WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Perlu Teladan untuk Berharap Adanya Perubahan Karakter

[Unpad.ac.id, 3/5/2012] Baru-baru ini di media massa, terkuak kabar mengejutkan mengenai ditemukannya kalimat tak layak dalam buku pelajaran bagi siswa sekolah dasar. Sejumlah istilah seperti ‘istri simpanan’ atau istilah-istilah lainnya telah menjadi perhatian banyak pihak. Lalu bagaimana pendidikan di Indonesia tetap memiliki cirinya, berkarakter dan berbudaya? Apakah masalah kebudayaan ini hanya tugas dari pemerintah?

“Mengubah karakter harus melalui contoh dan keteladanan,” tegas Yasraf A. Piliang, budayawan sekaligus Pengajar di Institute Teknologi Bandung (ITB) ketika menjadi pembicara dalam acara Seminar Nasional Kebudayaan “Potret Sukses Generasi Berbudaya” di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Unpad Jln. Dipatiukur No.35 Bandung, Kamis (3/5).

Menurutnya, persoalan mendasar di kita adalah sikap, karakter,mentalitas, dan etos kerja. Jika dibandingkan dengan di luar negeri, sistem pemerintahan dilaksanakan melalui pendekatan budaya. “Sementara di Indonesia, pendekatannya selalu pada pendekatan ekonomi,” tambahnya.

Mengenai cultural change, Yasraf menyampaikan bahwa perubahan kultural harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Perubahan kultural adalah motor penggerak utama perubahan. “Hanya melalui perubahan kultural yang komprehensif dan berkelanjutan mulai dari pemerintah, berbagai masalah fundamental masyarakat-bangsa secara bertahap dapat diatasi di masa depan,” lengkapnya.

Senada dengan sang budayawan, pemerhati sosial politik Indra J. Piliang menyampaikan bahwa kenyataannya saat ini, seluruh masalah, terutama dalam hal kebudayaan seringkali dikaitkan dengan bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah.

“Sekarang seolah-olah kebudayaan itu hanya urusan pemerintah. Padahal, manusia itu sendiri yang mempunyai kebudayaan. Pemerintah itu benda. Maka bukan mengenai fasilitas, infratruktur, atau bukan hanya mengenai kebijakan, tapi bagaimana manusianya,” kata Indra dihadapan ratusan peserta.

Selain Yasraf A. piliang dan Indra J. Piliang. Hadir pula pembicara lainnya di sesi II seperti Ahmad Fuadi (Sastrawan asal minangkabau) yang juga penulis novel Negeri 5 Menara. Hikmawan Saefullah ( Akademisi, Musisi), dan Nancy Margried Panjaitan ( CEO Batik Fractal Indonesia). Selain membahas pendidikan berkarakter dan berbudaya, dibahas pula bagaimana nilai edukasi budaya dapat menuju kesuksesan.

Acara yang diselenggarakan oleh Unit Pencinta Budaya Minangkabau (UPBM) Unpad ini merupakan rangkaian acara dari Ulang tahun perak/25 tahun UPBM dengan tema “Budaya Dalam Genggaman Pemuda, Follow Us to Share Your Culture”.

Seminar dibuka oleh penampilan Tari galombang Pasambahan dan peluncuran buku berjudul “Ekspresikan Budayaku, Budayamu, Budaya Kita” oleh anggota UPBM Unpad yang secara simbolis diserahkan kepada sejumlah tamu undangan, seperti Toto Sucipto, Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan nilai tradisional (BPSNT) Bandung, Direktorat Kebudayaan Kemdikbud. Kemudian kepada Priana Wirasaputra, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Bandung, dan Dr. Ir. Heryawan Kemal Mustafa selaku Direktur Kemahasiswaan Unpad.

Dalam sambutannya, Heryawan menyampaikan bahwa UPBM Unpad telah memasuki usia mapan untuk sebuah organisasi. “Harapan kami, bahwa UPBM dapat terus melebarkan sayapnya bukan hanya tingkat nasional, tapi juga internasional,” ungkapnya. Selain itu di usia ke 25 tahun ini, UPBM juga diharapkan dapat memenuhi keinginan para inisiator, para pendiri UPBM, yang ingin mempersatukan Bangsa kita melalui budaya. (Lydia Okva Anjelia)

Popular Posts