WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Upacara Nyalawena di Pantai APRA Kabupaten Cianjur

Laut adalah lingkungan alam bagi para nelayan, sumber kehidupan dan penghidupannya. Dari laut para nelayan memeroleh hasil tangkapan berupa ikan atau perolehan lainnya untuk diperjualbelikan sebagai sumber kehidupan atau mata pencaharian. Mereka tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan laut. Oleh karena itu mereka berusaha untuk menyelaraskan hidup mereka dengan laut. Mereka berusaha untuk bersahabat dengan laut sebagai lingkungan alamnya, kemudian memberdayakannya untuk kehidupan. Laut adalah segalanya bagi seorang nelayan. Dengan berbagai cara dan pengetahuan yang diperoleh dari para leluhurnya, para nelayan tersebut berusaha untuk tetap mempertahankan hidupnya dengan segala risiko dan ketergantungannya pada laut.

Masyarakat nelayan yang menempati daerah-daerah di tepi pantai memiliki kondisi sosial, adat istiadat serta kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat petani dan bentuk-bentuk masyarakat lainnya. Kebiasaan masyarakat yang berbeda-beda tersebut menghasilkan suatu tradisi yang khas dari tiap-tiap daerahnya. Tentunya letak geografis memengaruhi tradisi atau kebiasaan yang berkembang di daerah tersebut. Seperti Tradisi Nyalawena di Sindang Barang Kabupaten Cianjur, tepatnya di Pantai APRA, masyarakat sekitar pesisir tersebut memiliki tradisi mencari impun (ikan kecil) atau yang disebut Nyalawena.

Tradisi Nyalawena sarat dengan nuansa tradisional dan tentunya memiliki banyak makna bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat pendukungnya, masyarakat nelayan di Sindangbarang. Hal inilah yang mendasari dilakukannya kajian terhadap tradisi tersebut dalam hubungannya dengan makna Tradisi Nyalawena bagi masyarakat nelayan di Pantai APRA. Oleh karena itu, BPNB Jawa Barat pada caturwulan pertama tahun anggaran 2016 telah melakukan kajian untuk mengetahui makna apa yang terkandung pada tradisi tersebut.

Sumber: Lina Herlinawati dkk, “Makna Upacara Nyalawena di Pantai APRA Kabupaten Cianjur”, laporan Kajian Kesejarahan dan Kebudayaan, Bandung: BPNB Jabar, 2016.

Popular Posts