WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni Di Desa Dangiang Kec. Banjawangi Kab. Garut

Ani Rostiyati

A. Pengertian Upacara Tradisional
Upacara tradisional merupakan kegiatan upacara yang berhubungan dengan tradisi suatu masyarakat. Upacara tradisional menurut Budhisantoso (1992:7) adalah tingkah laku resmi yang dibakukan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan pada kegiatan teknis sehari-hari, akan tetapi mempunyai kaitan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan di luar kemampuan manusia. Pada definisi di atas, yang dimaksudkan sebagai kekuatan di luar kemampuan manusia di antaranya adalah kekuatan supra-natural. Menurut Budhisantoso (1992:8), beragam upacara yang dikembangkan oleh masyarakat pada hakikatnya terbagi dalam dua kategori. Kedua jenis kategori upacara tadi adalah upacara lintasan hidup dan upacara meruwat.

Upacara lintasan hidup adalah upacara yang dilakukan untuk menandai peristiwa perkembangan fisik dan sosial seseorang. Perkembangan fisik dari mulai waktu lahir, menginjak dewasa, kawin, dan kemudian mati. Upacara ini dimaksudkan untuk menandai perpindahan dari suatu fase kehidupan ke fase lain. Adapun upacara meruwat yaitu upacara yang dilakukan untuk menertibkan kembali keadaan yang dirasa terganggu. Caranya dengan menghilangkan penyebabnya ataupun dengan memberikan “imbalan” pada leluhur yang dianggap telah dilupakan orang. Berkenaan dengan upacara meruwat tersebut, upacara yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang adalah upacara penolak bala. Upacara ini dilakukan untuk membina kesejahteraan perorangan dan masyarakat (contoh: upacara seusai panen), dan upacara yang bersifat penyembuhan.

B. Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni di Desa Dangiang
Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya upacara tradisional memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Namun demikian bukan tidak mungkin upacara tradisional tersebut mulai satu demi satu tersingkirkan. Kekhawatiran tersebut mendorong perlu dilakukannya perekaman terhadap upacara tradisional yang masih berlangsung. Kelangkaan upacara tradisional pada masa-masa sekarang menjadikan pendokumentasian harus bersifat audio visual. Dengan demikian kelak jejak tinggalan leluhur masih bersisa. Salah satu upacara tradisional yang masih berlangsung adalah upacara Siraman dan Ngalungsur Geni di Desa Dangiang Kec Banjarwangi Kab. Garut. Pada intinya upacara ini bertujuan untuk memelihara tinggalan leluhur yang berupa benda keramat milik leluhur.

C. Prosesi Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni
Upacara tradisional pada umumnya mempunyai tujuan untuk menghormati, mensyukuri, memuja dan minta keselamatan pada leluhur (karuhun) dan Tuhannya. Demikian pula pada upacara Siraman dan Ngalungsur Geni yang dilakukan masyarakat Desa Dangiang, bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan YME dan penghormatan pada leluhur serta tinggalannya yang berupa benda-benda pusaka.

1. Nama Upacara dan Tahap-tahapnya
Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni yang dilaksanakan masyarakat Dangiang merupakan tradisi yang sudah turun temurun dilakukan tiap tahun sekali pada bulan Maulud, tepatnya 14 Maulud. Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni memiliki makna siraman artinya mencuci, ngalungsur berarti mewariskan atau meneruskan, dan Geni adalah salah satu nama benda pusaka meriam bernama Guntur Geni. Guntur geni merupakan senjata peninggalan dari Eyang Gusti Batara Turus Bawa, yakni salah satu pendiri Desa Dangiang. Dengan demikian upacara Siraman dan Ngalungsur Geni memiliki arti mencuci dan meneruskan (mewarisi) kesaktian benda-benda pusaka milik leluhur, sekaligus sebagai penghormatan pada leluhur sebagai cikal bakal pendiri desa. Benda-benda pusaka tersebut disimpan di dalam peti khusus berukuran kurang lebih 1 x 2 meter, yang diletakkan di rumah Joglo yakni sebuah rumah khusus tempat menyimpan benda pusaka. Ngalungsur geni inilah kemudian diartikan menurunkan atau mengeluarkan benda-benda pusaka peninggalan leluhur yang disimpan di rumah Joglo maupun yang disimpan oleh perorangan di rumah-rumah warga, untuk kemudian dicuci atau dimandikan di setiap bulan Maulud. Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni terdiri atas lima tahap yaitu: membuka sejarah desa, ziarah kubur, mencuci benda pusaka, dan doa bersama.

2. Latar Belakang Sejarah Upacara
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan upacara Siraman dan ngalungsur geni dilaksanakan,. Warga masyarakat Dangiang hanya tahu bahwa upacara ini berlangsung dari tahun ke tahun. Upacara ini dilaksanakan demi menghormati leluhur yang telah membuka wilayah Dangiang yaitu Eyang Batara Turus Bawa. Menurut sejarahnya, Eyang Batara Turus Bawa dan istrinya Sembah Ibu Lungguh Gumuling, ibunya Sembah Ibu Murba Kawasa, beserta tujuh pengiringnya yakni Sunan Wangi, 2. Sunan Laya Paseban, 3. Sunan Jaya Pakuan, 4. Sunan Bagus Teteg, Sunan Kaso Jagat, Sunan Sapu Jagat, dan Sunan Bagus Panyalin. Mereka berkelana dari Mataram sampai ke hilir Desa Bojong Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut. Setiba di sebuah sungai mereka mandi. Seusai mandi mereka lalu menyimpan meriam si guntur geni di Gunung Tingaragung di dalam rumpun bambu kuning. Meriam tersebut diharapkan akan diambil anak cucunya kelak. Mereka selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Langkob Dangiang yang hanya dihuni oleh seorang yang berasal dari Mekah dan merupakan sahabat lama Imam Safei. Selama menetap di Dangiang mereka kekurangan air hingga memutuskan untuk berpindah tempat lagi. Sampailah kemudian mereka ke hulu Sungai Cidangiang lalu menetap di sana. Nu Agung Tapa Seda Sakti Batara Turus Bawa kemudian berkelana lagi sampai mempunyai keturunan sepuluh anak, salah satunya adalah Sanghiang Resik Rarang (makamnya di Banten). Seiring perjalanan waktu, Sanghiang Resik Rarang menikah dengan Raja Galuh Pakuan (Guru Gantangan) dan mempunyai tiga anak yaitu: Sembah Dalem Tanu Datar, Sunan Batu Wangi (makamnya di Cindian), dan Eyang Bungsu (Kampung Dukuh).

Sembah Dalem Tanu Datarlah yang kemudian menurunkan masyarakat Dangiang sekarang ini. Manakala Nu Agung Tapa Seda Sakti Batara Turus Bawa dan pengiringnya wafat, mereka dimakamkan di Kampung Datar. Merekalah yang secara turun-temurun harus dihormati oleh masyarakat Desa Dangiang. Tata cara untuk menghormatinya adalah merawat peninggalannya yang berupa benda-benda pusaka, dengan cara dicuci atau dimandikan di setiap bulan Maulud. Pelaksana upacara ngalungsur geni yang pertama adalah Eyang Raden Demang Tanu Datar, beliau adalah cucu dari Eyang Batara Turus Bawa. Penerusnya adalah mereka yang masih merupakan keturunan Eyang Raden Demang Tanu Datar.

3. Maksud dan Tujuan Upacara
Upacara Siraman dan ngalungsur geni dilaksanakan oleh warga masyarakat Dangiang dengan tujuan untuk menghormati leluhur yang telah berjasa di daerahnya. Cara mereka menghormati dengan merawat benda-benda pusaka peninggalannya. Upacara ngalungsur geni selalu dilaksanakan setiap tahun bulan Maulud. Pelaksanaan upacara yang rutin dilaksanakan pada akhirnya mensugesti warga masyarakat menjadi tenang hidupnya. Apabila mereka tidak pelaksanaan upacara, mereka khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan yang dapat menimpa warga masyarakat Dangiang.

4. Waktu Penyelenggaraan Upacara
Upacara Siraman dan ngalungsur geni dilaksanakan pada setiap bulan Maulud, harinya hari Senin. Penentuan waktu pelaksanaan tersebut bukan tanpa alasan. Hari Senin adalah hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dan olehkarenanya hari tersebut dianggap hari yang baik. Apabila upacara tidak dapat dilaksanakan pada hari Senin oleh karena berbagai hal, maka upacara dapat dilaksanakan pada hari Kamis. Pada tahun ini upacara dilaksanakan pada hari Senin.

5.Tempat Pengelengaaraan Upacara
Rangkaian upacara ngalungsur geni dilaksanakan di beberapa tempat yang rutin digunakan. Tempat-tempat yang digunakan tersebut adalah tempat yang memiliki keterkaitan sejarah dengan leluhur Dangiang. Ada tiga tempat yang digunakan untuk melaksanakan upacara. Tempat yang pertama adalah Joglo. Joglo merupakan tempat pelaksanaan marhaban, salawat, tahlil, membuka sejarah desa, tempat berkumpul peserta ziarah dan mencuci benda pusaka, dan tempat doa bersama. Tempat yang kedua adalah makam leluhur yaitu makam Eyang Gusti Batara Turus Bawa. Tempat yang ketiga adalah Sungai Cidangiang yaitu sungai tempat mencuci benda-benda pusaka.

6. Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Pelaksanaan upacara ngalungsur geni memerlukan beberapa persiapan dan perlengkapan. Kegiatan persiapan dilakukan sejak seminggu sebelum puncak upacara. Kegiatannya berupa musyawarah antara kuncen, wakil kuncen, dengan para pembantunya. Mereka bermusyawarah untuk menentukan tanggal pelaksanaan upacara. Hasil musyawarah diumumkan kepada warga masyarakat melalui pengeras suara yang ada di masjid. Kegiatan selanjutnya adalah bersihkan makam dan mengganti pagar di komplek makam Eyang Gusti Batara Turus Bawa, dan bersihkan Joglo.

Upacara ngalungsur geni dilaksanakan secara swadaya. Dengan kata lain, pembiayaannya ditanggung bersama oleh seluruh warga masyarakat. Senin pagi, kaum ibu disibukkan dengan membeli bahan-bahan untuk membuat tumpeng dari warung-warung terdekat. Bahan baku tumpeng adalah beras, adapun variasi bahan lauk-pauknya bergantung kemampuan dana yang ada pada masing-masing keluarga. Pada umumnya bahan lauk-pauk yang terdapat pada tumpeng terdiri atas telur (dibuat balado/diopor/dsb), kentang (dibuat sambal goreng), tahu (digoreng), tempe (digoreng), kerupuk udang atau sejenisnya, ada yang menambahkan dengan ikan (dipindang/digoreng/dsb), atau daging ayam (digoreng). Selain itu juga membuat makanan ringan seperti wajid, rangginang, opak dll.

Selain mempersiapkan untuk keperluan tumpeng, kaum ibu juga mempersiapkan perlengkapan kosmetik untuk keperluan suaminya mengikuti ziarah kubur. Ada pula yang mempersiapkan kembang. Khusus kuncen, selain membawa perlengkapan kosmetik juga membawa seureuh (daun sirih). Ragam perlengkapan kosmetik di antaranya berupa: hand body, minyak wangi, krem wajah, talk, dan krem rambut. Perlengkapan tersebut ada yang dibawa dengan wadah kantong plastik, ada pula yang dibungkus dengan sejenis lap, dan lain sebagainya. Perlengkapan lain adalah benda-benda pusaka yang disimpan di joglo maupun di rumah penduduk seperti keris, tombak, badik, pedang, dan meriam. Juga alat untuk mencuci seperti jeruk nipis, kawul, dan air.

7. Pantangan
Ada beberapa pantangan yang diberlakukan untuk peserta upacara, yaitu:
Jarak 10 meter dari makam leluhur, peserta ziarah tidak diperbolehkan mengenakan alas kaki, tidak diperbolehkan mengambil bebatuan dan memetik bunga yang ada di sana. Kedua, ada yang mengatakan bahwa perempuan tidak diperbolehkan ikut serta berziarah. Pantangan tersebut menjadi wacana oleh karena selama ini tidak pernah terlihat ada peziarah perempuan. Namun demikian pantangan tersebut sepertinya sifatnya tidak mutlak. Ketiga, pejabat pemerintah seperti halnya lurah, tidak diperbolehkan berziarah. Keempat, perempuan yang sedang menstruasi tidak dipebolehkan memegang benda pusaka. Kelima, peti yang merupakan wadah benda pusaka yang terdapat di Joglo tidak diperbolehkan dibuka selain pada tanggal 14 Maulud. Peti tersebut juga tidak diperbolehkan dibuka oleh orang lain selain kuncen. Keenam, pantang mengubah bentuk maupun bahan bangunan Joglo. Artinya, atap Joglo harus dari ijuk dan berdinding setengah tembok dan setengah bilik. Ketujuh, pantang bagi perempuan untuk memimpin upacara sekalipun masih keturunan leluhur Dangiang. Kedelapan, apabila seseorang niat berziarah bersama orang lain dengan jumlah tertentu kemudian manakala hendak berangkat ada salah seorang yang membatalkan atau peziarah bertambah seorang, mereka masih diperbolehkan berziarah. Namun demikian apabila yang membatalkan dan yang berziarah berkurang atau bertambah lebih dari satu, niat ziarah harus dibatalkan. Kesembilan, selain hari Senin atau Kamis tidak diperbolehkan melaksanakan ziarah kubur olehkarenanya upacara hanya bisa dilaksanakan pada kedua hari itu.

8. Makna yang Terkandung dalam Simbol Upacara
Upacara ngalungsur geni merupakan suatu rangkaian aktivitas yang di dalamnya menggunakan sejumlah perlengkapan. Ada di antara aktivitas dan perlengkapan yang digunakan tersebut memiliki makna dan perlu diberi penjelasan. Hal ini dilakukan demi tidak mengaburkan tujuan upacara. Makna atau penjelasannya sebagai berikut: Bentuk tumpeng yang meruncing ke atas bermakna ungkapan rasa syukur yang ditujukan kepada Yang Esa. Daun sirih yang diletakkan di atas makam dimaksudkan sebagai pengganti daun kurma yang dahulu digunakan oleh Nabi Muhammad SAW. Perlengkapan kosmetik, perlengkapan ini baunya wangi, penggunaannya ada dua maksud. Kosmetik yang disemprotkan ke makam bermakna bahwa warga masyarakat Dangiang harus bisa mengharumkan nama leluhur yang dimakamkan tersebut. Kosmetik yang digunakan untuk keperluan sendiri dimaksudkan untuk ngala berkah. Maksudnya, dengan menggunakan kosmetik yang sudah didoai dalam acara ziarah kubur, mereka akan mendapatkan berkah dengan dikabulkan keinginannya. Kembang, dalam hal ini kembang mawar yang baunya harum, dimaksudkan untuk mengharumkan nama leluhur. Air cucian benda pusaka, air ini dipercaya bisa berfungsi sebagai ”obat”. Pelaku upacara percaya bahwa dengan merawat benda-benda pusaka peninggalan leluhur akan mendatangkan berkah yang berasal dari Allah Swt melalui air tersebut. Pantangan mengenakan sandal ke komplek makam dimaksudkan agar komplek makam terjaga kebersihannya. Pantangan tidak boleh memetik bunga atau mengganggu tanaman di wilayah sekitar makam dimaksudkan agar daerah tersebut terjaga keasriannya. Pantangan tidak boleh mengambil bebatuan di wilayah sekitar makam dimaksudkan agar daerah tersebut tidak mudah longsor.

9. Jalannya Upacara menurut Tahapannya
Upacara ngalungsur geni terdiri atas lima tahapan yaitu: ngalirap, membuka sejarah desa, ziarah kubur, mencuci benda pusaka, dan doa bersama.

Ngalirap, adalah kegiatan yang dilakukan warga untuk mempersiapkan upacara dengan cara membersihkan makam, mesjid, jalan, joglo, dan mengganti pagar bambu yang sudah rusak. Sebagian warga juga mencari bambu di hutan, kemudian bambu tersebut dipotong, dibelah, dan diserut. Serutan bambu (kawul) akan digunakan untuk mengelap benda pusaka agar cepat kering.

Membuka sejarah desa, acara ini dilaksanakan pada hari Minggu, waktunya pada malam hari seusai shalat isa. Acaranya diawali dengan semacam ceramah dari kuncen tentang jati diri manusia (baca: warga masyarakat Dangiang) dan tentang tujuan upacara. Usai paparan tersebut dilanjutkan dengan marhabaan, shalawat, tahlil, dan membuka sejarah desa yang juga dipimpin oleh kuncen. Pada hari itu acara berlangsung hingga pukul 02.00 dini hari. Usai acara, kuncen dan beberapa peserta menuju ke makam Eyang Batara Turus Bawa. Keberangkatan mereka ke makam untuk melakukan semedi (bertapa). Mereka bersemedi higga pagi hari dan dilanjutkan dengan melaksanakan upacara ziarah kubur bersama dengan peserta ziarah yang baru datang.

Ziarah kubur ke makam keramat leluhur, peserta ziarah berkumpul di Joglo pada sekitar pukul 07.30 WIB. Mereka datang dengan membawa perlengkapan kosmetik dan kembang. Rombongan yang dipimpin oleh kuncen melakukan ziarah dengan melalui jalan setapak, pematang, bukit, demikian pula selokan dan sungai mereka seberangi hingga memakan waktu lebih kurang 1 jam. Setiba di Sungai Cidangiang, 10 meter dari makam, para peserta melepas alas kaki kemudian membersihkan diri. Mereka sekadar mencuci kaki atau mandi, dan berwudhu. Beberapa langkah kemudian sampailah peserta di komplek makam Eyang Batara Turus Bawa. Setiba di sana, peserta beristirahat sejenak untuk melepas lelah sambil menunggu peserta yag masih berada di jalan. Lebih kurang pukul 09.15 peserta ziarah memasuki komplek makam. Di sana kuncen dan peziarah lain sudah menunggu sejak dini hari. Acara dimulai dengan urutan kegiatan sebagai berikut: Kuncen meletakkan daun sirih di atas makam, setelah itu kuncen menjelaskan tujuan ziarah yaitu untuk mendoakan orang yang diziarahi, bukan meminta sesuatu pada orang yang diziarahi. Bagi peziarah yang mempunyai suatu ”maksud”, boleh diikrarkan atau cukup di dalam hati akan tetapi hanya ditujukan pada Allah semata. Selanjutnya kuncen dan peserta ziarah membuka perlengkapan kosmetik dan berdoa dipimpin oleh kuncen, doa secara umum dan doa sesuai maksud masing-masing. Usai acara tahlil para peserta ziarah bersalaman dengan kuncen dan sesama peziarah. Selanjutnya, doa bersama dan menggunakan perlengkapan kosmetik yakni menyemprotkan minyak wangi ke makam dan diri sendiri, sisanya untuk dikenakan oleh anggota keluarga di rumah. Kosmetik berupa krem, hand body, atau yang lainnya, dikenakan untuk diri sendiri dan sisanya untuk dikenakan oleh anggota keluarga di rumah. Selanjutnya bagi yang memiliki suatu ”maksud yang besar”, mereka akan menuju bangunan tempat tersimpannya sebuah batu. Mereka akan menyampaikan maksudnya pada Allah sekaligus memohon untuk dikabulkan. Ada kepercayaan apabila batu itu bisa terangkat oleh yang mempunyai maksud maka akan terkabullah apa yang diinginkan. Semakin tinggi batu terangkat maka semakain besar harapan untuk bisa terkabul. Peziarah pulang menuju Joglo untuk mengikuti acara doa bersama (syukuran).

Mencuci benda pusaka di Sungai Dangiang, Sementara itu sebagian masyarakat dan beberapa sesepuh adat serta tokoh masyarakat yang tidak ikut ke makam, berkumpul di joglo. Sekitar pukul 08.00 WIB. Acara diawali dengan pembantu kuncen membuka ruang tempat penyimpanan benda pusaka, membuka peti, lalu mengeluarkan benda-benda pusaka yang ada di dalamnya. Manakala semua benda pusaka sudah dikeluarkan lalu dibawa ke Sungai Cidangiang yang berjarak 300 meter dari Joglo. Caranya, peti yang berisi benda-benda pusaka dipikul oleh dua orang dan diarak menuju ke sungai Dangiang dengan diikuti warga dibelakanganya. Setiba di sungai, benda-benda pusaka tersebut dicuci satu persatu. Pertama adalah benda-benda pusaka yang disimpan di Joglo dan yang kedua benda pusaka milik perorangan. Benda-benda pusaka tersebut dicuci atau dimandikan sambil peserta upacara bersalawat. Manakala benda-benda pusaka dicuci, masyarakat menyeburkan diri di sungai sambil membasuh mukanya dari air bekas cucian tersebut, dengan harapan untuk mendapat berkah. Air cucian tersebut dipercaya bisa membawa berkah seperti menjadi obat segala macam penyakit, bisa menjadikan awet muda, enteng jodoh, memudahkan rizki, dan lain sebagainya. Caranya, keris yang sudah dicuci di sungai dikucurkan di atas mata orang yang menderita sakit mata. Ada juga yang mengambil air bekas cucian dengan cara dimasukkan ke dalam botol agua. Usai semua benda pusaka dicuci, peserta upacara kembali ke Joglo untuk mengikuti acara doa bersama (syukuran). Rombongan ini tiba di Joglo jauh lebih cepat dibandingkan rombongan peziarah. Maklum saja karena jarak tempuhnyapun berbeda. Kira-kira pukul 11.00, seluruh peserta upacara baik rombongan dari makam, rombongan dari sungai Dangiang, warga, dan tamu undangan berkumpul bersama di rumah joglo untuk melaksanakan ikrar dan doa bersama yang dipimpin oleh kuncen. Warga yang datang diperkirakan mencapai 500 orang, berasal dari 2 desa yakni Desa Dangiang dan Desa Jayabakti, adapun tumpeng yang terkumpul kurang lebih 300 buah. Tamu yang hadir terdiri dari para sesepuh, tokoh masyarakat, aparat desa, staf dari Disbudpar, LKMD, dan karang taruna. Para tamu undangan duduk di dalam rumah Joglo, mengikuti upacara pembersihan benda-benda pusaka yang dipimpin oleh kuncen.. Pertama-tama, benda pusaka tersebut digosok dengan jeruk nipis agar tidak berkarat, setelah itu dilap dengan kawul yakni serutan bambu agar kering, dan diberi doa oleh kuncen. Pembersihan ini dilakukan secara bergiliran agar semua mendapat kebagian untuk memegang benda pusaka tersebut. Setelah selesai, semua benda pusaka dimasukkan dalam peti dan diletakkan kembali di atas rumah Joglo untuk disimpan. Selanjutnya adalah doa bersama yang dipimpin oleh Kuncen agar masyarakat selalu diberi keberkahan oleh Yang Maha Kuasa dan juga para leluhur. Usai doa bersama, warga mengambil lagi tumpeng yang dibawanya untuk dimakan bersama keluarganya di rumah. Mereka menganggap tumpeng tersebut sudah mendapat berkah dari doa dan ikrar yang dipanjatkan Kuncen. Sebagian lagi ada tumpeng yang dimakan bersama untuk suguhan pada tamu undangan dan semua peserta yang hadir. Makan bersama ini sebagai wujud persatuan dan kesatuan warga Desa Dangiang. Makan bersama ini pula yang mengakhiri puncak upacara Siraman dan Ngalungsur Geni, warga pulang dengan perasaan senang dan tenang, karena mereka yakin dengan melaksanakan upacara tersebut maka keselamatan dan keberkahan akan mengiringi perjalanan hidupnya.

Acara doa bersama (syukuran), acara ini berlangsung di Joglo pada sekitar pukul 11.15 WIB. Pada saat itu hampir semua warga masyarakat Desa Dangiang dan Jayabakti, khususnya ibu-ibu, berkumpul di Joglo. Mereka datang ke Joglo dengan membawa tumpeng. Ada yang datang sekitar pukul 07.00, ada yang datang pada sekitar pukul 9.00 WIB, dan sebagainya.Tumpeng pada umumnya dibawa dengan wadah boboko dan baskom, membawanya dengan digendong atau diangkat dengan kedua tangan dan disandarkan di pinggang sebelah kiri. Kurang lebih 300 tumpeng yang terkumpul berasal dari 2 desa. Tumpeng berisi nasi, lauk pauk, dan beberapa alat kosmetik (bedak, lipstik, minyak wangi, dll). Alat kosmetik dimaksudkan agar mereka yang punya anak gadis cepat mendapat jodoh dan dikaruniai wajah cantik. Acara diawali ucapan rasa syukur dari kuncen kepada Allah Yang Esa atas rahmat dan berkah yang sudah diberikan kepada warga masyarakat Dangiang khususnya, dan desa lain pada umumnya. Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, yang pertama dari staf Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Garut, kedua adalah sambutan dari kepala desa, dan ketiga adalah sambutan dari ketua tim peliput. Usai acara sambutan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh kuncen. Acara itu berlangsung sekitar satu jam. Usai doa bersama, warga mengambil lagi tumpeng yang dibawanya untuk dimakan bersama keluarganya di rumah. Mereka menganggap tumpeng tersebut sudah mendapat berkah dari doa dan ikrar yang dipanjatkan Kuncen. Sebagian lagi ada tumpeng yang dimakan bersama untuk suguhan pada tamu undangan dan semua peserta yang hadir. Makan bersama ini sebagai wujud persatuan dan kesatuan warga Desa Dangiang. Makan bersama ini pula yang mengakhiri puncak upacara Siraman dan Ngalungsur Geni, warga pulang dengan perasaan senang dan tenang, karena mereka yakin dengan melaksanakan upacara tersebut maka keselamatan dan keberkahan akan mengiringi perjalanan hidupnya.

D. PENUTUP
Upacara tradisional merupakan salah satu tradisi yang masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan. Tentu saja ini termasuk aset budaya yang perlu mendapat perhatian serius, baik untuk tujuan pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan. Terlebih lagi ketika pemerintah menempatkan aspek pariwisata berbasis budaya sebagai salah satu sumber devisa Negara. Upaya ke arah itu tidak bisa ditawar lagi menjadi salah satu skala prioritas utama. Untuk kepentingan itulah dilakukan kegiatan perekaman dan pendokumentasian upacara tradisional.

Upacara Ngalungsur Geni adalah upacara adat yang masih dipegang teguh dan diwarisi secara turun temurun oleh masyarakat Dangiang, Kepercayaan terhadap roh-roh halus, lelehur, dan cikal bakal desa merupakan manifestasi keteguhan hati yang berakar kuat disanubari masyarakat Dangiang. Memang dalam masyarakat pedesaan umumnya, cara berpikir masyarakatnya tidak bisa dipisahkan dari lingkungan alam. Irama alam merupakan irama hidup masyarakat, mereka terikat secara akrab dengan alam semesta dan kekuatannya. Orang selalu berpartisipasi dengan irama alam dan secara mental mereka tidak lepas dari kekuatannya (Mulder, 1973:66).

Taylor, dalam bukunya Primitive Culture, mengemukakan bahwa tumbuhnya religi umat manusia berpangkal pada keyakinan terhadap adanya jiwa sebagai substansi yang menyebabkan adanya kehidupan. Apabila manusia itu mati, jiwa itu tetap hidup dan bertempat tinggal pada tempat-tempat tertentu. Jiwa yang melepaskan diri dari badan wadaq itu dinamai spirit yang dapat berbuat baik maupun buruk terhadap manusia.

Pernyataan Taylor tersebut, sesuai dengan kepercayaan yang dianut sebagian besar masyarakat di Indonesia, di dalam berhadapan dengan dunia sekitarnya. Adanya istilah “karamat’ yang diperuntukkan bagi tempat-tempat atau benda-benda dan pohon tertentu, dianggap sebagai tempat spirit yang ada di sekitar manusia. Sudah barang tentu, makam-makam dan benda-benda yang dikeramatkan tersebut memiliki latar belakang yang unik, misalnya sejarah hidup orang dan benda-benda yang dikeramatkan tersebut dianggap sangat luar biasa. Demikian pula halnya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Dangiang, Eyang Gusti Batara Turus Bawa dan benda-benda pusaka peninggalannya, dianggap keramat dan dihormati sebagai tokoh suci dan benda-benda pusaka yang mempunyai pengaruh besar pada mayarakatnya. Latar belakang sejarah hidupnya dalam membuka pertama kali Desa Dangiang, telah mengokohkan kepercayaan masyarakat setempat, akan tuah dan keramat makam leluhur serta benda-benda peninggalannya. Sebagai bentuk penghormatan, maka dilakukan upacara yang disebut dengan Ngalungsur Geni, yakni upacara meneruskan (mewarisi) kesaktian benda-benda pusaka milik leluhur, sekaligus sebagai penghormatan pada leluhur sebagai cikal bakal pendiri desa Dangiang.

Demikianlah, upacara Siraman dan Ngalungsur Geni yang dilakukan masyarakat Dangiang, merupakan tradisi turun temurun sejak jaman nenek moyang yang berakar kuat disanubari masyarakatnya. Untuk masa sekarang, ternyata upacara adat tersebut masih tetap relevan karena terbukti memiliki banyak fungsi, yakni sebagai norma sosial (memuat nilai-nilai penting sebagai acuan masyarakatnya), sosial kontrol (pengendalian sosial), spiritual (keagamaan), psikologis (menjadikan rasa tenang dan aman), dan pariwisata (wisata budaya).. Itulah sebabnya, perekaman upacara tradisional perlu dilakukan, sebagai upaya pendokumentasian agar masyarakat, khususnya generasi muda tetap bisa mewarisi, melestarikan, dan mengembangkan upacara tradisional tersebut sebagai salah satu tradisi peninggalan leluhur.

DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa, Heddy Shri, 2006. Esei-esei Antropologi. Teori, Metodologi, dan Etnografi . Yogyakarta : Kepel Press.
Brouwer,M.A.W, 1988. Alam Manusia Dalam Fenomenologi. Jakarta: Gramedia.
Sutrisno, Mudji, 2005. Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Koentjaraningrat, 1987. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
Laksono, P.M, 1985. Tradisi dan Struktur Dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Sumber: Makalah disampaikan pada kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan, Sumedang 2012

Popular Posts