WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Museum Etnografi Perkembangan dan Fungsinya Saat Ini

Oleh T. Dibyo Harsono

Abstrak
Masyarakat tradisional biasanya diidentikkan dengan masyarakat yang lebih banyak dikuasai oleh adat istiadat yang lama. Ada beberapa suku bangsa yang hanya mempunyai populasi puluhan orang, dan ada yang di ambang kepunahan. Untuk mewujudkan berdirinya sebuah museum etnografi perlu didukung dengan sebuah penelitian, yang mempergunakan teknik pengumpulan data seperti pengamatan, wawancara mendalam, serta studi kepustakaan. Untuk itu sangat relevan sekali apabila diwujudkan adanya sebuah museum etnik (Museum Etnik Nusantara), karena dengan keberadaannya akan banyak memberikan informasi mengenai etnik atau suku bangsa yang ada di Indonesia. Khususnya suku bangsa yang komunitasnya kecil dan belum banyak dikenal masyarakat secara luas, seperti halnya masyarakat Akit, masyarakat Suku Anak Dalam (Kubu/Orang Rimba/Rimbo), Suku Sakai, Suku Bonai, Suku Talangmamak, Masyarakat Hutan (Orang Hutan), Suku Laut, masyarakat Nias/Mentawai, masyarakat Rejang, dan masih banyak lagi.

Kata kunci: masyarakat, tradisional, etnografi.

Abstract
There are many endangered traditional tribes in the world, in term of very few population. Many of them inhabited the Indonesian Archipelago. The idea of establishing an ethnography museum, called Museum Etnik Nusantara, would be highly appreciated. Hopelfully, this kind of museum would serve us with any kind of data concerning endangered tribes of Indonesia, such as Suku (tribe) Anak Dalam, Suku Sakai, Suku Bonai, Suku Talangmamak, and others.

Keywords: society/community, traditional, ethnography.

Diterbitkan dalam Patanjala, Vol. 2 No. 2 Juni 2010

Popular Posts