk berhamburan untuk menyelamatkan diri, akibatnya banyak penduduk yang terkena peluru dan tewas seketika.

Penjaga ronda yaitu Siang, Ki Ranta, dan Karna begitu mendengar suara tembakan bertiga langsung turun ke sungai untuk berlindung. Malang bagiKi Ranta, ketika akan menyeberangi sungai terkena tembakan tepat mengenai dadanya dan seketika itu langsung rubuh meninggal dunia. Adapun Siang dan Karna selamat dan bersembunyi di tepi sungai, di balik rerumputan. Mereka berdua dari tempat persembunyian dapat melihat tembakan-tembakan diarahkan ke kampung yang padat penduduknya.Jenis senjata yang digunakan oleh tentara Belanda adalah Mortier, Bregun, Bren, dan Sten.

Selesai menembakkan senjatanya, tentara Belanda mulai masuk ke kampung untuk mencari para pejuang, penduduk laki-laki dewasa, dan terutama Lukas Kustaryo beserta pasukannya.Mereka berjalan sambil menembakkan senjata secara serabutan. Peluru banyak yang nyasar seperti: ke rumah-rumah penduduk, ke pohon-pohon yang ada di pekarangan, dan binatang peliharaan seperti domba, sapi, dan kerbau. Suara tumbangnya pohon dan berdesingnya peluru, menambah kepanikan penduduk Rawagede.Mereka menggeledah rumah-rumah penduduk untuk mencari para pejuang dan penduduk laki-laki dewasa. Bila ditemukan laki-laki dewasa, ia akan disuruh ke luar sambil tangan di atas kepala. Apabila melawan atau melarikan diri langsung tentara Belanda akan menembaknya hingga mati. Adapun mereka yang tertangkap dikumpulkan di pekarangan rumah atau di tempat yang cukup luas. Mereka disuruh berbaris menghadap ke belakang. Setelah itu satu per satu mereka ditembaki dengan jarak tembak hanya 3 meter.

Sebelum dilakukan penembakan, mereka ditanya satu per satu oleh tentara Belanda mengenai keberadaan para pejuang dan Lukas Kustaryo beserta pasukannya.Mereka tidak memberi tahu di mana para pejuang dan Lukas Kustaryo berada, semuanya melakukan gerakan tutup mulut.Tentara Belanda makin murka dan benci kepada penduduk atas jawaban tersebut.Untuk melampiaskan kebenciannya, akhirnya penduduk ditembak dengan sadis.Satu per satu disuruh baris kemudian setelah berkumpul sekitar 10-15 orang ditembaki oleh militer Belanda. Selain mencari laki-laki dewasa, tentara Belanda pun membakar rumah penduduk jika menemukan lambang-lambang Republik atau simbol-simbol dari badan kelasykaran. Rumah-rumah yang dibakar antara lain milik Lurah Suminta, Iyob Armada, Gouw Kim Wat (keturunan Cina), dan beberapa rumah lainnya.Selain masuk ke rumah-rumah penduduk, juga mencari ke kandang-kandang domba, semak/belukar, tepi-tepi sungai sambil membawa anjing pelacak.Dengan menggunakan anjing pelacak, banyak penduduk yang sedang bersembunyi tertangkap dan langsung dibawa ke tempat yang agak luas untuk kemudian dieksekusi dengan kejam.Ada juga yang langsung ditembak di tempat.

Tentara yang dikerahkan dalam aksi pembantaian berjumlah sekitar 300 orang dan diperkirakan serdadu-serdadu Belanda itu adalah mantan algojo-algojo yang telah membantai rakyat di Sulawesi Selatan dan ditempatkan di wilayah Cikampek dan Karawang. Oleh karena itu, dalam aksi pembantaian mereka sangat kejam, ganas, dan tidak berperikemanusiaan.Nyawa manusia diibaratkan seperti nyawa binatang yang tidak ada artinya bagi mereka.

Walaupun Desa Rawagede telah hancur, namun pihak Belanda masih kurang puas, karena sebagian pejuang terutama Lukas Kustaryo tidak berhasil dibunuh. Untuk mencari terus para pejuang dan Lukas Kustaryo, pihak Belanda mendatangkan lagi pasukannya sebanyak 9 truk. Dalam operasinya tentara Belanda mendapat bantuan dari orang-orang pribumi yang menjadi pengkhianat bangsa, dengan cara menunjukkan tempat-tempat persembunyian warga desa dan para pejuang, sehingga operasi ini berjalan dengan cepat.

Korban dalam peristiwa naas tersebut bukan hanya penduduk Rawagede saja, tetapi ada juga warga lain seperti penumpang Kereta Api jurusan Karawang-Rengasdengklok. Mereka tidak tahu di Rawagede sedang terjadi pembantaian yang dilakukan oleh tentara Belanda.Para penumpang terjebak di Stasiun Rawagede dan menjadi sasaran keganasan tentara Belanda. Mereka ditangkap dan dibariskan di jalan Kereta Api sambil disuruh jongkok, setelah itu langsung ditembak dengan senjata bregun. Mereka langsung roboh dan bergelimpangan di sepanjang jalan rel Kereta Api. Menurut saksi mata korban kebiadaban itu berjumlah 62 orang.

Keadaan di seluruh sudut Rawagede sejak penyerangan jam 04.00 subuh sampai malam hari, tidak seorangpun yang berani menampakkan diri untuk keluar rumah. Baru pada keesokan harinya setelah keadaan cukup aman masyarakat baru berani keluar dan melihat banyak mayat bergelimpangan dimana-mana, di jalan, di halaman rumah, sawah dan yang terbanyak terdapat di sungai.Pada saat itu sungai dalam keadaan banjir.Ratap tangis dan jerit histeris memecah keheningan pagi.Dengan peralatan dan tenaga seadanya mereka mengurus dan menguburkan jenazah-jenazah tersebut.Semua hanya dilakukan oleh para perempuan.Menurut perkiraan jumlah mayat yang dikuburkan pada saat itu sekitar 431 orang, termasuk orang-orang yang tidak dikenal identitasnya.

B. Penutup
Penantian panjang para keluarga korban pembantaian Rawagede sejak tahun 2008 akhirnya dapat terwujud, karena pertengahan September 2011, tepatnya pada 14 September 2011, pengadilan sipil Den Haag telah menjatuhkan vonis pada negara Belanda untuk bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh keluarga korban pembantaian di Rawagede dengan membantai 430 warga Rawagede. Dengan putusan ini, Pemerintah Belanda diwajibkan untuk memberikan kompensasi terhadap keluarga korban dan meminta maaf secara resmi atas peristiwa tersebut, untuk itu negara harus membayar ganti rugi kepada tujuh janda korban.
Sidang ini dipimpin oleh D.A. Schreuder dan memenangkan tuntutan sembilan orang keluarga korban tragedi Rawagede.Sebelumnya, kasus ini selalu kandas dengan alasan bahwa perkaranya sudah kadaluwarsa untuk disidangkan. Hal ini dikarenakan dalam hukum Belanda, korban perang yang menuntut haknya harus dalam jangka waktu tertentu (lima tahun setelah kejadian) untuk bisa memulai proses perdata. Jika tidak, kasus tersebut dianggap kedaluwarsa atau tidak layak diperkarakan.Namun kali ini pengadilan menetapkan pengecualian demi alasan keadilan.

Upaya mencari keadilan ini didampingi oleh Liesbeth Zegveld, seorang pengacara dan guru besar Hukum Humaniter Internasional serta penggagas Yayasan Belanda Nuhanovic Foundation. Perjuangan mereka mendapatkan hasil dengan putusan bahwa Pemerintah Belanda akan melakukan permintaan maaf secara terbuka pada 9 Desember 2011 dan adanya kompensasi dana sebesar USD27 ribu atau sekira Rp244 juta. Permintaan maaf tersebut diwakili oleh Tjeerd de Zwaan, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, yang akan dilakukan dihadapan para keluarga korban di Rawagede. Berdasarkan data yang diperoleh, ada enam orang yang akan mendapatkan kompensasi dari negara Belanda, yaitu Cawi, Wanti Sariman, Taslem, Ener, Bijey, dan Ita. Kementerian Luar Negeri Belanda melaporkan bahwa negara Belanda bersedia memenuhi tuntutan keluarga korban peristiwa pertumpahan darah di Rawagede tahun 1947.

Hakim pengadilan Belanda memutuskan jumlah ganti rugi adalah 20.000 euro sekitar 240 juta rupiah untuk masing-masing ahli waris korban. Keluarga korban yang kini menerima kompensasi adalah delapan orang janda dan seorang anak dari keluarga korban, yaitu Tasmin bin Saih putra dari Saih bin Sakam satu-satunya korban selamat Rawagede yang meninggal Mei 2011. Ketika terjadi peristiwa Rawagede, Saih bin Sakam pada waktu itu dalam kondisi tergeletak dan bersimbah darah, karena itulah Belanda mengira ia telah mati. Tasmin sendiri tidak mengalami kekejaman tentara Belanda di Rawagede, karena saat itu ia belum lahir. Namun demikian Tasmin merupakan salah satu yang hadir ketika pembacaan pleidoi di Gedung Pengadilan Den Haag 20 Juni 2011.Pleidoi Komite Utang Kehormatan Belanda saat itu menuntut tanggung jawab Pemerintah Belanda terhadap pembantaian dan penculikan penduduk Rawagede.

Sebanyak enam janda korban tragedi Rawagede menerima kompensasi dari pemerintah Belanda.Pemberian kompensasi dilakukan secara simbolik di Monumen Perjuangan Rawagede, di Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat.Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan, dan pengacara dari ahli waris korban, Liesbeth Zegveld, menghadiri pemberian kompensasi ini.Pada tahun 2008 janda korban tragedi Rawagede 9 orang dan pada tahun 2011 tinggal 6 orang lagi.Adapun mengenai jumlah korban terjadi perbedaan pendapat, menurut versi Indonesia jumlah korban adalah 431 orang, sementara pemerintah Belanda mengatakan korbannya 150 orang.

Sumber: Makalah disampaikan pada acara Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan, Karawang 2016.

Kesenian Jaipong : Antara Karawang – Bandung

Oleh Rosyadi

Pendahuluan
Masyarakat Sunda memiliki khasanah seni budaya yang amat kaya dan beragam. Kreativitas seniman tradisional Sunda telah menciptakan berbagai jenis kesenian tradisional yang mampu mengangkat kebudayaan Sunda. Satu di antaranya adalah kesenian jaipong. 

Jaipong termasuk ke dalam genre seni tari yang mengutamakan keindahan gerak tubuh. Seni tari merupakan gerak-gerak yang memiliki unsur keindahan, di dalamnya memiliki pola-pola gerak khusus sesuai dengan masing-masing tariannya. Yang membedakan gerakan-gerakan tari dengan gerak-gerak tubuh lain pada umumnya adalah terletak pada pola-pola, unsur keindahan, dan ekspresi. Royce (2007:4) menjelaskan, bahwa dasar semua definisi tari adalah anggitan ritme atau gerak yang terpola. Definisi ini belum cukup untuk membedakan gerak tari dari berbagai aktivitas ritmis yang lain, seperti olah raga, baris berbaris,dan aktivitas gerak lainnya. Dalam hal ini, Murgiyanto (2002:10) menambahkan, bahwa gerak dalam sebuah tarian harus ekspresif atau mengungkapkan sesuatu. Jadi, gerak tari itu ditandai dengan sebuah ekspresi yang lebih daripada gerak biasanya. 

Seni tari sudah sejak jaman dulu dikenal oleh masyarakat Sunda. Kesenian ronggeng, doger dan ketuk tilu, misalnya, merupakan jenis-jenis kesenian tradisional masyarakat Sunda yang sudah ada sejak jaman dulu. Dalam khasanah seni pertunjukan, ronggeng, doger dan ketuk tilu termasuk ke dalam genre seni tari yang dalam setiap pertunjukan sangat menonjolkan unsur-unsur gerak ritmis diiringi hentakan musik gamelan. Penarinya adalah satu atau beberapa perempuan yang sudah dilatih secara khusus dengan gerakan-gerakan tubuh yang lemah gemulai. 

Mengenai penamaan jaipong, Soepandi, (1998:49) menjelaskan bahwa penamaan jaipong berasal dari masyarakat Karawang. Jaipong pada mulanya sebagai istilah kepada bunyi-bunyi (onomotofe) kendang iringan tari rakyat yang menurut mereka berbunyi/jaipong/, jaipong/. Tepak kendang jaipong yang pada mulanya sebagai iringan tari pergaulan ini, dalam bajidoran di daerah Subang dan Karawang selanjutnya dijadikan nama jenis tari pergaulan kreasi baru, yaitu jaipong. Tepak atau bunyi kendang tersebut merupakan asal-muasal lahirnya sebutan tari jaipong.

Jaipong : Antara Karawang – Bandung
Belakangan ini terdapat polemik mengenai asal usul kesenian jaipong; dari mana asal usul kesenian jaipong dan siapakah penciptanya. Berbicara tentang asal usul kesenian jaipong, tidak dapat dilepaskan dari dua orang maestro seniman besar Sunda, yaitu H. Suwanda dan Gugum Gumbira. 

H. Suwanda adalah seorang seniman dari Karawang yang memiliki keahlian dalam memainkan gendang. Melalui tangan dinginnya pula lahir kesenian jaipong, seperti yang dituturkan kepada penulis ketika ditemui di kediamannya yang beralamat di Kampung Karangsambung RT.06/05 Kelurahan Tanjung Mekar, Kecamatan Karawang Barat - Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

“Jaipong adalah asli ciptaan saya yang diciptakan pada tahun 1976 di padepokan ini (Padepokan Suwanda Group). Ketika itu saya masih cerdas, saya coba meramu dari tepak-tepak gendang ketuk tilu, wayang, kendang penca (pendak silat), doger, banjet, dan bahkan tarling. Semua kesenian itu saya ramu yang kemudian melahirkan seni jaipong. Ketika itu hasil-hasil karya saya sudah mulai direkam, tapi dengan cara yang sederhana karena terbentur faktor ketiadaan modal. Tapi Alhamdulillah hasil ciptaan saya itu diterima baik oleh masyarakat, sehingga semenjak saat itu Karawang “geunjleung” (santer) dengan kesenian jaipongnya. Hampir pada setiap hajatan selalu ditampilkan kesenian jaipong.

Tahun 1976 saya ditarik ke Bandung oleh Gugum Gumbira untuk bergabung dengan group Jugala yang dipimpin oleh Gugum Gumbira. Di Jugala Group, saya menjadi pemukul gendang sekaligus peñata karawitannya. Gugum Gumbira sendiri sangat mengapresiasi kemampuan saya dalam memainkan gendang, sehingga dengan keahliannya dalam bidang koreografi, Gugum Gumbira menciptakan beberapa tarian jaipong. Akhirnya kerjasama saya dengan Gugum Gumbira mampu mengangkat jaipong menjadi kesenian Sunda yang sangat popular, bukan hanya di dalam negeri, melainkan telah memancanegara…..” Demikian penuturan H. Suwanda.

Jaipong lahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H Suwanda sekitar tahun 1976 di Karawang. Jaipong merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi Karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain. Jaipong di Karawang pesat pertumbuhannya, ditandai dengan munculnya rekaman Jaipong SUANDA GROUP dengan instrumen sederhana yang terdiri dari kendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih. Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut, jaipong mulai didistribusikan secara swadaya oleh H Suwanda di wilayah Karawang dan sekitarnya. Ternyata jaipong mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat Karawang, sehingga jaipong menjadi sarana hiburan masyarakat Karawang dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari segenap masyarakat Karawang. Jaipong pun menjadi fenomena baru dalam ruang seni budaya Karawang, khususnya seni pertunjukan hiburan rakyat. Posisi jaipong pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan alternatif dari seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di Karawang seperti penca silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek. Keberadaan jaipong memberikan warna dan corak yang baru dan berbeda dalam bentuk pengemasannya, mulai dari penataan pada komposisi musikalnya hingga dalam bentuk komposisi tariannya.

Seorang seniman Sunda lainnya yang juga berperan besar dalam proses penciptaan kesenian jaipong adalah Gugum Gumbira. Ia adalah pimpinan sebuah grup kesenian Sunda di Bandung yang diberi nama JUGALA GRUP. Jugala adalah akronim dari Juara dalam Gaya dan Lagu. Kecintaannya pada seni tari, telah melambungkan Gugum Gumbira menjadi seorang seniman besar tari yang telah melahirkan karya-karya besar. Jaipong adalah salah satu di antara hasil karyanya. 

Gugum sangat tertarik dengan kemampuan Suwanda dalam memukul gendangnya yang enerjik, dinamis, dan khas. Gugum Gumbira pun akhirnya merekrut Suwanda ke dalam grup jaipong yang dipimpinnya. Bergabungnya Suwanda ke Jugala Grup semakin mendorong Gugum Gumbira untuk menciptakan tarian-tarian kreasi baru yang diolah dari tari-tari tradisional. Tarian karya Gugum Gumbira pada awal munculnya disebut “ketuk tilu perkembangan”, karena memang dasar tarian itu merupakan pengembangan dari ketuk tilu.

Karya awal Gugum Gumbira itu masih sangat kental dengan warna ibing ketuk tilu, baik dari segi koreografis maupun iringannya. Kemudian, tarian itu menjadi populer dengan sebutan jaipong. Kurnia, (2003:12) menjelaskan bahwa Jaipong adalah seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Ia terinspirasi pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah ketuk tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada kliningan atau bajidoran atau ketuk tilu. Sehingga ia dapat mengembangkan tarian atau kesenian yang kini di kenal dengan nama Jaipong. Tari kreasi baru ini diciptakan dan dikembangkan oleh Gugum Gumbira Akhirnya membudaya di Jawa Barat dan di seluruh Indonesia.

Karya jaipong pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari daun pulus keser bojong dan rendeng bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Awal kemunculan tarian tersebut semula dianggap sebagai gerakan yang erotis dan vulgar, namun semakin lama tari ini semakin popular dan mulai meningkat frekuensi pertunjukannya baik di media televisi, hajatan, maupun perayaan-perayaan yang disenggalarakan oleh pemerintah atau oleh pihak swasta.

Pada tahun 1979 jaipong mengalami proses transformasi dan penataan (stilisasi), baik dalam pola tepak gendang maupun dalam ibing (tarian), juga dalam penciptaan komposisi tembang (lagu). Melalui tangan dingin seorang seniman asal Bandung, yaitu Gugum Gumbira, maka mulai saat itu jaipong yang terlahir di Karawang dibesarkan dalam khasanah kemasan seni yang mutakhir dan lebih modern. Semua bentuk dan model tepak gendang disusun dan diberikan pola yang lebih terstruktur yang kemudian diurai dan dituangkan ke dalam beberapa komposisi lagu yang sesuai dengan tuntutan pasar (commercial). Maka muncullah pada saat itu di Kota Bandung grup kesenian jaipong yang melegenda, yaitu JUGALA (Juara dalam gaya dan Lagu) dengan tembang hitsnya seperti “Daun Pulus Keser Bojong”, “Serat Salira”, “Randa Ngora” dan banyak lagi. 

Komposisi yang dibawakan oleh Jugala berbeda dengan komposisi awal yang dimainkan oleh Suwanda Grup selaku pelopor dari lahirnya musik jaipong di Karawang, meskipun Suwanda sendiri terlibat di dalamnya sebagai penabuh gendang. Ini disebabkan Suwanda memainkan gendang berdasarkan pada pola yang sudah disusun secara cermat oleh komposernya, yaitu Gugum Gumbira. Gaya dari bentuk elemen jaipong serta kualitas dan ekspresinya dikemas dalam pola-pola yang terbarukan, sehingga sosok jaipong seolah terlahir kembali dengan balutan gaya modern. 

Puncaknya, pada tahun 1984, Suwanda bersama Jugala Grup melanglang buana ke Jerman Barat. Seperti pernyataan yang terdapat di dalam dokumen Asep Saepudin (2007:25), bahwa: Suwanda bersama Jugala melanglang buana ke Jerman Barat. Bagi Suwanda, saat melanglang buana ke Jerman, merupakan pengalaman yang paling berkesan dalam menjalani hidupnya sebagai seniman. “Saya bersama rombongan manggung di beberapa kota di Jerman,” ungkap Suwanda tanpa menyebutkan nama kotanya. Ternyata orang luar negeri sangat menghargai kesenian kita. Mereka sangat antusias, ada beberapa di antaranya, ketika musik melantun turut serta ngibing, meskipun tidak sesuai dengan irama gendang.

Jaipong sebagai Seni Pertunjukan Rakyat
Jaipong adalah salah satu kesenian tradisional Sunda yang termasuk ke dalam jenis seni pertunjukan rakyat. Sayutini (2012:20) memaparkan bahwa seni pertunjukan rakyat merupakan sebuah bentuk kegiatan seni yang dipentaskan dalam bentuk tarian atau pertunjukan musik yang ditujukan kepada masyarakat. Dalam seni pertunjukan rakyat ada yang dinamakan aksi dan reaksi. Aksi berarti sebuah penampilan atau pertunjukan kesenian, baik itu tari-tarian maupun pertunjukan musik dengan segala teknik-tekniknya untuk mendapatkan respon dari orang yang menyaksikannya. Sedangkan reaksi adalah respon atau akibat dari aksi yang dipertunjukkan oleh seniman dalam panggung seni. Reaksi dapat berupa senyuman, tawa, canda, maupun tepuk tangan dari penonton ketika melihat sebuah pertunjukan seni. 

Gerak-gerak tarian jaipong dengan gerak tubuh yang menghibur dimaknai sebagai sebuah pesan atau komunikasi oleh para penontonnya. Penonton, sebagai komunikan, memaknai gerak-gerak tubuh penari sesuai dengan persepsinya masing-masing, sehingga antara seniman (komunikator) dan penontonnya (komunikan) terjadi interaksi atau hubungan timbal balik di antara keduanya dalam sebuah pertunjukan seni.

Dalam seni pertunjukan jaipong, komunikasi antara penari dengan penonton terjalin dengan erat. Penonton dapat pula terlibat secara aktif dalam seni pertunjukan Jaipong. Soedarsono (2002:58) menjelaskan, bahwa biasanya di Indonesia bentuk pertunjukan yang berfungsi sebagai sarana hiburan pribadi disajikan oleh wanita, dan yang ingin mendapatkan hiburan adalah pria yang bisa menari bersama penari wanita tersebut.

Sang penari laki-laki dari kalangan penonton dikenal dengan sebutan “bajidor”. Dalam seni pertunjukan Jaipong, penari laki-laki yang berasal dari kalangan penikmatnya (“bajidor”) tidak dituntut untuk menari sama persis dengan penari wanitanya; Tidak ada aturan ketat bagi penari laki-laki yang ikut menari bersama penari wanitanya. Sang penari laki-laki dapat menari sesuka hati sesuai kemampuannya, mengikuti iringan tepukan gendang yang dominan dalam pertunjukan seni jaipong. Artinya, ada keleluasaan bagi penari laki-laki untuk mengekspresikan tariannya. Hal ini menjadikan keunikan tersendiri dari seni pertunjukan jaipong yang berfungsi sebagai sarana hiburan pribadi, yang mampu menciptakan suasana kebersamaan, keakraban, dan kegembiraan. Lain halnya dengan penari wanita, yang merupakan seniman di atas pentas yang wajib memperagakan tariannya sesuai dengan pola-pola latihan yang ditekuninya.

Perkembangan Kesenian Jaipong
Era modernisasi dan globalisasi membawa dua sisi dampak bagi keberadaan kesenian-kesenian tradisional. Di satu sisi, modernisasi dan kemajuan iptek membawa dampak negatif bagi keberadaan kesenian tradisional. Berbagai jenis kesenian tradisional yang pada masanya dulu sempat “berjaya”, seiring dengan semakin derasnya arus kebudayaan dan kesenian asing, eksistensi kesenian tradisional pun menjadi terancam. Ia mulai terpinggirkan dan tersisihkan oleh kehadiran kesenian-kesenian baru yang belum tentu sesuai dengan nafas budaya bangsa kita. Tidak jarang pula terjadi proses “pendangkalan” terhadap kesenian-kesenian tradisional. Padahal sesungguhnya ekspresi kesenian yang merupakan bagian integral dari kesenian itu sendiri telah sering kali membanggakan kita ketika bangsa lain di dunia mengaguminya. 

Kondisi ini banyak dialami oleh kesenian-kesenian tradisional, sehingga tidak jarang kesenian-kesenian tradisional, khususnya yang ada di daerah-daerah kini tengah mengalami krisis, bahkan ada beberapa di antaranya yang sudah mulai punah. Sebaliknya, jenis-jenis kesenian yang berkembang dan banyak diminati oleh masyarakat adalah justru kesenian-kesenian yang telah mengalami “proses pendangkalan”, dan mengikuti selera pasar.

Di sisi lain, modernisasi dan kemajuan iptek mampu mendukung perkembangan kesenian tradisional. Berbagai bentuk kesenian baru dan kontemporer bermunculan. Kreativitas para seniman pun semakin dipacu untuk menciptakan bentuk-bentuk kreasi seni yang baru. Bentuk-bentuk kreasi seni yang baru ini merupakan hasil karya cipta kreatif dari para seniman dalam mengkolaborasi jenis-jenis kesenian tradisional dengan kesenian baru, ataupun pengembangan kesenian-kesenian tradisional yang diolah dengan media teknologi, sehingga menghasilkan bentuk kesenian baru tanpa menghilangkan unsur dasar dari kesenian tradisional itu sendiri. 

Demikian pula kesenian tari jaipong tergolong ke dalam jenis kesenian hasil kreasi seniman yang mampu mengemas unsur-unsur tradisi ke dalam sebuah suguhan pertunjukan yang menarik. Hal ini membuat kesenian jaipong mampu mengikuti perkembangan zaman di tengah-tengah terpaan arus seni modern. Dalam konteks ini, Enoch Atmadibrata dalam sebuah makalahnya (1992: 3), menjelaskan bahwa tidak semua yang datang dari luar itu jelek serta tidak semuanya akulturasi itu membunuh kultur asli/pribumi, bila ia secara baik terjaring dan tersaring. Dalam hal ini diperlukan ketahanan budaya dari masyarakatnya, seniman atau budayawan itu sendiri. Ketahanan budaya ini dapat terjadi berkat kehandalan para tokoh budaya atau seniman serta lembaga-lembaga kebudayaannya. 

Munculnya tari jaipong pun telah mampu membuka peluang usaha baru bagi para penggiat seni tari khususnya, dengan membuka lembaga-lembaga kursus tari jaipong. Jaipong pun telah dimanfaatkan oleh para pengusaha hotel dan pub sebagai pemikat datangnya para tamu. Peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat seni tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari, Padepokan, atau grup-grup di beberapa daerah di wilayah Jawa Barat.

Dewasa ini tari Jaipong boleh disebut sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat. Hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat seringkali disambut dengan pertunjukan tari Jaipong. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari jaipong.

D. PENUTUP
Selama ini terdapat polemik perihal asal usul siapa pencipta, dan di mana kesenian jaipong dilahirkan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kesenian jaipong yang menjadi salah satu kesenian unggulan masyarakat Sunda tercipta sebagai buah karya dua orang seniman besar Sunda, yaitu H. Suwanda dan Gugum Gumbira. Kedua orang ini memiliki keahlian yang berbeda, yaitu Suwanda, seoang juru kendang, dan Gugum Gumbira, seorang koreografer. Suwanda, melalui keahlian memainkan gendangnya telah menciptakan tepak kendang dalam wanda jaipong. Sedangkan gugum Gumbira degan keahlian koreografernya menciptakan gerakan-gerakan tari jaipong, sekaligus lagu-lagu yang mengiringinya. Kedua orang dengan dua latar belakang keahliah ini berkolaborasi dan mampu menciptakan sebuah bentuk seni yang termasuk ke dalam genre seni tari, dan dikenal dengan kesenian jaipong. 

Jaipong adalah salah satu dari sekian banyak kesenian tradisioal Sunda, yang memiliki daya tahan dan daya saing cukup tangguh. Di saat kesenian tradisional lain mengalami degradasi, kesenian jaipong tetap bisa bertahan, bahkan berkembang. 

Bila dibandingkan dengan pada awal kelahirannya, penyajian kesenian jaipong telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada awalnya musik pengiring kesenian Jaipong sangatlah sederhana. Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian jaipong ini mengalami penataan yang lebih menyempurnakan penampilannya, baik dari segi kostum penari, gerak tari, maupun musik pengiringnya (waditranya). Demikian pula lagu-lagunya mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dewasa ini kesenian jaipong tersebar, bukan hanya di Jawa Barat, melainkan telah menasional, bahkan telah dikenal di beberapa negara. 

Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, berikut kami sampaikan beberapa saran. Pertama, eksistensi kesenian jaipong di kalangan masyarakat Sunda di Jawa Barat tidaklah terlalu mengkhawatirkan, karena kesenian ini hingga kini masih tetap hidup dan berkembang serta diminati oleh masyarakat luas. Namun ini tidak berarti bahwa kesenian ini lepas dari perhatian pemerintah ataupun para stakeholder. Upaya-upaya pembinaan, sosialisasi, dan regenerasi tetap harus dilakukan, karena bila tidak, niscaya kesenian ini akan mengalami nasib yang sama dengan beberapa jenis kesenian tradisional lain yang kini kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tidak kalah pentingnya adalah kreativitas dan peran serta para seniman dan lembaga-lembaga seni yang berkiprah dalam kesenian tradisional dalam mengembangkan kesenian jaipong ini. 

Kedua, adanya perbedaan pendapat mengenai asal-usul kesenian jaipong perlu disikapi dengan arif. Apa pun pendapat masyarakat atau seniman mengenai asal usul kesenian ini adalah sah sah saja, karena memang hingga kini belum ada bukti-bukti otentik dan empiris mengenai asal-usul kesenian ini. Adanya perbedaan pendapat ini perlu ditindaklanjuti dengan kajian-kajian yang mendalam mengenai sejarah asal usul kesenian jaipong yang didukung dengan data-data yang sahih dan otentik.
Ketiga, perlu upaya-upaya untuk lebih mengangkat lagi popularitas kesenian jaipong ke tingkat nasional, bahkan didaftarkan ke UNESCO sebagai kekayaan budaya milik bangsa Indonesia.

***

DAFTAR PUSTAKA
Tesis, Skripsi
Nur Sayutini, A, 2012. “Proses Belajar Tari Jaipong Di Suwanda Group Desa Tanjung Mekar Kabupaten Karawang”. Skripsi Universitas Pendidikan Indonesia.

Makalah
Atmadibrata, E. “Pola Pembinaan dan Pengembangan Kesenian daerah Jawa Barat”. Makalah disampaikan pada Pekan Kebudayaan Daerah Jawa Barat tahun 1992.
Buku
Kurnia, G., Arthur S. Nalan. 2003. Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Bandung. Dinas Kebudayaan Pariwisata Jawa Barat & Pusat Dinamika Pembangunan UNPAD.
Murgiyanto, Sal. 2002. Kritik Tari Bekal & Kemampuan Dasar. Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Royce, Anya Peterson. 2007. Antropologi Tari. Bandung: Sunan Ambu Press.
Saepudin, A. 2007. Aktivitas H. Suwanda Dalam Penciptaan Pola-Pola Tepak Kendang Jaipong. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia.
Soedarsono, RM. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia Di Era lobalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soepandi, A. 1998. Ragam Cipta Mengenal Seni Pertunjukan Jawa Barat. Bandung: Beringin Sakti.

Gunung Padang Perubahan dari Pranata Religi Menjadi Pranata Estetika

Oleh: Nandang Rusnandar
1
Berbicara mengenai Gunung Padang, tak lepas dari riuh rendah kontroversi yang terjadi belakangan ini. Namun, penulis tidak akan ikut terlibat dalam riuh rendah tersebut. Penulis mencoba melihat bahwa ada perubahan besar yang terjadi. 

Posisi Gunung Padang berada antara Kampung Gunungpadang dan Kampung Cipanggulaan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, letaknya sekitar 50 Km di sebelah barat daya Cianjur. 

Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom. Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie). N.J. Krom hanya menyebutkan bahwa situs ini diperkirakannya sebagai sebuah kuburan purbakala. 

Peninggalan tradisi megalitik yang ditemukan kembali pada tahun 1979 oleh Bapak Endi, Bapak Soma dan Bapak Abidin, kemudian dilaporkan kepada Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Cianjur R. Adang Suwanda. Pada waktu itu, situs megalit ini dikenal oleh penduduk dengan nama “Goenoeng Manik Lampegan“. Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam secara arkeologis.

Baru kemudian setelah penemuan ketiga, D.D. Binarti mengadakan penelitian di daerah tersebut. Dan pada tahun 1980 penelitian dilanjutkan yang dipimpin oleh R.P. Soejono. Sedangkan penelitian yang lebih intensif dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung yang diketuai oleh Drs. Lutfi Yondri. 

N.J.Krom di awal penemuannya pernah menulis, bahwa bangunan berundak yang ditemukannya merupakan bangunan yang tertutup oleh semak belukar dan hutan. Hal ini pun diutarakan pula oleh beberapa informan, bahwa pada tahun 1979, bukit yang sekarang disebut Gunung Padang itu merupakan hutan yang sangat angker ditumbuhi oleh pohon-pohon yang besar sehingga menutupi area bagian atasnya.
Gunung Padang sebagai punden berundak berukuran sangat besar, bahkan sekarang diklaim 10 kali besarnya dari Candi Borobudur. Penelitian pada tahun 1982 yang dilaksanakan oleh Puslit Arkenas, merupakaan awal penelitian dari penelitian-penelitian selanjutnya, penelitian dilaksanakan dengan melakukan ekskavasi di beberapa tempat dengan membuat lubang uji untuk mengumpulkan data dari dalam tanah, membuat gambar situasi atau pemetaan, dan membuat pendokumentasian atau penggambaran dan deskripsi dengan lengkap. Penelitian ini diketuai oleh Joyce Ratna Indraningsih Panggabean yang didampingi oleh arkeolog senior seperti R.P. Soejono, Hasan Muarif Ambary (Sukendar, 1985: 1).

Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs ini bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh NJ. Krom (1914), tetapi merupakan sebuah tempat peribadatan. Situs Gunung Padang dipakai untuk tempat peribadatan dengan orientasi sang penguasa Gunung Gede dibuktikan oleh kelima teras selalu diarahkan ke Gunung Gede yang posisinya berada pada arah azimut rata-rata 336,40 ° UT.

Bahkan dengan penemuan terakhir yang digawangi oleh Ali Akbar dkk, situs Gunung Padang setiap undaknya memiliki tingkatan waktu atau budaya yang berbeda-beda. Apabila benar bahwa Gunung Padang dibentuk dalam punden yang memiliki umur dan budaya yang berbeda-beda, hal ini, identik dengan kuil bangsa Sumeria sekitar 2900 SM, di dalam kuilnya tersimpan dewa pelindung kota. Bangunan bangsa Sumeria terbuat dari batu lumpur. Kuil-kuil baru biasanya dibangun di lokasi kuil lama dan hal ini berangsur-angsur menjadi bangunan berbentuk piramida bertingkat yang disebut Zig-gurat. Altar terletak di puncak kuil. (Huey Khey, 2013: 7)

2
Walaupun pada awal penemuannya, Situs Gunung Padang dianggap sebagai kuburan manusia suci orangnya sangat tinggi besar. Jasad mayat nenek moyang di simpan di atas bukit, kemudian ditutupi dengan entepan batu seolah-olah merupakan penutup agar jasadnya aman tersimpan di dalamnya. Sehingga di Gunung Padang di dalamnya sekarang merupakan sebuah rongga. Namun kemudian para ahli menyatakan bahwa situs Gunung Padang akhirnya dianggap sebagai tempat beribadah. Hal ini dinyatakan bahwa setiap teras yang ada merupakan tingkatan tempat beribadah.

Situs ini ditengarai sebagai sebuah bentuk arsitektur sebagai media yang menyediakan tempat pertemuan antara manusia dengan sesuatu yang dianggap memiliki energi yang lebih (Tuhan). Seperti teras pertama ditengarai tempat pertemuan antara rakyat dengan para penguasa; teras kedua, ruang khusus pertemuan para penguasa yang saling berinteraksi; teras ketiga, tempat para penguasa dengan para resi; teras keempat tempat para resi yang lebih tinggi, dan teras kelima tempat bersemedinya para raja untuk diuji dalam kekuatan spiritnya. Seperti apa yang diutarakan oleh responden:

3
Dalam persoalan pemaknaan Situs Gunung Padang dewasa ini telah bergeser. Pada awal ditemukannya, situs ini merupakan kuburan purba yang kemudian setelah banyak peneliti, maka pemaknaan situs ini berubah menjadi tempat peribadatan. 

Penemuan Situs Gunung Padang yang unik ini, menjadi pusat perhatian nasional dan internsional yang ditunjang dengan adanya pendapat bahwa pusat atlantis (benua yang hilang) pusatnya Indonesia. Kenyataan itu berpengaruh pada pariwisata, yang menyedot wisatawan nusantara untuk datang ke lokasi. Sehingga pariwisata menjadi andalan untuk menarik PAD Kabupaten Cianjur. Memang tidak dapat dihindari bahwa pariwisata akana menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap masyarakat sekitar Gunung Padang.

Dalam dasawarsa terakhir, pariwisata dijadikan tulang punggung perekonomian regional, dominasi sektor pariwisata dapat dilihat dari besarnya perhatian pemerintah dan pengusaha dalam kegiatan kepariwisataan di Cianjur.

Dalam upaya menghadapi wisatawan yang datang dan berkunjung ke Situs Gunung Padang, perlu penataan yang baik, seperti (a) masyarakat lokal agar diberikan pendidikan, pemahaman, dan apresiasi terhadap budaya yang dibawa oleh wisatawan; (b) demikian juga sebaliknya, wisatawan harus diberikan informasi tentang Situs Gunung Padang; (c) wisatawan yang berkunjung ke Situs Gunung Padang perlu dibatasi dan dimonitor.

4
Dipandang dari sudut religi Situs Gunung Padang adalah bangunan suci tempat peribadatan. Dipandang dari sudut estetika Situs Gunung Padang sebagai karya arsitektur yang megah dengan memiliki lima teras yang mengacu pada konsep tertentu. Hal itu dapat dilihat bahwa dalam penataan teras itu terkandung makna simbolik tertentu. Menurut Henry Maclaine Pont (1924) karya arsitektur selain harus dipandang bentuk dan fungsinya juga hubungan antara bangunan dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud di sini bukan hanya fisik, melainkan juga kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Perubahan pemaknaan terhadap Situs Gunung Padang ini bisa merupakan perubahan sistem, dimana pada mulanya Situs Gunung Padang sebagai tempat kuburan kuno, kemudian sebagai tempat peribadatan, dan kini sebagai tempat yang memiliki sisi keindahan (estetika) yang menjadi pusat pariwisata. Perubahan ini karena adanya perubahan peranan pemerintah dan masyarakat.

Pemaknaan Situs Gunung Padang dewasa ini banyak mengalami perubahan, meskipun masyarakat masih memiliki nilai-nilai kesakralan dan nilai-nilai luhur yang ditujukan kepada para arwah leluhur baik oleh masyarakat sekitar maupun pengunjung. 

Kini sektor pariwisata menjadi andalan yang menyebabkan perubahan pemaknaannya. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana melestarikan Situs Gunung Padang sesuai dengan keilmuan yang berguna bagi masyarakat umum dan masyarakat ilmuwan?.

Pustaka
Akbar. Ali. 2013. Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi.Jakarta:Change Publication.
Huey Khey, 2013. Peradaban Asia, dari Zaman Kuno Hingga 1800 M. Gramedia. Jakarta.
Sukendar, Haris. 1985. Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur Jawa Barat. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Yondri. Lutfi.Drs. Punden Berundak Gunung Padang: “Mahakarya Yang Mengandung Legenda”. Makalah Tanpa Tahun.
https://indocropcircles.wordpress.com/2011/12/24/misteri-megalit-gunung-padang-jabar-stone-henge-versi-indonesia/. Diunduh pada tanggaln 03092016 Pukul 14.00.
Wawancara pribadi dengan Sopandi (79) Selakopi RT 3 RW13 Kel Pamoyanan Cianjur.

Sumber:
Makalah disampaikan pada acara Dialog Budaya di Cianjur Pada tanggal 8 September 2016, kerjasama antara Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur.

Nandang Rusnandar adalah Peneliti Madya Pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat.

Batu Prasasti Ditemukan di Rumah Warga Bandung

Bandung (ANTARA News) - Sebuah batu prasasti yang bertuliskan huruf kuno yang diduga benda purbalaka ditemukan di rumah seorang kakek bernama Oong Rusmana (62), warga Cimaung RT07 RW07 Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat.

"Kalau dilihat dari tulisannya, itu memang tulisan kuno yang terdapat dalam batu prasasti," kata Kasie Kepurbakalaan Dibudpar Jabar Romlah, ketika dihubungi melalui telepon selularnya, Selasa.

Ia menjelaskan, batu prasasti tersebut ditemukan di halaman rumah Oong Rusmana yang menyatu dengan sebuah pohon.

Menurutnya, Selasa pagi tadi pihaknya beserta tim Peneliti dari Balai Arkeolog Bandung Drs Lutfi Yondri dan Tim Peneliti Madya di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung Nandang Rusnandar, sudah mengecek langsung batu prasasti tersebut di rumah Oong Rusmana.

Menurutnya, batu prasasti tersebut memiliki panjang sekitar 1,8 meter dan terdapat dua baris tulisan huruf kuno.

Ia menuturkan, berdasarkan penyelidikan sementara Tim Peneliti Madya di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Nandang Rusnandar, yang terdapat dalam batu prasasti tersebut jika diartikan ke dalam tulisan latin kurang lebih seperti tulisan ""Ung ga l ja ga t, jal ma h dha p".

Tulisan dua baris yang terdapat dalam prasasti tersebut sangat rapih dan rata dengan rincian panjang tulisan pertama ialah 15 cm, kedua 20 cm serta tinggi huruf 3,5 cm dan 2,5 cm.

"Kalau hasil sementara dario Pak Nandang dari Tim Peneliti Madya Balai Pelestarian Sejarah, tulisan dalam prasasti tersebut memiliki arti seperti `setiap manusia dimuka bumi akan mengalami sesuatu, ini semacam prediksi untuk tidak melakukan sesuatu`, tapi ini harus diteliti lebih lanjut," katanya. (ANT/S026)

Popular Posts