WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Potensi Wisata dari Kearifan Lokal UKM

Tasikmalaya - Usaha kecil menengah (UMK) di Kota Tasikmalaya berpotensi sebagai objek wisata budaya, dan wisata pendidikan. Hal itu terlihat dengan kunjungan yang dilakukan oleh 150 siswa SMA dan SMK dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Banten ke Kota Tasikmalaya dalam kegiatan "Jejak Tradisi Daerah Tasikmalaya" pada 20-21 Juni 2012 bersama Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung.

Para siswa tersebut saat itu mengunjungi sentra kerajinan batik di Cigeureung Kecamatan Cipedes, kelom geulis di Gobras Kecamatan Tamansari, payung geulis di Panyingkiran Kecamatan Indihiang. Selain itu, mereka dijadwalkan mengunjungi kampung adat di Kab. Tasikmalaya yaitu Kampung Naga di Kecamatan Salawu.

Dalam kunjungan mereka ke sentra batik, para siswa tersebut diberikan informasi mengenai filosofi dan karakteristik batik khas Kota Tasikmalaya. Selain itu, mereka pun diberikan kesempatan membatik langsung di tempat pembuatan batik milik warga di Cigeureung.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Tasikmalaya Tantan Rustandi mengatakan, kunjungan ini diharapkan bisa mempromosikan keunggulan Tasikmalaya.

Menurut dia, sektor UKM seperti kelom dan payung adalah khas Tasikmalaya yang tidak ditemui di daerah lain. (A-183/A-88)***

Penayangan Film Dan Diskusi Kebudayaan, Subang 5 Mei 2011

A. Latar Belakang
Kebudayaan merupakan pedoman bagi masyarakat untuk bersikap, dan berperilaku baik terhadap sesama maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Bentuk-bentuk kebudayaan yang telah ada sebelumnya (tangible dan intangible) merupakan hasil kreasi melalui serangkaian sejarah sangat panjang dari para leluhur untuk digunakan, dipedomani, dan dilestarikan oleh generasi penerus kebudayaan. Perjalanan menuju proses pelestarian bukan hal yang mudah karena kebudayaan bersifat dinamis sehingga masyarakat dapat melihat, memahami, ataupun memadukan antara perilaku budayanya dengan budaya luar. Utamanya pada daerah atau wilayah yang banyak bersinggungan dengan budaya lain, faktor kedinamisan budaya akan sangat dirasakan. Wilayah pantura misalnya, merupakan bagian dari jalur utama transportasi yang menghubungkan antara ibukota negara hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Apabila kesadaran masyarakat setempat terhadap budaya lokalnya minim maka bukan tidak mungkin bahwa aset budaya yang menjadi kebanggaan wilayah setempat akan mulai luntur, bahkan punah.

Saat ini, faktor interaksi sosial sudah mengalami banyak kemajuan akibat dari modernisasi teknologi informasi. Kebimbangan dalam menentukan perilaku budaya kemudian menjadi sangat terasa mengingat informasi budaya luar sudah semakin masuk ke dalam jaringan kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat dihadapkan pada pilihan dalam menentukan apakah dirinya mampu melakukan proses pelestarian budaya lokal ataukah mengikuti arus budaya luar.

Generasi muda merupakan bagian dari masyarakat yang rentan terhadap pengaruh budaya luar yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa Indonesia atau national character building. Lemahnya filterisasi kebudayaan mengakibatkan kekurangtahuan dari para generasi muda dalam mengenal dan memahami warisan sejarah budayanya. Oleh karena itu, berbagai bentuk informasi dan sosialisasi pengenalan nilai kesejarahan dan kebudayaan sangat perlu untuk diberdayakan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung sebagai UPT dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memandang perlu melaksanakan program yang mengarah pada pengenalan dan pemahaman kebudayaan bagi kalangan siswa SMU melalui kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan.

B. Tujuan
Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah:
1. Menemukenali nilai-nilai yang terkandung dalam suatu peristiwa sejarah dan budaya.
2. Menumbuhkembangkan rasa cinta dan memiliki di kalangan generasi muda atas kebudayaan bangsanya.
3. Sebagai wahana generasi muda untuk dapat mengenal lebih dekat dan memahami budaya sendiri.
4. Dengan mengenali dan memahami nilai budaya yang terkandung dalam suatu peristiwa sejarah dan budaya, diharapkan dapat memperkokoh jati diri dan integrasi bangsa.

C. Tema
Tema kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan adalah “Kenali Negerimu Cintai Negerimu”.

D. Materi dan Narasumber
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penayangan 2 buah film dokumenter tentang kebudayaan, yaitu “Mengenali Kembali Permainan Tradisional Anak-anak” dengan narasumber Drs. Rosyadi dan film “Keraton Kasepuhan Cirebon” dengan narasumber Drs. Adeng.

E. Peserta
Kegiatan ini akan diikuti oleh 100 peserta yang terdiri atas siswa dan siswi SMU, serta guru pembimbing yang ada di wilayah Kabupaten Subang.

F. Pelaksanaan
Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan diselenggarakan pada tanggal 5 Mei 2012 pukul 12.00 WIB – selesai. Lokasi Kegiatan bertempat di SMKN 1 Subang, jl. Arif Rahman Hakim No. 35 Subang.

G. Penyelenggara
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Calung Tarawangsa Semakin Terhimpit Seni Modern

Bandung - Kesenian tradisional Calung Tarawangsa Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu khasanah musik tradisional Jawa Barat yang sudah dikenal sejak abad ke 18. Kondisinya saat ini semakin memprihatinkan akibat terhimpit kesenian lain yang lebih modern.

“Selain akibat modernisasi yang terus menggerus nilai-nilai kelokalan sampai di pelosok pedesaan. Punahnya kesenian tradisional, juga akibat ditinggalkan pemainya berpulang ke Rachmatullah dan juga ditinggalkan generasi mudanya yang sebenarnya sebagai pewaris,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, MM., dalam sambutanya pada acara pegelaran Kesenian Tradisional Calung Tarawangsa Cibalong Kab. Tasikmalaya, bertempat di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), Sabtu (9/6/12) malam.

Padahal menurut Rosdiana, selain merupakan bagian kekayaan bangsa, kesenian tradisional seperti halnya Calung Tarawangsa Cibalong merupakan jatidiri serta ciri bangsa.

“Di mana seperti diungkapkan para pelakunya, bahwa mereka mendapat warisan kesenian tersebut dari kakek buyutnya untuk senantiasa dijaga dan dirawat karena menjadi bagian dari ciri bangsa yang pernah dibuktikan sebagai alat penyambut rombongan kerajaan Thailand yang berkunjung ke kerajaan Sukapura (Tasikmalaya) dan kerajaan Galuh (Ciamis),” terang Rosdiana.

Selain dihadiri masyarakat sekitar Taman Budaya dan juga mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Kota Bandung, bahkan dari Jakarta dan Solo, pegelaran Kesenian Tradisional Calung Tarawangsa Cibalong Kab. Tasikmalaya, juga dihadiri sejumlah mahasiswa yang tengah menimba ilmu di Kota Bandung. Juga hadir Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, Toto Sucipto, sejumlah staf pengajar STSI Bandung, UPI Bandung dan juga seniman budayawan. (A-87/A-88)***

Seni Buhun Calung Tarawangsa Cibalong Dapat Sembuhkan Penyakit

Bandung - Pegelaran rutin seni budaya di Taman Budaya Jawa Barat, dirasakan sangat berbeda dari biasanya. Bertempat di Teater Terbuka Taman Budaya (Dago Tea House) pada Sabtu (9/6/12) malam tampil kesenian tradisional buhun Calung Tarawangsa Cibalongan, Kabupaten Tasikmalaya.

“Dikatakan buhun (tua) karena kesenian (Calung Tarawangsa Cibalongan) telah ada sejak abad ke 18. Pada masa dahulu kesenian yang terdiri dari kacapi, tarawangsa dan dua calung renteng tersebut dimainkan selain untuk menghormati Dewi Sri, juga untuk menyambut kedatangan raja atau utusan raja Thailand yang berkunjung ke kerajaan Sukapura (Tasikmalaya) atau Galuh (Ciamis),” ujar Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar), Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.M., disela-sela pegelaran.

Kesenian Calung Tarawangsa Cibalongan, hingga kini di Kab. Tasikmalaya hanya tinggal satu-satunya, yaitu sanggar seni “Dangiang Budaya”, asal Kamp. Cigelap, Ds. Parung, Kec. Cibalong, Kab. Tasikmalaya. “Karena itu kami dari balai (BPTB Jabar) memasukannya dalam program revitalisasi, meski dalam prakteknya banyak hambatan yang ditemui, semisal pemainnya tidak dapat main lagi karena faktor usia dan kesehatan,” ujar Rosdiana.

Pegelaran Sabtu (9/6/12) malam sangat beda karena penonton yang hadir dari berbagai lapisan. Tampak hadir Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, Toto Sucipto, sejumlah staf pengajar STSI Bandung, UPI Bandung dan juga seniman budayawan.

“Yang mengundang tak pernah suwung. Baik untuk menghibur di tempat pesta pernikahan, atau pesta khitanan, terutama pada bulan Mulud dan Rewah, malah ada juga yang mengundang untuk menyembuhkan orang sakit. Meski tak terlalu sering, tapi beberapa kali kita diundang untuk mengobati orang sakit,” kata Ema Enar (64), seraya menambahkan bahwa musik calung tarawangsa mereka ditanggap karena diyakini dapat mengobati orang yang lumpuh, buta, dan orang yang kesurupan. (A-87/A-108)***

Bimbingan Teknis Penelitian, Bandung 2012

A. Latar Belakang
Berhasilnya sebuah penelitian bergantung pada proses-proses ilmiah yang dilaluinya serta penguasaan metode dan konsep-konsep akademis dari penelitinya. Metode penelitian dan konsep-konsep akademis dalam ilmu-ilmu sosial senantiasa berkembang yang menuntut para peneliti untuk bisa menguasainya. Dalam hal ini lembaga-lembaga akademis atau perguruan-perguruan tinggi menjadi pusat penyebaran perkembangan ilmu sosial tersebut melalui proses pendidikan yang dijalani di lembaga-lembaga ini, yang selanjutnya diaplikasikan dalam penelitian-penelitian di lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki unit-unit kerja penelitian.

Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung merupakan salah satu lembaga pemerintah yang bergerak dalam bidang penelitian kesejarahan dan kebudayaan, memiliki kompetensi langsung dengan perkembangan yang terjadi dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya. Para peneliti di BPSNT senantiasa dituntut untuk mengikuti perkembangan ini guna diterapkan dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh instansi ini. 

Beranjak dari hal tersebut BPSNT Bandung memandang perlu untuk mengadakan kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas peneliti melalui bimbingan teknis penelitian.

B. Tujuan
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan bimbingan teknis penelitian ini, antara lain:
1. Meningkatkan kualitas peneliti dalam upaya inventarisasi dan pengkajian data sejarah dan kebudayaan.
2. Menyempurnakan persiapan, pelaksanaan, penganalisisan, dan pelaporan penelitian,
3. Memudahkan peneliti saat mengumpulkan data dan menyusun laporan.

C. Dasar Hukum
1. Peraturan Presiden RI Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009.
2. Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Kepariwisataan Nasional Tahun 2009 - 2014.
3. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM. 38/05.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPSNT Bandung.
4. DIPA Tahun 2012

D. Ruang Lingkup
Kegiatan ini dilakukan melalui cara bimbingan/diklat dengan materi terkait bidang inventarisasi dan pengkajian data sejarah dan kebudayaan.

E. Target (Output)
Terlaksananya 1 kegiatan bimbingan teknis penelitian di wilayah kerja BPSNT Bandung.

F. Pelaksana
1. Petugas swakelola/panitia yang ditunjuk oleh kuasa pengguna anggaran/pejabat pembuat komitmen
2. Peserta terdiri dari peneliti BPSNT Bandung, sejarawan, budayawan, dosen, guru, mahasiswa, dan para peneliti dari berbagai lembaga penelitian, serta para pegawai fungsional pada beberapa instansi terkait.
3. Pembicara adalah dosen/pengajar dari perguruan tinggi yang ada di wilayah kerja BPSNT Bandung.

G. Lokasi
Kegiatan ini akan dilaksanakan di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat.

Popular Posts