WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label Agenda. Show all posts
Showing posts with label Agenda. Show all posts

Konsep Tata Ruang Rumah pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub

Oleh Ria Intani T.

Abstrak
Masyarakat Kasepuhan Cicarucub adalah masyarakat tradisional. Mereka sangat kuat memegang kepercayaan/tradisi, termasuk dalam masalah rumah. Kepercayaan/tradisi itu mencakup waktu untuk membangun rumah, arah rumah, bahan rumah, tata ruang dan unsur rumah, dll. Semua itu harus ”benar" menurut kepercayaan tradisional mereka, karena dalam kepercayaan/ tradisi itu terkandung nilai-nilai luhur.

Kata Kunci: Tata Ruang Rumah. Kepercayaan Tradisional. Kasepuhan Cicarucub.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 2, Agustus 2008: 799 - 842

Festival Film Pendek dan Dokumenter 2017

Untuk melestarikan nilai-nilai budaya  maka Pemerintah Jawa Barat mengadakan festival Film Pendek dan Dokumenter tingkat SMA/SMK sederajat Se Jawa Barat.

Festival Film pendek bertujuan Memilih film dokumenter yang berkualitas. Dan tema dalam festival ini adalah “Citra Dewangga Keragaman Budaya dan Sejarah Jawa Barat”

Teknik pelaksanaan kegiatan yang dikemas dalam bentuk festival ini mensyaratkan setiap peserta untuk mengirimkan satu atau lebih film dokumenter berdurasi singkat hasil kreasi sendiri. Film-film yang difestivalkan dinilai oleh juri untuk menentukan pemenang.

Persyaratan Peserta adalah sebagai berikut :
  1. Peserta tidak dipungut biaya pendaftaran.
  2. Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran dan persyaratan Festival Film Dokumenter BPNB Jabar 2017 yang dapat diunduh di sini.
  3. Peserta adalah pelajar kelas X dan XI Tingkat SMA/SMK/MA/sederajat se-Jawa Barat.
  4. Peserta merupakan sebuah tim terdiri dari tiga orang siswa berasal dari sekolah yang sama, serta mendapat persetujuan dari pihak sekolah dengan disertai surat pernyataan dan kesediaan dari guru pendamping.
  5. Melampirkan surat ijin dari kepala sekolah dan fotokopi kartu pelajar atau KTP.
  6. Peserta Wajib like/follow salah satu account social media BPNB Jabar (Facebook, Instagram, Twitter, Youtube).

Ketentuan Karya yang Harus di patuhi oleh Peserta adalah :
  1. Hak cipta karya ada pada peserta
  2. Film yang dibuat harus mencantumkan logo kemdikbud
  3. Film yang dikumpulkan merupakan film dokumenter, bukan film pendek fiksi
  4. Data film menggunakan format .avi, .mpg, .mov, atau .mp4 dengan resolusi HDV 1280 x 720
  5. Menyertakan sinopsis film, maksimal 200 kata.
  6. Durasi film dokumenter maksimal 30 menit.
  7. Film Dokumenter yang menggunakan bahasa selain Bahasa Indonesia wajib menyertakan subtitle.
  8. Sumber materi film seperti musik, scoring, footage, yang berasal dari hasil karya orang lain wajib mengikuti ketentuan yang berlaku agar tidak melanggar hak cipta.
  9. Segala gugatan terkait hak cipta di luar tanggung jawab panitia Festival Film Pendek dan Dokumenter BPNB Jawa Barat 2017.
Ketentuan Pengiriman yang harus di ketahui oleh peserta lomba yakni:
  1. Batas akhir penyerahan film dokumenter tanggal 31 Juli 2017 (cap pos).
  2. Peserta akan mendapat konfirmasi melalui e-mail jika film dokumenter beserta berkas kelengkapannya sudah diterima oleh panitia Festival Film Dokumenter BPNB jabar 2017.

Pengiriman berkas dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara:

Secara Online :
  1. Data film Anda diunggah pada Dropbox, Google Drive, atau link lainnya dengan format
  2. nama datanya JUDUL_NAMA KETUA TIM
  3. Kirim link data film Anda ke email filmfest.bpnbjabar@gmail.com

Secara Offline :
  1. Data film di-burn ke dalam DVD (dalam format yang sudah ditetapkan) dengan ketentuan nama file adalah JUDUL_NAMA KETUA TIM
  2. Kirim DVD beserta Alamat pengiriman formulir, pernyataan, dll ke alamat Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat Jln. Cinambo No. 136 Ujungberung, Bandung – 40294
Ketentuan Pemenang:
Total hadiah yang diperebutkan berjumlah Rp. 36.000.000,00

Kriteria pemenang ditentukan dengan melakukan seleksi berdasarkan :
  1. Ide dan Kreativitas
  2. Substansi Sejarah dan Nilai Budaya Tradisional
  3. Teknik Pengambilan Film
  4. Teknik Penyampaian Cerita
  5. Kesesuaian Alur Cerita (Skenario)

Peringkat pemenang terdiri dari :
  1. Juara 1
  2. Juara 2
  3. Juara 3
  4. Pilihan Netizen (Like Youtube, Viewer Youtube Nominasi terbaik)

Pemenang pada peringkat Pilihan Netizen ditentukan dari jumlah Penonton terbanyak yang mencentang tanda Like di Youtube. Film yang masuk 10 Nominasi terbaik akan diunggah di kanal youtube resmi BPNB Jawa Barat untuk diikutsertakan pada kategori film pilihan Netizen.
Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

Demikianlah informasi tentang festival Film Pendek dan dokumenter tahun 2017. Lebih lengkapnya untuk informasi silahkan hubungi  Contact Person Andika (813-2829-9139), Rizki (0812-2250-5882) dan Titan (0896-5549-6544). Semoga Informasi ini bermanfaat.

Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan di Kabupaten Bandung 2015

Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, selain berdampak positif, ternyata juga membawa ancaman bagi kelangsungan dan kelestarian kebudayaan daerah. Antara lain bergesernya peranan dan fungsi kebudayaan itu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Tidak sedikit unsur-unsur kebudayaan daerah atau tradisi lama yang kini semakin jauh dari masyarakat pendukungnya. Bahkan banyak tradisi yang kini nyaris punah, padahal dalam kenyataannya tradisi tersebut telah mampu membentuk sikap, kepribadian dan karakterister bagi masyarakat pendukungnya. Lebih jauh lagi, tradisi tersebut telah memberikan ciri-ciri dan karakteristik bagi kebudayaan dan kepribadian bangsa. Dalam keadaan seperti itu, upaya penyebarluasan informasi kebudayaan sangat perlu terus dilakukan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam tradisi-tradisi tersebut tidak ikut musnah.

BPNB Bandung mempunyai empat wilayah kerja meliputi: Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. BPNB Bandung mempunyai fungsi dan tugas pokok melakukan penelitian, pengkajian, pendokumentasian, serta penyebarluasan nilai-nilai sejarah dan budaya yang terdapat di empat wilayah kerja yang dimaksud. Salah satu upaya untuk menyebarluaskan hasil penelitian dan pendokumentasian adalah melalui kegiatan penayangan film peristiwa sejarah dan budaya.

Sasaran kegiatan penayangan film dan diskusi kesejarahan dan kebudayaan terutama ditujukan kepada generasi muda, khususnya siswa-siswi SMA/sederajat.

Dalam kesempatan ini, kami akan menayangkan film hasil perekaman peristiwa sejarah dan budaya disertai diskusi mengenai nilai-nilai budayanya.

Tujuan
Kegiatan Penayangan Film dan Diskusi ini dilaksanakan dengan tujuan:
  • Menemukenali nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai pristiwa yang tercermin dalam pola kehidupan sehari-hari masyarakat, dan
  • Menumbuhkembangkan rasa cinta dan memiliki di kalangan generasi muda atas sejarah dan budaya bangsanya.

Tema
Sesuai dengan tujuan kegiatan Penayangan Film dan Diskusi ini yaitu untuk mengenalkan nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa sekaligus menumbuhkan rasa cinta, maka kegiatan penayangan pada kesempatan ini bertemakan “Mengenal Tradisi Mencintai Negeri”.

Materi
Dasar dari diskusi dalam kegiatan Penayangan Film dan Diskusi ini adalah tayangan film seni dan budaya. Terkait dengan itu maka ada dua buah film yang ditayangkan. Antara lain mengenai :
1. Seni Tari Jaipong dari Karawang,Jawa Barat.
pembicara I. Bapak. Drs.H. Agus Heryana, M.Hum

2. Seni Reak Kuda Lumping, dari Cibiru Bandung
Pembicara II :.Bapak. Enjang Dimyati

Peserta
Peserta dalam kegiatan penayangan film dan diskusi ini adalah siswa dan siswi SMA/sederajat dengan guru pendamping, keseluruhannya berjumlah 100 orang.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan penayangan film dan diskusi kebudayaan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 31 Maret 2015 Tempat pelaksanaan di SMK Bhakti Nusantara 666,
Cileunyi Kabupaten Bandung.

Kepanitiaan
Penanggung Jawab : Drs. Aam Masduki
Ketua : Dra. A. Dian Dianawati P
Anggota :
Wawan Suhawan, M.Hum
Deti Nurhayati
Rudi Rustiyadi
Basuki.Indratno
Devi Avliani Heryanto
Siti Halimah
Dayat Hidayat

Pembekalan Teknis Perekaman 2015

A. Latar Belakang
Beberapa dasawarsa belakangan ini dalam disiplin ilmu-ilmu sosial dan kebudayaan berkembang sebuah metode pengkajian dengan menggunakan media audio-visual. Metode ini pada dasarnya menitikberatkan pada pengkajian data berupa dokumen-dokumen film, baik berupa foto/slide, maupun film audio-visual yang dijadikan sebagai sumber data untuk kemudian dianalisis menggunakan metode dan teori-teori tertentu. Sudah barang tentu untuk kepentingan ini, diperlukan film-film dokumenter yang sahih dan memiliki validitas yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Di samping itu, film-film dokumenter peristiwa kebudayaan juga sangat penting artinya bagi sosialisasi kebudayaan dalam rangka pelestarian kebudayaan itu sendiri. Media film, khususnya audio-visual menjadi sarana yang cukup efektif bagi pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Ini dapat dimengerti mengingat penyampaian informasi melalui media film, lebih menarik minat masyarakat ketimbang penyampaian secara verbal.

Dalam hal ini, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, memiliki keterkaitan langsung dengan keberadaan film-film dokumenter kebudayaan. BPNB Bandung dalam kedudukannya sebagai UPT Direktorat Jenderal Kebudayaan memiliki dua fungsi, yaitu: pertama, melakukan pengamatan dan penganalisisan data kesejarahan dan nilai tradisional daerah yang tercermin dalam sistem sosial, sistem kepercayaaan, lingkungan budaya, dan tradisi lisan. Kedua, melakukan pendokumentasian dan penginformasian kesejarahan dan nilai tradisional daerah. Adapun wilayah kerja dari BPNB Bandung adalah Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.

Berdasarkan tugas dan fungsinya BPNB Bandung memiliki kedudukan yang penting di dalam pelestarian kebudayaan dalam arti yang luas. Konsep pelestarian kebudayaan bertitik tolak pada upaya memelihara, mengembangkan dan memanfaatkan kebudayaan. Salah satu kegiatan pelestarian nilai budaya yang dilakukan BPNB Bandung adalah pendokumentasian dan penyebarluasan informasi peristiwa-peristiwa kebudayaan dan kesejarahan melalui media audio-visual. Media audio-visual itu sendiri diperoleh melalui kegiatan perekaman peristiwa-peristiwa kebudayaan dan kesejarahan.

Dalam usianya yang ke-25 tahun, BPNB Bandung telah berhasil melakukan pendokumentasian berupa perekaman audio-visual berbagai hal yang berkaitan dengan kesejarahan dan nilai-nilai tradisional (film dokumenter). Selanjutnya untuk lebih meningkatkan kontribusi BPNB Bandung kepada masyarakat, khususnya generasi muda, setiap tahunnya diadakan kegiatan penayangan film-film tersebut serta diskusi kebudayaan dan kesejarahan. Untuk itu tentunya film dokumenter yang dibuat harus memiliki kualitas gambar yang baik serta substansi dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam perekaman film dokumenter ini dibutuhkan orang-orang yang berpengetahuan dan berkemampuan merekam peristiwa sejarah dan budaya dengan baik agar film yang dihasilkannya pun baik. Beranjak dari hal tersebut BPNB Bandung memandang perlu untuk mengadakan kegiatan ini yang mengarah pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui bimbingan teknis perekaman.

B. Tujuan
Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas hasil perekaman melalui pemahaman dan penguasaan teknik perekaman.

C. Dasar Hukum
  1. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/18/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana Teknis Kementerian dan Lembaga Pemerintah NonKementerian;
  2. Peraturan Presiden Republik Indonesia tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2010 – 2014;
  3. Rencana Strategis Setjen Kemendikbud Tahun 2010 – 2014;
  4. Kerangka Pembangunan Jangka Menengah Setjen Kemendikbud Tahun 2010 – 2014;
  5. Surat Menpan Nomor 10/M/1/2003 tentang Evaluasi Kelembagaan Pemerintah;
  6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
  7. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: 42 Tahun 2009/Nomor: 40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan;
  8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya.
D. Ruang Lingkup
Kegiatan ini merupakan pembekalan teknis yang dilakukan melalui cara bimbingan/diklat dengan materi terkait dalam teknik perekaman data sejarah dan kebudayaan, serta praktek lapangan. Materi pembekalan meliputi: konsep-konsep umum mengenai pentingnya dokumen audio-visual sebagai salah satu sumber informasi kesejarahan dan kebudayaan, metode dan teknik perekaman peristiwa kesejarahan dan kebudayaan, metode dan teknik pengkajian kebudayaan melalui media audio-visual, metode dan teknik penyusunan skenario, serta praktik mengenai teknik-teknik pengambilan gambar.

E. Tema dan Topik Makalah
Kegiatan Pembekalan Teknis Perekaman Tahun Anggaran 2015 mengambil tema: “Dengan Pembekalan Teknis Perekaman Kita Tingkatkan Kualitas Hasil Perekaman”. Adapun topik-topik makalahnya adalah sebagai berikut:
  1. Karakteristik Media Audio-Visual dan Bahasa Visual (Pembicara: Hadi Purnama, M.Si. (Tel-U))
  2. Metode dan Teknik-teknik Pengambilan Gambar Audio-Visual (Pembicara: Hernawan, S.Sen. (STSI))
  3. Metode dan Teknik Penyusunan Skenario untuk Perekaman Film Dokumenter Kebudayaan (Pembicara: DR. Arthur S. Nalan, S.Sen.M.Hum. (STSI))
  4. Metode dan Teknik Penyusunan Skenario untuk Perekaman Film Dokumenter Sejarah (Pembicara: Ray Bachtiar (Komunitas Lubang Jarum Indonesia))
  5. Pengarsipan Data Audio-Visual dan Foto Budaya (Pembicara: Endo Suanda (Media Tikar Nusantara))
  6. Teknik Pengeditan Data Audio-Visual dan Foto (Pembicara: Sylvie Nurfebiaraning, S.Sos., M.Si. (Tel-U Bandung))
Adapun yang akan menjadi moderator dalam persidangan tersebut adalah:
1. Drs. T. Dibyo Harsono, M.Hum
2. Agus Mulyana, SH
3. Wisnu Wardana, S.S

H. Peserta
Peserta kegiatan ini sebanyak 55 (lima puluh lima) orang yang terdiri atas peneliti BPNB Bandung, sejarawan, budayawan, dosen, guru, mahasiswa, dan para peneliti dari berbagai lembaga penelitian.

I. Pelaksana
1. Petugas swakelola/panitia yang ditunjuk oleh Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen.
2. Pembicara adalah dosen/pengajar dan para tenaga ahli di bidang pendokumentasian dan pengkajian kebudayaan.

J. Lokasi
Kegiatan ini akan dilaksanakan di Bandung.

K. Kepanitiaan
Peananggung Jawab : Drs. Hery Wiryono
Ketua : Dra. Yanti Nisfiyanti
Wakil : Drs. Yuzar Purnama
Anggota :
Dra. Lina Herlinawati
Drs. Hermana
Hary Ganjar Budiman, S.S
Ayi Syarif Suhana, S.Sos, M.Si
Wildan Nirmala, S.Sos
Anas Azhar Nasihin

Seminar Kajian Perlindungan Ekspresi Keragaan Budaya Tradisi Pembuatan Tapis Inuh

Pelestarian dan pengembangan kebudayaan merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat, pemerintah, dan para stakeholder. Masyarakat sebagai pendukung dan pengguna kebudayaan memiliki kewajiban untuk senantiasa memelihara dan menjunjung tinggi kebudayaannya. Sementara itu pemerintah, baik di pusat maupun daerah dan para stakeholder, memiliki kewajiban untuk membina dan memfasilitasi upaya-upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Salah satunya melalui seminar kajian tentang: Tapis Inuh, yang diselenggarakan di Museum Negeri ”Ruwa Jurai” Bandar Lampung.

Tujuan dari kegiatan Seminar Hasil Kajian Tradisi Pembuatan Tapis Inuh ini pada dasarnya adalah untuk memperoleh masukan/informasi tentang berbagai permasalahan berkenaan dengan perencanaan dan pelaksanaan program pelestarian kebudayaan di masing-masing daerah melalui sebuah kajian/penelitian. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan dapat lebih meningkatkan koordinasi antarinstansi pengelola bidang kebudayaan, sehingga tercipta keterpaduan program dan kegiatan dalam upaya pelestarian kebudayaan melalui sebuah penelitian.

Seminar Hasil Kajian ini melibatkan para staf dinas kebudayaan dan pariwisata dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung dan beberapa staf dinas instansi lain yang terkait, budayawan, seniman, tokoh masyarakat, mahasiswa, dll. Adapun materi yang dibahas adalah hasil sementara dari kajian tentang Tradisi Pembuatan Tapis Inuh pendapat dari para pakar kebudayaan, budayawan untuk menyempurnakan hasil penelitian ini.






Kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan di Kabupaten Ciamis

(12 September 2012)

Saat ini faktor interaksi sosial sudah mengalami banyak kemajuan akibat dari modemisasi teknologi informasi. Kebimbangan dalam menentukan perilaku budaya kemudian menjadi sangat terasa mengingat informasi budaya luar sudah semakin masuk ke dalam jaringan kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat dihadapkan pada pilihan dalam menentukan apakah dirinya mampu melakukan proses pelestarian budaya lokal ataukah mengikuti arus budaya luar.

Generasi muda merupakan bagian dari masyarakat yang rentan terhadap pengaruh budaya luar yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa Indonesia atau national character building. Lemahnya filterisasi kebudayaan mengakibatkan kekurangtahuan dari para generasi muda dalam mengenal dan memahami warisan sejarah budayanya. Oleh karena itu, berbagai bentuk informasi dan sosialisasi pengenalan nilai kebudayaan sangat perlu untuk dilaksanakan berkesinambungan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung sebagai UPT di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memandang perlu melaksanakan program yang mengarah pada pengenalan dan pemahaman kebudayaan bagi kalangan siswa SLTA/sederajat melalui kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan. Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah: (1) Menemukenali nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa budaya, (2) menumbuhkembangkan rasa cinta dan memiliki di kalangan generasi muda atas kebudayaan bangsanya, (3) sebagai wahana generasi muda untuk dapat mengenal lebih dekat dan memahami budaya sendiri, (4) dengan mengenali dan memahami nilai budaya yang terkandung dalam peristiwa budaya, diharapkan dapat memperkokoh jati diri dan integrasi bangsa. Adapun tema yang diusung dalam kegiatan penayangan adalah “Kenali Negerimu Cintai Negerimu”.

Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan diselenggarakan pada tanggal 12 September 2012 pukul 08.00 WIB – selesai. Lokasi Kegiatan bertempat di Aula SMKN 1 Kabupaten Ciamis. Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta yang terdiri atas siswa dan siswi SLTA/sederajat serta guru pembimbing yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penayangan 2 buah film dokumenter tentang kebudayaan, yaitu “Sistem Teknologi Panday Besi Ciwidey” dengan narasumber Irvan Setiawan, S.Sos dan “Tari Sigeh Penguten dengan narasumber Drs. Dibyo Harsono, M.Hum.

Seminar Sejarah Ciamis

(11 sampai 12 September 2012)

Sebagian orang menyepelekan akan arti sebuah nama, sebagian lainnya menganggapnya sangat penting. Bagi yang menyepelekan arti sebuah nama beranggapan bahwa nama hanya sekedar judul, tampilan kulit yang bisa berbeda dengan karakter dari nama itu. Misalnya ada orang bernama Adil tetapi dia koruptor ada juga bernama Arif tetapi semena-mena. Bagi yang mengagungkan arti nama, maka nama adalah bagian dari jati diri, pembuka menuju cita-cita, dan sebagainya. Bagaimanapun juga apapun hasil dari yang telah dilakukan yang tersebut adalah nama.

Masyarakat Kabupaten Ciamis merasa perlu untuk menggali kembali makna sejarah dibalik nama daerahnya. Keinginan tersebut mengemuka ketika nama yang lama dirasa lebih menyejarah daripada nama yang sekarang, sehingga diperlukan sebuah wadah untuk merealisasikan hal tersebut. Salah satu wadah yang sesuai adalah Seminar Sejarah. Kegiatan ini bersifat penyuluhan dan penyebaran informasi, hasilnya adalah memberi masukan atau rekomendasi berdasarkan ilmu sejarah. Berkaitan dengan perubahan nama dari Ciamis ke Galuh maka fungsi seminar ini adalah memberikan latar belakang sejarah tentang kedua nama tersebut berikut pengaruhnya terhadap identitas daerah.

BPSNT Bandung sebagai salah satu UPT di lingkungan Ditjen Kebudayaan yang mengkaji nilai sejarah juga turut melaksanakan kegiatan aplikatif kesejarahan berupa seminar sejarah. Oleh karena itu, menyikapi keinginan masyarakat Kabupaten Ciamis, BPSNT Bandung menyelenggarakan Seminar Sejarah dengan menampilkan beberapa pembicara yang sangat kompeten dalam pengembangan ilmu sejarah. Adapun tema dari kegiatan Seminar Sejarah kali ini adalah “Menelusuri Nama Daerah Galuh dan Ciamis, Tuntutan dan Harapan” . Seminar ini dilaksanakan pada tanggal 11 sampai 12 September 2012.

Tujuan kegiatan ini pada dasarnya adalah untuk memberi masukan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis dalam rangka menyalurkan aspirasi perubahan nama daerah berdasarkan tinjauan ilmu sejarah melalui kegiatan aplikatif berupa Seminar Sejarah. Pembicara dalam kegiatan ini berjumlah 6 orang terdiri atas para sejarawan dan pemerhati sejarah. Sedangkan peserta terdiri dari 100 orang yang terdiri atas generasi muda, tokoh masyarakat, dosen, LSM, peneliti sejarah, dan instansi terkait. Seminar in diselenggarakan di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat. Dengan adanya seminar ini diharapkan dapat Dipahaminya kondisi kesejarahan di Kabupaten Ciamis untuk memperkuat jati diri dalam bingkai NKRI.





 



Jejak Tradisi Daerah, Tasikmalaya, Juni 2012

Era globalisasi yang serba cangggih selain berdampak positif, juga membawa ancaman bagi kelangsungan dan kelestarian kebudayaan, antara lain dengan bergesernya nilai, peran, dan fungsi kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Banyak tradisi yang kini nyaris punah, padahal dalam kenyataannya tradisi tersebut telah mampu membentuk sikap, kepribadian, dan karakteristik tertentu bagi masyarakat pendukungnya. Lebih jauh lagi tradisi tersebut telah memberikan ciri-ciri/karakteristik bagi kepribadian bangsa.

Inilah yang menjadi masalah, generasi muda cenderung kurang memahami budaya sendiri maupun budaya etnik lain. Mereka mudah terbawa arus globalisasi dengan meninggalkan budaya sendiri, yang belum tentu memberi dampak positif (Sd. Jati kasilih ku junti). Perhatian khusus pada generasi muda merupakan hal yang menarik, karena mereka adalah penerus dan pendukung kebudayaan yang ada sekarang ini. Perubahan pandangan, pengetahuan, sikap, dan tingkah laku pada diri mereka akan berdampak besar terhadap corak dan nuansa kebudayaan di masa depan. Sebagai upaya agar memiliki keinginan dan bisa memahami perbedaan budaya, mereka harus diperkenalkan pada aspek-aspek kebudayaan dari luar lingkup kebudayaannya sendiri. Upaya tersebut diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit dan meningkatkan pemahaman bahwa budaya yang ditumbuhkembangkan masing-masing etnik merupakan jati diri etnik yang bersangkutan.

Sehubungan dengan itu, pada tahun anggaran 2012, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung menyelenggarakan kegiatan Jejak Tradisi Dearah, yakni suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman generasi muda tentang kebudayaan. Tujuan kegiatan ini adalah: (1) meningkatkan pengetahuan dan pemahanan generasi muda tentang arti penting nilai budaya yang tercermin dalam kreativitas budaya masyarakat Tasikmalaya; (2) meningkatkan pemahaman generasi muda tentang keanekaragaman budaya; dan (3) memberikan wawasan kegiatan lapangan sebagai pelengkap pelajaran di sekolah. Adapun tema kegiatan ini adalah “Kreativitas Unik dan Menarik di Tasikmalaya”. Tempat yang akan dikunjungi dalam kegiatan ini adalah Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Kegiatan Jejak Tradisi Daerah di Tasikmalaya dilaksanakan pada 20 s.d. 21 Juni 2012. Kegiatan ini diikuti diikuti oleh 150 peserta, yang terdiri atas siswa/siswi SMA/sederajat yang ada di wilayah kerja Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, yakni Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Selain itu, ikut serta peninjau dari Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ditkeptrad) dan Antropologi Unpad; guru pembimbing, dan peliput (media massa).

Pendaftaran Peserta di Kantor BPNB Bandung
Pembukaan Kegiatan Jejak Tradisi Daerah
Pengalungan Tanda Peserta Secara Simbolis
Pengalungan Tanda Peserta Secara Simbolis
Penyambutan Peserta Jejak Tradisi Daerah di Tasikmalaya
Kunjungan Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Sentra Kelom Geulis Tasikmalaya
Kunjungan Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Sentra Batik Tasikmalaya
Penyuluhan Narkoba kepada Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Tasikmalaya
Pembekalan Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Tasikmalaya
Lomba Melukis Payung Geulis Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Tasikmalaya
Kunjungan Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Kampung Naga Tasikmalaya
Pembagan Sertifikat kepada Peserta Jejak Tradisi Daerah
Lokasi: Kampung Naga Tasikmalaya

Festival Kesenian Tradisional, Cianjur 17-18 Juli 2012

Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang bersifat universal, artinya kesenian ada dalam masyarakat manapun. Kesenian yang merupakan refleksi dari cara hidup sehari-hari biasanya bersumber pada mitos, sejarah, adalah kesenian tradisional. Jenis kesenian ini biasanya diwariskan secara turun menurun dengan menggunakan alat atau cara-cara sederhana, berfungsi spiritual dan sosial, serta sarat dengan makna simbolis.

Pada masanya dulu, kesenian tradisional sempat “berjaya”, dalam arti menjadi satu-satunya sarana hiburan masyarakat yang menyebabkan berbagai jenis kesenian tradisional sering dipertunjukkan dan sangat digemari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Fungsi lainnya seperti sosial, kultural, dan spiritual juga berjalan secara harmonis. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, eksistensi kesenian tradisional pun mengalami perubahan. Keberadaannya kini tidaklah sehebat dan setegar dulu. Beberapa jenis kesenian tradisional kini mulai ditinggalkan para pendukungnya, bahkan tidak sedikit yang mulai menghilang dan tidak dikenal lagi oleh masyarakatnya. Keadaan ini juga diperparah dengan kurang adanya regenerasi sehingga keberadaan kesenian tradisional semakin terpuruk. Sejalan dengan itu, generasi muda pun tampak kurang memiliki minat untuk melanjutkan atau bahkan mengembangkannya. Dengan kata lain, keberadaan kesenian tradisional saat ini dalam keadaan kritis. Jangankan untuk berkembang, bertahanpun sangatlah sulit.

Berdasarkan pemikiran dan kenyataan di atas, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung merasa perlu untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan untuk memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat, utamanya kepada generasi muda dan memberdayakan jenis-jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di wilayah kerjanya, yaitu Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung dalam bentuk kegiatan “Festival Kesenian Tradisional” di Kabupaten Cianjur pada tanggal 17-18 Juli 2012
Kegiatan Festival Kesenian Tradisional ini bertujuan untuk : (1) Memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat, utamanya kepada generasi muda agar mereka lebih memahami dan mencintai budaya milik sendiri dalam upaya memperkokoh jati diri, (2) Mengindentifikasi berbagai permasalahan berkenaan dengan keberadaan kesenian tradisional pada saat ini; (3) Menampung aspirasi dari para pendukung kesenian tradisional (seniman/praktisi, penikmat seni, dan pemerhati) bagi kelangsungan dan pengembangan kesenian tradisional; (4) Mencari alternatif pemecahan bagi permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh kesenian-kesenian tradisional di tengah upaya pengembangannya.

Tema kegiatan ini adalah “Eksistensi dan Regenerasi Kesenian Tradisional”. Tema ini dipilih berdasar pada salah satu misi BPSNT Bandung, yaitu berupaya memperkenalkan dan mentransformasikan kembali kesenian tradisional kepada generasi muda. Sementara bentuk kegiatannya terdiri dari: (1) pergelaran/peragaan yang menampilkan 6 (enam) jenis kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Cianjur, yaitu Mamaos, Maenpo, Bedor, Tutunggulan, Rampak Kohkol dan Reog, serta (2) diskusi Panel yang akan menampilkan pembicara dari Praktisi/Akademis dan budayawan.










Popular Posts