WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

REPRESENTASI MASKULINITAS DALAM RITUAL ETU DI KAMPUNG ADAT TUTUBHADA KABUPATEN NAGEKEO, NUSA TENGGARA TIMUR

Adinda Sanita Putri Khinari, Ni Made Yuni Sugiantari, Dania Nabila Lubis, Ni Kadek Ari Marlina, Ni Putu Indah Juliyanti, Anak Agung Ayu Isna Surya Dewi, Rochtri Agung Bawono

ABSTRACT
Etu atau tinju tradisional yang dilaksanakan di Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu tahapan dari ritual pasca panen (Gua Meze). Etu dipercaya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat lokal atas berkah dalam panen musim panas dan wujud bagi kaum laki-laki untuk mempresentasikan kembali maskulinitas dirinya melalui Etu. Penelitian di Kampung Adat Tutubhada Desa Rendu Tutubhada Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana representasi maskulinitas seorang laki-laki pada ritual Etu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data disusun berdasarkan studi pustaka penelitian terdahulu, pengamatan di lapangan, wawancara, dan dokumen. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah penjelasan mengenai rangkaian, pelaku, perlengkapan, dan aturan dari Etu di Kampung Adat Tutubhada, eksistensi Etu di masa kini, serta bagaimana Etu dapat merepresentasikan maskulinitas laki-laki selaku pelaku ritual.


‘Etu’, which is a traditional form of ceremonial boxing practiced in Nagekeo Regency, is one stage of the post-harvest rituals Gua Meze. ‘Etu’ is believed to be a form of expression of gratitude offered by the local community for the blessings that have been received in the harvest and at the same time also serves as a form to represent the masculinity. The research which has been conducted in Kampung Adat Tutubhada - which is situated in the village of Rendu Tutubhada in South Aesesa District, Nagekeo Regency - aims to reveal how the masculinity is represented in ‘Etu’. The research used the descriptive qualitative method. Sources of data in the research were compiled based on the literature study of previous research, field observations, interviews, and documents. The results achieved in this study explain in detail 'Etu' in Kampung Adat Tutubhada that includes a sequence of activities, performers, equipment, and rules, the current existence of ‘Etu’ as well as to draw how ‘Etu’ can represent the masculinity of men as the ritual performers.

KEYWORDS
tinju trasidisional, representasi, maskulinitas, laki-laki, syukur panen.

FULL TEXT:PDF
REFERENCES

Angelita, C., Sugiantari, N. M. Y., Khinari, A. S. P., dan Manurung, R. F. (2018). Laporan penelitian: Udayana Scientific Excursion Divisi Studi Budaya pada Bangunan Uma Lengge Desa Maria Kabupaten Bima NTB. Denpasar: Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana.

Arifin, Z. (2011). Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

BPS Kabupaten Nagekeo (2018). Kabupaten Nagekeo Dalam Angka 2018. Nagekeo: Badan Pusat Statistik Kabupaten Nagekeo.

Budiman, H. G. (2013). Makna dan Nilai Budaya Tapis Inuh pada Masyarakat Pesisir di Lampung Selatan. Patanjala, 5 (3), 522.

Danandjaja, J. (2002). Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti.

Duka, F. (22 Juli 2019). Wawancara.

Ilwan, I., & Wardani, A. K. (2019). Ritual Mewuhiha Limano Bhisa dalam Menyambut Pesta Panen pada Masyarakat Desa Morindino Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara. Jurnal Kelisanan Sastra dan Budaya, 2 (2), 37-38.

Kalvaristo, K. Y. (2007). Etu Masyarakat Kampung Olaewa Flores 1978 – 1981. Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Khinari, A. S. P., Dewi, A. A. A. I. S., Lubis, D. N., Juliyanti, N. P. I., Sugiantari, N. M. Y., Marlina, N. K. A. (2019). Laporan penelitian: Udayana Scientific Excursion Divisi Studi Budaya mengenai Ritual Etu di Kampung Adat Tutubhada Desa Rendu Tutubhada Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur. Denpasar: Mapala “Wanaprastha Dharma” Universitas Udayana.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Labur, B. H. K. (2019). Nilai-Nilai Religius dalam Ritual Tudak Penti di Kampung Teber-Manggarai Timur (Telaah Atas Upacara Syukuran Hasil Panen dalam Etnis Budaya Manggarai). Diploma thesis Universiras Katolik Widya Mandira.

Laja, Z. I. (13 Juli 2019). Wawancara.

Lepa, A. (13 Juli 2019). Wawancara.

Lepa, A. (14 Juli 2019). Wawancara.

Mammilianus, S. (2010). Tinju Adat Nagekeo: Kewibawaan dan Harga Diri. Diakses 13 Maret 2021 dari tribunnews.com/tribunners/2010/08/02/kewibawaan-dan-harga-diri

Ngada, B. (13 Juli 2019). Wawancara.

Ngada, B. (17 Juli 2019). Wawancara.

Ngada, B. (21 Juli 2019). Wawancara.

Ngada, B. (22 Juli 2019). Wawancara.

Republik Indonesia. (2003). Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003, Nomor 4301. Jakarta: Sekretariat Negara.

Republik Indonesia. (2017). Undang Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017, Nomor 104. Jakarta: Sekretariat Negara.

Rostiyati, A. (2013). Potensi Wisata di Lampung dan Pengembangannya. Patanjala, 5 (1), 148-162.

Rusmana. D. D. A. (2010). Permainan Congklak: Nilai dan Potensinya bagi perkembangan Kognitif Anak. Patanjala, 2 (3), 538.

Rusnandar, N. 2013. Seba: Puncak Ritual Masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Patanjala, 5 (1), 84.

Sada, S. T. (2019). Ritual Etu Nataia. Artikel milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo.

Seda, T. (19 Juli 2019). Wawancara.

Seda, T. (20 Juli 2019). Wawancara.

Susanti, D. P. 2014. Dampak Permainan Tradisional Kelompok terhadap Perilaku Sosial Siswa Tunarungu. Diakses dari: repository.upi.edu

Watu, A. (18 Juli 2019). Wawancara.

Popular Posts