WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Nilai Budaya Permainan Tradisional Anak

Oleh Agus Heryana

Hayang nyaho di pamaceuh ma, ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, bangbarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, munikeun lembur, ngadu lesung, asup kana lantar, ngadu nini; sing sawatek (ka)ulinan ma, hempul tanya.

Bila ingin tahu permainan, ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, bangbarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, munikeun lembur, ngadu lesung, asup kana lantar, ngadu nini; segala macam permainan tanyalah empul

(Sanghiyang Siksakandang Karesian /1440 Saka /1518 Masehi)

Dunia anak adalah dunia bermain
Manusia dalam mencapai kedewasaan baik lahiriah maupun batiniah selalu melewati fase-fase tertentu. Fase-fase ini biasa dikaitkan dengan pertumbuhan usia seorang manusia. Oleh karena itulah, secara umum kita sering mendengar fase atau masa bayi dan balita, anak, remaja,dewasa dan orang tua. Setiap fase memerlukan kebutuhan jasmani dan rohani yang saling berkaitan dan selalu tumbuh sesuai dengan peruntukannya (fitrahnya). Salah satu fase yang menjadi sorotan dalam kesempatan ini adalah fase anak-anak, terutama anak usia sekolah dasar, yaitu kelas 1 (usia 7 tahun) s.d. kelas 6 (usia 13 tahun). Pada fase ini aktivitas utama yang muncul dan berkembang adalah bermain.

Alasdair Roberts (dalam Bishop, 2005:14) menyodorkan istilah “masa kanak-kanak pertengahan”, yaitu periode di antara tahun-tahun pertama masa kanak-kanak dan masa remaja. Menurutnya bermain adalah inti dari masa kanak-kanak pertenghan. Bermain merupakan sarana mengintegrasikan dunia anak, baik di dalam mau pun di luar. Bermain merupakan media untuk membangun pertemanan dan pertahanan terhadap musuh; bahasa dan ritual bermain memberikan bentuk dialog kolaboratif yang membedakan “kita” dengan “mereka”. Anak-anak dapat secara aman bereksplorasi dan berskperimen karena mereka merasa aman dan percaya di arena bermain. Bermain terlepas dari realitas sehari-hari, sehingga bermain memberi anak-anak rasa untuk mengendalikan kesibukan sehari-hari mereka; bermain sudah merupakan kebutuhan utama. Anak tanpa bermain patut dicurigai mengidap sesuatu penyakit atau sekurang-kurangnya memiliki masalah dengan lingkungan sekitar, terutama dengan teman-temannya. Jadi, boleh dikatakan aktivitas anak-anak dalam keseharian tidak terlepas dari "acara bermain". Bagi mereka, anak-anak, bermain merupakan "jadwal kerjanya". Kadang-kadang pada saat belajar pun seringkali disertai dengan bermain yang membuat jengkel atau marah guru-gurunya. Lebih dari itu, bagi anak-anak tertentu, bermain pun akan dilakukannya sendiri tanpa mengenal batas waktu. Kondisi anak seperti itu tentunya perlu disadari oleh para orang dewasa agar tidak terjadi ”pemasungan” kreatifitas dunia anak ketika bermain.

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak tampaknya bermain tidk boleh disepelekan. Seorang ahli hikmah, Imam Al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin yang dikutip oleh Syarifuddin (2004:64) memberi pandangan ”Hendaknya anak kecil diberi kesempatan bermain; melarangnya bermain dan menyibukkannya dengan belajar terus akan mematikan hatinya, mengurangi kecerdasannya dan membuatnya jemu terhadap hidup, sehingga ia akan sering mencari alasan untuk membebaskan diri dari keadaan sumpek ini”.

Kata ”bermain” adalah bentuk kata kerja berasal dari kata dasar main. Kata main itu sendiri berarti melakukan aktivitas yang menyenangkan hati atau menimbulkan kegembiraan. Kata benda dari bermain adalah permainan atau mainan. Arti permainan lebih mengacu pada suatu hal atau keadaan sedangkan mainan mengacu pada benda atau wujud konkret (alat) bermain.

Danandjaja (1986:171) memberikan batasan permainan anak-anak ke dalam dua jenis yaitu permainan bermain (play) dan permainan bertanding (game). Pengertian permainan bermain (play) bersifat mengisi waktu senggang atau rekreasi, dan dibandingkannya dengan permainan bertanding (game) yang hampir-hampir tidak mempunyai sifat seperti itu. Beberapa permainan tradisional (Jawa Barat) dapat dikelompokkan pada kedua jenis tersebut adalah sebagai berikut.:

  • Permainan bermain (play), yaitu : Ayang-ayang Gung, Ambil-ambilan, eundeuk-eundeukan, oray-orayan, si jendil, sur-ser, jung jae, ngarojok ole-olean, oyong-oyong bangkong, tongtolang nangka, suling aing, leuleui leuleuyang, pacublek-cublek uang, pacici-cici putri, punten mangga, slep dur, hap-hap, papatong eunteup, tokecang, milang kadaharan, meuncit reungit, milang jawa, moncor pager, nanangkaan, oet-oetan, ngambat papatong, ngala hui, paciwit-ciwit lutung, punten mangga, pom pilep, perepet jengkol, sasalimpetan, salam sereh, tong maliatong, trang trang kolentrang, wek wek dor, bancakan, ucing-ucingan, susuungan, kali-kali jahe, kukudaan, wawayangan, serok, maen karet, momobilan, kakatepelan, barongsay, papasakan, kukuehan, ucing peungpeun, bebedilan, tatarompetan, totoralakan (Soepandi,1985, Atmadibrata,1980, Intani dkk,2000 )
  • Permainan bertanding (game), yaitu: galah asin (gobag), egrang (jajangkungan), sorodot gaplok (dampu), maen kaleci, pris-prisan, maen bal, gatrik, kasti, galah jidar, dam-daman, lelempengan, mamaungan, ulin panggal, sisimeutan, ngadu muncang, hahayaman (kokotokan), aarcaan, bandringan, bubuyungan, boy-boyan, langlayangan, beklen, congkak, (Atmadibrata,1980, Intani dkk,2000)

Bentuk-bentuk permainan anak di atas sebagian besar nyaris tidak dikenal lagi, terutama oleh anak-anak yang tinggal di perkotaan (kota-kota besar). Dalam hal ini era globalisasi dan kemajuan teknologi sering dituding menjadi penyebab semuanya itu. Dalam hal ini teknologi dan globalisasi dipandang negatif. Ironisnya manusia tidak dapat melepaskan atau mengisolir diri dari situasi dan kondisi demikian. Mengisolir diri berarti kita menjadi bangsa "primitif" yang anti kemajuan pada abad moderen, tetapi "membuka diri" pun bukan tanpa risiko. Tercerabutnya nilai-nilai budaya daerah sebagai ciri kepribadian bangsa bukan suatu hal yang mustahil.

Betulkah permainan tradisional itu bermakna?
Pemaknaan atas benda, peristiwa, atau semua yang maujud di muka bumi ini tidak bisa lepas dari berbagai unsur. Unsur yang dimaksud pun kadang-kadang sangat bergantung pada benda yang akan dimaknainya. Oleh karena itu mudah dipahami apabila banyak teori dikemukakan para ahli dibidangnya masing-masing dalam kerangka memahami fenomena-fenomena (gejala) yang terjadi di dunia ini.

Pemaknaan dalam konteks budaya sering dipahami dengan sebutan lain yaitu nilai budaya. Nilai adalah "sesuatu yang berharga". Sesuatu yang bermanfaat dan diakui secara universal oleh manusia yang memiliki budayanya. Memang, harus diakui sebuah nilai (budaya) adalah bersifat relatif, berubah-ubah sesuai dengan perkembangan budaya suatu bangsa. Oleh karena itu, memahami nilai budaya yang terkandung dalam konteks budaya tertentu harus pula memahami berbagai unsur kebudayaan yang melingkupinya.

Seorang antropolog, R. Firth, (1964:42-45) menyatakan bahwa faktor alam sekeliling memberi pengaruh besar pada diri manusia. Menurutnya ada empat faktor lingkungan alam yang berpengaruh pada diri manusia. Pertama adalah keadaan alam sekeliling memberikan batas-batas yang luas bagi kemungkinan-kemungkinan hidup manusia; kedua, tiap-tiap keadaan sekeliling mempunyai coraknya sendiri-sendiri; ketiga, keadaan alam memberikan kemungkinan yang besar bagi kemajuan manusia, tetapi juga menyediakan bahan-bahan yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan, Pernyataan kesimpulan R. Firth tersebut setidaknya memberikan jalan pada penganalisisan budaya. Sekurang-kurangnya kata kunci telah kita peroleh, yakni alam lingkungan manusia berpengaruh besar pada munculnya permainan tradisional anak.

Selanjutnya, guna mengungkap kandungan nilai pada permainan tradisional anak perlu dikemukakan acuan teoritisnya. Acuan teoritis yang dimaksud adalah apabila kita mengacu kepada kerangka berfikir sebuah karya "diciptakan" dengan maksud dan tujuan tertentu, yang oleh pembuatnya disembunyikan atau disamarkan dalam wujud karya, maka dengan analogi yang sama kita dapat mengetahui gagasan atau ide yang terkandung di dalam sebuah permainan tradisional anak. Sebuah permainan tradisional anak diciptakan dengan tidak percuma. Sepatah atau dua patah kata, dalam bentuk reportoar (nyanyian) akan bermakna. Hanya masalahnya adalah kadar pemahaman dan perangkat seseorang di dalam membedah karya tersebut. Sebagai contoh adalah nyanyian (reportoar) yang dinyanyikan saat anak-anak bermain. Nyanyian ini dikenal dengan sebutan kakawihan atau Nyanyian dolanan anak. Dalam perspektif pemaknaan, kakawihan bukanlah sekedar nyanyian tanpa maksud dan tanpa makna, sekurang- kurangnya di dalamnya terkandung ekspresi emosi anak-anak yang terefleksikan pada lagu-lagunya. Mungkinkah nyanyian merupakan media belaka sebagai alat penyampai sesuatu maksud yang dipergunakan "seseorang"? Ataukah murni dorongan nurani sang anak di dalam menyikapi alam sekelilingnya?

Pada saat ini kita belum menemukan pengarang seperti Hasan Mustapa yang mempergunakan kaulinan barudak Sunda melalui kakawihannya itu untuk mengupas hal-hal yang bersifat keagamaan. Buku Bale Bandung yang merupakan kumpulan surat-surat antara Hasan Mustapa dengan Kiai Kurdi merupakan bukti nyata bagaimana kakawihan dijadikan media menguraikan lapangan tauhid.

Upaya pemaknaan : sebuah sumbang saran
Pengkajian nilai budaya yang terkandung dalam sebuah produk budaya bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang sulit dipelajari. Kalaulah kita meletakan nilai budaya sebagai inti dari sebuah produk, maka nilai budaya itu dibungkus dengan berbagai ”aksesori”, hiasan, untuk menyamarkan maksud sesungguhnya. Di samping itu, perlu ditegaskan hal-hal yang terjadi ”peristiwa” di luar benda budaya, seperti: latar belakang atau konteks sosial budaya. - harus pula menjadi pertimbangan dalam memahami sebuah nilai budaya.

Permainan tradisional anak adalah produk budaya suatu bangsa, dalam hal ini masyarakat Sunda. Secara teoritis harus mempunyai nilai budaya yang dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan tatanan kehidupan, khususnya orang Sunda. Guna memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya mau tidak mau kita harus mengkaji setiap unsur permainan tradisional anak.

Di dalam permainan bermain (play) dan permainan pertandingan (game), sebagaimana dikemukakan pada awal tulisan, terkandung media lain, yaitu alat dan nyanyian. Alat permainan sering kali disebut cocooan dan nyanyian (reportoar) disebut kakawihan. Cocooan diperoleh dengan cara membuat sendiri berbahankan barang bekas atau memanfaatkan alam lingkungannya. Sedangkan kakawihan merupakan tradisi lisan yang diturunkan melalui teman sepermainannya. Oleh karena itu penelaahan pada sejumlah bentuk permainan tradisional anak diperoleh unsur-unsur sebagai berikut:
1. nama permainan
2. bahan
3. teknik pembuatan
4. cara bermain
5. nyanyian / dialog
6. fungsi

- Nama permainan
Nama permainan menjadi bermakna dalam hubungannya dengan identitas sebuah bangsa. Dalam cakupan kecil, nama permainan menunjukkan asal permainan yang membedakan satu tempat dengan tempat lain. Di samping itu, nama permainan pun tidak menutup kemungkinan menjadi pembuka makna lebih dalam melalui penggunaan teori-teori tertentu, seperti: struktural dan atau semiotik (teori tanda). Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna (Hoed,2008:3)

- Bahan
Boleh dikatakan sebagian besar bahan untuk pembuatan alat bermain (Sunda: cocooan) pada permainan tradisional anak menggunakan bahan yang murah dan mudah diperoleh. Murah dan mudah diperoleh karena bahan tersebut berasal dari barang-barang bekas atau sampah (bersih) atau memanfaatkan tumbuh-tumbuhan alami yang ada di lingkungan sekitar. Sebagai contoh adalah membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali dan karet sandal bekas, membuat oet-oetan dari jerami padi, totorolakan dari pelepah pisang, maen karet atau sapintrong dari karet gelang yang disambung-sambung, wawayangan dari daun singkong atau padi dsb.

Penggunaan dan pemanfaatan bahan yang murah dan mudah diperoleh ini secara tidak langsung memberikan pelajaran agar anak-anak dapat berlaku efisien dan efektif dalam menghadapi persoalan hidup dikemudian hari. Dalam hal hubungannya dengan lingkungan alam diharapkan bisa lebih arif dengan pemanfaatannya yang lebih jelas peruntukannya. Dan satu hal lagi yang penting adalah menjaga ketersediaan ”bahan baku” demi kelangsungan permainan tradisional yang telah diwarisinya secara turun temurun.

- Teknik Pembuatan
Pembuatan alat permainan bertalian erat dengan teknik (cara) yang membutuhkan perpaduan antara kemampuan berpikir (berpikir logis dan sistematis), perasaan, dan keterampilan tangan. Seorang anak akan berpikir untuk mewujudkan alat permainan itu melalui tahapan-tahapan. Misalnya untuk membuat mobil-mobilan ia akan memulai pengerjaannya secara bertahap. Dimulai dengan perencanaan yang diwujudkan dalam bentuk gambar, kemudian membuat pola dengan mencontoh. Tarap selanjutnya adalah memotong, menggunting pola-pola yang telah disiapkan dan tahap terakhir adalah membentuk dengan cara menyusun dan menerapkan pola-pola yang telah dipotong tadi. Adalah sebuah kebanggaan dan meningkatkan prestis (gengsi) seorang anak manakala ia dapat berhasil membuat alat permainan dengan tangannya sendiri. Apalagi cocooan-nya itu diberi nuansa lain (Sunda: dialus-alus) sehingga tampak bagus diantara teman-temannya.

Nah ! pada proses pembuatan cocoan itulah sifat kemandirian dan kebebasan berekspresif seorang anak ditumpahkan. Tak ada yang melarang untuk membuat momobilannya berbeda dengan yang lain.

- Cara Bermain
Selanjutnya, pengamatan atas praktik permainan di lapangan selalu merujuk pada pola permainan bertanding yang hampir selalu mempunyai sifat-sifat (1) terorgasisasi, (2) bersaing, (3) dimainkan paling sedikit oleh dua orang, (4) mempunyai kriteria yang menentukan pemenang dan yang kalah, dan (5) mempunyai peraturan bermain yang disepakati bersama.

(1) Terorganisasi
Frase terorganisasi berasal dari kata organisasi yang diberi awalan "ter". Pengertian orgasisasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai cara mengatur hubungan antara seorang-perseorangan guna mencapai satu maksud tujuan bersama. Jadi, dalam kelompok kecil dilingkungan anak-anak, organisasi merupakan cara mengatur kelompok guna mencapai tujuan bersama, dalam hal ini memenangkan sebuah permainan. Pada awal permainan, kita ambil contoh Bebentengan, sekelompok anak mengatur dirinya tanpa keterlibatan orang luar, untuk membentuk dua kelompok. Dimulai dengan pemilihan anggota serta menentukan "pemimpin" kelompok, dilakukan dengan cara yang sederhana. Yakni dengan suit, suten atau homimpah atau dalam bahasa kasarnya -walaupun agak kurang pas- yaitu undian. Tetapi kadang-kadang seorang anak mengakui kelemahan dirinya dan dengan sukarela mengikuti kemauan "pemimpin" yang biasanya ditandai dengan kebesaran tubuhnya (anak gede).

Dalam hal ini pula seorang anggota kelompok harus saling tolong-menolong dan menentukan strategi guna memenangkan permainan sekaligus terkandung sifat saling percaya diantara teman. Bukankah sifat tolong-menolong dan saling mempercayai teman merupakan inti sebuah organisasi?

(2) Bersaing
Sifat bersaing pada setiap manusia dapat bernilai positif atau bernilai negatif. Persaingan pada permainan anak-anak lebih mengarah pada persaingan yang positif. Artinya, anak-anak, baik individu maupun kolektif, dipacu untuk semaksimal mungkin mengalahkan pihak lawan dengan cara-cara yang sportif dan jujur. Kadang-kadang guna memacu persaingan yang sehat permainan dilakukan pada lain waktu dengan anggota kelompok yang sama atau tidak berubah. Misalnya, jika sebuah kelompok kalah , maka dianatara anggota kelompoknya ada yang menangtang pada lain harinya. Pihak tertantangpun tidak mau turun prestisnya, maka tantangan pun dilayaninya.

(3) Jumlah pemain : dimainkan paling sedikit oleh dua orang,
Permainan tradisional anak, terutama dalam permainan pertandingan tidak mengenal dalam bentuk permainan sendiri. Sekurang-kurangnya harus dilakukan oleh dua orang, seperti permainan teka-teki (tatarucingan), dam-daman dan lelempengan. Pemaknaan dapat dikaitkan dengan unsur sosial masyarakat atau komunikasi yang ”mensyaratkan” keterlibatan orang lain dalam beraktivitas. Artinya manusia sebagai makluk sosial memerlukan orang lain dalam beraktivitas. Manusia tidak bisa dan mustahil hidup sendiri tanpa bantuan atau keterlibatan manusia lain.

(4) mempunyai kriteria yang menentukan pemenang dan yang kalah,
Kejelasan aturan permainan pertandingan akan menentukan strategi yang digunakan. Misalnya kriteria pemenang permainan pris-prisan atau bebentengan adalah menginjak sepotong batu yang dijaga seseorang. Jika potongan batu itu telah kena injak oleh lawan mainnya, itu pertanda ia kalah. Pada saat bermain itulah pemupukan sifat individu seorang anak secara tidak langsung ditempa oleh dirinya sendiri. Oleh karena di dalam sebuah permainan, baik kemahiran individu maupun kelompok, dalam upaya pemenangan ini dituntut kecerdikan, keberanian, dan kekuatan dalam mengatur strategi.

(5) mempunyai peraturan bermain yang disepakati bersama.
Sebuah pertandingan akan berakhir pada dua pilihan, kalah atau menang. Kalah dan menang ditentukan oleh kesepakatan keduabelah pihak yang akan bertanding. Tujuan pertandingan adalah mencapai kemenangan berdasarkan ketentuan yang disepakati bersama. Kemenangan yang diperoleh tidak sesuai dengan ketentuan akan dianggap orang licik dan orang yang tak tahu diri. Akibatnya adalah ia akan ”dicirian”, masuk dalam daftar hitam untuk tidak diikutsertakan lagi dalam permainan lain. Jadi, sportivitas dan kejujuran sangat dihargai.

- Nyanyian (kakawihan) / dialog
Fase anak-anak tampaknya fase yang menyenangkan dan menggembirakan. Kesenangan dan kegembiraan seorang anak biasanya direfleksikan dalam rangkaian lagu-lagu yang khas sifatnya. Nyanyian-nyanyian ini lahir dan tumbuh begitu saja tanpa tahu siapa pencipta sekaligus pengajarnya. Orang Jawa menamainya Nyanyian Dolanan sementara orang Sunda menyebutnya Kakawihan (Barudak) dan suku bangsa lain pun akan menamainya sesuai dengan adat kebiasaannya.

Kakawihan dapat diberi batasan adalah nyanyian anonim yang dinyanyikan anak-anak (Sunda) saat bermain, baik dalam bahasa daerah (Sunda) maupun dalam bahasa non-Sunda (Heryana,. 1993). Kakawihan dengan permainan tradisional anak mempunyai hubungan erat, walaupun tidak semua permainan anak selalu dan harus disertai nyanyian. Bermain galah, gatrik, boy-boyan, sondah atau permainan tertentu lainnya sering dilakukan tanpa iringan nyanyian. Namun setidaknya pada saat memulai permainan umumnya dimulai dengan nyanyian, terutama sekali ketika menentukan seorang atau kelompok yang paling awal melakukan permainan. Bentuk teks kakawihan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

Minyak kayu putih
Minyak kayu putih
digosok di badan
bendera merah putih
tandanya menang

Minyak kayu putih
digosok bau badan
bendera merah putih
tandanya menang
satu, dua, tiga
yang satu menang

Banben banting
Banben banting
aya ucing dikiriting
saha nu ucing
budakna sinting

Banben bata
Banben bata
aya ucing na kareta
saha nu ucing
budak eta

Hompipah
Hompilah hompimpah sakali jadi
hompilah hompimpah
ulah sisirikan sakali jadi

Cing ciripit
Cing ciripit kadal buntung
duit saringgit pake modal untung
sapatu butut di Rancaekek
budak camberut kudu dicekek
kaca ...... pit ; kaca...... pit

Cing ciriwit sadulang sabajing
saha nu kaciwit jadi ucing

Pendataan Kakawihan pada tahun 1999 di daerah Bandung, Lembang dan Garut yang menitikberatkan obyek pendataannya pada siswa-siswa sekolah dasar telah mencatat lebih dari 50 kakawihan (Heryana,1999). Kelimapuluh kakawihan ini sebagian besar berbeda dengan kakawihan yang telah dikenal para orangtua dimasa lalu. Berdasarkan data tersebut diperoleh beberapa nilai budaya yaitu:
1. Dinamisasi anak;
2. Media penyampaian ide;
3. Sindiran;
4. Kreativitas

1. Dinamisasi Anak
Sebuah perubahan budaya atau perilaku seseorang dapat bernuansa negatif atau positif. Kemajuan atau timbulnya bentuk (jenis) baru kakawihan dapat dipandang sebagai pemiskinan atau pengayaan kakawihan barudak. Hal ini sangat bergantung pada titik pandang seseorang. Yang jelas dalam kajian ini, kami, penulis, memandanngnya sebagai bentuk dinamisasi sang anak dalam merespon dunia luar. Siapa pun orangnya yang mencipta kakawihan, kita harus mengakui bahwa ia telah menyampaikan kepada anak-anak mengenai informasi-dunia. Di sini terkandung kreativitas dan pengetahuan yang luas terhadap dunia luar. Nama-nama asing seperti Donal Bebek, Lady Diana, Pangeran Carles dan nama-nama asing lainnya bukanlah produk budaya daerah (baca: Sunda). Jika demikian, mengapa hal itu berlangsung dan masuk ke dalam arena permainan anak? Tentu penyebabnya tak lain adalah teknologi dan arus informasi yang demikian global. Televisi dan media massa lainnya tidak sedikit memberi andil ke dalam nyanyian kakawihan tersebut.

Nilai kedinamisan yang dimaksud pada sub judul ini terletak pada sikap dan perhatian anak-anak terhadap dunia luar. Mungkin saja seorang anak yang kritis akan menarik minat untuk bertanya lebih jauh tentang isi sebuah kakawihan. Ia akan bertanya tentang siapa Lady Diana? Siapa Donal Bebek? dan sebagainya.

2. Media Penyampaian Ide
Pada kakawihan Kapiting Cina terdapat larik ada sabun di balik batu, batu hancur udangnya mati. Lirik ini pada dasarnya menyampaikan gagasan agar batu-batu di sungai jangan dihancurkan sedemikian rupa. Karena menghancurkan batu berarti sama dengan menghancurkan udang. Udang menyenangi air yang berbatu. Di balik batu-batu itulah ia menyembunyikan dan sekaligus berkembang biak. Jika sarangnya dihancurkan tanpa kendali, maka kepunahan udang hanyalah tinggal menunggu waktu saja.

Pada Ucing Dua Lima, juga terdapat larik Aya tangkal cau, aya tangkal gedang, nyai geura nyangu, akang peurih beuteung. Bentuk kakawihan yang mengambil pola sisindiran ini menyimpan ide bahwa perempuan mempunyai tugas menanak nasi (Nyai geura nyangu) . Dalam cakupan lebih luas hal-hal yang berhubungan dengan masak-memasak merupakan "pekerjaan" perempuan. Untuk siapakah mereka memasak itu? Tidak lain untuk sang suami atau sang ke kakasihnya yang sudah lapar (akang peurih beuteung).

3. Sindiran
Gaya kritikan atas situasi yang tidak mengenakan hati karena tidak sesuai dengan budaya setempat, diungkapkan pula pada penggalan kakawihan berikut.
Hansip-hansip penjaga galangan
ngintip-ngintip orang pacaran,
betapa senangnya orang pacaran
jam duabelas malam masih dikandang ayam.
Benarkah hansip salah salah satu pekerjaannnya mengintip orang pacaran? Mungkin saja ! Karena di masyarakat pernah dan sering terdengar sebutan kawin hansip. Penggerebegan ini dilakukan karena yang bersangkutan telah melampaui wakuncar (waktu kunjung pacar).

4. Kreativitas
Kreativitas sebagai ciri manusia berbudaya telah sejak awal dilatih. Kemampuan berimprovisasi menghadapi masalah serta menyiasati lawan dalam sebuah permainan tercermin pada lagu Coca-cola, Sedang Apa, atau Detel Misti. Pada kakawihan tersebut upaya penggantian nama seseorang seperti pada Coca-cola dan Detel Misti serta penyiasatan masalah pada kakawihan Sedang Apa sedikit banyaknya menunjukkan kreativitas berfikir sang anak. Demikian pula mengganti rumpaka atau syair sebuah lagu ke dalam syair yang kocak dan menggemaskan seperti pada lagu Balonku dan Garuda Pancasila merupakan bentuk kreativitas tersendiri dalam hal menyikapi keadaan alam lingkungannya.

Fungsi
Waktu bermain anak pada dasarnya ”tidak terbatas”. Barangkali dimulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali merupakan ”waktu dinasnya”. Namun aktivitas anak telah dibebani untuk menimba pendidikan, maka waktu bermain pun menyesuaikan diri. Jadi, dalam hal ini aktivitas bermain dilakukan pada waktu senggang atau istirahat sekolah.

Fungsi permainan tradisional anak pada dasarnya adalah untuk rekreasi dan penyegaran (refreshing). Kepenatan berpikir kesumpekan di dalam kelas yang membatasi ruang gerak tubuh mendapati kebebasan pada saat jam istirahat. Pada jam istirahat inilah aktivitas bermain menjadi waktu favoritnya.

Fungsi lain adalah sebagai ajang sosialisasi dan pendidikan. Sosialisasi sebagai proses yang berlaku alami perlu dilakukan oleh seorang anak. Secara tidak langsung seorang anak mengenal dunia luar, selain dunia keluarganya, melalui bermain. Permainan tradisional secara tidak langsung pun berperan di dalam mengikat perkenalan, persamaan dan persaudaraan antara kawan. Permainan bersama kakawihannya telah memberi sumbangan yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian seorang anak. Sekurang-kurangnya dunia anak yang penuh dengan impian dan keceriaan telah dinikmatinya tanpa beban apa-apa. Bahkan tidak mustahil pada masa pertumbuhan ini permainan tradisional telah menyampaikan pesan moralnya untuk selalu bekerja sama dan mematuhi "rule of game" dalam mengarungi alam kehidupan masa datang

Pendidikan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter anak memperoleh media penyalurannya melalui permainan tradisional. Sebagai contoh alat pendidikan dapat dirujuk pada kakawihan Satu-satu. Lagu yang merupakan plesetan dari lagu satu satu, berisi tentang anak-anak yang ingin masuk surga. Untuk mencapainya sangat "mudah" asal dapat memenuhi tiga persyaratan, yaitu: mencintai Tuhan Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mencintai orangtuanya.

Bagan nilai budaya permainan tradisional anak
Uraian di atas secara sederhana dapat diringkas dalam bentuk bagan lingkaran berikut.

Menuju mitos
Kemajuan teknologi dan pengaruh globalisasi selalu diiringi arus informasi yang tidak lagi dibatasi ruang , waktu, dan tempat yang bersifat geografis. Batas-batas wilayah suatu daerah (dalam lingkup luas sebuah negara) sudah tidak dapat lagi membentengi dirinya dari informasi yang demikian menggebu. Akibat semua itu, opini publik mudah tercipta dan mudah dibentuk menurut kemauan pihak tertentu. Lewat tayangan-tayang televisi atau pergelaran-pergelaran, opini publik setidaknya dapat dibentuk dan diarahkan. Bahkan lebih jauh lagi secara tidak langsung dapat mempengaruhi cara pikir, cara pandang, dan cara tindak seseorang. Akibat berikutnya tidak mustahil sebuah negara akan terjajah melalui bentuk lain, yakni budaya asing.

Dalam pada itu, permainan tradisional anak-anak yang sering dilakukan saat bermain, tidak mustahil terpolusi pula. Peran teknologi informasi melalui media yang hadir di mana-mana dan kekuatan pasar yang begitu kuat telah bersama-sama memodifikasi dan mengubah masa kanak-kanak. Kekuatan-kekuatan ini mengemudikan raksasa industri-industri hiburan, olah raga, dan mainan yang bersaing dengan kultur tradisional anak-anak, untuk merebut ruang dalam kehidupan anak-anak. (Carpenterdalam Julia C. Bishop, dkk. 2005 :208). Atas semua itu, kondisi permainan tradisional anak dewasa ini sekurang-kurangnya dimungkinkan mengalami tiga hal keadaan. Pertama, adanya perubahan; kedua , terjadi pergeseran makna atau pemiskinan nilai; dan ketiga terjadi "pemusnahan" atau penghilangan sekaligus melahirkan bentuk dan nyanyian anak-anak "episode" masa sekarang seiring dengan perkembangan zaman. Sebagai contoh, misalnya, banyaknya benda-benda alat bermain sebagai produk teknologi akan mampu mengubah perilaku seorang anak. Apakah nantinya anak tersebut menjadi seorang pendiam, agresif , kreatif atau seorang egois yang tidak peduli terhadap orang lain ; tentunya hal ini ada hubungannya dengan sifat dan cara kerja atau mekanisme alat bermain tersebut. Ketidaktersediaannya lapangan atau halaman rumah di perkotaan dapat menyebabkan berbagai bentuk permainan-anak hilang atau muncul bentuk permainan baru yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu. Munculnya kelompok-kelompok bermain anak (play group) atau tayangan-tayangan permaian anak pada televisi sedikit banyaknya mencerminkan situasi bentuk permainan-anak dewasa ini.

Sebuah nilai budaya dibangun di atas pondasi kebudayaan pendukungnya. Perubahan yang terjadi di dalamnya akan berimplikasi pada nilai-nilai yang diyakininya, sekurang-kurangnya penurunan bahkan perubahan nilai akan terjadi. Sebuah permainan tradisional anak yang bernama maen bal dewasa ini bukan lagi sebagai permainan biasa. Permainan itu telah menjadi ”mitos” hampir setiap bangsa. Harga diri, solidaritas, dan eksistensi bangsa dipertaruhkan dalam permainan maen bal. Sesuatu yang diluar dugaan anak-anak sebagai pemilik sah permainan tersebut. Ya ! Campur tangan orang dewasa telah melahirkan industri raksasa. Industri sepakbola. Jika sudah menjadi industri masihkah disebut permainan tradisional? Jawabannya sudah melebar ke ranah bidang lain: sosial budaya ekonomi politik dan seterusnya.

Penutup
Sebuah nilai sangat bergantung pada kondisi sosial budaya suatu bangsa. Perubahan pada aspek-aspek kehidupan yang melingkupinya akan berdampak pada nilai budaya yang selama ini diyakininya. Suku Sunda sebagai bagian dari bangsa Indonesia telah mengajarkan kepada anak-anaknya melalui tradisi permainan anak. Pengajaran itu mengandung harapan dan cita-cita leluhur (Sunda) agar anak-anak disiapkan untuk menjadi manusia yang jujur (sportif), berani bersaing (kompetitif), optimis, kreatif, supel (mudah bergaul), berani mengambil keputusan, dinamis terhadap perubahan yang terjadi, arif terhadap alam lingkungan, mandiri serta tidak melupakan kewajiban sebagai manusia yang harus berbakti kepada agama, bangsa, dan masyarakat.

Daftar Pustaka
Atmadibrata, Enoch dan Tisna Sopandi. 1979/1980. Permainan Rakyat Daerah Jawa Barat. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi kebudayaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Depdikbud.

Atja dan Saleh Danasasmita.1981. Siksa Kanda Ng Karesian. Proyek Pengembangan Permusiuman Jawa Barat. Bandung.

Bishop, Julia C. dan Mavis Curtis (ed). 2005. Permainan Anak-anak zaman sekarang. Jakarta: Grasindo.

Danandjaja, James. 1986. Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Grafiti pers.

Heryana, Agus. 1999. Nyanyian Anak-anak Sunda Masa Kini : Analisis Bentuk dan Isi Kakawihan Barudak Kiwari. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Hoed, Benny H. 2008. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Intani, Ria,dkk. 1999/2000. Peralatan Permainan Tradisional Anak-anak Jawa Barat. Bandung: Depdikbud Dirjen Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Mustapa, Hasan.1925. Bale Bandung. Bandung : M.I. Prawirawinata

Rusyana, Yus. 1978. Sastra Lisan Sunda. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Soepandi, Atik dan Oyon Sofyan Umsari. 1985. Kakawihan Barudak Nyanyian Anak-anak Sunda. Depdikbud Dirjen Kebudayaan Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.

Syarifuddin, Ahmad. 2004. Mendidik Anak. Jakarta: Gema Insani Press.

Wibisana, Wahyu.1976. Geber-geber Hihid Aing. Bandung : Pelita Masa

Majalah :
Buddhi Racana Vol. 1 No. 3
Mei 1993. Masih Adakah Nyanyian Anak-anak Sunda?

Sumber: Makalah disampaikan pada Festival Permainan Tradisional Anak yang diselenggarakan oleh BPSNT Bandung di Sumedang tanggal 14 Juli 2010

Popular Posts