WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Banten : Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII

Claude Guillot, 430 hlm, 16 x 24 cm; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), École française d’Extrême-Orient, Forum Jakarta-Paris dan Puslit Arkeologi Nasional, Jakarta, 2008.

Keberadaan Banten dalam percaturan politik dan kekuasaan baik di wilayah Nusantara maupun dunia (internasional) tenggelam begitu saja. Sekurang-kurangnya peranannya hampir tidak pernah terungkap. Nama besar Banten tersisihkan oleh nama besar kerajaan lain sejamannya, yaitu Pajajaran. Padahal penelusuran mutakhir terhadap teks naskah, arsip-arsip pelayaran dan tinggalan penggalian arkeolog menunjukkan hal sebaliknya, misalnya, perjanjian antara Portugis dan Sunda tahun 1522 (hlm 31). Ada kesalahan pemahaman atas teks yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda –dan inilah yang berkembang dimasyarakat - yang perlu diluruskan. Menurut buku ini, ada kerancuan nama Sunda di kalangan orang asing yang baru (baca: Portugis) pertama kali memasuki wilayah Nusantara. Nama “Sunda” bagi mereka adalah sebuah pelabuhan. Dan pelabuhan yang dimaksud adalah Banten. Oleh karena itu, pada peta tertua yang digambar Cortesão: “Anomino sekitar tahun 1535” dan “Anomino-Gaspar Viegas sekitar tahun 1537”, nama tempat Cumda tidak menunjukkan sama satu daerah, melainkan sebuah muara. Sebenarnya, nama “pelabuhan Çumda” ini tidak menunjukkan sembarang pelabuhan di daerah Sunda melainkan Banten (hlam 51). Selanjutnya, penguasa yang mengadakan perundingan dengan Portugis bukanlah penguasa Pajajaran sebagaimana dikemukakan para sejarawan, tetapi penguasa Banten; yang merasa terancam kedudukannya oleh serangan orang Islam di Demak-Jepara (hlm 60). Jadi, dalam hal ini yang dimaksud penguasa Banten bukan raja Pajajaran yang tinggal di Pakuan, melainkan penguasa Banten yang tinggal di Banten; yakni raja (sultan) Banten. Demikianlah salah satu berita yang “bertentangan” dengan berita yang diterima umum dan ditulis oleh peneliti asing.

Informasi di atas merupakan daya tarik dari buku ini yang mencoba membuka cakrawala pembaca dari sudut pandang lain. Banten ditelaah dari sumber (referensi) asing dengan memanfaatkan arsip dan catatan-catatan perjalanan yang pernah mengunjugi dan bertempat tinggal di Banten. Dalam hal ini pembaca akan disuguhi tiga gagasan utama, yaitu (1) sejarah kuno Banten sebelum kedatangan Islam, ketika kota raja masih di Banten Girang; (2) kajian masyarakat Banten zaman Islam melalui tata perkotaan, perjuangan-perjuangan merebut kekuasaan dan terikatnya Banten pada dunia agraria; kemudian hubungan Banten dengan pihak asing mengenai ekonomi, sosial dan budaya; dan (3) citra Banten yang muncul di dalam sastra-sastra Eropa.

Tentu saja untuk menghasilkan sebuah kajian yang menyeluruh (integral) dan akurat memerlukan peneitian lebih mendalam dan terus-menerus. Namun sebagai bahan “dasar” untuk tersusunnya sebuah buku tentang Banten dengan berbagai aspek kehidupannya, buku ini perlu dibaca dan dijadikan referensi yang utama. Setidaknya melalui buku ini eksistensi orang Banten yang telah memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat dapat berbangga diri dengan sejarah masa lampaunya. (Agus Heryana, Peneliti madya di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung)

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 2 Juni 2011

Popular Posts