WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

KERETA API SCS: ANGKUTAN GULA DI CIREBON

IWAN HERMAWAN

ABSTRACT
Gula merupakan salah satu komoditas perdagangan penting pada masa kolonial Belanda. Hasil yang berlimpah tidak diimbangi dengan ketersediaan angkutan barang. Minimnya volume angkut dan lamanya waktu tempuh merupakan permasalahan yang dihadapi pengusaha gula. Pengembangan moda transportasi kereta api menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. Daya angkut besar dengan waktu tempuh yang lebih cepat menjadi kelebihannya. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan peranan kereta api dalam pengangkutan gula ke pelabuhan di Karesidenan Cirebon. Metode yang dipergunakan, deskriptif analisis. Data dikumpulkan melalui kegiatan studi pustaka dan pengamatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan, jalur kereta api di Karesidenan Cirebon merupakan bagian dari jalur Semarang – Cirebon yang dibangun oleh NV. SCS. Tinggalan perkeretaapian di jalur tersebut menunjukkan terdapat persimpangan ke pabrik gula dari stasiun terdekat. Kesimpulan, pembangunan perkeretaapian di Cirebon pada awalnya ditujukan sebagai angkutan komoditas gula.

Sugar was one of the important trade commodities during the Dutch occupation. The abundant production of sugar disproportionated to the availability of freight transportation. Its consequences, the sugar company was hampered by both the low volumes and and the slow journey time of transported goods. As a result, the development of modes of transport was the solution needed. It would provide the solution based on the maximum payload and highest average speeds. The purpose of this study is to describe the role of railways in transporting sugar industry to the port in the Cirebon Residency. The research method used in the study is descriptive analysis. Research data were derived from library study, and field observations. The results of the study have shown that the railway line in Cirebon Residency was actually a part of the Semarang - Cirebon railway line built by NV. SCS. The disused railroad indicate clearly that there was an intersection to the sugar company from the nearest train station. It concluded that the railway construction in Cirebon was initially intended as the sugar transportation.

KEYWORDS
Gula, Cirebon, SCS, trem, jalur kereta api non-aktif

FULL TEXT:PDF

REFERENCES
Bintarto, H. R. (1977). Geografi Desa. Yogyakarta: U.P. Spring.

Burger, D. H. (1962). Sedjarah Ekonomi Sosiologis Indonesia. Djakarta: Pradnjaparamita.

Cahyo, D. N. (2017). Perkembangan Transportasi Kereta Api di Kabupaten Lamongan Tahun 1899 – 1932. Avatara, 5(1), 1402–1416. Diambil dari https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/17733

Darini, R., Hartono, M., Miftahuddin, Ashari, E., & Sulistyo, Y. B. (2014). Laporan Penelitian: Kereta Api di Jawa tengah dan Yogyakarta Tahun 1864-1930. Yogyakarta.

Hendro, E. P. (2014). Perkembangan Morfologi Kota Cirebon Dari Masa kerajaan Hingga Akhir Masa Kolonial. Paramita: Historical Studies Journal, 24(1), 17–30. https://doi.org/10.15294/paramita.v24i1.2861

Hermawan, I. (2015). Penempatan Perhentian Kereta Api Pada Jalur Rangkasbitung - Labuan. PURBAWIDYA: Journal of Archaeological Research and Development, 4(2), 137–149. Diambil dari http://purbawidya.kemdikbud.go.id/index.php/jurnal/article/view/P4%282%292015-6

Hermawan, I. (2017a). Laporan Penelitian Arkeologi: Kereta Api jalur Cirebon - Kadipaten, Aksesibilitas Antar Wilayah di Cirebon dan Sekitarnya Pada Awal Abad XX. Bandung.

Hermawan, I. (2017b). Laporan Penelitian Arkeologi: Kereta Api Jalur Cirebon - Kadipaten: Aksesibilitas Antar-Wilayah di Cirebon dan Sekitarnya pada Awal Abad XX. Bandung.

Hermawan, I. (2018a). Kereta Api: Kuasa Ekonomi pada Masa Kolonial Belanda. In D. Dwiyanto & N. S. Tedjowasono (Ed.), Kekuasaan, Kepemimpinan, dan Organisasi Masyarakat Masa Lampau (hal. 87–94). https://doi.org/https://doi.org/10.24164/prosiding18/07

Hermawan, I. (2018b). Laporan Penelitian Arkeologi: Keterkaitan Antara Transportasi Kereta Api dengan Perkembangan Wilayah Pada Masa Kolonial Di Kabupaten Cirebon dan Indramayu , Jawa Barat. Bandung.

Hermawan, I. (2019). Laporan Penelitian Arkeologi: Kereta Api dan tata Ruang Kota Cirebon, Jawa Barat. Bandung.

Hermawan, I., & Mainaki, R. (2019). Pemetaan Jalur dan Tinggalan Perkeretaapian Masa Kolonial Belanda di Wilayah cirebon Timur. Sosioteknologi, 18(3), 560–577. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.5614%2Fsostek.itbj.2019.18.3.21

Hudiyanto, R. (2015). Kopi dan Gula: Perkebunan di Kawasan Regentschap Malang 1832-1942. SEJARAH DAN BUDAYA: Jurnal Sejarah, Budaya, dan pengajarannya, 9(1), 96–115. Diambil dari http://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/1565/853

Kartodirdjo, S., & Suryo, D. (1991). Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.

Marihandono, D., Juwono, H., Budi, L. S., & Iswari, D. (2016). Sejarah Kereta Api Cirebon - Semarang, Dari Konsesi ke Nasionalisasi (E. Yulianto, ed.). Bandung: Aset Non Railway, Direktorat Aset Tanah dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

Mulyana, A. (2017). Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Purwanto, E. (2008). Kajian Arsitektural Stasiun NIS. ENCLOSURE: Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman, 7(2), 98–105.

Raap, O. J. (2017). Sepoer Oeap Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Semarang Cheribon Stoomtram-Maatschappij. (1913). Semarang Cheribon [peta]. Semarang Cheribon Stoomtram-Maatschappij. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/816557?solr_nav%5Bid%5D=4a155bed8f5ee17e19f0&solr_nav%5Bpage%5D=1&solr_nav%5Boffset%5D=13

Subarkah, I. (1992). 125 Tahun Kereta Api Kita, 1867-1992. Bandung: Yayasan Pusaka.

Sumaatmadja, N. (1988). Studi Geografi: Suatu pendekatan dan Analisa Keruangan (II). Bandung: Alumni.

Susatya, R. (2008). Pengaruh Perkeretaapian di Jawa Barat Pada Masa Kolonial. Diambil dari http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/12/pengaruh_ perkeretaapian_di_jawa_barat.pdf

Tim Telaga Bakti Nusantara. (1997). Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 1. Bandung: Angkasa.

Zuhdi, S. (2016). Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu pelabuhan di Jawa. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Popular Posts