WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Patanjala Vol. 13 NO. 1 April 2021


LOCAL KNOWLEDGE OF CIPATAT KOLOT ON THE CLIMATE ADAPTATION: SEED, ORGANIC FERTILIZER, AND HARVEST PROCESSING
DOI : 10.30959/patanjala.v13i1.721
Bahagia Bahagia, Fachruddin Majeri Mangunjaya, Zuzy Anna, Rimun - Wibowo, Muhammad Shiddiq Ilham Noor
PDF
1 - 16

KAMPUNG ANGKLUNG DI CIAMIS: PENJAGA EKOSISTEM BUDAYA ANGKLUNG
DOI : 10.30959/patanjala.v13i1.731
Risa Nopianti, Hary Ganjar Budiman
PDF
17 - 33

TUBO DALAM PERSPEKTIF EKOLOGI BUDAYA PETANI KERAMBA JARING APUNG DI KAWASAN DANAU MANINJAU PROPINSI SUMATERA BARAT
DOI : 10.30959/patanjala.v13i1.646
SILVIA DEVI, ROIS LEONARD ARIOS
PDF
35 - 49

KEPANDUAN DAN POLITIK: GERAKAN PADVINDERS DI PADANG PANJANG 1926-1934
DOI : 10.30959/patanjala.v13i1.630
Fikrul Hanif Sufyan
PDF
51 - 70

PERSEBARAN INDUSTRI BATIK DI BANDUNG, CIREBON, DAN TASIKMALAYA 1967-1998
DOI : 10.30959/patanjala.v13i1.662
Aziz Ali Haerulloh, Etty Saringendyanti, Ayu Septiani
PDF
71 - 86

POLITIK TUBUH DALAM SERAT KAWRUH SANGGAMA KARYA RADEN BRATAKESAWA AWAL ABAD XX
DOI : 10.30959/patanjala.v13i1.699
Adi Putra Surya Wardhana, Fiqih Aisyatul Farokhah
PDF
87 - 102


LUH AYU MANIK MAS SEBAGAI REPRESENTASI SUPERHERO PEREMPUAN BALI DALAM KOMIK
DOI : 10.30959/patanjala.v13i1.718
Hanifah Puji Utami, Aquarini Priyatna, Tisna Prabasmoro
PDF
103 - 118


REPRESENTASI MASKULINITAS DALAM RITUAL ETU DI KAMPUNG ADAT TUTUBHADA KABUPATEN NAGEKEO, NUSA TENGGARA TIMUR
DOI : 10.30959/patanjala.v13i1.677
Adinda Sanita Putri Khinari, Ni Made Yuni Sugiantari, Dania Nabila Lubis, Ni Kadek Ari Marlina, Ni Putu Indah Juliyanti, Anak Agung Ayu Isna Surya Dewi, Rochtri Agung Bawono

REPRESENTASI MASKULINITAS DALAM RITUAL ETU DI KAMPUNG ADAT TUTUBHADA KABUPATEN NAGEKEO, NUSA TENGGARA TIMUR

Adinda Sanita Putri Khinari, Ni Made Yuni Sugiantari, Dania Nabila Lubis, Ni Kadek Ari Marlina, Ni Putu Indah Juliyanti, Anak Agung Ayu Isna Surya Dewi, Rochtri Agung Bawono

ABSTRACT
Etu atau tinju tradisional yang dilaksanakan di Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu tahapan dari ritual pasca panen (Gua Meze). Etu dipercaya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat lokal atas berkah dalam panen musim panas dan wujud bagi kaum laki-laki untuk mempresentasikan kembali maskulinitas dirinya melalui Etu. Penelitian di Kampung Adat Tutubhada Desa Rendu Tutubhada Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana representasi maskulinitas seorang laki-laki pada ritual Etu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data disusun berdasarkan studi pustaka penelitian terdahulu, pengamatan di lapangan, wawancara, dan dokumen. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah penjelasan mengenai rangkaian, pelaku, perlengkapan, dan aturan dari Etu di Kampung Adat Tutubhada, eksistensi Etu di masa kini, serta bagaimana Etu dapat merepresentasikan maskulinitas laki-laki selaku pelaku ritual.


‘Etu’, which is a traditional form of ceremonial boxing practiced in Nagekeo Regency, is one stage of the post-harvest rituals Gua Meze. ‘Etu’ is believed to be a form of expression of gratitude offered by the local community for the blessings that have been received in the harvest and at the same time also serves as a form to represent the masculinity. The research which has been conducted in Kampung Adat Tutubhada - which is situated in the village of Rendu Tutubhada in South Aesesa District, Nagekeo Regency - aims to reveal how the masculinity is represented in ‘Etu’. The research used the descriptive qualitative method. Sources of data in the research were compiled based on the literature study of previous research, field observations, interviews, and documents. The results achieved in this study explain in detail 'Etu' in Kampung Adat Tutubhada that includes a sequence of activities, performers, equipment, and rules, the current existence of ‘Etu’ as well as to draw how ‘Etu’ can represent the masculinity of men as the ritual performers.

KEYWORDS
tinju trasidisional, representasi, maskulinitas, laki-laki, syukur panen.

FULL TEXT:PDF
REFERENCES

Angelita, C., Sugiantari, N. M. Y., Khinari, A. S. P., dan Manurung, R. F. (2018). Laporan penelitian: Udayana Scientific Excursion Divisi Studi Budaya pada Bangunan Uma Lengge Desa Maria Kabupaten Bima NTB. Denpasar: Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana.

Arifin, Z. (2011). Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

BPS Kabupaten Nagekeo (2018). Kabupaten Nagekeo Dalam Angka 2018. Nagekeo: Badan Pusat Statistik Kabupaten Nagekeo.

Budiman, H. G. (2013). Makna dan Nilai Budaya Tapis Inuh pada Masyarakat Pesisir di Lampung Selatan. Patanjala, 5 (3), 522.

Danandjaja, J. (2002). Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti.

Duka, F. (22 Juli 2019). Wawancara.

Ilwan, I., & Wardani, A. K. (2019). Ritual Mewuhiha Limano Bhisa dalam Menyambut Pesta Panen pada Masyarakat Desa Morindino Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara. Jurnal Kelisanan Sastra dan Budaya, 2 (2), 37-38.

Kalvaristo, K. Y. (2007). Etu Masyarakat Kampung Olaewa Flores 1978 – 1981. Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Khinari, A. S. P., Dewi, A. A. A. I. S., Lubis, D. N., Juliyanti, N. P. I., Sugiantari, N. M. Y., Marlina, N. K. A. (2019). Laporan penelitian: Udayana Scientific Excursion Divisi Studi Budaya mengenai Ritual Etu di Kampung Adat Tutubhada Desa Rendu Tutubhada Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur. Denpasar: Mapala “Wanaprastha Dharma” Universitas Udayana.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Labur, B. H. K. (2019). Nilai-Nilai Religius dalam Ritual Tudak Penti di Kampung Teber-Manggarai Timur (Telaah Atas Upacara Syukuran Hasil Panen dalam Etnis Budaya Manggarai). Diploma thesis Universiras Katolik Widya Mandira.

Laja, Z. I. (13 Juli 2019). Wawancara.

Lepa, A. (13 Juli 2019). Wawancara.

Lepa, A. (14 Juli 2019). Wawancara.

Mammilianus, S. (2010). Tinju Adat Nagekeo: Kewibawaan dan Harga Diri. Diakses 13 Maret 2021 dari tribunnews.com/tribunners/2010/08/02/kewibawaan-dan-harga-diri

Ngada, B. (13 Juli 2019). Wawancara.

Ngada, B. (17 Juli 2019). Wawancara.

Ngada, B. (21 Juli 2019). Wawancara.

Ngada, B. (22 Juli 2019). Wawancara.

Republik Indonesia. (2003). Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003, Nomor 4301. Jakarta: Sekretariat Negara.

Republik Indonesia. (2017). Undang Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017, Nomor 104. Jakarta: Sekretariat Negara.

Rostiyati, A. (2013). Potensi Wisata di Lampung dan Pengembangannya. Patanjala, 5 (1), 148-162.

Rusmana. D. D. A. (2010). Permainan Congklak: Nilai dan Potensinya bagi perkembangan Kognitif Anak. Patanjala, 2 (3), 538.

Rusnandar, N. 2013. Seba: Puncak Ritual Masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Patanjala, 5 (1), 84.

Sada, S. T. (2019). Ritual Etu Nataia. Artikel milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo.

Seda, T. (19 Juli 2019). Wawancara.

Seda, T. (20 Juli 2019). Wawancara.

Susanti, D. P. 2014. Dampak Permainan Tradisional Kelompok terhadap Perilaku Sosial Siswa Tunarungu. Diakses dari: repository.upi.edu

Watu, A. (18 Juli 2019). Wawancara.

LUH AYU MANIK MAS SEBAGAI REPRESENTASI SUPERHERO PEREMPUAN BALI DALAM KOMIK

Hanifah Puji Utami, Aquarini Priyatna, Tisna Prabasmoro

ABSTRACT
Penelitian ini berangkat dari minimnya penggambaran karakter beridentitas Indonesia dan maraknya marjinalisasi karakter perempuan dalam komik superhero. Salah satu komik yang mewujudkan tradisi budaya dan kearifan lokal Indonesia adalah Luh Ayu Manik Mas, yang menampilkan kebudayaan Bali. Tulisan ini membahas bagaimana Luh Ayu Manik Mas merepresentasikan perempuan Bali yang terwujud dalam karakternya sebagai superhero. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analisis isi terhadap empat edisi komik Luh Ayu Manik Mas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Luh Ayu Manik Mas ditampilkan memanifestasi identitas lokal melalui sumber kekuatan, yang dinamakan dengan gelang Tri Datu, dan kepercayaannya pada Tri Hita Karana. Tri Datu diyakini sebagai sumber kekuatan hidup, sedangkan Tri Hita Karana diyakini sebagai prinsip hidup yang menjamin keharmonisan dalam setiap aspek kehidupan. Agama dan Budaya merupakan hal yang berbeda. Luh Ayu Manik Mas merepresentasikan superhero perempuan Bali yang dimuliakan oleh ajaran agama Hindu (sebagai agama dominan di Bali), ketika budaya Bali masih tunduk pada sistem patriarki.

This research is motivated by two reasons, namely the lack of the presence of characters with Indonesian identities and the marginalization of female characters in superhero comics. One of the comics that is quite representative of presenting Indonesia's cultural traditions and local wisdom is Luh Ayu Manik Mas, which contains the Balinese culture. This paper discusses how Luh Ayu Manik Mas has represented the Balinese women through her character as a superhero. The research is carried out using the content analysis method on the four comic editions of Luh Ayu Manik Mas. The results of this study have shown that Luh Ayu Manik Mas was designed to appear to be a manifestation of local identities, such as a source of strength from the Tri Datu bracelet, and the belief in the Tri Hita Karana. Tri Datu is believed to be the source of life force and Tri Hita Karana is the principle of life that ensures harmony in every aspect of life. Religion and culture are two different things. Luh Ayu Manik Mas, who represents the figure of a Balinese female superhero who is glorified by the teachings of Hinduism as the dominant religion in Bali, is in contrast to Balinese culture which is still subject to the patriarchal system.

KEYWORDS
Kata Kunci: Luh Ayu Manik Mas, Komik Superhero, Identitas Lokal, dan Perempuan Bali.

FULL TEXT:PDF
REFERENCES

Anadhi, I. M. G. (2016). Wisata Melukat : Perspektif Air pada Era Kontemporer. Jurnal Studi Kultural, 1(2), 105 - 109.

BASAbali. (2020). Cerita Perjalanan Luh Ayu Manik Mas Pahlawan Putri Bali. https://dictionary.basabali.org/.

Candrawan, I. B. G. (2015). Kosmologis Masyarakat Hindu di Kawasan Tri Danu Dalam Pelestarian Lingkungan. Junral Dharmasmrti, 13(26), 1 - 135.

Coogan, P. (2018). Wonder Woman : Superheroine, Not Superhero. Journal of Graphic Novels and Comics.

Dwijayanthi, N. M. A. (2019). Komik Luh Ayu Manik Mas: Ngae Perpustakaan Keliling. Balil: Yayasan BASAbali Wiki.

Hall, S. (1997). Representation : Cultural Representation and Signifying Practices. London SAGE Publication.

Hasian, I., & Mardika, A. S. (2017). Pengaruh Komik Asing Terhadap Visualisasi Perkembangan Komik di Indonesia. Jurnal Magenta, 1(1).

Indonesia, R. (2018). Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 Tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali.

Kiriana, I. N. (2017). Kewajiban dan Hak Wanita Hindu Dalam Keluarga dan Masyarakat. Jurnal Kajian Gender & Anak, 12(2).

Kurniawan, R. A. (2019). Kemunculan Komik Adipahlawan Indonesia dan Faktor yang Mempengaruhinya. Art & Culture Journal, 2(1).

Merthawan, G. (2017). Pemahaman Penggunaan Benang Tri Datu Pada Remaja Hindu di Kota Palu. Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu, 8(2), 11 - 17.

Palmer, E. (2004). Supeheroes and Gender Roles, 1961-2004. Entertainment Studies Interest Group.

Prabowo, W. (2012). Representasi Identitas Lokal Sebagai Sebuah Subculture : Analisi Kritis Pada Komik Garudayana. (Sarjana ), Universitas Indonesia, Depok.

Pratiwi, S. S. (2013). Women's Portrayal in the Comic Books: A Visual Grammar of the Heroines’ Portrayals in the Selected Comic Books Published by DC Comics and Marvel. (Sarjana), Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Priyatna, A. (2020). Indonesian Female Superheoes: Forginh the Feminine in the Masculine World.

Punia, I. N., & Nugroho, W. B. (2020). Bali Diaspora di Daerah Transmigrasi : Representasi Kearifan Lokal Bali di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Journal of Bali Studies, 10 (1).

Rahmawati, N. N. (2016). Perempuan Bali dalam Pergulatan Gender (Kajian Budaya, Tradisi, dan Agama Hindu). Jurnal Studi Kultural, 1(1), 58 - 64.

Ridho, L. F. (2014). Memahami Indentitas Hibrida pada Komik Indonesia Kontemporer. Jurnal Ilmu Komunikasi, 2 (2).

Robb, B. J. (2014). A Brief History of Superheroes. Philadelphia Running Press Book Publishers.

Salsabil, R. (2019). Superhero Perempuan dalam Komik di Indonesia (Kajian Feminis - Marxis). Jurnal Perpustakaan ISI Yogyakarta.

Sobur, A. (2001). Analisis Teks Media. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Suarnada, G. M., & Ritawati, N. N. (2017). Persepsi Remaja Hindu Terhadap Perayaan Hari Raya Siwaratri di Kota Palu. Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu, 8(2), 1 -10.

Suwena, I. W. (2017). Fungsi dan Makna Ritual Nyepi di Bali. Universitas Udayana, Denpasar.

Temaja, I. G. B. W. (2017). Sistem Penamaan Orang Bali. Jurnal Humanika, 24(2), 60 - 72.

Utama, I. W. B. (2009). Air Pada Era Kontemporer: Sekularisasi Alam Batin Orang Bali. Paper presented at the 3rd South and Southest Association for the Study of Culture and Religion (SSEASR), Denpasar, Bali.

POLITIK TUBUH DALAM SERAT KAWRUH SANGGAMA KARYA RADEN BRATAKESAWA AWAL ABAD XX

Adi Putra Surya Wardhana, Fiqih Aisyatul Farokhah

ABSTRACT
Hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas selalu menarik untuk dikaji meskipun diikat oleh tabu. Pada awal abad XX, naskah-naskah soal seksualitas cukup populer, apalagi sudah dicetak dalam bentuk buku yang diperjualbelikan di lapak-lapak buku. Salah satu naskah yang memuat seksualitas adalah Serat Kawruh Sanggama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bentuk, fungsi, dan makna politik tubuh dalam Serat Kawruh Sanggama. Metode yang digunakan adalah analisis data kualitatif-interpretatif dengan pendekatan teori politik tubuh. Hasil penelitian menunjukkan, Serat Kawruh Sanggama ditulis di Kediri dan disebarluaskan oleh penerbit Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri. Bentuk politik tubuh berupa narasi tentang tata cara atau aturan bersenggama. Naskah ini mengandung politik tubuh yang berfungsi untuk menundukkan, mengontrol, dan mendominasi tubuh perempuan. Namun demikian, naskah ini dapat dimaknai sebagai upaya laki-laki untuk memahami misteri tubuh perempuan. Selain itu, naskah ini dimaknai pula sebagai daya perempuan, sehingga laki-laki harus berusaha untuk memahami seluk beluk tubuh perempuan.

Despite a taboo subject amongst society, the matters related to sexuality are always interesting to study. In the early twentieth century, texts on sexuality were quite popular and had even been printed in the form of books that were sold in the book stalls. One of those was Serat Kawruh Sanggama. The purpose of this study was to analyze the form, the function, and the meaning of the politics of the body in the Serat Kawruh Sanggama. The method used in the research was the qualitative-interpretative data analysis combined with the approach of the Politics of the Body. The results of the study have shown that Serat Kawruh Sanggama was written in Kediri and then disseminated by the publisher of the Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri. The elements of the Politics of the Body revealed in the text are in the form of narratives related to the procedures or rules of sexual intercourse. It is evident that the elements of the Politics of the Body found on the text served as an instrument of subjugating, controlling, and dominating the female body. This text can be interpreted as an attempt by men to understand the mystery of the female body. However, on the other hand, the text can also be interpreted as an attempt by men to understand the mystery of the female body. In addition, it also represented as a woman's power that encourages men to understand the ins and outs of the female body.

KEYWORDS
Serat Kawruh Sanggama, Politik Tubuh, Seksualitas, Tubuh Perempuan

FULL TEXT:PDF
REFERENCES

Acri, A. (2019). Becoming a Bhairava in 19th-century Java. Indonesia and the Malay World, 47(139), 285–307. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/13639811.2019.1639925

Akin, B. (2017). Exiles and Desire Crossing Female Bodies: Nina Bouraoui’s Garçon Manqué and Rabih Alameddine’s I, the Divine. The Wenshan Review of Literature and Culture, 10.2, 111–133.

Arnez, M., & Dewojati, C. (2010). Sexuality, Morality and the Female Role: Observations on Recent Indonesian Women’s Literature. Asiatische Studien Études Asiatiques, LXIV(1), 7–38.

Bordo, S. (1993). Feminism, Foucault, and the Politics of the Body. In Up Against Foucault: Explorations of Some Tensions Between Foucault and Feminism (pp. 179–202). London: Routledge.

Bratakesawa, R. (1932). Serat Kawruh Sanggama (4th ed.). Kediri: Boekhandel Tan Khoen Swie.

Bruggen, M. . van, Wassing, R. S., Hering, B. B., Voskuil, R. P. G. A., & Heshusius, C. A. (1998). Djokja en Solo Beeld van de Vorstenlanden. Nederland: Asia Maior.

Chen, K. (2010). The Concept of Virginity and Its Representations in Eighteenth-Century English Literature. Wenshan Review of Literature and Culture, 3.2, 75–96.

Darmarastri, H. A. (2017). Pekerja Anak di Surakarta Masa Kolonial: Dari Pekerja Keluarga Menjadi Pekerja Upah. Sasdaya, 2(1), 351–364. Retrieved from https://jurnal.ugm.ac.id/sasdayajournal/index

Davis, A. (2008). Investigating Cultural Producers. In M. Pickering (Ed.), Research Methods for Cultural Studies (pp. 53–67). Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd.

De Sumatra Post. (1939, February 20). De Soesoehoenan van Solo Overleden. De Sumatra Post.

Fitriana, A. (2019). Representasi Perempuan Jawa dalam Serat Wulang Putri: Analisis Wacana Kritis. Paradigma Jurnal Kajian Budaya, 9(3), 213–230. https://doi.org/DOI: 10.17510/paradigma.v9i3.322

Florida, N. K. (2020). Jawa-Islam di Masa Kolonial: Suluk, santri, dan Pujangga Jawa. (I. Afifi, Ed.). Piyungan: Buku Langgar.

Foucault, M. (1978). The History of Sexuality. New York: Pantheon Books.

Foucault, M. (1995). Discipline and Punish: The Birth of the Prison. New York: VINTAGE BOOKS.

Furqon, S., & Busro. (2017). Serat Gatholoco: Tubuh Menggugat Agama. Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya, 2(1), 15–28.

Handajani, S. (2006). Female Sexuality in Indonesian Girls’ Magazines: Modern Appearance, Traditional Attitude. Antropologi Indonesia, 30(1), 49–63.

Ingleson, J. (1986). Prostitution in Colonial Java. In D. P. Chandler & M. C. Ricklefs (Eds.), Nineteenth and Twentieth Century Indonesia, Essays in Honor of Professor J.D. Legge. Victoria: Southeast Asian Studies.

Kali, A. (2013). Diskursus Seksualitas Michel Foucault. Maumere: Ledalero.

Kristyowidi, B. I. (2020). Multikulturalisme dalam Terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie 1916-1953. KENOSIS, 6(1), 85–102.

Kuntowijoyo. (2006). Raja, Priyayi, dan Kawula. Yogyakarta: Ombak.

Larson, G. D. (1990). Masa Menjelang Revolusi: Kraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1942. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mahardika, M. D. G. (2020). Prostitusi di Surabaya pada Akhir Abad ke-19. Sejarah dan Budaya, 14(1), 22–30.

https://doi.org/10.17977/um020v14i12020p22

Mayasari, G. H., Rahayu, L. M., & Hidayatullah, M. I. (2013). Gambaran Seksualitas dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Jilid Catatan Buat Emak Karya Ahmad Tohari. Meta Sastra, 6(1), 22–33.

Mirawati, I. (2012). Kependudukan Masa Kolonial dalam Sumber Arsip. Majalah ARSIP, 16–19.

Muslifah, S. (2004). Serat Centhini Episode Centhini : Naratologi dan Pendekatan Gender Analisis Fabula. Universitas Gadjah Mada.

Mustofa, A. (2006). Ketika Seksualitas Menjadi Ideologi: Sastra Indonesia Seksualitas dan Seksualitas Sastra Indonesia. LENTERA, Jurnal Studi Perempuan, 2(1), 48–61.

Nordholt, H. S. (2011). Modernity and cultural citizenship in the Netherlands Indies : An illustrated hypothesis. Journal of Southeast Asian Studies, 42(3), 435–457. https://doi.org/10.1017/S002246341100035X

Padmo, S. (1998). Reorganisasi Agraria di Surakarta pada 1918 dan Akibatnya terhadap Petani dan Perusahaan Belanda. Humaniora, 8, 72–81.

Padmosoekotjo, S. (1953). Ngéngréngan Kasusastran Djawa. Yogyakarta: Toko Buku Hien Ho Sing.

Rahmana, S. (2018). Sarekat Islam: Mediasi Perkecuan di Surakarta Awal Abad ke-20. JUSPI: Jurnal Sejarah Peradaban Islam, 2(1), 52–58.

Ratna, N. K. (2010). Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ricklefs, M. C. (2007). Polarising Javanese Society Islamic and Other Visions. Singapore: NUS Press.

Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.

Sarjono. (2017). Diksi Seksualitas dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. BASTRA, 4(1), 19–28.

Soeratman, D. (1989). Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830-1939. Yogyakarta: Penerbit Tamansiswa.

Subarkah, I. (1993). Sekilas 125 tahun Kereta Api: 1867-1992. Bandung: Grafika.

Sumodiningrat, G., & Wulandari, A. (2014). Paku Buwana X 46 Tahun Berkuasa di Tanah Jawa. Yogyakarta: Narasi.

Susilantini, E. (2015). Pendidikan Seks dalam Serat Nitimani Karya Raden Mas Tumenggung Haryosugondo. WALASUJI, 6(1), 31–44.

Warto. (2017). Hutan Jati Berkalung Besi: Pengangkutan Kayu Jati di Jawa pada Akhir Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20. SASDAYA, Gadjah Mada Journal of Humanities, 1(2), 184–198. Retrieved from https://jurnal.ugm.ac.id/sasdayajournal

Widayati, S. W. (2001). Seksualitas Menurut Masyarakat Jawa: Kajian Filologis terhadap Teks Serat Kawruh Sanggama: Laporan Penelitian. Surabaya.

Wisnu. (2019). Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri: The Agent Of Javanese Culture. Paramita: Historical Studies Journal, 29(1), 43–57. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.15294/paramita.v29i1.14523

Wisnu, Alrianingrum, S., & Artono. (2017). Manuscript Controversy Issue Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri (Historical Studies). Advanced Science Letters, 23(12), 11735–11738. https://doi.org/doi:10.1166/asl.2017.10506

Yulianti, I. (1999). Mindering di Pedesaan Jawa pada Awal Abad ke-20 (1901-1930). Lembaran Sejarah, 2.

PERSEBARAN INDUSTRI BATIK DI BANDUNG, CIREBON, DAN TASIKMALAYA 1967-1998

Aziz Ali Haerulloh, Etty Saringendyanti, Ayu Septiani

ABSTRACT
Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi, serta menggunakan pendekatan sosial ekonomi untuk menjelaskan secara kronologis pengaruh adanya persebaran industri batik terhadap kesejahteraan masyarakat Bandung, Cirebon, dan Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan sampel dalam mencari dan mengumpulkan data. Berdasarkan hasil penelitian studi pustaka, studi lapangan, observasi, dan wawancara, menunjukkan bahwa penyebaran budaya membatik berpengaruh terhadap munculnya industri batik yang berada di Bandung, Cirebon, dan Tasikmalaya. Ketiga daerah tersebut memiliki peran dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar yang memiiki keahlian dalam membatik, baik tulis maupun cap. Selain itu, industri batik di tiga kota tersebut memiliki skala produksi industri rumah tangga, kecil, dan menengah. Menjadi suatu hal yang menarik melihat persebaran dan dinamika industri batik dengan cara produksi tradisional di Bandung, Cirebon, dan Tasikmalaya berkembang pada saat Indonesia mengalami masa industrialisasi selama Orde Baru. Penelitian ini menunjukkan terjadinya pasang-surut industri batik tradisional di tengah-tengah gempuran modernisasi di bidang industri, tidak terkecuali dalam tekstil lokal.

The study used the historical method which included a number of stages, such as heuristics, criticism, interpretation, and historiography and also applied a socio-economic approach to explain chronologically the effect of the distribution of the batik industry on the welfare of the people of Bandung, Cirebon, and Tasikmalaya. The sample is used in this study to find and collect data. The results of literature study, field studies, observations, and interviews have revealed that the spread of batik culture has had a significant effect on the emergence of the batik industries in Bandung, Cirebon, and Tasikmalaya. The batik industries in the three regions has played an important role in creating jobs for local communities who have the expertise in doing the batik work, both the ‘batik tulis' and the ‘batik cap'. In addition, the batik industry in the three cities also has the industrial productions which includes either the household or small to medium scale. It is an interesting fact to see the distribution and the dynamics of the batik industry were produced through traditional production methods in Bandung, Cirebon and Tasikmalaya when Indonesia was experiencing a period of industrialization during the New Order. The research has shown that there have been ups and downs in the traditional batik industry amidst the threat of modernization in the industrial sector, including local textiles.

KEYWORDS
persebaran, batik, industri, Jawa Barat

FULL TEXT:PDF
REFERENCES

Achmad, S. W. (2016). Sejarah Kerajaan-Kerajaan Besar di Nusantara.Yogyakarta: Araska.

Atik, S. K., Kudiya, K., Jusuf, H., Djatmiko, D., dan Rais, Z. (2010). Buku Saku Batik Jawa Barat Jilid II. Bandung: Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB).

Basundoro, P. (2016). Pengantar Sejarah Kota.Yogyakarta: Ombak.

Boow, J. (1988). Symbol and Status in Javanese Batik. Monograf Series No. 7. Asian Studies Centre: University of Western Australia.

Djajusman, D. S. (1993). Di Seberang Gerbang Pabrik: Asrama Buruh Perempuan. Prisma 21, 51-58.

Emalia, I. (2017). Geliat Ekonomi Kelas Menengah Muslim di Cirebon: Dinamika Industri Batik Trusmi 1900-1980. Al-Turas, 23 (2), 211-230.

Erwantoro, H. (2012). Sejarah Singkat Kerajaan Cirebon. Jurnal Patanjala, 4 (1), 170-183.

Feriadi. (2011). Perkembangan Industri Batik Trusmi 1955-2005. Skripsi Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Katam, S. (2014). Gemeente Huis. Bandung: Kiblat Buku Pustaka.

Kudiya, K. (2011). Batik Eksistensi untuk Tradisi. Jakarta: Dian Rakyat.

Kuntowijoyo. (2018). Demokrasi & Budaya Birokrasi. Yogyakarta: IRCiSoD.

Lee, E. S. (1976). Laporan penelitian: Suatu Teori Migrasi. Yogyakarta: Lembaga Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

Leirissa, R. Z., Ohorella, G. A., dan Tangkilisan, Y. B. (2012). Sejarah Perekonomian Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

Mudzakkir, A. (2017). Konservatisme Islam dan Intoleransi Keagamaan di Tasikmalaya. Multikultural & Multireligius, 16 (1), 57-74.

Mulyana, A. (2018). Negara Pasundan 1947-1950. Yogyakarta: Ombak.

Noer, D. (2015). Mohammad Hatta. Jakarta: Buku Kompas.

Nurainun, Heriyana dan Rasyimah. (2008). Analisis Industri Batik di Indonesia. Fokus Ekonomi, 7 (3), 124-135.

Permanasari, I. & Cahanar, P (Ed). (2019). Kisah Goresan Malam. Jakarta: Kompas.

Pradito, D., Jusuf, H., dan Atik, S. K. (2010). The Dancing Peacock Colours and Motifs of Priangan Batik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Prananta, A. W. (2019). Sejarah Kelas Menengah (Dari Zaman Kerajaan hingga Indonesia Modern). Malang: Intrans Publishing.

Salam, M. (2017). Sanghyang Siksa Kandang Karesian, diakses 24 Februari 2020, dari http://soekapoera.or.id/2017/04/02/sanghyang-siksa-kandang-karesian/

Sari, S. (9 September 2019). Wawancara.

Septiani, M. (13 Januari 2020). Wawancara.

Sunarya, Y. Y. (2010) Batik Priangan Modern dalam Konstelasi Estetik dan Identitas. Pendidikan Seni KAGUNAN, 4 (2), 1-11.

Supriyadi, D. (17 November 2018). Wawancara.

Supriyadi, D. (18 Januari 2020). Wawancara.

Sutopo, I. (2011) Produktivitas dan Ketahanan Bisnis Industri Kecil (Studi Empiris Industri Batik Tulis Trusmi Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon). Dinamika Keuangan dan Perbankan, 3 (1), 102-112.

Tempo. (1993, Mei, 15). Kemiskinan dan Kesenjangan. Tempo, 12.

Tempo. (1971, Agustus, 14). Kota Tanpa Batik. Tempo, 19-20.

Tempo. (1971, Juli, 3) Tentang Buruh Murah Indonesia. Tempo, 46.

Tempo. (1971, Juni, 19). Jang Terlindung dan Terpukul. Tempo, 43.

Trade Research & Development Agency. (2008). Indonesian Batik A Cultural Beauty. Jakarta: Departemen Perdagangan Republik Indonesia.

Verbeek, R. D. M & Fennema, R. (1896). “Geologische Beschrijving van Java en Madoera” dalam Uitgegeven Op Last Van Zijne Excellentie Den Gouverneur-Generaal Van Nederlandsch-Indie. ATLAS. Amsterdam: Joh. G. Stemler Cz.

Warsito, R. (2017). Antropologi Budaya. Yogyakarta: Ombak.

Popular Posts