WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG
Showing posts with label 2009. Show all posts
Showing posts with label 2009. Show all posts

Kolang Kaling

Kolang-kaling menjadi hidangan favorit untuk berbuka puasa. Kolang kaling atau yang disebut oleh orang Betawi sebagai
buah Atep, mempunyai warna asli bening. Dari warna asli tersebut, muncul varian warna buah yang lain seperti hijau dan merah karena penambahan unsur lainnya. Bahan yang digunakan adalah buah atep atau kolang-kaling, air cucian beras, daun jeruk purut, daun pandan dipotong-potong, gula pasir, pewarna makanan (merah atau hijau, dan vanili untuk pewangi. Cara pembuatannya adalah kolang-kaling dicuci bersih lalu direndam dalam cucian air beras selama 4 jam agar lendir dan aroma asamnya hilang. Kolang-kaling lalu dibilas dengan air bersih, dan ditiriskan kembali. Kolang-kaling direbus bersama air, daun jeruk, dan daun pandan hingga mendidih. Gula dimasukkan lalu diberikan pewarna. Kolang-kaling dimasak hingga air berkurang dan warna menjadi jelas. Air sirup dijerang hingga agak kental lalu kolang-kaling dimasukkan dan dimasak dengan api kecil hingga air sirupnya habis. Terakhir, kolang-kaling ditaruh dalam wadah tertutup dan disimpan di dalam lemari es.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Es Teler

Es Teler merupakan minuman yang menyegarkan karena perpaduan cita rasa buah-buahan, pemanis, dan es serut. Es teler ini mulai dikenal masyarakat Jakarta sejak 37 tahun lalu, diprakarsai oleh pasangan suami-istri Tukiman dan Samiyem yang berjualan di daerah Cikini, Jakarta Pusat. Awalnya es campur ini bernama es nagih. Suatu hari salah seorang pelanggan berkomentar, ”Wah, es ini enak sekali, bikin orang teler!”. Sejak saat itu Pak Tukiman mengganti nama es nya dengan nama Es Teler. Minuman ini sangat populer, bahkan sampai menyebar di seluruh Indonesia, biasanya minuman ini disajikan pula sebagai menu untuk berbuka puasa. Bahan yang digunakan adalah alpukat matang lalu dikerok dagingnya, nangka matang  yang dipotong bentuk dadu, daging kelapa muda, sirup gula pandan, susu kental manis secukupnya, es serut secukupnya, dan Potongan alpukat, nangka, dan kelapa muda dimasukkan dalam mangkuk. Selanjutnya ditambahkan sirup, es serut, dan beri susu kental manis. Membuat sirup gulanya adalah gula pasir, daun pandan, garam, dan air dicampurkan menjadi satu. 

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Es Doger

Es yang sangat populer di wilayah kebudayaan Betawi ini banyak dijadikan sebagai minuman pelepas dahaga. Dewasa ini, es doger juga sering menjadi salah satu menu minuman untuk acara hajatan seperti pesta perkawinan dan sebagainya. Bahan yang digunakan adalah es batu diserut, kelapa muda diserut kasar, susu kental manis, tape singkong, ketan hitam rebus, pacar cina rebus, dan buah alpukat. Bahan untuk sirupnya adalah santan kental, sirup rozen, dan air. Cara pembuatannya adalah bahan sirup direbus sampai mendidih, lalu didinginkan, Serutan es dan kelapa muda dimasukkan dan diaduk rata. Es ini disajikan dengan irisan tape, ketan hitam, pacar cina dan susu kental manis.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Es Selendang Mayang

Pada daerah tertentu, masyarakat menyebut minuman ini Bendrong. Penamaan Es Selendang Mayang pun lebih karena faktor non teknis untuk membuat minuman ini lebih mudah dikenal karena namanya yang unik. Persebaran es ini banyak terdapat di daerah Petak Sembilan, Palmerah, dan sebagainya. Bahan yang digunakan adalah tepung sagu aren, tepung beras, garam, daun pandan suji, air, gula merah diiris-iris, dan air. Adapun sausnyaterdiri dari santan, daun pandan, dan garam. Cara pembuatannya adalah Tepung sagu aren, tepung beras, garam, daun pandan suji, dan air dicampur dan diaduk sampai tepung larut. Larutan tepung dimasukkan sambil terus diaduk sampai adonan menggumpal dan matang. Adonan diangkat lalu dituang dalam wadah dan didinginkan. Setelah dingin, selendang mayang dipotong-potong sesuai dengan selera. Gula merah dan air direbus sampai gula larut. Sirup dan gula merah dituang secukupnya, lalu ditambahkan selendang mayang dan es serut.

umber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Es Cincau Hijau

Es cincau hijau biasa disajikan sehari-hari dan lebih berfungsi untuk pelepas dahaga. Minuman ini juga sering disajikan pada pertemuan tidak resmi atau perjamuan sederhana. Pada sebagian masyarakat Betawi, es cincau ini juga kadang dipakai sebagai ramuan untuk mengobati penyakit tertentu. Bahan yang digunakan adalah gula pasir campur jahe, santan yang dimasak, garam, cincau hijau segar, dan es serut secukupnya. Adapun cara pembuatannya adalah sirup, santan, dan garam dicampur jadi satu, kemudian campuran ditambahkan cincau dan es serut. Selanjutnya, bisa diberi susu kental manis di atasnya.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kopi Jahe

Kopi jahe yang dihidangkan hangat ini biasanya disajikan pada saat-saat tertentu jika ada tamu/keluarga jauh yang berkunjung. Di samping itu, minuman ini juga biasanya dihidangkan pada saat-saat tertentu seperti pada waktu sore hari yang merupakan waktu untuk minum teh/kopi. Bahan yang digunakan adalag kopi, susu kental, dan gula pasir secukupnya. Sedangkan bumbunya terdiri dari 1 ruas jahe, jari kayu manis, garda mom seed dibelah, cengkeh, daun pandan, air, dan garam secukupnya. Cara pembuatannya adalah Bumbu dimasukkan ke dalam air lalu didihkan. Bila sudah mendidih, kopi diseduh dengan air rebusan tanpa ampas bumbu. Susu dimasukkan apabila kopi sudah disaring dalam wadah lain. Terakhir, gula pasir ditambahkan seseuai selera.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Asinan Betawi

Makanan yang disebut sebagai asinan sebenarnya bukan hanya dikenal di kalangan masyarakat Betawi. Asinan juga dikenal ada di Bogor, Bandung, Cianjur, dan lain sebagainya, dengan khasnya masing-masing. Perbedaan yang nyata terlihat pada asinan Betawi yaitu asinan Betawi bahannya didominasi oleh sayur mayur yang dipadu dengan bumbu pedas manis dan diperkaya oleh rasa gurih dari kacang tanah goreng.

Bahan asinan Betawi ada: tauge, ketimun, kol besar, daun ketimun, tahu kecil, lokio, lobak putih, cabe merah, gula merah, cuka aren, kacang tanah, kerupuk mie, dan kerupuk bawang. Terkecuali taoge, masing-masing sayuran dipotong-potong, begitu pula dengan tahunya. Adapun bahan untuk bumbunya seperti cabe merah digerus, kacang tanah digoreng, dan gula merah dibuat larutan air gula. Menghidangkannya di atas piring dengan terlebih dulu menaruh sayuran kemudian di atasnya disiram kuah bumbu lalu
ditaburi kacang tanah goreng dan diberi kerupuk. Asinan terasa segar disantap di siang hari.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Emping Melinjo

Embel-embel melinjo pada nama emping menunjukkan kalau emping ini terbuat dari melinjo. Emping merupakan makanan dwi fungsi. Sesekali emping sebagai makanan ringan pendamping minum teh atau kopi, waktu lain sering menjadi pelengkap makanan berat seperti gado-gado, soto betawi, nasi uduk, nasi kuning maupun soto tangkar. Emping dikenal dari daerah Condet dan sekitarnya.

Emping hanya dibuat dari buah melinjo dan garam. Buah melinjo yang digunakan adalah buah melinjo yang tua. Buah tersebut dikupas lalu dijemur. Setelah buah kering lalu disangrai. Selanjutnya kulit bagian dalamnya masih harus dikupas lagi kemudian ditumbuk sampai pipih dan ditaburi garam secukupnya. Dari pekerjaan tersebut emping sudah sembilan puluh persen jadi. Pekerjaan terakhir adalah menjemur emping kembali sampai benar-benar kering. Emping yang tidak benar-benar kering akan tidak mengembang ketika digoreng dan dalam waktu yang lama akan timbul jamur. Ukuran emping bervariasi. Untuk mendapatkan ukuran emping yang besar caranya dengan menumbuk 3-4 buah melinjo menjadi satu sekaligus.

Emping melinjo merupakan makanan yang sifatnya tidak tahan udara, sejenis dengan kerupuk. Dengan demikian sudah pasti emping melinjo harus diwadahi dalam toples supaya rasa renyahnya bertahan lama. Pada acara jamuan yang dilakukan secara prasmanan, biasanya emping disajikan dalam sebuah piring panjang. Untuk menjaga agar emping tidak layu, setiap mengisikan emping ke piring tidak langsung dalam jumlah banyak. Manakala emping di piring akan habis baru diisi lagi. Emping nikmat disantap sebagai makanan ringan sebagai pendamping minum teh atau kopi.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Rengginang

Secara fisik rengginang hampir serupa dengan ali bagente. Bedanya, rengginang dibuat dengan menggunakan beras ketan. Rengginang merupakan makanan ringan yang sering dibuat untuk acara hajatan dan menyambut hari Lebaran.

Beras ketan, bawang putih, garam, gula pasir, dan udang saih kering merupakan bahan-bahan rengginang. Bahan itu selanjutnya diolah dengan cara: beras ketan dicuci kemudian direndam dalam air selama satu malam. Udang saih kering disangrai sampai kering lalu digiling sampai halus. Dalam wadah yang lain, bawang putih dan garam digiling sampai halus kemudian dicampur dengan udang dan gula pasir. Ketika bumbu sudah siap, dicampurkan beras ketan ke dalamnya. Selanjutnya nasi yang masih panas dicetak dengan cara ditekan-tekan sampai padat dan rata. Jadilah rengginang namun masih dalam keadaan basah. Rengginang basah diangkat dan diletakkan diatas tampah lalu dijemur. Setelah rengginang kering disimpan di dalam wadah tertutup. Rengginang ini masih mentah dan sebaiknya digoreng ketika hendak disantap. Digorengnya dalam minyak panas. Agar tetap renyah, rengginang disimpan dalam toples. Rengginang cocok sebagai teman minum teh atau kopi.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Ali Bagente

Ali bagente, dari namanya jelas bahwa makanan ringan ini mendapat pengaruh dari Arab. Ali bagente sering diistilahkan sebagai makanan rakyat, sebabnya bahannya memanfaatkan sisa-sisa nasi yang tidak habis dimakan. Ali bagente menyerupai makanan intip dari Jawa Tengah.

Ali bagente merupakan makanan paling sederhana baik dilihat dari penggunaan bahan, apalagi biaya Ali bagente, maupun cara pembuatannya, bila dibandingkan dengan makanan yang disebut-sebut di atas. Lihat saja bahannya yang hanya berupa kerak nasi liwet yang sudah kering, minyak goreng, gula merah, garam, dan air. Membuatnya: kerak nasi digoreng hingga kuning kecoklatan dan matang lalu diangkat dan ditiriskan. Untuk larutan gula dibuat dengan merebus gula merah, garam, dan air menjadi satu dan dimasak hingga gula larut dan mengental. Alie bagente dihidangkan dengan larutan gula merah dalam sebuah piring.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Geplak

Geplak di kalangan masyarakat Betawi adalah makanan ringan yang khusus dibuat untuk menyambut hari Lebaran atau acara adat tertentu. Makanan ini banyak terdapat di daerah Condet dan sekitarnya dan di kawasan Setu Babakan di daerah Jakarta Selatan. Ada beberapa varian dari makanan ini yang dibedakan dari cara pembuatannya maupun dari bahan pelapisnya. Nama geplak sebenarnya juga dikenal di kalangan masyarakat Jawa khususnya daerah Jogja dan Solo. Bedanya dengan geplak Betawi, geplak Jogja dan Solo merupakan makanan yang akrab dengan penduduknya sehari-hari. Bentuknya menyerupai dan sebesar belimbing wuluh dan berwarna-warni. Ada yang merah, hijau, dan putih.

Geplak Betawi terbuat dari: air, gula merah, gula pasir, garam secukupnya, kelapa parut, dan tepung beras. Membuatnya dengan cara: air bersama gula merah, gula pasir, dan garam direbus hingga mendidih dan gula larut dan mengental. Selanjutnya kelapa dan tepung beras yang sudah disangrai dimasukkan ke dalam larutan gula dan dicampur rata. Berikutnya menyiapkan cetakan persegi lalu ditaburi dengan tepung beras kemudian adonan dituang di atasnya. Adonan diletakkan di oven selama 30 menit hingga geplak kering dan matang. Setelah dingin, geplak lalu dipotong-potong.

Membuat geplak menggunakan alat seperti: panci untuk membuat larutan gula, sinduk untuk mengaduk, ayakan kawat, katel dan susruk untuk menyangrai, cetakan geplak, dan oven. Geplak biasa disajikan dalam toples atau tempat lain sejenisnya yang penting kedap udara.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Satu

Namanya kue satu, nama ini diambil dari cara pembuatan kuenya yaitu dengan cara memasukkan adonan ke dalam lubang cetakan satu per satu. Kue satu merupakan makanan ringan yang berasal dari Cina. Dari orang-orang Cina yang tinggal di Betawi itulah dalam perkembangannya kemudian makanan ini menjadi hidangan ringan khas Lebaran di kalangan masyarakat Betawi. Kue satu mempunyai tekstur yang gampang hancur dan berwarna pucat, tidak coklat tidak pula kuning. Konon warna pucat itu ada yang mengartikan sebagai gambaran orang yang lemas karena sedang berpuasa.

Di antara beragam jenis kue di atas, tampaknya kue satu termasuk kue yang jenis bahannya hanya sedikit. Sebut saja hanya kacang hijau, gula pasir, dan tepung beras. Selain itu, cara pembuatannyapun relatif gampang. Pertama, kacang hijau digoreng sampai matang, ditumbuk agar terkelupas kulitnya, lalu diayak sampai bersih. Tahap kedua, gula pasir ditumbuk halus lalu diayak. Tahap ketiga, adonan dimasukkan ke lubang cetakan lalu ditekan. Agar tidak lengket, lubang cetakan ditaburi tepung beras yang telah digoreng. Adonan dijemur sampai kering.

Sederhana cara pembuatannya, sederhana pula dalam alatnya. Membuat kue satu hanya memerlukan wadah adonan, ayakan kawat, lumpang batu, dan alat penumbuk. Bilamana hendak dihidangkan, kue satu ditempatkan dalam sebuah piring. Kue ini bisa disantap di setiap waktu.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Nastar

Kue nastar bisa dikatakan masih serumpun dengan kue keju. Istilah nastar berasal dari kata ’Ananastaart’ yang merupakan bahasa warga Negeri Kincir Angin. Nama tersebut diambil dari nama bahan untuk isi kue berupa buah nanas. Dalam sejarahnya kue ini hanya dibuat oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia. Lama kelamaan kue ini keluar dari komunitasnya lalu menyebar di kalangan masyarakat Betawi dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner Betawi. Kue nastar dan kue keju bagaikan lem dan perangko. Ada kue nastar ada pula kue keju, demikian kira-kira rangkaiannya. Keduanya biasa disajikan di hari Lebaran.

Kue nastar terbuat dari bahan: tepung terigu, susu bubuk, mentega, kuning dan putih telur, dan selai nanas. Kue nastar dibuat dengan cara berikut: pertama adalah mengocok mentega dengan telur. Kedua, memasukkan susu bubuk dan terigu ke dalam kocokan pertama lalu diaduk hingga rata. Ketiga, adonan diambil sedikit lalu diisi dengan selai nanas, kemudian dibentuk bulat. Demikian seterusnya sampai adonan habis. Keempat, adonan disusun dalam loyang yang sudah diolesi mentega dan ditaburi terigu lalu dipanggang dalam oven hingga berwarna kuning kecoklatan.

Alat-alat yang diperlukan untuk membuat kue nastar di antaranya: wadah kocokan, alat kocokan, sinduk untuk mengaduk, loyang, dan oven. Sama halnya dengan kue keju, kue nastar akan tetap renyah bila disimpan dalam toples. Penyajiannya disertakan piring kue seperti halnya penyajian untuk kue keju.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Keju

Kue keju lebih populer dengan sebutan kastengesl. Istilah tersebut berasal dari bahasa Belanda kaas stengels. Dalam sejarahnya, kue ini disajikan pada saat perayaan Natal dan Tahun Baru orang-orang Belanda di Batavia. Orang-orang Betawi menjadikan kue ini menjadi bagian dari makanan mereka sendiri. Dalam perkembangannya kue ini menjadi populer tidak hanya pada saat Natal dan Tahun Baru, tapi juga pada hari Lebaran dan bahkan Imlek.

Kue keju dibuat dari bahan: mentega, kuning telur, keju parut, garam, merica, dan tepung terigu. Membuatnya bisa dikatakan cukup mudah yaitu: pertama, mentega dikocok sampai lembut lalu dimasukkan kuning telur satu per satu. Kedua, keju parut, garam, merica, dan tepung terigu dimasukkan ke dalamnya lalu diaduk dengan tangan sampai rata. Ketiga, adonan digilas sampai mempunyai ketebalan ½ cm lalu dibentuk sesuai selera. Biasanya bentuknya menyerupai dan sebesar setengah jari telunjuk. Kemudian adonan disusun di atas loyang yang terlebih dahulu diolesi mentega dan ditaburi terigu supaya adonan tidak lengket di loyang. Selanjutnya loyang dimasukkan ke dalam oven dengan panas sedang. Kue dibakar sampai matang dan kuning lalu diangkat.

Beberapa alat yang digunakan dalam pembuatan kue keju di antaranya: wadah adonan, kocokan, parutan keju, penggilas adonan, pisau, loyang , dan oven. Manakala kue keju sudah masak, penyimpanannya harus pada wadah yang kedap udara agar kue tetap renyah. Olehkarenanya wadahnya berupa toples. Sebagai suguhan tamu, biasanya disertakan piring kue di sebelah toples. Maksudnya agar tamu bisa mengambil lebih dari satu potong kue sekaligus. Maklum saja karena satu kue tidak cukup mengenyangkan. Biasanya ketika tamu menyantap kue, ia akan meletakkan piring kue di bawah mulutnya agar serbuk kue tidak berhamburan di baju atau lantai.

Sumber: Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Semprit

Nama semprit diambil dari cara mencetak kuenya. Kue ini biasa disajikan menjelang dan pada saat hari Lebaran. Kue semprit merupakan salah satu jenis kue kering yang banyak dibuat oleh masyarakat. Beberapa faktor kemungkinannya adalah karena biaya untuk pembelian bahannya relatif murah, cara membuatnya mudah, serta rasanya lumayan enak. Berasa gurih dan manis. Meskipun kue ini tersebar merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi dan menjadikan seperti makanan khas, namun sebenarnya kue ini juga dikenal luas di luar kalangan masyarakat Betawi.

Kue semprit terbuat dari: margarin, mentega, kuning telur, vanili, tepung terigu, gula halus, maizena, dan kismis untuk hiasan. Cara membuatnya adalah: margarin, mentega, gula halus, dan telur dikocok sampai adonan lembut. Selanjutnya ke dalam adonan ditambahkan vanili, tepung terigu, dan maizena lalu diaduk rata. Tinggalah kue dicetak memakai cetakan bunga atau yang sejenisnya. Cara mencetaknya pertama-tama adalah memasukkan secukupnya adonan ke dalam cetakan berbahan seng. Sementara tangan kiri memegang cetakan, ibu jari tangan kanan menekan adonan di dalam cetakan hingga adonan keluar dari lubang cetakan. Lubangnya yang kecil, yang hanya bisa mengeluarkan adonan sedikit demi sedikit itulah yang kemudian diistilahkan dengan semprit dari kata sa’emprit yang artinya sedikit. Di atas kue selanjutnya dihias dengan potongan kismis. Kue lalu dipanggang sampai matang berwarna kecoklatan. Kue semprit disajikan dalam wadah toples atau wadah tertutup sejenisnya agar tidak mudah lembek.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Jahe

Dinamai kue jahe oleh karena kue ini memang berasa jahe. Jahe yang berasa pedas membuat anak-anak kurang menggemarinya. Sedangkan bagi kalangan orang tua justru membantu menghangatkan tubuh. Meskipun dalam keseharian kue ini bisa kita temui, namun demikian kue ini biasa disajikan pada saat hari Lebaran dan kenduri sederhana. Bahan untuk membuat kue jahe terbagi dalam dua bagian yaitu bahan dasar (A) dan bahan untuk glazur (B). Bahan A meliputi: mentega, tepung gula, kopi, putih telur, kuning telur, tepung terigu (protein sedang), tepung maizena, baking powder, jahe bubuk, dan kacang mede. Bahan B meliputi: putih telur, gula palem, dan jahe bubuk.

Membuat kue jahe meskipun terlihat gampang namun banyak tahapan pengerjaannya. Beberapa tahapannya seperti berikut ini: pertama-tama terlebih dahulu kopi dilarutkan dalam air panas dan kacang mede dicincang kasar. Kedua, margarin, mentega, dan tepung gula dikocok lalu dimasukkan telur sambil dikocok rata, ditambahkan air kopi sedikit dan dikocok lagi. Ketiga, tepung terigu, maizena, baking powder, dan jahe bubuk dimasukkan ke dalam adonan yang sudah dikocok sambil diayak dan diaduk rata. Keempat, adonan dibentuk bola-bola agak besar. Kelima, tiap bulatan ditekan-tekan di atas cincangan kacang mede sampai kacang melekat di atas kue dan kue menjadi pipih. Keenam, adonan dipanggang selama lebih kurang 35 menit. Ketujuh, kue jahe dibiarkan sampai dingin. Kedelapan, membuat glazur caranya cukup dengan mengocok putih telur sampai mengembang lalu menambahkan jahe bubuk dan gula palem sedikit demi sedikit lalu diaduk sampai adonan rata. Kesembilan, glazur disemprotkan di atas kue. Kesepuluh, kue dimasukkan ke oven dan dipanggang sampai matang. Cara pembuatan di atas sekaligus menunjukkan sejumlah alat yang harus tersedia, di antaranya: wadah untuk melarutkan kopi, pisau atau sejenisnya untuk mencincang, wadah adonan, kocokan adonan, ayakan, oven, dan semprotan glazur. Manakala kue jahe sudah jadi selanjutnya disajikan dalam toples agar kue tetap kering dan tahan lama.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Biji Ketapang

Sebutan biji ketapang bukan memaksudkan pada biji ketapang dalam arti yang sebenarnya. Hanya saja karena secara fisik bentuknya menyerupai biji ketapang maka makanan ini dinamai biji ketapang. Makanan ini merupakan makanan ringan yang wajib tersedia pada saat hari Lebaran maupun Idul Adha. Biasanya makanan ini tersedia pada hari kedua Lebaran sebagai hidangan ringan khas untuk suguhan tamu. Persebaran kue ini cukup merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi.

Biji ketapang terbuat dari: tepung terigu, kacang tanah, tepung gula, garam dan vanili secukupnya, telur, dan mentega. Sebelum membuat adonan, terlebih dahulu kacang tanah disangrai dan dihaluskan. Begitu kacang siap pakai, semua bahan lalu dicampur jadi satu dan diaduk hingga rata. Selanjutnya adonan digulung sebesar pensil yang panjang lalu dipotong menyerong. Setiap potongan ditaburi dengan sedikit tepung supaya tidak melekat satu sama lain. Kue kemudian digoreng hingga kecoklatan. Biji ketapang dibuat dengan alat yang relatif sederhana seperti: katel lengkap dengan susruk dan serok untuk menyangrai dan menggoreng, pisau untuk mencincang, dan baskom sebagai wadah adonan. Wadah sajian untuk biji ketapang berupa toples atau wadah sejenisnya, yang penting kedap udara.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kue Cincin

Kue cincin sering disebut juga dengan kue donat. Kue ini merupakan makanan ringan yang disajikan sebagai hidangan sehari-hari, maupun untuk hajatan atau kenduri sederhana. Kue cincin terbuat dari bahan dasar gula merah yang dicampur sagu, tepung beras, dan air. Membuatnya dengan cara: gula merah yang sudah dimasak dengan air diberi tepung beras, dimasak lagi, dan diaduk rata. Setelah adonan dingin lalu dimasukkan sagu dan diaduk. Selanjutnya adonan disimpan selama satu hari. Dengan menggunakan daun pisang batu atau plastik, adonan dibuat pipih, kemudian pada bagian tengahnya ditusuk dengan telunjuk sehingga berlubang dan berbentuk menyerupai cincin. Selanjutnya adonan digoreng hingga masak.

Alat yang digunakan adalah: panci untuk memasak adonan, sinduk untuk mengaduk, dan baskom. Penyajiannya dalam sebuah piring dan dapat dinikmati setiap saat.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Telor Gabus

Dinamai telor gabus bukan karena bentuknya yang menyerupai telur melainkan karena kue ini dibuat dengan menggunakan telur sebagai bahan dasarnya. Telor gabus merupakan penganan sehari-hari yang biasa disajikan untuk tamu. Penganan ini juga terdapat di daerah lain dengan sebutan yang sama. Telor gabus ada dua macam yaitu dengan atau tanpa wijen. Bila tanpa wijen hanya berasa manis sedangkan yang berwijen berasa manis campur gurih.

Telor gabus menggunakan bahan dari: sagu, telur, garam, gula merah, vanili, dan minyak goreng. Bahan-bahan tersebut diolah dengan cara: telur dikocok lalu ditambahkan garam, sagu, dan vanili. Adonan tadi diaduk sampai rata lalu diremas-remas dengan tangan kemudian dibentuk menyerupai bentuk cabe. Begitu adonan selesai dibentuk, adonan dimasukkan ke dalam minyak yang dingin dan digoreng sampai kuning. Pengolahannya tidak berhenti sampai di situ, masih harus membuat larutan gula. Caranya, gula merah dimasak dengan air sampai kental dan setelah itu baru dimasukkan telor gabus yang sudah digoreng tadi. Beberapa alat yang digunakan untuk membuat yaitu: wadah untuk tempat kocokan, kocokan telur, baskom untuk wadah adonan, panci untuk memasak gula, dan sinduk kayu untuk mengaduk. Musuh telor gabus adalah udara maka penganan ini akan bertahan lama bila disimpan dalam toples. Makanan ini tidak bersifat mengenyangkan dan karenanya bisa dinikmati kapan saja.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Kembang Goyang

Kembang goyang merupakan penganan sejenis kerupuk dan berasa gurih. Penganan ini selalu ada pada saat Lebaran maupun Idul Adha, dan pada saat acara hajatan. Bentuknya unik menyerupai kembang dan dibuatnya dengan cara digoyang. Tak heran kalau penganan ini kemudian dinamai kembang goyang. Hampir semua kalangan usia menyukai penganan ini. Hanya saja bagi mereka yang bermasalah dengan giginya, sebaiknya tidak memaksakan untuk menyantapnya mengingat penganan ini cukup keras.

Kembang goyang dibuat dari bahan-bahan berupa: tepung terigu, tepung beras, kelapa, telur ayam, gula putih, vanili, dan garam secukupnya. Bahan-bahan tersebut selanjutnya diolah dengan cara: tepung diayak dan kelapa diparut lalu diperas untuk diambil santannya. Tepung, gula, dan vanili disatukan, kemudian dituangi santan sedikit demi sedikit dan diberi garam. Telur yang telah dikocok kemudian dimasukkan ke dalam adonan. Begitu adonan siap, minyak dipanaskan lalu cetakan kue dimasukkan ke dalam minyak dan setelah cetakan cukup panas lalu dicelupkan ke adonan. Selanjutnya adonan digoreng sambil digoyang-goyang. Bila sudah tampak menguning lalu diangkat dengan lidi kemudian ditaruh di tampah untuk mengendapkan minyak. Kalau mau tetap renyah, kembang goyang tidak boleh terkena udara. Tidak heran kalau wadah penyajiannya akan lebih pas dengan menggunakan toples. Kalau hanya suguhan sesaat bisa saja penyajiannya dalam sebuah piring. Kembang goyang bisa menjadi santapan di setiap saat.

Sumber: Rostiyati, Ani., dkk. 2009. Ragam Makanan Tradisional Betawi. Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung (Laporan Pendataan Kebudayaan).

Popular Posts