WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label Ani Rostiati. Show all posts
Showing posts with label Ani Rostiati. Show all posts

Kue Jahe

Dinamai kue jahe oleh karena kue ini memang berasa jahe. Jahe yang berasa pedas membuat anak-anak kurang menggemarinya. Sedangkan bagi kalangan orang tua justru membantu menghangatkan tubuh. Meskipun dalam keseharian kue ini bisa kita temui, namun demikian kue ini biasa disajikan pada saat hari Lebaran dan kenduri sederhana. Bahan untuk membuat kue jahe terbagi dalam dua bagian yaitu bahan dasar (A) dan bahan untuk glazur (B). Bahan A meliputi: mentega, tepung gula, kopi, putih telur, kuning telur, tepung terigu (protein sedang), tepung maizena, baking powder, jahe bubuk, dan kacang mede. Bahan B meliputi: putih telur, gula palem, dan jahe bubuk.

Membuat kue jahe meskipun terlihat gampang namun banyak tahapan pengerjaannya. Beberapa tahapannya seperti berikut ini: pertama-tama terlebih dahulu kopi dilarutkan dalam air panas dan kacang mede dicincang kasar. Kedua, margarin, mentega, dan tepung gula dikocok lalu dimasukkan telur sambil dikocok rata, ditambahkan air kopi sedikit dan dikocok lagi. Ketiga, tepung terigu, maizena, baking powder, dan jahe bubuk dimasukkan ke dalam adonan yang sudah dikocok sambil diayak dan diaduk rata. Keempat, adonan dibentuk bola-bola agak besar. Kelima, tiap bulatan ditekan-tekan di atas cincangan kacang mede sampai kacang melekat di atas kue dan kue menjadi pipih. Keenam, adonan dipanggang selama lebih kurang 35 menit. Ketujuh, kue jahe dibiarkan sampai dingin. Kedelapan, membuat glazur caranya cukup dengan mengocok putih telur sampai mengembang lalu menambahkan jahe bubuk dan gula palem sedikit demi sedikit lalu diaduk sampai adonan rata. Kesembilan, glazur disemprotkan di atas kue. Kesepuluh, kue dimasukkan ke oven dan dipanggang sampai matang. Cara pembuatan di atas sekaligus menunjukkan sejumlah alat yang harus tersedia, di antaranya: wadah untuk melarutkan kopi, pisau atau sejenisnya untuk mencincang, wadah adonan, kocokan adonan, ayakan, oven, dan semprotan glazur. Manakala kue jahe sudah jadi selanjutnya disajikan dalam toples agar kue tetap kering dan tahan lama.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Biji Ketapang

Sebutan biji ketapang bukan memaksudkan pada biji ketapang dalam arti yang sebenarnya. Hanya saja karena secara fisik bentuknya menyerupai biji ketapang maka makanan ini dinamai biji ketapang. Makanan ini merupakan makanan ringan yang wajib tersedia pada saat hari Lebaran maupun Idul Adha. Biasanya makanan ini tersedia pada hari kedua Lebaran sebagai hidangan ringan khas untuk suguhan tamu. Persebaran kue ini cukup merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi.

Biji ketapang terbuat dari: tepung terigu, kacang tanah, tepung gula, garam dan vanili secukupnya, telur, dan mentega. Sebelum membuat adonan, terlebih dahulu kacang tanah disangrai dan dihaluskan. Begitu kacang siap pakai, semua bahan lalu dicampur jadi satu dan diaduk hingga rata. Selanjutnya adonan digulung sebesar pensil yang panjang lalu dipotong menyerong. Setiap potongan ditaburi dengan sedikit tepung supaya tidak melekat satu sama lain. Kue kemudian digoreng hingga kecoklatan. Biji ketapang dibuat dengan alat yang relatif sederhana seperti: katel lengkap dengan susruk dan serok untuk menyangrai dan menggoreng, pisau untuk mencincang, dan baskom sebagai wadah adonan. Wadah sajian untuk biji ketapang berupa toples atau wadah sejenisnya, yang penting kedap udara.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Cincin

Kue cincin sering disebut juga dengan kue donat. Kue ini merupakan makanan ringan yang disajikan sebagai hidangan sehari-hari, maupun untuk hajatan atau kenduri sederhana. Kue cincin terbuat dari bahan dasar gula merah yang dicampur sagu, tepung beras, dan air. Membuatnya dengan cara: gula merah yang sudah dimasak dengan air diberi tepung beras, dimasak lagi, dan diaduk rata. Setelah adonan dingin lalu dimasukkan sagu dan diaduk. Selanjutnya adonan disimpan selama satu hari. Dengan menggunakan daun pisang batu atau plastik, adonan dibuat pipih, kemudian pada bagian tengahnya ditusuk dengan telunjuk sehingga berlubang dan berbentuk menyerupai cincin. Selanjutnya adonan digoreng hingga masak.

Alat yang digunakan adalah: panci untuk memasak adonan, sinduk untuk mengaduk, dan baskom. Penyajiannya dalam sebuah piring dan dapat dinikmati setiap saat.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Telor Gabus

Dinamai telor gabus bukan karena bentuknya yang menyerupai telur melainkan karena kue ini dibuat dengan menggunakan telur sebagai bahan dasarnya. Telor gabus merupakan penganan sehari-hari yang biasa disajikan untuk tamu. Penganan ini juga terdapat di daerah lain dengan sebutan yang sama. Telor gabus ada dua macam yaitu dengan atau tanpa wijen. Bila tanpa wijen hanya berasa manis sedangkan yang berwijen berasa manis campur gurih.

Telor gabus menggunakan bahan dari: sagu, telur, garam, gula merah, vanili, dan minyak goreng. Bahan-bahan tersebut diolah dengan cara: telur dikocok lalu ditambahkan garam, sagu, dan vanili. Adonan tadi diaduk sampai rata lalu diremas-remas dengan tangan kemudian dibentuk menyerupai bentuk cabe. Begitu adonan selesai dibentuk, adonan dimasukkan ke dalam minyak yang dingin dan digoreng sampai kuning. Pengolahannya tidak berhenti sampai di situ, masih harus membuat larutan gula. Caranya, gula merah dimasak dengan air sampai kental dan setelah itu baru dimasukkan telor gabus yang sudah digoreng tadi. Beberapa alat yang digunakan untuk membuat yaitu: wadah untuk tempat kocokan, kocokan telur, baskom untuk wadah adonan, panci untuk memasak gula, dan sinduk kayu untuk mengaduk. Musuh telor gabus adalah udara maka penganan ini akan bertahan lama bila disimpan dalam toples. Makanan ini tidak bersifat mengenyangkan dan karenanya bisa dinikmati kapan saja.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kembang Goyang

Kembang goyang merupakan penganan sejenis kerupuk dan berasa gurih. Penganan ini selalu ada pada saat Lebaran maupun Idul Adha, dan pada saat acara hajatan. Bentuknya unik menyerupai kembang dan dibuatnya dengan cara digoyang. Tak heran kalau penganan ini kemudian dinamai kembang goyang. Hampir semua kalangan usia menyukai penganan ini. Hanya saja bagi mereka yang bermasalah dengan giginya, sebaiknya tidak memaksakan untuk menyantapnya mengingat penganan ini cukup keras.

Kembang goyang dibuat dari bahan-bahan berupa: tepung terigu, tepung beras, kelapa, telur ayam, gula putih, vanili, dan garam secukupnya. Bahan-bahan tersebut selanjutnya diolah dengan cara: tepung diayak dan kelapa diparut lalu diperas untuk diambil santannya. Tepung, gula, dan vanili disatukan, kemudian dituangi santan sedikit demi sedikit dan diberi garam. Telur yang telah dikocok kemudian dimasukkan ke dalam adonan. Begitu adonan siap, minyak dipanaskan lalu cetakan kue dimasukkan ke dalam minyak dan setelah cetakan cukup panas lalu dicelupkan ke adonan. Selanjutnya adonan digoreng sambil digoyang-goyang. Bila sudah tampak menguning lalu diangkat dengan lidi kemudian ditaruh di tampah untuk mengendapkan minyak. Kalau mau tetap renyah, kembang goyang tidak boleh terkena udara. Tidak heran kalau wadah penyajiannya akan lebih pas dengan menggunakan toples. Kalau hanya suguhan sesaat bisa saja penyajiannya dalam sebuah piring. Kembang goyang bisa menjadi santapan di setiap saat.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Sirpe

Sirpe merupakan penganan yang banyak dijumpai sehari-hari baik sebagai hidangan ringan di rumah pada saat-saat santai maupun sebagai suguhan tamu. Sirpe bisa dikatakan sebagai penganan yang sederhana baik dilihat dari segi bahan maupun pembuatannya. Sirpe serupa dengam grubi dari daerah Jogja dan sekitarnya.

Sirpe hanya berbahan kelapa yang setengah tua, gula pasir, dan air. Cara membuatnya cukup dengan mengerok kelapa namun dijaga jangan sampai terkena kulit batoknya dan memasak gula pasir dengan air sampai agak mengering. Berikutnya ke dalam gula tadi dimasukkan kelapa lalu diaduk hingga adonan rata. Terakhir adonan diangkat lalu dibentuk memakai sinduk makan. Alat yang digunakan membuat sirpe hanyalah sinduk untuk mengeruk kelapa dan mencetak sirpe, baskom untuk wadah kelapa, dan panci untuk memasak gula. Sirpe disajikan dalam sebuah piring atau wadah sejenisnya. Sirpe berasa manis malahan bisa dikatakan sangat manis, olehkarenanya minuman pendampingnya cukup air teh tawar. Makanan ini bisa dinikmati kapan saja.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Lenggodo

Lenggodo merupakan penganan yang biasa disajikan sebagai teman minum teh pada waktu sore hari. Sebutan lain untuk lenggodo adalah cempedak goreng oleh karena penganan ini memakai buah cempedak sebagai bahan pokoknya. Terkait dengan bahannya itu maka tidak heran kalau lenggodo biasanya baru muncul pada saat musim cempedak tiba. Secara rinci, lenggodo berbahan: buah cempedak, minyak, tepung beras, telur, garam secukupnya, kunyit, sedikit air kapur, dan air secukupnya.

Membuat lenggodo tidaklah terlalu sulit. Caranya: terkecuali cempedak dan minyak, semua bahan dicampur untuk dibuat adonan. Berikutnya, buah cempedak dicelupkan ke dalam adonan lalu digoreng dalam minyak panas sampai agak kering. Jadilah sudah apa yang disebut lenggodo. Cara pembuatannya relatif sederhana cukup dengan baskom untuk wadah adonan, pisau, dan katel lengkap dengan susruk dan seroknya untuk alat penggorengan. Lenggodo disajikan dengan menggunakan wadah berupa piring atau sejenisnya.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Ape

Ape adalah kue yang sering ditemui dan dikonsumsi sehari-hari. Meskipun penganan ini tersebar secara merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi, namun demikian penganan ini juga dikenal di daerah Jawa Barat. Bedanya hanya pada warna dan variasi taburannya. Kue ape yang banyak ditemukan di Jawa Barat berwarna kehijau-hijauan sebagai pengaruh dari penggunaan daun pandan dan pada bagian atasnya ada yang polos dan ada pula yang ditabur meyses. Ape merupakan penganan jajanan yang biasa dijajakan pada pagi hari dengan menggunakan sebuah tanggungan. Penjaja akan berkeliling kampung atau mangkal di sekolah-sekolah dasar. Bilamana pembelinya anak-anak biasanya hanya membeli satu dua potong dan olehkarenanya pembeli akan mendapatkan ape dengan alas sepotong kertas yang berfungsi sebagai pembungkus. Berbeda bila pembelinya orang dewasa atau orang tua yang biasanya membeli dalam jumlah banyak maka ape akan dibungkus dengan kantung kertas.

Kue ape berbahan: tepung beras, santan, air kelapa, pengembang roti, gula pasir, dan telur ayam. Bahan-bahan tersebut diolah dengan cara: telur dan gula dikocok. Dalam tempat yang terpisah, tepung beras, santan, dan air kelapa juga dikocok. Adonan didiamkan selama ½ jam, lalu siap dicetak. Cara pembuatan tersebut mengharuskan pembuatnya menyediakan peralatan berupa: baskom untuk wadah adonan, kocokan telur, dan cetakan kue ape. Wadah penyajian ape berupa piring atau sejenisnya.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Bolu Kukus

Bolu kukus merupakan penganan yang cukup populer di kalangan masyarakat. Penganan ini dapat ditemui di hampir semua daerah dengan nama yang sama. Selain sebagai makanan jajanan sehari-hari, juga disajikan pada acara-acara kenduri maupun hajatan. Selain itu, penganan yang banyak digemari oleh anak-anak ini juga kerap muncul pada saat hari Lebaran maupun Idul Adha. Daya tarik dari penganan ini adalah warnanya yang beragam. Terkadang warna-warna tersebut secara tidak langsung menunjukkan aroma dari penganannya atau sekadar sebagai daya tarik belaka. Warna merah putih beraroma strawberry, coklat putih beraroma moca, kuning/orange putih berarorama jeruk, dan hijau putih beraroma pandan.

Bolu kukus menggunakan bahan dari: kuning telur, putih telur, gula pasir, tepung terigu, soda kue, vanilla, dan coklat bubuk. Pembuatannya dengan cara: telur, gula, dan vanili dikocok sampai mengental dan naik lalu dimasukkan tepung dan air soda secara bergantian. Adonan diaduk rata lalu diberi coklat bubuk. Adonan dituang ke dalam cetakan sampai cetakan hampir penuh lalu ditambahkan adonan yang diberi coklat bubuk. Panci kukusan ditutup, bolu kukus dimasak dengan api besar.

Membuat bolu kukus menggunakan alat: baskom sebagai wadah adonan, cetakan bolu kukus, kocokan telur, dan panci untuk mengukus. Meskipun bolu kukus sudah dibalut kertas, namun demikian dalam penyajiannya tetap menggunakan wadah, bisa piring kue atau anyaman berbentuk piring dan dialasi kertas, atau wadah sejenisnya. Manakala seseorang hendak menyantap, ia akan memegang bagian kertas pembalutnya dan mulai menyantap pada bagian atas atau yang tidak terbalut kertas. Manakala bolu kukus akan disantap habis maka kertas pembalutnya dibuka sedikit demi sedikit. Bolu kukus bisa dinikmati kapan saja.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Apem

Apem banyak ditemukan di wilayah kebudayaan Betawi. Apem merupakan jenis penganan yang bisa masuk dalam segala ruang dan waktu. Selain diperuntukkan sebagai makanan ringan sehari-hari, juga sebagai suguhan dalam acara kenduri atau hajatan, dan sebagai pelengkap dalam acara ritual tertentu. Bahan untuk membuat apem lumayan beragam yaitu: tepung beras, tepung terigu, gula pasir, kelapa muda, soda kue, tape singkong, air soda, garam, air hangat, dan margarin. Apem dibuat dengan cara berikut: tepung beras yang sudah ditumbuk dicampur dengan tepung terigu lalu diayak. Selanjutnya ke dalam adonan tadi ditambahkan gula pasir, tape singkong, soda kue, dan garam. Adonan dicampur dan diaduk hingga rata kemudian ditambahkan air hangat dan air soda lalu diaduk kembali hingga semua bahan tercampur rata sambil sesekali ditepuk hingga adonan ringan. Setelah cetakan apem diolesi dengan margarin kemudian diisi dengan adonan hingga ¾ penuh. Adonan dikukus selama 30 menit hingga matang dan merekah.

Membuat apem menggunakan alat-alat berupa: lumpang dan halu atau alat penumbuk sejenisnya untuk menumbuk tepung beras, baskom sebagai wadah adonan, sinduk kayu untuk mencampur adonan, ayakan untuk menyaring tepung beras dan terigu, cetakan apem, dan langseng untuk mengukus. Sebagai wadah penyajiannya menggunakan piring. Cara penyajiannya dengan menaburkan kelapa parut di atas apem dan apem siap disantap dengan menggunakan tangan.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Pancong

Kue pancong merupakan salah satu jenis makanan tradisional yang tetap populer hingga sekarang. Makanan ini dijajakan secara berkeliling dengan sebuah tanggungan. Biasanya menjajakannya di pagi hari. Di Tatar Sunda, orang menyebut jenis makanan ini dengan bandros. Dalam perkembangannya sekarang, kemasan untuk membungkus kue pancong banyak yang beralih dari bungkus kertas ke bungkus plastik. Kue pancong lebih nikmat disantap sesaat setelah diangkat dari panggangan. Sebelum disantap, terlebih dahulu pada bagian kue yang basah ditaburi gula.

Bahan untuk membuat kue pancong terbagi dua, yaitu bahan A berupa: kelapa parut ½ tua, tepung beras, telur ayam, dan air. Adapun bahan B berupa: tepung beras, santan, garam secukupnya, dan daun pandan. Semua bahan tadi diolah dengan cara: masing-masing, bahan A dicampur menjadi satu, demikian pula semua bahan B juga dicampur menjadi satu. Bahan B selanjutnya dijerang di atas api sambil diaduk sampai menjadi bubur lalu dicampur dengan bahan A, diberi garam dan diaduk hingga adonan rata. Setelah adonan siap cetak kemudian menyiapkan cetakan kue pancong. Cetakan tersebut dipanaskan di atas api, diolesi minyak, lalu dituangi adonan ke dalamnya lalu dimasak sambil ditutup.

Alat untuk membuat kue pancong hanya beberapa jenis yaitu: baskom untuk wadah membuat adonan, panci dan sinduk untuk memasak adonan, dan cetakan kue pancong. Kue pancong disajikan dalam sebuah piring.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Lopis

Lopis selain merupakan makanan ringan sehari-hari juga merupakan suguhan untuk acara-acara kenduri sederhana, dan sebagai menu pembuka puasa. Di Tatar Sunda dan Jawa Tengah, kue ini memiliki sebutan yang sama hanya saja bentuk fisiknya berbeda. Di Tatar Sunda berbentuk segitiga sedangkan di Jawa Tengah ada yang berbentuk segitiga adapula yang bulat tipis.

Membuat lopis membutuhkan bahan berupa: beras ketan, kapur sirih, kelapa parut, dan daun pisang. Adapun untuk bahan kinca berupa: gula merah, air, jahe bubuk, dan vanili. Cara membuatnya yaitu: pertama, beras ketan dicuci hingga bersih lalu ditiriskan. Setelah tiris, beras ketan diperciki air larutan kapur sirih lalu dibungkus dengan daun pisang dan diikat dengan tulang daun pisang atau tali plastik. Selanjutnya bungkusan tadi direbus dalam air mendidih dan setelah lebih kurang satu jam diangkat lalu ditiriskan. Kedua adalah membuat kinca dengan cara merebus semua bahan untuk kinca. Seusai kinca masak, lopis bisa disiapkan untuk disantap. Lopis dibuka dari bungkusnya, digulingkan ke kelapa parut, lalu diberi kinca.

Ragam alat yang digunakan untuk membuat lopis di antaranya: baskom digunakan untuk tempat adonan, pisau digunakan untuk memotong tali, dan daun pisang, panci untuk merebus lopis dan kinca, dan parutan kelapa untuk memarut kelapa. Lopis biasa disajikan dalam piring yang besarnya disesuaikan dengan banyaknya lopis. Bila seseorang hendak menyantapnya, biasanya mengambil satu dua potong lopis lalu diletakkan dalam sebuah piring kecil dilengkapi sinduk atau garpu kecil untuk menyantapnya. Lopis biasa dinikmati di waktu pagi atau sore hari.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Biji Salak

Biji salak merupakan jenis makanan ringan. Orang akan melihatnya ada kemiripan dengan kolak karena memang biji salak merupakan varian dari kolak ubi maupun pisang. Melihat bentuknya, orang akan segera memaklumi mengapa makanan ini dinamai biji salak. Meskipun sehari-hari kita masih bisa menjumpai makanan ini, namun demikian makanan ini lebih populer sebagai makanan untuk berbuka puasa. Pada bulan puasa, selain makanan ini dibuat di rumah-rumah juga dijajakan di luaran. Dulu penjajanya mengemas makanan ini dengan kantung plastik. Seiring perkembangan jaman, kemasan tersebut berganti dengan gelas atau mangkuk plastik yang bertutup. Biji salak terbuat dari ubi dan berkuah santan dan olehkarenanya menyantap biji salak cukup mengenyangkan perut. Di Tatar Sunda makanan ini populer dengan sebutan candil.

Secara rinci bahan untuk membuat biji salak terdiri atas: ubi merah, tepung sagu, gula merah, air, santan kental, garam, dan daun pandan. Cara mengolahnya ada tiga tahapan, pertama ubi merah dikukus lalu dihaluskan. Setelah ubi halus, tepung sagu dituang ke dalamnya lalu diadoni hingga rata. Selanjutnya dari adonan tadi dibuat bulatan-bulatan sebesar biji salak. Tahap kedua, gula merah dimasak dengan air hingga mendidih dan gula larut, lalu disaring. Selanjutnya bulatan-bulatan ubi dimasukkan ke dalam air gula yang sedang mendidih dan dibiarkan hingga mengapung. Bulatan-bulatan yang sudah mengapung lalu diambil dan jadilah apa yang disebut-sebut sebagai biji salak. Tahap ketiga, santan, garam, dan daun pandan dimasak sambil diaduk hingga mendidih. Seusai santan masak maka biji salak siap disantap bersama kuah santan.

Membuat biji salak membutuhkan beberapa alat di antaranya: langseng untuk mengukus, lumpang dan halu atau alat penumbuk sejenisnya untuk menghaluskan ubi yang berjumlah banyak atau mutu dan baskom untuk ubi yang hanya berjumlah sedikit, panci untuk memasak air gula dan santan, dan saringan untuk menyaring air gula. Bila hendak disantap, biji salak disajikan dalam mangkuk dilengkapi dengan sinduk untuk menyantapnya. Biji salak terasa pas untuk dinikmati di sore hari.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Rangi

Rangi merupakan makanan ringan yang banyak tersebar di wilayah kebudayaan Betawi. Makanan ini banyak dijajakan oleh pedagang keliling sehingga menjadi cukup populer di kalangan masyarakat. Seperti halnya gemblong, makanan ini juga berjenis makanan lengket oleh karena salah satu bahannya menggunakan gula.

Bahan untuk membuat rangi meliputi: kelapa muda, sagu tani, air, dan garam. Bahan saus gulanya meliputi: gula merah, air, dan nangka matang. Berbahan semuanya tadi, dibuatlah rangi dengan cara: kelapa muda diparut kasar lalu dicampur sagu tani untuk dibuat adonan sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit. Berikutnya disiapkan cetakan rangi dengan cara memanaskannya kemudian adonan dituangkan ke dalamnya. Saus gula dimasak dengan cara merebus gula dengan air lalu menyaringnya. Setelah itu direbus sekali lagi dengan menambahkan nangka yang telah dicincang secara kasar sampai larutan gula mengental. Terakhir, larutan gula dioleskan ke atas rangi yang masih panas dan rangi siap disajikan.

Sebagaimana cara pembuatannya maka alat-alat yang digunakan untuk membuat rangi adalah: parutan kelapa, baskom untuk membuat adonan, cetakan rangi, panci untuk memasak larutan gula, dan saringan untuk menyaring air gula. Wadah untuk penyajian lebih pas dengan menggunakan piring. Bila seseorang hendak menyantapnya, bisa dengan menggunakan kertas tisu sebagai alas agar makanan tidak lengket di tangan, atau menggunakan piring kecil dan menyantapnya dengan sinduk kecil.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Gemblong

Gemblong merupakan makanan ringan yang konon mendapat pengaruh dari daerah Jawa Barat. Ada dua jenis gemblong yaitu yang berbahan dasar ketan hitam dan dilapisi gula pasir dan yang berbahan dasar ketan putih dan dilapisi gula merah. Adanya lapisan gula tersebut membuat makanan ini berasa lengket kalau dipegang. Persebaran gemblong merata ke wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Meskipun demikian fokus persebarannya banyak terdapat di wilayah perbatasan antara Jakarta dengan Jawa Barat. Di Jawa Barat sendiri, makanan ini memiliki sebutan yang sama.

Gemblong dibuat dari: tepung ketan hitam, tepung sagu, garam, santan, kelapa (muda) parut, dan minyak goreng. Membuatnya dengan cara: tepung ketan hitam, tepung sagu, santan, garam dan kelapa parut dicampur lalu diaduk hingga rata. Manakala adonan dirasa sudah pas lalu dibentuk bulatan-bulatan pipih. Selanjutnya adonan digoreng dalam minyak yang panas hingga matang dan berwarna kuning kecoklatan. Untuk membuat lapisan gula cukup dengan merebus gula pasir dan air hingga gula larut dan mengental. Terakhir, gemblong yang sudah digoreng dimasukkan ke dalam larutan gula dan diaduk-aduk hingga gula melekat secara merata kemudian dikeringkan.

Membuat gemblong tidak memerlukan banyak alat. Cukup menggunakan baskom untuk tempat adonan, katel lengkap dengan susruk dan seroknya untuk menggoreng, dan panci untuk merebus air gula. Penyajiannya menggunakan piring dan menyantapnya cukup dengan menggunakan tangan. Makanan ringan ini bisa dinikmati kapan saja.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Ketimus

Hidangan ringan yang berbahan dasar singkong ini kerap disajikan sebagai hidangan ringan sehari-hari. Terkadang ketimus dibuat dengan menambahkan pisang di dalamnya, meskipun pada umumnya hanya disajikan polos tanpa isi. Bahan yang disediakan singkong, kelapa parut, pisang ambon, gula merah cincang, vanila, dan daun pisang. Semua bahan dihaluskan. Setelah halus, adonan dimasukkan ke daun pisang lalu dibungkus dan dikukus selama 30 menit.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Cucur

Kue cucur merupakan hidangan ringan sehari-hari yang biasa disajikan sebagai teman minum teh pada pagi dan sore hari. Pada masyarakat Betawi pinggir, kue ini biasa disajikan untuk acara kenduri, selamatan dan keriaan lainnya. Namun biasanya kue tersebut dipotong menjadi dua bagian agar tidak terlalu besar. Bahan yang disediakan tepung beras, tepung terigu, gula merah diiris halus, air, dan kayu manis. Adapun cara membuatnya gula merah direbus bersama air sampai gula hancur, tidak perlu sampai mendidih. Larutan gula dicampur dengan sisa air tadi, lalu disaring dan didinginkan. Adonan yang dingin dituang ke dalam tepung beras sedikit demi sedikit lalu diuleni dengan tangan sambil dipukul-pukul hingga timbul gelembung udara. Kemudian satu per satu digoreng dan digunakan tusuk sate untuk membuat bagian tengahnya.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Kelen

Serupa dengan Pacar Cina, kue ini juga mempunyai penamaan yang berbeda-beda di tiap daerah di tanah air. Salah satunya ada yang menyebut kue ini Kue Lumpur. Di wilayah kebudayaan Betawi sendiri, kue ini tersebar merata sehingga relatif mudah untuk mendapatkannya. Bahan yang disediakan telur ayam kampung, terigu, gula pasir, susu encer, kismis secukupnya, garam secukupnya, vanili secukupnya, mentega secukupnya, dan sumba makanan/ kue warna kuning bila perlu. Cara Pembuatannya adalah terigu, gula pasir dan telur dicampur dan dibuang putihnya. Selanjutnya dikocok sampai mengembang, lallu garam, vanili, dan sedikit sumba kuning dimasukkan. Selanjutnya ditambahkan susu ke dalam terigu, lalu diaduk hingga rata dan tidak menggumpal. Kocokan telur dimasukkan ke terigu, diaduk rata, kemudian adonan dikukus dalam cetakan yang sudah dilumuri mentega. Kismis diletakkan di tengah kue, lalu dikukus kembali hingga matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Pacar Cina

Pacar Cina juga merupakan hidangan ringan yang banyak terdapat di seluruh wilayah kebudayaan Betawi. Pada daerah tertentu di tanah air, kue ini mempunyai sebutan yang berbeda. Salah satunya adalah Cantik Manis. Bahan yang disediakan tepung hunkwe, bagian gula pasir, air, santan, garam secukupnya, pacar cina yang sudah direbus dan disiram air dingin supaya tidak lengket. Cara membuat campur semua bahan menjadi satu kecuali pacar cina ke dalam panci, aduk hingga semua bahan tercampur, masak di api sedang sambil diaduk hingga adonan agak mendidih dan agak mengkilat. Masukkan pacar cina, aduk lagi hingga adonan kental dan mengkilat, angkat dari api. Masukkan adonan ke dalam cetakan atau bungkus dengan plastik.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Jongkong

Kue yang dikenal juga dengan nama Pipis Kopyor ini merupakan salah satu jenis hidangan ringan yang sering dikonsumsi sehari-hari, namun karena faktor kesulitan pembuatannya, kue ini jarang dibuat oleh masyarakat. Kue ini biasanya dapat ditemui pada saat tertentu, seperti di bulan puasa. Bahan yang disediakan tepung beras, santan kental, gula pasir, vanili, garam, dan pewarna hijau secukupnya, Adapun pelengkapnya kelapa muda dikerok lebar, santan kental, garam, gula pasir, daun pandan , daun pisang dan lidi penyemat. Tepung beras, santan, gula pasir, vanili, garam, dan pewarna hijau dicampur dan dimasak hingga mengental. Santan, gula pasir dan garam dimasak hingga gula larut. Daun pisang disiapkan, kemudian adonan diletakkan di atasnya. Ditambahkan kelapa muda, daun pandan dan santan kental. Kue kemudian dibungkus dalam bentuk tum dan disemat dengan lidi lalu kue lalu dikukus hingga matang.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Popular Posts