WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Sakral di Tengah Kesederhanaan

Warga Cina Benteng menjadikan momen Imlek untuk banyak berdoa. Teguh menjalankan berbagai kewajiban dan pantangan.

“Perkumpulan Tjong Tek Bio.” Tulisan itu terpampang di sebuah gapura di perkampungan Cina Benteng, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Tangerang, Banten. Ornamen bernuansa Tionghoa menghiasi sisi kiri dan kanannya. Meski warnanya memudar, gerbang utama ke perkampungan itu masih kokoh berdiri. “Kampung ini sudah ada sejak 1407,” kata Ong Sui Chan, sesepuh di pemukiman itu, kepada Prioritas, Selasa pekan lalu.

Hampir 100 persen penghuni kawasan ini merupakan warga keturunan Tionghoa. Saban tahun, seperti kebanyakan masyarakat Tionghoa lainnya, mereka juga merayakan Imlek. Mereka memperingati tahun baru Cina secara sederhana. “Warga Tjong Tek Bio merayakan Imlek sewajarnya saja, tanpa kemewahan,” ujar Ong, yang didaulat warga sebagai penasihat klenteng.

Peringatan Imlek dilakukan selama 15 hari penuh. Perayaan dimulai dari tanggal 1 Cia Gwee sampai 15 Cia Gwee (Hari Raya Cap Go Meh). Tahun ini, Imlek jatuh pada 10 Februari 2013. Menjelang Imlek, mereka melakukan berbagai persiapan. “Bikin kue, beres-beres rumah,” kata Yu Lin, penjaga klenteng Tjong Tek Bio di wilayah itu.

Meski sederhana, menurut peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung Ani Rostiyati, Imlek tetap menjadi tradisi yang sakral dan dilakukan turun-temurun warga Cina Benteng. Imlek menjadi kepercayaan dan sarana mengingat asal-usul mereka. Hal ini dimaknai sebagai mengingat leluhur dan Tuhan.

Keterikatan pada alam semesta, menurut Ani, perlu dijaga dengan ritual Imlek. Sehingga manusia menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan lingkungan alamnya. “Imlek juga sebagai katarsis. Mereka melaksanakannya karena takut terkena kutukan, malapetaka, dan hati menjadi tidak tenang,” ujarnya.

Komunitas Cina Benteng merupakan keturunan Cina Hokkian. Pada awal abad 15, mereka datang ke Tangerang secara bergelombang. Generasi awal, mayoritas para lelaki yang di tanah leluhurnya bekerja sebagai buruh tani, petani, dan pedagang kecil. Di kawasan Tangerang pedalaman, mereka membuka lahan pertanian dan perkebunan. Kawasan yang dikenal sebagai kantong-kantong warga Tionghoa di daerah itu meliputi: Kampung Mekarsari, Panongan, Curug, Kelapadua, Tigaraksa, Legok, dan Balaraja.

Ratusan tahun berakulturasi dengan tradisi dan budaya setempat, membuat mereka lebih akrab dengan bahasa Melayu pasar. Itu sebabnya warga Cina Benteng banyak yang tidak bisa bahasa Mandarin atau bahasa leluhur mereka, dialek Hokkian. Adapun secara ekonomi, warga Cina Benteng hidup sederhana. Mayoritas mereka menggantungkan penghasilan dari bertani.

Momen pergantian tahun diyakini menjadi saat yang tepat untuk banyak memanjatkan doa kepada Tuhan, maupun orangtua atau para leluhur. Dengan doa itu mereka berharap agar tahun mendatang diberi keselamatan dan banyak rezeki.

Dalam perayaan Imlek, mereka menunjukkan rasa syukur dengan menggelar makan bersama keluarga. Sajian khas berupa ikan bandeng tak boleh terlewatkan. Sebab, makanan itu menjadi sesaji (samseng) untuk arwah para leluhur.

Aneka masakan, manisan, dan minuman pun dihidangkan. Menu berupa ayam, babi, cah babi kuah, ayam tim campur, sambal goreng udang tomat, mie dan ayam semur tomat menjadi menu wajib. Sementara manisan yang disajikan adalah manisan nanas, beligo, dan kolang kaling. Sedangkan minuman, jika zaman dahulu disajikan minuman arak, kini lebih banyak soft drink atau sirop.

Beragam makanan tersebut dihidangkan lantaran diyakini memiliki makna. Sajian mie misalnya, mengandung arti panjang umur. Sedangkan manisan menjadi simbol manisnya penghidupan, yang bermakna agar mereka mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Tak hanya itu. Kue keranjang, yang terbuat dari beras ketan dan gula, juga menjadi panganan yang wajib disajikan.

Selain itu, mereka menyambut tahun baru dengan menggelar tanjidor. Kesenian tradisional khas Betawi ini dimeriahkan dengan suara petasan dan kembang api. Di sela-sela perayaan itu, ritual sembahyang tetap menjadi kewajiban utama dalam rangkaian ritual mereka.

Altar untuk sembahyang dijumpai di depan pintu masuk setiap rumah. Dilengkapi dengan berbagai peralatan seperti meja abu, guci-guci kecil, foto para leluhur, dan hio lo (tempat dupa), kwee cang (kue ketan) dan kertas beraksara Tionghoa. Meja abu diyakini menjadi perekat persaudaraan antarwarga Cina Benteng.

Warga Cina Benteng juga meyakini ada sejumlah larangan. Saat Imlek tiba, mereka pantang menyapu lantai rumah dan membersihkan peralatan dapur. “Konon agar jangan sampai terusir atau tersapu keluar dari rumah,” kata Ani. Pembersihan rumah dan peralatan dapur hanya boleh dilakukan sehari atau beberapa hari menjelang Imlek.

Larangan lainnya adalah tidak makan nasi berkuah. Pantangan ini menjadi simbol, agar tidak kehujanan di jalan saat mereka pai-cia (bersoja/ berkunjung) ke rumah sanak famili. Mereka juga pantang membuka toko sebelum genap lima hari perayaan. Jika melanggar, mereka yakin toko itu akan sepi pembeli dan bisnis menjadi tidak lancar.

Perayaan Imlek yang sederhana, menurut Ani, tak mengurangi nilai sakral dan esensi perayaannya bagi warga Tionghoa di sana. “Hal ini karena Cina Benteng merupakan komunitas masyarakat Tionghoa yang memiliki keunikan dan kesetiaan tersendiri pada tradisi leluhurnya,” ujarnya.

Popular Posts