WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Falsafah Hidup Masyarakat Adat Kasepuhan Cisitu di Kabupaten Lebak

Oleh: Ria Andayani Somantri

Kasepuhan Cisitu merupakan salah satu masyarakat adat yang terdapat di wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kasepuhan tersebut terletak di wilayah Taman Nasional Salak Halimun, dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dalam kesehariannya masyarakat Kasepuhan Cisitu ada beberapa falsafah hidup yang cukup menarik untuk dicermati.

1. Tilu sapamali dua sakarupa nu hiji eta-eta keneh “tiga pantangan dua serupa dan yang satu itu-itu juga”. Pelaksanaan hal itu dalam berbagai kehidupan manusia selalu diatur oleh tiga faktor, misalnya di Indonesia tiga hukum, yaitu hukum adat, hukum agama, dan hukum negara. Ketiga hukum itu harus selalu harmonis karena satu dengan yang lainnya memiliki kepentingan yang sama. Jika salah satu diabaikan, akan terjadi ketidakseimbangan atau ketidakstabilan sebuah negara. Selama ketiganya harmonis maka sebuah negara akan sejahtera, rukun, dan damai. Kalau tidak harmonis di antara ketiganya, bahkan ketiganya tidak berwibawa maka akan kacaulah sebuah negara, seperti bunyi ungkapan: dukun kurang pangaruh, pamarentah kurang komara, ulama kurang wibawa. Dukun kurang pangaruh artinya adat istiadat hanya dijadikan kedok, dukun sebagai simbol hukum adat; pamarentah kurang komara artinya pemerintah kurang dihormati, pemerintah sebagai simbol hukum negara; dan ulama kurang wibawa artinya para ulama sebagai simbol hukum agama kurang berwibawa.

2. Dalam perilaku manusia ada tiga faktor penting, yaitu tekad (niat/itikad), ucap (perkataan), dan lampah (perilaku). Ketiganya akan berjalan saling menguatkan. Niat yang baik akan menghasilakan perkataan dan perilaku yang baik. Begitu pun sebaliknya jika niatnya sudah buruk maka perkataan dan perilaku juga akan tidak baik.

3. Dalam bidang pertanian terdapat tiga aspek penting, yaitu wareg (kenyang/sejahtera), waras (sehat), dan wacis (pendidikan). Pertanian bagi masyarakat desa merupakan mata pencaharian utama, dengan demikian para petani atau orang tua berharap dengan bertani akan tercukupilah kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan keluarga terutama masa depan keturunan mereka.

4. Keadaan alam dan masyarakat digambarkan dalam tigal hal, yakni alam ngaca, alam ngaco, dan alam ngaci. Alam ngaca artinya kejadian alam dijadikan sebagai cermin; alam ngaco artinya keadaan perilaku masyarakat yang sudah kacau balau; dan alam ngaci artinya keadaan alam yang sae (baik). Keadaan masyarakat atau alam yang sudah kacau balau digambarkan dalam sebuah ungkapan: dukun kurang pangaruh ‘dukun kurang dihormati’, paraji kurang sakti ‘dukun beranak diragukan kemampuannya’, pamarentah kurang komara ‘pemerintah tidak disegani’, ulama kurang wibawa ‘ulama tidak berwibawa’, dan rakyat euweuh kaera ‘rakyat sudah tidak memiliki rasa malu’.

5. Dalam aturan adat yang berlaku di Kasepuhan Cisitu ada yang disebut Lima N (maksudnya kalimat berakhiran konsonan –n) sebagai jimat paripih, yakni pangeran sembaheun ‘Tuhan untuk disembah’, nabi tuladaneun ‘nabi menjadi suri teladan’, karuhun turuteun ‘leluhur untuk diikuti’, makhluk binaeun ‘manusia untuk dididik’, dan nagara olaheun ‘negara harus diurus/diolah’.

6. Keseharian hidup masyarakat Kasepuhan Cisitu diatur dalam sebuah ungkapan leluhur yaitu mipit kudu amit, ngala kudu menta, nganggo kudu suci, dahar kudu halal, ngucap kudu bener. Mipit kudu amit artinya kalau mau berbuat harus minta izin terlebih dahulu; ngala kudu menta artinya apabila akan mengambil sesuatu harus terlebih dahulu meminta kepada pemiliknya; nganggo kudu suci artinya menggunakan sesuatu seperti pakaian atau barang-barang harus bersih agar terhindar dari penyakit; dahar kudu halal artinya apabila makan hendaklah memakan makanan yang halal, baik barangnya maupun caranya; dan ngucap kudu bener artinya berkata harus selalu benar. Jadi manusia itu harus selalu jujur, benar, cakap, berwibawa, dan dapat dipercaya.

7. Untuk menjaga keharmonisan dan terhindar dari gesekan-gesekan yang akan menimbulkan perselisihan dan perpecahan dalam bermasyarakat maka sebagai antisipasinya dijaga dengan aturan leluhur, yaitu samemeh ngampar kasur, kedah ngampar samak, samemeh ngoreksi batur , koreksi heula diri sorangan ‘sebelum menggelar kasur, harus menggelar tikar, sebelum mengoreksi orang lain, koreksi dulu diri sendiri’.

Popular Posts