Showing posts with label kesenian. Show all posts
Showing posts with label kesenian. Show all posts
Gaya Karawangan dalam Tari Belenderan
Tari Belenderan merupakan salah satu kesenian khas Kabupaten Karawang di samping kesenian khas lainnya, yaitu Topeng Banjet, Ketuk Tilu, dan Nayub. Kala itu, Tari Belenderan biasa ditampilkan setiap Bulan Maulud yang bertepatan pada tanggal 16 bulan Jawa. Dahulu, tarian ini oleh masyarakat Karawang selalu menyajikan unsur ritual, yaitu pada bagian awal tarian yang selalu diawali dengan sesajen berupa kopi pahit, kopi manis, rokok, rurujakan, kalapa dawegan (kelapa muda), beas (beras). Hingga saat ini, syarat sesajen tersebut masih tetap dipenuhi sebelum memulai Tari Belenderan.
Tari Belenderan mulai dikenal di Kabupaten Karawang pada tahun 1939, dalam acara peresmian jembatan di kampung Cisaruak Desa Pasir Tanjung kecamatan Telagasari. Menurut Abah Tirta (seniman dan pimpinan Grup kesenian Ketuk Tilu Puspa sari di Tempuran Kabupaten Karawang), Tari Belenderan berasal dari kata “Leleran”, yang artinya “tanah sawah” yang diratakan sebelum tandur (menanam padi).
Tema pertanian yang menjadi inspirasi Tari Belenderan kemudian disesuaikan dengan gerak tari gaya Karawangan yang terkesan spontan, namun sebenarnya masih berada dalam alur dari tari yang dibawakan. Oleh karena itu, Tari Belenderan dapat dikatakan sebuah tarian yang cukup unik karena hampir sebagian gerak adalah hasil improvisasi penari (Fitriyani, 2017: 1 – 110).
Beberapa gerak tari Belenderan yang disesuaikan dengan tema pertanian (tandur) seperti Bahe, Kewer, Sambungan, Tempelan, Belikat tukang dilakukan secara berulang-ulang dalam satu goong dengan diakhiri oleh gerak mincid. Ciri tema pertanian tersebut dapat terlihat jelas pada salah satu dari lima gerak di atas, yaitu Gerak Bahe, dimana pada Gerak Bahe terdapat makna gerak seperti seorang petani yang sedang melempar benih padi (tandur), sementara gerak membalikan badan merupakan perumpamaan gerak petani yang hendak mengambil benih kembali.
Seniman pertama yang menarikan tari Belenderan bernama Abah Nemin atau Abah Epeng. “Epeng” merupakan nama panggilan ketika di atas pentas. Setelah Abah Epeng meninggal pada tahun 2011, penerus yang menggantikannya sebagai penari Belenderan bernama Mang Sarna yang kala itu berprofesi sebagai seniman Topeng Banjet. Tari Belenderan dipelajari Mang Sama dengan cara mengamati Abah Epeng saat menarikan tari Belenderan. melalui pengamatan mang Sarna kemudian terbentuklah pola gerak tari Belenderan saat ini. Adapun koreografinya tidak lepas dari gerak-gerak Pencak Silat gaya Karawangan.
Beberapa gerak tari Belenderan ada yang hampir sama dengan gerak topeng. Hal ini merupakan pengaruh dari pelaksanaan kedua tari tersebut (tari Belenderan dan Tari Topeng Banjet) yang biasanya berada dalam satu pertunjukan.
Rias dan busana pada tari Belenderan berkarakter lincah dan gagah, meski pada bagian rias wajah, tidak banyak penegasan-penegasan garis wajah kecuali penegasan pada bagian alis masekon, jambang mecut dan cedo pada bagian dagu.
Busana pada tari Belenderan berakar dari busana tari rakyat, dimana busana yang sering digunakan masyarakat pedesaan seperti baju pangsi, celana pangsi, iket (kain penutup kepala), sarung (kain penutup bagian pinggang hingga ke bawah). Begitu pula dengan pakaian yang dikenakan dalam tarian ini, secara garis besar terdiri dari atribut-atribut pakaian khas masyarakat Sunda.
Adapun fungsi tari Belenderan pada masa dahulu adalah untuk menyambut para petani yang pulang setelah tandur (menanam padi). Sambutan dengan menarikan Tari Belenderan memiliki nilai dan makna hiburan kepada para petani yang lelah setelah melakukan aktivitas tandur. Saat ini, Tari Belenderan juga dipentaskan pada upacara pernikahan, khitanan, dan kaul. Selain itu, beberapa instansi pemerintah dalam lingkup Kabupaten Karawang juga terkadang meminta group Tari Belenderan untuk tampil dalam momen-momen tertentu. (Irvan Setiawan)
Sumber:
Fitriyani, Eka (2017), “Tari Belenderan Di Grup Puspa Sari Pimpinan Abah Tirta Tempuran Kabupaten Karawang”, Skripsi, Bandung: Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia
Rostiyati, Ani, dkk., (2019). “Estetika dan Identitas pada Seni Tari Blenderan dari Karawang”, Laporan Pengkajian Pelestarian Nilai Budaya. Bandung: BPNB Jabar.
Badud Margacinta
Kesenian tradisional Badud yang berada di Desa Margacinta, Kec. Cijulang, Kab.Pangandaran telah ada sejak lama dan tidak diketahui secara pasti angka tahunnya. Pada awalnya, pergelaran seni Badud menjadi bagian dari ritual saat panen tiba, yaitu pada sesi iringan masyarakat membawa hasil panen ke lumbung yang ada di desa. Sesi tersebut pernah tercatat angka tahunnya, yaitu 1928 (Ruswendi, tt: 5). Namun demikian, menurut penuturan Aki Ardasim dan Aki Ijot, Badud diperkirakan sudah ada sejak tahun 1880 di Dusun Margajaya.
Pergelaran seni Badud untuk meramaikan ritual panen pada waktu itu, tepatnya menurut Sukinta adalah tahun 1950 (Ruswendi, tt: 7), materi peran kemudian ditambah dengan mengenakan atribut topeng binatang seperti lutung, kera, anjing hutan, harimau, dan babi hutan yang dibuat dengan bahan seadanya. Dengan gerak tari menirukan gerak binatang sesuai dengan topeng yang mereka kenakan, rombongan seni badud berjalan mengiringi rombongan petani yang membawa hasil panennya ke lumbung di desa mereka. Selain itu, seni Badud juga menjadi bagian dari salah satu cara mengusir hama padi. Perihal pengusiran terhadap binatang yang dianggap mengganggu juga memfungsikan seni Badud pada saat musim penebangan pohon atau menanam benih pada satu lobang dengan iringan bacaan mantra dan doa serta berbagai sesuguhan (rujak bunga ros, rujak pisang, telur, daging mentah, gula batu, rokok cerutu, rokok bangjo, rokok (berwarna) coklat masing-masing dua batang, dan lain-lain) agar diberikan kelancaran.
Untuk menambah ketertarikan masyarakat, seni Badud kemudian disandingkan dengan seni debus yang menggunakan gerakan silat. Sandingan Debus tidak bertahan lama, namun unsur mistis dalam bentuk trans (kesurupan) masih tetap dipertahankan. Perkembangan berikutnya, sejak sistem panen menjadi dua atau tiga kali dalam setahun, Badud tidak hanya diperuntukan sebagai iringan hasil panen (padi), tetapi juga difungsikan sebagai pengiring atau hiburan dalam acara khitanan, pernikahan, dan turun mandi.
Seni Badud sedikit demi sedikit semakin terancam punah setelah masuknya jenis kesenian lain yang semakin mendapat perhatian masyarakat setempat. Dan, puncaknya, sekitar tahun 1990-an, seni badud sudah tidak lagi dipentaskan karena sudah kalah bersaing dengan jenis kesenian lain yang dianggap lebih menarik oleh masyarakat. Baru pada tahun 2013, setelah Cijulang menjadi bagian dari pemekaran Kabupaten Pangandaran, seni badud kembali diperkenalkan dan direvitalisasi. Kostum binatang yang dahulu dibuat ala kadarnya, saat ini sudah dibuat semirip mungkin dengan binatang sesungguhnya (Andi Nurroni, 2016).
Waditra kemudian menjadi semakin beragam, yaitu terdiri dari 8 angklung, 6 dogdog. Materi pentas ditambah dengan unsur teatrikal. Ada cerita di dalamnya berikut tambahan pemeran, yaitu dua barongsay dan ditambah dengan sepasang kakek nenek serta beberapa orang yang mengenakan kostum hewan. Biasanya peran kakek dan nenek berfungsi sebagai selingan yang memancing gelak tawa penonton. Oleh karena itu, saat adegan tersebut, ada interaksi antara pemain dan penonton. Adapun unsur tari yang ada dalam seni Badud hanyalah penyesuaian gerak yang tidak diatur dalam sebuah pedoman baku. Hanya tiruan gerak binatang ataupun gerak tari yang dilakukan dengan spontan tanpa ada pelatihan terlebih dahulu.
Sumber:
Ruswendi Permana, tt, “Kesenian Tradisional Badud di Kecamatan Cijulang Kabupaten Ciamis”, makalah, Bandung: UPI Bandung.
Asep Zery Kusmaya, 2014, “Perkembangan dan Sistem Pewarisan Kesenian Angklung Badud di Cijulang Pangandaran”, Skripsi, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Andi Nurroni, 2016, “Ficer: Seni Badud Menolak Punah”, dalam http://swarapangan daran.com/seni-badud-menolak-punah/ Senin, 8 Agustus 2016 – 20:40
Fuji E Permana, 2016, “Sejarah Seni Badud dari Kampung Badud”, dalam http:// nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/03/07/o3mq6j361-sejarah-seni-badud-dari-kampung-badud, Senin , 07 March 2016, 01:03 WIB
KESENIAN BATOMBE DI NAGARI ABAI KABUPATEN SOLOK SELATAN
| Judul | Kesenian Batombe Di Nagari Abai Kabupaten Solok Selatan |
| Penulis/Editor | Zusneli Zubir, Seno |
| Penerbit | Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat |
| Cetakan | 2016 |
| Tebal | xv + 160 halaman |
| Desain Sampul |
Dari Ronggeng Gunung ke Ronggeng Kaler: Perubahan Nilai dan Fungsi
Oleh Risa Nopianti
Abstrak
Ronggeng gunung sebagai sebuah kesenian yang terlahir dari catatan penuturan sejarah yang panjang, merupakan kesenian khas yang menggambarkan kondisi dan identitas masyarakat di Kabupaten Ciamis, khususnya masyarakat yang berada di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari. Terjadinya perubahan zaman yang mendorong terjadinya perubahan budaya masyarakat, khususnya perubahan pada cara pandang dan berpikir masyarakat mengenai konsep hidup kekinian, merupakan latar belakang lahirnya konsep penelitian ini. Ronggeng gunung sebagai produk budaya dirasakan masyarakat pendukungnya sudah tidak dapat merepresentasikan keinginan masyarakat terhadap kebutuhan mereka akan hiburan. Maka dari itu terciptalah kesenian ronggeng kaler, yang dianggap mampu memenuhi hasrat masyarakat akan sebuah konsep hiburan yang benar-benar menghibur. Sekalipun pada praktiknya kesenian ini sedikit berbeda dengan kesenian ronggeng gunung yang telah ada sebelumnya, namun masyarakat setempat tetap percaya bahwa kesenian ronggeng gunung merupakan cikal bakal dari lahirnya kesenian ronggeng kaler. Kemunculan ronggeng kaler yang diadaptasi dari ronggeng gunung ini memungkinkan terjadinya perubahan fungsi dan nilai yang ada pada kesenian tersebut. Dari sakral ke profan, dari ritual ke hiburan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penulisan deskriptif analitik.
Kata kunci: ronggeng gunung, ronggeng kaler, perubahan sosial, nilai, fungsi.
Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 6, No 1, Maret 2014: 81-92
Nilai Budaya dalam Permainan Rakyat di Kabupaten Indramayu
Oleh: Drs. Suwardi A.P.
Abstrak
Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Indramayu ini berupaya mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sehingga permainan rakyat yang menempati tempat dalam kehidupan masyarakat dan sumber daya ini mempunyai arti dan guna di dalam menanamkan sikap dan keterampilan bagi masyarakat pendukungnya.
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005
Kesenian Gembyung Masyarakat Banceuy Kabupaten Subang (Sebuah Ekspresi Seni dan Aktualisasi Kepercayaan Masyarakat)
Oleh: Dra. Lina Herlinawati
Abstrak
Seni pertunjukan tradisi, selain merupakan tontonan yang menarik sebagai hiburan, kadang juga terangkai dengan upacara adat. Contohnya Gembyung, yang merupakan perkembangan dari Seni Terebang Buhun (di Cirebon sebagai tempat kelahirannya dikenal dengan sebutan Terebang Brai/Berahi). Kesenian Gembyung yang digunakan masyarakat adat Banceuy tidak sekadar sebagai ekspresi seni, namun juga aktualisasi dari kepercayaan mereka kepada Tuhan dan para leluhurnya yang pergelarannya dirangkaian dalam upacara adat. Bagi mereka, Kesenian Gembyung adalah media untuk mengungkapkan rasa bersyukur mereka kepada Tuhan dengan melantunkan syair-syair yang mengagungkan kebesaran-Nya. Selain itu, Gembyung pun digunakan sebagai media untuk menghormati para leluhur mereka yang telah mewariskan adat istiadat. Aturan dan norma-norma dalam adat istiadat tersebut telah mengatur keharmonisan dan keteraturan kehidupan mereka selama ini.
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 37, Juni 2007
Buyut Orenyeng Carita Pantun dari Lebak Propinsi Banten
Oleh: Drs. Yuzar Purnama
Abstrak
Carita Pantun merupakan produk budaya masyarakat Sunda yang terbilang sangat tua. Bukti otentik yang menerangkan bahwa jenis ini sudah ada sejak lama terutang dalam buku Siksa Kanda Ng Karesian. Di dalamnya mengisahkan tentang perjuangan para ksatria, raja, dan pengembaraan para putra raja Sunda untuk kemudian berhasil menjadi seorang raja yang berwibawa di tatar Sunda.
Carita Pantun merupakan bentuk karya sastra Sunda yang relatif masih asli. Dari beberapa data Carita Pantun baik yang sudah didokumentasikan maupun yang masih dalam bentuk lisan, jenis sastranya masih belum terpengaruh oleh budaya dari luar kesastraan Sunda, misalnya yang biasa banyak mempengaruhi kesusastraan Sunda adalah pengaruh kesusastraan Jawa.
Salah satu Carita Pantun yang paling buhun dan banyak dikeramatkan khususnya oleh masyarakat Banten adalah Carita Pantun Buyut Orenyeng. Carita Pantun Buyut Orenyeng merupakan khasanah kesusastraan Sunda yang tumbuh kembang di Banten. Carita Pantun ini dikemas dalam bahasa Sunda Dialek khas Banten.
Buyut Orenyeng mengisahkan perjalanan hidup seorang putra keluarga kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi, yang memiliki bentuk fisik tidak lazim. Ia terlahir dengan warna kulit kekuningan seperti bulu harimau Jawa dan berekor. Karena wujud fisiknya demikian maka dinamakan Buyut Orenyeng atau Batara Warna.
Keluarga besar kerajaan saat itu tidak mau menerima kehadiran anak tersebut. Sang Ayah dan kakak-kakaknya mencoba membuangnya ke tempat yang sangat jauh, tengah hutan.
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 29, November 2003
Cerita Rakyat di Kabupaten Pandeglang
Oleh: Dra. Lina Herlinawati, dkk
Abstrak
Cerita rakyat sebagai bagian dari tradisi lisan merupakan kekayaan kebudayaan yang tak ternilai dari suatu masyarakat, sekaligus dapat menunjukkan jati diri masyarakat pemeluknya. Dari cerita-cerita rakyat yang ada dapat diambil maknanya kemudian dikembangkan sebagai sumber kearifan, yang berguna khususnya bagi masyarakat pendukungnya, umumnya bangsa Indonesia dalam menjalani berbagai bidang kehidupan.Abstrak
Pandeglang, sebagai kota yang memiliki prospek baik dalam bidang pariwisata, memiliki banyak cerita rakyat. Sejalan dengan berkembangnya dunia pariwisata, dikhawatirkan cerita rakyat berupa mithe, legenda, sage, dilupakan masyarakat. Untuk mengantisipasi hal itu, dilakukan penginventarisasian cerita-cerita rakyat tersebut yang kemudian memunculkannya sebagai aset budaya penunjang pariwisata.
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 27, Desember 2002
Wawacan Lokayanti, Satu Kajian Tema dan Fungsi
Oleh: Drs. Suwardi A.P, dkk
Abstrak
Wawacan Lokayanti berisi cerita tentang perjuangan dan penyebaran agama Islam pada zaman Nabi Ibrahim alaihisallam. Di lain pihak pengaruh keadaan pun turut membentuk nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya, yang melalui proses enkulturasi dan sosialisasi nilai-nilai budaya akan mampu menempa bangsa menjadi bangsa yang berbudi luhur sebagaimana tercermin dalam kepribadian bangsa.Abstrak
Kemudian dalam pengkajian Wawacan Lokayanti ini, lebih menikit-beratkan pada segi tema dan fungsi, namun pada dasarnya unsur-unsur yang terdapat dalam struktur cerita pun tidak lepas dari kajian. Unsur-unsur tersebut adalah alur, tokoh dan penokohan, latar atau setting, tema dan amanat.
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 26, Oktober 2002
Wawacan Nabi Muhammad, Satu Kajian Tema dan Fungsi
Oleh: Drs. Suwardi Alamsyah P., dkk.
Abstrak
Wawacan Nabi Muhammad berisi cerita tentang pengagungan Muhammad sebagai nabi terakhir yang membawa misi dan risalah kebenaran di samping syiar dan dakwah Islam, ketika masa itu masyarakatnya dalam keadaan sesat. Penulis akan mengkaji struktur cerita yang meliputi alur cerita, tokoh dan penokohan.Abstrak
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 25, Desember 2001
Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda: Makna Pendidikan di Balik Permainan Anak
Oleh: Drs. Nandang Rusnandar
Abstrak
Dari mulai bayi hingga masa baleg ’remaja’, bagi masyarakat Sunda sudah diperkenalkan pola permainan dan jeujeuhananan ’pengasuhan’ yang disimbolkan permainan, baik nyanyian maupun gerakan yang diharapkannya dalam bentuk permainan anak. Dalam permainan itu, si anak tidak terasa telah diajak untuk mengenal dirinya, orang di sekelilingnya, alam, dan Tuhannya. Dengan demikian si anak yang baleg akan mencapai tingkatan hideng ’mengerti’.Abstrak
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000
Fungsi Seni Gembyung dalam Kehidupan Masyarakat Panjalu Kabupaten Ciamis
Oleh Endang Supriatna
Abstrak
Gembyung sebagai kesenian buhun yang menjadi sebuah seni pertunjukan di Panjalu, hingga kini tetap bertahan dengan cirri ketradisionalannya. Bersama dengan pelaksanaan Upacara Nyangku maupun peringatan Maulid Nabi Saw. atau pada acara hiburan pada saat khitanan anak, gembyung tampil bersahaja. Namun demikian penampilannya tetap menyampaikan makna baik melalui gerak, lagu, gending musik, maupun sesajennya bahwa hidup akan terus bergerak seiring berlangsungnya sang waktu. Bagi masyarakat Panjalu, seni gembyung tidak hanya sebuah ungkapan ekspresi keindahan, namun lebih dari itu, gembyung memiliki makna kecintaan serta penghormatan kepada asal-usul leluhur mereka. Tulisan ini berupaya mengupas fungsi seni gembyung pada masyarakat Panjalu. Ada dua bagian yang dibahas, pertama menjelaskan seni gembyung, mulai dari perkembangannya, lagu dan teknik pementasan, fungsi dan peranan kesenian ini pada masyarakat pendukungnya. Serta, upaya masyarakat Panjalu memelihara seni gembyung agar tidak tergerus oleh seni modern yang semakin deras berupaya menggeser seni local. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Abstrak
Kata kunci: seni gembyung, tradisi masyarakat, Panjalu.
Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010
Wawacan Bin Entam (Kajian Nilai Budaya)
Oleh: Dra. Lina Herlinawati, dkk
Abstrak
Perumpamaan naskah sebagai dacing timbangan yang berguna bagi keseimbangan kepribadian manusia terwakili oleh naskah Wawacan Bin Entam. Naskah dengan waktu perubahan tercatat 1324 H ini, di dalamnya terkandung berbagai nilai budaya, seperti nilai agama, nilai sosial, nilai ilmu, dan nilai filsafat yang kesemuanya bermanfaat bagi pembentukan kepribadian serta pemupukan keimanan dan ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Pun dari kandungan nilainya tersebut dapat kita jadikan ajang wawasan dari dalam kehidupan bermasyarakat dengan bercermin pada kehidupan tokoh ceritanya.Abstrak
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000
Nyanyian Anak-anak Sunda Masa Kini: Analisis Bentuk dan Isi Kakawihan Barudak Kiwari
Oleh: Drs. Agus Heryana
Abstrak
Kakawihan Barudak sering diidentifikasikan kepada nyanyian anak-anak desa. Dalam gambaran keseluruhan istilah tersebut, di dalamnya terdapat aktivitas anak-anak yang sedang melakukan berbagai permainan sambil disertai nyanyian. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika tataran kehidupan manusia terus berkembang dan mencapai titik nadir teratas, perubahan terus berlangsung. Masalahnya adalah bagaimanakah bentuk nyanyian anak-anak di perkotaan. Bagaimanakah bentuk dan isi Kakawih Barudak di perkotaan sedikit banyaknya dapat terjawab pada penelitian ini.Abstrak
Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 21, Juli 2000
Perkembangan Kesenian Gondang di Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya
Oleh: Dra. Enden Irma R.
Abstrak
Jawa Barat, salah satu provinsi di Indonesia yang cukup kaya dengan kesenian tradisional dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Salah satu kesenian tersebut adalah Seni Tradisional Gondang yang tetap terpelihara keberadaannya di wilayah Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.Abstrak
Secara historis, Seni Gondang dikembangkan di daerah Jawa Barat oleh para leluhur penyiar agama Islam. Salah satu contoh dari tokoh tersebut adalah Kangjeng Syeh Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Bentuk seni ini digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat
Pola pertunjukan Kesenian Gondang dari dahulu sampai sekarang sudah banyak mengalami perubahan. Pada mulanya pertunjukan Kesenian Gondang hanya menggunakan lisung dan halu serta pakaian yang dikenakan oleh para pemainnya pun sangat sederhana dan tidak disertai dengan gerak tari lainnya. Adapun pada saat ini Kesenian Gondang itu selain ada penambahan waditra (alat), juga pakaian para pemainnya pun dikemas lebih menarik disertai dengan gerak tari yang indah.
Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.3 September 2009
Sisindiran: kemahiran Orang Sunda Berbahasa
Oleh: Drs. Agus heryana, dkk.
Abstrak
Senada dengan seni Pantun pada masyarakat Melayu, masyarakat Sunda pun mengenal bentuk sastra yang disebut Sisindiran. Dalam kenyataannya, walaupun terdapat kesamaan dengan Pantun, bentuk ini mempunyai ciri yang khas yang berbeda dengan pantun itu sendiri.Abstrak
Uraian laporan yang berjudul Sisindiran: kemahiran Orang Sunda Berbahasa bukanlah sebuah perbandingan dengan seni Pantun Melayu. Tetapi lebih menekankan pada bentuk dan isi Sisindiran itu sendiri yang merupakan produk Urang Sunda.
Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 19, Juli 1999
Pengungkapan Nilai Moral dan Budi Pekerti dalam Cerita Rakyat Jawa Barat: Tinjauan analisis tentang ”Dipati Ukur” sebuah legenda masyarakat Sunda
Oleh Dra. S. Dloyana Kusumah
Abstrak
Salah satu manfaat dari pengungkapan nilai budaya dari karya sastra lama, yakni membangkitkan serta mengikat rasa solidaritas dan identitas masyarakat pemiliknya.Abstrak
Meski hingga kini belum ada yang menganggap Dipati Ukur sebagai tokoh ”Hero” bagi orang Sunda, paling tidak anggapan ke arah itu bisa dipertimbangkan, dengan mengkaji ucapan, tindakan dan angan-angan Dipati Ukur.
Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 19, Juli 1999
Kelahiran dan Perkembangan Kesenian Sisingaan di Kabupaten Subang
Oleh: Drs. Rosyadi
Abstrak
Kesenian Sisingaan lahir dari gejolak rasa ketidakpuasan dan perlawanan masyarakat setempat atas pendudukan daerahnya oleh bangsa penjajah yang kemudian diolah secara kreatif sehingga melahirkan sebuah bentuk kesenian yang bernafaskan kejuangan. Dengan demikian kesenian ini merupakan refleksi dari jiwa kejuangan masyarakat setempat dalam melawan penjajah. Konsekuensi logisnya, maka nilai-nilai kejuangan sangat melekat dalam falsafah kesenian ini. Bahkan bukan hanya dalam falsafahnya saja nilai-nilai ini terkandung, tetapi juga terrefleksi di dalam gerakan-gerakan tariannya.Abstrak
Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 19, Juli 1999
Kesenian Gembyung Masyarakat Banceuy Kabupaten Subang: Sebuah Ekspresi Seni dan Aktualisasi Kepercayaan Masyarakat
Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007
Dra. Lina Herlinawati
Abstrak
Seni pertunjukan tradisi, selain merupakan tontonan yang menarik sebagai hiburan, kadang juga terangkai dengan upacara adat. Contohnya Gembyung, yang merupakan perkembangan dari Seni Terebang Buhun (di Cirebon sebagai tempat kelahirannya dikenal dengan sebutan Terebang Brai/Berahi). Kesenian Gembyung yang digunakan masyarakat adat Banceuy tidak sekadar sebagai ekspresi seni, namun juga aktualisasi dari kepercayaan mereka kepada Tuhan dan para leluhurnya yang pergelarannya dirangkaikan dalam upacara adat. Bagi mereka, Kesenian Gembyung adalah media untuk mengungkapkan rasa bersyukur mereka kepada Tuhan dengan melantunkan syair-syair yang mengagungkan kebesaran-Nya. Selain itu, Gembyung pun digunakan sebagai media untuk menghormati para leluhur mereka yang telah mewariskan adat istiadat. Aturan dan norma-norma dalam adat istiadat tersebut telah mengatur keharmonisan dan keteraturan kehidupan mereka selama ini.
Kata Kunci: Masyarakat adat, seni pertunjukan tradisi, seni pertunjukan upacara, ekspresi seni, aktualisasi kepercayaan, Banceuy, Subang.
Kata Kunci: Masyarakat adat, seni pertunjukan tradisi, seni pertunjukan upacara, ekspresi seni, aktualisasi kepercayaan, Banceuy, Subang.
