WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Eksistensi dan Strategi Adaptasi Komunitas Adat di Jawa Barat

Oleh: Toto Sucipto

Abstrak
Di Jawa Barat terdapat komunitas adat yang konsentrasi warganya tersebar di beberapa pemukiman yang disebut kampung atau kampung gede (kampung induk). Secara umum dapat diungkapkan bahwa warga komunitas adat yang ada di Jawa Barat tersebut mendukung kebudayaan Sunda, yaitu yang sehari-harinya mempergunakan bahasa Sunda dan merupakan masyarakat terbuka yang mudah sekali menerima pengaruh dari luar, tetapi juga kemudian menyerap pengaruh itu sedemikian rupa sehingga menjadi miliknya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah warga komunitas adat di Jawa Barat yang termasuk pendukung kebudayaan Sunda ini mudah menerima pengaruh luar seperti masyarakat Sunda umumnya? Kajian menarik tentang komunitas adat antara lain mencuatkan kenyataan bahwa warga komunitas adat selalu berupaya patuh terhadap kasauran karuhun (perkataan/wasiat para leluhur) sehingga dinamika kebudayaan mereka agak sulit terdeteksi dengan mudah. Komunitas adat berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan berupaya mempertahankan kondisi lingkungan alamnya dengan tetap mentaati aturan adat warisan para leluhur sehingga setiap komunitas adat memiliki ciri khas yang membedakannya dengan masyarakat lain. Para pendahulu mereka (leluhur) mengembangkan aturan-aturan adat yang direalisasikan pada beberapa tabu/pamali/larangan/buyut. Aturan-aturan adat tersebut mempunyai makna atau fungsi yang sangat luas. Aturan tersebut juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol dalam kebudayaan yang menahan dilakukannya eksploitasi alam secara semena-mena, membuat masyarakat tetap sederhana, tidak hidup berlebihan, dan tetap memegang prinsip kebersamaan sehingga keseimbangan lingkungan, baik fisik maupun sosial, dapat dipertahankan. Mekanisme itu diselimuti dengan sanksi moral, sehingga keadaan lingkungan relatif stabil dalam jangka waktu relatif lama.

Kata kunci : komunitas adat, tabu, mekanisme kontrol, eksistensi, strategi adaptasi

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Perkembangan Etnopreneurship Di Garut 1945-2010

Oleh: Iim Imadudin

Abstrak
Semangat kewirausahaan dalam konteks kesukubangsaan masih sedikit mendapat perhatian. Minimnya perhatian tersebut terbatas pada etnis-etnis tertentu saja yang dikenal memiliki jiwa etnopreneurship. Penelitian ini berupaya memberikan gambaran bahwa dinamika internal sukubangsa Sunda yang tinggal di Garut memperlihatkan wataknya yang entrepreneurship. Selama ini Garut lebih banyak dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan alam yang potensial sehingga menjadi daerah tujuan wisata yang penting. Selain itu, kekayaan kuliner juga sudah menjadi pengetahuan bersama masyarakat Jawa Barat pada khususnya. Sementara itu, pengembangan sumber daya manusia dalam konteks kultural jarang diungkap. Kekhasan ekonomi kreatif di daerah ini terletak pada spesialisasi profesi masing-masing desa. Meski masih terlalu dini, agaknya konsep one village, one product (satu kampung, satu produk) cukup tepat ditempatkan dalam konteks kewirausahaan di Garut. Tradisi merantau secara terbatas menunjukkan karakter khas masyarakat di wilayah Garut. Ada yang menetap dalam waktu yang cukup lama di wilayah lain. Akan tetapi, sebagian terbesar kembali pada waktu-waktu tertentu, bahkan menjadi comutter secara intensif.

Penelitian ini mencakup tiga bidang usaha yang berbeda, yaitu usaha batik garutan, industri kulit Sukaregang, dan tukang cukur Banyuresmi. Ketiga objek telitian tersebut dipetakan menurut dua kategori: kota-desa, surplus-minus. Sumber primer berasal dari wawancara lisan dengan para informan yang terlibat dengan aktivitas kewirausahaan. Sementara itu, sumber sekunder dari literatur. Kajian mengenai semangat kewirausahaan dalam konteks kesukubangsaan menjadi penting di tengah usaha untuk mengembangkan local genious di bidang ekonomi kreatif.

Kata kunci: etnopreneurship, sukubangsa, Garut

Abstract
The paper was based on the fact that exposing cultural context of human resources is not common in our country. This research tries to describe the great entrepreneurship of the Sundanese of Garut. They used to wander about (merantau) and commute very intensively to trade to other cities or regions. The uniqueness of the city is that every village has its own specialty. This research covers three kinds of business: batik garutan (a kind of batik with spesific motifs of Garut), leather industry in Sukaregang and barbers of Banyuresmi. Data were collected through interviews and bibliographic studies. The author came into conclusion that the study of entrepreneurship (in ethnical context) is very important in developing local genius in creative economy.

Keywords: entrepreneurship, ethnic, Garut

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Melacak Sejarah Kesenian dan Tradisi Lokal di Jawa Barat

                                     
Judul Buku


Penulis
Penerbit
Cetakan
Tebal
ISBN
Peresensi
:
:
:
:
:
:
:

:
Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal; Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia
Fandy Hutari
Ombak
Ke-1
164
602-8384-44-5
Iim Imadudin

Historiografi kesenian di Indonesia belum menjadi tema penelitian sejarah yang banyak diminati para sejarawan khususnya, dan para peminat sejarah umumnya. Terlebih untuk periode kolonial yang selalu menjadikan arsip-arsip sebagai sumber utamanya. Alasan teknis tentu saja terkait dengan kemampuan bahasa sumber (Belanda) yang tidak memadai. Kemungkinan lain disebabkan oleh belum tumbuhnya kesadaran bahwa kajian-kajian kebudayaan memerlukan landasan historisitas untuk meneguhkan eksistensi dirinya. Terdapat kecenderungan ahistoris dalam ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Peter Burke dalam buku Sejarah dan Teori Sosial (2003) menyebutnya sebagai a dialogue of the deaf ‘dialog si tuli’. Masing-masing bidang ilmu masih berkutat dengan disiplinnya sendiri dan tidak mencoba melakukan re-approachment ‘saling mendekat’ dengan disiplin yang lain. Tentu saja hal ini seyogyanya menjadi keprihatinan bersama untuk mencari jalan demi berlangsungnya dialog kreatif yang saling memperkaya disiplin ilmu masing-masing.

Salah satu buku yang dianggap “babon” tentang sejarah seni di Indonesia adalah karya Claire Holt Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia (2000). Buku tersebut merangkum perjalanan seni di Indonesia sejak masa prasejarah hingga datangnya aras modern. Masih ada beberapa literatur lain yang sayangnya menempatkan sejarah kesenian dalam topik-topik yang terbatas.

Buku ini terdiri atas lima bagian: Panggung Sandiwara (bagian pertama), Budaya Lokal (bagian kedua), Di Sekitar Kita (bagian ketiga), Jangan Dilupakan (bagian keempat), dan Pancaran Layar Putih (bagian kelima). Bagian pertama menceritakan pelakon sandiwara Sunda legendaris asal Sumedang, Miss Tjitjih. Hingga sekarang kiprahnya di bidang seni masih dikenangkan orang. Adapula cerita mengenai keadaan panggung sandiwara pada masa Jepang yang dipenuhi nafas fasisme. Kebanyakan lakon-lakon sandiwara ketika itu penuh dengan aroma kekejaman Belanda, kepahlawanan Jepang, dan pesan-pesan propaganda untuk mengajak rakyat terlibat dengan program Pemerintah Pendudukan. Sendenbu Seksi Propaganda memegang peranan yang penting dalam hal ini. Bagian kedua mencatat perkembangan beberapa seni tradisi mulai dari seni rengkong, kuda renggong, obrog, sintren, hingga tari cekeruhan yang terus terlibat dalam pergulatan antara tradisionalitas dan modernitas. Bagian ketiga, menginformasikan pelbagai fenomena yang ada di masyarakat mulai dari panjat pinang, balada topeng monyet sampai batik Jawa hokokai yang dipengaruhi Jepang. Bagian keempat membahas potret seniman dan sastrawan Sunda, yaitu komikus Tatang S.; tokoh perempuan asal Garut R.A. Lasminingrat; dan aktris layar putih kelahiran Cirebon, Miss Roekiah, yang dapat dikatakan perempuan selebriti pertama di Indonesia. Bagian kelima mendeskripsikan perkembangan perfilman di Indonesia sejak tahun 1929 dan terus menyebar di tahun 1930 ke berbagai penjuru tanah air dengan hadirnya film-bitjara (talking picture). Selain itu ditulis pula kesuksesan perusahaan film Java Industrial Film Company dalam memproduksi film di Nusantara. Peranan elit pribumi dalam mengembangkan industri film patut dicatat. Bupati Bandung Wiranatakusumah V yang dikenal sebagai pecinta budaya Sunda mensponsori produksi film pribumi pertama tahun 1926, yakni Loetoeng Kasaroeng.

Buku yang ditulis sejarawan muda Fandy Hutari merupakan kumpulan artikelnya di berbagai surat kabar lokal Jawa Barat dan nasional. Dengan sifatnya yang fragmentaris itu sudah barang tentu kita tidak dapat mengharapkan adanya kedalaman dari tulisan-tulisannya. Masing-masing topik ditulis dalam waktu yang berbeda. Dengan bahasa yang populer, penulis mencoba menginformasikan pada khalayak pembaca yang lebih luas. Membaca buku ini, pembaca akan mengenangkan perjalanan seni dan tradisi di Jawa Barat. Tentu saja tidak hanya sebatas menjejaki masa lalu, tetapi juga menangkap inspirasi untuk menulis tema serupa yang masih terbuka untuk meneliti dan menuliskannya. Dengan demikian kita akan memiliki informasi mengenai sejarah seni di Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya, yang lebih lengkap

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tari Topeng Cirebon Abad XV - XX

Oleh: Lasmiyati

Abstrak
Sunan Gunung Jati selain sebagai kepala nagari Cirebon, ia juga salah satu wali sanga yang mempunyai tugas menyebarkan agama Islam. Tantangan dan hambatan sebagai wali ia temui, diantaranya menghadapi Pangeran Welang. Pangeran Welang memiliki kesaktian, karena mempunyai pusaka Curug Sewu. Ia ingin mengalahkan Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati menanggapinya tidak dengan kekerasan, melainkan membentuk kelompok kesenian dan mengadakan pertunjukan keliling kampung. Dalam kelompok kesenian tersebut menampilkan Nyi Mas Gandasari sebagai penari yang memakai penutup muka (kedok). Pangeran Welang terpikat dengan penampilan Nyi Mas Gandasari, ia pun meminangnya untuk dijadikan isteri. Nyi Mas Gandasari menerima pinangan tersebut dengan syarat dipinang dengan pusaka Curug Sewu. Pangeran Welang menyanggupi syarat tersebut yang akhirnya kesaktian Pangeran Welang pun hilang. Ia menyerah kepada Sunan Gunung Jati dan masuk Islam. Selanjutnya tari topeng di samping digunakan untuk menyebarkan agama Islam juga merupakan kesenian khas istana, dan menjadi sarana hiburan yang disukai masyarakat. Setelah Belanda menduduki Cirebon, seniman topeng merasa tidak nyaman tinggal di lingkungan keraton, karena Belanda telah ikut mencampuri urusan keraton. Mereka keluar dari istana dan menyebar ke Kabupaten Cirebon, diantaranya Gegesik, Palimanan, Losari. Penelitian ini untuk mengetahui sejarah pertumbuhan dan perkembangan tari topeng. Metode yang digunakan metode sejarah. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tari topeng sudah ada sejak Sunan Gunung Jati sebagai kepala nagari Cirebon. Tari topeng dijadikan sebagai media dakwah dan persebaran ke Gegesik, Palimanan, dan Losari mempunyai karakter yang berbeda dengan pakem yang sama.

Kata kunci : Tari topeng, Cirebon.

Abstract
Tari Topeng (mask dance) is a kind of folk performing art vastly known in Cirebon. The dance was a court art during the rule of Sunan Gunung Jati, functioning as a means to spread Islam. It spread outside the court when the artists left the court following the Dutch arrival in Cirebon who made the court split into three: Kasepuhan, Kanoman, and Kacirebonan. The Dutch interference in almost everything in the court made them unpleasant. They eventually left the court and spread to Kabupaten Cirebon. The aims of this research is to get knowledge of the history and development of tari topeng using history method. The result is that this dance has been existing since the time of Sunan Gunung Jati and served as a means to spread Islam. Then it spread to Gegesik, Palimanan and Losari following the arrival of the Dutch.

Keywords: tari topeng, Cirebon

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011 

Toponimi di Kabupaten Cirebon

Oleh: Hermana

Abstrak
Datangnya Ajaran Islam ke daerah Cirebon yang dibawa oleh para ulama yang berpusat di daerah Muara Jati. Raden Walang sungsang yang diperintahkan oleh Syekh Dathul Kafhi untuk membuka lahan di sekitar Lemah Wungkuk sekarang dikenal sebagai daerah Tegal Alang-alang, untuk menyebarkan Ajaran Islam ke daerah selatan Cirebon, pada saat itu masih termasuk ke dalam kekuasan Galuh Pajajaran. Penamaan Tegal Alang-Alang tidak terlepas dari kondisi tempat pada saat itu, yang banyak ditumbuhi sejenis rumput alang-alang. Perkembangan agama Islam sangat pesat setelah Syekh Syarif Hidayatullah memegang tampuk kekuasan di Kerajaan Cirebon. Perkembangan ini bukan hanya kekuasaan secara politik, tetapi juga secara sosial budaya. Untuk menunjang ekspansi kekuasaan perlu adanya daerah-daerah yang dikuasai. Pembukaan lahan untuk pemukiman penduduk perlu adanya nama tempat untuk daerah tersebut. Penamaan suatu daerah tidak terlepas dari sejarah budaya daerah tersebut. Asal-usul nama tempat di Kabupaten Cirebon tidak terlepas dari peran Pangeran Cakrabuana dan Syekh Syarif Hidayatullah. Panamaan satu tempat banyak yang berasal dari petatah petitih yang diucapkan oleh Pangeran Cakrabuana dan Syekh Syarif Hidayatulllah. Nama-nama tempat tersebut bisa terjadi hasil pekerjaan orang, perasaan orang, keadaan alam, sejenis nama pohon atau pun nama-nama benda yang ada pada saat daerah tersebut ditemukan.

Kata kunci: Asal-usul nama tempat, Cirebon.

Abstract
When Syekh Syarif Hidayatullah came into throne the spread of Islam in Cirebon was developing very rapidly, either politically or socio-culturally. Politically, the sultanate expanded its power to other regions and conquered them, resulting the need to open many lands for habitation. The new conquered lands needed new names and the names which were applied to them were closely related to the cultural history of the lands themselves. It was Pangeran (Prince) Cakrabuana and Syekh Syarif Hidayatullah who named the lands, based on their sayings as well as topograhic or morphological condition of each lands.

Keywords: Toponimy, Cirebon.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011

Popular Posts