WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

WACANA KEKUASAAN DALAM UPACARA SIRAMAN DAN NGALUNGSUR GENI DI DESA DANGIANG GARUT

Ani Rostiyati

ABSTRACT
Kajian ini bertujuan mengungkap bagaimama wacana kuasa bekerja dalam upacara Siraman dan Ngalungsur Geni. Wacana kuasa ditelusuri dari relasi pemimpin adat (kuncen dan leluhur) dengan masyarakat Desa Dangiang. Dalam kajian ini menggunakan metode deskriptif explanatory dan teknik analisis data secara kualitatif interpretatif, yaitu mengangkat berbagai fenomena, kemudian diinterpretasi dengan teori dari Foucault tentang kekuasaan yang dikonstruksi secara positif dan tidak represif. Data yang digunakan merupakan hasil wawancara mendalam pada informan, observasi pada saat upacara berlangsung, pengambilan foto, dan studi pustaka. Hasil dari kajian ini adalah kekuasaan dalam pelaksanaan upacara Siraman dan Ngalungsur Geni, dikonstruksi secara dinamis, positif, dan tidak represif yakni kekuasaan yang terpusat pada pemimpin adat kuncen yang didistribusi pada semua warga peserta upacara. Simbol dari distribusi kekuasaan tersebut adalah semua peserta merasakan adanya keberkahan yang didapat dari doa kuncen dan air bekas cucian benda-benda pusaka milik leluhur Desa Dangiang.

The research aims to reveal how the power discourse works through Siraman and Ngalungsur Geni ceremonies. The power discourse can be traced through the relationship between traditional leaders (kuncen and ancestors) and the people of Dangiang Village. The study uses descriptive explanatory methods and interpretative qualitative data analysis techniques. The researcher first raises the phenomenon to be interpreted with Foucault's theory of positive and non-repressive constructed power. The data used are the results of in-depth interviews with informants, observations during the ceremonies, photos, and literature study. The research reveals that power during Siraman and Ngalungsur Geni ceremonies has been constructed dynamically, positively, and unrepressively. The power centered on traditional leader ‘kuncen’ is even distributed to all citizens participating in the ceremonies. The distribution of power is reflected when all ceremony participants can feel both the blessings of the prayers offered by the ‘kuncen’ and the water used for washing the heirlooms belonging to the ancestors of Dangiang Village.

KEYWORDS
Wacana, Kekuasaan, Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni, Desa Dangiang Garut

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Abdullah, I. (2009). Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Anderson, B. (2015). Imagined Communities. Jakarta: Pustaka pelajar.

Bae, S.U. dan Martinus. (1995). Laporan penelitian: Sejarah Suku Dayak Maanyan, Banjar, dan Merina di Madagaska. Jakarta: Museum Nasional RI.

Barker, C. (2010). Cultural Studies. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Barthes, R. (1985). Elemens of Semiologi. London: Cape.

Bourdieu, P. (1994). Language and Symbolic Power. Cambridge, Massachausetts: Harvard University Press.

Durkheim, E. (2005). Education and Sociology. Jakarta: Kencana

Danesi M. (2004). Pesan, Tanda, Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Foucault, M. (2002). Pengetahuan dan Metode: Karya-karya Penting Foucalt. Yogyakarta: Jalasutra.

Hadi, K. (2018). Legitimasi Kekuasaan dan Hubungan Penguasa-Rakyat dalam Pemikiran Politik Suku Dayak Maanyan. Kawistara, 8(1), 46-50.

Kitaudin, S. (2016). Kekuasaan Negara dan Kekuasaan Pemerintahan. Tapls, 12 (1), 70-71.

Magnis-Suseno, F. (2003). Etika Politik; Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta : PT. gramedia.

Mudhoffir, A. (2013). Teori Kekuasaan Michel Foucault: Tantangan bagi Sosiologi Politik. Al-Khitabah, 18 (1), 4-6.

Muis, E. (2010). Tumbuhnya Maronere: Relasi Antara Budaya dan Falsafah Hidup Masyarakat Moronere. Tesis Program Studi Antropologi, Pascasarjana UGM Yogyakarta.

Rostiyati, A. (2017). Peran Perempuan pada Upacara Tradisional Rahengan di Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat. Patanjala. Vol.9 No.3 September 2017. Hlm. 360.

Rostiyati, A. (2011). Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni di Desa Dangiang Kabupaten Garut. Patanjala, Vol.3 No.1 Maret. Hlm. 33-47.

Rostiyati, A. (2017). Perempuan Punk: Budaya Perlawanan Terhadap Gender Normatif. Tesis Fakultas Ilmu Budaya UNPAD.

Somantri, G,R. (2005). Memahami Metode Kualitatif. Sosial. Humaniora Makara,.9 (2). 64.

Turner, V. (1967). The Forest Of Symbols: Aspects of Ndebu Ritual. London: Cornell University Press.

Usop, KMA. (1978). Laporan penelitian : Sejarah Daerah Kalimantan Tengah: Proyek Penelitian Kebudayaan RI dan Dinas Pendikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah.

Popular Posts