WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Gunung Padang Perubahan dari Pranata Religi Menjadi Pranata Estetika

Oleh: Nandang Rusnandar
1
Berbicara mengenai Gunung Padang, tak lepas dari riuh rendah kontroversi yang terjadi belakangan ini. Namun, penulis tidak akan ikut terlibat dalam riuh rendah tersebut. Penulis mencoba melihat bahwa ada perubahan besar yang terjadi. 

Posisi Gunung Padang berada antara Kampung Gunungpadang dan Kampung Cipanggulaan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, letaknya sekitar 50 Km di sebelah barat daya Cianjur. 

Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom. Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie). N.J. Krom hanya menyebutkan bahwa situs ini diperkirakannya sebagai sebuah kuburan purbakala. 

Peninggalan tradisi megalitik yang ditemukan kembali pada tahun 1979 oleh Bapak Endi, Bapak Soma dan Bapak Abidin, kemudian dilaporkan kepada Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Cianjur R. Adang Suwanda. Pada waktu itu, situs megalit ini dikenal oleh penduduk dengan nama “Goenoeng Manik Lampegan“. Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam secara arkeologis.

Baru kemudian setelah penemuan ketiga, D.D. Binarti mengadakan penelitian di daerah tersebut. Dan pada tahun 1980 penelitian dilanjutkan yang dipimpin oleh R.P. Soejono. Sedangkan penelitian yang lebih intensif dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung yang diketuai oleh Drs. Lutfi Yondri. 

N.J.Krom di awal penemuannya pernah menulis, bahwa bangunan berundak yang ditemukannya merupakan bangunan yang tertutup oleh semak belukar dan hutan. Hal ini pun diutarakan pula oleh beberapa informan, bahwa pada tahun 1979, bukit yang sekarang disebut Gunung Padang itu merupakan hutan yang sangat angker ditumbuhi oleh pohon-pohon yang besar sehingga menutupi area bagian atasnya.
Gunung Padang sebagai punden berundak berukuran sangat besar, bahkan sekarang diklaim 10 kali besarnya dari Candi Borobudur. Penelitian pada tahun 1982 yang dilaksanakan oleh Puslit Arkenas, merupakaan awal penelitian dari penelitian-penelitian selanjutnya, penelitian dilaksanakan dengan melakukan ekskavasi di beberapa tempat dengan membuat lubang uji untuk mengumpulkan data dari dalam tanah, membuat gambar situasi atau pemetaan, dan membuat pendokumentasian atau penggambaran dan deskripsi dengan lengkap. Penelitian ini diketuai oleh Joyce Ratna Indraningsih Panggabean yang didampingi oleh arkeolog senior seperti R.P. Soejono, Hasan Muarif Ambary (Sukendar, 1985: 1).

Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs ini bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh NJ. Krom (1914), tetapi merupakan sebuah tempat peribadatan. Situs Gunung Padang dipakai untuk tempat peribadatan dengan orientasi sang penguasa Gunung Gede dibuktikan oleh kelima teras selalu diarahkan ke Gunung Gede yang posisinya berada pada arah azimut rata-rata 336,40 ° UT.

Bahkan dengan penemuan terakhir yang digawangi oleh Ali Akbar dkk, situs Gunung Padang setiap undaknya memiliki tingkatan waktu atau budaya yang berbeda-beda. Apabila benar bahwa Gunung Padang dibentuk dalam punden yang memiliki umur dan budaya yang berbeda-beda, hal ini, identik dengan kuil bangsa Sumeria sekitar 2900 SM, di dalam kuilnya tersimpan dewa pelindung kota. Bangunan bangsa Sumeria terbuat dari batu lumpur. Kuil-kuil baru biasanya dibangun di lokasi kuil lama dan hal ini berangsur-angsur menjadi bangunan berbentuk piramida bertingkat yang disebut Zig-gurat. Altar terletak di puncak kuil. (Huey Khey, 2013: 7)

2
Walaupun pada awal penemuannya, Situs Gunung Padang dianggap sebagai kuburan manusia suci orangnya sangat tinggi besar. Jasad mayat nenek moyang di simpan di atas bukit, kemudian ditutupi dengan entepan batu seolah-olah merupakan penutup agar jasadnya aman tersimpan di dalamnya. Sehingga di Gunung Padang di dalamnya sekarang merupakan sebuah rongga. Namun kemudian para ahli menyatakan bahwa situs Gunung Padang akhirnya dianggap sebagai tempat beribadah. Hal ini dinyatakan bahwa setiap teras yang ada merupakan tingkatan tempat beribadah.

Situs ini ditengarai sebagai sebuah bentuk arsitektur sebagai media yang menyediakan tempat pertemuan antara manusia dengan sesuatu yang dianggap memiliki energi yang lebih (Tuhan). Seperti teras pertama ditengarai tempat pertemuan antara rakyat dengan para penguasa; teras kedua, ruang khusus pertemuan para penguasa yang saling berinteraksi; teras ketiga, tempat para penguasa dengan para resi; teras keempat tempat para resi yang lebih tinggi, dan teras kelima tempat bersemedinya para raja untuk diuji dalam kekuatan spiritnya. Seperti apa yang diutarakan oleh responden:

3
Dalam persoalan pemaknaan Situs Gunung Padang dewasa ini telah bergeser. Pada awal ditemukannya, situs ini merupakan kuburan purba yang kemudian setelah banyak peneliti, maka pemaknaan situs ini berubah menjadi tempat peribadatan. 

Penemuan Situs Gunung Padang yang unik ini, menjadi pusat perhatian nasional dan internsional yang ditunjang dengan adanya pendapat bahwa pusat atlantis (benua yang hilang) pusatnya Indonesia. Kenyataan itu berpengaruh pada pariwisata, yang menyedot wisatawan nusantara untuk datang ke lokasi. Sehingga pariwisata menjadi andalan untuk menarik PAD Kabupaten Cianjur. Memang tidak dapat dihindari bahwa pariwisata akana menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap masyarakat sekitar Gunung Padang.

Dalam dasawarsa terakhir, pariwisata dijadikan tulang punggung perekonomian regional, dominasi sektor pariwisata dapat dilihat dari besarnya perhatian pemerintah dan pengusaha dalam kegiatan kepariwisataan di Cianjur.

Dalam upaya menghadapi wisatawan yang datang dan berkunjung ke Situs Gunung Padang, perlu penataan yang baik, seperti (a) masyarakat lokal agar diberikan pendidikan, pemahaman, dan apresiasi terhadap budaya yang dibawa oleh wisatawan; (b) demikian juga sebaliknya, wisatawan harus diberikan informasi tentang Situs Gunung Padang; (c) wisatawan yang berkunjung ke Situs Gunung Padang perlu dibatasi dan dimonitor.

4
Dipandang dari sudut religi Situs Gunung Padang adalah bangunan suci tempat peribadatan. Dipandang dari sudut estetika Situs Gunung Padang sebagai karya arsitektur yang megah dengan memiliki lima teras yang mengacu pada konsep tertentu. Hal itu dapat dilihat bahwa dalam penataan teras itu terkandung makna simbolik tertentu. Menurut Henry Maclaine Pont (1924) karya arsitektur selain harus dipandang bentuk dan fungsinya juga hubungan antara bangunan dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud di sini bukan hanya fisik, melainkan juga kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Perubahan pemaknaan terhadap Situs Gunung Padang ini bisa merupakan perubahan sistem, dimana pada mulanya Situs Gunung Padang sebagai tempat kuburan kuno, kemudian sebagai tempat peribadatan, dan kini sebagai tempat yang memiliki sisi keindahan (estetika) yang menjadi pusat pariwisata. Perubahan ini karena adanya perubahan peranan pemerintah dan masyarakat.

Pemaknaan Situs Gunung Padang dewasa ini banyak mengalami perubahan, meskipun masyarakat masih memiliki nilai-nilai kesakralan dan nilai-nilai luhur yang ditujukan kepada para arwah leluhur baik oleh masyarakat sekitar maupun pengunjung. 

Kini sektor pariwisata menjadi andalan yang menyebabkan perubahan pemaknaannya. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana melestarikan Situs Gunung Padang sesuai dengan keilmuan yang berguna bagi masyarakat umum dan masyarakat ilmuwan?.

Pustaka
Akbar. Ali. 2013. Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi.Jakarta:Change Publication.
Huey Khey, 2013. Peradaban Asia, dari Zaman Kuno Hingga 1800 M. Gramedia. Jakarta.
Sukendar, Haris. 1985. Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur Jawa Barat. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Yondri. Lutfi.Drs. Punden Berundak Gunung Padang: “Mahakarya Yang Mengandung Legenda”. Makalah Tanpa Tahun.
https://indocropcircles.wordpress.com/2011/12/24/misteri-megalit-gunung-padang-jabar-stone-henge-versi-indonesia/. Diunduh pada tanggaln 03092016 Pukul 14.00.
Wawancara pribadi dengan Sopandi (79) Selakopi RT 3 RW13 Kel Pamoyanan Cianjur.

Sumber:
Makalah disampaikan pada acara Dialog Budaya di Cianjur Pada tanggal 8 September 2016, kerjasama antara Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur.

Nandang Rusnandar adalah Peneliti Madya Pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat.

Popular Posts