WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label lasmiyati. Show all posts
Showing posts with label lasmiyati. Show all posts

Ditioeng Memeh Hoedjan: Pemikiran Pangeran Aria Suria Atmadja Dalam Memajukan Pemuda Pribumi Di Sumedang (1800-1921)

Lasmiyati

Abstrak
Pangeran Aria Suria Atmadja telah memajukan Sumedang di berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, kehutanan, politik, kebudayaan, dan sektor lainnya. Atas jasa-jasanya dalam memajukan Sumedang, pada 25 April 1922 didirikan monumen berbentuk Lingga yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal D. Fock. Pada masa pemerintah kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Paul van Limburg Stirum menguasai wilayah Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja mengusulkan agar para pemuda pribumi dilatih menggunakan senjata. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sosok Pangeran Aria Suria Atmadja, bagaimana dan dalam bidang apa beliau berkiprah untuk memajukan Sumedang dan bagaimana reaksi pemerintah kolonial terhadap kiprahnya. Tulisan berjudul Ditioeng Memeh Hudjan merupakan karya luhung Pangeran Aria Suria Atmadja yang berisikan keinginan, cita-cita, dan harapan untuk memajukan pemuda pribumi di Sumedang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh informasi bahwa usulan Pangeran Aria Suria Atmadja agar pemerintah kolonial melatih para pemuda untuk menggunakan senjata ditolak. Pemerintah kolonial bereaksi dengan membuat tiga benteng pertahanan di Sumedang.

Abstract
The prince Aria Suria Atmadja drummed up Sumedang in various sectors as well as agriculture, fishery, forestry, politics, culture, and other sectors. Because of his merit, on April 25th the Governor General D. Fock build a monumen, and the monumen shaped is Lingga (). In the era of Dutch colonialism, General Paul van Limburg Stirum hold the governor of Sumedang.In that time, Prince Aria Suria Atmadja was raising a new issue that the young people have to train in using a weapon (gun). What to do with this research is to know the figure of Prince Aria Suria Atmadja, especially to know the ways of Prince Aria in developing Sumedangand to find out the reaction of dutch collonial which is caused by the movement of the prince. The writtten entitled Ditioeng Memeh Hudjanis one of the greatest masterpiece of Prince Aria Suria Atmadja, which is containing his will, hope and expectation in drumming up young people in Sumedang. The method that writer used are related with Heuristic, criticism, interpretation, and historygraphy. The result of the research show us that the suggestions of Prince Aria Suria Atmadja related to the use weapon (gun) was rejected by the dutch collonial. The dutch collonial also build three defence fortress in Sumedang as the response to the movement.

Keywords: Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja, pelatihan militer, Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja, military training.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 6, No 2, Juni 2014

Sejarah Uang Republik Indonesia Banten (Uridab) (1945-1949)

Lasmiyati

Abstrak
Setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, di Serang Banten terdapat dua peristiwa penting, yaitu revolusi sosial dan tempat pencetakan uang daerah untuk Banten. Tahun 1947, di Serang, tentara Belanda di bawah naungan Pasukan Sekutu melakukan blokade darat dan laut. Pemerintahan di Serang pun putus komunikasi dengan Pemerintah RI yang berada di Yogyakarta. Agar perekonomian di Serang tetap berjalan, pemerintah pusat mengizinkan daerah Banten untuk mencetak uang daerah sendiri bernama Uang Republik Indonesia Daerah Banten (URIDAB). Menjadi pertanyaan tersendiri mengapa Serang Banten dipercaya oleh pemeritah pusat untuk mencetak uang dan mengapa pasukan Belanda melakukan blokade ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengapa Serang Banten dipercaya oleh pemerintah pusat untuk mencetak uang sendiri, adakah hubungannya antara URIDAB dan revolusi sosial. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Melalui hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa pencetakan uang daerah di Banten diawali dengan perpindahan ibu kota RI dari Jakarta ke Yogyakarta. Belanda yang datang ke Indonesia dengan cara membonceng NICA melakukan kekacauan, penyerangan, dan memblokade ekonomi. Daerah-daerah yang lokasinya jauh dengan ibu kota RI sangat kesulitan berkomunikasi, sehingga pemerintah pusat yang berkedudukan di Yogyakarta memberikan wewenang kepada Residen Banten Achmad Chatib untuk mencetak mata uang sendiri dengan nama URIDAB kepanjangan dari Uang Republik Indonesia Daerah Banten.

Abstract
There were two important things that happened in Serang (Banten) after the Indonesian independence was proclaimed on August 17, 1945: social revolution, and printing of money for Banten. In 1947 the Dutch army under the protection of the Allies blockaded either land and sea, cutting off communications between central (Yogyakarta) and regional (Serang) government. The central government in Yogyakarta gave permission to Serang to print money so that economic activity could still be running. The money was called URIDAB (Uang Republik Indonesia Daerah Banten, or the money of the Republic of Indonesia in Banten). The research questions are why central government gave permission to Banten to print money and why the Dutch army blockaded the economy. To answer these questions the author conducted histoy methods: heuristic, critique, interpretation, and historiography. Research finds that when the capital of Indonesia moved from Jakarta to Yogyakarta during the Dutch military aggression, communications were cut off and it was difficult for central government in Yogyakarta to make contact to regional governments. Therefore, the central government authorized the Resident of Banten, Achmad Chatib, to print its own money.

Keywords: sejarah, uang daerah Banten, history, the money of Banten.

Diterbitkan dalam Patanjala Vol. 4, No 3, September 2012

Emma Poeradiredja, Anggota DPR (1971-1976) yang Tidak Pernah Bolos

Banyak tokoh Sumpah Pemuda 1928 yang pastinya belum banyak dikenal oleh generasi muda kita. Salah satunya bernama Emma Poeradiredja. Ia merupakan perempuan pejuang dari Jawa Barat. Adiknya, Adil Poeradiredja, pernah menjadi Perdana Menteri Negara Pasundan.

Untuk mengenal lebih jauh tentang tokoh ini, Museum Sumpah Pemuda menyelenggarakan diskusi pada Senin, 20 Maret 2017. Dua pembicara yang dihadirkan adalah Lasmiyati, dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat dan Amarawati Poeradiredja Soesmono, anak angkat Emma Poeradiredja.

Berbagai organisasi

Emma, dengan nama asli Raden Rachmat’ulhadiah Poeradiredja, lahir pada 13 Agustus 1902. Ia mengenyam pendidikan di HIS (1910-1917). Setelah tamat ia melanjutkan ke MULO. Selepas MULO, Emma mengikuti ujian dinas di SSVS (Staatsspoor Wegen Vereenigde Spoorwegen). Lulusan SSVS ini sejajar dengan HBS atau AMS. Pada 1921 Emma diterima menjadi pegawai di Staatsspoor atau Djawatan Kereta Api. Ia pensiun pada 1958.

Emma juga mengikuti berbagai organisasi. Ia aktif di Kepanduan Putri. Juga di Jong Islamietend Bond cabang Bandung (1925-1940). Pada 1926, ia aktif dalam Kongres Pemuda I di Jakarta. Setahun kemudian ia aktif di organisasi kewanitaan dengan mendirikan Dameskring. Namanya semakin dikenal ketika pada 1928 ia aktif pada Kongres Pemuda II, bahkan ikut menghadiri Kongres Perempuan Indonesia I. Pada 1929 ia mengikuti lagi Kongres Perempuan II di Jakarta.

Mulai 1930 ia aktif di organisasi Pasundan Bagian Istri. Selanjutnya karena masih berada dalam naungan Paguyuban Pasundan, Emma mengusulkan agar Pasundan Bagian Istri terpisah dari Paguyuban Pasundan. Akhirnya berdasarkan konferensi pada 27 Juni 1931 Paguyuban Bagian Istri diubah menjadi Pasundan Istri (PASI). Emma Poeradiredja ditetapkan sebagai ketua.

Namun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), PASI dibubarkan. Kemudian Emma masuk dalam barisan Fujinkai, bentukan Jepang. Anggota Fujinkaidipandang merupakan barisan istimewa yang disebut Barisan Srikandi.

Karena itu setelah Proklamasi 1945 Emma ikut mendaftarkan diri menjadi BKR (Badan Keamanan Rakyat). Bahkan ia juga tergabung ke dalam BPKKP (Badan Penolong Keluarga Korban Perang).

Selanjutnya Emma menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (1959-1965), Sekber Golkar (1965), dan anggota DPR-RI mewakili Fraksi Karya Pembangunan (1971-1976).

Jujur

Menurut Amarawati, Emma pernah menjadi anggota palang merah. Ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, Emma turun membantu para korban. “Ibu Emma adalah orang yang tulus. Apa yang dia kerjakan, akan dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak pernah mengeluh. Jika ada kesulitan, ia hadapi dengan penyelesaian yang baik dengan cara-cara sederhana. Ia tidak pernah meminta tolong, apalagi soal keuangan,” begitu cerita Amarawati.

Masalah kedisiplinan Emma Poeradiredja juga diungkapkan Amarawati. Ketika itu, 1976, Emma sudah menjadi anggota DPR. Suatu hari Emma menderita sakit cukup berat. Karena mempunyai Askes DPR di RS Hasan Sadikin, Emma tidak mau dibawa ke RS Boromeus. Padahal obat-obatan yang dibutuhkan hanya ada di RS Boromeus.

Menjelang meninggal pada 19 April 1976, Emma memanggil Amarawati untuk membayar utang di Bank Wanita, yaitu utang untuk bekal perjalanan ke Singapura. “Ibu Emma menunjukkan uangnya yang disimpan di lemari,” kata Amarawati. Begitu juga, lanjut Amarawati, utang kepada Ibu Adam Malik untuk pembelian gelang dan utang kepada Ibu Ibnu Saleh untuk pembelian kain batik.

Kata Amarawati banyak pelajaran yang bisa dipetik dari didikan beliau, yaitu jujur, disiplin, amanah, menolong orang dengan ikhlas, mandiri, bertanggung jawab, dan santun.

Sebagai anggota DPR, Amarawati menambahkan, Emma tidak pernah bolos. “Saya harus kerja sungguh-sungguh sebagai wakil rakyat karena gaji saya dibayar oleh uang rakyat,” begitu kata Amarawati menirukan ucapan Emma.***

Penyebaran Agama Islam di Jakarta Abad XVII-XIX

Oleh Lasmiyati

Abstrak
Penyebaran agama Islam di Jakarta dimulai sejak Fatahillah berhasil mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. Namun setelah Batavia diserang oleh Belanda, sebagian tokoh penyebar agama Islam berpindah dari Pelabuhan Pasar Ikan ke Kampung Melayu, mereka mendirikan masjid Al-Atiq. Sedangkan yang melarikan diri ke Jatinegara Kaum mereka mendirikan masjid As- Salafiah. Para tokoh penyebar Agama Islam di Jakarta, disamping melakukan syiar dakwah mereka juga mendirikan masjid.

Penyebaran Agama Islam pada abad XVII - XIX ditandai dengan berdirinya beberapa masjid kuno. Masjid-masjid tersebut disamping sebagai tempat sholat juga dijadikan sebagai tempat dakwah guna menyebarkan agama Islam.

Kata Kunci: Penyebaran agama Islam di Jakarta

Abstract
Spreading of Islam in Jakarta is started since Fatahillah successfully gives in Portugis in Sunda Kelapa. But after Batavia attacked by Dutch, some of Islam spreader figures makes a move from Pelabuhan Pasar Ikan to Kampung Melayu, they build mosque Al-Atiq. While running away to Jatinegara Kaum they to build mosque AsSalafiah. The Islamic Religion spreader figures in Jakarta, beside does syiar mission they also builds mosque.

Spreading of Islamic Religion at century XVII - XIX is marked with forming of some ancient mosques. The mosques beside as place of sholat also made as place of mission to propagate Islam.
Keywords: Spreading of Islam in Jakarta.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 1 No. 1 Maret 2009

Indramayu Masa Penjajahan Belanda (Abad Ke - 19)

Oleh Lasmiyati

Abstrak
Sejarah Indramayu sangat menarik untuk diteliti karena Indramayu telah menorehkan sejarah masa lalu terutama masa penjajahan Belanda. Tujuan dari tulisan ini untuk mengetahui mengenai keberadaan Indramayu masa penjajahan Belanda. Metode yang digunakan adalah metode sejarah. Indramayu di masa penjajahan Belanda diwarnai berbagai konflik, baik perlawanan para pejuang terhadap Belanda maupun antara petani melawan tuan tanah. Konflik tersebut sebenarnya didasarkan atas ketidakadilan dan adanya jurang pemisah antara petani yang harus menanggung beban pungutan cukai dan pajak yang tinggi dengan tuan tanah yang menikmati keuntungan. Perlawanan pun tidak dapat dihindari, terutama perlawanan kepada tuan tanah. Dari perlawanan itulah rakyat maupun petani di Indramayu menginginkan hadirnya Imam Mahdi, yaitu seseorang yang dapat membawa perubahan.

Kata kunci: Indramayu, penjajahan Belanda, perlawanan petani.

Abstract
It is very interesting to study the history of Indramayu, particularly because this city has made its own unique history during the Dutch colonial era. Historical records have given us data that there were many conflicts in Indramayu triggered by high taxes and customs. People power, especially peasants, fought for justice and Imam Mahdi was considered the saviour in gaining their peaceful life. To study the existence of Indramayu during that era would be the main purpose of this paper, and a historical approach was conducted.

Keywords: Indramayu, Dutch colonialism, the resistance of farmers.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tari Topeng Cirebon Abad XV - XX

Oleh: Lasmiyati

Abstrak
Sunan Gunung Jati selain sebagai kepala nagari Cirebon, ia juga salah satu wali sanga yang mempunyai tugas menyebarkan agama Islam. Tantangan dan hambatan sebagai wali ia temui, diantaranya menghadapi Pangeran Welang. Pangeran Welang memiliki kesaktian, karena mempunyai pusaka Curug Sewu. Ia ingin mengalahkan Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati menanggapinya tidak dengan kekerasan, melainkan membentuk kelompok kesenian dan mengadakan pertunjukan keliling kampung. Dalam kelompok kesenian tersebut menampilkan Nyi Mas Gandasari sebagai penari yang memakai penutup muka (kedok). Pangeran Welang terpikat dengan penampilan Nyi Mas Gandasari, ia pun meminangnya untuk dijadikan isteri. Nyi Mas Gandasari menerima pinangan tersebut dengan syarat dipinang dengan pusaka Curug Sewu. Pangeran Welang menyanggupi syarat tersebut yang akhirnya kesaktian Pangeran Welang pun hilang. Ia menyerah kepada Sunan Gunung Jati dan masuk Islam. Selanjutnya tari topeng di samping digunakan untuk menyebarkan agama Islam juga merupakan kesenian khas istana, dan menjadi sarana hiburan yang disukai masyarakat. Setelah Belanda menduduki Cirebon, seniman topeng merasa tidak nyaman tinggal di lingkungan keraton, karena Belanda telah ikut mencampuri urusan keraton. Mereka keluar dari istana dan menyebar ke Kabupaten Cirebon, diantaranya Gegesik, Palimanan, Losari. Penelitian ini untuk mengetahui sejarah pertumbuhan dan perkembangan tari topeng. Metode yang digunakan metode sejarah. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tari topeng sudah ada sejak Sunan Gunung Jati sebagai kepala nagari Cirebon. Tari topeng dijadikan sebagai media dakwah dan persebaran ke Gegesik, Palimanan, dan Losari mempunyai karakter yang berbeda dengan pakem yang sama.

Kata kunci : Tari topeng, Cirebon.

Abstract
Tari Topeng (mask dance) is a kind of folk performing art vastly known in Cirebon. The dance was a court art during the rule of Sunan Gunung Jati, functioning as a means to spread Islam. It spread outside the court when the artists left the court following the Dutch arrival in Cirebon who made the court split into three: Kasepuhan, Kanoman, and Kacirebonan. The Dutch interference in almost everything in the court made them unpleasant. They eventually left the court and spread to Kabupaten Cirebon. The aims of this research is to get knowledge of the history and development of tari topeng using history method. The result is that this dance has been existing since the time of Sunan Gunung Jati and served as a means to spread Islam. Then it spread to Gegesik, Palimanan and Losari following the arrival of the Dutch.

Keywords: tari topeng, Cirebon

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 3 No. 3 September 2011 

Sejarah Keraton Kasepuhan di Kotamadya Cirebon

Oleh Dra. lasmiyati

Abstrak
Penulis membatasi kajiannya pada sejarah Cirebon, berdirinya Keraton Kasepuhan, dan kegunaan serta fungsi bangunan Keraton Kasepuhan

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 8, Desember 1995

Gerakan Perlawanan Rakyat Indramayu

Oleh: Dra. Lasmiyati

Abstrak
Sewaktu Belanda, Jepang, dan Sekutu melalukan pendudukan di Indonesia, beberapa daerah di Jawa Barat melakukan gerakan perlawanan yang dilakukan rakyat untuk melawan penjajah. Gerakan perlawanan rakyat di Indramayu terjadi sekitar tahun 1942-1947. Antara tahun 1942-1945 rakyat Indramayu melakukan perlawanan melawan Jepang yaitu di Desa Kaplongan. Gerakan perlawanan tersebut dipicu oleh Camat Karangampel yang bernama Misnasastra mengumpulkan padi milik Haji Aksan, namun Haji Aksan menolak. Dengan minta bantuan kepada polisi, Haji Aksan ditangkap untuk dibawa ke Balai Desa. Dengan ditangkapnya Haji Aksan maka rakyat Desa Kaplongan berbondong-bondong menyerbu Balai Desa dan menyerang polisi. Selain itu Desa Kaplongan banyak sekali tokoh-tokoh agama yang memimpin gerakan perlawanan rakyat, sehingga Jepang encatat bahwa tokoh-tokoh tersebut teah masuk daftar hitam dan termasuk orang yang dicari Jepang. Untuk menangkap tokoh-tokoh tersebut Jepang melakukan siasat yang sangat licik, sehingga secara satu persatu tokoh-tokoh tersebut dapat tertangkap.

Selain di Desa Kaplongan, gerakan perlawanan juga terjadi di Desa Cidempet. Gerakan tersebut dipicu adanya bala tentara Jepang melakukan perampasan pagi hasil panenan rakyat. Dengan cara hasil panenan rakyat harus diserahkan ke Balaidesa dan rakyat mengambil sebagian dari hasil panenan tersebut. Namun tawaran Jepang tersebut ditentang oleh rakyat, sehingga timbullah gerakan perlawanan melawan Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, gerakan perlawanan rakyat Indramayu masih juga terjadi yaitu gerakan perlawanan dalam melawan Sekutu. Gerakan tersebut terjadi antara tahun 1946-1947. Sekutu yang diboncengi Belanda berkeinginan untuk kembali menjajah Indonesia. Namun kedatangan Belanda yang memboncengi NICA tersebut dihadang rakyat dalam bentuk perlawanan. Kejadian tersebut terjadi di Kecamatan Kertasemaya. Kontak senjata melawan Belanda juga terjadi di Desa Larangan. Namun diantara gerakan perlawanan rakyat di Indramayu dalam melawan Belanda yang paling dahsyat terjadi di Kampung Siwatu, yaitu pembumihangusan Kampung Siwatu karena kempung tersebut dijadikan tempat pengungsian para pejuang Indramayu. Ayib Maknun, warga Indramayu yang menjadi mata-mata Belanda memberitahukan kepada tentara Belanda, kalau Kampung Siwatu dijadikan tempat persembunyian, sehingga oleh Belanda kampung tersebut dibumihanguskan.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005

Sejarah Kota Cianjur (1800 – 1945)

Oleh: Dra. Lasmiyati, dkk.

Abstrak
Cikal bakal Cianjur berasal dari perpindahan rakyat dari Sagaraherang Subang. Daerah ini pernah dijadikan sebagai pusat kekuasaan dan pusat penyebaran Islam yang dipimpin oleh Aria Wangsagoparana. Ia mempunyai 8 orang anak dengan anak tertuanya bernama Jayasasana yang meneruskan ayahnya sebagai penguasa Cianjur. Jayasasana bergelar Aria Wiratanu yang pada tahun 1655 menempati daerah baru yang terletak antara Sungai Cisadane dan Citarum yang mana daerah ini diklaim baik oleh Belanda sebagai daerahnya maupun Mataram sebagai wilayah kekuasaannya. Ketika raja Mataram beralih ke Amangkurat, Belanda banyak membantu Mataram, sehingga Matam pun menyerahkan daerah kekuasaan Wiratanu kepada Belanda, maka di tahun 1677 daerah ini telah merdeka secara de facto, Cianjur pun menjadi sebuah negeri, dan Jayasasana pun menjalankan pemerintahannya di Cikundul sehingga ia dikenal dengan nama Embah Dalem Cikundul. Setelah Wiratanu meninggal, ia digantikan oleh Aria Wiramanggala yang dikenal dengan sebutan Dalem Tarikolot dan mengambil pusat kekuasaannya di Cikalong. Dari Cikalong selanjutnya pindah ke Pamoyanan Cianjur. Setelah kekuasaan Wiratanu diganti oleh Astramanggala (Wiratanu III), ia memindahkan ibukota Cianjur dari Pamoyanan ke Kampung Cianjur.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Edisi 27, Desember 2002

Sekilas Mengenal Peninggalan Sejarah di Kabupaten Garut

Oleh: Dra. Lasmiyati

Abstrak
Penelitian ini tentang peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Garut. Sebagaimana diketahui Kabupaten Garut merupakan satu di antara 25 kabupaten/kotamadya di Provinsi Jawa Barat yang memiliki peninggalan sejarah, di antaranya berupa monumen/bangunan sejarah candi. Peninggalan yang bernilai sejarah tersebut merupakan satu bukti tinggalan budaya yang perlu dilestarikan dan diperingati agar dapat dijadikan suri teladan. Oleh karena itu, peninggalan sejarah dengan segala dimensinya sangat penting diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 18, April 1999

Toponimi di Kota Cirebon

Oleh Dra. Lasmiyati

Abstrak
Toponimi adalah istilah ilmiah yang berarti asal-usul nama tempat. Pengertian istilah tersebut menunjukkan, bahwa nama-anama tempat di suatu daerah berkaitan dengan sejarah daerah yang bersangkutan.

Berdasarkan sejarahnya, Kota Cirebon termasuk salah satu kota tua. Oleh karena itu, asal-usul nama tempat-tempat di kota tersebut mengacu pada kejadian, situasi, dan hal lain pada zaman yang dilalui. Dalam hal ini, nama tempat-tempat di Kota Cirebon berkaitan dengan suatu peristiwa, situasi daerah, istilah di lingkungan pemerintahan, tokoh dan jabatan dalam pemerintahan, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Dengan kata lain, asal-usul nama-nama tempat itu mencerminkan dinamika perjalanan sejarah Kota Cirebon.

Diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Vol. 40, No. 3, Desember 2008

Udjo, Seniman Angklung dan Aktifitasnya

Oleh: Dra. Lasmiyati

Abstrak
Penulis mengungkapkan perjalanan hidup seorang seniman Jawa Barat, yaitu Pak Udjo, dalam kiprahnya mengangkat serta mengembangkan kesenian angklung di Jawa Barat. Atas perjuangannya, angklung kini menjadi salah satu kesenian khas budaya Jawa Barat, yang terkenal tidak saja di Indonesia, juga di luar negeri.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 12, Maret 1997

Mengungkap Peristiwa Rawa Gede di Desa Rawamerta Kecamatan Rawasari Kabupaten Karawang

Oleh: Dra. Lasmiyati, dkk.

Abstrak
Penelitian ini menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, yang terjadi di salah satu wilayah di Kabupaten Karawang. Berawal dari pembentukan TKR dan BKR di Kabupaten tersebut, yang menjadikan daerah Karawang sebagai satu basis perjuangan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Kemudian berlanjut dengan adanya penyerbuan sekutu ke daerah tersebut, khususnya ke daerah Rawasari. Dari bentrokan itu muncullah suatu peristiwa berdarah yang kemudian dinamakan Peristiwa Rawa Gede.

Diterbitkan dalam Laporan Penelitian Edisi 15, Agustus 1998

Gerakan Perlawanan Di Bekasi 1913-1914

Buddhiracana Vol 12, No 1/November 2008

Lasmiyati

Abstrak

Motto Kota Bekasi sebagai “Kota Patriot” ternyata bukan hanya motto semata. Motto tersebut telah menggambarkan betapa gigihnya rakyat Bekasi dalam melakukan perlawanan baik terhadap Belanda, Jepang ataupun Sekutu. Satu hal yang tidak luput dalam perlawanan rakyat Bekasi pada masa pendudukan Belanda adalah perlawanan rakyat Bekasi terhadap tuan tanah. Sekitar tahun 1913-an, di Bekasi diwarnai dengan berbagai perlawanan seperti perlawanan terhadap tuan tanah, perlawanan terhadap Sarekat Islam, maupun perlawanan intern antara Sarekat Islam dengan non Sarekat Islam.

Kata Kunci: Gerakan perlawanan di Bekasi.

Sejarah Perkembangan Kota Cimahi

Jurnal Penelitian Edisi 37/Juni 2007



Dra. Lasmiyati


Abstrak


Cimahi dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2000, sebagai realisasi UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah.

Setelah Cimahi menjadi kota, Cimahi mengalami perkembangan baik di sektor perdagangan, pembangunan jalan, dan perumahan


Kata Kunci: Sejarah Kota.

Popular Posts