WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label yudi putu satriadi. Show all posts
Showing posts with label yudi putu satriadi. Show all posts

Ubrug, Teater Tradisional Khas Masyarakat Banten

Oleh Yudi Putu Satriadi

Apakah Ubrug ?
Masyarakat diluar Banten akan asing mendengar istilah Ubrug, apalagi jika Ubrug dikaitkan dengan nama sebuah kesenian khas daerah tertentu. Untuk mulai berkenalan dengan kata tersebut, penulis jelaskan bahwa Ubrug adalah seni teater tradisional khas milik masyarakat Banten.

Untuk sampai pada pemahaman Ubrug secara menyeluruh kita lihat mengapa kesenian tersebut disebut Ubrug. Beberapa pendapat terlontar tentang Ubrug. Kata Ubrug berarti sebagai bangunan darurat, tempat bekerja sementara untuk beberapa hari saja, misalnya untuk kepentingan hajatan atau pesta. Pendapat ini diasumsikan mungkin karena pada masa lalu pemain Ubrug suka berpindah-pindah tempat dan membuat bangunan sementara manakala mereka mengadakan pertunjukan.

Kemungkinan lain nama Seni Ubrug muncul akibat onomatopea “brug”. Dalam Kesenian Ubrug, suara gendang yang mengeluarkan bunyi : brug … brug… brug, sangat dominan dan terdengar keras. Bahkan dari jarak jauh pun bisa terdengar sayup-sayup : brug …. brug, mengalahkan suara alat musik lainnya.

Lain halnya dengan pendapat Mutia Kasim (dalam Walidat, 1997), yang menyebutkan bahwa ubrug diambil dari kata sagebrug. Dalam pertunjukan Ubrug, semua pemain, baik laki-laki maupun perempuan, tua muda, beserta para penonton sama-sama menempati satu tempat pertunjukan atau sagebrug (bahasa Sunda).

Pendapat lainnya dari seorang pelaku kesenian ini, bahwa kata Ubrug dipakai karena para pemaun kesenian ini sering pulang usai mentas pada dini hari. Mata yang berat karena kantuk serta badan yang penat sehabis perjalanan jauh, menyebabkan mereka tertidur tanpa aturan, sagebrug antara pemain laki-laki, perempuan, tua, muda dan nayaga. Terlepas dari pendapat-pendapat tersebut mengenai asal kata tersebut, kini, orang-orang akan langsung menujukan pikirannya kepada seni pentas semacam sandiwara yang berasal dari daerah Banten yang diiringi dengan iringan waditra.

Kesenian Ubrug memadukan unsur komedi, gerak/tari, musik, sastra (lakon), dengan pola permainan longgar. Pada dasarnya kesenian Ubrug terbagi atas empat bagian/babak yang istilahnya bisa jadi agak berbeda untuk beberapa wilayah di Banten. Salah satunya adalah pembagian babak dengan istilah tatalu, nandung, bodoran, dan lalakon. Tatalu berasal dari kata talu yang artinya tabeuh, yaitu permainan instrumentalia atau gendingan sebelum pertunjukan dimulai, tatalu dimaksudkan untuk mengumpulkan penonton. Nandung, adalah menarikan tarian sambil mengeluarkan kata-kata (lagu) nandung. Bodoran ‘lawakan’ yakni menampilkan tokoh “pelawak”. Tokoh ini menjadi ikon grup yang bersangkutan dan karenanya nama panggung alias julukan tokoh pelawak yang bersangkutan sekaligus menjadi nama grup. Lalakon, merupakan inti pementasan, yakni membawakan cerita sesuai judul. Judul yang dibawakan terlebih dahulu dimusyawarahkan oleh para aktornya sesaat sebelum pentas. Tujuan atau target lalakon tidak lain penonton bisa terhibur dan memahami jalan cerita yang dibawakan.

Dalam perkembangannya, pementasan ubrug saat ini sering tidak sesuai pakem. Artinya, pementasan Ubrug dapat menghilangkan satu bagian pementasan dan dapat pula diselipi musik modern untuk lebih menyesuaikan pada keinginan penonton. Hal ini merupakan salah satu cara agar kesenian Ubrug tetap diminati. Dengan cara ini, konon grup-grup Ubrug mampu menjaga kapasitas jumlah penonton dan bahkan mampu menambah jumlah pementasan.

Musik Pengiring
Pertunjukan Ubrug tidak dapat dilepaskan dari musik pengiring atau waditra karena pengantar bahkan pengatur laku dari pemain diarahkan oleh dalang yang memegang kendang. Dengan musik pula penekanan pada suasana tertentu menjadi lebih kena.

Selintas, waditra yang mengiringi penampilan Ubrug sama dengan pengiring pada pertunjukan wayang golek. Waditra atau perlatan yang mengiringi Ubrug terdiri atas kendang indung (gendang besar) dan dua buah kulanter ( gendang kecil); dua buah saron; sebuah gambang, rebab, goong, dan kecrek. Di antara waditra tersebut, gambang paling memperlihatkan ciri waditra wayang golek. Peralatan yang paling sulit dikuasai adalah rebab. Menurut para pemain, rebab merupakan peralatan yang memainkannya mengandalkan unsur perasaan. Tidak mengherankan jika pemain rebab sangat sulit diperoleh, begitu juga dengan regenerasinya.

Persiapan Pementasan Ubrug
Sebuah pementasan Kesenian Ubrug tidak dapat dilepaskan dari persiapan yang harus dilakukan sebelum pementasan. Persiapan yang dilakukan sangat berpengaruh kepada kelancaran pementasan.

Persiapan yang yang mendukung pementasan Ubrug telah dilakukan sehari menjelang pertunjukan. Persiapan yang dilakukan sehari sebelum pertunjukan adalah mendirikan panggung beserta dekorasinya, sedangkan persiapan yang dilakukan pada siang hari menjelang pertunjukan adalah pemasangan sound system dan perangkat gamelan. Kedua peralatan tersebut harus dipersiapkan sejak siang hari karena akan digunakan untuk pementasan Jaipongan dan lagu-lagu yang diiringi oleh organ tunggal yang digelar secara bergantian dari siang hingga malam hari.

Setelah Magrib, persiapan yang menjurus ke arah pementasan Ubrug baru dilaksanakan. Sesaji mulai diberi doa disertai pembakaran kemenyan; para penari wanita berdandan; para pemain mulai berembug untuk menentukan cerita. Sesaji yang telah lengkap ditempatkan di dekat gong, selanjutnya orang yang telah biasa berdoa melaksanakan tugasnya. Bersamaan dengan itu, di atas panggung di belakang layar para penari wanita, beberapa di antaranya akan bermain Ubrug berdandan dan berias. Pemain pria tampak lebih santai dibandingkan dengan pemain wanita. Mereka tidak perlu berias melebihi pemain wanita dan dapat berias dan berganti kostum mendekati waktu tampil. Oleh sebab itu, pemain pria biasanya mengisi waktu dengan berbincang-bincang mengenai lakon yang akan dibawakan. Dalam perbincangan tersebut terjadi pembagian peran serta garis besar dialog dan laku yang harus dikerjakan. Rembugan tidak pernah lama karena lakon yang akan dibawakan merupakan lakon ulangan yang sudah beberapa kali dipentaskan. Mereka sudah hafal betul akan peran dan dialog yang harus dikerjakan.

Terdapat ritual/upacara yang dilakukan pada saat setelah Magrib. Upacara tersebut berupa pembakaran kemenyan di dekat sesaji yang telah ditempatkan sejak siang hari. Pada upacara tersebut, orang yang telah biasa melakukan upacara akan melakukan doa kepada Tuhan dan para wali serta leluhur yang telah meninggal. Isi doa di antaranya berupa pengutaraan maksud keramaian serta permohonan agar acara berjalan lancar sampai akhir dan para pemain selamat dari berbagai gangguan.

Sesaji merupakan perangkat atau barang kelengkapan upacara yang dianggap sakral. Kesakralan tersebut terdapat dalam hal penempatan sesaji, kelengkapan sesaji, dan orang yang berdoa di hadapan sesaji. Sesaji harus ditempatkan di antara dua gong tidak boleh ditempatkan di sembarang tempat. Kelengkapan sesaji harus terdiri atas, kopi pahit dan kopi manis, rokok dua batang, beras putih, tujuh macam bunga, panggang ayam yang dapat digantikan oleh ayam hidup. Jika kelengkapan tersebut tidak utuh, pendoa tidak berani memaksakan berdoa. Dia akan meminta orang yang punya hajat untuk melengkapi sesaji sesuai dengan ketantuan. Pendoa merupakan orang yang biasa melakukan tidak boleh digantikan oleh orang lain. Orang tersebut telah dinilai mampu membacakan doa serta mantera.

Jika terdapat tata cara dalam hal sesaji maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan misalnya pementasan terhambat karena pemain tidak lancar berperan; pemain mendapat kecelakaan yang diakibatkan oleh berbagai penyebab; atau kejadian lain yang tidak dikehendaki. Konon jika panggang ayam digantikan oleh ayam hidup, ayam hidup tersebut tidak akan bertahan lama hidup karena sebenarnya nyawa ayam tersebut telah diambil oleh yang gaib.

Peralatan yang berupa perangkat gamelan dan peralatan pendukung lainnya tidak perlu dipersiapkan secara khusus. Gamelan telah dipersiapkan sejak siang hari karena akan digunakan untuk pertunjukan Jaipongan. Peralatan pendukung seperti kursi disediakan secara mendadak karena mudah disediakan. Jika dipasang dari awal akan mengganggu pementasan Jaipongan dan pementasan nyanyian.

Jalannya Pertunjukan
Waktu pertunjukan atau pementasan Ubrug dilaksanakan setelah lewat tengah malam lebih kurang pukul 00.30 hingga dini hari. Pementasan Ubrug dimulai setelah selesai pertunjukan Jaipongan dan lagu-lagu.

Pertunjukan Ubrug diawali dengan instrumentalia musik. Nada yang dimunculkan oleh alat musik itu disebut tatalu. Maksud dari bunyi-bunyian ini adalah untuk memanggil dan memberitahukan bahwa pementasan Ubrug akan dimulai. Durasi tatalu tidak begitu lama hanya sekitar sepuluh menit dan mereka tidak perlu menunggu penonton datang seluruhnya.

Selesai tatalu musik berubah menjadi musik pengiring untuk membuka acara. Pada saat itu, dalang yang memegang kendang, memberikan pengantar mengenai lakon yang akan dibawakan oleh kelompok Ubrug. Ketika musik pembukaan berlangsung masuklah seorang pemain yang membawakan gerakan tari dan monolog yang lucu. Ucapan pemain tersebut tidak selamanya monolog, sesekali terjadi juga dialog antara pemain tersebut dengan dalang atau dengan nayaga. Pada tahap ini yang tampil adalah bodor andalan yang sangat disenangi oleh penonton. Terkadang saking lucunya, pemain ini menghabiskan waktu cukup lama untuk berperan. Selain menampilkan lawakan yang menyegarkan, tokoh ini terkadang melakukan monolog yang menjadi pemancing cerita.

Tahapan selanjutnya adalah tahapan preposisi. Pada tahapan ini akan dikenalkan tokoh-tokoh. Identitas tokoh dapat diketahui dari pakaian yang dikenakan, nama panggilan, atau bahkan dipertegas oleh pengakuan yang keluar dari mulut pemain tersebut. Para tokoh memperkenalkan peran satu per satu. Cara mereka keluar untuk mengenalkan dirinya, mereka keluar dari sebelah kiri di balik layar dan keluar dengan cara masuk kembali ke belakang layar melalui celah sebelah kanan layar. Dalam memperkenalkan diri, seorang pemain dapat melakukan monolog atau berdialog dengan dalang. Dengan demikian perkenalan menjadi lengkap dan jenis situasi yang sedang dialami oleh sang tokoh menjadi jelas. Pada tahapan ini pun tergambar karakter antagonis dan protogonis. Setelah semua pemain memperkenalkan diri, terdapat jeda. Jeda diisi dengan musik selingan dan dalang memberi pengantar tentang cerita yang akan berlangsung pada tahapan berikutnya.

Pada tahapan selanjutnya yang dapat disebut sebagai tahapan konflik atau tahapan puncak, semua tokoh dengan karakter masing-masing mulai melakukan interaksi, termasuk bodor andalan yang telah tampil di muka. Pada tahapan ini mulai terlihat arah alur cerita karena para pemain atau tokoh dengan karakternya masing-masing mulai berinteraksi. Tokoh yang berkarakter protogonis mulai bertentangan dengan tokoh antagonis. Pada tahapan ini alur cerita atau plot merupakan jalan cerita yang paling panjang. Pada tahapan ini pula puncak kelucuan akan muncul karena semua tokoh dengan berbagai karakter muncul menjadi satu. Pada tahapan ini inti permasalahan mulai terkuak dan arah penyelesaian cerita mulai terlihat.

Tahapan selanjutnya adalah tahapan resolusi. Tahapan ini merupakan tahapan penyelesaian masalah. Penyelesaian masalah ditandai dengan munculnya tokoh yang berkarakter trigonis. Tokoh ini akan menengahi konflik yang terjadi antara tokoh yang berkarakter protogonis dan antagonis. Tokoh yang berkarakter trigonis akan menggiring semua tokoh ke arah penyelesaian alur cerita. Akhir cerita ditandai dengan satu pemenangan pada salah satu tokoh. Biasanya tokoh yang dimenangkan adalah tokoh yang berkarakter protogonis. Cara ini dimaksudkan untuk memberikan aspek moral yang baik serta tidak mengajarkan kesan buruk pada penonton.

Pada seluruh alur cerita, dari awal hingga akhir kisah peran dalang sangat menonjol untuk mengatur jalan cerita. Pengaturan jalan cerita tidak langsung sebagai sebuah instruksi melainkan disampaikan melalui dialog dengan para tokoh, dan para tokoh akan bertindak sesuai dengan perintah yang terdapat dalam dialog antara dalang dengan dirinya.

Selain dalang, para nayaga cukup berperan penting dalam mendukung jalan cerita. Dukungan mereka berupa penciptaan warna musik yang sesuai dengan situasi yang terjadi. Mereka akan menabuh atau memainkan alat musiknya dengan melihat adegan yang terjadi. Sebagai contoh ketiga adegan berlangsung seru, semua alat musik akan ditabuh riuh, sebaliknya jika situasi adegan lirih atau memilukan, alat musik rebab sangat menonjol. Jadi, dalam satu pementasan kesenian Ubrug terjadi harmonisasi tiga komponen, yaitu kelompok pemain, dalang, dan nayaga termasuk sinden. Pembentukan harmonisasi dari ketiga komponen tersebut terjadi karena seringnya mereka bermain bersama dan masing-masing pemain telah mengerti akan tugas yang harus dilakukannya.

Menjelang akhir penampilan musik pengirim menurunkan tempo gamelannya. Sebelum dalang berbicara untuk menutup acara, para pemain keluar dari belakang layar dan selanjutnya membuat barisan di atas panggung sambil menghadap ke arah penonton. Dalang menutup acara pergelaran dengan mengatakan kesimpulan cerita sambil meminta maaf kepada seluruh penonton jika terdapat kata-kata yang tidak berkenan, diikuti oleh para pemain yang memberikan penghormatan dengan cara membungkukan badan.

Tahapan-tahapan tersebut sekalipun bukan merupakan aturan yang secara tegas diterapkan, namun seluruh pemain terutama dalang memiliki keyakinan bahwa tahapan-tahapan tersebut akan memuluskan jalan cerita serta penonton akan dengan mudah menikmati pertunjukan.

Dalam setiap pergelaran, pada tema atau judul yang berbeda, pemain yang ditampilkan dengan peran berbeda pula, tergantung kepada tokoh yang harus diperankan oleh pemain. Tanpa disadari setiap pemain memiliki kekhususan untuk memerankan satu atau dua orang tokoh. Pemain yang tidak pernah berganti adalah pemain yang masuk ke dalam arena pertunjukan sebagai pembuka pergelaran. Pemain ini dituntut untuk bisa ngigel dengan gerakan lucu dan dialog yang lucu. Kemampuan ngigel yang lucu adalah memadukan gerak seluruh anggota badan dengan musik pengiring. Dialog atau monolog yang lucu adalah ucapan yang mengundang gelak tawa penonton. Kalimat yang diucapkan bisa berasal dari kata-kata yang dipelesetkan atau mengambil kata-kata yang sedang popular yang diucapkan menggunakan logat daerah, dan lain sebagainya. Mengingat kemampuan yang diperlukan untuk pemain ini sangat banyak dan memerlukan keterampilan khusus, maka pemain ini tidak dapat digantikan oleh pemain lain. Lagi pula pemain ini dijadikan primadona oleh perkumpulan Ubrug, penonton menyenangi dia karena sosoknya sebagai orang lucu yang dapat menghibur.

Pembentukan karakter pemain lainnya terbentuk karena seringnya seorang pemain memainkan satu peran. Seringnya memainkan peran tersebut karena tingkah laku dan ucapan pemain tersebut telah sesuai dengan karakter seseorang. Contohnya seorang pemain yang berperan sebagai juragan, akan dipakai terus sebagai pemain yang berperan sebagai juragan karena ucapan dan tingkah lakunya sebagaimana seorang juragan. Contoh lain peran anak, akan dimainkan oleh pemain yang memiliki ukuran tubuh seperti anak-anak. Peran ini dipercayakan kepadanya karena baik ucapan dan tingkah lakunya sebagaimana layaknya seorang anak. Para pemeran yang sudah terbentuk untuk memerankan satu tokoh, sulit untuk memerankan tokoh lain. Resiko dari penentuan peran tersebut, seorang pemain tidak akan digunakan apabila dalam lakon tidak terdapat tokoh tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1977, Makalah, Pekan Teater Tradisional bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta.

Mutia Kasim 1977 “Walidat” Jakarta

Mahdiduri dan Yadi Ahyadi. 2010 Ubrug Tontonan dan Tuntunan, dan Tuntunan, Dinas Pendidikan Provinsi Banten bekerja sama dengan Lembaga Keilmuan dan Kebudayaan. Nimus Institute.

Mustappa Abdullah. 2000 Ensiklopedi Sunda, Jakata,: Pustaka Jaya

R. Satjadibrata, 1954, Kamus Basa Sunda, Kementerian PPdan K, Jakarta

Srijono Sispardjo, 1978, Buletin “KAWIT’ No. 20.V.II: Desember, Kebudayaan Jawa Barat

Sumber: Makalah disampaikan dalam Kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan di Purwakarta 14 September 2013

Pengelolaan Rumah dan Lahan Produksi pada Masyarakat Guradog Di Lebak- Banten

Oleh Yudi Putu Satriadi

Abstrak
Penelitian bertujuan untuk mengetahui masyarakat Guradog di Kabupaten Lebak-Banten dalam mengelola rumah dan lahan produksi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan mendeskripsikan data hasil wawancara dan observasi tentang pengaturan rumah dan lahan produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Guradog masih menjunjung tinggi nilai tradisional dalam hal pengaturan rumah dan lahan produksi. Namun demikian, mereka tidak menampik masuknya budaya modern. Mereka melakukan seleksi terhadap budaya modern dengan cara hanya mengambil hal-hal yang baik yang tidak merusak tatanan tradisional. Kini, Masyarakat Kampung Guradog dalam mengatur rumah dan lahan produksi menggunakan dua budaya yaitu budaya tradisional dan budaya modern. Kedua budaya tersebut dapat berjalan secara harmonis. Kondisi ini terwujud berkat toleransi olot yang sangat menekankan pentingnya kehidupan berlandaskan rasa persatuan dan kebersamaan.

Kata kunci: Nilai, tradisional, modern, harmonis.

Abstract
The objective of this research is to understand how Guradog community manage their houses and land of production. The author observed and interviewed some community members, and a descriptive method was conducted in analysing the data. The result is that traditional values in managing houses dan land of production are highly appreciated, although modern culture is also acceptable. They accept some elements of modern culture selectively. Those which do not meet their values are not recommended. Therefore, they accomodate two different cultural values, either traditional or modern, as long as they do not harm their traditional way of life. Unity and togetherness become the basis of the community way of life. The role of olot (the elders) are very important in making this harmony happen.

Keywords: Value, traditional, modern, harmony.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Peran Masyarakat Jakarta dalam Kelangsungan Hidup Ondel-Ondel

Oleh Yudi Putu Satriadi

Abstrak
Ondel-ondel dalam kehidupan penduduk Jakarta hadir sudah cukup lama. Diharapkan pula, penduduk Jakarta mampu mempertahankan eksistensi Ondel-ondel di tengah-tengah masyarakat sekarang. Dalam bidang promosi kepariwisataan, keberadaan kesenian Ondel-ondel, diharapkan dapat menjadi asset wisata yang bermatra budaya, juga dapat menarik perhatian masyarakat untuk berkunjung dan melihat langsung penampilan kesenian Ondel-ondel sambil melakukan kunjungan ke objek-objek wisata lainnya. Metoda penulisan dilakukan secara kualitatif, yakni mendeskripsikan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan. Hasil akhir tulisan ini, menggambarkan bahwa Ondel-ondel yang ada sekarang telah mengalami perubahan fungsi, bentuk, format pertunjukan, dan musik pengiring. Namun demikian, Ondel-ondel telah dijadikan ciri khas kesenian Jakarta karena kemampuan mempertahankan keberadaannya.

Kata kunci: Ondel-ondel, kesenian, Betawi.

Abstrak
Ondel-ondel has a long history in the life of Jakarta’s people. Hopefully, ondel-ondel will be preserved in modern society. For promotion in tourism, ondel-ondel could be a cultural asset and can be performed as cultural attraction as the tourists are traveling to other tourism destination objects. This research is written in qualitative method by describing data obtained from interview with informants. The result shows that ondel-ondel has changed in function, form, performance and music accompanying it. Yet, ondel-ondel has become the characteristics of Jakarta’s performance art for it has been survived so far.

Keywords: ondel-ondel, art, Betawi.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 2 Juni 2011

Pengrajin Senapan Angin di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang

Oleh: Drs. Yudi Putu Satriadi

Abstrak
Desa Cipacing Kabupaten Sumedang sejak jaman Belanda terkenal sebagai daerah tempat perbaikan dan pembuatan senapan angin. Tidak mengherankan jika pada dekade tahun 180-an daerah ini mendapat predikat sebagai sntra industri senapan angin Cipacing. Intuisi yang tinggi dalam meniru kerajinan buatan dalam dan luar negeri menyebabkan pesanan aneka kerajinan mengalir cukup deras ke Cipacing. Dengan demikian kehidupan ekonomi para pengrajin relatif lebih baik dari sebelumnya dan Cipacing hingga kini terkenal sebagai desa/daerah penghasil aneka kerajinan dan Cipacing bukan hanya terkenal di dalam negeri bahkan ke mancanegara.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 30, April 2005

Pola Hubungan Sosial Antaretnik (Studi Kasus tentang Pembauran Masyarakat Multietnik di Perumnas Cijerah II Kota Administratif Cimahi)

Oleh: Drs. Yudi Putu S.

Abstrak
Penelitian tentang pola hubungan sosial antaretnik di Kota Administratif Cimahi khususnya tentang pembauran masyarakat multietnik di Perumnas Cijerah II.

Penelitian ini mengambil tentang potensi konflik dan potensi pemersatu antaretnik-etnik yang berbeda dengan penitikberatan pada potensi-potensi pemersatunya, yang diharapkan dapat digunakan sebagai penyusun kebiajakan dalam meredam konflik antar etnis di beberapa wilayah di Indonesia.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 27, Desember 2002

Prinsip Resiprositas dalam Aktivitas Gotong-royong

Oleh: Drs. Yudi Putu S, dkk.

Abstrak
Perkawinan bagi masyarakat Sunda merupakan hal yang sangat penting dalam perjalanan hidup. Perkawinan bukan hanya persoalan individual melainkan melibatkan kesatuan sosial mulai dari keluarga, kerabat, tetangga dan kesatuan sosial lainnya. Pada saat itulah pola-pola hubungan sosial dan aktivitas kegotong royongan akan terlihat sejak awal persiapan hingga pelaksanaan upacaranya. Konsep kegotong royongan sudah menjadi ciri khas masyarakat Sunda.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 21, Juli 2000

Kearifan Tradisional Masyarakat Kampung Kuta

Oleh: Drs. Yudi Putu Satriadi, dkk.

Abstrak
Kearifan tradisional merupakan pengendalian sosial pada suatu masyarakat, yang dipergunakan untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan manusia dengan alam lingkungannya atau antar manusianya, agar tetap eksis atau tetap dapat melanggengkan kehidupannya.

Di Kampung Kuta penerapan kearifan tradisional dikendalikan oleh pranata tradisional melalui aturan adat yang berujung dengan pamali atau tabu. Penerapan kearifan tradisional ini dapat mengendalikan kehidupan sosial budaya masyarakat Kampung Kuta. Hingga saat ini, di Kampung Kuta hubungan alam dengan manusia dan hubungan sosial manusia dengan manusia dapat dipertahankan keharmonisan dan keselarasannya.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 19, Juli 1999

Struktur Informal di Kota Bandung (Studi tentang Pedagang Pakaian Kaki Lima di Sekitar Pasar Cicadas Bandung)

Oleh: Drs. Yudi Putu Satriadi

Abstrak
Penelitian ini mengungkap perihal kehidupan pedagang kaki lima di sekitar Pasar Cicadas yang ternyata terdiri atas para pendatang. Dari penelitian ini dapat diketahui cara mereka beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan, denga masyarakat yang baru mereka lihar dan lingkungan sosial budaya setempat.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 18, April 1999

Sistem Pelapisan Sosial dan Dampaknya pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub Kabupaten Lebak-Banten

Oleh Drs. Yudi Putu Satriadi

Abstrak
Untuk mencegah terjadinya konflik akibat stratifikasi sosial, memerlukan suatu penanaman pengertian terhadap sikap masyarakat. Pemberian pengertian ini, di antaranya dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa yang membuat perbedaan kelas sosial dalam masyarakat adalah atas kehendak Allah. Sebenarnya, kesadaran seperti ini sudah terjadi di dalam masyarakat tradisional dengan selalu mencontoh dan melaksanakan semua yang telah diperintahkan oleh leluhur mereka.

Salah satu contoh tentang kesadaran masyarakat dapat mencegah konflik sosial ditemukan di Kasepuhan Cicarucub. Kondisi ini muncul sebagai upaya pemimpin formal dan informal yang berhasil memadukan hukum formal dengan hukum adat. Perpaduan ini terbukti dapat menciptakan suatu situasi masyarakat yang harmonis dengan tetap menjunjung kedua hukum tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

Diterbitkan dalam Patanjala, Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. 1 No.2 Juni 2009

Pola Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Situ, Kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut

Oleh Drs. Yudi Putu Satriadi, dkk.

Abtrak
Penelitian ini selain mengungkapkan gambaran umum dan kebudayaan Kampung Situ, yakni meliputi penduduk dan mata pencahariannya, sistem kemasyarakatan, bahasa, sistem teknologi, stratifikasi sosial, religi dan sistem pengetahuan, serta pola perkampungan, letak administratif, sarana komunikasi dan transportasi serta keadaan alam, juga mengungkap prospek dari terjadinya kontak-kontak antarbudaya masyarakat asal dan masyarakat pendatang serta akibat dibangunnya beberapa sarana rekreasi.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 14, Juli 1998

Amalgamasi: Etnik Cina dengan Sunda di Dileungsi Kabupaten Bogor

Jurnal Penelitian Edisi 40, No 1/April 2008

Drs. Yudi Putu Satriadi

Abstrak

Amalgamasi atau perkawinan campuran antaretnik di Indonesia dan perkawinan antara bangsa, bukanlah hal yang aneh. Namun, amalgamasi yang terjadi di Cileungsi Kabupaten Bogor antara etnik Cina dengan Sunda cukup menarik untuk di teliti. Masalahnya, predikat “pribumi” dan “nonpribumi” yang umumnya menjadi jarak pemisah antara orang Indonesia dengan Cina, terkesan tidak menjadi hambatan bagi terjadinya amalgamasi di daerah tersebut.

Masalah lain yang menarik untuk diteliti dalam amalgamasi etnik Cina dan Sunda adalah dampak positif dan negatif dari akulturasi dua budaya yang berbeda. Akulturasi dua budaya dengan porsi seimbang, akan berdampak positif, yaitu memperkaya khazanah kebudayaan keduabelah pihak. Sebaliknya, bila akulturasi budaya itu didominasi oleh budaya Cina, maka unsur budaya tradisional pribumi akan tergeser, bahkan mungkin hilang. Padahal dalam setiap budaya tradisional terkandung nilai-nilai budaya yang luhur dan agung.

Kata Kunci : Amalgamasi. Cina-Sunda. Akulturasi.

Hubungan Antaretnik: Model Penyesuaian Orang Sunda Di Tengah-Tengah Etnik Lain Di Lampung

Jurnal Penelitian Edisi 36/Maret 1007


Drs. Yudi Putu Satriadi


Abstrak:

Orang Sunda pada prinsinya memiliki sikap yang sama dengan etnik lain dalam hal penyesuaian atau adaptasi. Namun sikap orang Sunda memegang falsafah hidup yang menitikberatkan pada sikap mengalah untuk menang, membuat orang/etnik Sunda sangat jarang terlibat konflik dengan etnik lain di mana pun di wilayah Indonesia. Sikap ngawayahnakeun atau sikap bersabar sampai batas tertentu, dipakai oleh orang Sunda bila mendapat perlakuan tidak mengenakkan selama tidak menyinggung martabat dan harga diri, apalagi jika perlakuan tersebut saat orang Sunda memerlukan sesuatu.
Faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan orang Sunda mampu beradaptasi dengan etnik lain di daerah mana pun adalah sikap terbuka untuk memperkenalkan diri kepada etnik lain dan terbuka pula untuk menerima budaya etnik lain, bahkan memadukannya dengan budaya Sunda, sehingga menjadi budaya baru tanpa menghilangkan ciri khas budaya asal. Dengan demikian, orang Sunda dikenal sebagai suku bangsa yang ramah, mengalah, sabar, tetapi gigih, teguh pada pendirian dan mudah diterima menjadi sahabat oleh etnik lain.

Kata kunci: Multietnik, konflik, adaptasi, keterbukaan.

Penggalian Data Aspek Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa

Penggalian Data Aspek Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa
Fokus Bahasan : Sistem Kepemimpinan dan Upacara Tradisional

Makalah Disampaikan dalam Kegiatan Dialog Budaya di Kab. Lebak Prov. Banten
Diselenggarakan oleh BPSNT Bandung, Tahun 2009


Drs. H. Yudi Putu Satriadi
Peneliti BPSNT Bandung


A. Sekilas tentang Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) adalah salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktoral Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI. Lembaga ini didirikan bukan berdasarkan daerah administratif melainkan daerah kebudayaan. Oleh karena itu, wilayah kerjanya lintas propinsi.
Di Indonesia, sampai saat ini, ada sebelas BPSNT yang satu dengan lainnya mempunyai penekanan pengkajian yang berbeda. Kesebelas BPSNT itu adalah : (Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara yang berkedudukan di Aceh dengan penekanan pada kebudayaan Islam; (2) Sumatera Barat dan Bengkulu yang berkedudukan di Padang dengan penekanan pada kebudayaan matrilineal; (3) Riau, Jambi, dan Bangka-Belitung (Babel) yang berkedudukan di Tanjungpinang dengan penekanan pada kebudayaan Melayu; (4) Jabar, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung yang berkedudukan di Bandung dengan penekanan pada akulturasi; (5) D.I. Yogyakarta, Jateng, dan Jatim yang berkedudukan di Yogyakarta dengan penekanan pada kebudayaan agraris; (6) Bali, NTB, dan NTT yang berkedudukan di Denpasar dengan penekanan pada pariwisata; (7) Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur yang berkedudukan di Pontianak dengan penekanan pada pembauran; (8) Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat yang berkedudukan di Makasar dengan penekanan pada kebudayaan maritim; (9) Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah yang berkedudukan di Manado dengan penekanan pada akulturasi; (10) Maluku yang berkedudukan di Ambon dengan penekanan pada kebudayaan kepulauan; dan (11) Irian jaya yang berkedudukan di Jayapura dengan penekanan pada kebudayaan meramu dan berburu.
Oleh karena BPSNT Jabar, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung berkedudukan di Bandung, maka lebih dikenal sebagai BPSNT Bandung. Penekanan pengkajiannya pada akulturasi, yaitu proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990 : 18). Ini bermakna bahwa kesejarahan dan kenilaitradisionalan yang diamati dan atau dianalisis pada akhirnya dikaitkan dengan proses akulturasi.
Visi BPSNT Bandung adalah sebagai bank data dan informasi tentang kesejarahan dan kebudayaan masyarakat etnik di wilayah kerjanya. Sedangkan, misinya adalah melakukan pengamatan dan analisis kesejarahan dan kebudayaan yang ada atau tumbuh dan berkembang di wilayah kerjanya dengan berbagai kegiatan seperti : pendataan, penelitian (pengkajian), perekaman, perlombaan, lawatan-lawatan yang berkenaan dengan kesejarahan dan kebudayaan, seminar, diskusi, pendokumentasian dan sekaligus penyebarluasan data sejarah dan kebudayaan.
Struktur organisasi BPSNT Bandung, selain kepala BPSNT terdapat Kepala Sub Bagian TU. Kepala secara langsung membawahi tenaga fungsional atau tenaga peneliti, sedangkan Kepala Sub.Bagian TU tenaga administrasi. Bagian atau aspek yang ada di bagian tenaga fungsional terdiri dari lima aspek yakni Aspek PKPB (Pembangunan Karakter Pekerti Bangsa), Aspek Tradisi, Aspek Kepercayaan terhadap Tuhan YME, Aspek Seni dan Film, dan Aspek Sejarah. Sub Bagian TU membawahi Urusan Keuangan, Urusan Kepegawaian, Urusan dalam, Urusan Perpustakaan Publikasi dan Dokumentasi.
Masing-masing aspek memiliki bidang garapan yang berbeda-beda. Sejalan dengan tugas utama Direktorat PKPB, aspek PKPB di BPSNT memiliki tugas antara lain adalah melakukan revitalisasi nilai-nilai luhur sebagai pembangkit dan pembentuk karakter bangsa.
Hal ini menjadi sangat penting karena berbicara tentang karakter dan pekerti bangsa tida lepas dari konteks Indonesia yang bermasyarakat majemuk. Oleh karena itu, Bhineka Tunggal Ika mesti menjadi rujukan dalam pembentukan karakter bangsa. Sementara itu multikulturalisme merupakan pembentuk sikap saling pengertian yang dilandasi oleg budi pekerti. Kesadaran tentang ke-Bhineka Tunggal Ika-an dan semangat multikulturalisme pada gilirannya akan mewujudkan karakter bangsa yang berbudi pekerti, sehingga dapat meneguhkan persepsi diri sebagai golongan etnik dan sekaligus sebagai Bangsa Indonesia. Ini bermakna bahwa karakter bangsa bukan hanya dibentuk melalui proses individuation (pembeda) dan penegasan atas kelainan dari bangsa lain, tetapi juga suatu karakter yang wujud dari kesadaran individu mengerti tentang kehadiran bangsanya di samping bangsa-bangsa lain. Artinya, karakter bangsa terkait dengan identitas kolektif karena hidup bermasyarakat, baik secara lokalitas maupun globalitas, dengan menumbuhkan saling pengertian dan menghormati tentang keberadaan individu, etnik atau bangsa lain di luar dirinya.
Sesuai dengan misi BPSNT yaitu melakukan pengamatan dan analisis kesejarahan dan kebudayaan yang ada atau tumbuh melaui kegiatan seperti pendataan, penelitian (pengkajian), perekaman, perlombaan, lawatan-lawatan sejarah dan kebudayaan, seminar, diskusi, pendokumentasian dan sekaligus penyebarluasan data dan kebudayaan. Dalam melakukan kegiatan-kegiatan tersebut BPSNT (tenaga teknis) tidak dapat bekerja sendiri melainkan memerlukan bantuan fihak-fihak lain yang terkait, di antaranya adalah pejabat atau personal yang ada di Lingkungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, seperti kepala-kepala dinas, kepala-kepala seksi, dan lain sebagainya, termasuk juga masyarakat umum yang mengetahui bahan-bahan yang diperlukan. Dengan demikian, sangat perlu adanya kerja sama antara BPSNT dengan instsansi-instansi tadi dan masyarakat umum.
Demi memudahkan teknis kerja sama dalam pengumpulan data, perlu dilakukan satu kesepakatan dalam semua hal yang terkait dengan pekerjaan yang dilakukan, mulai dari materi garapan, persiapan pelaksanaan, pelaksanaan, sampai kepada pelaporan.
Pada kesempatan ini, akan dibahas tentang beberapa hal yang berkaitan dengan pendataan kebudayaan.

B. Unsur-unsur Budaya yang Perlu Didata
Koentjaraningrat pada Rosyadi menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan dari tata kelakuan, kelakuan dan hasil kelakuan yang menjadi milik bersama dari sebagian besar warga suatu masyarakat yang diperoleh melalui proses belajar, maka hampir semua sisi kehidupan manusia nyaris tidak luput dari persoalan kebudayaan. Lalu, dalam hal ini, aspek mana dari kebudayaan yang perlu didata atau diinventarisasi ?
Dalam hal ini Koentjaraningrat menklasifikasikan kebudayaan ke dalam tujuh unsure yang sifatnya universal. Artinya, ketujuh unsur ini terdapat pada hampir semua kebudayaan manusia di manapun di dunia ini. Ketujuh unsur tersebut adalah :
1. Sistem kemasyarakatan
2. Sistem ekonomi dan mata pencaharian
3. Sistem teknologi dan perlengkapan hidup
4. Sistem religi
5. Sistem pengetahuan
6. Kesenian
7. Bahasa
Dalam kegiatan pendataan kebudayaan yang dilakukan BPSNT, ketujuh unsur tersebut menjadi semacam paying. Artinya ketika kita melakukan suatu pendataan, maka ketujuh unsure kebudayaan ini menjadi setting. Selama ini pendataan kebudayaan yang dilakukan BPSNT Bandung dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis yakni pendataan yang bersifat etnografis, dan pendataan yang bersifat partial atau tematis. Pendataan yang bersifat etnografis adalah untuk mendedkripsikan atau memotret pola kehidupan suatu masyarakat. Dalam hal ini ketujuh unsure kebudayaan menjadi materi pokok dalam pendeskripsian. Sedangkan dalam kegiatan pendataan yang bersifat partial, kita hanya mengambil/menyoroti salah satu dari ketujuh unsure kebudayaan tersebut, misalnya tentang pola kepemimpinan, permainan rakyat, kesenian, cerita rakyat, dsb. Dalam pendataan partial pun, ketujuh unsure kebudayaan ini dipaparkan sebagai latar belakang sosial budaya masyarakat pada tempat pendataan dilakukan. Item-item yang perlu didata pada ketujuh unsur kebudayaan antara lain :

1. Sistem Kemasyarakatan
  • Lembaga-lembaga adat dan lembaga kemasyarakatan
  • Sistem kepemimpinan, khususnya kepemimpinan adapt, meliputi : struktur dan pola kepemimpinan , peran pemimpin adapt, hubungannya dengan pempimpin formal dll.
  • Proses-proses sosial, mencakup pola-pola dan jaringan interaksi sosial, jenis-jenis interaksi (kerja sama/gotong royong, konflik, kompetisi)
  • Struktur sosial : system kekerabatan (system penarikan garis keturunan, system perkawinan, system pewarisan)
  • Sistem pelapisan sosial (stratifikasi sosial)
2. Sistem Ekonomi/Mata Pencaharian, focus : Mata pencaharian pokok
  • Jenis pekerjaan : petani/peladang, peternak, pengrajin, dll
  • Teknik-teknik pekerjaan
  • Permodalan
  • Pola produksi
  • Pola distribusi
  • Pola konsumsi
3. Sistem Teknologi dan Perlengkapan Hidup
  • Ragam dan jenis-jenis peralatan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari (peralatan kerja, peralatan rumah tangga, dll)
  • Latar belakang/sejarah peralatan
  • Teknis dan cara pembuatan (bahan, cara perolehan bahan, cara pembuatan)
  • Penggunaan peralatan
4. Sistem Religi (Kepercayaan Lokal)
  • Konsepsi-konsepsi tentang : alam semesta, manusia, hidup, mati
  • Konsepsi-konsepsi tentang mahluk dan kekuatan gaib (nama/sebutan, tempat, kekuasaan, dll)
  • Upacara-upacara tradisional (jenis, nama upacara, latar belakang sejarah upacara, tujuan upacara, waktu penyelenggaraan upacara, tempat penyelenggaraan upacara, teknis penyelenggaraan upacara, persiapan dan perlengkapan upacara, pantangan-pantangan, makna yang terkandung dalam symbol upacara, jalannya upacara).
5. Sistem Pengetahuan : pengetahuan lokal/tradisional yang berkaitan dengan:
  • Mata pencaharian (pertanian, nelayan, dsb.)
  • Gejala alam ( gunung meletus, gerhana, banjir, wabah penyakit, astronomi, dsb.)
  • Flora dan fauna
  • Pengetahuan tentang obat-obatan tradisional
6. Kesenian : Jenis-jenis kesenian tradisional yangkhas dan yang berkembang
  • Nama kesenian
  • Sejarah/asal-usul
  • Ragam peralatan dan perlengkapan
  • Lagu-lagu
  • Pemain (jumlah pemain, peran, busana)
  • Waktu pertunjukan
  • Tempat pertunjukan
  • Jalannya pertunjukan kesenian
  • Makna yang terkandung dalam kesenian
7.  Bahasa : 
Bahasa yang digunakan sehari-hari dalam lingkungan keluarga, masyarakat, lingkungan formal, dll.
 
C. Metode dan Teknik Pendataan Kebudayaan
Pendataan kebudayaan merupakan sebuah langkah dalam upaya penyelamatan dan pelestarian kebudayaan. Melalui kegiatan pendataan kebudayaan, kita berusaha mendata dan menginventarisasi berbagai unsure kebudayaan local yang ada dan pernah ada agar jangan sampai kita kehilangan jejak atas sesuatu yang menjadi milik kita.
Tiga langkah pendataan kebudayaan yang harus dilakukan, yaitu :
1.  Tahap perencanaan dan Persiapan
Pada tahap ini langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain : membuat dan menyiapkan instrument pendataan , berupa pedoman pengumpulan data dan pedoman wawancara. Di samping itu, perlu juga dipersiapkan  peralatan penunjang berupa alat tulis, kamera foto, tape recorder dan kamera video (kalau diperlukan).

2.    Tahap Pengumpulan Data
Pada tahap ini dilakukan field work (bekerja di lapangan) guna mengumpulkan data di lapangan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan dengan menggali dan mengorek data dan informasi dari nara sumber melalui percakapan. Observasi dilakukan guna meliput data yang tidak dapat dihimpun melalui wawancara, seperti kondisi fisik lingkungan, dan sikap atau perilaku warga masyarakat.

3.    Penyusunan Laporan
Pada tahap ini, semua data yang diperoleh di lapangan dituangkan dalam bentuk tulisan. Adapun metode yang lazim digunakan dalam penulisan adalah metode deskriptif. Tujuan pemaparan menggunakan metode ini adalah untuk memberikan deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diamati. Penulisan laporan biasanya menggunakan sistematika sebagai berikut :

BAB I    PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Masalah
1.3 Tujuan Pendataan
1.4 Ruang Lingkup
1.5 Teknik Pendataan
BAB II    GAMBARAN UMUM DAERAH PENDATAAN
 2.1 Lokasi dan Keadaan Alam
 2.2 Kependudukan
 2.3 Latar Belakang Sosial Budaya
BAB III   DESKRIPSI
BAB IV   PENUTUP
4.1    Simpulan
4.2    Saran-saran
LAMPIRAN-LAMPIRAN

D. Instrumen Pendataan
a. Sistem Organisasi Sosial (Fokus telaah : Sistem Kepemimpinan)
I. Pengertian Kepemimpinan
Manusia sebagai mahluk sosial tidak pernah mampu untuk hidup seorang diri. Di mana atau dalam keadaan apapun, manusia cenderung untuk hidup berkelompok. Pengelompokan sosial itu antara lain dilandasi oleh adanya persamaan kepentingan antarsesama anggota kelompoknya. Untuk mewujudkan kepentingan bersamanya itu, manusia mengorganisasi dirinya serta menciptakan perangkat aturan dan sistem pengendalian sosial yang sesuai dengan lingkungan tempat mereka hidup dan bergaul bersama. Dalam melaksanakan peraturan dan sistem pengendalian sosial tersebut diperlukan seorang pemimpin.
Terdapat dua jenis pemimpin, yaitu pemimpin formal dan pemimpin informal. Pemimpin formal adalah pemimpin yang diangkat dan ditunjuk oleh pemerintah secara resmi. Pemimpin informal diakui oleh sebagian masyarakat karena dianggap orang “terbaik” di kalangan masyarakatnya. Biasanya orang seperti itu memiliki kemampuan menjaga amanah serta memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakatnya. Pemimpin informal dianggap berhasil mendekati masyarakat karena kedekatannya, keluwesannya, dan atau kharismanya (Koentjaraningrat, 1992 :199).

II. Sistematika Penulisan Laporan
a. Deskripsi Kepemimpinan di Kampung Adat (Baduy)
1.    Struktur Kepemimpinan
2.    Pola Kepemimpinan
3.    Peran Pemimpin Adat
4.    Masa Kepemimpinan
5.    Hubungan Sosial
6.    Sanksi Adat

III  Pedoman Wawancara
1. Struktur Kepemimpinan Adat
a.    Uraikan bagaimana struktur kepemimpinan adat di Kampung Adat Baduy ?
b.    Adakah perubahan struktur tersebut dari dahulu hingga sekarang ?
2. Pola Kepemimpinan
Bagaimana sistem kepemimpinan pada masyarakat Kampung Adat Baduy (formal     atau informal)?
Bagaimana sistem pemilihan ketua adat dan kuncen pada masyarakat Kampung Adat Baduy (dipilih oleh masyarakat, turun-temurun, atau bagaimana)?
Apa criteria untuk menjadi seorang kuncen dan ketua adat pada masyarakat Kampung Adat Baduy ?
Siapa yang membantu kuncen dan ketua adat dalam mengendalikan roda   kehidupan pada masyarakat Kampung Adat Baduy ?
Bagaimana sistem pemilihan para pembantu pimpinan pada masyarakat Kampung Adat Baduy ?
Adakah pantangan yang dikenakan bagi pemimpin adat dan para pembantunya ?
3    Peran Pempimpin Adat
-    Apa peranan (fungsi, tugas, dan kewenangan) kuncen dan ketua adat di Kampung Adat Baduy ?
-    Apa pula peranan (fungsi, tugas, dan kewenangan) para pembantu kuncen atau pembantu ketua adat ?
4.    Masa  Kepemimpinan
-    Berapa lama masa jabatan kuncen dan ketua adat beserta para pembantunya pada masyarakat Kampung Adat Baduy ?
-    Apakah masa jabatan kuncen dan ketua adat serta para pembantunya sudah merupakan ketentuan yang pasti atau masih bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi ?
5.    Hubungan Sosial
a.    Bagaimana hubungan kuncen dan ketua adat di Kampung Adat Baduy dengan masyarakatnya ?
b.    Bagaimana hubungan para pembantu pimpinan adat dengan
c.    masyarakatnya ?
d.    Bagaimana sikap masyarakat dengan kuncen dan ketua adat dan para pemban tunya?
e.    Pernahkah terjadi konflik pada masyarakat ? Andaikan pernah dalam hal apa ?
f.    Seandainya terjadi konflik, bagaimana cara penyelesaiannya dan siapa yang  mengatasinya ?
g.    Pernahkan terjadi konflik antarwarga masyarakat Baduy  dengan warga luar?
h.    Bagaimana cara penyelesaiannya dan siapa yang  menyelesaikannya ? Dalam hal  ini siapa saja yang terlibat ?
6.  Sanksi Adat
-    Apa sanksi yang diberikan apabila pimpinan atau para pembantu  pimpinan melanggar adat ?
-    Apa sanksi yang diberikan apabila ada warga masyarakat yang melanggar adat?
-    Apakah sanksi tersebut hanya berlaku untuk warganya sendiri atau juga berlaku untuk orang-orang di luar warganya?
-    Jika berlaku untuk orang luar, pelanggaran semacam apa yang mendapatkan sanksi dan berupa apa saja sanksinya?

b. Sistem Religi  (Fokus Telaah : Upacara Tradisional)
I.    Pengertian Upacara Tradisional
Upacara tradisional adalah tingkah laku resmi yang dibakukan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan pada kegiatan teknis sehari-hari, akan tetapi, tingkah laku yang berkaitan  dengan kekuatan gaib. Kekuatan ini dapat diartikan sebagai Tuhan Yang Mahaesa atau dapat pula diartikan sebagai kekuatan supernatural. Seperti roh nenek moyang, pendiri desa, roh leluhur, kekuatan alam yang dianggap mampu memberi perlindungan kepada keturunannya, dan sebagainya (Sri Guritno, 2001 : 2). Upacara yang biasa dilakukan umumnya berupa : upacara yang berkaitan dengan daur hidup (life cycle) contohnya :tujuh bulanan, akekah, matang puluh, dan sebagainya. Upacara yang berkaitan dengan mata pencaharian, contoh : seren taun, seba, dan sebagainya, dan upacara khusus/khas contohnya : upacara memayu di Cirebon, upacara ganti ke ambu, upacara pergantian gelar adat, dan lain-lain.

II.  Sistematika Penulisan Laporan (Fokuskan pada salah satu upacara)
Deskripsi Upacara
1.    Nama Upacara
2.    Latar Belakang Sejarah Upacara
3.    Tujuan Upacara
4.    Waktu Penyelenggaraan Upacara
5.    Tempat Penyelenggaraan Upacara
6.    Teknis Penyelenggaraan Upacara
7.    Persiapan dan Perlengkapan Upacara
8.    Pantangan-pantangan
9.    Makna yang Terkandung dalam Simbol Upacara
10.    Jalannya Upacara menurut Tahapan-tahapannya

III  Pedoman Wawancara
1.    Nama Upacara
-    Berikan penjelasan mengapa upacara itu dinamakan demikian ?
-    Apakah nama itu mengandung arti ? Jika ya, apakah artinya ?
-    Selain nama tersebut, adakah nama atau istilah lainnya ?
2.    Latar Belakang Sejarah Upacara
-    Sejak kapan upacara itu dilaksanakan ?
-    Apa yang melatarbelakangi dilaksanakannya upacara ?
-    Siapa pelaksana pertama upacara ini? Apa  kedudukannya di masyarakat?
-    Dimana dilaksanakan upacara tersebut untuk kali pertama?
-    Apakah upacara tersebut harus dilaksanakan ?
-    Siapa yang melanjutkan pelaksanaan upacara ini ? apakah harus keturunannya langsung? Bagaimana apabila tidak memiliki keturunannya?
-    Dengan cara bagaimana pelaksana upacara terdahulu mewariskan kepada generasi berikutnya ?
-    Adakah perubahan dalam pelaksanaan upacara terdahulu dengan sekarang? Jika ada dalam hal apa ?
-    Hal-hal apa yang boleh berubah dan apa yang tidak boleh berubah ?
3.   Tujuan Upacara
-  Apa tujuan dan manfaat dilaksanakannya upacara ini ?
-  Pernahkan upacara ini tidak dilaksanakan ?
-  Jika tidak melaksanakan upacara ini, apa akibatnya ?
4.   Waktu Penyelenggaraan Upacara
- Kapan upacara itu dilakukan (bulan, tanggal/hari, pagi, siang,sore, atau malam hari)
- Mengapa harus pada waktu-waktu itu ?
- Seandainya penyelenggaraan upacara bertepatan dengan hari besar, bagaimana pengaturannya?
5.  Tempat penyelenggaraan Upacara
- Di mana upacara itu dilaksanakan ? Jelaskan tempat mana saja yang digunakan?
- Apakah tempatnya harus khusus ?
6.  Teknik Penyelenggaraan Upacara
- Siapa saja yang terlibat langsung dalam pelaksanaan upacara dari masa persiapan hingga akhir penyelenggaraan upacara ?
- Siapa yang wajib/boleh terlibat dalam upacara tersebut dan siapa yang tidak boleh mengikuti upacara tersebut ?
- Siapa yang memimpin upacara ?
- Apakah yang memimpin harus orang tersebut? Jelaskan !
- Syarat apa yang harus dimiliki seseorang agar bisa memimpin upacara ?
- Bagaimana jika pemimpin yang harus bertugas pada saatnya berhalangan?
7.  Persiapan dan Perlengkapan Upacara
- Kegiatan apa saja yang dilakukan pada masa persiapan ?
- Sejak kapan persiapan upacara dilaksanakan ?
- Perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk upacara ?
- Siapa yang mempersiapkan perlengkapan upacara tersebut ?
- Mana di antara perlengkapan itu yang termasuk sakral ?
- Dari mana perlengkapan itu diperoleh ?
- Apakah perlengkapannya selalu sama dalam setiap pelaksanaan upacara ?
- Jika ada yang berubah, apanya yang berubah ?
- Perlengkapan apa saja yang tidak boleh diganti dan apa yang boleh diganti?
8.  Pantangan-pantangan
- Adakah pantangan yang dikenakan selama pelaksanaan upacara ? Jika ada apa saja pantangan tersebut ?
- Siapa yang dikenai pantangan tersebut ?
- Apakah pantangan tersebut wajib dilaksanakan? Jika ya, bagaimana jika tidak dilaksanakan ?
- Adakah perubahan dalam pantangan dari dulu hingga sekarang ?
9.  Makna yang Terkandung dalam Simbol Upacara
- Adakah makna yang terkandung dalam upacara tersebut, misalnya dalam setiap perlengkapan dan aktivitasnya ? Jika ada jelaskan !
10. Jalannya Upacara Menurut Tapan-tahapannya
- Uraikan dengan rinci tentang jalannya upacara sesuai dengan tahapan-tahapannya !
Demikian sekilas tentang pendataan kebudayaan dengan fokus telaah sistem kepemimpinan dan upacara tradisional.

DAFTAR  PUSTAKA

BKSNT    Panduan Lawatan Budaya Kp.Kuta-Ciamis, Depbudpar, 2006
Rosyadi, Drs.    Pendataan Kebudayaan, Upaya Penyelamatan dan Pelestarian Kebudayaan, BPSNT, Bandung, 2006
Sindu Galba, Drs    Tupoksi Direktorat PKPB, Jakarta,
Sri Guritno, Drs    Upacara Tradisional, Direktorat Tradisi dan Kebudayaan, Jakarta, 2001

Popular Posts