WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Metode Baru Pembelajaran Sejarah Mulai Diperkenalkan

Kuningan, Kompas - Metode pembelajaran sejarah secara interaktif dengan berwisata mulai dikenalkan kepada siswa SLTA. Pembelajaran sejarah ini tak terbatas pada teori dan materi di kelas, tetapi juga mengajak siswa langsung mengunjungi lokasi sejarah dan berdiskusi.

Toto Sucipto, Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, mengatakan, lembaganya mulai menggunakan metode pembelajaran sejarah interaktif untuk menarik minat siswa belajar sejarah. Ia mengakui selama ini ketertarikan orang untuk belajar sejarah minim karena penyampaiannya monoton.

"Banyak orang tahu ada ritual budaya di satu tempat, tapi tak pernah melihat sendiri seperti apa ritual itu. Bahkan, banyak yang tak tahu-menahu ada situs peninggalan sejarah di sekitar mereka. Itu kan memprihatinkan," kata Toto.

Kunjungan ke wisata sejarah Kuningan yang diadakan BPSNT Bandung, Sabtu hingga Minggu (27/5), adalah salah satunya.

Menurut Toto, lembaganya mengundang sekitar 150 peserta dari wilayah kerja BPNST Bandung, mulai dari Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung, untuk berwisata sejarah di Kuningan.

Peserta yang terdiri dari guru dan siswa SLTA ini diajak mengunjungi berbagai obyek wisata sejarah, seperti Museum Linggarjati, tempat terjadinya Perjanjian Linggarjati antara Belanda dan Indonesia pascakemerdekaan; situs purbakala Cipari, mata air Cibulan, dan tempat bersejarah lainnya.

"Peserta juga diajak berdialog dari hasil penayangan film dan kunjungan langsung. Dengan cara demikian, pelajaran sejarah tak lagi membuat mereka bosan, tapi bisa menjadi sangat menarik karena mereka bisa menyaksikan langsung," ujar Dian Dianawati, Ketua Penyelenggara Penayangan Film dan Diskusi Nilai Budaya dan Kesejarahan, Sabtu lalu.

Metode pembelajaran sejarah lewat wisata sejarah menurut sejumlah peserta diakui lebih efektif dibandingkan dengan metode pembelajaran sejarah yang dilakukan di sekolah-sekolah selama ini.

Agnes, siswa SMA I Rancaekek, Bandung, mengakui selama ini pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah masih terpaku pada pemberian materi di kelas.

Suci, siswa SMA I Legung, Majalengka, juga mengakui lebih mudah mempelajari sejarah dengan mengetahui langsung peninggalannya dibandingkan dengan hanya membaca buku. (nit)

Sumber: http://202.146.5.33/kompas-cetak/0705/28/Jabar/22386.htm

Popular Posts