WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label Jurnal Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Jurnal Penelitian. Show all posts

Bunga Rampai " Rona-Rona Sejarah Dan Budaya"

JudulBunga Rampai " Rona-Rona Sejarah Dan Budaya"
Penulis/Editor       Yuzar Purnama, T. Dibyo Harsono, Aam Masduki, Yudi Putu Satriadi, Risa Novianti, Lasmiyati, Enden Irma R, Ani Rostiyati, Euis Thresnawaty, Adeng, Herry Wiryono/Mumuh Muhsin.
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung
Cetakan2012
Tebal       xi + 242 halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai " Kesenian Tradisional Perekat Bangsa"

JudulBunga Rampai " Kesenian Tradisional Perekat Bangsa"
Penulis/Editor       Ani Rostoyati, Rosyadi, Enden Irma R, Euis Thresnawaty, Herry Wiryono, Risa Novianti, Tjetjep Rosmana, Yanti Nisfiyanti, Ria Intani Tresnasih, Euis Thresnawaty, Adeng, Risa Novianti, Lasmiyati, Yudi Putu Satriadi, Iim Imadudin/Mumuh Muhsin, Bambang Rudito.
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung
Cetakan2014
Tebal       xxv + 230  halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai "Ekspresi Budaya Sebagai Strategi Adaptasi"

JudulBunga Rampai "Ekspresi Budaya Sebagai Strategi Adaptasi"
Penulis/Editor       Harry Ganjar Budiman, Ali Gufron, Adeng, Lasmiyati, Ani Rostiyati, Herry Wiryono, Enden Irma R, Ria Intani Tresnasih, heru Erwantoro, T. Dibyo Harsono/Mumuh Muhsin, Bambang Rudito.
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung
Cetakan2013
Tebal       viii + 268  halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai "Pelangi Tradisi Dan Sejarah Dari Kampung Adat Kuta Hingga Peran Ulama Banten"

JudulBunga Rampai "Pelangi Tradisi Dan Sejarah Dari Kampung Adat Kuta Hingga Peran Ulama Banten"
Penulis/Editor       Herry Wiryono, Rosyadi, Lasmiyati, Yanti Nisfiyanti, Yudi Putu Satriadi, Ria Intani Tresnasih, Yuzar Purnama, Ali Gufron/Mumuh Muhsin.
PenerbitBalai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung
Cetakan2011
Tebal                     163  halaman

Bunga Rampai "Diakronis Dan Sinkronisasi"

JudulBunga Rampai "Diakronis Dan Sinkronisasi"
Penulis/Editor       Aam Masduki, Ria Intani Tresnasih, Yanti Nisfiyanti, Yudi Putu Satriadi, Nandang Rusnandar, Ria Andayani Somantri, Adeng, Lasmiyati, Euis Thresnawaty, Agus Heryana, Yuzar Purnama, Ani Rostiyati/ Bambang Rudito, Mumuh Muhsin.
PenerbitBalai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung
Cetakan2011
Tebal       xvi + 264  halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai " Kebudayaan: Kesatuan, Persatuan, Dan Penyatuan"

JudulBunga Rampai " Kebudayaan: Kesatuan, Persatuan, Dan Penyatuan"
Penulis/Editor       Rosyadi, T. Dibyo Harsono, Suwardi Alamsyah P, Nandang Rusnandar, Hermana, Yuzar Purnama, Tjetjep Rosmana, Iim Imadudin, Herry Wiryono, Adeng, Harry Ganjar Budiman, Euis Thresnawaty, Agus Heryana/Selly Riawanti.
PenerbitBalai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung
Cetakan2011
Tebal       xv + 256  halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai "Eksistensi Ragam Budaya Lampung"

JudulBunga Rampai "Eksistensi Ragam Budaya Lampung"
Penulis/Editor       Yudi Putu Satriadi, Ani Rostiyati, Lasmiyati, Herry Wiryono, Ria Andayani Somantri, Yudi Putu Satriadi, Iim Imadudin, Ali Gufron, T. Dibyo Harsono,Ria Intani Tresnasih/Mumuh Muhsin, Bambang Rudito.
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya  (BPSNB) Bandung
Cetakan2014
Tebal      xiv + 224  halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai "Pelestarian Budaya Dan Sejarah Lokal"

JudulBunga Rampai "Pelestarian Budaya Dan Sejarah Lokal"
Penulis/Editor       Ria Intani T, Lasmiyati, Hermana, Agus Heryana, Herry Wiryono, Adeng, Nina Merlina, Euis Thresnawaty, Heru Erwantoro, Irvan Setiawan/ Mumuh Muhsin.
PenerbitBalai Pelestarian Dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung
Cetakan2012
Tebal        x + 196  halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai "Mozaik Budaya Dan Sejarah Dari Kampung Naga Hingga Partai Rakyat Pasundan"

JudulBunga Rampai "Mozaik Budaya Dan Sejarah Dari Kampung Naga Hingga Partai Rakyat Pasundan
Penulis/Editor       Ani Rostoyati, Adeng, Enden Irma R, Euis Thresnawaty, Herry Wiryono, Risa Novianti, Tjetjep Rosmana, Yanti Nisfiyanti, Suwardi Alamsya P, Halwi M. Dahlan, Hermana, Aam Masduki/Mumuh Muhsin.
PenerbitBalai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung
Cetakan2011
Tebal       256  halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai "Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Sumedang"

JudulBunga Rampai "Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Sumedang"
Penulis/Editor       Yudi Putu Satriadi, Ani Rostiyati, T. Dibyo Harsono, Adeng, Lasmiyati, Iim Imadudin, Harry Ganjar Budiman, Euis Thresnawaty, Ria Intani Tresnasih/ Mumuh Muhsin, Bambang Rudito.
PenerbitBalai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung
Cetakan2014
Tebal        xxi + 236  halaman
Desain Sampul     

Bunga Rampai Sejarah Dan Kebudayaan

JudulBunga Rampai Sejarah Dan Kebudayaan
Penulis/Editor       T. Dibyo Harsono, Heru Erwantoro, Nandang Rusnandar, Rosyadi, Irvan Setiawan, Yudi Putu Satriadi, Tjetjep Rosmana, Yuzar Purnama, Adeng, Lasmiyati, Ani Rostiyati, Suwardi Alamsyah, Ria Andayani Somantri./ Mumuh Muhsin
PenerbitBalai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung
Cetakan2010
Tebal        xvi + 276  halaman
Desain Sampul               

Berdiri dan Berkembangnya Kabupaten Bandung

Oleh Euis Thresnawaty

Abstrak
Tulisan dengan judul tersebut di atas, diawali oleh profil kabupaten dan asal-usul nama Bandung. Uraian zaman kerajaan dimaksudkan sebagai latar belakang berdirinya Kabupaten Bandung. Selanjutnya mendeskripsikan perjalanan sejarah Kabupaten Bandung sejak berdiri (sekitar pertengahan abad ke-17) sampai dengan tahun 1970-an (awal zaman pembangunan).

Dalam perjalanan sejarahnya, Kabupaten Bandung mengalami tiga kali perpindahan ibukota. Pada setiap zaman yang dilaluinya, di Kabupaten terjadi dinamika kehidupan mencakup pemerintahan, sosial ekonomi, politik, gejolak zaman penjajahan dan revolusi kemerdekaan, serta dinamika pembangunan. Selain itu, disinggung pula masalah hari jadi kabupaten yang pernah menjadi polemik di kalangan sejarawan.

Kata Kunci: Sejarah Kabupaten. Bandung.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008: 1311 - 1358

Sejarah Kota Metro Bandar Lampung

Oleh H. Iwan Roswandi

Abstrak
Kota Metro berasal dari Desa Trimurjo. Pertengahan 1937, nama tempat itu berubah menjadi Metro. Salah satu versi menyatakan, nama Metro berasal dari kata “mitro” yang berarti mitra kerja, teman, sahabat, atau bersama.

Sejarah Kota Metro dalam tulisan ini mencakup latar belakang pemerintahan di daerah tersebut, perubahan kedudukan administratif Metro dari ibukota kabupaten menjadi Kota Administratif (1987), kemudian menjadi Pemerintah Kota (1999) berikut alasan serta tujuannya, dan dinamika pekermbangan kota. Uraian masalah yang disebut terakhir mencakup pemerintahan, perkembangan wilayah, ekonomi dan sosial budaya, serta gejolak yang terjadi di Metro dari zaman ke zaman, sampai dengan akhir abad ke-20.

Kata Kunci: Sejarah Kota. Metro. Bandar Lampung.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008: 1183 - 1224

Sistem Ekonomi Tradisional pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub

Oleh Ani Rostiyati

Abstrak
Masyarakat Kasepuhan Cicarucub adalah masyarakat agraris yang masih memiliki sistem ekonomi bersifat tradisional. Dalam sistem ekonomi tradisional itu, pola produksi dan distribusi bersumber pada pengetahuan budaya yang sudah dianut lama dan membaku dalam masyarakat yang bersankutan. Pada masyarakat Cicarucub, nilai budaya merupakan konsep-konsep yang melatar belakangi semua tindakan, termasuk kegiatan ekonomi para petani, perajin ranginang, gula aren, dan pendulang emas. Nilai budaya tersebut tercermin dalam kegiatan dan tindakan dalam proses produksi dan distribusi. Pengaruh nilai budaya tersebut terlihat dalam sifat kegotong royongan, tradisi, dan sistem kepercayaan yang melandasi sistem ekonomi.

Kata Kunci: Sistem Ekonomi. Tradisi. Kasepuhan Cicarucub.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 2, Agustus 2008: 879 - 934

Adat Perkawinan pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub

Oleh Yanti Nisfiyanti

Abstrak

Adat perkawinan masyarakat Kasepuhan Cicarucub berakar pada adat-istiadat Kasepuhan Banten Kidul. Adat-istiadat itu berpedoman pada tatali paranti karuhun (nenek moyang), yaitu mengikuti dan mematuhi tuntunan hidup para karuhun yang menjadi landasan moral dan etik dalam mencapai tujuan hidup.

Oleh karena itu, adat perkawinan tersebut merupakan media untuk memelihara nilai-nilai warisan leluhur, sekaligus menyampaikan informasi mengenai nilai-nilai itu kepada generasi penerus. Nilai-nilai dimaksud adalah perpaduan nilai agama dengan nilai yang terkandung dalam adat-istiadat.

Kata Kunci: Adat perkawinan. Tradisi. Kasepuhan Cicarucub.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 2, Agustus 2008: 843 - 878

Konsep Tata Ruang Rumah pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub

Oleh Ria Intani T.

Abstrak
Masyarakat Kasepuhan Cicarucub adalah masyarakat tradisional. Mereka sangat kuat memegang kepercayaan/tradisi, termasuk dalam masalah rumah. Kepercayaan/tradisi itu mencakup waktu untuk membangun rumah, arah rumah, bahan rumah, tata ruang dan unsur rumah, dll. Semua itu harus ”benar" menurut kepercayaan tradisional mereka, karena dalam kepercayaan/ tradisi itu terkandung nilai-nilai luhur.

Kata Kunci: Tata Ruang Rumah. Kepercayaan Tradisional. Kasepuhan Cicarucub.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 2, Agustus 2008: 799 - 842

Arsitektur Tradisional Di Daerah Kasepuhan Cicarucub

Oleh Lina Herlinawati

Abstrak
Warga Kasepuhan Cicarucub Kabupaten Lebak Provinsi Banten, memiliki arsitektur tradisional peninggalan leluhur. Arsitektur itu hingga kini masih dipertahankan keberadaannya, baik bentuk, bahan, maupun fungsinya sesuai dengan yang diamanahkan leluhur mereka. Bentuk arsitektur tradisional yang dipertahankan terutama pada dua bangunan, yaitu rumah adat atau Rompok Adat, tempat musyawarah atau Bale Riung, dan Leuit, tempat penyimpanan padi.

Sikap itu secara tidak langsung menunjukkan kekokohan masyarakat Kasepuhan Cicurub dalam mempertahankan adat dan tradisi leluhur. Hal itu disebabkan arsitektur tradisional di Kasepuhan Cicarucub mengandung perpaduan wujud ideal, wujud sosial, dan wujud material dari kebudayaan mayasarakat setempat. Dengan kata lain, arsitektur tradisional itu merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Kasepuhan Cicurub.

Kata Kunci: Arsitektur tradisional. Budaya. Cicarucub.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 1, April 2008: 755 - 798

Konservasi Tradisional pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub

Oleh Suwardi Alamsyah

Abstrak
Sudah menjadi fenomena umum, bahwa sekarang terjadi ketidakharmonisan hubungan sosial dengan alam, kerusakan alam dan lingkungan hidup, akibat sikap dan tindakan manusia. Namun masyarakat Kasepuhan Cicarucub berupaya untuk tetap melakukan konservasi melalui berbagai pranata. Hal itu terjadi, karena bagi masyarakat Kasepuhan Cicarucub, konservasi merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya leluhur mereka yang diwarisi secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, bila terjadi penyimpangan terhadap konservasi, dianggap melanggar adat atau tradisi.

Kata Kunci: Konservasi. Tradisi. Masyarakat adat.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 2, Agustus 2008: 677 - 754

Upacara Tradisional Pineng Ngarebung Sanggar pada Masyarakat Adat Pepadun Lampung

Oleh Drs. Aam Masduki, dkk.

Abstrak
Peristiwa perkawinan bagi masyarakat Lampung bukan semata-mata urusan pribadi, namun juga menjadi urusan keluarga, kerabat, masyarakat adat. Perkawinan menjadi hal yang harus diutamakan (khususnya bagi anak laki-laki tertua), karena hal ini akan menentukan status keluarga, dan menjadi pusat/orientasi/perhatian/rujukan bagi keluarga dan masyarakat. Makanya harus dilaksanakan dalam upacara adat besar (ibal serbou) dilanjutkan dengan upacara begawi balak cakak pepadun.

Upacara perkawinan Pineng Ngerabung Sanggar adalah perkawinan yang dilaksanakan dengan proses Begawi adat Lampung yang dilaksanakan di tempat pihak pengantin pria dan wanita. Pineng artinya langkah-langkah, cara Ngerabung artinya memancung atau memotong, sedangkan Sanggar artinya tempat ayam bertelur/sangkar.

Di samping itu ada upacara perkawinan yang dilaksanakan secara sederhana, karena adanya berbagai alasan (salah satu pihak tidak setuju, ekonomi, berlainan sukubangsa dan agama). Seperti belarian/nakat/sebambang (kawin lari), ditekep (gadis dilarikan bujang dengan kekerasan).

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BPSNT Bandung Edisi 38, September 2007

Sejarah Keraton Kasepuhan di Kotamadya Cirebon

Oleh Dra. lasmiyati

Abstrak
Penulis membatasi kajiannya pada sejarah Cirebon, berdirinya Keraton Kasepuhan, dan kegunaan serta fungsi bangunan Keraton Kasepuhan

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 8, Desember 1995

Popular Posts