WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label ria andayani. Show all posts
Showing posts with label ria andayani. Show all posts

Falsafah Hidup Masyarakat Adat Kasepuhan Cisitu di Kabupaten Lebak

Oleh: Ria Andayani Somantri

Kasepuhan Cisitu merupakan salah satu masyarakat adat yang terdapat di wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kasepuhan tersebut terletak di wilayah Taman Nasional Salak Halimun, dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dalam kesehariannya masyarakat Kasepuhan Cisitu ada beberapa falsafah hidup yang cukup menarik untuk dicermati.

1. Tilu sapamali dua sakarupa nu hiji eta-eta keneh “tiga pantangan dua serupa dan yang satu itu-itu juga”. Pelaksanaan hal itu dalam berbagai kehidupan manusia selalu diatur oleh tiga faktor, misalnya di Indonesia tiga hukum, yaitu hukum adat, hukum agama, dan hukum negara. Ketiga hukum itu harus selalu harmonis karena satu dengan yang lainnya memiliki kepentingan yang sama. Jika salah satu diabaikan, akan terjadi ketidakseimbangan atau ketidakstabilan sebuah negara. Selama ketiganya harmonis maka sebuah negara akan sejahtera, rukun, dan damai. Kalau tidak harmonis di antara ketiganya, bahkan ketiganya tidak berwibawa maka akan kacaulah sebuah negara, seperti bunyi ungkapan: dukun kurang pangaruh, pamarentah kurang komara, ulama kurang wibawa. Dukun kurang pangaruh artinya adat istiadat hanya dijadikan kedok, dukun sebagai simbol hukum adat; pamarentah kurang komara artinya pemerintah kurang dihormati, pemerintah sebagai simbol hukum negara; dan ulama kurang wibawa artinya para ulama sebagai simbol hukum agama kurang berwibawa.

2. Dalam perilaku manusia ada tiga faktor penting, yaitu tekad (niat/itikad), ucap (perkataan), dan lampah (perilaku). Ketiganya akan berjalan saling menguatkan. Niat yang baik akan menghasilakan perkataan dan perilaku yang baik. Begitu pun sebaliknya jika niatnya sudah buruk maka perkataan dan perilaku juga akan tidak baik.

3. Dalam bidang pertanian terdapat tiga aspek penting, yaitu wareg (kenyang/sejahtera), waras (sehat), dan wacis (pendidikan). Pertanian bagi masyarakat desa merupakan mata pencaharian utama, dengan demikian para petani atau orang tua berharap dengan bertani akan tercukupilah kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan keluarga terutama masa depan keturunan mereka.

4. Keadaan alam dan masyarakat digambarkan dalam tigal hal, yakni alam ngaca, alam ngaco, dan alam ngaci. Alam ngaca artinya kejadian alam dijadikan sebagai cermin; alam ngaco artinya keadaan perilaku masyarakat yang sudah kacau balau; dan alam ngaci artinya keadaan alam yang sae (baik). Keadaan masyarakat atau alam yang sudah kacau balau digambarkan dalam sebuah ungkapan: dukun kurang pangaruh ‘dukun kurang dihormati’, paraji kurang sakti ‘dukun beranak diragukan kemampuannya’, pamarentah kurang komara ‘pemerintah tidak disegani’, ulama kurang wibawa ‘ulama tidak berwibawa’, dan rakyat euweuh kaera ‘rakyat sudah tidak memiliki rasa malu’.

5. Dalam aturan adat yang berlaku di Kasepuhan Cisitu ada yang disebut Lima N (maksudnya kalimat berakhiran konsonan –n) sebagai jimat paripih, yakni pangeran sembaheun ‘Tuhan untuk disembah’, nabi tuladaneun ‘nabi menjadi suri teladan’, karuhun turuteun ‘leluhur untuk diikuti’, makhluk binaeun ‘manusia untuk dididik’, dan nagara olaheun ‘negara harus diurus/diolah’.

6. Keseharian hidup masyarakat Kasepuhan Cisitu diatur dalam sebuah ungkapan leluhur yaitu mipit kudu amit, ngala kudu menta, nganggo kudu suci, dahar kudu halal, ngucap kudu bener. Mipit kudu amit artinya kalau mau berbuat harus minta izin terlebih dahulu; ngala kudu menta artinya apabila akan mengambil sesuatu harus terlebih dahulu meminta kepada pemiliknya; nganggo kudu suci artinya menggunakan sesuatu seperti pakaian atau barang-barang harus bersih agar terhindar dari penyakit; dahar kudu halal artinya apabila makan hendaklah memakan makanan yang halal, baik barangnya maupun caranya; dan ngucap kudu bener artinya berkata harus selalu benar. Jadi manusia itu harus selalu jujur, benar, cakap, berwibawa, dan dapat dipercaya.

7. Untuk menjaga keharmonisan dan terhindar dari gesekan-gesekan yang akan menimbulkan perselisihan dan perpecahan dalam bermasyarakat maka sebagai antisipasinya dijaga dengan aturan leluhur, yaitu samemeh ngampar kasur, kedah ngampar samak, samemeh ngoreksi batur , koreksi heula diri sorangan ‘sebelum menggelar kasur, harus menggelar tikar, sebelum mengoreksi orang lain, koreksi dulu diri sendiri’.

Panduan Melaut bagi Nelayan Bojonegara, Serang-Banten

Oleh: Ria Andayani Somantri

Lingkungan alam beserta isinya yang ada di sekitar nelayan Bojonegara merupakan bagian dari pengetahuan para nelayan. Banyak di antaranya yang berfungsi sebagai pertanda akan terjadi sesuatu, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan nelayan. Tanda-tanda alam itu dipahami berdasarkan pengalaman yang berlangsung secara berulang dan diteruskan secara turun temurun. Tanda-tanda alam itu dapat berupa binatang, tumbuhan, benda-benda langit, cuaca, dan lain-lain. Beberapa di antaranya akan dijelaskan dalam uraian berikutnya. 
1. Bintang karti. Ciri-ciri bintang karti adalah bintangnya banyak dan berkumpul serta ada ekornya. Bintang karti biasanya muncul di langit pada bulan Jumadil Akhir sebagai puncaknya. Jika muncul bintang karti di langit, itu pertanda akan datang musim ikan teri. Kemunculan ikan teri dipastikan akan disertai ikan-ikan lainnya, karena teri merupakan umpan bagi ikan lainnya. 
2. Bintang beluku. Ciri-ciri bintang beluku adalah bintangnya berderet membentuk garis serupa huruf z. Bintang beluku biasanya muncul dua bulan setelah Jumadil Akhir. Jika muncul bintang beluku, nelayan percaya itu merupakan pertanda akan muncul ikan-ikan besar. 
3. Seret taun (angin puting beliung). Ketika ada mendung berwarna hitam dan bentuknya seperti jantung pisang, itu pertanda akan datang angin puting beliung. Nelayan pun dipastikan segera akan memacu perahu untuk menghindari terjangan angin puting beliung yang dapat membahayakan mereka. 
4. Air laut yang terlalu bening diyakini nelayan merupakan pertanda tidak ada ikan di wilayah itu. Air laut dikatakan bening jika sampai kedalaman 6 hingga 7 meter masih terlihat. 
5. Air laut yang terasa panas di tangan merupakan pertanda tidak ada ikan di wilayah tersebut. 
6. Air laut yang terlihat sangat keruh merupakan pertanda tidak ada ikan di wilayah tersebut. 
7. Air laut yang tidak terlalu bening dan tidak terlalu keruh merupakan pertanda ada ikan di wilayah tersebut. 
8. Ikan pesut. Jika ada ikan pesut datang dari utara menuju selatan, itu merupakan pertanda ikan tersebut sedang menggiring ikan ke Teluk Banten. Satu atau dua minggu kemudian biasanya akan muncul ikan teri. Kala teri sudah muncul, dipastikan ikan lain akan bermunculan pula. 
9. Pohon lamun. Jika pohon lamun berbunga dan hanyut dibawa arus, itu pertanda akan datang musim ikan. 
10. Rumpon. Rumpon adalah wilayah air yang menjadi tempat pembuangan benda-benda yang sudah tidak berguna lagi, seperti besi tua, beca, atau tempat perahu atau kapal karam. Di tempat-tempat seperti itu biasanya terdapat banyak ikan. 
11. Perkiraan waktu melaut. Selama ini para nelayan dapat memperkirakan waktu melaut berdasarkan pengalaman mereka. Pada Januari, mereka dapat melaut selama satu bulan, baik siang maupun malam; pada Februari, mereka dapat melaut siang dan malam dengan hasil tangkapan yang lumayan; pada Maret, mereka hanya bisa menangkap ikan pada malam hari; pada April, mereka susah menangkap ikan dan hasilnya “pas-pasan”; pada Mei, mereka menangkap ikan siang; pada Juli, mereka menangkap ikan malam hari; pada Agustus, Sptember, dan Oktober, mereka menangkap ikan pada malam hari; pada November dan Desember umumnya nganggur. Namun, belakangan ini cuaca sangat ekstrim sehingga perkiraan-perkiraan tersebut agak meleset. 
12. Bulan purnama atau bulan terang. Pada saat bulan terang, nelayan akan sulit mendapat ikan. Sebaliknya jika malam gelap, ikan akan banyak dan menngerubungi lampu yang dibawa nelayan. 
13. Arus. Pengetahuan nelayan Bojonegara tentang arus dapat dibedakan dari airnya. Jika air surut, mereka akan menuju arah barat; ketika airnya pasang, mereka akan munuju arah timur; kalau airnya jernih, nelayan akan menghindari wilayah itu karena jaring akan terlihat oleh ikan sehingga ikan susah masuk perangkap jaring. 
14. Jika teman sesama nelayan tidak berpindah tempat pada saat mencari ikan, itu pertanda terdapat banyak ikan di tempat tersebut. 

Karembong, Bagian dari Pakaian Wanita Baduy

Oleh: Ria Andayani Somantri

Karembong dapat dikatagorikan sebagai pakaian dalam wanita Baduy di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Ada perbedaan antara karembong yang digunakan oleh wanita Baduy di Tangtu dan di Panamping, khususnya terkait bahan yang digunakan. Karembong yang digunakan oleh wanita Baduy di Tangtu dibuat dari kain tenun, berwarna hitam, panjangnya kira-kira 2 meter, dan lebarnya sekitar 30 cm. Di Baduy Panamping/Baduy Luar, karembong dibuat dari merong ‘kain berwarna biru dengan motif batik khas Baduy, dengan ukuran panjang dan lebar yang hampir sama dengan `karembong yang digunakan di Tangtu. 
Karembong digunakan sebagai pakaian dalam bagian atas yang wajib dimiliki oleh kaum wanita Baduy. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku untuk semua umur. Karembong digunakan pada saat seorang wanita memasuki usia remaja, yang salah satunya ditandai dengan pertumbuhan organ kewanitaan di bagian dada yang mulai membesar. Pada saat seperti itu, dia harus sudah mulai memakai karembong untuk menutupi bagian dadanya. Kalau pun ada anak kecil yang menggunakan karembong, dipastikan akan melorot. Dengan demikian, karembong berfungsi untuk menutupi organ penting bagi mereka, yakni dari dada sampai dengan pinggang. Bagi wanita Baduy Tangtu, karembong beserta kelengkapan lainnya (baju atasan luar dan bawahan) digunakan sebagai pakaian sehari-hari mereka. Adapun bagi wanita Baduy Panamping, karembong berikut kelengkapan lainnya yang hampir sama digunakan saat mereka mengikuti kegiatan upacara adat. 

Cara menggunakan karembong cukup sederhana, yakni dengan melilitkan karembong sebanyak dua kali putaran pada bagian dada. Agar karembong dapat menempel dengan kuat di bagian dada, kedua ujung karembong disimpul mati. Jika akan menghadiri acara hajatan, simpul tersebut biasanya direunceum-reunceum ‘diberi hiasan untaian mute-mute’.

Tradisi Menangkap Ikan di Kepulauan Seribu

Oleh Ria Andayani Somantri

Nelayan di Kepulauan Seribu biasa melakukan penangkapan ikan atau binatang laut dengan alat-alat yang sederhana pada waktu-waktu terentu. Beberapa di antaranya adalah:

(a) Ngobor
Ngobor kerap dilakukan oleh nelayan di Kepulauan Seribu. Menangkap ikan seperti itu cukup mudah, hanya menggunakan lampu patromak sebagai alat penerang serta tombak sebagai alat untuk menangkap ikan. Kegaiatan menangkap ikan seperti ini biasanya dilakukan pada malam hari dan ketika air laut sedang surut (kering). Trik menagkap ikan pada malam hari yang di lakukan oleh masyarakat Kepulauan Seribu cukup ampuh. Mereka percaya, pada malam hari ikan biasanya tertidur dan bersembunyi di karang. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menangkap ikan-ikan tadi dengan menggunakan tombak yang sudah di kemas sedemikian rupa agar ikan yang mereka tangkap tidak bisa lepas dari tombak tersebut. 

Menangkap ikan seperti ini biasanya dilakukan secara berkelompok yang beranggotakan 3 orang. Ada yang bertugas memegang alat penerangan (patromak); ada yang kebagian membawa tombak; dan ada yang bertugas memegang tempat menampung ikan. Mereka biasanya berangkat pada pukul 24.00 WIB dan pulang pagi hari, ketika ikan sudah sulit untuk ditangkap. Hasil dari ngobor cukup menjanjikan dan jenis ikannya pun beragam, dari ikan baronang, kerapu, kepiting, hingga gurita. Mereka bisa membawa pulang hasil tangkapannya 5 hingga 10 kilo tiap malamnya. 

Ngobor memang masih ada namun sudah mulai ditinggalkan. Nelayan banyak yang lebih memilih menangkap ikan menggunakan perahu (motor laut) yang penghasilan jauh lebih banyak. Selain itu, banyak juga yang sudah beralih dari nelayan tangkap menjadi nelayan budidaya.

(b) Ngoyok
Ada beberapa hewan laut yang bisa diambil dengan cara-cara tertentu, di antaranya untuk mengambil kerang mata tujuh dan kerang geton dilakukan dengan cara ngoyok ‘mancing berendam atau berjalan di air’. Ada dua waktu yang dipandang tepat untuk mengambil kerang mata tujuh, yakni pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB s.d. 09.00 WIB. Pada saat itu nelayan memburu kerang mata tujuh yang sedang makan. Waktu lainnya adalah sore hari sekitar pukul 15.00 WIB s.d. 16.00 WIB. Kebiasaan ngoyok dilakukan pada kedalaman air saat surut yakni semata kaki s.d. pusar. 

Alat yang digunakan untuk mengambil kerang mata tujuh adalah gancu. Adapun alat untuk mengambil kerang geton adalah kayu yang diruncingkan pada bagian ujung, golok, linggis buat mencongkel nyongkel kerang geton atau menggunakan besi payung. Kerang kebanyakan ditemukan di selatan Pulau Panggang.

(c) Ngeramban
Ngeramban adalah kegiatan nelayan mencari berbagai hewan di laut yang dapat dijual dengan cara berjalan kaki menyusuri sepanjang pantai pada sore hari. Ikan laut yang diambil di antaranya, seperti elang mata tujuh dan tripang

Liliuran di Baduy, Membuat Pekerjaan Berat Menjadi Ringan

 Oleh: Ria Andayani Somantri

Rutinitas kehidupan sehari-hari orang Baduy di Desa Kanekes, Provinsi Banten meliputi aktivitas berladang di huma; mengerjakan pekerjaan sampingan, seperti menyadap nira dan membuat kerajinan anyaman; melakukan aktivitas kemasyarakatan; melaksanakan serangkaian ritual adat; dan lain-lain. Aktivitas tersebut ada yang dapat dikerjakan  sendiri atau dengan bantuan anggota keluarganya; Ada juga aktivitas yang memerlukan bantuan orang lain karena tergolong berat. Kalau pun dipaksakan dikerjakan sendiri beserta anggota keluarganya, dipastikan akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Kesulitan seperti itu, salah satunya dapat diatasi dengan cara liliuran. Semua aktivitas yang dikerjakan secara liliuran berada dalam ranah kepentingan pribadi, dan bukan kepentingan umum ataupun untuk kepentingan pemimpin adat mereka.

Lliliuran memang menunjuk pada bantuan tenaga untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang berat. Bantuan tenaga itu tidak perlu diupah, karena nanti akan dibayar dengan tenaga juga pada saat mereka membutuhkannya. Tradisi liliuran di Baduy ada di berbagai lapisan masyarakat, baik anak-anak, remaja, juga orang dewasa. Setiap kelompok liliuran  hanya mewakili satu jenis kelamin, laki-laki saja atau perempuan saja. Hampir tidak ada  kelompok liliuran dengan anggota laki-laki dan perempuan bergabung di dalamnya.

Tradisi liliuran dalam kehidupan orang Baduy sudah ditanamkan sejak dini kepada anak-anak oleh orang tua, khususnya di lingkungan bermainnya. Kelompok bermain merupakan arena sosial pertama yang dimanfaatkan orang tua untuk mengaktualisasikan aktivitas liliuran pada anak-anak. Aktivitas yang akan dikerjakan secara liliuran dalam kelompok bermain tersebut disesuaikan dengan usia mereka, misalnya mengambil kayu bakar dan bahan makanan di huma. Sebagai ucapan terima kasih, mereka akan disuguhi kue-kue atau bahkan dijamu makan oleh orang tua dari anak yang melaksanakan liliuran.

 Liliuran dalam kelompok bermain seperti itu umumnya dapat dipertahankan hingga mereka beranjak remaja bahkan sampai berumah tangga, karena menemukan kecocokan satu sama lainnya. Pengurangan anggota dalam kelompok liliuran bisa saja terjadi karena rasa bosan, terjadi kesalahpahaman,  atau mereka sudah tidak tinggal lagi di kampung yang sama. Kalaupun seseorang keluar dari keanggotaan kelompok tersebut, dia tetap akan mencari kelompok liliuran yang baru. Dengan demikian, akan terjadi penambahan anggota pada kelompok liliuran yang lain.

Seseorang yang telah tergabung dalam suatu  kelompok liliuran akan terikat oleh hak dan kewajibannya sebagai anggota. Dia berhak dibantu oleh anggota lainnya jika akan melakukan aktivitas yang telah disepakati bersama. Adapun kewajibannya adalah ikut serta membantu anggota lain yang akan mengerjakan aktivitas yang telah disepakati bersama. Selain itu, dia harus memiliki kemampuan (kesiapan untuk menjamu mereka yang melakukan kegiatan liliuran) dan pengetahuan untuk mengerjakan semua aktivitas yang telah disepakati bersama pula. Keberlangsungan kelompok liliuran  biasanya dikendalikan oleh seorang anggota yang dituakan karena beberapa faktor, seperti usianya cukup senior, dan memiliki kemampuan untuk memimpin dengan tegas juga  bijaksana. Tugas yang diembannya antara lain menerima informasi dan menyebarkan informasi jika ada anggota yang akan menyelanggarakan kegiatan; mengatur jadwal kegiatan liliuran; mengingatkan dan  menegur anggota yang lalai menjalankan kewajibannya. Beberapa contoh jenis kegiatan yang diselesaikan dengan cara liliuran pada kelompok liliuran remaja dan dewasa adalah sebagai berikut.

-      Kegiatan kelompok liliuran perempuan biasanya menggarap pekerjaan yang ada urusannya dengan dapur, seperti mengambil bahan makanan, mengambil daun, dan menumbuk padi, dan menenun kain.

-     Kegiatan kelompok liliuran laki-laki biasanya mengerjakan beberapa bagian dalam tahapan berladang, yaitu nyacar ’ kegiatan menebas rumput atau semak belukar’, nuaran ‘menebang pohon-pohon kecil, dan memangkas dahan-dahan pohon besar agar lahan memperoleh sinar matahari yang banyak’,  ngaseuk membuat lubang untuk menanam benih padi dengan menggunakan aseuk (tugal)’, dan ngored. Kegiatan liliuran di bidang itu biasanya menjadi agenda rutin kelompok liliuran pemuda dan laki-laki dewasa. Selain itu, liliuran juga dilakukan ketika ada angggota kelompok yang akan membangun rumah atau memperbaiki rumah. Beberapa pekerjaan yang biasa dikerjakan dengan cara liliuran meliputi:

-     Mengambil bahan bangunan, yakni mencari bahan-bahan bangunan di  leuweung lembur  (hutan yang ada di sekitar kampung yang bersangkutran).  Jika di sana tidak menemukan bahan yang dicari, pencarian dapat dilakukan ke tempat lain. Bahan-bahan untuk membuat rumah yang biasa digunakan adalah kayu albasiah, kadu ’durian’, dan duku. Kayu-kayu tersebut akan digunakan untuk membuat tiang dan rangka; kiray atau rumbia dan ijuk pohon kawung atau aren, yang akan digunakan untuk membuat atap; awi ’bambu’, yang akan digunakan untuk membuat giribig ’bilik’ dan palupuh ’lantai’.

-     Nutus, yakni membuat atap kiray. Pada waktu-waktu senggang, lembar demi lembar daun kiray dirangkai menjadi atap. Ada kalanya pula atap dibuat pada waktu senggang di ladang.

-     Membuat giribig ’bilik’ untuk dinding rumah. Pada waktu senggang,  bambu-bambu dibelah hingga tipis lalu dianyam menjadi sebuah giribig. Ukuran giribig dibuat sedikit lebih besar dari ukuran bidang rumah yang akan ditutupi.

-      Memuat  palupuh ’lantai’, yang juga dilakukan jauh hari sebelumnya.


Menjadi anggota suatu kelompok liliuran dipandang perlu karena terdapat banyak manfaat di dalamnya. Beberapa keuntungan yang dapat dirasakan oleh anggota kelompok tersebut, di antaranya menjalin dan memperkuat  ikatan persahabatan atau pertemanan, mempererat keakraban, dapat saling membantu dalam pekerjaan, dan melestarikan tradisi leluhur.


Peralatan Sunat Milik Bengkong

Oleh : Ria Andayani Somantri

Bengkong dapat dikatakan sebagai profesi yang sangat langka. Salah seorang bengkong, Mahfud dari Mampang Prapatan, DKI Jakarta masih mempertahankan pekerjaannya sebagai bengkong karena menjaga amanat  ayahnya agar tetap menjaga keistimewaan dan kelebihan tersebut yang telah dimiliki dia dan leluhurnya. Selain itu, dia merasa karena sampai saat ini masih ada warga Betawi yang masih memerlukan dan menggunakan jasanya sebagai bengkong.

Untuk melaksanakan pekerjaannya, bengkong memerlukan peralatan kerja yang terdiri atas tiga jenis, yakni:

Penjepit ujung

Alat tersebut berbentuk seperti sumpit, hanya ukurannya lebih pendek, lebih tipis,  mengecil dan tumpul di salah saatu ujungnya. Alat tersebut terbuat dari bahan bambu atau tulang. Ketika prosesi sunat berlangsung, alat tersebut dimasukkan ke dalam lubang penis pengantin sunat dengan kedalaman tertentu.

Penjepit jaga

Alat yang kedua, yakni penjepit jaga yang tampak seperti katapel. Bahan yang digunakan untuk membuat alat tersebut bisa dari bambu atau tulang. Pada bagian tengah penjepit jaga terdapat celah yang berfungsi untuk menjepit penis pengantin sunat pada jarak tertentu sebelum disunat.

Pisau

Pisau yang digunakan untuk menyunat tampak seperti pisau cukur. Pisau tersebut sangat tajam, dan biasanya akan diasah setelah dipakai sekitar 20 kali sunat. Pisau tersebut digunakan untuk memotong bagian tertentu pada alat kelamin pengantin sunat.

Selain peralatan kerja yang disebutkan tadi,  bengkong juga menyediakan obat-obat untuk keperluan sunat yang terdiri atas:

  • Alkohol, yang digunakan untuk mensterilkan peralatan sunat, seperti pisau, penjepit ujung, dan penjepit jaga.
  • Betadin digunakan untuk mengobati luka pada alat kelamin pengantin sunat.
  • Nebasetin, yang berfugsi sebagai obat luar. Bentuknya berupa powder yang ditaburkan pada bagian penis yang disunat. Tujuan pemberian powder tersebut adalah untuk mengeringkan darah.
  • Transamin atau kalnek, berupa pil  yang berfungsi sebagai obat dalam dengan cara diminum untuk mengeringkan luka dan menghilangkan rasa sakit.
  • Putih telur, digunakan jika pengantin sunat masih mengalami pendarahan setelah l0 menit lewat dari proses sunat.  Putih telur dioleskan ke bagian luka sunat yang masih berdarah. Kegunaan putih telur adalah untuk menghentikan  pendarahan tersebut.

Karembong, Bagian dari Pakaian Wanita Baduy

Oleh: Ria Andayani Somantri

Karembong dapat dikatagorikan sebagai pakaian dalam wanita Baduy di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Ada perbedaan antara karembong yang digunakan oleh wanita Baduy di Tangtu dan di Panamping, khususnya terkait bahan yang digunakan. Karembong yang digunakan oleh wanita Baduy di Tangtu dibuat dari kain tenun, berwarna hitam, panjangnya kira-kira 2 meter, dan lebarnya sekitar 30 cm. Di Baduy Panamping/Baduy Luar, karembong dibuat dari merong ‘kain berwarna biru dengan motif batik khas Baduy, dengan ukuran panjang dan lebar yang hampir sama dengan karembong yang digunakan di Tangtu.

Karembong digunakan sebagai pakaian dalam bagian atas yang wajib dimiliki oleh kaum wanita Baduy. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku untuk semua umur. Karembong digunakan pada saat seorang wanita memasuki usia remaja, yang salah satunya ditandai dengan pertumbuhan organ kewanitaan di bagian dada yang mulai membesar. Pada saat seperti itu, dia harus sudah mulai memakai karembong untuk menutupi bagian dadanya. Kalau pun ada anak kecil yang menggunakan karembong, dipastikan akan melorot. Dengan demikian, karembong berfungsi untuk menutupi organ penting bagi mereka, yakni dari dada sampai dengan pinggang. Bagi wanita Baduy Tangtu, karembong beserta kelengkapan lainnya (baju atasan luar dan bawahan) digunakan sebagai pakaian sehari-hari mereka. Adapun bagi wanita Baduy Panamping, karembong berikut kelengkapan lainnya yang hampir sama digunakan saat mereka mengikuti kegiatan upacara adat. 

 Cara menggunakan karembong cukup sederhana, yakni dengan melilitkan karembong sebanyak dua kali putaran pada bagian dada. Agar karembong dapat menempel dengan kuat di bagian dada, kedua ujung karembong disimpul mati. Jika akan menghadiri acara hajatan, simpul tersebut biasanya direunceum-reunceum ‘diberi hiasan untaian mute-mute’.


Samping Hideung, Pakaian Perempuan Baduy Dalam

 Oleh: Ria Andayani Somantri


Aturan adat yang melarang wanita Baduy Tangtu/Baduy Dalam mengenakan pakaian yang berasal dari luar Baduy juga berlaku pada pakaian bagian bawah yang dikenakan oleh mereka. Hanya ada satu jenis pakaian bagian bawah yang digunakan oleh mereka, yakni samping hideung.
Samping hideung menunjuk pada kain tenun berwarna hitam (Sunda: hideung). Samping hideung biasanya digunakan untuk membuat pakaian, baik untuk masyarakat Baduy Tangtu/Dalam maupun Baduy Luar/Panamping. Laki-laki dan perempuan dapat menggunakan samping hideung untuk berpakaian. Namun yang paling banyak menggunakan samping hideung adalah kaum perempuan Baduy Tangtu/Baduy Dalam. Samping hideung merupakan satu-satunya pakaian bagian bawah yang digunakan oleh kaum wanita Baduy Tangtu/Baduy Dalam. Hal itu dapat dikatakan salah satu pakaian yang wajib dimilki oleh mereka. Mereka tidak boleh mengunakan model, bahan, dan warna di luar itu. Samping hideung yang dikenakan oleh mereka disatukan pada kedua ujung sisi lebarnya dengan cara dijahit menggunakan tangan sehingga menyerupai kain sarung. Model samping hideung yang menyerupai sarung memudahkan mereka berjalan, bergerak, dan beraktivitas.
Cara menggunakan samping hideung cukup mudah, bisa melewati kepala dulu atau melalui kaki terlebih dahulu agar badan masuk ke dalam samping. Kemudian Setelah itu, ada tiga cara meletakkan samping di badan yang disesuaikan dengan peruntukannya. Pertama disamping jangkung yakni menggunakan samping hideung dari mulai dada (menutup payudara) sampai ke bawah sesuai dengan tinggi samping tanpa menggunakan baju atasan. Untuk menjaga agar samping tidak melorot, salah satu ujung samping disisipkan di antara dada dan samping. Saat disamping jangkung, wanita Baduy Tangtu/Baduy Dalam biasanya tidak memakai baju bagian atas. Model samping seperti itu biasanya digunakan saat wanita Baduy Tangtu/Baduy Dalam akan pergi mandi; kedua, disamping luhur atau disamping pungsat, yakni menggunakan samping dari pinggang hingga sedikit di bawah lutut. Model samping seperti itu biasanya berpasangan dengan baju atasan dan digunakan agar mudah saat berjalan misalnya; dan ketiga disamping landung, yakni menggunakan samping dari pinggang hingga mata kaki. Untuk sehari-hari, model disamping landung yang paling banyak digunakan. Untuk menjaga agar saat disamping landung dan disamping pusat tidak melorot, kedua ujungnya disimpulkan di pinggang bagian kiri atau kanan.

Penggunaan Samping Poleng Dan Samping Merong Pada Perempuan Baduy

 Oleh: Ria Andayani Somantri


Samping merong menunjuk pada pakaian bagian bawah yang digunakan oleh wanita di Baduy Panamping/Baduy Luar. Pakaian tersebut dibuat dari merong, yakni kain dengan motif batik khas Baduy. Kain merong tersebut dijahit pada kedua ujungnya seperti sarung, model inilah yang dinamakan samping merong di Baduy Panamping/Baduy Luar. Ada beberapa motif merong, di antaranya motif batik hariang, dayang sumbi, kembang aggrek, kembang picung, ampera, darmayu, dan memble. Warna samping merong yang paling dominan dan wajib dimiliki oleh wanita Baduy Panamping/Baduy Luar adalah biru dengan motif batik hariang. Adapun warna lainnya sebagai pelengkap adalah hitam, hijau, coklat, dll. Mereka tidak membuat sendiri samping merong tersebut, namun mereka membelinya dari Tanah Abang Jakarta. Untuk memenuhi kebutuhan akan samping merong, terdapat kios-kios di luar dan di dalam wilayah Baduy yang juga menjual samping merong, khususnya untuk wisatawan yang datang ke baduy.
Cara menggunakan samping merong, bisa melalui kepala atau kaki yang lebih dulu dimasukkan ke dalam samping. Selanjutnya samping diletakkan sesuai keinginan, apakah akan disamping panjang/disamping landung, disamping jangkung, disamping luhur atau disamping pungsat.
Jika seorang perempuan akan disamping panjang/disampng landung, posisi samping berada di pinggang sambil dipegang oleh tangan kiri dan tangan kanan. Panjang samping diatur agar sampai ke mata kaki. Jika terlalu panjang, bagian atas samping dilipat ke arah dalam samping agar diperoleh tinggi semata kaki. Lebar samping yang di sebelah kiri dan sebelah kanan biasanya tidak sama. Misalnya, lebar di sebelah kiri lebih pendek dan sebelah kanan lebih panjang. Kemudian, tangan sebelah kanan melipat samping sebelah kanan ke posisi sebelah kiri yang lebih pendek. Selanjutnya, tangan kiri dan tangan kanan menyimpul mati kedua ujung samping agar kuat menempel di pinggang. Cara seperti itu bisa dilakukan juga untuk arah sebaliknya. Model samping tersebut biasa digunakan untuk sehari-hari.

Jika seorang perempuan akan disamping luhur atau disamping pungsat, posisi samping berada di pinggang hingga sedikit di bawah lutut. Cara menggunakan dan mengatur tinggi samping sama dengan disamping landung, hanya tingginya yang berbeda. Model samping seperti itu biasanya digunakan saat berjalan jauh atau beraktivitas agar bagian bawah samping tidak terinjak.
Jika seorang perempuan akan disamping jangkung, posisi samping merong berada di dada (menutupi payudara) sampai ke bawah sesuai dengan tinggi samping. Agar samping dapat menempel di badan, samping dibentangkan ke sebelah kiri, sedangkan samping yang di sebelah kanan menempel di sisi badan sebelah kanan. Kemudian, samping merong yang di sebelah kiri tadi dilipat ke sebelah kanan. Agar tidak melorot, ujung samping yang dilipat disisipkan di antara dada dan samping. Cara seperti itu bisa dilakukan pada posisi sebaliknya. Model samping tersebut biasanya digunakan saat wanita Baduy Panamping/Baduy Luar akan pergi mandi;
Selain dijadikan samping, kain merong juga sekarang dijadikan bahan untuk membuat rok. Model rok biasanya sangat sederhana, bagian pinggang disesuaikan dengan ukuran lingkar pinggang pemakainya, bagian bawah rok agak lebar atau longgar, dan panjang rok umumnya semata kaki. Rok juga menjadi alternatif pakaian bawah yang digunakan oleh para wanita di Baduy Panamping/Baduy Luar. Peminat rok merong biasanya perempuan yang relatif muda. Pertimbangan mereka untuk menggunakan rok merong karena dipandang lebih praktis dibandingkan dengan samping merong. Rok biasanya dipasangkan dengan kabaya atau pakaian bagian atas lainnya. Ketika seorang perempuan menggunakan rok merong, pakaian bagian atas biasanya dikeluarkan.

Masih ada satu lagi pakaian bagian bawah yang wajib dimiliki oleh wanita di Baduy Panamping/ Baduy Luar, yaitu samping poleng. Samping poleng adalah kain tenun dengan warna dasar hitam, ada variasi garis tipis berwarna biru terang dan merah. Pada bagian kedua sisi panjangnya berwarna biru terang. Kedua sisi lebar kain tenun itu dijahit hingga menyerupai sarung. Kain tenun yang menyerupai sarung seperti itulah yang disebut samping poleng di Baduy Panamping/Baduy Luar. Samping poleng tidak digunakan sebagai pakaian sehari-hari, melainkan khusus digunakan untuk acara adat dan saat berkunjung ke Baduy Dalam/Baduy Tangtu. Untuk memenuhi kebutuhan akan samping poleng, wanita di Baduy Panamping/ Baduy Luar menenun sendiri kainnya.

Cara menggunakan samping poleng hampir sama dengan menggunakan samping merong. Umumnya, samping poleng dipakai dari pinggang sampai mata kaki atau digunakan seorang perempuan dengan cara disamping landungSamping poleng biasanya dipasangkan dengan pakaian bagian atas berupa karembong merong dan kabaya berwarna putih.

Sistem Gotong Royong Pada Masyarakat Baduy Di Desa Kanekes Provinsi Banten

By Ria Andayani Somantri

Abstract
The Mutual Cooperation System in Baduy Communities in Kanekes Village, Banten Province is a description of mutual cooperation activities that live in the Baduy community in Banten. This activity is reflected in the tradition of connection, namely the habit of the Baduy people sending or donating something to people who are holding a celebration or party with a reciprocal system (reciprocity); liliuran tradition, namely Baduy community habits that more leads to social gathering to complete an activity or work; dugdug rempug tradition, namely mutual cooperation activities based on the desire for spontaneity to help and help parties who need their help and assistance; and the tradition of waiting for overtime, namely the activity of a group of Baduy who jointly carry out activities to maintain 'village' overtime from various possibilities that would endanger the security of the village and its contents. Connection traditions, lilies, dugdug rempug, and waiting for overtime still survive until now, because they are considered capable of overcoming a number of problems, which essentially require a collaboration between the same Baduy community.

Abstract
This research aims to describe some Baduy traditions that still exist today, which called nyambungan (giving donation to someone who has celebration), liliuran (collecting human resources to build something), dugdug rempug (spontaneous act to help others), and tunggu lembur (guarding their village from unexpected danger). They are all based on gotong-royong (working together to help each other). Theses traditions are preserved because they are considered solutions for many of their social problems.

Keywords: gotong-royong, tradition, togetherness, traditions.

Patanjala published in Vol. 4, No. 1, March 2012

Sistem Religi pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub Provinsi Banten

Oleh Ria Andayani S.

Abstrak
Sistem religi masyarakat Kasepuhan Cicarucub diwarnai oleh dua unsur penting, yakni agama dan kepercayaan warisan nenek moyang mereka. Mereka menganut agama Islam, namun mereka juga masih mempertahankan dan melaksanakan kepercayaan warisan leluhur. Kepercayaan yang mereka anut, teraktualisasikan dalam adat istiadat mereka yang tampak khas, seperti dalam bidang pertanian, kepemimpinan, dan aktivitas daur hidup manusia. Dengan kata lain, agama dan adat istiadat menjadi pedoman hidup warga masyarakat Kasepuhan Cicarucub. Oleh karena itu, kedua unsur tersebut berjalan harmoni dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kata Kunci: Sistem religi, masyarakat Kasepuhan.

Abstract
Religy’system of Kasepuhan Cicarucub’s society was built by two important thing. Those are religion and ancestor’s belief. They are Moslem, although they still keep and do their ancestor’s belief who are shown in the unique customs, such as agriculture, leadership. And life cycle. So, religion and customs become a way of life for them and give them a harmonic life.

Keywords: Religy’s system, custom society.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 1 No. 1 Maret 2009

Organisasi Sosial pada Masyarakat Giri Jaya Padepokan Desa Giri Jaya Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi

Oleh Ria Andayani Somantri

Abstrak
Penelitian tentang organisasi sosial pada masyarakat Giri Jaya Padepokan di Kabupaten Sukabumi bertujuan untuk mengetahui dasar-dasar pembentukan dan struktur organisasi sosial pada masyarakat tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi, dengan pendekatan kualitatif melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan. Dari penelitian tersebut diperoleh gambaran bahwa organisasi sosial pada masyarakat Giri Jaya Padepokan mengacu pada satu tatanan lama warisan leluhur atau lembaga adat yang masih digunakan sampai saat ini. Sekalipun tidak ada nama lokal bagi lembaga adat tersebut, struktur lembaga adatnya cukup jelas dan sederhana. Struktur lembaga adat itu terdiri atas ketua adat, sesepuh adat (wakil ketua adat, juru kunci, amil, tokoh seni, tokoh agama, paraji, koordinator warga, dan tokoh masyarakat), serta warga Giri Jaya Padepokan yang disebut jamaah.

Kata kunci: organisasi sosial.

Abstract
This paper is about social organization of the community of Giri Jaya Padepokan in Sukabumi. The aim of the study is to examine some basis for the function of the structure of social organization in the community. The author used descriptive method and qualitative approach. Data were collected through interviews and observations. The author came into conclusion that the community of Giri Jaya Padepokan is still preserving the structure of social organization inherited from their ancestors. The institutions in question are ketua adat (the chief), sesepuh adat (the elders), juru kunci (the locksmith), amil (a person who collects charity for religious purposes), and other public figures such as art and political figures, paraji (midwives), a coordinator for people, and the people of Giri Jaya Padepokan itself called jamaah.

Keywords: social organization.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Lembaga Adat di Kasepuhan Cipta Mulya Desa Sinar Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat

Oleh Ria Andayani Somantri

Abstrak
Penelitian tentang Lembaga Adat di Kasepuhan Cipta Mulya, Kampung Cipta Mulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat bertujuan untuk mengetahui hal yang mendasari lembaga adat itu terbentuk,termasukjuga struktur lembaga adat Kasepuhan Cipta Mulya. Penelitian tersebut bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan teknik pengamatan; dan wawancara mendalam kepada sejumlah informan, yang ditentukan melalui metode snowballing. Data sekunder didapat melalui studi literatur yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga adat di Kasepuhan Cipta Mulya mengacu pada aturan-aturan warisan leluhurnya yang terkristalkan dalam lembaga adat yang disebut kasepuhan. Struktur organisasi lembaga adat kasepuhan tergambarkan dalam hierarki yang didasarkan pada penguasaan tentang adat isitiadat setempat. Hierarki tersebut terdiri atas ketua adat, baris sesepuh, dan warga Kasepuhan Cipta Mulya.

Kata kunci: lembaga adat, kasepuhan, Cipta Mulya

Abstract
This research aims to investigate the reason for the establishment of this institution, including its structure. This is a descriptive-analytical research using qualitative approach. The author compiled primary and secondary data as well. Primary data are obtained through observation and in-depth interview with some informants using snowballing method. Bibliographic study is conducted to get secondary data to analyse research question. The result is, that the customary institution in Kasepuhan Cipta Mulya is referred to the rules inherited from their ancestors and crystallized in the form of customary institution called kasepuhan. The structure of the Kasepuhan is based on the ability of person in mastering adat (custom) rules. Hierarchically, it consists of ketua adat (the chief), baris sesepuh (the elders), and warga (the people) of Kasepuhan Cipta Mulya.

Keywords: customary institution, kasepuhan, Cipta Mulya

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 2 Juni 2011

Upacara Ngalungsur Pusaka di Kabupaten Garut

Oleh: Dra. Ria Andayani S.

Abstrak
Upacara Ngalungsur Pusaka merupakan suatu tradisi yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh komunitas juru kunci di makam keramat godog. Upacara tersebut menggambarkan prosesi penurunan dan pencucian benda-benda pusaka tinggalan Sunan Rohmat Suci. Pusaka tersebut merupakan simbol sepak terjang dan perilaku dia semasa hidupnya dalam memperjuangkan agama Islam. Melalui upacara tersebut, diharapkan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanannya tersosialisasikan kepada masyarakat sehingga mereka dapat memaknainya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Peranan Saung Angklung Udjo dalam Proses Transformasi Budaya Sunda pada Generasi Muda di Kelurahan Pasir Layung Kecamatan Cibeunying Kidul Kota Bandun

Oleh: Dra. Ria Andayani S.

Abstrak
Saung Angklung Udjo, nama yang cukup populer dalam dunia pariwisata dan seni budaya tradisional di Jawa Barat, khususnya di Bandung. Kemampuan mengemas atraksi seni budaya tradisional Sunda melalui keceriaan anak-anak dan remaja, menjadi magnet bagi wisman dan wisnu untuk mempir ke tempat tersebut. Di balik semua itu, Saung Angklung Udjo merupakan aset tak ternilai bagi kelangsungan budaya Sunda. Secara tidak langsung, tempat tersebut menjadi media transformasi budaya Sunda pada generasi muda.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 26, Oktober 2002

Sistem Pengetahuan Lokal Nelayan di Desa Mancagahar Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut

Oleh: Dra. Ria Andayani S., dkk.

Abstrak
Penelitian ini memang cukup menarik, di dalamnya memuat berbagai pengetahuan yang dimiliki para nelayan di Desa Mancagahar. Di antaranya, pengetahuan tentang dunia mereka khususnya mengenai lautan, pengetahuan tentang lingkungan alam dan cuaca, pengetahuan mengenai cara menangkap ikan, serta pengetahuan tentang pembuatan perahu dan jaring. Dari keseluruhan pengetahuan lokal tersebut ada yang merupakan adopsi dari kelompok nelayan yang berasal dari daerah lainnya, dan tak sedikit pula yang merupakan milik nelayan Desa Mancagahar sendiri.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 15, Agustus 1998

Sawen Penolak Bala pada Masyarakat Kampung Banceuy

Jurnal Penelitian Edisi 40/April 2008

Dra. Ria Andayani S.

Abstrak

Sawen, lengkapnya Sawen Tulak Bala, adalah cara tradisional yang dipercaya oleh masyarakat Banceuy dapat menolak berbagai gangguang kekuatan gaib dan wabah penyakit. Kepercayaan itu merupakan warisan leluhur mereka yang sudah berlangsung secara turun-temurun.

Unsur inti sawen adalah jenis-jenis tumbuhan tertentu yang dianggap mengandung kekuatan magis. Jenis-jenis tumbuhan itu dicari dan dikumpulkan secara kolektif, dengan jumlah sesuai yang diperlukan. Melalui ritual khusus, tiap jenis tumbuhan diikat menjadi beberapa gulungan. Ritual dengan media kemenyan dan lain-lain, dipimpin oleh seseorang yang disebut abah. Sawen kemudian ditempat pada tempat tertentu, baik di rumah maupun di luar rumah.

Dalam penelitian diketahui, bahwa makna sawen beserta ritualnya, berhubungan erat dengan beberapa aspek kehidupan, antara lain religi (kepercayaan), kesehatan, dan kepemimpinan. Ritual-ritual yang berkaitan dengan sawen, selain bermakna sebagai pelestarikan tradisi leluhur, juga merupakan media silaturahmi dan kebersamaan, sehingga terjadi hubungan erat dan harmonis di kalangan masyarakat.

Kata kunci: Sawen. Kepercayaan Tradisional.

Busana Tradisional Sangir-Talaud

Oleh Ria Andayani S.

Menurut asal katanya, nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. Sedangkan menurut asal-usulnya, terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Ada yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate, sebagai penduduk asli Sulawesi Utara, penduduk keturunan bangsa Filipina, atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. Namun terlepas dari semua itu, orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara

Sekitar abad ke-16, penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana.

Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan, peminangan, penasbihan desa, atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Nama busana tersebut adalah laku tepu, yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis, dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. Sementara itu, untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut, dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya.

Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah, ungu, kuning tua, dan hijau tua. Baju jenis ini, pada zaman dulu terbuat dari kain ,kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya, dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru, hijau, kuning, atau merah darah. Namun saat ini, keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya, yakni warna terang dan mencolok.

Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap.

Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki, di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul, krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya, serta berlengan panjang. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua, keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan, ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang, dan ikat kepala berbentuk segitiga. Khusus untuk ikat kepala, bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala.

Sementara itu, busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang, krah baju berbentuk bulat, dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal, sunting (topo-topo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala, gelang, antinganting, kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua, serta selendang (bawandang liku). Khusus untuk selendang, pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah, dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. Saat ini, keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah, kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi).

Selain pada kelengkapan busana pengantin, kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut, kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang, celana panjang, ikat pinggang, dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Hingga saat ini, pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. Dalam hal ini, ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak memiliki kedudukan di dalam masyarakat; paporong tingkulu, yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah; paporong datu bouwawina, yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi; dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari.

Sementara itu, busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria, selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang.

Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri, biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Selendang tersebut dinamakan kaduku, yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. Cara memakainya, yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah, hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan, yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan.

Sumber: http://www.tamanmini.com

Busana Tradisional Bolaang Mongondow

Oleh Ria Andayani Somantri

Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow, sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow, Bolaang Uki, Bintauna, dan Kerajaan Kaidipang Besar. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu, melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial, mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat.

Aktualisasi dari semua itu, tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu, atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. Pada masa itu, ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. Oleh karena itu, tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri.

Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial, yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja, menerima tamu-tamu kerajaan, menghadiri undangan-undangan resmi, atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja; busana bayi; busana pengantin, pengantin wanita maupun pengantin pria; dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian.

Sementara itu, ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Misalnya, busana kohongian, yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan, tepatnya digunakan pada upacara perkawinan; busana simpal, yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. Sama halnya dengan busana kohongian, busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan; Busana kerja guha-ngea, yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. Selain itu, ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi.

Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow, tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. Pada umumnya, busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu, sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso, baju atau baniang, celana dan sarung tenun. Secara umum, busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. Akan tetapi, ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. Hal tersebut terletak pada detil pakaian, kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh, serta kualitas bahan yang digunakan.

Dalam hal ini, busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah, ungu, kuning, keemaasan, dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas, serta kualitas bahan yang paling baik, tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi, seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. Selain busana kebesaran seperti itu, para bangsawan pun memiliki busana kedukaan, yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. Dalam hal ini, pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. Di samping itu, juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun.

Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan, tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya, semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai, detil busana, serta aksesorinya. Khusus mengenai perhiasan, mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. Dalam hal ikat kepala pria misalnya, ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan.

Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu, informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut, memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan, sistem religi, atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu.

Sumber: http://www.tamanmini.com

Popular Posts