WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label upacara tradisional. Show all posts
Showing posts with label upacara tradisional. Show all posts

Upacara Mapag Tamba Di Indramayu

Oleh:
Dra. Ria Intani T.

Indonesia terdiri atas jajaran pulau yang dihuni oleh beragam suku bangsa. Keberagaman suku bangsa menjadi penanda adanya ke-beragaman kebudayaan. Hal ini disebabkan karena tiap-tiap suku bangsa mengembangkan kebudayaannya sendiri-sendiri. Masing-masing ke-budayaan memiliki kekhasan yang wujudnya merupakan hasil bentukan dari kondisi geografis dan sejarah perkembangan masyarakatnya.

Salah satu kebudayaan yang dikembangkan oleh suatu suku bangsa adalah kegiatan upacara, yang selanjutnya karena keber-langsungannya yang menurun dari satu generasi ke generasi menjadi disebut upacara tradisional. Pada hakikatnya, upacara tradisional terbagi dalam dua katagori yaitu upacara lintasan hidup dan upacara meruwat.

Tersebutlah masyarakat Desa Tugu yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat. Mayoritas penduduk Desa Tugu “bergelut” dengan sawah. Mereka ada yang berstatus sebagai petani pemilik maupun buruh tani. Hal ini tidak mengherankan oleh karena wilayah Desa Tugu mayoritas diperuntukkan pemukiman dan disusul kemudian pesawahan. Terkait dengan mata pencahariannya tersebut, mereka mengembangkan upacara mapag tamba.

Upacara mapag tamba dilaksanakan pada saat usia padi menginjak 40 – 50 hari, dan hari pelaksanaannya adalah hari Jumat. Pada intinya, upacara mapag tamba bertujuan untuk menolak bala atau bencana yang kemungkinan dapat menghancurkan sumber mata pencaharian mereka. Bencana yang kemungkinan dapat terjadi di sawah adalah berupa serangan hama, serangan penyakit, kebakaran, banjir, dan lain sebagainya. Demi mencegah terjadinya bencana, maka diberilah sawah mereka dengan tamba (obat) yang diambil dari sembilan sumber. Sembilan sumber tamba itu adalah:
1. Mertasinga Cirebon Utara,
2. air laut,
3. air papagan,
4. air sumur warak di Sukaurip Balongan Indramayu,
5. sumur jaba,
6. air jambangan,
7. air pande,
8. air leri, dan
9. air Bengawan Cimanuk.

Secara garis besar, upacara mapag tamba terdiri atas tiga tahapan yaitu:
1. Mengambil tamba (mapag tamba),
2. menyatukan tamba, dan
3. memberi tamba ke sawah.

Masing-masing tahapan di atas dilaksanakan dalam waktu yang berbeda dan dengan kelengkapan yang berbeda pula.

Tahap pertama dilaksanakan sehari sebelum hari pelaksanaan pemberian tamba ke sawah, yakni hari Kamis. Waktunya dimulai dari pagi hari dan berakhir pada siang hari. Kelengkapannya adalah bareng. Bareng merupakan benda pusaka peninggalan leluhur yang dipergunakan untuk memberangkatkan petugas yang akan mengambil tamba sekaligus menyambut mereka saat pulang dari mengambil tamba. Perlengkapan lainnya adalah wadah tamba itu sendiri. Bisa berupa jerigen, botol, dan lain sebagainya. Petugas yang akan mengambil tamba diberangkatkan oleh kuwu dan kebayan dari balai desa dengan ditandai pemukulan bareng.

Tahap kedua dilaksanakan pada hari yang sama dengan tahap pertama, namun waktunya pada malam hari (Kamis malam). Secara garis besar kelengkapannya berupa paso (ember bermulut lebar dan tanpa pegangan), gayung, bumbung (wadah tamba yang terbuat dari bambu) berjumlah empat belas, klaras (daun pisang yang dikeringkan) sebagai tutup bumbung, dan sesaji tamba. Selain itu juga disiapkan suguhan berupa longsong. Rangkaian acaranya yaitu:
- Tamba dari sembilan sumber disatukan oleh kebayan.
- Sambutan Kuwu Tugu terkait dengan pelaksanaan mapag tamba.
- Tahlil dan doa bersama dipimpin oleh lebe.
- Tamba diisikan ke dalam bumbung oleh kebayan.
Tahap ketiga dilaksanakan pada keesokan paginya, yakni hari Jumat. Kelengkapannya berupa bareng, binang, dan bumbung. Rangkaian acaranya:
- Empat belas orang petugas pembawa tamba dengan berpakaian binang diberangkatkan oleh kebayan dari balai desa.
- Empat belas petugas terbagi menjadi tujuh tim, menuju wilayah tugas masing-masing.
- Di wilayah tugas masing-masing, tamba dikucurkan.
- Mengakhiri pelaksanaan upacara, dipergelarkan wayang kulit.

Sumber:
Makalah disampaikan pada kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan yang diselenggarakan oleh BPSNT Bandung di Bandarlampung 23 Maret 2011

Upacara Nyalawena di Pantai APRA Kabupaten Cianjur

Laut adalah lingkungan alam bagi para nelayan, sumber kehidupan dan penghidupannya. Dari laut para nelayan memeroleh hasil tangkapan berupa ikan atau perolehan lainnya untuk diperjualbelikan sebagai sumber kehidupan atau mata pencaharian. Mereka tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan laut. Oleh karena itu mereka berusaha untuk menyelaraskan hidup mereka dengan laut. Mereka berusaha untuk bersahabat dengan laut sebagai lingkungan alamnya, kemudian memberdayakannya untuk kehidupan. Laut adalah segalanya bagi seorang nelayan. Dengan berbagai cara dan pengetahuan yang diperoleh dari para leluhurnya, para nelayan tersebut berusaha untuk tetap mempertahankan hidupnya dengan segala risiko dan ketergantungannya pada laut.

Masyarakat nelayan yang menempati daerah-daerah di tepi pantai memiliki kondisi sosial, adat istiadat serta kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat petani dan bentuk-bentuk masyarakat lainnya. Kebiasaan masyarakat yang berbeda-beda tersebut menghasilkan suatu tradisi yang khas dari tiap-tiap daerahnya. Tentunya letak geografis memengaruhi tradisi atau kebiasaan yang berkembang di daerah tersebut. Seperti Tradisi Nyalawena di Sindang Barang Kabupaten Cianjur, tepatnya di Pantai APRA, masyarakat sekitar pesisir tersebut memiliki tradisi mencari impun (ikan kecil) atau yang disebut Nyalawena.

Tradisi Nyalawena sarat dengan nuansa tradisional dan tentunya memiliki banyak makna bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat pendukungnya, masyarakat nelayan di Sindangbarang. Hal inilah yang mendasari dilakukannya kajian terhadap tradisi tersebut dalam hubungannya dengan makna Tradisi Nyalawena bagi masyarakat nelayan di Pantai APRA. Oleh karena itu, BPNB Jawa Barat pada caturwulan pertama tahun anggaran 2016 telah melakukan kajian untuk mengetahui makna apa yang terkandung pada tradisi tersebut.

Sumber: Lina Herlinawati dkk, “Makna Upacara Nyalawena di Pantai APRA Kabupaten Cianjur”, laporan Kajian Kesejarahan dan Kebudayaan, Bandung: BPNB Jabar, 2016.

Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni Di Desa Dangiang Kec. Banjawangi Kab. Garut

Ani Rostiyati

A. Pengertian Upacara Tradisional
Upacara tradisional merupakan kegiatan upacara yang berhubungan dengan tradisi suatu masyarakat. Upacara tradisional menurut Budhisantoso (1992:7) adalah tingkah laku resmi yang dibakukan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan pada kegiatan teknis sehari-hari, akan tetapi mempunyai kaitan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan di luar kemampuan manusia. Pada definisi di atas, yang dimaksudkan sebagai kekuatan di luar kemampuan manusia di antaranya adalah kekuatan supra-natural. Menurut Budhisantoso (1992:8), beragam upacara yang dikembangkan oleh masyarakat pada hakikatnya terbagi dalam dua kategori. Kedua jenis kategori upacara tadi adalah upacara lintasan hidup dan upacara meruwat.

Upacara lintasan hidup adalah upacara yang dilakukan untuk menandai peristiwa perkembangan fisik dan sosial seseorang. Perkembangan fisik dari mulai waktu lahir, menginjak dewasa, kawin, dan kemudian mati. Upacara ini dimaksudkan untuk menandai perpindahan dari suatu fase kehidupan ke fase lain. Adapun upacara meruwat yaitu upacara yang dilakukan untuk menertibkan kembali keadaan yang dirasa terganggu. Caranya dengan menghilangkan penyebabnya ataupun dengan memberikan “imbalan” pada leluhur yang dianggap telah dilupakan orang. Berkenaan dengan upacara meruwat tersebut, upacara yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang adalah upacara penolak bala. Upacara ini dilakukan untuk membina kesejahteraan perorangan dan masyarakat (contoh: upacara seusai panen), dan upacara yang bersifat penyembuhan.

B. Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni di Desa Dangiang
Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya upacara tradisional memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Namun demikian bukan tidak mungkin upacara tradisional tersebut mulai satu demi satu tersingkirkan. Kekhawatiran tersebut mendorong perlu dilakukannya perekaman terhadap upacara tradisional yang masih berlangsung. Kelangkaan upacara tradisional pada masa-masa sekarang menjadikan pendokumentasian harus bersifat audio visual. Dengan demikian kelak jejak tinggalan leluhur masih bersisa. Salah satu upacara tradisional yang masih berlangsung adalah upacara Siraman dan Ngalungsur Geni di Desa Dangiang Kec Banjarwangi Kab. Garut. Pada intinya upacara ini bertujuan untuk memelihara tinggalan leluhur yang berupa benda keramat milik leluhur.

C. Prosesi Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni
Upacara tradisional pada umumnya mempunyai tujuan untuk menghormati, mensyukuri, memuja dan minta keselamatan pada leluhur (karuhun) dan Tuhannya. Demikian pula pada upacara Siraman dan Ngalungsur Geni yang dilakukan masyarakat Desa Dangiang, bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan YME dan penghormatan pada leluhur serta tinggalannya yang berupa benda-benda pusaka.

1. Nama Upacara dan Tahap-tahapnya
Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni yang dilaksanakan masyarakat Dangiang merupakan tradisi yang sudah turun temurun dilakukan tiap tahun sekali pada bulan Maulud, tepatnya 14 Maulud. Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni memiliki makna siraman artinya mencuci, ngalungsur berarti mewariskan atau meneruskan, dan Geni adalah salah satu nama benda pusaka meriam bernama Guntur Geni. Guntur geni merupakan senjata peninggalan dari Eyang Gusti Batara Turus Bawa, yakni salah satu pendiri Desa Dangiang. Dengan demikian upacara Siraman dan Ngalungsur Geni memiliki arti mencuci dan meneruskan (mewarisi) kesaktian benda-benda pusaka milik leluhur, sekaligus sebagai penghormatan pada leluhur sebagai cikal bakal pendiri desa. Benda-benda pusaka tersebut disimpan di dalam peti khusus berukuran kurang lebih 1 x 2 meter, yang diletakkan di rumah Joglo yakni sebuah rumah khusus tempat menyimpan benda pusaka. Ngalungsur geni inilah kemudian diartikan menurunkan atau mengeluarkan benda-benda pusaka peninggalan leluhur yang disimpan di rumah Joglo maupun yang disimpan oleh perorangan di rumah-rumah warga, untuk kemudian dicuci atau dimandikan di setiap bulan Maulud. Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni terdiri atas lima tahap yaitu: membuka sejarah desa, ziarah kubur, mencuci benda pusaka, dan doa bersama.

2. Latar Belakang Sejarah Upacara
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan upacara Siraman dan ngalungsur geni dilaksanakan,. Warga masyarakat Dangiang hanya tahu bahwa upacara ini berlangsung dari tahun ke tahun. Upacara ini dilaksanakan demi menghormati leluhur yang telah membuka wilayah Dangiang yaitu Eyang Batara Turus Bawa. Menurut sejarahnya, Eyang Batara Turus Bawa dan istrinya Sembah Ibu Lungguh Gumuling, ibunya Sembah Ibu Murba Kawasa, beserta tujuh pengiringnya yakni Sunan Wangi, 2. Sunan Laya Paseban, 3. Sunan Jaya Pakuan, 4. Sunan Bagus Teteg, Sunan Kaso Jagat, Sunan Sapu Jagat, dan Sunan Bagus Panyalin. Mereka berkelana dari Mataram sampai ke hilir Desa Bojong Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut. Setiba di sebuah sungai mereka mandi. Seusai mandi mereka lalu menyimpan meriam si guntur geni di Gunung Tingaragung di dalam rumpun bambu kuning. Meriam tersebut diharapkan akan diambil anak cucunya kelak. Mereka selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Langkob Dangiang yang hanya dihuni oleh seorang yang berasal dari Mekah dan merupakan sahabat lama Imam Safei. Selama menetap di Dangiang mereka kekurangan air hingga memutuskan untuk berpindah tempat lagi. Sampailah kemudian mereka ke hulu Sungai Cidangiang lalu menetap di sana. Nu Agung Tapa Seda Sakti Batara Turus Bawa kemudian berkelana lagi sampai mempunyai keturunan sepuluh anak, salah satunya adalah Sanghiang Resik Rarang (makamnya di Banten). Seiring perjalanan waktu, Sanghiang Resik Rarang menikah dengan Raja Galuh Pakuan (Guru Gantangan) dan mempunyai tiga anak yaitu: Sembah Dalem Tanu Datar, Sunan Batu Wangi (makamnya di Cindian), dan Eyang Bungsu (Kampung Dukuh).

Sembah Dalem Tanu Datarlah yang kemudian menurunkan masyarakat Dangiang sekarang ini. Manakala Nu Agung Tapa Seda Sakti Batara Turus Bawa dan pengiringnya wafat, mereka dimakamkan di Kampung Datar. Merekalah yang secara turun-temurun harus dihormati oleh masyarakat Desa Dangiang. Tata cara untuk menghormatinya adalah merawat peninggalannya yang berupa benda-benda pusaka, dengan cara dicuci atau dimandikan di setiap bulan Maulud. Pelaksana upacara ngalungsur geni yang pertama adalah Eyang Raden Demang Tanu Datar, beliau adalah cucu dari Eyang Batara Turus Bawa. Penerusnya adalah mereka yang masih merupakan keturunan Eyang Raden Demang Tanu Datar.

3. Maksud dan Tujuan Upacara
Upacara Siraman dan ngalungsur geni dilaksanakan oleh warga masyarakat Dangiang dengan tujuan untuk menghormati leluhur yang telah berjasa di daerahnya. Cara mereka menghormati dengan merawat benda-benda pusaka peninggalannya. Upacara ngalungsur geni selalu dilaksanakan setiap tahun bulan Maulud. Pelaksanaan upacara yang rutin dilaksanakan pada akhirnya mensugesti warga masyarakat menjadi tenang hidupnya. Apabila mereka tidak pelaksanaan upacara, mereka khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan yang dapat menimpa warga masyarakat Dangiang.

4. Waktu Penyelenggaraan Upacara
Upacara Siraman dan ngalungsur geni dilaksanakan pada setiap bulan Maulud, harinya hari Senin. Penentuan waktu pelaksanaan tersebut bukan tanpa alasan. Hari Senin adalah hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dan olehkarenanya hari tersebut dianggap hari yang baik. Apabila upacara tidak dapat dilaksanakan pada hari Senin oleh karena berbagai hal, maka upacara dapat dilaksanakan pada hari Kamis. Pada tahun ini upacara dilaksanakan pada hari Senin.

5.Tempat Pengelengaaraan Upacara
Rangkaian upacara ngalungsur geni dilaksanakan di beberapa tempat yang rutin digunakan. Tempat-tempat yang digunakan tersebut adalah tempat yang memiliki keterkaitan sejarah dengan leluhur Dangiang. Ada tiga tempat yang digunakan untuk melaksanakan upacara. Tempat yang pertama adalah Joglo. Joglo merupakan tempat pelaksanaan marhaban, salawat, tahlil, membuka sejarah desa, tempat berkumpul peserta ziarah dan mencuci benda pusaka, dan tempat doa bersama. Tempat yang kedua adalah makam leluhur yaitu makam Eyang Gusti Batara Turus Bawa. Tempat yang ketiga adalah Sungai Cidangiang yaitu sungai tempat mencuci benda-benda pusaka.

6. Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Pelaksanaan upacara ngalungsur geni memerlukan beberapa persiapan dan perlengkapan. Kegiatan persiapan dilakukan sejak seminggu sebelum puncak upacara. Kegiatannya berupa musyawarah antara kuncen, wakil kuncen, dengan para pembantunya. Mereka bermusyawarah untuk menentukan tanggal pelaksanaan upacara. Hasil musyawarah diumumkan kepada warga masyarakat melalui pengeras suara yang ada di masjid. Kegiatan selanjutnya adalah bersihkan makam dan mengganti pagar di komplek makam Eyang Gusti Batara Turus Bawa, dan bersihkan Joglo.

Upacara ngalungsur geni dilaksanakan secara swadaya. Dengan kata lain, pembiayaannya ditanggung bersama oleh seluruh warga masyarakat. Senin pagi, kaum ibu disibukkan dengan membeli bahan-bahan untuk membuat tumpeng dari warung-warung terdekat. Bahan baku tumpeng adalah beras, adapun variasi bahan lauk-pauknya bergantung kemampuan dana yang ada pada masing-masing keluarga. Pada umumnya bahan lauk-pauk yang terdapat pada tumpeng terdiri atas telur (dibuat balado/diopor/dsb), kentang (dibuat sambal goreng), tahu (digoreng), tempe (digoreng), kerupuk udang atau sejenisnya, ada yang menambahkan dengan ikan (dipindang/digoreng/dsb), atau daging ayam (digoreng). Selain itu juga membuat makanan ringan seperti wajid, rangginang, opak dll.

Selain mempersiapkan untuk keperluan tumpeng, kaum ibu juga mempersiapkan perlengkapan kosmetik untuk keperluan suaminya mengikuti ziarah kubur. Ada pula yang mempersiapkan kembang. Khusus kuncen, selain membawa perlengkapan kosmetik juga membawa seureuh (daun sirih). Ragam perlengkapan kosmetik di antaranya berupa: hand body, minyak wangi, krem wajah, talk, dan krem rambut. Perlengkapan tersebut ada yang dibawa dengan wadah kantong plastik, ada pula yang dibungkus dengan sejenis lap, dan lain sebagainya. Perlengkapan lain adalah benda-benda pusaka yang disimpan di joglo maupun di rumah penduduk seperti keris, tombak, badik, pedang, dan meriam. Juga alat untuk mencuci seperti jeruk nipis, kawul, dan air.

7. Pantangan
Ada beberapa pantangan yang diberlakukan untuk peserta upacara, yaitu:
Jarak 10 meter dari makam leluhur, peserta ziarah tidak diperbolehkan mengenakan alas kaki, tidak diperbolehkan mengambil bebatuan dan memetik bunga yang ada di sana. Kedua, ada yang mengatakan bahwa perempuan tidak diperbolehkan ikut serta berziarah. Pantangan tersebut menjadi wacana oleh karena selama ini tidak pernah terlihat ada peziarah perempuan. Namun demikian pantangan tersebut sepertinya sifatnya tidak mutlak. Ketiga, pejabat pemerintah seperti halnya lurah, tidak diperbolehkan berziarah. Keempat, perempuan yang sedang menstruasi tidak dipebolehkan memegang benda pusaka. Kelima, peti yang merupakan wadah benda pusaka yang terdapat di Joglo tidak diperbolehkan dibuka selain pada tanggal 14 Maulud. Peti tersebut juga tidak diperbolehkan dibuka oleh orang lain selain kuncen. Keenam, pantang mengubah bentuk maupun bahan bangunan Joglo. Artinya, atap Joglo harus dari ijuk dan berdinding setengah tembok dan setengah bilik. Ketujuh, pantang bagi perempuan untuk memimpin upacara sekalipun masih keturunan leluhur Dangiang. Kedelapan, apabila seseorang niat berziarah bersama orang lain dengan jumlah tertentu kemudian manakala hendak berangkat ada salah seorang yang membatalkan atau peziarah bertambah seorang, mereka masih diperbolehkan berziarah. Namun demikian apabila yang membatalkan dan yang berziarah berkurang atau bertambah lebih dari satu, niat ziarah harus dibatalkan. Kesembilan, selain hari Senin atau Kamis tidak diperbolehkan melaksanakan ziarah kubur olehkarenanya upacara hanya bisa dilaksanakan pada kedua hari itu.

8. Makna yang Terkandung dalam Simbol Upacara
Upacara ngalungsur geni merupakan suatu rangkaian aktivitas yang di dalamnya menggunakan sejumlah perlengkapan. Ada di antara aktivitas dan perlengkapan yang digunakan tersebut memiliki makna dan perlu diberi penjelasan. Hal ini dilakukan demi tidak mengaburkan tujuan upacara. Makna atau penjelasannya sebagai berikut: Bentuk tumpeng yang meruncing ke atas bermakna ungkapan rasa syukur yang ditujukan kepada Yang Esa. Daun sirih yang diletakkan di atas makam dimaksudkan sebagai pengganti daun kurma yang dahulu digunakan oleh Nabi Muhammad SAW. Perlengkapan kosmetik, perlengkapan ini baunya wangi, penggunaannya ada dua maksud. Kosmetik yang disemprotkan ke makam bermakna bahwa warga masyarakat Dangiang harus bisa mengharumkan nama leluhur yang dimakamkan tersebut. Kosmetik yang digunakan untuk keperluan sendiri dimaksudkan untuk ngala berkah. Maksudnya, dengan menggunakan kosmetik yang sudah didoai dalam acara ziarah kubur, mereka akan mendapatkan berkah dengan dikabulkan keinginannya. Kembang, dalam hal ini kembang mawar yang baunya harum, dimaksudkan untuk mengharumkan nama leluhur. Air cucian benda pusaka, air ini dipercaya bisa berfungsi sebagai ”obat”. Pelaku upacara percaya bahwa dengan merawat benda-benda pusaka peninggalan leluhur akan mendatangkan berkah yang berasal dari Allah Swt melalui air tersebut. Pantangan mengenakan sandal ke komplek makam dimaksudkan agar komplek makam terjaga kebersihannya. Pantangan tidak boleh memetik bunga atau mengganggu tanaman di wilayah sekitar makam dimaksudkan agar daerah tersebut terjaga keasriannya. Pantangan tidak boleh mengambil bebatuan di wilayah sekitar makam dimaksudkan agar daerah tersebut tidak mudah longsor.

9. Jalannya Upacara menurut Tahapannya
Upacara ngalungsur geni terdiri atas lima tahapan yaitu: ngalirap, membuka sejarah desa, ziarah kubur, mencuci benda pusaka, dan doa bersama.

Ngalirap, adalah kegiatan yang dilakukan warga untuk mempersiapkan upacara dengan cara membersihkan makam, mesjid, jalan, joglo, dan mengganti pagar bambu yang sudah rusak. Sebagian warga juga mencari bambu di hutan, kemudian bambu tersebut dipotong, dibelah, dan diserut. Serutan bambu (kawul) akan digunakan untuk mengelap benda pusaka agar cepat kering.

Membuka sejarah desa, acara ini dilaksanakan pada hari Minggu, waktunya pada malam hari seusai shalat isa. Acaranya diawali dengan semacam ceramah dari kuncen tentang jati diri manusia (baca: warga masyarakat Dangiang) dan tentang tujuan upacara. Usai paparan tersebut dilanjutkan dengan marhabaan, shalawat, tahlil, dan membuka sejarah desa yang juga dipimpin oleh kuncen. Pada hari itu acara berlangsung hingga pukul 02.00 dini hari. Usai acara, kuncen dan beberapa peserta menuju ke makam Eyang Batara Turus Bawa. Keberangkatan mereka ke makam untuk melakukan semedi (bertapa). Mereka bersemedi higga pagi hari dan dilanjutkan dengan melaksanakan upacara ziarah kubur bersama dengan peserta ziarah yang baru datang.

Ziarah kubur ke makam keramat leluhur, peserta ziarah berkumpul di Joglo pada sekitar pukul 07.30 WIB. Mereka datang dengan membawa perlengkapan kosmetik dan kembang. Rombongan yang dipimpin oleh kuncen melakukan ziarah dengan melalui jalan setapak, pematang, bukit, demikian pula selokan dan sungai mereka seberangi hingga memakan waktu lebih kurang 1 jam. Setiba di Sungai Cidangiang, 10 meter dari makam, para peserta melepas alas kaki kemudian membersihkan diri. Mereka sekadar mencuci kaki atau mandi, dan berwudhu. Beberapa langkah kemudian sampailah peserta di komplek makam Eyang Batara Turus Bawa. Setiba di sana, peserta beristirahat sejenak untuk melepas lelah sambil menunggu peserta yag masih berada di jalan. Lebih kurang pukul 09.15 peserta ziarah memasuki komplek makam. Di sana kuncen dan peziarah lain sudah menunggu sejak dini hari. Acara dimulai dengan urutan kegiatan sebagai berikut: Kuncen meletakkan daun sirih di atas makam, setelah itu kuncen menjelaskan tujuan ziarah yaitu untuk mendoakan orang yang diziarahi, bukan meminta sesuatu pada orang yang diziarahi. Bagi peziarah yang mempunyai suatu ”maksud”, boleh diikrarkan atau cukup di dalam hati akan tetapi hanya ditujukan pada Allah semata. Selanjutnya kuncen dan peserta ziarah membuka perlengkapan kosmetik dan berdoa dipimpin oleh kuncen, doa secara umum dan doa sesuai maksud masing-masing. Usai acara tahlil para peserta ziarah bersalaman dengan kuncen dan sesama peziarah. Selanjutnya, doa bersama dan menggunakan perlengkapan kosmetik yakni menyemprotkan minyak wangi ke makam dan diri sendiri, sisanya untuk dikenakan oleh anggota keluarga di rumah. Kosmetik berupa krem, hand body, atau yang lainnya, dikenakan untuk diri sendiri dan sisanya untuk dikenakan oleh anggota keluarga di rumah. Selanjutnya bagi yang memiliki suatu ”maksud yang besar”, mereka akan menuju bangunan tempat tersimpannya sebuah batu. Mereka akan menyampaikan maksudnya pada Allah sekaligus memohon untuk dikabulkan. Ada kepercayaan apabila batu itu bisa terangkat oleh yang mempunyai maksud maka akan terkabullah apa yang diinginkan. Semakin tinggi batu terangkat maka semakain besar harapan untuk bisa terkabul. Peziarah pulang menuju Joglo untuk mengikuti acara doa bersama (syukuran).

Mencuci benda pusaka di Sungai Dangiang, Sementara itu sebagian masyarakat dan beberapa sesepuh adat serta tokoh masyarakat yang tidak ikut ke makam, berkumpul di joglo. Sekitar pukul 08.00 WIB. Acara diawali dengan pembantu kuncen membuka ruang tempat penyimpanan benda pusaka, membuka peti, lalu mengeluarkan benda-benda pusaka yang ada di dalamnya. Manakala semua benda pusaka sudah dikeluarkan lalu dibawa ke Sungai Cidangiang yang berjarak 300 meter dari Joglo. Caranya, peti yang berisi benda-benda pusaka dipikul oleh dua orang dan diarak menuju ke sungai Dangiang dengan diikuti warga dibelakanganya. Setiba di sungai, benda-benda pusaka tersebut dicuci satu persatu. Pertama adalah benda-benda pusaka yang disimpan di Joglo dan yang kedua benda pusaka milik perorangan. Benda-benda pusaka tersebut dicuci atau dimandikan sambil peserta upacara bersalawat. Manakala benda-benda pusaka dicuci, masyarakat menyeburkan diri di sungai sambil membasuh mukanya dari air bekas cucian tersebut, dengan harapan untuk mendapat berkah. Air cucian tersebut dipercaya bisa membawa berkah seperti menjadi obat segala macam penyakit, bisa menjadikan awet muda, enteng jodoh, memudahkan rizki, dan lain sebagainya. Caranya, keris yang sudah dicuci di sungai dikucurkan di atas mata orang yang menderita sakit mata. Ada juga yang mengambil air bekas cucian dengan cara dimasukkan ke dalam botol agua. Usai semua benda pusaka dicuci, peserta upacara kembali ke Joglo untuk mengikuti acara doa bersama (syukuran). Rombongan ini tiba di Joglo jauh lebih cepat dibandingkan rombongan peziarah. Maklum saja karena jarak tempuhnyapun berbeda. Kira-kira pukul 11.00, seluruh peserta upacara baik rombongan dari makam, rombongan dari sungai Dangiang, warga, dan tamu undangan berkumpul bersama di rumah joglo untuk melaksanakan ikrar dan doa bersama yang dipimpin oleh kuncen. Warga yang datang diperkirakan mencapai 500 orang, berasal dari 2 desa yakni Desa Dangiang dan Desa Jayabakti, adapun tumpeng yang terkumpul kurang lebih 300 buah. Tamu yang hadir terdiri dari para sesepuh, tokoh masyarakat, aparat desa, staf dari Disbudpar, LKMD, dan karang taruna. Para tamu undangan duduk di dalam rumah Joglo, mengikuti upacara pembersihan benda-benda pusaka yang dipimpin oleh kuncen.. Pertama-tama, benda pusaka tersebut digosok dengan jeruk nipis agar tidak berkarat, setelah itu dilap dengan kawul yakni serutan bambu agar kering, dan diberi doa oleh kuncen. Pembersihan ini dilakukan secara bergiliran agar semua mendapat kebagian untuk memegang benda pusaka tersebut. Setelah selesai, semua benda pusaka dimasukkan dalam peti dan diletakkan kembali di atas rumah Joglo untuk disimpan. Selanjutnya adalah doa bersama yang dipimpin oleh Kuncen agar masyarakat selalu diberi keberkahan oleh Yang Maha Kuasa dan juga para leluhur. Usai doa bersama, warga mengambil lagi tumpeng yang dibawanya untuk dimakan bersama keluarganya di rumah. Mereka menganggap tumpeng tersebut sudah mendapat berkah dari doa dan ikrar yang dipanjatkan Kuncen. Sebagian lagi ada tumpeng yang dimakan bersama untuk suguhan pada tamu undangan dan semua peserta yang hadir. Makan bersama ini sebagai wujud persatuan dan kesatuan warga Desa Dangiang. Makan bersama ini pula yang mengakhiri puncak upacara Siraman dan Ngalungsur Geni, warga pulang dengan perasaan senang dan tenang, karena mereka yakin dengan melaksanakan upacara tersebut maka keselamatan dan keberkahan akan mengiringi perjalanan hidupnya.

Acara doa bersama (syukuran), acara ini berlangsung di Joglo pada sekitar pukul 11.15 WIB. Pada saat itu hampir semua warga masyarakat Desa Dangiang dan Jayabakti, khususnya ibu-ibu, berkumpul di Joglo. Mereka datang ke Joglo dengan membawa tumpeng. Ada yang datang sekitar pukul 07.00, ada yang datang pada sekitar pukul 9.00 WIB, dan sebagainya.Tumpeng pada umumnya dibawa dengan wadah boboko dan baskom, membawanya dengan digendong atau diangkat dengan kedua tangan dan disandarkan di pinggang sebelah kiri. Kurang lebih 300 tumpeng yang terkumpul berasal dari 2 desa. Tumpeng berisi nasi, lauk pauk, dan beberapa alat kosmetik (bedak, lipstik, minyak wangi, dll). Alat kosmetik dimaksudkan agar mereka yang punya anak gadis cepat mendapat jodoh dan dikaruniai wajah cantik. Acara diawali ucapan rasa syukur dari kuncen kepada Allah Yang Esa atas rahmat dan berkah yang sudah diberikan kepada warga masyarakat Dangiang khususnya, dan desa lain pada umumnya. Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, yang pertama dari staf Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Garut, kedua adalah sambutan dari kepala desa, dan ketiga adalah sambutan dari ketua tim peliput. Usai acara sambutan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh kuncen. Acara itu berlangsung sekitar satu jam. Usai doa bersama, warga mengambil lagi tumpeng yang dibawanya untuk dimakan bersama keluarganya di rumah. Mereka menganggap tumpeng tersebut sudah mendapat berkah dari doa dan ikrar yang dipanjatkan Kuncen. Sebagian lagi ada tumpeng yang dimakan bersama untuk suguhan pada tamu undangan dan semua peserta yang hadir. Makan bersama ini sebagai wujud persatuan dan kesatuan warga Desa Dangiang. Makan bersama ini pula yang mengakhiri puncak upacara Siraman dan Ngalungsur Geni, warga pulang dengan perasaan senang dan tenang, karena mereka yakin dengan melaksanakan upacara tersebut maka keselamatan dan keberkahan akan mengiringi perjalanan hidupnya.

D. PENUTUP
Upacara tradisional merupakan salah satu tradisi yang masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan. Tentu saja ini termasuk aset budaya yang perlu mendapat perhatian serius, baik untuk tujuan pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan. Terlebih lagi ketika pemerintah menempatkan aspek pariwisata berbasis budaya sebagai salah satu sumber devisa Negara. Upaya ke arah itu tidak bisa ditawar lagi menjadi salah satu skala prioritas utama. Untuk kepentingan itulah dilakukan kegiatan perekaman dan pendokumentasian upacara tradisional.

Upacara Ngalungsur Geni adalah upacara adat yang masih dipegang teguh dan diwarisi secara turun temurun oleh masyarakat Dangiang, Kepercayaan terhadap roh-roh halus, lelehur, dan cikal bakal desa merupakan manifestasi keteguhan hati yang berakar kuat disanubari masyarakat Dangiang. Memang dalam masyarakat pedesaan umumnya, cara berpikir masyarakatnya tidak bisa dipisahkan dari lingkungan alam. Irama alam merupakan irama hidup masyarakat, mereka terikat secara akrab dengan alam semesta dan kekuatannya. Orang selalu berpartisipasi dengan irama alam dan secara mental mereka tidak lepas dari kekuatannya (Mulder, 1973:66).

Taylor, dalam bukunya Primitive Culture, mengemukakan bahwa tumbuhnya religi umat manusia berpangkal pada keyakinan terhadap adanya jiwa sebagai substansi yang menyebabkan adanya kehidupan. Apabila manusia itu mati, jiwa itu tetap hidup dan bertempat tinggal pada tempat-tempat tertentu. Jiwa yang melepaskan diri dari badan wadaq itu dinamai spirit yang dapat berbuat baik maupun buruk terhadap manusia.

Pernyataan Taylor tersebut, sesuai dengan kepercayaan yang dianut sebagian besar masyarakat di Indonesia, di dalam berhadapan dengan dunia sekitarnya. Adanya istilah “karamat’ yang diperuntukkan bagi tempat-tempat atau benda-benda dan pohon tertentu, dianggap sebagai tempat spirit yang ada di sekitar manusia. Sudah barang tentu, makam-makam dan benda-benda yang dikeramatkan tersebut memiliki latar belakang yang unik, misalnya sejarah hidup orang dan benda-benda yang dikeramatkan tersebut dianggap sangat luar biasa. Demikian pula halnya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Dangiang, Eyang Gusti Batara Turus Bawa dan benda-benda pusaka peninggalannya, dianggap keramat dan dihormati sebagai tokoh suci dan benda-benda pusaka yang mempunyai pengaruh besar pada mayarakatnya. Latar belakang sejarah hidupnya dalam membuka pertama kali Desa Dangiang, telah mengokohkan kepercayaan masyarakat setempat, akan tuah dan keramat makam leluhur serta benda-benda peninggalannya. Sebagai bentuk penghormatan, maka dilakukan upacara yang disebut dengan Ngalungsur Geni, yakni upacara meneruskan (mewarisi) kesaktian benda-benda pusaka milik leluhur, sekaligus sebagai penghormatan pada leluhur sebagai cikal bakal pendiri desa Dangiang.

Demikianlah, upacara Siraman dan Ngalungsur Geni yang dilakukan masyarakat Dangiang, merupakan tradisi turun temurun sejak jaman nenek moyang yang berakar kuat disanubari masyarakatnya. Untuk masa sekarang, ternyata upacara adat tersebut masih tetap relevan karena terbukti memiliki banyak fungsi, yakni sebagai norma sosial (memuat nilai-nilai penting sebagai acuan masyarakatnya), sosial kontrol (pengendalian sosial), spiritual (keagamaan), psikologis (menjadikan rasa tenang dan aman), dan pariwisata (wisata budaya).. Itulah sebabnya, perekaman upacara tradisional perlu dilakukan, sebagai upaya pendokumentasian agar masyarakat, khususnya generasi muda tetap bisa mewarisi, melestarikan, dan mengembangkan upacara tradisional tersebut sebagai salah satu tradisi peninggalan leluhur.

DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa, Heddy Shri, 2006. Esei-esei Antropologi. Teori, Metodologi, dan Etnografi . Yogyakarta : Kepel Press.
Brouwer,M.A.W, 1988. Alam Manusia Dalam Fenomenologi. Jakarta: Gramedia.
Sutrisno, Mudji, 2005. Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Koentjaraningrat, 1987. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
Laksono, P.M, 1985. Tradisi dan Struktur Dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Sumber: Makalah disampaikan pada kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan, Sumedang 2012

Upacara Ngarot (Indramayu)

Menurut sejarah, upacara Ngarot adalah berasal dari seorang tokoh bernama Kapol, seorang saudagar kaya raya dan senang menyelenggarakan pesta untuk muda-mudi. Karena tidak memiliki keturunan, sswah yang sangat luas diserahkan pada pemerintah dengan syarat pesta muda-mudi tetap dilakukan. Seusai pesta, para muda-mudi ini juga menggarap lahannya dan ternyata hasilnya berlimpah. Istilah ngarot dari bahasa Sunda leles yang berarti minum, atau makan minum (pesta). Dalam perkembangannya, upacara ngarot diikuti para remaja putri yang berdandan cantik agar menarik perhatian jejaka. Pada akhirnya menjadi ajang untuk mencari jodoh.

Upacara Ngarot adalah upacara muda-mudi, dimana para pemudi berdandan agar menarik lawan jenis (cari jodoh). Tujuan upacara ngarot adalah mempersatukan para pemuda desa Lelea dan juga menanamkan rasa cinta pemuda pemudi agar cinta bertani (bersawah). Waktu upacara ngarot pada Triwulan terakhir yang jatuh antara bulan Oktober hingga Desember. Hari yang digunakan selalu hari Rabu, yakni hari datangnya Prabu Lelea ke daerah ini. Dilaksanakan sehari semalam dari pukul 09.00 hingga pukul 14.00 dan dilanjutkan kembali pukul 20.00 hingga pukul 3.00 dini hari. Tempat pelaksanaan di Bale Desa dan Balai Adat (rumah Kapol almarhum). Penyelenggara adalah para pamong desa yakni kuwu dan sesepuh desa dan tokoh pemuda.

Prosesi upacara dimulai dari berkumpulnya para bujang dan gadis pada pagi hari sekitar pukul 08.00 dengan mengenakan pakaian khusus upacara. Lalu mereka diarak oleh para pamong desa dan sesepuh serta diiringi kesenian reog menuju rumah kuwu. Mereka disambut dengan kesenian Jidur dan Ubrg. Pukul 10.00, arak-arakan berangkat menuju ke Balai Desa dengan terlebih dahulu berkeliling kampung. Arak-arakan terdiri dari para ibu-ibu pamong desa, pemuda pemudi, dan kesenian Jidur. Tiba di Bale Desa, para gadis dan rombongan duduk sambil menyaksikan kesenian tersebut, khususnya menyaksikan bujang yang sedang menari ronggeng. Para penari memberi nasi tumpeng sebagai lambang kesuburan. Acara berlangsung sampai malam hari dan keesokan harinya melakukan durungan yakni meratakan tanah sawah agar bisa ditanami.

Upacara Babarit

Sejarah Singkat Karya Budaya
Upacara Babarit merupakan salah satu tradisi yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Betawi yang tinggal di wilayah Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur atau warga masyarakat keturunan Kramat Aris. Upacara babarit adalah upacara selamatan bagi warga masyarakat agar hasil pertanian mereka tetap bagus dan meningkat, serta hasil ternak masyarakat juga tetap meningkat. Pada mulanya upacara babarit adalah upacara untuk menghormati roh halus atau roh nenek moyang sebagai pelindung kampung. Dalam perkembangannya, upacara tersebut merupakan sarana penyampaian ucapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas berkah yang dilimpahkan, terutama menyangkut hasil pertanian atau hasil bumi.

Deskripsi Singkat Karya Budaya
Nama lain dari upacara babarit adalah upacara baritan. Kata babarit atau baritan sendiri berarti sedekah bumi. Karena upacara tersebut dilaksanakan pada bulan maulud, Pesta Mauludan juga merupakan nama lain dari upacara babarit. Karena tempat pelaksanaan upacara tersebut di lokasi Kramat Aris, Pesta Kramat Aris juga menjadi istilah lain dari upacara babarit atau upacara baritan.

Tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan upacara babarit, yaitu: (1) menghormati roh halus atau roh nenek moyang sebagai pelindung kampung; (2) penolak bala atau permohonan perlindungan kepada Yang Maha Kuasa agar kampung tersebut berikut para penghuninya terhindar dari berbagai hal atau peristiwa yang tidak diharapkan terjadi, seperti musibah, penyakit, dan paceklik; (3) sarana penyampaian ucapan terima kasih dan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkah yang dilimpahkan, terutama menyangkut hasil pertanian atau hasil bumi dan ternak; (4) mempererat tali silaturakhim antarwarga masyarakat Betawi keturunan Kramat Aris, baik yang menetap di dalam dan di luar wilayah Kelurahan Setu; (5) menghidupkan perekonomian warga setempat karena pada saat berlangsung upacara, warga masyarakat diizinkan berjualan di sepanjang Jalan Kramat Aris; (6) mengenang keberadaan Kramat Aris; dan (7) melestarikan budaya agar tidak punah.

Upacara babarit diselenggarakan setiap tahun, tepatnya pada bulan Maulud. Pemilihan tanggal pekalsanaan upacara tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan ada syaratnya. Yang pertama, upacara babarit harus diselenggarakan setelah pelaksanaan upacara Mauludan di Cirebon; yang kedua, hari pelaksanaan upacara babarit harus jatuh pada Jumat. Meskipun demikian, tidak ada ketentuan yang mengatur jaraknya hari pelaksanaan upacara babarit dari hari penyelenggaraan Mauludan di Cirebon. Yang pasti, waktunya masih tetap berada pada bulan Maulud dan harus jatuh pada hari Jumat.

Orang yang bertugas menentukan tanggal pelaksanaan upacara babarit biasanya juru kunci Kramat Aris. Kelebihan dia seagai juru kunci dipandang mampu menentukan hari baik untuk pelaksanaan upacara tersebut. Ketika tanggal yang didapat ternyata bukan jatuh pada hari Jumat, dapat dipastikan harus diundur ke tanggal lainnya yang bertepatan dengan Jumat.

Tempat pelaksanaan upacara babarit dipusatkan di Kramat Aris yang terletak di Jalan Kramat Aris, RT004/RW03, Kampung Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur. Selain itu, ada lokasi lain yang digunakan untuk kepentingan upacara tersebut, yakni sepanjang jalan Kramat Aris, Jalan Bambu Ulung, Jalan Raya Setu, dan jalan Hankam.

Melaksanakan upacara babarit setiap tahun merupakan pesan leluhur masyarakat Betawi di Kampung Setu, atau keturunan Aris Wisesa. Oleh karena itu, upacara tersebut merupakan salah satu tradisi masyarakat Betawi, khususnya keturunan Aris Wisesa, baik yang ada di dalam maupun di luar wilayah Kampung Setu. Dahulu memang seperti itu, tetapi sekarang banyak juga warga masyarakat di luar itu yang mengikuti upacara tersebut, di antaranya mereka yang biasa berziarah ke Kramat Aris meski bukan keturunan Kramat Aris.

Pelaksanaan upacara babarit dipimpin oleh seorang juru kunci Kramat Aris. Hal itu berlaku dari dahulu hingga saat ini. Juru kunci adalah orang yang diberi kepercayaan dan tanggung jawab untuk menjaga area Kramat Aris dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kramat Aris. Selain merupakan keturunan Aris Wisesa, juru kunci juga merupakan keturunan dari para juru kunci sebelumnya.

Persiapan upacara dilakukan dua minggu sebelum Maulud, diantaranya dengan mengadakan rapat pertemuan antara juru kunci, tokoh masyarakat, ketua RT, dan Ketua RW untuk membahas berbagai hal berhubungan dengan pelaksanaan upacara babarit. Beberapa hal penting di antaranya adalah tentang waktu, dana, acara, juga tentunya tentang pembentukan kepanitian yang akan bertanggng jawab terhadap pelaksanaan upacara babarit. Satu hal yang paling penting adalah segala sesuatunya dilakukan secara gotong royong, termasuk untuk pendanaan kegiatan tersebut.

Upacara babarit dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama disebut dengan istilah mangkatan, yaitu ritual awal yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan upacara babarit. Ritual tersebut diisi dengan acara Maulud Nabi yang diisi dengan acara doa bersama dan tahlilan. Setelah itu, dilanjutkan pada acara budaya berupa pertunjukan kesenian tradisional masyarakat Betawi. Waktunya dimulai dari Magrib sampai dengan larut malam.

Hari kedua, kira-kira pukul 07.00 WIB, dilakukan penyembelihan seekor kambing yang harus berkalamin jantan dan berukur kira-kira satu tahun. Selain itu, juga dilakukan pemotongan ayam jantan. Jumlahnya tidak terbatas satu saja, bisa juga lebih dari satu. Hal itu sangat bergantung pada dana yang tersedia.

Sekitar pukul 15.00 WIB, semua peserta arak-arakan dengan segala perlengkapannya sudah siap memulai perjalanan arak-arakan dengan rute jalan meliputi Jalan Kramat Aris, Jalan Bambu Ulung, Jalan Raya Setu, dan Jalan Hankam. Namun sebelum hal itu dilakukan, ada pembukaan secara resmi. Diawali dengan sambutan dari juru kunci dan perwakilan dari instansi pemerintah; lalu doa bersama dipimpin oleh tokoh agama setempat; dan diakhiri dengan memecahkan kendi yang dilakukan oleh tokoh dari pemerintahan setempat serta dimeriahkan dengan bunyi petasan dan irama musik dari kesenian barongan. Hal itu sebagai tanda acara arak-akaran secara resmi dapat segera dilaksanakan.

Perjalanan arak-arakan dilanjutkan kembali menyusuri Jalan mabes Hankam hingga ke perbatasan antara jalan tersebut dengan Jalan Kramat Aris. Di ujung jalan tersebut, sesepuh meletakkan ancak dan sebutir kelapa muda. Rute terakhir pun ditelusuri oleh rombongan arak-arakan, yakni menyusuri Jalan Keramat Aris. Selanjutnya, mereka berhenti di belokan yang mempertemukan Jalan Kramat Aris dan Gg. Rawa. Ancak yang terakhir dipasang di tempat tersebut.

Semua ancak yang dibawa dalam perjalanan arak-arakan sudah habis disimpan sesuai dengan tempat peruntukannya. Ancak yang dipasang pada keempat tadi, ada yang sama dan ada pula yang berbeda. Perbedaan tersebut semata-amata untuk menghargai dan menghormati entitas supernatural yang begitu erat kaitannya dengan kehidupan keturunan Kramat Aris. Hal itu diwujudkan dengan cara menyajikan apa yang disukai oleh entitas supernatural.

Perjalanan rombongan arak-arakan menuju ke tempat-tempat penyimpanan ancak menghabiskan waktu sedikitnya 1,5 jam. Setelah itu, rombongan kembali ke tempat semula, yakni ke arah Kramat Aris. Suasana di tempat tersebut masih ramai karena panggung hiburan akan diisi dengan acara pertunjukan berbagai kesenian tradisional khas Betawi hingga larut malam. Sementara itu, arena bazar akan kembali ramai pada sore hingga larut malam bersamaan dengan berakhirnya acara hiburan pertunjukan kesenian.

Upacara Mapag Sri di Kabupaten Majalengka

Oleh: Dra. Ria Intani T, dkk.

Abstrak
Upacara Mapag Sri adalah upacara yang bertalian dengan pertanian yang pelaksanaannya dilakukan seusai panen. Upacara ini ada di Desa Sinarjati, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka. Tujuan dari pelaksanaan upacara tidak lain sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh sekaligus sebagai upaya memelihara hubungan dan mendekatkan diri pada Allah SWT.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 38, September 2007

Upacara Ngalungsur Pusaka di Kabupaten Garut

Oleh: Dra. Ria Andayani S.

Abstrak
Upacara Ngalungsur Pusaka merupakan suatu tradisi yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh komunitas juru kunci di makam keramat godog. Upacara tersebut menggambarkan prosesi penurunan dan pencucian benda-benda pusaka tinggalan Sunan Rohmat Suci. Pusaka tersebut merupakan simbol sepak terjang dan perilaku dia semasa hidupnya dalam memperjuangkan agama Islam. Melalui upacara tersebut, diharapkan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanannya tersosialisasikan kepada masyarakat sehingga mereka dapat memaknainya.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Adat Pindah Rumah pada Orang Sunda di Masa Kini

Oleh: Dra. Ria Intani T.

Abtrak
Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia untuk membuat kehidupannya menjadi manusiawi. Untuk itulah orang berupaya ”memiliki” rumah apakah dengan cara mengontrak atau membeli.

Pada orang Sunda, untuk menempati rumah (pindah rumah) bukan sesuatu hal yang bisa dianggap sepele, melainkan sesuatu hal yang ritual. Artinya, dalam pelaksanaannya ada tatacara tertentu yang biasanya bertalian dengan sistem kepercayaan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 25, Desember 2001

Seleh Taun Mapag Taun, Tinjauan Nilai Budaya di Kampung Cikondang Desa Lamajang Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung

Oleh: Drs. Yuzar Purnama, dkk.

Abstrak
Kampung Cikondang terletak tidak jauh dari Kota Bandung, Ibukta Provinsi Jawa Barat. Letaknya yang berdekatan dengan hiruk pikuk keramaian kota, namun masyarakatnya masih kuat memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Salah satu bentuk kegatan masyarakat setempat yang masih mempertahankan budaya leluhurnya adalah dalam penyelenggaraan Upacara Seleh Tahun Mapak Taun.

Pada penelitian ini, kami mengamati dan mengkaji berbagai aspek upacara tersebut mulai dari nama upacara, tujuannya, yang terlibat dalam upacara, persiapan, dan penyelenggaraan, jalannya upacara, makna dari simbol-simbol upacara. Selain itu, dalam tulisan ini dikaji pula nilai-nilai luhur yang terkandung dalam upacara tersebut.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 25, Desember 2001

Sajian dalam Upacara Adat

Sajian dalam Upacara Adat (Studi Kasus tentang Makanan Tradisional dalam Sajian Upacara Siklus Hidup di Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung)

Oleh: Dra. Yanti Nisfiyanti, dkk

Abstrak
Dalam penelitian ini diungkapkan bahwa makanan pada hakikatnya merupakan kebutuhan biologis manusia. Akan tetapi apa yang dimakan, cara mengolah dan etika memakannya ditentukan oleh kebudayaan. Kebudayaan itu sendiri merupakan sistem menyeluruh dari cara-cara dan aspek-aspek pemberian makna. Dengan demikian makanan pada sajian upacara secara esensi bermuatan makna budaya. Hal itu tercermin dari simbol-simbol yang dikenakan pada sajian upacara itu.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 24, Oktober 2001

Upacara Perkawinan Adat Sunda di Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung

Oleh Aam Masduki

Abstrak
Upacara perkawinan adapt Sunda lazimnya disebut Upacara Nikahkeun (dalam bahasa Sunda halus) atau Ngawinkeun (dalam bahasa Sunda kasar), yang artinya menikahkan atau mengawinkan. Nikah atau kawin mengandung arti bersatunya dua insane (laki-laki dan perempuan) yang disahkan secar aagama dan oleh Negara untuk hidup sebagai suami-isteri. Atau dengan kata lain, nikah adalah kesepakatan dua insane yang berlainan jenis untuk mengadakan ikatan guna membentuk keluarga atau rumah tangga untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendokumentasikan salah satu jenis upacara tradisional yang ada di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat agar orang Sunda, terutama generasi mudanya dapat mengetahui, memahami, dan menyayangi budaya sendiri. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa upacara-upacara baik yang dilakukan sebelum acara pernikahan (ngalamar, ngeuyeuk seureuh, seserahan) maupun setelah pernikahan (sawer, ninjak endog, buka pintu, ngunduh mantu) masih tetap dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Bandung.

Kata kunci: upacara tradisional, perkawinan, Sunda.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 3 September 2010

Upacara Ngarot di Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu

Oleh: Dra. Enden Irma R., dkk.

Abstrak
Penelitian upacara tradisional ini mengambil tema Upacara Ngarot, yaitu pesta muda-mudi yang dilaksanakan menjelang musim tanam padi di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu. Upacara tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dimulainya masa penggarapan sawah. Upacara Ngarot yang diadakan setahun sekali ini pelaksanaannya selalu pada hari Rabu karena menurut kepercayaan masyarakat setempat, rabu merupakan hari datangnya Prabu Lelea ke daerah ini.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 18, April 1999

Persepsi Masyarakat Jabong terhadap Upacara Mapag Sri

Oleh: Drs. Rosyadi, dkk.

Abstrak
Dalam kehidupan sehari-hari manusia senantiada dihadapkan pada berbagai macam realitas, antara lain realitas sosial, realitas budaya, dan realitas agama. Masing-masing realitas memuat nilai-nilai yang adakalanya berbenturan satu sama lain, tetapi ada kalanya juga saling mendukung satu sama lainnya.

Upacara Mapag Sri adalah contoh realitas budaya yang sarat dengan nilai-nilai budaya, nilai-nilai sosial, serta nilai-nilai religius. Akan tetapi sejauh mana upacara ini bisa eksis di tengah-tengah arus modernisasi dan globalisasi yang tengah berlangsung saat ini. Inilah yang akan menjadi salah satu kegiatan bahan kajian dari penelitian.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 22, Oktober 2000

Popular Posts