WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

TARI DIBINGI: SEBUAH UPAYA PENGGALIAN DATA AWAL TARIAN TRADISIONAL YANG TERANCAM PUNAH DI KABUPATEN PESISIR BARAT, LAMPUNG

Irvan Setiawan

ABSTRACT
Kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam pada saat ini sedang menghadapi tantangan pelestarian akibat pengaruh budaya modern yang semakin mewabah pada sebagian besar generasi muda. Kesenian tradisional, salah satunya, merupakan unsur budaya yang sebenarnya dapat bertahan dengan cara mengkolaborasikan dengan gerak, tata panggung ataupun suara dari kesenian lainnya yang menjadi senjata cukup ampuh minimal untuk mempertahankan jumlah peminatnya. Lain halnya dengan kesenian tradisional yang masih erat dalam memegang teguh prosedur adat seperti halnya tari dibingi sebagai sebuah tari tradisional yang ada di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung. Ketentuan untuk mengadakan tahapan baik sebelum dan setelah pergelaran, membuat seniman kesulitan untuk mempergelarkan tari dibingi. Penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif ini merupakan sebuah penggalian data awal sebagai salah satu upaya memperkenalkan kembali keberadaan tari dibingi di tengah masyarakat khususnya masyarakat di Kabupaten Pesisir Barat.

Indonesia's diverse cultural richness is currently facing the challenge of conservation due to the increasingly prevalent modern culture in most of the younger generation. Traditional art is one of them, which is an element of culture that can actually survive by collaborating with movements, stage performance, or the sound of other arts. It becomes a minimal powerful weapon to maintain the number of interested ones. It is different with the traditional arts that are still closely held to the traditional procedures, such as Dibingi Dance as a traditional dance in Pesisir Barat Regency, Lampung Province. The stages of rule to perform Dibingi Dance, both before and after, create difficulties for the artists. This qualitative descriptive research is an initial data extraction that attempts to reintroduce the existence of Dibingi Dance in the community, especially the people in Pesisir Barat Regency.

KEYWORDS
Tari dibingi, Pesisir Barat, Lampung.

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Makalah, Laporan Penelitian, Skripsi, Tesis, dan Jurnal

Ratih, Endang E.W, 2001

“Fungsi Tari sebagai Seni Pertunjukan”, dalam Harmonia, Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001

Rosyadi, 2016

“Kesenian Gondang sebagai Representasi Tradisi Masyarakat Petani di Jawa Barat”, dalam Patanjala Vol. 8 No. 3 September 2016: 397- 412.

Sabaruddin. 2012.

Pepadun dan Saibatin/Pesisir. Jakarta. Buletin Way Lima Manjau.

Susanti, B. M. 2000

“Penelitian Tentang Perempuan Dari Pandangan Androsentris ke Perspektif Gender”. Dalam EKSPRESI Dari Bias lelaki menuju Kesetaraan Gender Jurnal ISI Yogyakarta.

Buku

C. Barth. 1970.

Theologi Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Khasanah dan Safitri. 2009.

Tari-tarian Nusantara. Jakarta: Azka Press.

R. Soedarsono. 1988.

Kamus Istilah Teologi, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Soedarsono. 1978.

Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia.

Suharto. 1985.

Komposisi tari sebuah petunjuk praktis bagi guru: (terj. Jacqueline Smith). Yogyakarta: Ikalasti Yogyakarta.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008

Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa.

Tim Penyusun Kabupaten Pesisir Barat dalam Angka 2016

Kabupaten Pesisir Barat dalam Angka Tahun 2016, Krui: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pesisir Barat.

Waluyo, Harry, 2009

Practical Handbook for Inventory of Intangible Cultural Heritage of Indonesia, Jakarta: Ministry of Culture and Tourism in collaboration with UNESCO Office.

Internet

Saliwa, “Tata Titi Pakaian Adat Sekala Brak”, dalam http://www.kerajaansekalabrak. com/2017/04/aturan-pakaian-tradisional-sekala-brak.html tanggal 4 April 2017

RESPONS MASYARAKAT KAMPUNG NAGA TERHADAP PEMBANGUNAN PARIWISATA

Awaludin Nugraha, M. Baiquni, Heddy Shri Ahimsa-Putra, Tri Kuntoro Priyambodo

ABSTRACT
Pada kurun 1975-2010 Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya telah melakukan pembangunan pariwisata di Kampung Naga dengan tujuan meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakatnya. Namun, masyarakat Kampung Naga melakukan respons negatif terhadap pembangunan tersebut. Mengapa masyarakat Kampung Naga melakukan respons negatif terhadap pembangunan pariwisata, padahal pembangunan tersebut dapat meningkatkan kehidupan ekonominya? Tujuan studi ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk respons masyarakat Kampung Naga terhadap pembangunan pariwisata dan memahami penyebab munculnya respons itu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan datanya dilakukan dengan studi kepustakaan dan wawancara sejarah lisan. Teknik analisis datanya menggunakan model interaktif. Hasilnya menunjukkan bahwa bentuk respons negatif masyarakat Kampung Naga terhadap pembangunan pariwisata terjadi secara bertahap dari skala lokal sampai skala nasional. Respons negatif tersebut disebabkan adanya perbedaan pemaknaan terhadap konsep pariwisata. Bagi masyarakat Kampung Naga, pariwisata bermakna silaturahmi yang bertujuan mempererat persaudaraan, sedangkan bagi pemerintah adalah aset untuk mendapatkan keuntungan finansial.

In the period 1975-2010 Tasikmalaya Regency Government has made tourism development in Kampung Naga. The purpose was to improve the economic life of Kampung Naga community. However, the Kampung Naga community responded negatively to that development. Why did the Kampung Naga community respond negatively to the development of tourism, whereas that development could improve the life of its economist? The purpose of this study is to describe the response form of Kampung Naga community to the tourism development and to understand the cause of the response. The research method used is a historical method, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Collecting data are using literature studiies and oral history interviews. Interactive model is used to analyze data. The result of this study shows that the negative response form of Kampung Naga community toward tourism development happened gradually from local scale to national scale. The response was caused by the difference of the meaning to the concept of tourism. For the community of Kampung Naga, tourism means a relationship that aims to strengthen the brotherhood, while for the government assets to improve financial benefit.

KEYWORDS
pembangunan pariwisata; respons; makna pariwisata; kampung naga

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal dan Laporan Penelitian

Adongo, Raymond, Ja Young Choe, Hagchin Han. “Tourism in Hoi An, Vietnam: Impacts, Perceived Benefits, Community Attachment and Support for Tourism Development” dalam International Journal of Tourism Sciences. March 2017. Hlm.1-21. DOI: 10.1080/15980634.2017.1294344.

Almeida-Garcia, F., Maria Angeles Pelaez-Fernandez, Antonia Balbuena-Vasquez, Rafael Cortes-Macias. “Resident’s Perceptions of Tourism Development in Banalmadena, Spain” dalam Tourism Management Vol. 54. 2016. Hlm. 259-274.

Cornet, Candice. “Tourism Development and Resistance in China” dalam Annals of Tourism Research Vol.52. 2015. Hlm.29-43.

Dai, Linlin, Siyu Wang, Jun Xu, Li Wan, Bihu Wu. “Qualitative Analysis of Residents’ Perceptions of Tourism Impacts of Historic Districts: A Case Study of Nanluoguxiang in Beijing, China” dalam Journal of Asian Architecture and Building Enginering Vol.16 No.1 January 2017. Hlm.107-114.

Franzidis, Alexia dan Michael Yau. “Exploring the Differences in a Community’s Perception of Tourists and Tourism Development” dalam Tourism Planning & Development. June 2017. Hlm. 1-16. DOI: 10.1080/21568316.2017.1338199.

Haditomo. 1989.

Sistem Sosial Kampung Naga. Laporan Penelitian. Yogyakarta: FPIPS IKIP Yogyakarta.

Jiaying, Zhang, Robert J. Inbakaran, Mervyn S. Jackson. “Understanding Community Attitudes Towards Tourism and Host-Guest Interaction in the Urban-Rural Border Region” dalam Tourism Geographies Vol.8 No.2. May 2006. Hlm. 182-204.

Jupir, M. Maris. “Implementasi Kebijakan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal (Studi di Kabupaten Manggarai Barat) dalam Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol.1 No.1. Januari 2013. Hlm.28-37.

Lai, Ivan Ka Wai dan M. Hitchcock. “Local Reactions to Mass Tourism and Community Tourism Development in Macau” dalam Journal of Sustainable Tourism. November 2016. Hlm.1-20. DOI: 10.1080/09669582.2016.1221413.

Lee, Tsung Hung. “Influence Analysis of Community Resident Support for Sustainable Tourism Development” dalam Tourism Management Vol.34. 2013. Hlm.37-46.

Monterrubio, Carlos. “Protests and Tourism Crises: A Social Movement Approach to Causality” dalam Tourism Management Perspectives Vol.22. 2017. Hlm.82-89.

Mudzakkir, Amin. “Antara Masyarakat Adat dan Umat: Masyarakat Kampung Naga dalam Perubahan” dalam Jurnal Institut MAARIF Vol.7 No.1. 2012. Hlm.104-116.

Nunkoo, Robin, et.al. “Resident’s Attitides to Tourism: A Longitudinal Study of 140 Articles from 1984-2010” dalam Journal of Sustainable Tourism Vol.21 No.1. 2013. Hlm.5-25.

Rasoolimanesh, S. Mostafa, Jose L. Roldan, Mastura Jaafar, T. Ramayah . “Factors Influencing Residents Perceptions toward Tourism Development: Differences Accros Rural and Urban World Heritage Sites” dalam Journal of Travel Tourism. 2016. Hlm. 1-16. DOI: 10.1177/0047287516662354.

Rockett, Jennifer dan Doug Ramsey. “Resident Perceptions of Rural Tourism Development: the Case of Fogo Island and Change Islands, Newfoundland, Canada” dalam Journal of Tourism and Cultural Change. March 2016. Hlm. 1-20. DOI: 10.1080/14766825.2016.1150287.

Saringendyanti, Etty, Agusmanon Yuniadi, Rina Adyawardhina. 2008.

Kampung Naga, Tasikmalaya Dalam Mitologi: Upaya Memaknai Warisan Budaya Sunda. Laporan Penelitian. Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Sulistiono, B. 1997.

Nilai-Nilai Budaya Masyarakat di Kampung Naga. Laporan Penelitian. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah.

Vargas-Sanchez, Alfonso. “Explaining Residents’ Attitudes to Tourism: Is a Universal Model Possible?” dalam Annals of Tourism Research Vol.38 No.2. 2011. Hlm.460-480.

Wang, Yi-Ping. “A Study of Kinmen Resident’s Perception of Tourism Development and Culture Heritage Impact” dalam Eurasia Journal of Mathematics, Science, & Technology Education, Vol.12 No.12. 2016. Hlm.2909-2920.

Zaidan, Esmat dan J. F. Kovacs. “Resident Attitudes towards Tourists and Tourism Growth: A Case Study from the Middle East, Dubai in United Arab Emirates” dalam European Journal of Sustainable Development Vol.6 No.1. 2017. Hlm.291-307.

Buku

Dienaputra, Reiza D. 2006.

Sejarah Lisan: Konsep dan Metode. Bandung: Minor Books.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya. 2016.

Data Arus Kunjungan Wisatawan Objek dan Daya tarik Wisata Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2015. Tasikmalaya.

Garraghan S. J., Gilbert J. 1957.

A Guide to Historical Method. New York: Fordham University Press.

Goeldner, Charles R. dan J. R. Brent Ritchie. 2012.

Tourism: Principles, Practices, Philosophies. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

McCabe, Scott. 2009.

“Who is a Tourist? Conceptual and Theoretical Developments” dalam Philosophical Issues in Tourism, diedit oleh John Tribe. Bristol: Channel View Publications.

Miles, M. B., A. M. Huberman, J. Saldana. 2014.

Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Third Edition. Los Angeles: SAGE.

Mowforth, Martin dan Ian Munt. 2016.

Tourism and Sustainability: Development, Globalisation and New Tourism in the Third World. Fourth edition. London: Routledge.

Poerwadarminta, W.J.S. 1999.

Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ratna, Nyoman Kutha. 2010.

Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Scott, James C. 1998.

Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed. New Haven: Yale University Press.

Suganda, Her. 2006.

Kampung Naga Mempertahankan Tradisi. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Thompson, Paul dan Joanna Bornat. 2017.

The Voice of the Past. New York: Oxford University Press.

Telfer, David J. dan Richard Sharpley. 2008.

Tourism and Development in the Developing World. London: Routledge.

Zed, Mestika. 2008.

Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Surat Kabar

Kompas, 1 Februari 2006.

Kompas, 13 Maret 2006

Koran Tempo, 3 Februari 2006.

Koran Tempo, 28 Maret 2006.

Liputan 6.com, 10 Februari 2006.

Pikiran Rakyat, 6 Februari 2006.

Pikiran Rakyat, 18 Mei 2009.

Sumber Lisan/Informan

Ade Suherlin. 2016.

Kuncen Kampung Naga. Wawancara, Kampung Naga, Agustus 2016.

Maun. 2016.

Punduh Kampung Naga. Wawancara, Kampung Naga Agustus 2016-Februari 2017.

Tatang. 2017.

Pemandu Wisata Kampung Naga. Wawancara, Kampung Naga, Agustus 2016-Februari 2017.

Endut Suganda. 2017.

Warga Kampung Naga. Wawancara, Kampung Naga, September 2016-Februari 2017.

Sobirin. 2016.

Kepala Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Wawancara, Tasikmalaya, September 2016-Februari 2017.

Asep Herman. 2016.

Kasi Bina Wisata Disparbud Kabupaten Tasikmalaya. Wawancara, Tasikmalaya, Oktober 2016.

PERAN GANDA PEREMPUAN NELAYAN DI DESA MUARA GADING MAS LAMPUNG TIMUR

Ani Rostiyati

ABSTRACT
Perempuan yang bekerja di sektor maritim mempunyai peran ganda, karena penghasilan suami sebagai pencari nafkah tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Dari fenomena itu, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana peran ganda perempuan nelayan di Desa Muara Gading Mas Lampung Timur sehingga kedua tanggungjawab baik peran domestik dan publik berhasil dilaksanakan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran ganda perempuan nelayan di sektor maritim terkait dengan kontribusi perempuan nelayan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dan peran domestik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yakni pendekatan yang dipakai untuk memahami aktivitas kehidupan dan peran perempuan nelayan secara utuh dan holistik. Penelitian bersifat analisis deskriptif yakni menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga mudah dipahami dan disimpulkan. Adapun pengambilan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan foto. Hasil penelitian, terungkap mereka berhasil mengembangkan strategi adaptasi sehingga peran ganda tersebut dapat dilakukan dengan baik. Upaya yang dilakukan adalah menciptakan sumber usaha baru, mengatur alokasi waktu, dan meningkatkan keterampilannya mengikuti berbagai pelatihan, serta usaha simpan pinjam.

Women who work in the maritime sector have a dual role, because the husband's income as a breadwinner cannot meet the needs of the family. From this phenomenon, the problem is how the dual role of fisherwomen in Muara Gading Mas village, East Lampung, so that both responsibilities both domestic and public roles are successfully implemented. The purpose of this study was to determine the dual role of fisherwomen in the maritime sector related to the contribution in meeting economic needs and domestic roles. This study uses a qualitative approach. The approach used to understand the activities of life and the role of fisherwomen holistically. The research is descriptive analysis that is analyzing and presenting the facts systematically so that they are easily understood and concluded. The data collection is done through observation, in-depth interviews, literature studies, and photographs. The results of the study revealed that they had succeeded in developing adaptation strategies, so the dual role could be carried out well. Efforts are made to create new business sources, manage time allocations, and improve their skills in participating in various trainings, as well as savings and loan businesses.

KEYWORDS
peran ganda, perempuan nelayan, Desa Muara Gading Mas Lampung Timur

FULL TEXT:PDF

REFERENCES

DAFTAR SUMBER
Afriza, Zafira. 2013.

“Karateristik Masyarakat Pesisir di Indonesia”. Jakarta: Bumi Aksara.

Azis, Asamaeny. 2006.

Kesetaraan Gender dalam Perspektif Sosial Budaya. Makasar : Yapma.

Arifin, Taslim. 2006.

Nelayan Kemiskinan dan Pembangunan. Makassar: Masagena Press.

Fakih, Mansour. 2005.

Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gardiner – Oey, Mayling, dkk. 1996. Perempuan Indonesia Dulu dan Kini. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kusnadi, 2000.

Nelayan: Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Bandung: Humaniora Utama Press.

______,2002.

Konflik Sosial Nelayan. Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan. Yogyakarta: LkiS.

______,2006.

Perempuan Pesisir. PT LKiS Pelangi Aksara. Yogyakarta.

Puspitawati, 2012.

Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia. Bogor: IPB Press.

Soekanto, Soerjono. 2015.

Sosiologi Suatu Pengantar (edisi revisi). Jakarta: Rajawali.

Sutrisno, Loekman. 1997.

Kemiskinan, Perempuan, emberdayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Sutrisno, Muji. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Mustafa, Muhammad Dalvi. 2013. Sosiologi Masyarakat Pesisir. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Notopuro, 1984.

Perempuan nelayan di Pesisir. Yogyakarta:Kanisius.

Megawangi, Ratna, 1999.

Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender. Yogyakarta: Mizan Pustaka.

PEMBAURAN ETNIS CINA DAN KAUM BUMIPUTRA DI KOTA GARUT (TINJAUAN HISTORIS)

Kunto Sofianto, Widyo Nugrahanto, Agusmanon Yuniadi, Miftahul Falah

ABSTRACT
Artikel ini membincangkan pembauran antara kaum bumiputra, terutama masyarakat Sunda dan etnis Cina di Kota Garut, Jawa Barat sejak zaman kolonial Belanda hingga post kemerdekaan Republik Indonesia (RI) 1945. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri empat tahap, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Untuk membantu eksplanasi tentang pembauran itu, penulis menggunakan pendekatan sosiologi, antropologi, psikologi, dan ilmu politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua faktor yang menyulitkan terjadinya pembauran antara kaum bumiputra dan kelompok etnis Cina. Faktor pertama, yaitu akar sejarah yakni status kelompok etnis Cina lebih tinggi daripada golongan bumiputra. Faktor kedua, perasaan Chinese Culturalism yang masih tertanam kuat di kalangan kelompok etnis Cina. Akibatnya, perasaan itu mengarahkan mereka kepada sikap untuk senantiasa berorientasi kepada budaya leluhurnya yang memang sudah tua. Kedua faktor tersebut menyebabkan eksistensi masyarakat etnis Cina di Kota Garut, baik sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia.

This article discusses integration between indigenous, especially Sundanese people and group of Chinese ethnic in Garut City, West Java since the Dutch colonial era until the post independence of the Republic of Indonesia (RI) 1945. Method used in this research is historical method consisting of four steps, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. To assist the explanation of the assimilation, the author uses social sciences, especially sociology, anthropology, psychology, and political science. The conclusion of this research appears to be two factors causing the difficulty of asimilation between Sundanese people and ethnic Chinese group. The first factor, the historical roots in which the Dutch Colonial Government classified Chinese ethnic group into higher position of legal and social than Sundanese people. The second factor, a strong sense of Chinese Culturalism that is still embedded in Chinese ethnic groups, namely a sense that always glorifies the culture of its ancestors. As a result, that a sense leads them to the attitude of always being oriented to the ancient culture of their ancestors. Both factors led to the existence of Chinese ethnic communities in Garut City, increasing prominently, both before and after Indonesian independence.

KEYWORDS
Chinese, Garut, education, language, marriage, religion, and housing

FULL TEXT:PDF

REFERENCES

DAFTAR SUMBER
Jurnal, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian

Hidayat, Asep Achmad. 2014. Kerusuh-an Anti-Cina di Kota Garut Tahun 1963. Disertasi. Jakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Hudaya, Bambang. 1998. “Pembauran Identitas Etnik di Kalangan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada” dalam Jurnal Humaniora. Nomor 9. November-Desember 1998. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Kartika, N. 2000. “Etnis Tionghoa dan Peranannya dalam Pembangunan Jakarta Tahun 1966-1977”, dalam Jurnal Sastra, Volume 8 No. 5 Juli 2000.

Rochmawati. 2004. “Pembauran yang Tidak Pernah Selesai”, dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, Volume 6 No. 2 Tahun 2004.

Suratminto, Lilie. 2004. “Pembantaian Etnis Cina di Batavia 1740 Dampak Konflik Golongan “Prinsgezinden” dan “Staatsgezinden” di Belanda ?”, dalam Jurnal Wacana Vol 6, No. 1, April 2004.

Wang, Gung-Wu. 1994. “Sojourning: The Chinese Experience in Southeast Asia” in Asian Culture. No. 18. Kualalumpur.

Buku

Al-Qurtuby, Sumanto. 2003. Arus Cina Islam Jawa. Cet. K-2. Yogya-karta: Ahimskarya Press.

Antariksa. 2016. Teori & Metode Pelestarian Kawasan Pecinan. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

Blekker P. 1869. “Nieuwe Bijdragen tot de Kennis der Bevolking-statistiek van Java” dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 16de Deel, 4deAfl., [3e Volgreeks, 4e Deel]. Batavia. Hlm. 482-483.

Die, Ong Eng. 1981. “Peranan Orang Tionghoa dalam Perdagangan”, dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pem-binaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Gramedia.

Djie, Ting Liat. “De Economische Positie de Chineezen op Java” dalam Lim Twan Djie. 1995. Perdagangan Perantara Distribusi Orang-Orang Cina di Jawa; Suatu Studi Ekonomi. Jakarta: Gramedia.

Encyclopedie van Nederlandsche-Indie. 1917. Tweede Druk Eerste Deel. Leiden: s-Gravenhage Martinus Nijhoff.

Garoet, 1909. Collectie Kaarten van Nederlandsch Koloniaal. Inv. Nr. KIT 542201. Leiden: UBL.

Groeneveldt, W. P. 1960. Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta: Bhratara

Hidayat Z. M. 1993. Masyarakat dan Kebudayaan Cina di Indonesia. Bandung: Tarsito.

Husodo, Siswono Yudo. 1985. Warga Baru (Kasus Cina di Indone-sia), Jakarta: Lembaga Penerbitan Yayasan Padamu Negeri.

Kantor Statistik BPS Kabupapaten Garut. 2002. Kecamatan Garut Kota dalam Angka Tahun 2002. Garut: Kantor Statistik BPS Kabupaten Garut.

Laporan Vikariat di Gereja Kristen Pasundan Jemaat Garut. Garut: 1992

Lohanda. “Masalah Cina dalam Perjalanan Sejarah Cina di Indonesia”, dalam Pardede, dkk. 2002. Antara Prasangka dan Realita. Jakarta: Pustaka Inspirasi.

Notosusanto, Nugroho. 1978. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Suatu Pengalaman). Jakarta: Yayasan Idayu.

Onghokham. 2017. Migrasi Cina, Kapitalisme Cina dan Anti Cina. Cetakan ke-2. Depok: Komunitas Bambu.

Panglaykim, J. dan I. Palmer. 1981. “Studi Mengenai Kewiraswasta-an di Negara-negara: Kisah Sebuah Perusahaan Tionghoa di Indonesia”, dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Gramedia.

Poerwanto, Hari. 2005. Orang Cina Khek dari Singkawang. Depok: Komunitas Bambu.

Purcell, Victor. 1981. Chinese in Southeast Asia. 2nd Edition. Kualalumpur: Oxford University Press.

Ricklefs, M.C. 1990. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rochmawati. “Pembauran yang tak Pernah Selesai” dalam jurnal Masyarakat dan Budaya, Volume 6 No. 2, Tahun 2004.

Skinner, G. William. 1981. "Golongan Minoritas Tonghoa", dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Gramedia.

Sofianto, Kunto. 2001. Garoet Kota Intan Sejarah Lokal Kota Garut Sejak Zaman Kolonial Belanda Hingga Masa Kemerdekaan. Jatinangor: Alqaprint Jatinangor.

Staatsblad van Nederlandsch-Indie no. 204, tahun 1907.

Suryadinata, Leo. 1984. Dilema Minoritas Tionghoa. Jakarta: PT. Grafiti Pers.

Suryadinata, Leo. 2003. Jurnal Antropologi Indonesia 71.

Tan, Mely G. 1981. "Kata Pengantar", dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia: Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: PT Gramedia.

Vasanty, Puspa. 1984. "Kebudayaan Orang Tionghoa di Indonesia", dalam Koentjaraningrat, ed. Manusia dan Kebu¬dayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Wertheim, W. F. 1959. Indonesian Society in Transition. The Hague-Bandung: Van Hoeve.

Winkelstraat, 1895. Collectie KITLV. Inv. Nr. 103366. Leiden: UBL.

Internet

Sebutan dan Tipe Keturunan Tionghoa di Indonesia. Diakses dari https://www.kaskus.co.id/thread/5742e4ecddd770a7518b456a/9-sebutan-dan-tipe-keturunan-tionghoa-di-indonesia/. Tanggal 20 Maret 2018. Pukul 12.52 WIB.

Apa itu Apartheid di Afrika Selatan? Diakses dari http://www.afri-can-union.org/apa-itu-apartheid-di-afrika-selatan/.Tanggal 20 Ma-ret 2018. Pukul 12.45 WIB.

Tjan Tian Soe. Diakses dari https:// naratasgaroet.net/2016/02/15/tjan-tian-soe/. Tanggal 20 Maret 2018. Pukul 11.41 WIB.

Majalah Sin Po, Desember 1937. Diakses dari http://majalah-sinpo.blogspot.co.id/2013/03/. Tanggal 21 Maret 2018. Pukul 13.27 WIB.

NASKAH BETAWI: SKRIPTORIUM DAN DEKORASI NASKAH

Mu'jizah Mu'jizah

ABSTRACT
Betawi pada abad ke-19 menjadi tempat penyalinan naskah atau skriptorium. Naskah disalin di lembaga pemerintah dan di beberapa kampung oleh masyarakat. Banyaknya naskah tersebut membuktikan bahwa intelektualitas masyarakat Betawi sudah tinggi. Naskah-naskah yang disalin masyarakat memiliki keunikan, terutama banyaknya dekorasi naskah berupa iluminasi, ilustrasi, dan kaligrafi. Dekorasi atau hiasan tersebut disesuaikan dengan jenis cerita. Dalam makalah ini dibahas skriptorium naskah Betawi dengan kekayaan naskahnya, pengarang dan penyalin, serta keberagaman dekorasi dalam bentuk iluminasi dan ilustrasi yang menjadi keunikan naskah Betawi. Metode kodikologi digunakan untuk membahas skriptorium dan dekorasi naskah Betawi. Dari pembahasan ini ditemukan bahwa pada abad ke-19 di Betawi banyak diproduksi naskah. Naskah yang disalin bukan hanya oleh Pemerintah Hindia-Belanda yang digunakan sebagai bahan pelajaran bagi para pejabat yang akan ditugasi ke Hindia-Belanda, melainkan oleh masyarakat yang naskahnya disewakan. Dekorasi berupa iluminasi dan ilustrasi berfungsi sebagai hiasan untuk menarik minat pembaca. Kesimpulannya bahwa Betawi sebagai skriptorium naskah pada masa lalu memperlihatkan dinamika intelektualitas masyarakatnya yang banyak memproduksi naskah untuk bahan bacaan masyarakat.

In the 19th century, Betawi became a scriptorium, place of writing manuscripts. The manuscripts copied in government agencies and in some vilages by community. The manuscripts consists of many genres. The large numbers of the manuscript prove that the community in Betawi was already high intellect. The manuscript from Betawi which was copied by scribes and has uniqueness. There are the large numbers of manuscripts was decorated by illumination, illustration, and calligraphy. An ornament is depends on a kind of story. In this paper we want to discussed, Betawi as a place of copied or scriptorium with riches of manuscripts, author and scribes, and the diversity of decorations like ilumination, illustration, and challigraphy as a uniquenessof of Betawi manuscript. Codicologi methods used to discuss of scriptorium, illumination, and illustration of the manuscripts. From discussion we found that Betawi has many scribes. In the government of Holland-Indies manuscript copied by scribes, they paid for writing manuscripts which was used as a lesson to officials will be assigned to Holland-Indies. Manucripts belong to the community was leased for many reader. The manuscripts decorated by illumination and illustration. It serves to attract the readers. The conclusion is scriptorium of Batawi manuscript in the past showed the intellectuality of Betawi people many producing manuscripts for materials reading.

KEYWORDS
skriptorium, iluminasi, iluminasi, dan persewaan naskah

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Jurnal, Tesis dan Disertasi

Chambert-Loir, Henri. 1984.

"Muhammad Bakir: A Batavian Scribe and Author in the Nineteenth Century" dalam Jurnal RIMA 18:44--72.

Kramadibrata, Dewaki. 1981.

“Lakon Jaka Sukara: Suntingan Teks dan Analisis Alur, Tokoh, Tema, dan Amanat.” Jakarta: Skripsi Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Kramadibrata, Dewaki. 1991.

“Hikayat Sempura Jawa: Cerita Wayang Melayu Kreasi Muhammad Bakir. Jakarta: Tesis Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Mu’jizah. 2016.

“The Puppet Illustration in Hikayat Purusara” dalam Internasional Conference ASEASUK. 16—18 September 2016.

Saktimulya, Sri Ratna. 1996.

“Fungsi Wedana Renggan dalam Sestradisuhul”. Tesis Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

Widayati, Umi. 1996.

“Seribu Dongeng Suntingan Teks disertai Analisis Struktur”. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Zuriati. 2013.

Azimat Minangkabau Kritik Teks dan Edisi Kritis. Disertasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Buku

Arsip Nasional Republik Indonesia. 1973. Ikhtisar Keadaan Politik Hindia-Belanda Tahun 1839—1845. Jakarta.

Braginsky, V.I & M.A. Boldyreva. 1989.

Naskah Melayu di Leningrad. Kuala Lumpur: Institut Bahasa dan Kebudayaan Melayu. Universitas Kebangsaan Melayu.

Chambert-Loir, Henri. 1987.

"Hikayat Nakhosa Asyik Jalan Lain ke Roman". Dalam H.B. Jassin 70 Tahun. Jalarta: Gramedia.

________. 2009.

Hikayat Nakhoda Asyik, Hikayat Merpati Perak.Jakarta: EFEO-Perpustakaan Nasional.

________ dan Dewaki Kramadibrata. 2013. Katalog Naskah Pecenongan. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

Gallop, Annabel dan Ben Arps. 1991.

Golden Letters. Jakarta: Yayasan Obor.

Gallop, Annabel. 1994.

The Legacy of Malay Letters, Warisan Warkah Melayu. London: British Library.

Grabar, Oleg.1984.

The Illustration of the Maqammat. Chicago: The University of Chicago Press.

Hermans, M.M. dan Gerda C. Huisman. 1979. "De Descriptione Codicum". Groningen: Vakgroep Mediaevistiek Rijksuniversiteit.

McGlynn, John H. dkk. 1996.

Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia. Jakarta:Yayasan Lontar.

Meredith-Owens. 1973.

Persian Illustrated Manuscripts. Oxford: Vivian Ridler.

Mu’jizah. 1992

“Illumination and Ilustration om Malay Manuscripts Collected National Library of Indonesia”. Workshop Codicology di Leiden, Belanda. Tahun 1992.

________. 1995.

Hikayat Nakhoda Asyik. Jakarta: Pusat Bahasa.

Mu’jizah, Sri Sayekti, dan Zaenal Hakim. 2000. Pemaknaan Tiga Karya Muhammad Bakir. Jakarta: Pusat Bahasa.

Mu’jizah. 2006.

Martabat Tujuh: Edisi Teks dan Pemaknaan Tanda serta Simbol. Jakarta: Djambatan.

________. 2009.

Iluminasi Surat Raja-Raja Melayu Abad ke-18 dan Abad ke-19. Jakarta: KPG-EFEO.

________. 2013.

Skriptorium dalam Naskah Riau. Yogyakarta: Diandra.

________. 2014.

“Raja Ali Haji: Sisi Lain dalam Kepengarangannya". dalam Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji. Tanjungpinang: Pemerintah Kota.

________. 2017.

“Menelusuri Proses Kreatif Muhammad Bakir” dalam Kumpulan Karangan “Jejak Pengarang dalam Sastra Indonesia”. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Mulyadi, Sri Wulan Rujiati. 1974.

Kodikologi Melayu. Jakarta: FSUI.

Nasr, Hoessein. 1976.

Islamic Science an Illustrated Study. London: World of Islam Festival.

Saktimulya, Sri Ratna. 2016.

Naskah-Naskah Skriptorium Pakualaman Periode Paku Alam II (1830—1856). Jakarta: KPG- EFEO.

Rawson, Jessica. 1984.

Chinese Ornament: the Lotus and the Dragon. London: British Museum.

Rukmi, Maria Indra. 1997.

Penyalinan Naskah Betawi Algemeene Sekretarie. Jakarta: FSUI.

Van der Molen, Willem. 1993.

"Malay Greetings from Madura" dalam Jurnal Bijdragen Tot de Taal-, Land-en Volkenkunde (BKI). Deel 149, 1993.

Popular Posts